Galmoners

Galmoners
Part 22



Fresa sakit.


Lebih baik sakit hari ini daripada kemudian hari. Karena semakin lama bangkai di sembunyikan, maka semakin sakit pula efek yang di timbulkannya.


**


Gibran memasuki rumah sakit dengan keadaan Fresa yang tidak sadarkan diri. Di belakang Gibran, ada sahabat-sahabatnya yang sedari tadi mengikuti dirinya.


Gibran melihat Felly yang berlari langsung paham. Jika wanita cantik tersebut akan menangani Fresa dengan cepat.


"Apa pelaku melukai Fresa?!" Tanya Felly panik.


"Gak kak, cuma mimisan Fresa kambuh." Balas Gibran membuat Felly langsung menganggukkan kepalanya.


Wajah pucat Fresa membuat dia ingin sekali memaksa Fresa melakukan hal yang seharusnya sebelum terlambat.


"Kalian tunggu ya. Kakak mau periksa Fresa." Kata Felly sambil membawa tubuh Fresa yang sudah di letakkan di brankar sebelumnya.


Selama menunggu Fresa, Fanisa yang sudah tidak sabar langsung mengutarakan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Ia ingin menangis saat ini, tapi ia tahan sekuat tenaga.


"Sebenarnya Fresa sakit apa Bran?" Tanya Fanisa lirih. Bahkan tanpa yang lain ketahui air mata Fanisa terjatuh, namun dengan cepat ia hapus.


"Chronic Myeloid Leukemia." Balas Gibran. Membuat Fanisa terdiam.


"Leukimia?! Sejak kapan?!" Kata Fanisa. Fanisa merasa sahabat paling bodoh karena tidak mengetahui penderitaan sahabatnya sendiri. Fanisa marah dengan dirinya! Sangat marah!


"Beberapa bulan ini." Balas Gibran lirih.


"Inilah alasan kenapa Fresa gak mau kasih tahu kalian." Kata Gibran saat melihat Fanisa dan Kiki menangis di hadapannya.


"Tapi kita berhak tahu Bran! Sekarang gini deh, seandainya Fresa meninggal gimana?"


"Gak gimana-gimana tinggal kubur." Jawab Evan membuat Fanisa menatapnya tajam.


"Galak amat si Fan. Makin cantik lu kalau kaya gitu." Ucap Evan membuat Fano menjitak kepalanya.


"Lu masih bisa ya bercanda lagi kaya gini?!" Balas Fanisa kesal.


"Bukannya gitu Fan. Anjir gue berasa manggil nama sendiri. Bodo amat dah. Intinya gini Fan, gak selamanya kita bisa dengan mudah berbagi rasa sakit dengan orang lain. Dan lu pasti sangat paham orang macem Fresa seperti apa bukan? Jadi dari pada lu menyesali diri lu sendiri. Lebih baik kita dukung Fresa. Itu yang Fresa butuh dari kita. Bukan sebuah penyesalan." Jelas Evan panjang lebar.


"Tumben pinter." Balas Gibran membuat Evan mencibir.


"Sialan! Untung gue baik jadi gue maafkan." Balas Evan asal.


Fanisa membenarkan ucapan Evan. Harusnya yang ia lakukan saat ini mendukung Fresa bukan malah mencari-cari cara menyalahkan diri sendiri. Sama halnya dengan Kiki, Kiki paham gak selamanya apa yang kita rasakan bisa kita umbar seenaknya. Apalagi menyangkut hal pribadi.


Kini, mereka lebih asik menunggu dalam diam. Entah apa yang Fresa hadapi di dalam sana. Yang pasti mereka berharap Fresa baik-baik saja.


"Adek gue mana?!" Tanya Faza membuat Gibran yang tengah menundukkan kepalanya langsung mengangkat.


"Periksa." Balas Fano singkat membuat Faza mendengus. Tenyata masih saja ada orang yang irit bicara. Faza pikir orang macem itu punah dan tersisa dirinya ternyata tidak.


Tepat saat kedua orangtua Gibran tiba, pintu ruangan Fresa terbuka.


"Fresa baik-baik saja. Dia sedang istirahat. Ouh ya Za, ada yang mau aku omongin." Kata Felly membuat Faza langsung mengikuti kemana Felly membawanya. Sedangkan Gibran dan yang lain memilih makan siang bersama. Sedangkan Fresa akan di jaga oleh Gara dan Gisca.


**


"Akhirnya makan juga setelah berperang akhirnya semua usai." Ucap Evan mendramatiskan keadaan.


"Lebay!" Balas Fano dan Fanisa bersamaan.


"Wah! Kata gue kalau ngomongnya bareng gak jodoh. Berarti lu bakal jadi jodoh gue Fan. Sip lah." Ucap Evan membuat Fano melempar sendoknya. Bukan mengenai Evan, malah mengenai sosok di belakang mereka.


"Sorry." Ucap Fano singkat.


"Santai, asal jangan kena Felly aja." Balas Faza dingin.


"Widih! Kakak ipar sedang berduaan. Boleh lah pajak jadiannya." Ucap Evan sambil menaik turunkan alisnya.


"Gak usah pajak. Lu semua gue undang ke nikahan gue. Tapi ingat, gue butuh ampau gede." Ledek Faza membuat yang lain mencibir.


"Jadi sekarang sudah sadar kak, kalau hati kakak memilih kak Felly?" Pertanyaan Fanisa membuat Faza yang sedang minum jusnya tersedak. Bukan menjawab pertanyaan, Faza malah mengalihkan ke hal lain.


"Jadi siapa pelakunya?" Tanya Faza.


"Greg. Musuh bisnis lu." Balas Gibran setelah itu ia menyuapkan makanan yang ada di sendok terakhirnya.


"Sialan! Tapi Fresa baik-baik saja kan?!" Ucapan Faza dengan nada tinggi membuat mereka jadi perhatian orang-orang.


"Fine, bahkan dia bisa kabur di saat anak buah gue mengalihkan semuanya. Tunangan gue luar biasa." Balas Gibran sambil mengacungkan jempolnya.


"Lebay ah!" Tutur Evan membuat Gibran menyeringai.


"Iri heh?" Balas Gibran.


Disaat mereka semua tengah asik berbincang-bincang, muncul sosok yang selama ini sibuk dengan dunianya. Siapa lagi jika bukan Mahda. Entah kebetulan atau memang di sengaja, Mahda sedang memasuki kantin rumah sakit. Membuat Fanisa dan yang lain langsung menatap Mahda bingung.


"Mahda ngapain ke rumah sakit?" Pertanyaan Kiki membuat Evan mendengus.


"Suntik difteri!" Balas Evan asal. Entah kenapa Evan sekarang biasa saja, tidak seperti dulu jika melihat Mahda ia histeris macam orang kurang obat.


"Masa? Ya kali." Balas Fanisa.


"Biarin apa, suka-suka dia. Mau dia berobat ke, jenguk pacar kesayangannya atau apapun itu gue gak peduli!" Balas Evan.


"Kalau lu gak peduli, gak mungkin lu natap Mahda mulu Van. Aneh lu!" Balas Fanisa ketus.


"Gue tahu gak sekarang lu dekat sama Mahda Van, ada kala di mana lu harus nanggung sakit dulu sebelum kebahagiaan lu. Jadi ambil positifnya aja. Jangan membenci orang lain. Karena kebencian akan menunda kebahagiaan lu." Jelas Kiki.


Tanpa Kiki sadari, Arkan sedari tadi menatapnya dengan penuh cinta. Siapapun akan menyesal jika melepaskan sosok seperti Kiki dan kawan-kawannya.


"Biasa aja dong Ar! Kaya Kiki makanan aja." Sindir Evan.


Di saat mereka bercanda tawa, Mahda yang duduk tidak jauh dari mereka menatap sendu. Dia merindukan mereka semua, tapi dia tidak bisa ke sana. Ada sesuatu yang menahan dia untuk kembali dan sesuatu itu akan Mahda ceritakan nantinya. Mahda pun memutuskan kembali ke rumah setelah merasa puas melihat Fresa dan sahabat-sahabatnya. Ia berjanji akan menjelaskan semuanya nanti.


❤️❤️❤️