Galmoners

Galmoners
Part 34



Singapura



Fresa dan Gibran tiba di tempat yang mereka tuju. Gibran menggandeng tangan Fresa, seakan-akan takut jika gadis cantik di sampingnya hilang kapan saja.


"Aku bukan anak kecil Bran. Stop memperlakukan aku kaya anak kecil!" Ucap Fresa.


"Tidak bisa sayang, aku harus melakukannya. Nanti kamu langsung istirahat. Karena aku langsung ke tempat meeting. Gak apakan?" Tanya Gibran sambil mengecup singkat dahi Fresa.


"Gak apa si." Balas Fresa malas.


Keduanya memasuki hotel yang akan mereka tempati selama tiga hari ke depan. Baru saja mereka ingin meminta kunci, seseorang menganggu mereka.


"Welcome to Singapure! Untuk tuan dan nyonya yang ingin berbulan madu kami menyiapkan paket hemat. Pertama anda akan di kenakan biaya menginap 5 juta dengan fasilitas lengkap, dan--"


"Berisik!" Omel Gibran. Kalian pasti tahu siapakan?


"Lu ngajak kutu kupret?" Tanya Fresa membuat Gibran tersenyum miring. Melihat senyum tersebut membuat Fresa bergidik ngeri, namun ia berucap kata "maaf" secara lirih. Berharap jika Gibran tidak akan melakukan hal aneh padanya saat ini.


"Gak. Bahkan perjalanan ini khusus kita berdua no more." Balas Gibran kesal.


"Tapi dia kok bisa ada di sini?" Tanya Fresa kembali.


"Karena gue ingin! Selama gue menjomblo gue akan menganggu kalian semua yang taken!" Balas Evan dengan bangga.


"Ganggu orang bangga. Makanya cari pacar!" Sindir Fresa.


"Dasar sombong! Mentang-mentang sudah tunangan belagu. Gue sumpahin kalian gak bakal bahagia." Doa Evan.


"Doa buruk kebalikan." Celetuk Fresa ketus.


"Yeh! Gak ada doa kebalikan! Guru ngaji lu siapa si?! Apa perlu gue ajarin?" Balas Evan sinis.


Di saat keduanya berdebat, Gibran mengambil satu buah kunci. Itu tandanya Gibran dan Fresa akan satu kamar. Gibran bersyukur pengganggu itu datang, karena dirinya bisa menyabotase semuanya. Hahaha.


"Yeh si gila, yang ada lu! Perlu di ruqyah. Ah satu lagi, gimana Mahda mau jatuh cinta kalau lu sendiri takut memulai kembali. Dasar pengecut." Umpat Fresa.


"Eh! Mak tiri! Lu gak tahu aja progres gue sama Mahda. Kita tuh udah dekat bagaikan perangko jadi jangan sok dah lu!" Balas Evan kesal.


"Siapa yang sok, kenyataannya gitu. Lu suka sama Mahda tapi lu godain cewek lain. Gimana Mahda mau yakin kalau lu serius!" Omel Fresa.


"Mak lampir benar-benar! Mahda gak perlu penjelasan dari gue karena Mahda tahu hati gue emang udah jadi miliknya. Jadi lu jangan bawel, mending lu urus calon suami lu itu! Kali aja dia bosan sama lu." Celetuk Evan asal.


Fresa tidak tahu sejak kapan mereka mulai beradu argumen. Tapi yang Fresa ingat, sejak kejadian Evan mempermalukan Gibran dirinya jadi menandai Evan sebagai seseorang yang harus di hindari. Selain menyebalkan dia juga bisa membuat naik darah. Seperti yang kalian liat saat ini.


"Sialan! Kalau dia cari cewek lain gue juga bisa cari cowok lain, bahkan yang lebih ganteng dari dia!" Balas Fresa marah.


Gibran menghela nafasnya kasar. Gibran paling tidak suka mendengar cowok lain di sebut Fresa. Bahkan jika Fresa bercerita tentang Sahabatnya saja dia cemburu. Entah kenapa Gibran lebih suka Fresa bercerita mengenai apapun kecuali cowok lain.


"Alah! Mana ada cowok yang bakal suka sama cewek galak kaya lu! Cuma sahabat gue yang mau. Itupun karena dia udah lu guna-guna!" Ucap Evan meledek.


Demi apapun, Evan sangat menyukai Fresa yang tengah marah. Baginya Fresa adalah hiburan yang tidak bisa di lewatkan. Apalagi jika keduanya sama-sama masuk perangkapnya. Itu membuat hari bahagia Evan berkali-kali lipat.


"Lu jangan ganggu Fresa kenapa si. Udah tahu dia lagi sensi sama lu." Kata Gibran.


"Dia mah sensi everyday! Lagi cuma jailin lu aja ngamuknya kaya apa. Dasar mak tiri." Dengus Evan.


"Jangan gitu, coba kalau Mahda di posisi Fresa pasti dia juga bakal melakukan hal yang sama. Udah ah gue mau meeting. Mending lu temenin Fresa dari pada gabut." Ujar Gibran membuat Evan berdesis namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju lift.


Gibran meninggalkan kawasan hotel setelah meminta dua bodyguard untuk menjaga Fresa. Setidaknya dia bisa tenang jika Fresa ada yang jaga.



Evan sebenarnya tidak marah dengan Fresa, dia hanya suka menjahili Fresa. Hanya itu saja, tapi Mak lampir tersebut lagi dalam kondisi lapar--eh salah, baper maksudnya! jadi dia juga ke bawa baper deh.


Evan tidak melihat keberadaan Fresa, dimana Mak lampir? Apa dia tersesat? Atau dia di culik?! Tidak mungkin! Bisa-bisa dirinya di gorok oleh Gibran.


Evan mulai berkeliling mencari keberadaan Fresa sampai dia bertemu dengan sosok yang di carinya. Sosok tersebut tengah asik berbincang-bincang dengan what the hell! Problem!


Evan langsung berlari mendekati mereka sampai, Evan mendengar...


"Gibran itu di jodohkan sama gue."


"Yeh gila, kebanyakan minum Baygon si lu jadi gesrek. Udahlah kalau mau nguntit gue lu gak berhasil, siapapun dalang semuanya gue yakin lu dan mantan lu itu ikut andil. Udah sana pergi gue muak." Balas Fresa.


"Kita lihat seberapa kuat Gibran menahan godaan seseorang." Tantang Cheryl menantang.


"Sekalipun Gua tergoda gue hanya tergoda dengan tunangan gue. Jadi niat busuk lu gagal!" Kata Gibran yang datang dari sisi lain.


"Kok lu bisa?" Tanya Evan bingung.


"Mudah, dia menyuruh pegawai hotel mendekati Fresa, dan membawanya ke sini. Gue pergi? Ya. Tapi beberapa menit kemudian gue kembali, karena tangan kanan gue sudah mengatasinya. Jadi, sayang sekali nona Cheryl rencana anda gagal" ledek Gibran.


"Ouh ya? Siapa bilang! Kalau gini, gue yang menang!" Kata Cheryl yang kini berdiri di belakang Fresa dengan pisau yang diarahkan ke lehernya. Cihhhh..


"Lu terlalu depresi di tolak Alex ? Atau emang niat awal lu untuk Menghancurkan kebahagiaan orang lain?" Tanya Fresa dingin.


"Dua-duanya. Gue pengen semua cowok tunduk sama gue termasuk FEGA. Bahkan setelah Alex dan kawan-kawannya gue berencana buat mendekati FEGA. Tapi sialannya, Galmoners masuk ke dalam FEGA membuat gue sulit ambil celah. Dan itulah kenapa gue benci sama lu dan Mahda! Karena kalian tipe masa bodo tapi di cintai bayak cowok dan gue benci itu!" Jelas Cheryl.


"Benci hanya karena masalah kecil kaya gitu?! Bego! Asal lu tahunya, gue dan Mahda gak melakukan apapun ke mereka, dan kalau motivasi hidup lu hanya untuk kaya gini mending ubah deh sebelum lu menyesal. Karena bisa jadi ada seseorang yang menunggu lu berubah tapi lu gak pernah sadar akan hal tersebut. Kenapa? Karena kita terlalu mengejar apa yang seharusnya tidak jadi milik kita. Itulah kenapa banyak orang berpikir sempit macem lu!" Jawab Fresa menejelaskan apa yang ada di kepala kecilnya.


"Lu gak tahu apapun jadi jangan sok tahu!" Bentak Cheryl.


"Gue emang gak tahu apapun tentang hidup lu. Tapi lu harus tahu, hidup lu yang kaya gini tuh menjijikan. Lebih baik lu kembali ke tempat asal lu sebelum menyesal di kemudian hari." Balas Fresa.


"Gak usah guruin gue! Gue cuma kasih tahu kalian permainan ini belum selesai. Karena mulai detik ini gue akan terang-terangan melakukan kejahatan gue. So,wait and see!" Ucap Cheryl meninggalkan mereka semua dengan amarah yang memuncak.


"So, wait and see? Cihh.. Medusa menyebalkan!" Umpat Evan.


Gibran tersenyum tipis akan tingkah laku Evan. Dan selama tiga hari, ketiga remaja tersebut berlibur ke tempat-tempat yang indah dan menarik di Singapore. Bahkan Fresa melupakan jika dirinya tengah berperang dengan Evan Laksono. Tiga hari berlalu begitu cepat sampai akhirnya mereka harus kembali ke kampus demi melanjutkan pendidikan mereka. Untung mereka cerdas. Jadi bisa dengan mudah mengejar semuanya.


❤️❤️❤️