Galmoners

Galmoners
12



Mencoba melupakan 1


Terkadang permasalahan dalam persahabatan di


butuhkan demi memperkuat tali persaudaraan.


***


Bandung mulai kembali ke suasana di mana matahari


bersinar terang.  Setelah langit menumpahkan air matanya beberapa hari


ini, kini langit kembali tersenyum seperti sedia kala. Membawa semangat bagi


siapa saja yang akan menjalankan hari ini dengan suka cita.


Galmoners memasuki sekolah mereka dengan senyum


merekah. Termasuk dengan Mahda Adijaya, gadis cantik itu tengah


berbincang-bincang mengenai pasar malam yang akan mereka datangi besok malam.


Bahkan Fresa yang berjalan di belakang mereka hanya bisa menggelengkan


kepalanya. Apalagi saat dia mendengar perkataan Kiki yang ingin sekali membeli


permen kapas, membuat dia teringat kejadian tiga tahun lalu. Kejadian di


mana...


Galmoners memasuki kawasan tempat diadakannya pasar


malam, gadis berusia 14 tahun tersebut mulai berkeliling mencari sesuatu yang


menarik perhatian mereka. Sampai salah satu dari mereka berteriak.


“Permen kapas!!!”


Fresa, Mahda dan Fanisa langsung terdiam melihat


tingkah laku Kiki. Pasalnya gadis cantik tersebut sangat jarang berteriak, tapi


sekarang? Kiki melakukannya di hadapan banyak orang, tidak tanggung-tanggung


perempuan lembut tersebut mulai berteriak meminta permen kapas. Bahkan Kiki


tidak peduli jika dirinya di tatap aneh oleh pembeli lain, yang terpenting


permen kapas ada di tangannya.


“Kiki dan permen kapas adalah sesuatu” Kata Fresa.


“Ya, sesuatu yang membuat urat malunya hilang


seketika.” Balas Fanisa dengan senyuman manisnya.


“Dan membuat kita malu dan jadi perhatian banyak


orang.” Tambah Mahda membuat Fresa dan Fanisa mengangguk setuju.


“Fre!!” teriak Mahda saat melihat Fresa yang


bertabrakan dengan Gibran, bahkan sahabatnya yang satu itu masih tetap diam


sampai air mata mengalir di wajahnya.


“Fresa? You okay?” pertanyaan Gibran membuat Fresa


tersadar dari ingatan membahagiakannya.


“Lu kenapa meluk gue?” tanya Fresa kepada Gibran,


membuat cowok tampan tersebut menatap Fresa khawatir. Bahkan Mahda dan yang


lain juga ikut khawatir.


“Ouh air mata ini? Gue cuma ke inget kejadian tiga


tahun lalu. Kejadian di mana kita gak pernah marahan, sekali marah ya masalah


sepele. Sekarang ? huftt..” tutur Fresa spontan, membuat Mahda tersenyum sendu.


“Aduh yang kangen masa lalu sampai gak sadar nabrak


doi.” Ledek Fanisa membuat Fresa mendengus.


“Gue bukannya nabrak dia, tapi emang dia aja yang


sengaja nabrak gue! Sejak kapan anak IPA ada di kawasan anak IPS?” pertanyaan


Fresa membuat semuanya langsung menatap Gibran tajam.


“Eh? Itu, gue habis lari pagi! Ya, lari pagi.”


Balasan Gibran membuat Mahda terbahak, mana ada orang lari pagi dengan jalan?


Dasar Gibran, modusnya sangat terbaca! Ya lah, orang Mahda melihat dengan


sangat jelas jika cowok tampan tersebut sengaja menabrak Fresa. Dasar Gibran!


“Alah bullshit! Bilang aja kangen sama Fresa,


karenakan tiga hari lu hilang dari peredaran. Eh tapi, Fresa juga hilang. Kok


bisa barengan?” pertanyaan Mahda membuat Fresa dan Gibran saling pandang. Ya,


sekarang posisi mereka bukan lagi berhadapan melainkan bersampingan.


“Bisalah, di mana ada Fresa pasti ada Gibran. Dan


kemungkinan ni bocah ngikutin Fresa kumpul keluarga. Kalian kan tahu seberapa


dekat keluarga mereka, sampai gue mikir mereka di jod—“


“Gak bakal!” balas Fresa memotong ucapan Fanisa.


Membuat Fanisa terbahak seketika.


“Ya Allah Ca, asli komuk lu lucu tadi! Ah coba gue


abadikan, pasti Galmoners Club langsung histeris melihat makhluk cuek macem lu


bisa berekspresi.” Tutur Fanisa membuat Fresa mencibir sahabatnya lirih.


Galmoners Club adalah sebutan anak-anak Starlight SHS yang mengagumi Fresa dan


yang lain, ya sejenis komunitas demi menghibur diri mereka. Awalnya Fresa tidak


suka dengan hal tersebut, tapi berkat nasihat Kiki dia jadi membiarkan mereka,


asal mereka tidak melebihi batasnya.


Melihat pemandangan yang ada di hadapannya membuat


Fresa rindu mereka yang dulu. Walaupun kini Mahda bersama dengan mereka, Fresa


merasakan suatu benteng yang di bangun oleh Mahda sehingga membuat Galmoners


menjadi kaku. Entah hanya perasaannya saja atau bukan tapi itulah yang Fresa


lihat saat ini.


“Pagi semuanya, maaf ganggu. Pinjam Mahdanya dulu


ya.” Ucapan tersebut membuat Fresa dan yang lain mengangguk. Toh memang harus


seperti ini bukan seharusnya? Si Alex sialan itu akan membawa Mahda dan mulai


mencuci otaknya. Menyebalkan!


“Biasa aja dong mukanya, biarkan lah dia berbahagia


dengan madunya.” Kata Gibran.


“Madunya? Lebah kali ah!” balas Fanisa.


“Yeah masih pagi lola! Madunya it—“


“Gi, balik gih! Gak guna juga lu di sini.” Usir


Fresa.


Baru saja Gibran mau membalas ucapan Fresa,


sahabat-sahabatnya datang mendekati mereka. Entah ada apa mereka ke kawasan


IPS, biasanya jika Gibran mengajak jawaban mereka selalu ‘tidak' dan pagi ini


adalah pagi yang aneh. Sama halnya dengan Gibran, Fresa yang biasanya cuek


mulai kepo dengan semua hal yang terjadi. Jika Mahda kembali ke Galmoners


karena ajakan Kiki ke pasar malam, lalu kenapa sahabat Gibran jadi sering ke


kawasan IPS? Walaupun dia tidak masuk, sahabat-sahabatnya selalu bercerita di


group mereka, jadi Fresa bisa tahu info apa saja yang terjadi di Starlight SHS.


Termasuk tentang perubahan geng FEGA yang mulai sering mendatangi kawasan IPS.


Kalau Fano, Fresa tahu dia mau pendekatan dengan Fanisa. Nah ini! Arkan dan


“Pagi wahai calon penghuni hatiku.” Kata Evan


kepada Fresa, membuat gadis imut tersebut memandang bingung.


“Calon penghuni hati?! Lu mau gue tabok hah?!” omel


Gibran.


“Mau dong! Tapi pakai cinta ya Ban!” balas Evan.


“Jijik!” umpat Fano dan Fanisa berbarengan.


“Widih! The next couple ngomongnya samaan.


Ecieee...” ledek Evan membuat Fano spontan menjitak kepala sahabatnya tersebut.


“Gue gak tahu alasan kalian di sini, tapi kalau


cuma cari sensasi mending ke tempat lain!” ucap Fresa dingin.


“Maunya gitu, tapi sayang tambatan hati adanya di


sini. Gimana dong?”tanya Evan membuat Fresa mendengus kesal. Entah kenapa Fresa


merasakan tatapan aneh dari Evan, membuat dirinya bingung detik ini juga.


“Van lu beneran mau gue tabok hah?!” omel Gibran.


“Lu ngomel mulu Ban, lama-lama Fresa memilih Evan


daripada lu.” Kata Arkan membuat Gibran menyeringai.


“Impossible! Because Fre—"


“Mau bilang calonnya? Pede gila!” potong Evan.


"Tau sok iye!" Balas Fano ketus.


“Stop! Kalian lebih baik kembali ke kawasan kalian.


Bukannya ngusir tapi kalian membuat kita jadi pusat perhatian, apalagi fans


kalian membenci Galmoners. Bisa-bisa kolom komentar instagram kita akan di


penuhi hujatan. So, leave this place.” Kata Kiki bijak. Karena Kiki takut


kejadian setahun lalu terulang, dimana haters Galmoners adu mulut di social


media dengan Galmoners Club. Dan Kiki tidak mau itu terulang kembali, apalagi


kini mereka mulai dekat. Entah apa yang terjadi nantinya, Kiki berharap bukan


kejadian buruk.


“Benar kata Kiki, lebih baik kita kembali. Ouh ya


Ki, besok gue jemput ke rumah. Emm... selamat belajar.” Kata Arkan dengan


senyuman tipisnya.


“Ya, selamat belajar juga Arkan.” balas Kiki


tersenyum.


“Ya selamat belajar juga Arkan?? Ett seberapa dekat


kalian? Fanisa aja yang udah pedekate di diemin.” Kata Fresa.


“Kata siapa? Fano modus di line.” Balas Fanisa


sambil menunjukkan pesan masuk dari Fano.


“Waw! Kalian sudah sejauh itu tapi lu gak ada


niatan kasih tahu kita?!” tanya Kiki serius.


“Sorry, habis setiap mau cerita ada aja


gangguannya.” Balasan Fanisa membuat Fresa dan Kiki mendengus, bahkan keduanya


jalan lebih dulu meninggalkan Fanisa. Tanpa mereka sadari, seseorang yang


berdiri tidak jauh dari mereka tersenyum sinis. Dia marah, karena rencana


menghancurkan Galmoners sia-sia.


“Biarkan kali ini kita mengalah, karena setelah ini


rencana kita selanjutnya akan di mulai.” Kata cowok yang berdiri di samping


cewek berwajah kesal tersebut. Mereka pun meninggalkan tempat mereka menguntit.


***


Seperti istirahat biasanya, Galmoners akan


bergabung dengan FEGA dan duduk satu meja yang sama. Namun kali ini berbeda,


karena Mahda mulai ikut bergabung dengan mereka.


“Akhirnya ayang Mahda Back.” Kata Evan.


“Ayang-ayang pala lu peyang!” dengus Mahda.


“Alah bilang aja senang kan tuh dalam hati.” Ledek


Evan. Ya, Evan akan melakukan apapun untuk membuat Mahda kembali melihat ke


arahnya. Tidak peduli ia menikung si Alex sialan, yang terpenting Mahda kembali


padanya.


“Anjir! Modus lu emang gak guna. Tadi pagi Fresa,


sekarang Mahda besok siapa?” tanya Gibran sinis.


“Besok? Fanisa?” balasan spontan Evan membuat Fano


langsung memukul kepala Evan.


“Mati lu!” umpat Fano.


“Ihh.. akang Fano ngomongnya mati. Nanti kalau aku


mati akang sedih lagi.” Tutur Evan.


“Astaga Van! Gue jijik masa sama lu! Atau


jangan-jangan lu—“


“Gak mungkin Mahda cantik! Aneh aja dah lu” sungut


Evan.


“Van, kayanya lu butuh di ruqyah, biar setan di


tubuh lu menghilang dan lu changed seperti Fano. Lumayan spesies tengil


berkurang satu.” Balas Kiki sambil bertopang dagu.


“Aduh Kiki perhatian banget, jadi makin cinta


akang.” Ucap Evan spontan.


“Semuanya aja Van lu ambil!” balas Arkan ketus.


“Akhirnya ketiga sahabat Evan cemburu Ya Allah. Ini


semua berkat ke tampanan Evan.” Ucap Evan asal.


“Tai!” ucap Fresa membuat Gibran mendelik tajam.


“Biasa aja kali Ban, nanti Fresa pindah ke lain


hati loh.” Kata Kiki sambil menyeruput jus jeruk di hadapannya.


“Gak bakal Ki, karena hati gue dan dia udah stuck


satu sama lain.” Balas Gibran sambil menatap kedua mata Fresa. Sedangkan yang


di tatap hanya bisa melengos menatap pemandangan lain.


Mahda tersenyum, ia bisa merasakan kehangatan


persahabatan mereka. Mahda menyesal pernah membuat mereka renggang, bahkan


sampai saat ini Mahda tetap menjaga jarak dengan Fresa. Kalian pasti tahu


alasannya apa, jadi Mahda harus melakukan hal ini demi mencari kebenaran


sebenarnya. Apalagi ucapan Alex tadi pagi meyakinkan Mahda akan satu hal dan


hanya Mahda dan sang pencipta yang tahu. Biarkan hari ini menjadi kebahagiaan


untuk Mahda, karena dia tidak tahu apa yang terjadi hari esok.


❤️❤️❤️