
Review film time!
Pengorbanan.
Rintik-rintik hujan mulai turun dari langit. Wanita cantik dengan pakaian hitamnya masih asik duduk bersimpuh di samping sebuah makam. Makam seseorang yang sangat ia cintai. Dulu memang dia tidak bisa membuka hatinya untuk pria lain. Tapi, saat ia baru saja menetapkan hatinya beberapa bulan ini takdir berkata lain.
"Terima kasih. Terima kasih sudah mencintaiku begitu besarnya. Terima kasih sudah mau menerima diriku apa adanya. Terima kasih karena mau menjadikanku wanita yang kamu istimewa kan. Terima kasih untuk semuanya."
Sosok bayangan pria tersenyum bahagia saat mengetahui kejujuran wanita tersebut walaupun terlambat. Angin kencang menerbangkan kain hitam yang ada di kepalanya. Rintik-rintik hujan yang mulai besar membuat wanita berusia 20 tahun tersebut langsung mencari tempat meneduh. Sampai akhirnya dia merasakan sebuah tarikan tangan seseorang.
"Pulang! Ada yang ingin kami bicarakan!"
Tak mau membantah gadis cantik tersebut langsung mengikuti dua orang di hadapannya.
****
Namaku Ana. Umurku 20 tahun. Aku tinggal bersama dengan paman dan Bibi ku setelah kedua orang tuaku meninggal dunia beberapa tahun silam. Kini, aku tengah duduk bersama dengan mereka setelah mengantarkan calon suamiku ketempat terakhirnya.
Ya, Andes adalah nama pria tersebut. Pria yang akan menikah denganku beberapa bulan lagi, bahkan rencana demi rencana tersebut pupus setelah kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tubuhku tidak mendapatkan luka serius hanya ada luka baret di beberapa tubuhku. Tapi, ini tidak sebanding dengan perlindungan Andes untukku. Sosok yang selama ini melindungi ku dan mencintaiku sejak lama harus meninggalkan aku di saat aku sudah sepenuhnya memberikan hatiku padanya. Terlambat bukan? Tapi inilah takdir yang aku rasakan kini. Aku tidak tahu akan seperti apa kedepannya nanti. Karena hanya dia yang mau menerima kekurangan diriku. Hanya dia yang mau menerima aku apa adanya.
"Begini Ana. Kamu kan sudah menumpang di sini selama setahun lebih. Paman sama Bibi tidak bisa lagi menampung kamu karena kami tengah mengalami krisis. Perusahaan pamanmu tiba-tiba mendapatkan sebuah masalah. Sampai akhirnya kami terlilit hutang. Karena kami tidak bisa membayar hutang tersebut kami menawarkan pilihan dan kami memberikan kamu padanya. Karena kakak kamu sedang belajar di luar negeri, jadi hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluarga ini. Sebelumnya kami minta maaf. Tapi mau kah kamu membantu kami?" Pertanyaan tulus bibiku membuat aku merasakan kaget dan sedih dalam waktu bersamaan. Sedih jika akhirnya akan seperti ini. Tapi ini bukalah hal yang pertama terjadi dalam kehidupan ku. Dulu saat kedua orang tuaku masih ada merekapun akan memperlakukan hal yang sama demi membahagiakan kakakku. Sedangkan aku? Aku hanyalah orang yang tidak bisa merasakan sedikit saja kasih sayang keluarga ku sampai mereka meninggalkan aku. Bahkan saat titik terpurukku mereka malah mengusir ku layaknya sampah dan membuat aku berakhir di kediaman Andes dan keluarganya. Menyedihkan bukan?
"Apa aku bisa menolak? Tentu saja tidak bukan. Lalu apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Tanyaku dengan kepala yang sedikit pening, mungkin efek hujan-hujanan tadi.
"Datanglah ke tempat ini" jawabnya sambil memberikan aku secarik ketas yang terlah berisi tinta dengan rangkaian kata yang tersusun dengan sangat rapi.
Sebuah alamat sudah berada di tanganku. Tanpa mau menunggu lama, aku memilih pergi meninggalkan kediamanku. Dan datang ke tempat ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, yang pasti aku akan mencoba bertahan hidup selama yang aku bisa.
***
Akhirnya setelah perjalanan panjang. Aku tiba di sebuah rumah mewah. Seorang satpam menatap ke arahku dengan penuh selidik. Mungkin dia berpikir aku adalah tukang minta-minta yang tengah melakukan aksiku entahlah.
"Pemisi saya ing--"
"Silakan masuk. Tuan sudah menunggu anda."
Lepas mengucapkan demikian, sepasang wanita entah datang dari mana langsung menarikku masuk ke dalam rumah megah tersebut. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini yang pasti aku merasakan sesuatu buruk tengah menimpaku.
Bruk...
Aku didudukan di sebuah bangku. Dan mereka langsung melakukan tugas mereka yaitu menghias wajahku.
"Pakai pakaian ini, Tuan sudah menunggu."
Aku mengambilnya dan langsung memakainya di tubuhku. Dua wanita yang tadi menarikku langsung membawaku kembali ke tempat yang ku pastikan ruang makan. Suara canda dan tawa memenuhi gendang telingaku. Bahkan aku merasa tidak asing dengan suara-suara ini.
"Ana?! Ya ampun sayang kamu semakin cantik saja. Ternyata ini kejutan dari Steven?! Kenapa kamu berbohong jika Ana yang akan menjadi calon istrimu! Kalau begitu mama tidak akan memaksa kamu untuk menemui wanita-wanita pilihan Mama."
Wanita paruh baya itu adalah Tante Aneta. Ibunda dari Pria yang bernama Alka William. Seorang pria yang memiliki riwayat buruk dalam kehidupan ku. Seseorang yang membuat ku merasakan hancur se hancur-hancurnya.
"Kenapa kamu diam saja Ana? Apa Alka melukai kamu?" Tanya pria paruh baya, Antonio William.
Aku masih shock dengan semua yang terjadi saat ini. Kenapa paman dan bibi membiarkan aku kembali ke tempat ini? Padahal mereka tahu apa yang dulu di perbuat pria ini.
"Tentu saja tidak Pa. Kami baik-baik saja. Hanya kemarin malam kekasihku mendapatkan musibah. Dia mengalami kecelakaan saat pulang kerumah bibinya." Jawaban Alka membuat aku menatapnya. Aku curiga apa semua dalang di balik kecelakaan ini pria di hadapanku kini. Jika iya, kenapa dia begitu tega melakukan hal tersebut? Tidak cukupkah jika dia menghancurkan aku dulu?
"Apa itu benar sayang?" Tanya Mama Alka.
"Tentu saja benar Ma." Jawabku dengan nada bergetar. Entah kenapa rasanya aku ingin menangis saat ini. Aku tidak tahu apa kesalahanku sampai dia begitu tega memperlakukan aku seperti ini.
"Ya ampun sayang!" Mama Alka memeluk tubuhku dan seketika aku terisak di pelukannya. Sebuah senyuman miring ku lihat dari wajah Alka dan itu bertanda dugaanku benar. Alka adalah dalang dari semuanya.
Mama Alka menarikku untuk duduk di samping Alka. Sekarang kami semua makan siang bersama. Tak terkecuali dengan saudara-saudara Alka yang lain. Aku mencari keberadaan seseorang tapi aku tidak menemukannya. Mungkin dia tengah sibuk mengurus ujian sekolahnya. Sampai seseorang membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Selamat datang ke neraka ku Ana William." Bisikkan tersebut membuat jantungku berdebar semakin kencang. Bahkan aku marasakan sebuah benda tajam menggores bagian paha atasku membuat aku meringis sedikit.
"Kenapa sayang? Astaga! Luka kamu terbuka, sebaiknya aku mengobati lukamu. Kalau begitu Alka permisi semuanya!"
Gila.
Itulah definisi ku untuknya sekarang. Tapi sayang aku mencintai pria gila ini. Pria yang membuat aku tidak yakin membuka hatiku untuk pria lain.
Dia mengendong tubuhku secara bridal. Aku hanya bisa memeluk lehernya kini.
Tiba di sebuah kamar yang sudah ke ketahui kamarnya di langsung mengunci dan menjatuhkan tubuhku di ranjangnya.
"Aku akan membalas semua perbuatan kamu Ana! Karena kamu adikku koma selama tiga tahun ini dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia! Karena kamu harus merasakan apa yang adikku rasakan!"
Alka mendekatkan tubuhnya padaku dan setelahnya? Dia memperlakukan aku seperti wanita murahan. Dia tidak peduli dengan teriakanku bahkan dia juga melukai bagian tubuhku yang lain. Kini, aku hanya ingin meminta satu permintaan. Bisakah aku mati hari ini?
❤️❤️❤️
Aku terus terisak di bawah guyuran air. Aku tidak percaya jika dia memperlakukan aku seperti binatang! Bahkan dia juga melukai tubuhku dengan pisau kecil miliknya. Aku tidak tahu apa kesalahanku sampai aku di perlakukan seperti ini?
Katanya adiknya koma karena ulahku? Tapi ulah apa yang aku perbuat? Bahkan sejak kejadian yang sangat aku benci aku tidak pernah bertemu lagi dengan dia ataupun keluarganya. Jadi dimana letak kesalahanku?
Hufttt...
Aku segera menyelesaikan acara mandiku dan langsung memakai pakaian baru yang aku bawa tadi. Malam ini aku membiarkan baju tertutup menutupi tanda-tanda Alka. Bagaimanapun aku tidak ingin mereka tahu jika Alka menyakitiku. Jika sampai mereka tahu mereka akan memperlakukan Alka seperti bukan anaknya.
Sama seperti dulu, saat aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Saat itu aku sudah berpacaran dengannya dan saat itu tidak sengaja Alka memperlakukan aku dengan kasar karena aku berbincang dengan sepupunya. Sebuah luka di tangan menjadi saksinya dan saat itu juga Alka mendapatkan balasannya. Yaitu, pukulan keras dari sang Papa. Karena aku tidak mau menambah masalah lebih baik aku menutupinya bukan?
Bicara masa lalu, aku jadi ingat saat pertama kali bertemu. Saat itu adiknya lah yang mempertemukan kita berdua sehingga kita jadi sepasang kekasih. Aku menerima segala tempramen nya dan sampai akhirnya batas itu berakhir. Saat dimana hari kelulusannya. Andes menyatakan cinta padaku dan aku tolak dengan halus.
Saat itu aku memeluk tubuh Andes berharap jika pria itu menemukan pilihan terbaik. Namun setelahnya? Alka menarikku dengan kasar dan membawaku ke sebuah villa milik keluarganya. Awalnya aku bingung apa yang akan ia perlakukan padaku. Nyatanya saat aku di sana dia memperlakukan aku seperti binatang. Air mataku, tangisan ku dan teriakkan ku di hiraukan olehnya. Bahkan setelah kejadian tersebut aku memutuskan untuk pindah ke Malang dan di sanalah aku memulai kehidupan ku yang baru.
Akibat dari kejadian tersebut, aku sulit membuka diri pada sosok lawan jenis. Bahkan sahabatku yang kini tengah melanjutkan S2nya sangat tahu betul keadaanku. Bahkan Andes yang selalu menemaniku saja aku cueki selama masa kuliah. Karena aku tidak ingin kembali merasakan sakit. Sampai beberapa bulan ini aku bisa menerima Andes dan semua hancur dalam satu waktu dan itu semua ulah Alka.
Deg!
"Jika adiknya Alka koma tiga tahun ini, itu tandanya ada pelaku lain dari semua ini." Gumamku.
Aku menuruni tangga secara perlahan-lahan. Melihat Mama Alka tengah sibuk di dapur membuat aku tersenyum. Aku langsung berlari ke arahnya.
"Ada yang bisa aku bantu Ma?" Tanyaku.
"Kenapa kamu berpakaian seperti itu? Ah! Sudah tidak perlu di jelaskan Mama paham." Jawabnya.
Aku bingung harus merespon apa karena pada dasarnya aku merasa malu sekaligus sedih. Sedih jika Alka lagi-lagi membuat aku terlihat murahan di depan ibunya.
"Hubungan kalian baik-baik saja kan? Selama lima tahun ini Mama tidak pernah melihat kamu kesini, kata Alka kamu sibuk kuliah dan kerja benar?"
"Benar Ma. Jarak Malang dan Jakarta kan lumayan jauh. Jadi aku memilih fokus pada kuliahku setelahnya aku kembali ke sini. Jadi, apa ya g aku lewatkan selama lima tahun ini?"
"Orang tuamu meninggal kamu datang?" Tanyanya.
"Datang. Lalu aku kembali lagi ke Malang." Jawabku jujur.
"Saat orang tuamu meninggal, saat itu Aisa masuk rumah sakit entah apa yang terjadi padanya sebelumnya dan dia hikss... Dia koma sayang. Dia koma hiksss..."
Aku langsung menarik Tante Aneta kedalam pelukanku. Tante Aneta saja tidak tahu kronologisnya. Berarti aku harus mencari cara untuk menemukan jawaban dari semuanya. Aku tidak tahu apa akhir yang kudapatkan nanti. Setidaknya aku harus mencari dalang utama dari permainan ini. Setelah itu, aku akan pergi menjauhi pria tersebut. Atau mungkin dalang itu hanya akan bisa terungkap dengan sadarnya Aisa. Semoga saja Aisa akan bangun dalam waktu dekat ini. Hanya itu yang aku inginkan agar lepas dari semuanya.
"Aku yakin Aisa akan bangun dan berkumpul bersama dengan kita Ma. Kita berdoa saja semoga dalam waktu dekat ini dia siuman. Karena aku sangat merindukannya," dan membutuhkan dirinya untuk menolong ku lepas dari neraka buatan Alka ini.
"Kenapa kalian saling pelukan gitu? Kenapa Mama menangis?! Apa yang kamu perbuat sama Mama ku Ana!" Bentakan Alka membuat aku terdiam di tempatku sedangkan Tante Aneta melepaskan pelukanku dan langsung memukul bahu anaknya.
"Bagus sekali! Setelah mencuri start kamu memperlakukan Ana seperti ini?! Astaga Alka! Jangan sampai kejadian kakak sepupumu terulang padamu! Tolong kendalikan emosimu sebelum jadi bumerang padamu."
"Aku pikir dia membuat Mama nangis. Mama tahu bukan aku sangat menyayangi Mama dan Aisa seperti apa? Jadi maaf jika aku kadang khilaf seperti ini." Perkataan Alka membuat aku menahan nafas.
"Mama sangat tahu, Tapi bagaimanapun Ana calon istri kamu jangan sampai kamu menyakitinya. Karena kamu akan menyesali jika kamu menyadarinya nanti. Ah! Mama sudah siapakan kalian makan karena mama yakin kalian sangat butuh makan setelah kegiatan kalian. Dan Ana, besok kita fitting baju jadi setelah ini istirahatlah. Karena kami semua akan melihat kamu memakai gaun buatan Mama."
Aku tersenyum ke arah Tante Aneta. Bagaimanapun aku tidak mau mengatakan sejujurnya. Biarkan ini menjadi rahasiaku sampai ajal menjemput ku.
Kami makan dalam diam hanya dentingan alat makan yang memenuhi ruangan ini.
"Ana?!" Teriak seseorang di belakang ku membuat aku mengehentikan gerakan tanganku.
"Kak Dicky?!" Teriakku dengan senang. Dia adalah kakak sepupu Alka. Atau bisa di katakan dia cucu pertama di keluarga William sebelum sepupunya dan Alka.
"Ya ampun Ana. Kamu makin cantik saja. Dulu saat pertama kali pacaran dengan Alka usiamu masih 12 tahunan sekarang mungkinkah sudah 20?" Pertanyaannya ku balas dengan anggukan.
"Wah! Ternyata kelas akselerasi membuat ku jadi minder ya. Aku merasa bodoh jika berhadapan dengan mu. Ah iya sampai lupa, Deva dan Diandra. Istri dan anak kakak." Kak Dicky memperkenalkan wanita cantik dan gadis imut di sampingnya.
"Ana." Balasku.
"Ternyata kamu secantik ini ya, pantas saja selama kamu pergi kuliah Alka tidak mau dekat-dekat wanita lain ternyata miliknya lebih cantik." Puji Kak Deva.
"Kakak bisa saja. Makan kak?" Tawarku.
"Tidak terima kasih. Kami istirahat saja. Kalian baik-baik ya jangan curi start!" Ledek Kak Deva.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya. Setidaknya aku memiliki mereka untuk mengalihkan semua rasa sakitku. Aku harap Andes yang tenang di sana juga mendoakan aku supaya semua berkahir dengan cepat.
"Sudah selesaikan? Ayo ke kamar!" Ucap Alka sambil menarik tanganku.
"Please sekali ini saja jangan perlakuan aku dengan kasar. Jika kamu ingin memperlakukan aku seperti binatang jangan di rumah keluargamu." Kataku dingin.
Aku melepaskan genggaman tangannya dan pergi meninggalkan dia yang masih terdiam di sana. Aku hanya lelah. Wajar bukan aku berkata demikian?
❤️❤️❤️
Mentari menyinari wajahku. Secangkir teh hangat menemaniku dan Tante Aneta pagi ini. Kami berdua tengah duduk sambil menikmati suasana taman buatan yang begitu indah di hadapan kami.
"Apa kamu masih suka menanam bunga?" Tanya Tante Aneta.
"Sangat Tante. Karena bagiku mereka adalah temanku di saat aku merasakan kesepian selama ini." Jawabku dengan jujur.
"Lalu dimana kakakmu?"
Aku tersenyum sendu ke arahnya. "Kakak menjadi model di negeri orang." Jawabku.
"Ouhhh... Baguslah! Daripada dia di sini melukaimu terus lebih baik dia di sana. Sejak kapan?" Tanyanya lagi.
"Sejak Mama dan Papa meninggal." Jawabku.
"Maaf pasti kamu jadi teringat mereka." Aku menggeleng cepat. Aku membalas Tante Aneta dengan senyuman terbaikku.
"Tenang Tante aku baik-baik saja."
Ya. Aku baik-baik saja. Bahkan saat mereka meninggal hanya kakakku yang mereka cari. Sedangkan aku? Hanyalah sampah bagi keduanya. Setidaknya aku masih beruntung memiliki sahabat seperti sahabatku. Jika tidak ada keluarga mereka, aku tidak akan seperti saat ini sekarang.
"Hemmm.. lalu setelah lulus apa kegiatan mu sayang?"
"Aku kerja di salah satu perusahaan yang ada di Jakarta. Kantornya tidak jauh dari rumah Paman dan bibi atau lebih tepatnya aku berkerja di perusahaan milik sahabatku." Aku menyeruput tehku baru saja ingin ku letakkan kembali seseorang mencium Pipiku membuat aku hampir saja menjatuhkan cangkir yang ada di genggaman tanganku.
"Pagi Love!" Sapa Alka yang baru selesai berolahraga raga. Terlihat jelas dari bulir-bulir keringat di wajah dan tubuhnya.
"Pagi too.." jawabku sekenanya.
"Masih ngambek soal semalam? Maaf aku tidak bermaksud membentakmu. Maafkan semua kesalahanku ya. Forgive me, please?"
Kini Alka tengah berjongkok di hadapanku dengan wajah memelasnya. Aku tahu dia tengah berakting sekarang. Karena setahuku Alka tidak akan mudah meminta maaf seseorang. Bahkan dia tidak mau.
"Hemmm..." Balasku dan dia langsung memeluk tubuhku dengan erat.
"Jangan membuat terlihat buruk, atau kamu tahu akibatnya." Mendengar bisikan tersebut membuat aku menatap punggungnya yang kini pergi meninggalkan keberadaan ku.
"Mama senang kalau kalian seperti sekarang. Dulu Alka seperti mayat hidup tanpa kamu. Terima kasih Ana kamu sudah kembali."
"Sama-sama Tante, Ana yang beruntung memiliki Alka." Jawabku.
Pagi itu aku habiskan dengan berbincang sambil meminum secangkir teh bersama wanita yang sudah ku anggap seperti ibu ku sendiri.
***
Siangnya, aku dan Alka pergi ke Butik milik Mama Alka. Karena seperti rencana mereka kalau aku akan fitting baju pengantin hari ini.
"Aku mau setiap di depan keluargaku kamu harus terlihat bahagia bersamaku. Jika tidak, aku akan membuatmu seperti di neraka. Dan jauhi semua pria yang mendekati dirimu jika tidak? Mereka akan mati seperti calon suami mu."
"Aku tidak tahu apa kesalahanku padamu. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tapi kamu harus tahu Alka. Hidup ini gak selamanya berada dalam genggaman mu. Akan ada waktunya semua berbalik dan aku harap saat itu terjadi kita tidak akan pernah bersama lagi."
"Ana-Ana... Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang sebelum kematian menjemput dirimu. Apa kamu lupa jika kamulah penyebab adikku koma? Jadi jangan pancing emosiku saat ini karena aku tidak ingin mereka tahu apa yang ku perbuat padamu."
Aku tidak mau merespon perkataannya. Karena percuma aku melakukan pembelaan, sebab di dalam pikirannya aku adalah pelaku dari semua ini.
Aku tidak peduli jika keadaan saat ini begitu hening. Karena bagiku berbicara dengannya hanya akan menambah luka dalam kehidupan ku.
Aku menoleh ke arah kaca, ternyata kami sudah memasuki kawasan butik milik keluarga William. Aku bersyukur jika akhirnya kami tiba di sini. Karena aku merasa muak bersama dengannya.
Aku turun terlebih dahulu meninggalkan dia yang masih di dalam mobil. Aku tidak peduli dengan amarahnya nanti. Karena saat ini yang ku pedulikan hanya satu. Aku ingin segera mengakhiri semuanya.
"Sayang kenapa wajahmu muram?" Tanya Tante Aneta.
"Tidak Ma. Aku hanya lelah saja saat ini. Bisakah kita langsung saja?" Tanyaku dan di balas dengan anggukan olehnya.
Aku di tarik ke sebuah ruang ganti. Dan aku mulai mencoba salah satu gaun yang di sediakan di sana.
Krett...
Pintu ruang ganti terbuka tiba-tiba dan saat itu aku melihat Alka berdiri sambil menatap ke arahku dingin.
"Ternyata kamu mulai bertingkah Ana. Jika sekali lagi kamu melakukan hal seperti tadi, jangan harap kamu bisa keluar menikmati dunia."
Gaun yang ku gunakan kini melekat indah di tubuhku. Aku sedikit tersenyum melihat diriku saat ini. Seandainya Andes masih hidup mungkin kami akan melakukan hal ini. Mungkin Andes akan memperlakukan ku seperti ratunya. Namun semua itu sudah hancur dan itu berkat pria di belakangku ini.
"Cantik. Namun sayang kecantikan mu tidak begitu berarti untukku. Karena kamu hanyalah sampah yang akan ku buang suatu saat nanti." Bisiknya.
Ya. Mungkin benar ucapannya. Aku hanyalah sampah baginya. Dan sampah ini masih mencintai mu dengan sama seperti dulu.
Aku keluar dari tempat menyesakkan ini. Dan menunjukkan pada mereka betapa cantiknya gaun tersebut. Pujian demi pujian ku dapati dari keluarga Alka. Bahkan pria itu berakting layaknya kami adalah sepasang kekasih yang tengah berbahagia. Dia sangat cantik memainkan kartunya. Tapi aku tidak bisa selamanya mengikuti kemauannya. Akan ada waktu di mana aku akan mengakhiri semuanya.
"Kalau kamu suka kita ambil ini untuk gaun pernikahan kalian. Untuk yang lain jadikan saja sebagai pergantian nanti."
"Kamu bahagia Ana?" Pertanyaan Antonio membuat semua orang di sana menatap Antonio dengan aneh.
"Tentu saja Aba bahagia Om! Diakan akan menikah dengan pangerannya. Bukan begitu Ana?" Tanya Dicky sambil merangkul bahu ku.
"Aku sangat bahagia Papa. Sampai rasanya aku ingin menangis saat ini." Jawabku namun tidak membuat wajah Antonio senang. Aku bingung apa yang terjadi di sini. Kenapa Antonio tiba-tiba seperti ini? Apa dia mendengar ucapan Alka? Tapi bagaimana bisa?
"Cepat ganti pakaian kamu. Kita makan siang bersama. Ada yang ingin Papa tanyakan sama kamu nanti." Kata Antonio.
Aku segera melepaskan gaun yang ku gunakan dan berganti dengan gaun yang ku pakai saat aku datang ke butik ini.
"Ayo kita makan siang!" Seru ku riang.
"Maaf sayang sepertinya kita tidak ikut acara makan siang. Karena ada yang harus kita urus termasuk undangan untuk kakakmu. Jadi kami absen ya. Permisi!" Ucap Alka sambil menarik tanganku meninggalkan butik tersebut.
Mata Antonio menatapku dengan tajam. Entah apa yang tengah terjadi saat ini. Apa yang tidak Antonio suka saat ini? Apa mungkin dia ikut berprasangka buruk seperti Alka?
Hari itu aku benar-benar di ajak oleh Alka untuk menyusul Kakakku. Entah apa rencana Alka saat ini. Yang pasti mendatangkan kakakku bukanlah hal yang baik.
❤️❤️❤️
Aku membuka mataku dan aku merasakan seseorang memelukku begitu erat. Saat ku toleh ternyata Alka yang kini memelukku. Aku merasakan sentuhan kulit kami bergesekan dengan sangat intim. Ku angkat sedikit selimut yang menutupi tubuh kami. Ternyata...
Apa yang terjadi di sini? Kenapa aku tidak berbusana? Seingat ku aku keluar dari butik Tante Aneta dan aku meminum air mineral yang di berikan Alka. Apa mungkin Alka? Astaga! Pria itu sangat jahat sekali!
Aku melepaskan pelukannya dan meninggalkan dia seorang diri di sana. Aku berdiri menatap tubuhku yang penuh dengan tanda-tanda buatannya. Luka memanjang di paha atasku membuat aku meremas jemari tanganku. Lagi-lagi dia melukai tubuhku dengan pisau miliknya. Sampai kapan aku akan seperti ini?!
Saat aku berbalik, aku tidak sengaja melihat punggung ku yang tertulis nama Alka. Sebuah tulisan sedang yang berada di punggungku. Pantas saja saat ku bangun aku merasakan perih ternyata pria itu membuat kan luka di punggungku. Apa dia sudah gila?
Aku tidak peduli lagi dengan luka-luka di tubuhku. Ku rendam tubuhku di dalam air yang memenuhi bath up. Air mata terus saja keluar saat aku merasakan pedihnya luka-luka yang ia buat. Ku pejamkan mataku berharap jika hari ini dan kemarin hanyalah mimpi.
***
Di belahan dunia lain. Seorang Pria paruh baya tengah membaca sebuah kenyataan. Kenyataan tentang siapa pelaku yang membuat anak tercintanya terbaring koma hingga bertahun-tahun. Bahkan ia tidak mengerti apa salah anaknya pada sosok ini karena dia begitu tega dengan anaknya. Apa dia harus memberi tahu semuanya? Jika ia dia takut ada seseorang yang tersakiti di sini.
"Biarkan seperti ini saja."
Pria paruh baya tersebut menutup laptopnya dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Ia harap keputusan yang ia ambil tidak akan melukai orang lain lagi.
***
Alka bangun saat tidak merasakan keberadaan Ana. Ia langsung mencari keberadaan Ana namun nihil. Bahkan di kamar mandi pun tidak ada keberadaan wanitanya.
Wanita yang sangat ia cintai dan benci dalam waktu bersamaan.
Alka langsung berpakaian dengan tergesa-gesa. Saat ia membuka pintu, seseorang wanita cantik berdiri dengan gaun mininya. Ia langsung mencium bibir Alka dengan rakus seakan-akan Alka adalah sebuah makanan.
"Inez! Apa yang kamu lakukan hah?!" Bentak Alka.
"Tentu saja menenui Pria yang aku cintai. Sampai kapan kamu tidak mau melihat ke arah aku Alka?"
"Kamu gila! Aku akan menikah dengan adikmu! Sadar Inez." Teriak Alka.
"Adikku? Baru saja dia ku antar ke bandara. Jadi lebih baik kita nikmati malam hangat ini bersama." Inez merangkul leher Alka dengan erat. Bahkan tubuh mereka kini saling bersentuhan.
"Lepaskan Inez! Aku tidak pernah mencintaimu! Jadi sadarlah. Lebih baik kamu pergi dari sini. Jika sampai hal buruk terjadi pada Ana aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Karena yang berhak menyakiti Ana hanya aku!" Seru Alka.
"Kamu benar! Apa kamu menikahi adikku karena tubuhnya? Maka aku ikhlas memberikan tubuhku padamu. Ayolah Alka. Jangan munafik. Tubuhmu bahkan merespon segala sentuhan ku." Memang tangan Inez sedari tadi tidak pernah diam memainkan bagian tubuh Alka. Membuat Pria berusia 25 tahun tersebut menahan gairah yang ada di tubuhnya.
"Stop Inez! Kamu itu kakak Ana tidak pantas kamu melakukan hal murahan seperti ini. Dan satu lagi, jangan pernah menyentuh tubuhku karena hanya Ana yang boleh menyentuhnya. "
Alka berjalan meninggalkan wanita tersebut. Namub saat posisinya sudah berada sedikit jauh dari Inez Alka melanjutkan perkataan yang seharusnya dia ucapan pada Inez.
"Aku mencintai adikmu sampai rasanya aku mati jika di bersama dengan yang lain. Ah satu lagi, lusa pernikahan kami. Datanglah jika kamu memang menganggapnya keluarga."
Alka meninggalkan hotel tersebut ean pergi menyusul Ana. Awalnya ia datang ke sini ingin berlibur bersama dengan Ana sambil membicarakan rencana yang harusnya mereka bicarakan setelah menikah nanti ternyata semua gagal. Dan sekarang Alka harus menahan amarahnya karena wanita itu pergi darinya. Sial!
***
Aku tiba di bandara setelah bertemu dengan kak Inez. Kalian tahu kenapa aku ada di bandara? Kakak ku tersebut tiba-tiba menarik tanganku dan berkata aku tidak pantas untuk Alka. Memang iya. Karena bagaimanapun aku tidak ingin pernikahan ini terjadi. Aku tidak mau menikah dengan orang yang selalu melukai ku jiwa dan raga. Aku tidak mau menikah dengan orang yang hanya ingin membalaskan dendam nya padahal dia sendiri tidak tahu kebenarannya apa.
Aku butuh seseorang yang bisa membantuku mengungkapkan semua kejadian ini. Apa aku minta bantuan sahabatku? Tidak! Aku tidak akan menganggu dirinya. Aku harus bisa menemukan jawabannya sendiri. Tapi kapan? Bahkan Aisa belum juga membuka matanya saat ini.
Brugggg...
Tubuhku terhempas hingga aku terjatuh di lantai Bandara. Seseorang yang menabrak tubuhku langsung memberikan tangannya untuk membantuku.
"Maaf saya buru-buru. Anda tidak apa?"
"Tidak. Terima kasih." Jawabku.
Saat Pria itu meninggalkan aku, aku merasakan sebuah perasaan asing yang tiba-tiba muncul dalam hatiku. Perasaan yang membuat aku sedikit tenang.
Panggilan untuk namaku membuat aku langsung berlari memasuki pesawat. Sepertinya aku harus berbicara dengan kedua orangtua sahabatku jika aku akan menikah. Tidak mungkin bukan jika aku tidak mengundang mereka? Walaupun pernikahan ini hanya sementara setidaknya aku ingin keluarga sahabat ku ikut merasakan sedikit kebahagiaan ku.
"Ternyata kita satu pesawat." Kata seseorang.
"Eh?" Balasku spontan.
"Kenalkan namaku Zach Lexus."
"Aku Ana." Balasku sambil menjabat tangannya.
"Wajahmu mengingatkan aku pada seseorang. Ah! Apakah kamu baik-baik saja Ana? Sebelumnya maaf karena lancang. Saat kamu terjatuh tadi aku melihat luka di pahamu. Apa kamu mengalami masalah Ana?" Tanyanya membuat aku tersentak.
"Ah? Eh.. itu luka kecelakaan! Iya kecelakaan." Jawabku gugup.
"Ah! Lain kali hati-hati Ana. Karena sangat menyayangkan jika kulit mulus mu terluka. Ouh ya kemaa tujuanmu Ana?"
"Aku kembali ke Jakarta. Karena kedatanganku ke sini hanya untuk memberi tahu kakakku jika aku akan menikah dengan seseorang setelah itu aku harus kembali untuk menyiapkan semuanya." Jawabku jujur. Entah kenapa sosok di samping ku seperti sosok kakak yang aku butuhkan. Mungkin aku hanya terbawa suasana karena ke ramahan orang ini. Jadi abaikan sikapku ini ya.
"Wah kamu akan menikah? Jika aku tebak kamu menikah muda? Karena menurut penglihatan ku kamu masih 20 tahunan."
"Hemm kamu benar. Usiaku 20 tahun. Seharusnya umur semuda ini aku masih sibuk dengan tugas-tugas kuliah bukan?" Candaku.
"Heeem.. kenapa kamu menikah apa kamu--?" Tanyanya sambil menatap ke arah perutku.
"Nope. Hanya saja memang takdir membuat ku berada di titik ini. Aku sampai lupa, kamu sendiri mau kemana?" Tanyaku sambil menoleh padanya. Ternyata Zach sangat tampan. Bahkan dia memiliki warna mata seperti ku Hijau.
"Aku juga ingin ke Jakarta. Ada yang harus aku temui. Doakan ya semoga aku bisa menemukan seseorang yang aku cintai ini. Karena hampir 20 tahun kami berpisah." Jawabnya.
"Semoga kamu cepat menemukannya." Setelah mengucapkan kata tersebut kami berdua tenggelam dalam sebuah percakapan absurd dan menyenangkan. Setidaknya saat ini aku bisa mengalihkan rasa sakitku atas perbuatan Alka. Karena bagaimanapun setelah ini, kehidupan tenangku akan berubah. Dan aku harap Aisa cepat membuka matanya supaya bisa membantuku keluar dari situasi menyakitkan ini.
❤️❤️❤️
Setibanya di Bandara internasional Soekarno-Hatta. Aku langsung memesan taksi online. Zach yang sedari tadi menunggu taksi ku datang sesekali menghubungi seseorang yang akan ia temui.
"Ah! Itu taksiku. Terima kasih sudah menemani ku Kak," pamitku padanya. Ya, kami sepakat untuk memanggil kakak dan adik. Awalnya aku rada segan tapi Zach meminta demikian. Jadi daripada menolaknya aku lebih baik menerimanya. Karena bagaimanapun aku bahagia bisa mengenal dirinya saat ini.
"Ah ya, aku sudah memasukkan nomer ponselku saat kamu tertidur tadi dan maaf lancang membukanya. Tapi aku bersumpah aku tidak membuka yang lain. Aku hanya memasukkan nomer ponsel dan setelah ak--"
"Aku percaya kak. Kalau begitu sampai bertemu kembali!" Seruku.
Aku menaiki mobil tersebut. Karena hari aku tiba pagi jadi kemungkinan keluarga sahabat ku masih berkutat dengan sarapan. Aku harap mereka tidak marah dengan perkataan ku nanti.
***
Zach Lexus menatap kepergian Ana dengan sendu. Seseorang yang ia tunggu akhirnya datang dan membukakan mobil untuknya.
"Tuan ini file yang anda minta. Di sana jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini tuan inginkan."
Zach menyimpan berkas tersebut di sampingnya. Ia akan membaca ini nanti. Karena ia takut di kecewakan kembali. Lebih baik ia tidur sekarang. Karena, selama di pesawat ia tidak tidur. Ia malah memilih menatap wanita cantik yang tertidur di bahunya.
Ia mengambil sebuah ponsel pintarnya dan melihat wanita yang akan menikah tersebut tengah pulas dalam dekapannya. Biarkan Zach mengambil kesempatan tadi. Tapi Zach rasa Ana tidak bahagia dengan pernikahannya. Terlihat jelas dengan pesan-pesan penuh makian dari seseorang.
Ya, Zach berbohong jika dia tidak membuka apapun. Malah karena pesan penuh makian itu membuat Zach semakin ingin tahu dan berakhir dengan melihat semuanya. Zach tidak menyangka jika wanita belia tersebut harus menanggung beban seperti ini.
"Luc! Bisakah kamu mencari tahu siapa gadis ini?" Tanya Zach sambil memberikan ponselnya.
"Bisa Tuan. Saya akan mengirimkan hasilnya pada Tuan secepatnya."
"Saya tunggu."
Luc. Asisten pribadi Zach merasa tidak asing dengan wanita di gambar tersebut. Ia seperti pernah melihat di suatu tempat. Tapi dimana ya?
"Luc kenapa?" Tanya Zach.
"Tidak Tuan. Wajah wanita tadi hanya tidak asing."
"Sama saya juga merasakan hal yang sama. Jadi cepatlah cari siapa gadis itu."
"Siap Tuan."
Zach kembali menatap foto Ana. Sebenarnya siapa gadis ini? Kenapa Luc juga merasakan hal yang sama?
***
Akhirnya aku tiba di sebuah rumah besar. Satpam yang membukakan aku pintu langsung tersenyum sambil menyapaku.
"Eh neng Ana. Sudah lama tidak berkunjung. Silakan masuk neng."
"Ah! Si bapak bisa aja. Saya masuk dulu ya Pak!"
Dengan langkah riang aku berlari memasuki rumah tersebut. Bahkan saat aku masuk kedalam asisten rumah tangga kembali menyapaku dan ku balas dengan riang.
"Mama... Papa!!! Ana datang!" Teriakku.
"Ana?! Ya ampun sayang Mama kangen sekali sama kamu!" Seru wanita yang masih cantik di usianya, Annabeth.
"Sama Ana juga." Balasku sambik memeluk tubuhnya.
"Wah anak Papa akhirnya pulang juga. Bagaimana bibimu? Apa mereka memperlakukan kamu dengan baik?"
"Tanpa ku jelaskan kalian pasti tahu bukan?" Jawabku sambil bercanda.
"Kamu ini, duduk dulu deh kita sarapan bersama. Kamu sudah mandi? Jika belum mandilah dahulu. Baru kita berbincang-bincang." Kata Alvao Aincy.
"Baik Papa kalau begitu Ana keatas dulu ya."
Aku berlari menaiki lantai dua. Tempat di mana kamarku berada dulu. Ya, sebelum aku tinggal bersama bibiku aku tinggal di rumah ini dan mereka sangat menerima dengan tangan terbuka membuat aku bersyukur atas semuanya.
***
"Baiklah ada apa kamu datang ke sini pagi-pagi sampai lupa mandi?" Tanya Mama.
Kini aku tengah duduk di ruang keluarga setelah tadi menghabiskan waktu bersama dengan sarapan bersama.
"Ekhem.. Mama sama Papa jangan kaget dan jangan marah oke. Aku akan menjelaskan semuanya."
"Lanjutkan!" Perintah Papa.
"Besok aku menikah dengan Alka William."
Prang!!!
Suara pecahan terdengar di telinga kami bertiga. Kami langsung menengok ke arah sumber suara dan ternyata....
"Amelia? Sejak kapan kamu di sana nak?" Tanya Mama.
"Sejak adik kecilku berkata akan menikah dengan Pria yang menghancurkan dirinya dulu." Jawab Amelia dingin.
"Dengar kan adikmu dulu. Kita tidak bisa langsung menghakiminya begitu saja. Jadi jelaskan semuanya!" Perintah Papa.
Aku menarik nafasku.
"Tiga hari yang lalu Andes datang menemuiku untuk bilang pada paman dan bibi jika dia ingin melamarku. Aku bahagia sekali mendengarnya. Bahkan Andes sudah menyiapkan semuanya. Namun saat kami ingin jalan-jalan sebuah mobil menabrak mobil kami dan hiksss.. Andes meninggal di tempat. Hatiku hancur. Aku merasa terlambat menyadari semuanya. Sampai paman dan bibiku menjadikan aku sebagai alat pelunas hutangnya. Awalnya aku pikir aku akan menemui seseorang Pria seusia Papa. Ternyata aku salah! Pria itu Alka. Dia sudah merencanakan semuanya. Bahkan yang membuat Andes meninggal adalah dirinya..."
"Tapi kenapa Alka melakukan itu sayang? Apa salah kamu?" Tanya Mama sedih.
"Katanya aku yang membuat adiknya koma tiga tahun lalu. Sedangkan saat itu, kita masih di Malang Ma. Dimana letak kesalahanku Ma? Kenapa dia memperlakukan ku seperti binatang kembali?" Tanyaku dengan derai air mata.
"Jangan bilang? Brengsek! Papa tidak akan membiarkan kamu menikahinya!"
"Aku tidak akan membiarkan Alka melukai kalian. Cukup Andes yang pergi jangan kalian. Aku masih sangat membutuhkan kalian semua saat ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi kedepannya nanti jika tidak ada kalian di sini. Aku mohon biarkan aku menyelesaikan semuanya. Aku hanya menunggu Aisa membuka mata dan setelahnya ak--"
"Kapak Aisa akan membuka mata Ana?! Satu tahun lagi atau dua tahun lagi? Kamu sanggup hidup bersama Pria itu? Tidak bukan? Lebih baik ikuti perkataan Papa. Dan aku tidak mau di bantah!" Amelia memotong ucapanku bahkan dia langsung berdiri meninggalkan kami untuk menghubungi seseorang. Entah siapapun orangnya.
Aku bangkit dari dudukku dan berlari keluar menyusul Amelia, sahabat sekaligus kakak untukku. Baru saja aku tiba di depan pintu. Aku melihat Alka mengarahkan pistol kecilnya ke arah Amelia. Aku yang melihat semua itu langsung mendorong tubuhnya.
Brukkkk...
Dor......
"Ana!!!"
"Non Ana!!!"
"Ana!!"
Teriakan mereka semua terdengar begitu nyaring di telingaku. Peluru panas tersebut bersarang di tubuhku membuat aku merasakan sesak seketika.
Sosok Pria yang baru ku kenal semalam berada di hadapanku sambil memeluk tubuh Amelia. Sedangkan Mama dan Papa terus memanggil nama ku sampai kegelapan menjemput ku.
Aku ikhlas jika saat ini waktuku tiba. Aku ikhlas jika saat ini aku pergi meninggalkan dunia ini. Aku ikhlas jika akhir dari semuanya seperti ini. Setidaknya semua akan baik-baik saja setelah aku pergi. Ya, semua akan baik-baik saja.
❤️❤️❤️
Suara sepatu beradu dengan lantai memenuhi area rumah sakit. Dokter dan petugas lainnya mendorong brangkar tersebut dengan kekuatan penuh. Amel dan Zach ikut mendorong brangkar tersebut sampai memasuki ruang ICU.
"Zachhh...hiksss... Adikku Zach. Adikku terluka Zach..."
"Tenang lah sayang, adikmu akan baik-baik saja. Dia wanita kuat. Jadi lebih baik kita berdoa. Semoga beliau segera kembali kepada kita." Bisik Zach.
Zach sangat sedih melihat tunangannya seperti ini. Dan dia juga sangat marah dengan pelaku penembakan tersebut. Ia bersumpah akan mencari siapa pelaku kejadian ini.
"Tuan ini--"
"Bisakah anda simpan berkas tersebut? Waktunya tidak tepat untuk membacanya." Kata Zach dingin.
"Tapi Tuan--"
Luc sangat tahu kondisi gadis tersebut. Dan Luc sangat tahu apa yang terjadi dengan gadis itu sampai rasanya ia ingin menghancurkan seseorang yang membuatnya terluka. Tapi Luc harus menceritakan semuanya sekarang sebelum semuanya terlambat.
"Mana Ana?" Pertanyaan dingin tersebut membuat mereka menengok ke sumber suara.
"Cihhh... Jangan munafik Alka! Kamu bukan dalang dari semuanya?! Kamu bukan yang menembak adikku? Jawab Alka! Tidak cukupkah kamu menghancurkan dia dulu? Tidak cukupkah kamu membuatnya dia di benci keluarganya sendiri? Tidak cukupkah kamu menyakitinya terus-menerus Alka?! Jawab!!!!" Teriak Amel membuat Zach mengelus punggung tunangannya tersebut.
"Saya tidak mengerti ucapan anda. Saya saja baru tiba di Indonesia. Dimana letak kesalahan saya?" Tanya Alka dingin.
Amel menatap Pria di depannya ragu. Jika Alka bukan pelakunya siapa yang menembak adiknya?
Luc yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa menatap Alka dengan penuh kebencian. Bahkan ia sangat ingin menghancurkan Pria tersebut. Namun ia tidak memiliki bukti cukup jadi dia tidak bisa bertindak gegabah saat ini.
"Maafkan tunangan saya. Dia hanya khawatir dengan adiknya."
Alka menatap Zach kaget namun dia langsung merubah raut wajahnya dan menganggukkan kepalanya.
Mereka semua mencoba percaya jika bukan Alka pelakunya. Tapi, mereka semua bersumpah jika menemukan bukti akurat mereka akan membawa Ana menjauhi Pria tersebut.
Pintu ruang ICU terbuka. Di sana seorang dokter tua muncul dengan bekas darah di jasnya.
"Kondisi nona Ana sudah stabil. Dia melewati masa kritisnya dengan baik. Setelah ini kamu akan memindahkan ia ke ruang perawatan."
"Berikan tempat yang terbaik dok." Perkataan Zach membuat mereka mengangguk setuju sedangkan Alka? Dia tengah menahan segala emosi yang memenuhi relung hatinya.
Ia harus sabar sampai Ana siuman. Karena setelah ini ia akan membalaskan semuanya kepada Ana. Harus!
****
Alka tiba di rumah sakit, namuan bukan tubuh Ana yang ia lihat. Melainkan kasur kosong. Alka terus mencari keberadaan Ana di kamarnya sampai pintu terbuka menampilkan Ana dan Zach.
"Terima kasih Kak, ouh ya salam buat Kak Amel ya."
"Nanti kakak salamin. Kalau gitu kakak pamit dulu. Kamu hati-hati ya. Kalau ada masalah hubungi Amel."
"Siap!"
Dua insan itu tidak menyadari jika ada seseorang yang menatap mereka dengan penuh emosi. Tangannya terkepal seakan-akan kepalannya bisa melukai siapapun.
Zach menghilang dari pandangan Alka muncul dengan seringaian yang Ana benci. Tidak perlu menunggu lama lagi, Alka kembali memperlakukan Ana seperti binatang. Ia tidak peduli dengan kesakitan yang Ana rasakan. Setelahnya dia tinggalkan Ana di sana dengan kondisi mengenaskan.
"Tuhan kali ini saja biarkan aku menutup mataku selamanya"
❤️❤️❤️
Luc melangkahkan kakinya memasuki ruangan Ana. Suara isak tangis dan rintihan kesakitan membuat Pria itu langsung mendobrak pintu di depannya.
"Ana!!"
Mata anak terpejam dengan beberapa luka di tubuh telanjangnya. Melihat semua ini Luc yakin dengan apa yang terjadi pada Ana. Luc merapikan pakaian Ana setelahnya ia memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Ana.
"Apa anda baru menyentuhnya?" Pertanyaan tersebut langsung di mengerti oleh Luc.
"Tidak, tapi saya lihat suaminya yang melakukannya. Kenapa?" Pertanyaan itu membuat dokter kembali menatap Luc serius.
"Bisakah sampaikan kepada suaminya untuk tidak menyentuh Ana dulu? Saya tahu tentang kebutuhan Pria tapi bisakah dia menahannya? Kondisi Ana bisa semakin parah." Dokter wanita di hadapan Luc berkata lirih.
"Maksudnya dokter apa?"
"Psikis Ana terganggu dan ini bisa membuatnya gila. Saya yakin suaminya ini memperlakukan Ana dengan kasar melihat luka di tubuh dan ***********. Saya hanya menyarankan untuk menjauhi Ana darinya." Jawab dokter tersebut.
"Apa bisa?" Tanya Luc.
"Jika mengharuskan saya bisa bantu. Saya tidak tega melihat kondisi Ana yang seperti ini." Jawabnya.
"Kalian tidak perlu membantuku. Jika dia sampai tahu, dia akan membunuh kalian dan aku tidak mau kalian kenapa-kenapa. Cukup diam karena aku yakin akan ada saatnya semua kembali seperti sedia kala."
Dokter wanita dan Luc menatap Ana dengan sendu. Mereka tidak tahu harus melakukan apa untuk menyelamatkan Ana. Tapi, satu yang ada di pikiran Luc saat ini. Bosnya!
Tapi, melihat kejadian beberapa hari ini membuat Luc menahan dirinya. Dia takut jika Pria itu membunuh Ana karena bos-nya dekat dengan Ana. Lebih baik untuk saat ini dia diam sampai bos-nya membaca berkas yang ia berikan sebelumnya.
"Saya pamit. Tolong jaga Ana."
Lepas kepergian Luc, Ana dan dokter cantik yang merawatnya saling terbuka satu sama lain. Bahkan dokter tersebut memberikan bantuan jika Ana membutuhkannya. Dan spontanitas Ana menjelaskan apa yang ada di pikirannya saat ini.
***
Zach memasuki kediamannya dengan lesu. Melihat kondisi Ana seperti tadi membuat hatinya sakit. Ia mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa, sampai nada dering ponselnya berbunyi.
"Hallo sayang kamu dirumah?"
"Ya kenapa?"
"Aku butuh bantuan kamu. Sekarang aku di depan rumah kamu langsung masuk tidak apa?"
"Tidak apa sayang, rumah ini juga akan jadi milik kamu nantinya."
Tidak ada balasan. Namun langkah kaki tergesa-gesa membuat Zach menatap tunangannya serius.
"Ada apa?" Tanya Zach saat kekasihnya duduk di samping kanannya.
"Bisa bantu aku cari tahu kejadian lima tahun lalu?"
"Ada apa lima tahun lalu?"
"Ana cerita dia menikah dengan Alka terpaksa karena dia di tuduh sebagai orang yang membuat adiknya koma. Jika aku perhitungkan ini tidak masuk akal sayang. Setahuku Ana itu fokus kuliah tapi kenapa ada yang menuduhnya demikian. Menurut kamu mungkin gak si ada yang menjebak Ana?"
"Nanti aku bantu cari. Soalnya si Luc--"
Brakkk!!!
Luc membanting sebuah berkas yang ia bawa. Membuat Zach dan Amel menatap Luc bingung.
"Baca semuanya dan aku tidak tahu siapa yang bisa membantu Ana salam situasi ini. Apalagi besok Ana menikah." Tutut Luc lesu.
Pasangan itu mengambil berkas yang di bawa Luc dan membacanya secara serius. Lembar demi lembar mereka baca sampai satu kesimpulan mereka dapatkan.
"Jangan senang dulu! Ana sedang dalam bahaya. Kita harus segera menemukan pelaku aslinya sebelum membawa kabur Ana. Atau kita biat saja adiknya siuaman?" Ucapan frustasi membuat Zach melempar Luc dengan ponselnya beruntung di tangkap dengan sigap.
"Memang kita ini Tuhan! Lebih baik kamu diam Luc aku cuma lagi berpikir kenapa harus Ana? Kenapa bukan orang lain? Dan di saat--"
"Jangan banyak ngemeng! Ana butuh bantuan atau sem--"
Panggilan nomer seseorang muncul di layar ponsel Amel. Kedua Pria itu meminta Amel untuk meloadspeaker.
"Dengan Amelia ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, saya bingung harus mulai dari mana. Yang pasti Luc tahu apa yang terjadi pada Ana tadi."
"Ya lalu?"
"Emmm sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak bisa menjaga Ana dengan baik."
"Maksudnya?"
"Tadi kami asik berbincang-bincang. Saya ada panggilan untuk pemeriksaan dan saat itu saya meninggalkan Ana sendiri di sana. Saat saya kembali Ana tidak ada di ruangannya sampai sebuah pin nama saya temukan dan nama pin tersebut Alka William. Jadi siapa Alka?"
"Dia orang yang membuat Ana seperti tadi." Jawab Luc membuat mereka saling pandang.
Tidak ada yang berani mengeluarkan suara lagi. Entah apa yang sekarang Ana alami pastinya bukan suatu hal yang bagus. Lalu bagaimana mereka mencari Ana?
"Shit! Ana menikah?!" Teriak seseorang di sebrang sana.
"Maksudnya dok?" Tanya Amel.
"Buka TV 5 di sana ada Ana dan Suaminya!"
Luc langsung menyalakan televisi dengan ponselnya karena mereka tidak menemukan dimana remot tersebut.
"Alka Wiliam akhirnya menikahi kekasihnya yang hampir bertahun-tahun menjadi kekasihnya. Acara pernikahan yang di adakan Alka terlihat sangat khidmat dan romantis. Entah apa yang terjadi dengan keduanya karena melakukan pernikahan secara terburu-buru. Yang pasti berita ini mengejutkan semua orang bahkan model papan atas bernama Inez mengatakan jika pernikahan mereka hanyalah settingan belaka. Benar atau tidak? Semua jawaban ada di tangan Alka ataupun isterinya."
"Sial! Kalau kaya gini susah buat narik Ana keluar. Jalan satu-satunya kita harus cari cara untuk membuat adiknya siuaman!"
"Tapi gimana?" Tanya Zach shock.
"Ikuti alur permainan mereka. Sepertinya kita harus berpura-pura tidak mengetahui apapun." Jawab Luc.
"Benar juga. Lalu setelahnya?" Tanya dokter di sebrang sana.
"Kita rebut Ana di waktu yang tepat."
Sebuah rencana yang mereka buat entah bisa berjalan dengan baik atau tidak. Nyatanya musuh mereka adalah psikopat gila yang haus akan kebencian dan kematian Ana. Hanya Ana yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kenapa? Jika Alka tahu maka taruhannya adalah nyawa Ana. Mereka harus hati-hati dalam menjalankan permainan ini. Salah langkah tamat ceritanya.
❤️❤️❤️
Pernikahan yang terburu-buru dan bahkan terkesan memaksakan membuat Ana menjadi tontonan keluarga Alka. Mereka semua tengah menunggu jawaban dari kegilaan Alka saat ini.
"Ya Alka gak mau Ana di ambil Pria lain Ma. Jadi ini sudah keputusan Alka. Ouh ya Alka mau ke rumah sakit. Alka pamit." Ucapan Alka membuat mereka kecewa. Tapi tidak dengan Antonia dia langsung menyerang Ana dengan pertanyaan yang menohok jantungnya.
"Alka memperlakukan kamu dengan kasar bukan? Bahkan yang menembak kamu sampai masuk rumah sakit Alka benarkan?"
"Tidak. Alka baik sama Ana." Jawab Ana sambil tersenyum.
Brakkkk....
Pukulan meja di hadapan Ana membuat ana bergetar hebat. Bahkan semua orang di sana menatap Antonio dengan takut.
"Jangan bohongi saya Ana! Apa yang anak sialan itu lakukan sama kamu?! Cukup saya menutupi kebrengsekan dia sama kamu dulu tapi sekarang saya tidak bisa! Anak itu sudah di luar batasnya." Perkataan Antonio membuat Ana seketika menangis. Ana berjalan mendekati Antonio dengan tertatih-tatih. Ia memegang kaki Antonio.
"Ana mohon jangan lakukan apapun Om. Ana mohon hiksss... Cukup calon suami Ana yang meninggal. Ana tidak mau hal buruk terjadi pada keluarga asuh Ana dan kalian. Ana mohon Om. Biarkan Alka menyiksa Ana asal kalian baik-baik saja. Ana mohon."
Aneta menangis saat mendengar penuturan Ana begitupun dengan yang lain. Sedangkan Dicky dan Antonio saling pandang satu sama lain.
"Tapi Alka sudah keterlaluan!" Bentak Antonio.
"Izinkan Ana menyelesaikan masalah Ana sampai Aisa siuman. Karena Ana yakin Aisa akan siuman dalam waktua dekat."
"Tidak perlu! Saya akan kasih tahu siapa pelaku sebenarnya yang membuat adiknya koma. Itukan alasan dia melakukan kamu buruk?"
"Dari mana Om tahu?"
"Tidak perlu kamu tahu. Jika itu alasannya Om akan beritahu Alka malam ini dan Om juga akan minta kalian bercerai."
"Alka hanya mempercayai Aisa daripada orang lain. Karena Ana tahu seperti apa Alka Om. Ana mohon izinkan Ana berada di sini sampai Aisa siuman setelah Aisa memberi tahu semuanya Ana akan pergi jauh dari sini."
Semua keluarga Alka menatap Ana iba. Mereka tidak tahu jika Alka bisa melakukan hal seburuk itu pada wanita apalagi Ana yang notebenenya kekasih Alka.
"Kami akan bantu dari belakang. Jika Alka berbuat kasar hubungi kami."
Mereka semua memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Karena bagaimanapun mereka harus membiarkan semua berjalan sesuai rencana Alka. Antonio bersumpah jika Ana kenapa-kenapa ia tidak segan untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Karena Antonio tahu anaknya ini sakit.
***
Di tempat lain Alka tengah berbicara dengan adik yang sangat ia cintai. Ia mencurahkan semua perasaannya dan rencananya. Tanpa sadar seseorang mendengar semuanya sambil menahan emosinya.
Alka merasa cukup mencurahkan semuanya dan ia pergi meninggalkan tempat adiknya berada.
Orang-orang yang tadi melihat kepergian Alka langsung masuk kedalam namun suara lirih membuat mereka semua terdiam kaku.
"Kak Ana..."
"Panggil dokter dan hubungi orang tua mereka! Jangan sampai Alka tahu."
Dengan cepat mereka melakukan perintah Zach. Entah apakah keputusan mereka tepat atau tidak. Karena setelah semua ini Zach akan membawa Ana meninggalkan tempat ini. Zach bersumpah tidak akan membiarkan Ana terluka lagi. Tidak akan!
***
"Akhirnya Nona Aisa siuman. Melihat kondisi tadi nona Aisa tidak mengalami hal yang perlu di khawatirkan. Ia hanya perlu terapi untuk menggerakkan tubuhnya yang kaku."
Antonio dan Aneta bernafas lega. Mereka menatap orang-orang yang ada di sekitar mereka dengan serius. Sepertinya Antonio paham dengan semuanya.
"Saya tahu tujuan kalian ke sini apa, saya akan mengirimkan berkas yang kalian minta dan untuk saat ini biarkan anak saya beristirahat." Mohon Antonio.
"Saya tidak bisa! Nyawa adik saya taruhannya!" Bentak Zach marah.
Ya, Ana adalah adik Zach yang hilang selama belasan tahun. Sekarang di saat dia menemukan sang adik seseorang mempermainkan hidupnya dan Zach tidak suka itu. Ia bersumpah akan membawa Ana pergi dari sini sekarang juga.
"Saya tahu kamu khawatir dengan Ana. Tapi apa kalian tidak berpikir? Jika kita terburu-buru malah membuat Alka semakin melukai Ana."
"Tidak! Alka tidak akan melukai Ana jika anak bungsu bapak menjelaskan siapa pelakunya." Jawab Luc kesal.
"Benat Om, kami tahu anak Om baru siuman. Tapi kami tidak bisa membuat Ana lebih lama menderita. Apa pernah Om lihat sedikit saja Ana bahagia? Tidak! Karena setiap kali Ana bahagia setelahnya dia akan kehilangan kebahagiaan itu dan itu akibat ulah anak Om. Asal Om tahu yang membunuh keluarga Ana, calon suami Ana, keluarganya calon suami Ana adalah anak Om! Saya tidak ingin Ana korban selanjutnya. Jadi biarkan Ana pergi." Jelas Amel.
"Jika kita bongkar sekarang apa keadaan akan berubah? Tidak! Saya tahu siapa anak saya. Saya bersumpah saya tidak akan membiarkan Ana mati di tangan anak saya. Karena saya dan keluarga saya memiliki rencana sendiri." Jawab Antinio.
"Saya tidak tahu siapa yang gila di sini. Tapi saya bersumpah saya akan menghancurkan kalian jika hal buruk terjadi pada adik saya!" Bentak Zach dan berlalu begitu saja. Amel dan Luc menatap sepasang suami istri di hadapannya dengan kecewa.
Aneta menangis. Bahkan Aisa yang menyaksikan semuanya ikut di buat bingung.
"Apa yang terjadi selama Aisa tertidur Ma?" Pertanyaan tersebut membuat Aneta langsung menjelaskan semuanya. Tanpa tahu jika penjelasan itu membuat Aisa shock.
"Aisa mau ketemu Kak Ana Ma! Sekarang!" Teriak Aisa.
Antonio dan Aneta saling pandang. Ia meminta bantuan dokter untuk mengizinkan anaknya keluar sebentar. Tanpa sadar jika sosok lain menunggu kedatangan mereka dengan bahagia. Bahagia jika salah satu dari mereka tiada.
❤️❤️❤️
Satu bulan berlalu...
Keluarga Alka menyembunyikan Aisa entah dimana dan hal tersebut membuat Alka murka saat tahu keluarganya mengambil keputusan sepihak.
Dengan emosi yang memuncak Alka memasuki rumahnya berharap jika ia bisa melampiaskan semua emosinya pada sang istri.
Brakkkk...
Emosi Alka memuncak saat melihat wajah bahagia Ana di hadapannya. Di sangat-sangat benci dengan Ana yang berbahagia. Tanpa banyak bicara dia langsung menarik Ana dan mendorongnya hingga wanita cantik itu membentur ujung meja.
Luka di pelipis Ana tidak sebanding dengan sakit di perutnya. Ana memeluk perutnya sambil menahan sakit. Alka mencoba untuk menuliskan telinganya saat mendengar rintihan Ana.
"Well... Ini toh pernikahan seorang Alka William"
"Inez?"
"Hai Alka. Aku datang kesini cuma ingin meminta pertanggungjawaban kamu. Aku hamil!" Pernyataan itu menohok hati Ana saat ini. Ia pikir Alka tidak akan mengkhianati dirinya tapi kenyataannya?
"Benarkah?!" Wajah bahagia Alka saat ini membuat Ana teriris. Alka pergi bersama dengan Inez. Meninggalkan dirinya yang menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Kabar gembira mengenai Aisa siuman membuat Ana sangat amat bahagia. Tapi kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.
"Aku memang tidak pernah bisa berbahagia lama. Jika ini akhir dari semuanya. Izinkan aku mengucapkan kata perpisahan pada mereka. Arghhhh..." Teriakan Ana terdengar oleh sosok yang baru sampai di kediaman Ana, Zach. Dia langsung mendobrak pintu rumah Ana yang terkunci.
"Ana!!" Teriak Zach.
Dia benar-benar kecewa dengan keluarga William. Mereka tidak menepati janji mereka. Dengan emosi yang menggebu-gebu Zach membawa Ana keluar dari rumah sialan ini. Tidak lupa ia menghubungi orang-orangnya saat ini. Ia bersumpah tidak akan membiarkan Ana kembali ke sini. Tidak akan!
***
Antonio dan Aneta shock saat mendengar putranya akan menikah dengan Inez. Model sekaligus sosok yang membuat Anak mereka berubah menjadi psikopat.
"Jika itu niat kamu silakan. Apa kamu sudah berbicara dengan Ana?"
"Ana? Aku akan menceraikan dia." Jawab Alka yakin.
"Maa.. Pa.. aku mau kerumah Kak An--Kak Alka?!" Teriakan gadis di depannya membuat Alka tersenyum bahagia. Dia langsung memeluk adiknya dengan erat. Kerinduan pada adiknya akhirnya berbalas saat melihat adiknya sekarang berdiri di hadapannya dengan sehat.
"Kakak kesini sama siapa? Kak Ana mana?" Aisa mencari keberadaan Ana tapi yang dia lihat adalah sosok cantik yang dulu hampir membunuhnya.
"Dia pembunuh! Dia yang membuat Ana koma kak! Usir dia!!" Teriak Aisa histeris saat melihat Insz di hadapannya. Bahkan gadis cantik itu langsung jatuh pingsan di pelukan Alka.
Keluarga Alka yang panik langsung membawa Aisa ke rumah sakit. Sedangkan Inez? Dia tengah di tahan oleh Dicky dan Deva karena kebetulan mereka tengah berada di sana.
***
Di saat mereka menunggu Aisa. Berita duka mereka dengar dari seseorang yang kini memukuli Alka, Luc.
"Saya sangat berterima kasih karena kalian mengingkari janji kalian! Ana meninggal bersama dengan bayi yang ada dalam kandungannya. Kalian bahagia bukan?! Jawab sialan!" Teriakan Luc menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.
"Di mana Ana?"
"Dia di bawa oleh sahabat saya. Saya tidak menyangka seorang William yang terkenal sangat tegas hanyalah omong kosong! Jika kalian berada di posisi kedua orang tua Ana apa yang akan kalian lakukan hah?! Di saat mereka sangat bahagia menemukan anak mereka yang menghilang, tiba-tiba mereka dapat kabar anak itu meninggal! Dan sialannya dia meninggal karena anak anda yang gila ini!" Teriak Luc.
"Bisakah anda--"
"Tidak bisa! Mulai detik ini jangan pernah mendekati keluarga Lexus dan kami akan mencabut semua saham kami yang ada di perusahaan anda. Permisi!"
"Satu lagi! Anda gagal menjadi Ayah untuk kedua kalinya." Perkataan Luc menohok jantung Alka. Antonio dan Aneta tidak tahu harus berbuat apa karena mereka memang salah. Seharusnya mereka menjelaskan semuanya pada Alka dan kejadian ini tidak akan terjadi.
"Yang membuat adik kamu koma adalah Inez. Alasannya dia melakukan itu karena kamu membunuh kedua orangtuanya. Inez yang tahu Ana bukan adik kandungnya memanfaatkan dia untuk jadi kambing hitam. Jadi semua sudah terlambat. Kamu sudah melepaskan Ana untuk kedua kalinya. Papa harap setelah ini kamu tidak bertindak bodoh pada Inez. Bagaimanapun Inez mengandung anak kamu."
Alka tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Yang pasti Alka menyesali semua perbuatannya.
***
Waktu berjalan dengan cepat, berita Ana meninggal menjadi sorotan media. Bahkan berita meninggalnya Ana di buat seolah-olah kecelakaan. Dan itu membuat keluarga William semakin diliputi rasa bersalah, begitupun Inez. Gadis yang dulu terlihat seperti ******, kini hanya bisa berdiam diri di kamarnya meratapi kelakuan buruknya.
Alka tidak menyalahkan Inez. Bagaimanapun semua kejadian ini adalah kesalahannya. Sejak kejadian di rumah sakit Alka bersumpah untuk berubah. Tapi sayangnya, Alka tidak bisa. Itulah kenapa Inez sendirian di kamarnya. Karena setiap Alka datang kerumahnya. Alka akan berdiam diri di kamar lain. Dan kejadian ini berlangsung selama 3 bulan lebih.
Tepat saat usia kandungan Inez menginjak empat bulan. Alka mulai perlahan-lahan mencoba membuka diri kembali. Bahkan dengan berani Alka mengajak Inez untuk menikah. Namun di tolak mentah-mentah oleh wanita itu.
Kenapa?
Karena Inez tidak berhak bahagia di atas penderitaan Ana. Inez membenci dirinya. Bahkan jika dia bisa memutar waktu dia ingin kembali ke saat di mana dia tidak melakukan tindakan bodoh itu.
Jadi, biarkan semua ini berjalan seperti biasanya. Karena Inez menyukai hal seperti ini. Tidak perlu merasa bersalah kembali pada Alka ataupun Ana.
❤️❤️❤️
Di sebuah taman yang indah. Seorang wanita cantik tengah asik duduk menikmati keindahan alam yang ada di sana.
"Bunda? Bunda menangis?" Pertanyaan anak laki-laki di hadapannya membuat wanita tersebut menghapus air matanya.
Kilatan memori kelam memenuhi dirinya. Bahkan ia tidak menyangka setelah permainan takdir yang sangat kejam. Dia bisa merasakan kebahagiaannya. Bersama dengan Pria yang mencintai dirinya dengan sepenuh hati.
"Bunda baik-baik saja. Di mana Papa?"
"Papa sedang sibuk sama laptopnya." Jawab anak laki-laki berusia lima tahun tersebut.
"Kalau gitu kita ganggu Papa!" Seru wanita tersebut membuat anak laki-laki tadi ikut berlari mengikuti ibunya.
Wanita itu Ariana Lexus. Wajah wanita itu memang berubah tapi ingatan masa lalu kelamnya selalu melekat indah di kepalanya. Tapi pertemuannya dengan dokter tampan merubah segalanya. Ana orang biasa memanggilnya, sempat depresi hampir satu tahun. Karena itulah keluarga Lexus mengambil keputusan besar. Dimana dia merubah wajah Ana menjadi wajah wanita lain. Atau lebih tepatnya wajah mantan kekasih dokter yang kini menjadi suaminya. Ana sedih? Tidak. Malah Ana merasa sangat bahagia. Dokter yang selalu sabar merawatnya kini menjadi orang yang melindungi dirinya dan anak-anaknya.
Awalnya berat untuk keduanya. Namun seiring berjalannya waktu mereka saling bisa menerima luka masa lalu mereka dan mulai tumbuh benih-benih cinta. Kebahagiaan mereka menjadi lengkap saat mereka di karunia seorang putra yang sangat tampan. Dan itu adalah kebahagiaan yang sangat luar biasa untuk Ana. Pasalnya gagal dua kali memiliki anak membuat Ana pesimis. Tapi Tuhan berkata lain. Pengorbanannya selama ini membuahkan hasil yang luar biasa. Ana percaya pada sang pencipta karena dia bisa memberikan kebahagiaan untuknya setelah rasa sakit yang dialami dirinya.
"Papa!!! Bunda pingsan." Teriakan anak laki-laki itu langsung membuat Pria tampan yang asik dengan laptopnya berlari ke arah sumber suara.
"Ana sayang? Ana? Please? Do you hear me? Jangan buat aku panik sayang! Cukup kamu membuat aku hampir mati saat melahirkan anak kita. Jangan lagi sayang. Aku butuh kamu. Aku mohon buka mata kamu."
1... 2... 3....
Tawa Anak laki-laki dan Ana menguar membuat Pria itu menatap keduanya bingung.
"Kalian!!!"
"Hehhee... Maaf ya Papa. Bunda janji gak lagi-lagi deh." Jawab Ana.
"Ya Papa! Arkana juga."
Arka Steven adalah suami Ana yang bekerja menjadi salah satu dokter di rumah sakit. Tapi sejak menikah dokter tampan itu mulai mengambil alih perusahaan milik istrinya dan meninggalkan jas dokternya demi keluarganya. Sedangkan Arkana Steven adalah putra sulung mereka. Putra yang mereka didik dan besarkan secara bersama-sama dengan kasih sayang yang sangat besar.
Saat mereka berpelukan. Tiba-tiba Ana berlari ke arah westafel dan memuntahkan sesuatu ke sana. Arka yang panik menyusul isterinya.
"Enakkan? Apa mau aku panggil Anjani untuk ke sini?"
Anjani? Dia istri dari Luc. Dokter yang dulu merawat Ana dulu. Ya, Luc dan kakaknya, Zach sudah berbahagia dengan keluarga kecil mereka masing-masing. Ana tidak perlu menjelaskan secara rinci. Yang pasti Ana sangat berterima kasih kepada mereka karena bisa membawa Ana dan membuat Ana merasakan kebahagiaan yang tidak terkira ini.
"Paling masuk angin. Jangan berlebihan deh." Jawab Ana.
"Pokoknya aku hubungi Anjani!"
"Gak perlu hubungi aku, aku udah di sini. Jadi ada apa?" Tanya Anjani mendekati kedua insan tersebut.
"Sebelumnya bisa kah kita pindah ke ruang depan. Gak etis banget melakukan pemeriksaan di sini." Celetukan Anjani membuat Ana dan Arka tertawa.
"Baiklah-Baiklah.... "
Mereka pindah ke ruang tamu ternyata di sana bukan hanya ada anaknya saja melainkan Luc, Anaknya Luc, Zach dan keluarga kecilnya serta kedua orang tua Ana, Amel, dan Arka.
"Widih mau ngapain rame-rame ke sini? Mau minta sumbangan?" Ledek Arka yang langsung di hadiahi cubitan manis oleh sang istri.
"Sembarangan! Kedatangan kita ke sini mau ngasih kabar kalau Inez dan suaminya di sini."
Arka langsung bisa merasakan ketegangan sang istri.
"Bagus dong. Mana mereka?" Tanya Arka.
"Permisi. Maaf menganggu waktu kalian." Kata Inez.
"Silakan duduk dulu. Kak tol---"
"I know!" Balas Amelia.
Kini mereka semua sudah duduk dalam satu tempat yang sama. Ana menatap anak laki-laki yang lebih tua dari anaknya. Bisa Ana tebak itu anak keduanya. Ana bersyukur jika mereka bahagia.
"Maaf Ana atas semua kesalahanku."
"Aku sudah memaafkan kalian. Jadi bisakah kita lupaka kejadian itu?" Pinta Ana.
"Baiklah. Aku senang kamu menemukan kebahagiaan kamu." Kata Alka dengan senyuman leganya.
"Hem.. setidaknya pengorbananku tidak sia-sia. Lain kali jika ada apa-apa pikirkan dengan baik sebelum bertindak, karena bisa jadi kesalahan penyimpulan bisa membuat kamu menyesal nantinya." Kata Ana.
"Untuk itu tidak akan terulang. Terima kasih Ana sudah memberikan kesempatan kepada aku ataupun Inez. Mungkin maaf tidak akan merubah apapun di masa lalu. Tapi kami harap kebahagiaan selalu bersama kamu. Karena kamu pantas mendapatkannya." Ucapan tulus Alka membuat Ana tenang sekarang. Seakan-akan bebannya selama ini terangkat sudah.
"So, pembicaraan kalian selesai bukan? Sekarang waktunya Ana di periksa."
"Aku masuk angin kak Anjani. Jadi jangan lebay deh." Dengus Ana.
"Gak sayang! Kamu harus di periksa!" Ucap Arka tegas.
"Maaf lancang, kamu kenapa An?" Tanya Inez hati-hati.
"Astaga kak! Wajah kakak biasa aja. Aku gak gigit loh." Ledek Ana membuat Inez kikuk.
"Tadi mual-mual gitu si, padahal aku banyak makan selama ini. Atau karena banyak makan itu ya?" Pertanyaan polos Ana membuat Amel spontanitas melempar bantal sofa ke arah Ana yang langsung di tangkap Arka.
"Astaga Arka! Istri kamu itu terbuat dari apa si. Kok polos banget? Coba testpack sana kali aja Arkana punya adik!"
"Adik? Benarkah Aunty?"
"Benar dong!" Jawab Amel semangat.
"Kamu masih nyimpen kan?" Tanya Arka.
"Sebentar ya." Ana berjalan ke arah kamar mandi yang tidak jauh dari tempat mereka. Sedangkan Arka yang khawatir sudah jadi ledekan oleh sekitarnya. Bahkan Zach menceritakan tentang bagaimana ke khawatiran Arka saat Ana melahirkan anak pertama mereka. Bukannya simpati mereka malah tertawa terbahak-bahak. Dasar orang-orang aneh!
"Gimana?" Tanya Arka saat melihat Ana keluar dari kamar mandi.
"Positif!" Teriak Ana langsung memeluk suaminya. Kebahagiaan muncul di wajah orang-orang yang mendengar berita ini.
Alka dan Inez saling pandang. Mereka bersyukur ternyata Ana sudah menemukan kebahagiaannya. Apalagi saat mereka mendapatkan kabar dari Dicky kalau selama ini Ana masih hidup namun dia depresi karena kehilangan anaknya untuk kedua kali. Padahal saat itu Alka dan Inez baru saja melangsungkan pernikahan. Tapi, seiring berjalannya waktu semua berubah.
Kini, Alka ataupun Ana memiliki kebahagiaan mereka masing-masing. Dan pengorbanan Ana selama ini selesai sudah. Kini, ia tengah merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Ana sangat berterima kasih karena Tuhan mau memberi dirinya kesempatan untuk semua ini.
"Terima kasih Arka untuk semuanya dan aku sangat mencintaimu." Kata Ana.
"Aku lebih mencintaimu sayang." Balas Arka sambil mengecup dahi Ana dengan penuh cinta.
❤️❤️❤️
"Menurut gue film ini b aja," ucap Fresa. Sambil menikmati lagu penutup yang disajikan.
"Kali ini gue setuju, menurut alur terlalu cepat. Sekalipun di siksa gitu kan harusnya dia bisa kabur. Masa ya cuma diam aja? Ya gak si?" Tanya Mahda.
"Menurut lu aja ya. Lu sama Evan nikah cuma karena si Evan balas dendam sama lu ter--"
"Amit-amit Fan! Lu kalau ngomong serem banget. Jangan sampai deh kaya gitu." Mahda menggelangkan kepalanya. Seumur hidupnya dia tidak akan membiarkan semua hal buruk terjadi padanya. Apa lagi memberikan kesempatan pada mereka yang mau menghancurkan rumah tangganya.
"Seumpama doang malih! Tau ah malas ngomong sama lau." Fanisa merengut. Ia memilih mengambil macbooknya untuk melihat apakah mereka bertujuh diterima di kampus pilihan mereka. Mengapa bertujuh? Karena Gibran akan berangkat ke Jerman lusa. Dan sekarang lelaki itu lagi sibuk mengurus masalah Fresa kemarin siang. Entah langkah apa yang akan di ambil oleh Gibran. Fanisa harap Gibran bisa membawa kabar baik seperti halnya perempuan jahanam itu mendekam di penjara.
"Umpanya lu itu nakutin Fan sumpah. Lagian jangan gue gak mau deh kaya gitu serem banget." Tentu saja sangat menyeramkan jika menikah hanya untuk dijadikan balas dendam. Apalagi kalau sudah bucin. Aduh susah deh, mau diapain sama tuh lelaki pasti diam ayem aja. Makanya jangan sampai Mahda bucin sama Evan. Karena saat bucin, jika dilukai pasti terima saja. Beda sama perempuan yang realistis berpikirnya. Ia pasti akan memberontak memperjuangkan haknya sebagai wanita.
"Kapan si kalian berteman," keluh Kiki saat melihat tingkah keduanya yang tidak mau mengalah sama sekali. Bahkan saling melempar jawaban demi jawaban yang sebenarnya tidak berguna menurutnya ya.
Sedangkan Fresa? Dia memilih membuka pintu rumahnya saat suara bel mengganggu telinganya.
"Maaf saya tidak pesan makanan," ketus Fresa saat melihat lelaki di depannya.
"Dih. Gue baik nih ngasih lu makan biar tambah gemuk gak krempeng!" Sindir lelaki yang sialnya Fresa sayangi itu. Siapa lagi jika bukan si Gibran? Lelaki itu datang bersama kakaknya yang melengos masuk ke dalam lebih dulu.
"Alah krempeng gini juga lu suka," balas Fresa sambil berjalan memasuki rumahnya di ikuti oleh Gibran di belakangnya.
"Gimana Bran?" Tanya Mahda saat melihat sahabat suaminya datang bersama pacarnya--Fresa.
"Lancar, ternyata kemarin tuh sudah di proses. Cuma nanti akan ada persidangan. Jadi nanti kalian sabar-sabar aja ya ngadepin makhluk itu." Jelas Gibran duduk di bangku bersama dengan Faza. Menatap para wanita yang sibuk dengan laptop masing-masing.
"Kalian sudah dapat info akan diterima? Harusnya sekarang sudah ada bukan si?" Gibran mengambil laptop Fresa yang bermotif case Iron Man. Sesama Marvel Addict, mereka akan paham dan sering mengikuti segala update yang ada. Pasangan luar biasa memang.
"Dari tadi kita sibuk nonyn film Bran. Terus pas kita refresh belum juga keluar," keluh Fanisa.
"Mungkin gak si Fresa belum bayar internet," ucap Mahda menyadarkan Fresa akan sesuatu. Wanita itu bangkit dan memeriksa hal yang diutarakan oleh Mahda.
"Kak Faza! Kok belum bayar internet si?! Sampe nenek berubah jadi muda juga gak bakal bisa ke buka itu." Omel Fresa.
"Yakah? Seingat gue udah gue bayar Ca. Lagian nih ya kalau putus internetnya, kenapa kalian gak ada dinosaurus lompat?" Maksud Faza dinosaurus lompat tuh gamenya google yang suka muncul kalau bad signal.
"Coba di telpon aja call centernya cewek. Gitu aja ribet." Jawaban Gibran membuat Fresa kesal. Dia langsung mengambil telpon rumah dan melakukan tugas yang dikatakan oleh Gibran tadi. Bahkan yang lain menjadi pendengar baik saat Fresa marah-marah. Fresa sudah kesal sepertinya bung. Makanya dia marah-marah.
"Sudah nyala belum?" Tanya Fresa yang duduk di samping Fanisa.
"Sudah dun. Makasih hero Fresa," seru Mahda dengan bahagia.
Semua orang mencoba merefresh laman webnya bahkan sampai merefresh email saking takutnya jika penerimaan kampus mereka via email.
"Masuk kita Ca!" Seru Fanisa sambil memeluk sahabat kecilnya. Ya wajar si, hampir seumur hidup mereka selalu bersama bahkan saat mengambil Magister pun sama. Mereka berempat saling berpelukan saat melihat hasilnya. Karena Fresa tahu jika dia juga di terima saat menengok ke arah Gibran yang mengacungkan jempolnya.
"Astaga Evan juga masuk!" Seru Mahda.
"Ya nih, si Arkan juga."
"Eh? Fano juga. Tapi kayanya pada mencar kelas gini ya?" Fanisa menyadari akhirnya jika mereka akan berpisah nantinya.
"Eh? Gak dong Fan. Kita malah sekelas. Si cowok-cowok aja yang pisah." Protes Mahda.
"Memang anak cowok Mahda." Kiki sudah tidak habis pikir dengan kelemotan sahabatnya.
"Sudah cukup dengan semua ini. Ampuni segala dosa kami yang mengumpat ya Allah." Fresa mengangkat tangannya--berdoa. Sedangkan yang lain hanya tersenyum.
Mungkin ini bukanlah akhir dari perjalan mereka, malah menjadi awal bagi mereka. Entah baik atau buruk. Karena keduanya saling melengkapi satu sama lain.
"Jangan bahagia dulu wahai manusia. Kalian semua akan di panggil menjadi saksi di persidangan besok."
"Siyapp boskuu."
💗💗💗