Galmoners

Galmoners
Part 16



Pasar malam versi Kiki Rahardja.



Di kediaman Raharja, sosok wanita cantik dan pria tampan tengah asik berbincang dengan pria muda berkacamata.


"Tante panggil Kiki dulu ya." Kata wanita cantik dengan hijab di kepalanya, Karina.


"Panggil deh sayang, kasian udah nunggu lama." Balas pria yang tadi duduk di samping Karina, Kenan.


Lepas kepergian istrinya, Kenan langsung memulai aksi interogasinya.


"Sejak kapan kamu kenal Kiki?" Pertanyaan Kenan membuat senyum terbit di wajahnya. Kalian tahu bukan siapa yang datang? Ya, Arkan Hutama yang datang. Sosok itu langsung membalas pertanyaan Kenan dengan lantang.


"Sejak MOS. Tapi kami tidak sedekat sekarang." Balas Arkan.


"Tidak sedekat sekarang? maksudnya?" Pertanyaan Kenan membuat Arkan kembali tersenyum.


"Dulu geng saya dan geng Kiki musuh bebuyutan dalam akademik pak. Karena setiap kami ada perlombaan, kami selalu di pertemukan oleh mereka. Bahkan tidak tanggung-tanggung, kami selalu berdebat hal yang tidak jelas. Sampai akhirnya kami mencintai mereka. Awalnya kami berniat untuk mendekati Kiki dan sahabatnya, namun gagal saat mereka memiliki kekasih. Saat itu, yang kami bisa lakukan ialah menjaga Kiki dan sahabatnya yang lain dari kejauhan. Bahkan jika mereka jalan, saya dan sahabat saya selalu mengikuti mereka." Jelas Arkan.


"Kenapa?" Tanya Kenan serius.


"Karena kami tidak ingin mereka terluka karena cowok tersebut. Sebrengsek apapun kami, kami tidak pernah melukai wanita karena kami menghargai ibu kami"


Baru saja Kenan ingin menjawab, Kiki turun dari kamarnya bersama ibunda tercinta.


"Loh? Bukannya kita gak ada janji? Gue sudah pesan Gobang." Kata Kiki bingung.


"Gue kan udah bilang kemarin Ki, lupa?" Tanya Arkan membuat Karina tersenyum.


"Bisa di cancel Ki, kamu gitu aja repot. Kasian dong cogannya kalau di anggurin." Kata Karina.


"Ih! Mama udah tua masih genit. Ingat papa mah!" Kata Kiki. Ya, kiki sekarang ingat jika mereka sudah janji sebelumnya. Apa karena penampilan Arkan yang berbeda membuat Kiki lupa? Entahlah.


"Ingat lah. Masa mama lupa." Balas Karina sambil duduk di samping suaminya.


"Kali mama lupa saking terpesona sama Arkan." Kata Kiki mengandaikan.


"Gak lah, kalau mama terpesona kamu nangis lagi." Balasan mamanya membuat Kiki malu, bahkan dia lebih memilih meninggalkan mereka.


"Kalau begitu saya pamit ya om.. Tante.. takut kemalaman nanti dan gak enak bawa pulang Kiki malam-malam." Ucap Arkan.


"Jaga anak om ya, dia sangat berharga untuk om." Kata Kenan.


"Pasti Om! Saya akan menjaganya dengan sepenuh hati." Balasan Arkan membuat Kenan dan Karina tersenyum. Tidak mau menahan lebih lama, akhirnya mereka memberikan izin kepada Arkan untuk menyusul Kiki.



"Maaf lama." Kata Arkan membuat Kiki menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa, gue tahu seperti apa kedua orangtua gue, pasti mereka membuat lu tertahan bukan?" Tanya Kiki.


"Yup. Tapi menurut gue wajar, karena jikapun kita menikah dan punya anak nanti, gue akan melakukan hal yang sama." Jelas Arkan membuat Kiki terbahak.


"Sekolah dulu yang bener. Baru kuliah ngomongnya nikah."balas Kiki. Padahal dalam hati Kiki juga melakukan pengandaian seperti Arkan.


"Pengandaian sesekali boleh lah. Ayo naik, nanti keburu malam." Kata Arkan.


Mereka pun meninggalkan pelataran rumah Kiki. Udara malam yang dingin membuat Kiki merasakan sapuan lembut angin di tubuhnya.


Arkan menepikan motornya saat melihat Kiki kedinginan.


"Pakai!" Perintah Arkan sambil memberikan jaket yang dia gunakan tadi.


"Nah lu?" Tanya Kiki.


"Gue cowok. Udah pake!" Perintah Arkan kembali. Tidak mau mengecewakan Arkan, Kiki menggunakan jaket Arkan. Dan mereka melanjutkan kembali perjalanan.


Setibanya di sana, wajah antusias Kiki terlihat jelas di spion motor Arkan.


"Ayok Ar! Nanti kembang gulanya keburu habis." Ajak Kiki saat ia sudah turun dari motornya.


"Ayo." Balas Arkan sambil menggenggam tangan Kiki.


"Bang! Yang banyak ya." Seketika wajah bahagia Kiki terekam jelas dalam memori Arkan.


"Siap neng." Balas tukang permen gula.


Arkan tidak malu dengan tingkah kekanakan Kiki saat ini, bahkan bagi Arkan malam ini Kiki seperti memiliki sisi lain. Dan sisi tersebut membuat Arkan semakin jatuh kepada Kiki.


"Ihh kakaknya cantik ya ma, kaya Barbie." Mendengar ucapan anak kecil di depannya membuat Kiki tersenyum.


"Kamu juga tampan." Balas Kiki sambil mencium pipi anak kecil yang Kiki taksir berusia empat tahun tersebut.


"Gue cemburu Ki." Kata Arkan saat melihat senyum Kiki terus mengembang saat menatap kepergian anak kecil tersebut.


"Masa cemburu sama anak kecil, aneh lu Ar!" Balas Kiki. Membuat Arkan mendesis kesal. Kiki memang bisa membuat dia cemburu setiap saat dan Arkan tidak bisa mencegah perasaan tersebut.


Satu permen kapas sudah jadi, Kiki mengambilnya dengan wajah berbinar. Dan lagi-lagi Arkan tersaingi. Sial!


Mereka menikmati gulali sambil duduk di bangku dekat dengan tukangnya. Bahkan Kiki tidak sadar jika ada gulali kecil menempel di sudut bibirnya, membuat sosok berkacamata yang duduk di sampingnya langsung mendekati tubuh Kiki.


Kiki menatap Arkan bingung, bahkan Kiki sudah takut dengan apa yang Arkan lakukan saat ini. Bagaimana tidak?! Cowok berkacamata tersebut terus mendekatkan tubuhnya ke arah Kiki. Bahkan Kiki bisa menghirup parfum maskulin miliknya.


"Ar..." Ucap Kiki namun di hiraukan oleh Arkan.


Sampai mata Kiki terpejam, ia tidak merasakan apapun. Hanya sebuah sapuan tangan di sudut bibirnya. Membuat Kiki langsung membuka matanya.


"Ada gula di sudut bibir kamu." Kata Arkan membuat Kiki malu. Kiki pikir Arkan...


"Kiki you okay?" Pertanyaan Arkan membuat Kiki tersadar.


"Okay! Keliling yuk." Ajak Kiki. Arkan pun kembali menggandeng Kiki menuju tempat permainan basket. Di sana sepasang kekasih tengah mencoba namun gagal. Rasa penasaran Kiki membuat Arkan tersenyum tipis. Tidak menunggu lama dia langsung melepaskan genggaman tangannya dan mulai bermain basket.


"Wah! Empat cowok tampan mendapatkan boneka edisi terbatas. Ini hadiah kalian." Kata tukang.


"Empat cowok?" Tanya Kiki.


"Ya yang pertama dia datang dengan cewek imut, yang kedua cowok sama ceweknya sama-sama cakep, ketiga cowoknya kaca mata tinggi terus ceweknya mungil tapi jutek, dan terakhir kalian." Balas tukang.


Mendengar penjelasan tersebut membuat Kiki dan Arkan paham siapa mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, Arkan meminta Kiki untuk duduk kembali di bangku kosong dekat permen gulali. Karena Arkan lama, Kiki kembali memesan gulali sambil berbincang dengan tukangnya.


"Buat lu." Kata Arkan sambil memberikan minum kepada Kiki.


"Terima kasih pak ketu." Balasan Kiki membuat Arkan spontan mencubit kedua pipinya.


"Anything for you sweetie" ucap Arkan sambil mengelus pipi Kiki.


"Aduh si neng, malu-malu. Kalau neng yang tadi malah ngomel-ngomel di gombalin sama cowoknya. Lucu deh." Kata tukang gulali.


Baru Kiki ingin menjawab, Arkan menyela.


"Jangan kepo sayang, nanti gue cemburu lagi." Kata Arkan sambil menatap kedua manik mata Kiki.


"Hem.. Keliling lagi aja yuk, setelah itu kita kumpul sama yang lain." Kata Kiki mengalihkan, karena Kiki takut obrolan ini menjalar ke hal yang Kiki tidak inginkan malam ini.


"Ayok!" Dengan boneka, minuman botol dan genggaman tangan Arkan membuat Kiki merasa istimewa.


Saat Kiki ingin membawa boneka, Arkan menolaknya dengan berkata "ini gak seberapa untuk gue, jadi lu tenang aja. Malam ini khusus gue manjain lu." Perempuan mana yang tidak akan melting ketika di perlakukan seperti ini?


Secara spontan, Kiki langsung memotret Arkan yang tengah melihat ke arah lain sambil menggendong boneka hiu dan botol minuman.


"Kalau mau foto bilang. Gue bakal lakuin apapun untuk lu malam ini." Ucap Arkan membuat Kiki tersenyum kikuk.


Setelah Arkan mendekat, Kiki pendapat pesan dari Fanisa. Pesan tersebut membuat kebahagiaan yang Kiki rasakan lenyap seketika.


"Apapun?" Tanya Kiki serius.


"Apapun mumpung gue lagi baik." Balas Arkan.


Mendengar balasan dari Arkan, Kiki langsung menarik Arkan menuju parkiran. Awalnya Arkan bingung, namun saat Kiki menyebutkan kata rumah sakit. Arkan langsung menggas motornya membelah keramaian kota Bandung. Entah apa yang terjadi, Arkan yakin Kiki sedang mengalami masalah. Terlihat dengan jelas wajah khawatir di wajah cantik Kiki dan hal tersebut menganggu pikiran Arkan.


"Apapun yang mengganggu lu saat ini, gue cuma mau bilang. Everything gonna be okay, because I'm beside you." Kata Arkan saat mereka berada di tengah jalan.


❤️❤️❤️