Galmoners

Galmoners
18



Operasi!


Aku takut perasaan nyaman ini membuat ku tidak bisa


melepaskan kamu...


Aku takut perasaan ini membuat aku tertahan di


suatu dimensi lain...


Aku takut perasaan ini membuatku sulit mengucapkan


kata perpisahan...


Lalu aku harus apa?


***


Dia sebuah ruangan serba putih. Terdengar suara


canda tawa yang mengalun dengan indah.


Fresa dan Gibran tengah asik menikmati waktu berdua


mereka. Bahkan, Gibran sangat takut dengan perubahan Fresa kali ini. Dia takut


ini adalah terakhir kalinya dia melihat Fresa.


"Ca, Jangan kaya gini. Gue takut." Kata


Gibran jujur.


"Takut kenapa? Seorang Gibran yang terkenal


absurd tiba-tiba takut pada hal yang tidak jelas? Waw!" Ledek Fresa.


"Bukan gitu kambing!" Balas Gibran.


"Terus apa dong?" Tanya Fresa dengan nada


polosnya.


"Gak usah sok polos, udah ah. Pokoknya gue kesel


sama lu. Pertama, jangan kaya gini gue ngerasa aneh. Kaya bukan Fresa banget.


Kedua, omongan kita barusan kaya lu mau pergi ke mana gitu. Terakhir, gue belum


siap lu tinggal pergi. Gue gak tahu apa jadinya jika gak ada lu." Ucap


Gibran lirih.


Fresa mengambil tangan Gibran dan mulai menggenggam


tangannya dengan erat.


"Bran janji ya, jika terjadi hal buruk sama


gue. Lu harus move on. Cari wanita lain yang bisa lu jadikan teman hidup. Gue


yakin tampang ganteng lu berguna kok. Ah! Satu lagi. Jangan pernah berubah. Ada


atau gak adanya gue jangan pernah berubah." Kata Fresa.


"Ca, tahu gak? Kenapa gue suka sama lu? Karena


lu berbeda. Lu buat gue ngerasa nyaman. Bahkan saat kita berdua kaya gini, gue


merasa lu itu udah separuh hidup gue. Gue gak tahu kenapa. Hati gue selalu


maunya sama lu." Balas Gibran.


"Bukan gak mau Bran. Tapi belum. Lu belum aja


nemu sosok lain di kehidupan lu. Gue yakin cewek itu akan lebih baik dari


gue." Tutur Fresa.


"Gak! Gue maunya sama lu! Janji sama gue kalau


lu bakal kembali. Janji sama gue kalau lu bakal ada di sisi gue. Janji sama gue


kalau kita bakal tua bareng! Janji Ca!" Teriak Gibran frustasi.


"Gue janji. Jika gue gak bisa nepati janji


gue, tolong lupakan gue. Lupakan semua tentang gue. Dan hiduplah dengan baik di


sini." Balas Fresa sambil menahan laju air mata yang ingin mengalir.


"Nona Fresa, sudah waktunya." Ucapan


suster membuat Fresa merasakan kematiannya semakin dekat.


"Janji Ca, gue mohon." Pinta Gibran tanpa


sadar air mata sudah turun melalui media bola matanya.


"Insyaallah. Doakan gue ya."


Lepas berbicara dengan Gibran, Fresa di pindahkan


ke ruang operasi. Pagi itu, Gibran tidak bisa berpikir jernih. Bahkan yang ia


lakukan saat ini hanya duduk sambil berdoa berharap sang pencipta mengabulkan


permohonannya.


Tiga puluh menit Fresa di dalam, barulah keluarga


besar Fresa dan sahabat-sahabatnya datang. Gibran yakin mereka semua rela


meninggalkan hal penting bagi kehidupan mereka demi menemani Fresa.


"Gue yakin Fresa kembali bro, jadi jangan


manyun gitu enek gue liatnya." Ledek Evan.


"Kambing!" Balas Gibran saat Evan


memeluknya.


"Alah, kangen bilang aja. Kita gak ketemu bro


selama... Ah! 2 jam." Ucap Evan membuat Fano menjitak kepalanya.


"Kenapa si No? Lu iri sama gue?" Tanya


Evan yang di balas dengan dengusan.


Fanisa melihat tingkah laku Evan merasa terhibur,


tapi sesuatu lain yang ia rasakan membuat dirinya tidak tenang. Contohnya,


pembicara Fano dan Gibran beberapa hari yang lalu. Walaupun ia tidak tahu siapa


orang yang di maksud, tapi Fanisa yakin orang itu berhubungan dengan seseorang


yang ia kenal. Tapi, Fanisa tidak bisa bertanya. Dia takut jika jawaban mereka


membuat Fanisa sakit.


"Kenapa Fan?" Tanya Kiki


"Gak. Gue ke toilet dulu." Balas Fanisa.


Langkah kaki Fanisa mulai menyusuri lorong rumah


sakit, namun langkahnya terhenti saat mendengar nama sahabatnya di sebut.


"Tenang saja, operasi gak bakal buat dia


hidup. Bahkan dokter hanya bisa memberikan 1% persentase kehidupannya. Jadi lu


gak usah takut. Rencana kali ini akan berjalan dengan lancar. Soal Firhan yang di


tahan itu urusan nanti, siapa suruh masuk di saat gue selesai membunuh Fresa.


Jadi biarkan saja dia di penjara."


Bisakah Fanisa marah saat ini? Jadi Firhan


dipenjara? Dan itu semua ulah--astaga! Fanisa harus membuka kedok cowok sialan


itu!


Prok... Prok... Prok...


"Ternyata anda yang menjebak tunjangan


saya!" Kata wanita cantik, membuat Fanisa menahan langkahnya dan kembali


bersembunyi.


"Kenapa? Mau marah? Bukannya tunangan lu itu


masih cinta sama mantannya dan sialnya lagi mantannya juga masih cinta sama


dia. Paling ni ya, kalau mereka kembali dekat lu akan di buang!"


"Ouh ya? Terus gue peduli? Gak! Gue emang


cinta sama Firhan. Bukan berarti cinta gue akan menyakiti Firhan ataupun


mantannya. Jika pun Firhan bukan milik gue kenapa? Itu tandanya takdir tuhan


tidak berpihak pada gue."


Fanisa tertohok. Ia merasa menjadi wanita jahat


saat ini. Ia tidak menyangka di balik semua perhatian Firhan beberapa hari ini,


ada sosok yang menahan sakit? Astaga Fanisa sudah berubah menjadi jahat.


Seandainya Fanisa tahu semuanya dari awal dia akan menjauhi Firhan. Apalagi


mereka sudah bertunangan.


"Lu terlalu baik, lu gak tahu Fanisa sama


Firhan pernah pelukan di sini." Pancing cowok tersebut.


"Gue tahu, dan gue liat. Bahkan cowok yang


mencintai Fanisa itu juga melihat adegan itu. Apa dia marah? Gak. Karena kita


tahu, mereka masih tersesat dengan perasaan mereka sendiri. Mereka tidak sadar


jika perasaan baru muncul di hati mereka. Udahlah jangan bahas masalah ini. Gue


mau lu lepasin Firhan atau gue bongkar semuanya!" Ancam cewek tersebut.


Fanisa yakin cowok yang dimaksud ialah Fano. Pantas


saja saat mereka bertatap wajah Fano menghindar. Dasar bodoh! Tapi apakah benar


yang cewek itu ucapkan? Jika dirinya sudah jatuh pada Fano?


"Lu ngancam gue?! Gue gak takut! Gue yakin gak


ada satupun orang yang akan percaya sama lu!" Bentak cowok tersebut.


"Sayangnya ada ini" balas cewek tersebut


sambil menunjukkan sebuah rekaman. Membuat cowok tersebut langsung mencekik


lehernya.


"Tolong!!! Ada orang gila!!!" Teriak


Fanisa dari tempat persembunyiannya. Membuat cowok tersebut langsung


meninggalkan tempat itu.


Uhukkk... Uhuk....


"Lu gak apa?" Tanya Fanisa.


"Hemm.. thanks." Balasnya.


"Gue--"


"Fanisa. Gue tahu kok. Gua Fani."


Balasnya. Membuat Fanisa kaget.


"Ah? Senang bertemu dengan anda." Kata


Fanisa.


"Gue-lu aja. Kita cuma beda setahun."


Balas Fani.


Fanisa tidak menyangka jika Firhan mendapatkan


perempuan yang lebih darinya. Dan sayangnya Firhan bodoh melihat semuanya.


"Okey. Gue duluan ya mau ke kamar mandi."


Balas Fanisa.


"Hem. Gue mau ke kantor polisi. Terima kasih


sudah bantu gue."


"Ah! Fani, gue udah gak cinta sama Firhan jadi


lu tenang saja. Pelukan kemarin hanya pelukan perpisahan dan gue yakin Firhan


juga cinta sama lu. so, semangat!" Teriak Fanisa membuat Fani tersenyum.


Keduanya berpisah tempat. Dan keduanya berharap di


pertemukan di waktu yang lebih baik.


***


Kini, Fanisa dan yang lain tengah menunggu hasil


akhir dari operasi ini.  Ayahnya Fresa yang jadi penyumbang sum-sum tulang


belakang, sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan Fresa? Belum ada


tanda-tanda jelas jika wanita itu mau bangun. Terlihat dari kaca jika wanita


cantik itu masih menutup matanya.


Hal tersebut membuat Gibran dan Fanisa langsung


panik. Mereka takut jika hal buruk terjadi pada Fresa.


Namun...


Mata Fresa mulai terbuka, dokter mulai menanyakan


apapun pada Fresa. Membuat Fanisa dan Gibran langsung memeluk sahabat mereka.


Fresa yang berada di dalam ruangan tersebut hanya


bisa menjawab dokter dengan sekenanya. Sekarang, Fresa memenuhi janjinya pada


seseorang. Fresa tidak perlu khawatir lagi. Mungkin tuhan ingin memberikan


kesempatan padanya.


"Kami akan memantau kamu selama beberapa


minggu. Jika operasi ini berhasil, kamu akan keluar dari rumah sakit ini."


Kata dokter.


"Terima kasih."


Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Fresa


langsung dia bawa keluar dari ruang operasi. Tangisan kebahagiaan mulai Fresa


lihat dari sahabat-sahabatnya.


"Ahhhhh fresaaaaaa... Akhirnya." Kata


Mahda


"Fresa kita kembali!" Ucap Kiki.


"Gue tahu, lu bukan orang yang ingkar


janji." Tutur Fanisa.


Ketiga orang tersebut memeluk tubuh Fresa. Membuat


Fresa tanpa sadar menangis. Ia tidak tahu kenapa saat ini ia ingin menangis.


Bahkan rasanya sangat tidak percaya jika ia bisa kembali lagi ke sini. Rasanya mustahil


di saat dirinya di ambang kematian.


"Terima kasih gengs!" Ucap Fresa.


Hari itu, adalah awal dari perjalanan mereka


sesungguhnya. Di hari itu, mereka semua mendapatkan kabar jika Bian di tangkap


polisi. Bukan hanya itu saja, kedatangan Firhan bersama dengan tunangannya


membuat Fanisa dan yang lain tersenyum. Fresa sadar, jika sahabatnya yang satu


itu sudah ikhlas melepaskan Firhan seperti halnya dengan Kiki.


Fresa berharap, sahabatnya menemukan kekasih hati


mereka masing-masing.


"I love you Fresa..." Bisik Gibran di


tengah keramaian ruang perawatan Fresa.


"Hmm..." Balas Fresa.


"Sosor terus ya Bran! Lupa kalau ada jomblo di


sini!" Ujar Evan saat melihat Gibran mengecup dahi Fresa.


"Iri aja dah lo. Tuh Mahda ada atau lu mau si


Fanisa juga boleh. Kalau Kiki jangan, dia udah taken!" Kata Gibran membuat


seseorang berteriak.


"What?! Lu jadian sama siapa Ki?! Kok gak


bilang-bilang?!" Kata Mahda.


"Pengen surprise aja si nanti. Intinya, gue


sama Arkan jadian dan baru dua hari." Balas Kiki kikuk.


"Hem..  hem... PJ bisa kali." Ledek


Fresa.


"Peja peje! Harusnya lu! Tunangan kapan tahu


tapi gak pernah traktiran!" Omel Kiki.


"Setuju Ki! Keluar dari rumah sakit


makan-makan." Balas Evan.


Canda tawa memenuhi ruangan tersebut. Bahkan Fresa


sendiri terhibur dengan kedatangan mereka semua. Fresa mengucapkan terimakasih


kepada papanya. Karena pahlawannya itu sudah berjuang untuk kesembuhannya.


Fredrick tersenyum tipis saat melihat gerakan bibir


anaknya. Karena diapun sangat bahagia melihat Fresa saat ini. Dan ia harap


Fresa akan selalu bahagia.


Lagi-lagi, dibalik kebahagiaan mereka. Ada sosok


lain yang menatap penuh kebencian. Ia harap permainan selanjutnya lebih


menyenangkan, karena Fresa sudah kembali.


"Lihat saja, gue akan buat sahabat kalian mati


saat itu juga." Kata sosok tersebut dan menghilang bersamaan dengan


keramaian rumah sakit.


❤️❤️❤️


Flashback!


Hari dimana Fresa kritis.....


Saat itu Fanisa melepaskan pelukannya dengan


Firhan.


"Maaf, gue udah gak ada perasaan lagi sama lu.


Jadi gue harap lu bisa buka hati lu buat cewek lu." Kata Fanisa.


"Tapi Fan..."


"Firhan. Dengerin gue ya. Lu udah punya cewek


lain. Coba deh mikir, jika gue jadi cewek lu? Pasti sakit. Anggap aja pelukan


ini sebagai perpisahan. Kalau boleh jujur, gue emang ngerasain perasaan itu


tapi gue gak tahu perasaan ini apa." Ucap Fanisa.


"Itu cinta Fan, udah gue duga pasti lu masih


sayang sama gue kan? Udahlah gak usah ngelak. Gimana kalau kita balikan?"


Pertanyaan Firhan membuat Fanisa terdiam.


"Maaf.. gue emang mau banget balikan sama lu,


tapi--"


"Udahlah Fan, jangan pikirin yang lain.


Intinya kita balikan!" Kata Firhan bahagia.


"Gak! Gue gak mau. Gue gak tahu perasaan ini


apa, tapi gue gak mau egois sama perasaan ini. Karena gue yakin lu juga gak


tahu sama perasaan lu sebenarnya gimana. Bisa jadi perasaan ini hanya sesaat.


Jadi, gue putuskan untuk bilang gak. Sorry Firhan." Balas Fanisa dan pergi


meninggalkan ruang perawatan Fresa.


Di saat Firhan galau dan pergi dari sana. Seseorang


memanfaatkan keadaan. Dengan menggunakan topeng wajah yang mirip dengan Firhan


dia memasuki ruang perawatan Fresa.


"Jika gue gak bisa miliki lu, maka Gibran juga


tidak bisa!" Lepas mengucapkan kata tersebut, cowok itu langsung


melepaskan alat bantuan nafas di tubuh Fresa, membuat tubuh yang tergeletak di


sana kejang-kejang. Cowok tersebut tersenyum tipis dan pergi meninggalkan Fresa.


Dokter yang mendapatkan kabar Fresa kritis langsung


berlari ke ruangan Fresa. Begitupun dengan yang lainnya. Mereka semua langsung


berlari dari arah kantin. Sedangkan Mahda dan Kiki datang bersama dengan cowok


yang dekat dengan mereka.


Semua menunggu dengan cemas. Isak tangis mulai


terdengar di sana. Bahkan tingkah laku Gibran membuat Fanisa tertarik, bahkan


sampai mengikuti Gibran dan Fano.


Di saat keduanya memasuki ruang cctv. Saat itu juga


Fanisa langsung bersembunyi. Berharap jika dia tahu satu hal. Namun, semua


gagal. Kenapa? Karena Gibran menggunakan kata pengganti saat berbicara dengan


Fano, membuat Fanisa kesal sendiri. Melihat usahanya sia-sia Fanisa kembali ke


tempatnya dan di sanalah dia melihat Fresa kembali. Rasa haru mulai merasuki


dirinya. Fanisa bahagia Fresa kembali.


Namun, semua berubah saat Fresa berkata Operasi.


Seketika pikiran buruk mulai merasuki Fanisa.


"Fresa baik." Ucap Fano membuat Fanisa


menatap cowok di sampingnya bingung.


"Maksudnya, dia akan baik-baik saja."


Jelas Fano membuat Fanisa menganggukkan kepalanya.


Setelah merasa Fresa kembali, mereka semua


memutuskan untuk pulang. Meninggalkan Gibran dan keluarga Fresa disana.


***


Dua hari sebelum Fresa operasi...


Galmoners minus Fresa tengah berkumpul di kantin.


Seperti biasa, mereka akan bergosip apapun. Entah itu tentang mantan mereka,


Fresa atau tentang hal yang berhubungan dengan dunia artis.


"Mahda gue mau kita balikan!" Bentakan


Alex membuat orang-orang di kantin menatap mereka penuh perhatian.


"Sayangnya gue gak mau! Emang gue **** apa?!


Lu tuh gak suka kan sama gue? Tapi lu cuma pura-pura suka. Dan Cheryl yang lu


kata adek juga bukan adek lu kan? Jadi kenapa? Kenapa lu susah payah


mohon-mohon di sini? Apa Cheryl yang nyuruh lu atau orang lain yang nyuruh


lu?" Balas Mahda.


"Gak ada yang nyuruh gue. Kali ini gue serius


Mahda. Gue benar-benar menyesal." Kata Alex memohon.


"Simpan saja rasa penyesalan lu. Karena gue


gak butuh!" Balas Mahda sambil berlari keluar kantin.


Tanpa mereka semua sadari seringai tipis muncul di


salah satu wajah orang-orang yang ada di kantin. Entah kenapa dia merasa punya


ide akan hal ini.


Mahda duduk di bangku taman, dia menangis di sana.


Mahda lelah jika harus kembali ke masa lalunya. Dia lelah jika harus mencintai


sendiri. Akankah ia terus seperti ini?


"Nangis lah. Gue bakal tutupin lu. Jadi


luapkan semuanya." Kata Evan yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


Mendengar tawaran tersebut Manda langsung menangis


sejadi-jadinya. Dia meluapkan semua yang ia rasakan. Rasa sakit, kekecewaan dan


kebenciannya. Semua ia luapkan. Bahkan Mahda tidak sadar jika sekarang dia


menangis di pelukan Evan. Pelukan seorang cowok yang selalu menunggu Mahda


sadar. Cowok yang rela sakit demi Mahda. Namun, Mahda hanya menganggap Evan


hanyalah candaan.


"Sakit Van... Kenapa dia harus bohong. Apa


rencana dia Van?! Apa dia gak cukup menyakiti gue saja?!" Kata Mahda


histeris.


"Mungkin dia lelah." Balas Evan sambil


mengusap punggung Mahda. Berharap jika pujaan hatinya segera tenang.


"Gue harus move on! Pokoknya gue gak mau ada


Alex-Alex lagi!" Kata Mahda antusias.


"Jangan melupakan, karena akan sulit. Tapi


dibawa santai aja. Karena move on itu bukan tentang melupakan tapi tentang


bagaimana kita mengikhlaskan." Jelas Evan.


"Makasih Van." Jawab Mahda.


Kini Mahda sudah yakin, dia akan benar-benar


mengikhlaskan Alex. Karena Mahda yakin, jika ia akan menemukan pengganti sosok


Alex. Ia harap, saat menemukan sosok itu. Dia tidak lagi jatuh. Ia Mahda


berharap itu.


Kiki dan Fanisa tersenyum melihat Mahda dan Evan.


Bahkan keduanya berterima kasih karena Evan ada di saat Mahda seperti sekarang.


Baru saja mereka mau meninggalkan taman, Kiki di tarik oleh Arkan membuat


Fanisa bingung.


"Pinjam Sahabat lu!" Kata Arkan melalui


gerakan bibirnya.


"Sip!" Balas Fanisa dengan acungan


jempol.


Arkan mengajak Kiki keluar dari wilayah sekolah


mereka. Ada yang Arkan siapkan untuk hari ini.


"Mau kemana Ar?" Tanya Kiki saat mereka


keluar dari pelataran sekolah.


"Ada deh. Hari ini kita bolos." Balas


Arkan.


"Tapikan Tas--?" Tanya Kiki terpotong


oleh ucapan Arkan.


"Aman, sudah gue minta Fano bawain. Jadi


setelah urusan selesai kita ke basecamp FEGA."


Kiki diam saja dirinya kau di bawa kemana. Toh,


Arkan bukan tipe cowok nakal jadi dia tidak perlu takut akan suatu hal.


Selama di perjalanan, Arkan menatap Kiki dengan


senyuman tipisnya. Hari ini adalah hari yang tepat untuk ia mengungkapkan


semuanya. Intinya, Arkan tidak mau keduluan orang lain.


Kiki dan Arkan memasuki kawasan Dago Pakar, Arkan


sengaja membooking cafe di sana karena nuansanya sangat pas untuk mengungkapkan


sesuatu.


Kiki bingung dengan suasana Cafe yang sepi. Bahkan


Kiki kira Cafe ini baru buka. Namun, dugaannya salah.


Saat ia memasuki Cafe tersebut, semua foto candid


dirinya terpampang jelas. Di mulai foto ia bayi, sampai foto ia dewasa.


Bukan hanya itu saja. Empat sosok orang dewasa yang


sudah berumur juga menambah kebingungan Kiki. Ia tidak tahu ada apa dengan


semua ini. Bahkan ia tidak tahu kenapa keluarganya ada di sini. Sampai...


Suara alunan melodi piano mulai terdengar begitu


indah. Marry Your Daughter mengalun begitu pas. Bahkan Kiki sekarang sadar jika


Arkan sedang menjalankan perannya.


"Untuk gadis cantik di sana. Mungkin usia gue


masih muda untuk menikah. Tapi, di hadapan kalian semua gue mau mengungkapkan


semuanya. Gue suka sama lu Ki. Lu tahu kapan? Sejak gue lihat foto lu bersama


dengan Fresa. Saat itu gue langsung mikir, ku harus punya gue. Sampai takdir


mempertemukan kita. Lu pasti gak sadar, gue orang yang menyelamatkan lu yang


hampir ke tabrak mobil di saat lu ingin menyelamatkan kucing. Lu tahu apa yang


gue pikirkan saat itu? Tuh cewek **** banget, tapi dari sana gue sadar. Lu


punya perasaan lembut dan hal itulah membuat gue semakin jatuh cinta sama lu.


Kayanya kelamaan pidato gue, jadi langsung saja. Di hadapan kedua orang tua lu.


Gue, Arkan Hutama. Siap menjadi imam untuk gadis cantik bernama Kiki Rahardja.


So, Will You Mar----"


Ucapan gantung Arkan membuat jantung Kiki berdetak


kencang, ia takut jika Arkan serius menikahi dirinya saat ini. Kiki bukannya


tidak suka dengan Arkan tapi Kiki belum siap untuk jenjang pernikahan. Masih


banyak hal yang ingin ia capai.


"So, will You Be My Girlfriend?" Lanjut


Arkan membuat Kiki spontan mengangguk.


Arkan yang ada di atas panggung langsung berlari


mendekati Kiki dan memeluknya.


"Sekarang kita pacaran, Soon kita akan jadi


tunangan." Bisik Arkan membuat Kiki mendengus.


"Serah lu dah." Balas Kiki sekenanya.


Raut wajah bahagia Kiki lihat dari empat orang


dewasa di depannya.


"Bagaimana setelah pembagian rapor, mereka


bertunangan?" Tanya Areta, Ibunda Arkan.


Kini, mereka tengah makan bersama setelah acara


Arkan tadi.


"Boleh, saya setuju. Toh Arkan juga bisa jaga


Dua ibu langsung menatap Arkan dan Kiki serius,


membuat mereka langsung mengucapkan apa yang ada di pikiran mereka.


"Saya setuju." Ucap Arkan dan Kiki


bersamaan.


Keduanya saling pandang namun setelahnya mereka


saling melempar senyum. Membuat orang tua langsung melepaskan jurus ledekan


mereka.


Kiki bahagia jika akhirnya hari ini tiba. Bahkan


Kiki sangat berterima kasih dengan takdirnya saat ini. Biarkan hari ini dia


memulai semuanya. Memulai hal baru bersama dengan orang baru.


❤️❤️❤️


Happy!


***


Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya. Kini,


Fresa tengah berbaring di tempat tidur sambil menyaksikan sebuah berita yang


tengah hits saat ini.


"Bian anak pengusaha ternama Indonesia di


tangkap polisi di kediamannya. Seorang wanita cantik melaporkan kejahatan Bian


dengan rekaman suara yang wanita itu lakukan dengan pelaku. Begitu mengejutkan


memang, saat tahu kelakuan asli seorang Bian. Hanya karena sakit hati dia rela


mengikhlaskan cita-citanya demi terdiam di balik jeruji besi. Pihak keluarga


Bian sudah mendatangi korban. Bahkan mereka meminta masalah ini di bicarakan


secara kekeluargaan. Namun sayang, pihak korban menolak. Karena apa yang Bian


lakukan sangat pantas untuk masuk ke dalam jeruji besi. Bukan hanya percobaan


pembunuhan, tapi Bian juga di tangkap karena memfitnah seseorang. Kita doakan


saja semoga Bian berubah setelah ini."


Fresa mematikan televisi. Ia sangat bosan jika


semua berita isinya tentang Bian. Bahkan keluarganya juga ikut di bawa-bawa.


Menyebalkan!


"Pagi cantik, kok udah cemberut aja?"


Tanya Fresca yang datang sambil membawa kotak putih. Sudah Fresa pastikan


mamanya membawa sebuah bubur. Ckckck...


"Nope. Kapan aku keluar?" Tanya Fresa.


"Jika kamu sudah benar-benar pulih hari ini


keluar. Kenapa? Kangen sama Gibran?" Sindir Fresca.


"Cihhhh.. Siapa juga yang kangen sama dia! Gak


lah." Balas Fresa ketus.


"Kamu masih aja gedein gengsi, giliran mau


died aja berani jujur-jujuran. Anak muda Jaman Now gitu ya, gengsi di


gedein." Ujar Fresca membuat Fresa mendengus kesal.


"Mama sok kekinian deh. Ouh ya makhluk es


kapan nikah? Emang kak Felly gak ada niatan batalin pernikahannya?" Tanya


Fresa.


"Gak lah! Secara Felly cinta mati sama kakak,


gimana mau batalin." Balas Faza.


"Gak usah sok! Aku yakin kak Felly itu terpaksa


sama kakak. Orang waktu itu aku gak sengaja lihat kak Felly jalan sama cowok


lain." Tutur Fresa membuat Faza langsung keluar dari kamarnya.


"Mama gak ikut campur, kalau


kenapa-kenapa." Balas Fresca membuat Fresa panik sendiri.


Fresa mulai mengambil alat infusnya untuk ia pegang


dan mengejar kakaknya, namun seseorang menahannya membuat Fresa mengumpat


kasar.


"Mau kemana?" Tanya Gibran dingin.


"Kepo!" Balas Fresa sengit.


Gibran menghela nafas, ia membantu Fresa membawa


infusannya namun detik berikutnya, Fresa juga sudah berpindah tempat ke dalam


gendongan Gibran.


"So, mau kemana? Mumpung gue baik gue ajak lu


jalan-jalan." Kata Gibran membuat Fresa mendengus.


"Cari kak Faza dan kak Felly sekarang!"


Balas Fresa.


"Cari mereka? Ngapain! Mending di sini."


"Udah turuti Fresa Bran sebelum perang dunia


terjadi." Kata Fresca membuat Gibran bingung. Walaupun masih bingung


dengan situasi ini, Gibran tetap membawa Fresa berkeliling rumah sakit mencari


keberadaan dua tikus tersebut. Sampai...


"Siapa cowok yang ajak kamu jalan?"


"Cowok siapa?! Aku tuh jalan sama cowok kalau


gak kamu ya papa kamu! Kamu aneh deh."


"Jangan bohong! Fresa sendiri yang


lihat."


"Bodoh! Fresa aja belum boleh keluar dari


rumah sakit dari mana dia tahu."


"Felly! Aku serius, siapa cowok yang jalan


sama kamu!" Bentak Faza membuat Felly terdiam.


"Kamu gak berubah, masih sama. Sebaiknya kita


pikirkan matang-matang pernikahan kita." Balas Felly lirih.


"Tidak!" Teriak Fresa membuat keduanya


menoleh.


"Gini kak, sebenarnya kak Felly gak jalan sama


siapa-siapa aku tuh bohong sama kakak." Jelas Fresa lirih. Dia takut


kakaknya memarahinya saat ini.


"Kamu--Astaga! Kamu mau buat pernikahan kakak


gagal?! Kamu tahukan Fresa kalau kakak tuh udah nunggu banget hari ini dan


kamu--Kakak kecewa!" Balas Faza meninggalkan tempat tersebut.


Fresa yang melihat kakaknya pergi, meminta Gibran


menurunkannya. Namun Gibran hanya diam saja.


"Ada kalanya sesuatu bisa di jadikan


bercandaan. Dan hal ini tidak bisa kamu jadikan bercandaan sayang. Biarkan Faza


memikirkan semuanya sendiri. Toh ada kak Felly. Kita kembali ke kamar ya."


Kata Gibran.


"Aku cuma mau bercanda aja. Salah ya?"


Tanya Fresa saat Gibran membawanya kembali ke kamar.


"Gak salah, cuma tidak tepat." Balas


Gibran sambil mengecup dahi Fresa. Dua hari tidak melihat Fresa dia sudah


serindu ini, bagaimana nanti.


"Ada yang kamu pikirkan ya?" Tanya Fresa.


"Hem. Aku mau ke Singapura untuk urusan


bisnis. Mau ikut gak?" Tanya Gibran.


"Gak ah, aku mau sekolah aja." Balas


Fresa.


"Sayangnya kamu harus ikut aku." Ucap


Gibran membuat Fresa mendengus.


"Ngapain ngajak sialan!"


"Hus. Gak boleh mengumpat dengan calon


suami." Nasihat Gibran.


"Sok tua!" Balas Fresa membuat Gibran


terbahak.


Gibran menurunkan Fresa di kasurnya, sedangkan ia


mulai duduk di sofa yang sudah di sediakan. Hari ini Gibran mengantuk. Jadi


biarkan dia beristirahat saat ini.


"Kamu tuh peka kenapa si Ca. Calon suami kamu


itu baru sampai dari urusan bisnis malah kamu susahin. Bisa aja emang


modusnya." Sindir Fresca.


"Mana aku tahu." Balas Fresa langsung


menikmati sarapannya.


***


Di tempat lain, FEGA dan Galmoners sudah siap untuk


mengunjungi Fresa. Mereka sudah memutuskan siang ini akan membolos sekolah.


Bahkan ketua OSIS saja ikut andil dalam bolos ini, jadi tidak masalah.


"Please jangan pacaran! Masih ada jomblo di


sini." Kata Evan saat melihat kedekatan Kiki dan Arkan.


"Gak usah di lihat Van. Ouh ya, gue bersyukur


akhirnya Bian mendapatkan balasannya. Gue harap setelah ini tidak ada lagi


masalah." Kata Fanisa.


"Sepertinya hal itu tidak terjadi deg Fan,


liat siapa yang datang." Kata Kiki saat melihat geng Cherry memasuki area


parkir.


"Haiii Arkan." Kata salah satu antek


Cherry.


"Ciee di cuekin, mang enak!" Balas Mahda


ketus.


"Aduh makin panas aja. Mending langsung aja


cabut, sebelum tangan gue gatel ngacak-ngacak." Kata Fanisa.


"Belagu banget lu! Asal lu tahu ya Fan, Fano


tuh gak suka sama lu. Dia itu sudah bertunangan sama gue. Bukan begitu


Fano?" Tanya Cika.


"Gak." Balas Fano membuat Cika menggeram


kesal.


Fano sendiri tidak pernah di jodohkan siapapun,


jadi kenapa cewek gak jelas ini berani berbicara seperti itu? Membuat mood Fano


rusak saat ini.


"Malu dah gue kalau jadi lu. Udah lah mending


lu pergi dari sini sebelum tangan gue bersarang di wajah kalian." Balas


Fanisa sinis.


"Jangan sombong! Gue bakal buat kalian


menderita kembali. Camkan itu!"


"Jangan sombong! Gue bakal buat kalian


menderita kembali. Camkan itu! Cihhh... Dia pikir semua bakal berjalan sesuai


kemauannya? Tentu saja tidak! Gue bakal buat dia yang menderita." Kata


Mahda dengan wajah dinginnya.


"Caranya?" Tanya Fanisa.


"Nanti juga tahu." Balas Mahda misterius.


Tidak mau ambil pusing, mereka memutuskan untuk


meninggalkan pelataran sekolah. Toh mereka percaya Mahda pasti sudah menyusun


semuanya secara matang.


***


Hari menjelang siang, Fresa bosan hanya duduk


sambil menyaksikan televisi. Ibunya sudah pergi keluar membeli makanan, karena


tahu sahabat-sahabatnya akan datang hari ini.


"Siang Fresa, kita periksa dulu ya."


Tanya dokter wanita yang sudah tua.


"Ya bu." Balas Fresa.


Tepat saat Fresa selesai melakukan pemeriksaan,


sahabat-sahabatnya datang bersama dengan Fresca dan Gisca.


"Hello Ev--" ucapan Evan terhenti saat


Fresa melempar bantal ke arahnya.


"Jangan berisik!" Ucap Fresa sambil


menunjuk ke arah Gibran. Evan yang melihat sahabatnya tertidur pulas langsung


memiliki ide jahil.


"Pinjam lipstik!" Kata Evan.


"Lipstik kita mahal!" Balas Galmoners.


"Alah lipstik gocengan aja belagu." Balas


Evan sinis.


"Yeh songong! Lipstick kita mahal! Enak aja


gocengan!" Ucap Mahda ketus.


"Udah-udah. Nih pakai punya Tante." Balas


Gisca membuat Fresa spontan teriak.


"Mami!"


"Sekali-kali jahili Gibran gak


apakan?"tanya Gisca membuat Fresa menghembuskan nafasnya lelah.


Fresa tidak ikut campur jika Gibran marah nanti.


Lebih baik dia makan siang saja.


"Bran!!! Si Fresa minta beliin es krim."


Teriak Evan membuat Gibran langsung bangun.


"Kamu mau apa Ca?" Tanya Gibran.


"Gak, aku udah kenyang." Balas Fresa.


"Bohong! Tadi mami denger sendiri, kalau dia


mau es krim kesukaannya itu. Masa kamu gak tahu?" Tanya Gisca.


"Ouh itu, ya udah bentar. Kalian mau titip


apa?" Tanya Gibran ke yang lain.


"Seperti biasa aja Bran." Mendengar


jawaban Evan langsung membuat Gibran melangkahkan kaki ke luar. .


Gibran tidak tahu kenapa semua orang menertawai


dirinya. Mungkin saja karena kadar ketampanannya meningkat.


Dengan percaya diri, Gibran memasuki mini market.


Setelah puas mencari pesanan mereka. Dia langsung membayar belanjanya. Sampai


salah satu kasir memberikan sebuah kaca awalnya bingung, namun saat ia


menggunakan kaca tersebut...


"Evan Laksono!!!"


Evan yang mengikuti Gibran langsung kabur, di susul


dengan Gibran yang sudah selesai melakukan pembayaran.


"Jomblo sialan! Sini lu!" Kejar Gibran


membuat siapapun yang melihat terbahak akan tingkah mereka.


"Tolong! Saya di kejar banci!" Balas


Evan.


"Sialan! Kesini sekarang atau gue--"


"Gak takut! Kalau lu berani ancam gue Fresa


bakal gue rebut!" Ancam Evan.


"Jomblo sialan, lu benar-benar cari mati! Sini


lu!" Teriak Gibran.


Gibran terus mengejar Evan. Beruntung rumah sakit


sedang sepi. Jika tidak? Entahlah apa yang terjadi dengan keduanya.


"Tuhkan ke hibur juga." Ledek Gisca saat


melihat Fresa tertawa. Sedangkan yang di ledeki hanya bisa tersenyum malu-malu.


Akhirnya kebahagiaan yang Fresa rasakan datang


kembali. Ia tidak menyangka akan merasakan secepat ini, padahal baru kemarin


mereka bersedih sekarang--Fresa tidak menjelaskan semuanya dengan kata-kata.


Intinya Fresa sangat bahagia!


❤️❤️❤️


Singapura


***


Fresa dan Gibran tiba di tempat yang mereka tuju.


Gibran menggandeng tangan Fresa, seakan-akan takut jika gadis cantik di


sampingnya hilang kapan saja.


"Aku bukan anak kecil Bran. Stop memperlakukan


aku kaya anak kecil!" Ucap Fresa.


"Tidak bisa sayang, aku harus melakukannya.


Nanti kamu langsung istirahat. Karena aku langsung ke tempat meeting. Gak


apakan?" Tanya Gibran.


"Gak apa si." Balas Fresa malas.


Keduanya memasuki hotel yang akan mereka tempati


selama tiga hari ke depan. Baru saja mereka ingin meminta kunci seseorang menganggu


mereka.


"Welcome to Singapure! Untuk tuan dan nyonya


yang ingin berbulan madu kami menyiapkan paket hemat. Pertama anda akan di


kenakan biaya menginap 5 juta dengan fasilitas lengkap, dan--"


"Berisik!" Omel Gibran.


"Lu ngajak kutu kupret?" Tanya Fresa


membuat Gibran tersenyum miring. Melihat senyum tersebut membuat Fresa bergidik


ngeri, namun ia berucap kata "maaf" secara lirih. Berharap jika


Gibran tidak akan melakukan hal aneh padanya saat ini.


"Gak. Bahkan perjalanan ini khusus kita berdua


no more." Balas Gibran.


"Tapi dia kok bisa ada di sini?" Tanya


Fresa kembali.


"Karena gue ingin! Selama gue menjomblo gue


akan menganggu kalian semua yang taken!" Balas Evan dengan bangga.


"Ganggu orang bangga. Makanya cari


pacar!" Sindir Fresa.


"Dasar sombong! Mentang-mentang sudah tunangan


belagu. Gue sumpahin kalian gak bakal bahagia." Doa Evan.


"Doa buruk kebalikan." Celetuk Fresa.


"Yeh! Gak ada doa kebalikan! Guru ngaji lu


siapa si?! Apa perlu gue ajarin?" Balas Evan sinis.


Di saat keduanya berdebat, Gibran mengambil satu


buah kunci. Itu tandanya Gibran dan Fresa akan satu kamar. Gibran bersyukur


pengganggu itu datang, karena dirinya bisa menyabotase semuanya.hahaha...


"Yeh si gila, yang ada lu! Perlu di ruqyah. Ah


satu lagi, gimana Mahda mau jatuh cinta kalau lu sendiri takut memulai kembali.


Dasar pengecut." Umpat Fresa.


"Eh! Mak tiri! Lu gak tahu aja progres gue


sama Mahda. Kita tuh udah dekat bagaikan perangko jadi jangan sok dah lu!"


Balas Evan kesal.


"Siapa yang sok, kenyataannya gitu. Lu suka


sama Mahda tapi lu godain cewek lain. Gimana Mahda mau yakin kalau lu


serius!" Omel Fresa.


"Mak lampir benar-benar! Mahda gak perlu


penjelasan dari gue karena Mahda tahu hati gue emang udah jadi miliknya. Jadi


lu jangan bawel, mending lu urus calon suami lu itu! Kali aja dia bosan sama


lu." Celetuk Evan asal.


Fresa tidak tahu sejak kapan mereka mulai beradu


argumen. Tapi yang Fresa ingat, sejak kejadian Evan mempermalukan Gibran


dirinya jadi menandai Evan sebagai seseorang yang harus di hindari. Selain


menyebalkan dia juga bisa membuat naik darah. Seperti yang kalian liat saat


ini.


"Sialan! Kalau dia cari cewek lain gue juga


bisa cari cowok lain, bahkan yang lebih ganteng dari dia!" Balas Fresa


marah.


Gibran menghela nafasnya kasar. Gibran paling tidak


suka mendengar cowok lain di sebut Fresa. Bahkan jika Fresa bercerita tentang


Sahabatnya saja dia cemburu. Entah kenapa Gibran lebih suka Fresa bercerita


mengenai apapun kecuali cowok lain.


"Alah! Mana ada cowok yang bakal suka sama


cewek galak kaya lu! Cuma sahabat gue yang mau. Itupun karena dia udah lu


guna-guna!" Ucap Evan meledek.


Demi apapun, Evan sangat menyukai Fresa yang tengah


marah. Baginya Fresa adalah hiburan yang tidak bisa di lewatkan. Apalagi jika


keduanya sama-sama masuk perangkapnya. Itu membuat hari bahagia Evan


berkali-kali lipat.


"Gibran! Urus sahabat sialan lu itu gue mau ke


kamar, mana kuncinya!" Pinta Fresa. Membuat Gibran memberikan kuncinya.


Gibran juga meminta petugas hotel untuk membantu tunangannya.


"Lu jangan ganggu Fresa kenapa si. Udah tahu


dia lagi sensi sama lu." Kata Gibran.


"Dia mah sensi everyday! Lagi cuma jailin lu


aja ngamuknya kaya apa. Dasar mak tiri." Dengus Evan.


"Jangan gitu, coba kalau Mahda di posisi Fresa


pasti dia juga bakal melakukan hal yang sama. Udah ah gue mau meeting. Mending


lu temenin Fresa dari pada gabut." Ujar Gibran membuat Evan berdesis namun


ia tetap melangkahkan kakinya menuju lift.


Gibran meninggalkan kawasan hotel setelah meminta


dua bodyguard untuk menjaga Fresa. Setidaknya dia bisa tenang jika Fresa ada


yang jaga.


***


Evan sebenarnya tidak marah dengan Fresa, dia hanya


suka menjahili Fresa.  Hanya itu saja, tapi Mak lampir tersebut lagi dalam


kondisi lapar--eh salah, baper maksudnya! jadi dia juga ke bawa baper deh.


Evan tidak melihat keberadaan Fresa, dimana Mak


lampir? Apa dia tersesat? Atau dia di culik?! Tidak mungkin! Bisa-bisa dirinya


di gorok oleh Gibran.


Evan mulai berkeliling mencari keberadaan Fresa


sampai dia bertemu dengan sosok yang di carinya. Sosok tersebut tengah asik


berbincang-bincang dengan what the hell! Problem!


Evan langsung berlari mendekati mereka sampai, Evan


mendengar...


"Gibran itu di jodohkan sama gue."


"Yeh gila, kebanyakan minum Baygon si lu jadi


gesrek. Udahlah kalau mau nguntit gue lu gak berhasil, siapapun dalang semuanya


gue yakin lu dan mantan lu itu ikut andil. Udah sana pergi gue muak."


Balas Fresa.


"Kita lihat seberapa kuat Gibran menahan


godaan seseorang." Tantang Cheryl.


"Sekalipun Gua tergoda gue hanya tergoda


dengan tunangan gue. Jadi niat busuk lu gagal!" Kata Gibran yang datang


dari sisi lain.


"Kok lu bisa?" Tanya Evan bingung.


"Mudah, dia menyuruh pegawai hotel mendekati


Fresa, dan membawanya ke sini. Gue pergi? Ya. Tapi beberapa menit kemudian gue


kembali, karena tangan kanan gue sudah mengatasinya. Jadi, sayang sekali nona


Cheryl rencana anda gagal" ledek Gibran.


"Ouh ya? Siapa bilang! Kalau gini, gue yang


menang!" Kata Cheryl yang kini berdiri di belakang Fresa dengan pisau yang


diarahkan ke lehernya. Cihhhh..


"Lu terlalu depresi di tolak Alex ? Atau emang


niat awal lu untuk Menghancurkan kebahagiaan orang lain?" Tanya Fresa


dingin.


"Dua-duanya. Gue pengen semua cowok tunduk


sama gue termasuk FEGA. Bahkan setelah Alex dan kawan-kawannya gue berencana


buat mendekati FEGA. Tapi sialannya, Galmoners masuk ke dalam FEGA membuat gue


sulit ambil celah. Dan itulah kenapa gue benci sama lu dan Mahda! Karena kalian


tipe masa bodo tapi di cintai bayak cowok dan gue benci itu!" Jelas


Cheryl.


"Benci hanya karena masalah kecil kaya gitu?! ****!


Asal lu tahunya, gue dan Mahda gak melakukan apapun ke mereka, dan kalau


motivasi hidup lu hanya untuk kaya gini mending ubah deh sebelum lu menyesal.


Karena bisa jadi ada seseorang yang menunggu lu berubah tapi lu gak pernah


sadar akan hal tersebut. Kenapa? Karena kita terlalu mengejar apa yang


seharusnya tidak jadi milik kita. Itulah kenapa banyak orang berpikir sempit


macem lu!" Jawab Fresa menejelaskan apa yang ada di kepala kecilnya.


"Lu gak tahu apapun jadi jangan sok


tahu!" Bentak Cheryl.


"Gue emang gak tahu apapun tentang hidup lu.


Tapi lu harus tahu, hidup lu yang kaya gini tuh menjijikan. Lebih baik lu


kembali ke tempat asal lu sebelum menyesal di kemudian hari." Balas Fresa.


"Gak usah guruin gue! Gue cuma kasih tahu


kalian permainan ini belum selesai. Karena mulai detik ini gue akan


terang-terangan melakukan kejahatan gue. So,wait and see!" Ucap Cheryl.


"So, wait and see? Cihh.. Medusa


menyebalkan!" Umpat Evan.


Gibran tersenyum tipis akan tingkah laku Evan. Dan


selama tiga hari, ketiga remaja tersebut berlibur ke tempat-tempat yang indah


dan menarik di Singapore. Bahkan Fresa melupakan jika dirinya tengah berperang


dengan Evan Laksono. Tiga hari berlalu begitu cepat sampai akhirnya mereka


harus kembali ke sekolah.


❤️❤️❤️