
Operasi!
Aku takut perasaan nyaman ini membuat ku tidak bisa
melepaskan kamu...
Aku takut perasaan ini membuat aku tertahan di
suatu dimensi lain...
Aku takut perasaan ini membuatku sulit mengucapkan
kata perpisahan...
Lalu aku harus apa?
***
Dia sebuah ruangan serba putih. Terdengar suara
canda tawa yang mengalun dengan indah.
Fresa dan Gibran tengah asik menikmati waktu berdua
mereka. Bahkan, Gibran sangat takut dengan perubahan Fresa kali ini. Dia takut
ini adalah terakhir kalinya dia melihat Fresa.
"Ca, Jangan kaya gini. Gue takut." Kata
Gibran jujur.
"Takut kenapa? Seorang Gibran yang terkenal
absurd tiba-tiba takut pada hal yang tidak jelas? Waw!" Ledek Fresa.
"Bukan gitu kambing!" Balas Gibran.
"Terus apa dong?" Tanya Fresa dengan nada
polosnya.
"Gak usah sok polos, udah ah. Pokoknya gue kesel
sama lu. Pertama, jangan kaya gini gue ngerasa aneh. Kaya bukan Fresa banget.
Kedua, omongan kita barusan kaya lu mau pergi ke mana gitu. Terakhir, gue belum
siap lu tinggal pergi. Gue gak tahu apa jadinya jika gak ada lu." Ucap
Gibran lirih.
Fresa mengambil tangan Gibran dan mulai menggenggam
tangannya dengan erat.
"Bran janji ya, jika terjadi hal buruk sama
gue. Lu harus move on. Cari wanita lain yang bisa lu jadikan teman hidup. Gue
yakin tampang ganteng lu berguna kok. Ah! Satu lagi. Jangan pernah berubah. Ada
atau gak adanya gue jangan pernah berubah." Kata Fresa.
"Ca, tahu gak? Kenapa gue suka sama lu? Karena
lu berbeda. Lu buat gue ngerasa nyaman. Bahkan saat kita berdua kaya gini, gue
merasa lu itu udah separuh hidup gue. Gue gak tahu kenapa. Hati gue selalu
maunya sama lu." Balas Gibran.
"Bukan gak mau Bran. Tapi belum. Lu belum aja
nemu sosok lain di kehidupan lu. Gue yakin cewek itu akan lebih baik dari
gue." Tutur Fresa.
"Gak! Gue maunya sama lu! Janji sama gue kalau
lu bakal kembali. Janji sama gue kalau lu bakal ada di sisi gue. Janji sama gue
kalau kita bakal tua bareng! Janji Ca!" Teriak Gibran frustasi.
"Gue janji. Jika gue gak bisa nepati janji
gue, tolong lupakan gue. Lupakan semua tentang gue. Dan hiduplah dengan baik di
sini." Balas Fresa sambil menahan laju air mata yang ingin mengalir.
"Nona Fresa, sudah waktunya." Ucapan
suster membuat Fresa merasakan kematiannya semakin dekat.
"Janji Ca, gue mohon." Pinta Gibran tanpa
sadar air mata sudah turun melalui media bola matanya.
"Insyaallah. Doakan gue ya."
Lepas berbicara dengan Gibran, Fresa di pindahkan
ke ruang operasi. Pagi itu, Gibran tidak bisa berpikir jernih. Bahkan yang ia
lakukan saat ini hanya duduk sambil berdoa berharap sang pencipta mengabulkan
permohonannya.
Tiga puluh menit Fresa di dalam, barulah keluarga
besar Fresa dan sahabat-sahabatnya datang. Gibran yakin mereka semua rela
meninggalkan hal penting bagi kehidupan mereka demi menemani Fresa.
"Gue yakin Fresa kembali bro, jadi jangan
manyun gitu enek gue liatnya." Ledek Evan.
"Kambing!" Balas Gibran saat Evan
memeluknya.
"Alah, kangen bilang aja. Kita gak ketemu bro
selama... Ah! 2 jam." Ucap Evan membuat Fano menjitak kepalanya.
"Kenapa si No? Lu iri sama gue?" Tanya
Evan yang di balas dengan dengusan.
Fanisa melihat tingkah laku Evan merasa terhibur,
tapi sesuatu lain yang ia rasakan membuat dirinya tidak tenang. Contohnya,
pembicara Fano dan Gibran beberapa hari yang lalu. Walaupun ia tidak tahu siapa
orang yang di maksud, tapi Fanisa yakin orang itu berhubungan dengan seseorang
yang ia kenal. Tapi, Fanisa tidak bisa bertanya. Dia takut jika jawaban mereka
membuat Fanisa sakit.
"Kenapa Fan?" Tanya Kiki
"Gak. Gue ke toilet dulu." Balas Fanisa.
Langkah kaki Fanisa mulai menyusuri lorong rumah
sakit, namun langkahnya terhenti saat mendengar nama sahabatnya di sebut.
"Tenang saja, operasi gak bakal buat dia
hidup. Bahkan dokter hanya bisa memberikan 1% persentase kehidupannya. Jadi lu
gak usah takut. Rencana kali ini akan berjalan dengan lancar. Soal Firhan yang di
tahan itu urusan nanti, siapa suruh masuk di saat gue selesai membunuh Fresa.
Jadi biarkan saja dia di penjara."
Bisakah Fanisa marah saat ini? Jadi Firhan
dipenjara? Dan itu semua ulah--astaga! Fanisa harus membuka kedok cowok sialan
itu!
Prok... Prok... Prok...
"Ternyata anda yang menjebak tunjangan
saya!" Kata wanita cantik, membuat Fanisa menahan langkahnya dan kembali
bersembunyi.
"Kenapa? Mau marah? Bukannya tunangan lu itu
masih cinta sama mantannya dan sialnya lagi mantannya juga masih cinta sama
dia. Paling ni ya, kalau mereka kembali dekat lu akan di buang!"
"Ouh ya? Terus gue peduli? Gak! Gue emang
cinta sama Firhan. Bukan berarti cinta gue akan menyakiti Firhan ataupun
mantannya. Jika pun Firhan bukan milik gue kenapa? Itu tandanya takdir tuhan
tidak berpihak pada gue."
Fanisa tertohok. Ia merasa menjadi wanita jahat
saat ini. Ia tidak menyangka di balik semua perhatian Firhan beberapa hari ini,
ada sosok yang menahan sakit? Astaga Fanisa sudah berubah menjadi jahat.
Seandainya Fanisa tahu semuanya dari awal dia akan menjauhi Firhan. Apalagi
mereka sudah bertunangan.
"Lu terlalu baik, lu gak tahu Fanisa sama
Firhan pernah pelukan di sini." Pancing cowok tersebut.
"Gue tahu, dan gue liat. Bahkan cowok yang
mencintai Fanisa itu juga melihat adegan itu. Apa dia marah? Gak. Karena kita
tahu, mereka masih tersesat dengan perasaan mereka sendiri. Mereka tidak sadar
jika perasaan baru muncul di hati mereka. Udahlah jangan bahas masalah ini. Gue
mau lu lepasin Firhan atau gue bongkar semuanya!" Ancam cewek tersebut.
Fanisa yakin cowok yang dimaksud ialah Fano. Pantas
saja saat mereka bertatap wajah Fano menghindar. Dasar bodoh! Tapi apakah benar
yang cewek itu ucapkan? Jika dirinya sudah jatuh pada Fano?
"Lu ngancam gue?! Gue gak takut! Gue yakin gak
ada satupun orang yang akan percaya sama lu!" Bentak cowok tersebut.
"Sayangnya ada ini" balas cewek tersebut
sambil menunjukkan sebuah rekaman. Membuat cowok tersebut langsung mencekik
lehernya.
"Tolong!!! Ada orang gila!!!" Teriak
Fanisa dari tempat persembunyiannya. Membuat cowok tersebut langsung
meninggalkan tempat itu.
Uhukkk... Uhuk....
"Lu gak apa?" Tanya Fanisa.
"Hemm.. thanks." Balasnya.
"Gue--"
"Fanisa. Gue tahu kok. Gua Fani."
Balasnya. Membuat Fanisa kaget.
"Ah? Senang bertemu dengan anda." Kata
Fanisa.
"Gue-lu aja. Kita cuma beda setahun."
Balas Fani.
Fanisa tidak menyangka jika Firhan mendapatkan
perempuan yang lebih darinya. Dan sayangnya Firhan bodoh melihat semuanya.
"Okey. Gue duluan ya mau ke kamar mandi."
Balas Fanisa.
"Hem. Gue mau ke kantor polisi. Terima kasih
sudah bantu gue."
"Ah! Fani, gue udah gak cinta sama Firhan jadi
lu tenang saja. Pelukan kemarin hanya pelukan perpisahan dan gue yakin Firhan
juga cinta sama lu. so, semangat!" Teriak Fanisa membuat Fani tersenyum.
Keduanya berpisah tempat. Dan keduanya berharap di
pertemukan di waktu yang lebih baik.
***
Kini, Fanisa dan yang lain tengah menunggu hasil
akhir dari operasi ini. Ayahnya Fresa yang jadi penyumbang sum-sum tulang
belakang, sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan Fresa? Belum ada
tanda-tanda jelas jika wanita itu mau bangun. Terlihat dari kaca jika wanita
cantik itu masih menutup matanya.
Hal tersebut membuat Gibran dan Fanisa langsung
panik. Mereka takut jika hal buruk terjadi pada Fresa.
Namun...
Mata Fresa mulai terbuka, dokter mulai menanyakan
apapun pada Fresa. Membuat Fanisa dan Gibran langsung memeluk sahabat mereka.
Fresa yang berada di dalam ruangan tersebut hanya
bisa menjawab dokter dengan sekenanya. Sekarang, Fresa memenuhi janjinya pada
seseorang. Fresa tidak perlu khawatir lagi. Mungkin tuhan ingin memberikan
kesempatan padanya.
"Kami akan memantau kamu selama beberapa
minggu. Jika operasi ini berhasil, kamu akan keluar dari rumah sakit ini."
Kata dokter.
"Terima kasih."
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Fresa
langsung dia bawa keluar dari ruang operasi. Tangisan kebahagiaan mulai Fresa
lihat dari sahabat-sahabatnya.
"Ahhhhh fresaaaaaa... Akhirnya." Kata
Mahda
"Fresa kita kembali!" Ucap Kiki.
"Gue tahu, lu bukan orang yang ingkar
janji." Tutur Fanisa.
Ketiga orang tersebut memeluk tubuh Fresa. Membuat
Fresa tanpa sadar menangis. Ia tidak tahu kenapa saat ini ia ingin menangis.
Bahkan rasanya sangat tidak percaya jika ia bisa kembali lagi ke sini. Rasanya mustahil
di saat dirinya di ambang kematian.
"Terima kasih gengs!" Ucap Fresa.
Hari itu, adalah awal dari perjalanan mereka
sesungguhnya. Di hari itu, mereka semua mendapatkan kabar jika Bian di tangkap
polisi. Bukan hanya itu saja, kedatangan Firhan bersama dengan tunangannya
membuat Fanisa dan yang lain tersenyum. Fresa sadar, jika sahabatnya yang satu
itu sudah ikhlas melepaskan Firhan seperti halnya dengan Kiki.
Fresa berharap, sahabatnya menemukan kekasih hati
mereka masing-masing.
"I love you Fresa..." Bisik Gibran di
tengah keramaian ruang perawatan Fresa.
"Hmm..." Balas Fresa.
"Sosor terus ya Bran! Lupa kalau ada jomblo di
sini!" Ujar Evan saat melihat Gibran mengecup dahi Fresa.
"Iri aja dah lo. Tuh Mahda ada atau lu mau si
Fanisa juga boleh. Kalau Kiki jangan, dia udah taken!" Kata Gibran membuat
seseorang berteriak.
"What?! Lu jadian sama siapa Ki?! Kok gak
bilang-bilang?!" Kata Mahda.
"Pengen surprise aja si nanti. Intinya, gue
sama Arkan jadian dan baru dua hari." Balas Kiki kikuk.
"Hem.. hem... PJ bisa kali." Ledek
Fresa.
"Peja peje! Harusnya lu! Tunangan kapan tahu
tapi gak pernah traktiran!" Omel Kiki.
"Setuju Ki! Keluar dari rumah sakit
makan-makan." Balas Evan.
Canda tawa memenuhi ruangan tersebut. Bahkan Fresa
sendiri terhibur dengan kedatangan mereka semua. Fresa mengucapkan terimakasih
kepada papanya. Karena pahlawannya itu sudah berjuang untuk kesembuhannya.
Fredrick tersenyum tipis saat melihat gerakan bibir
anaknya. Karena diapun sangat bahagia melihat Fresa saat ini. Dan ia harap
Fresa akan selalu bahagia.
Lagi-lagi, dibalik kebahagiaan mereka. Ada sosok
lain yang menatap penuh kebencian. Ia harap permainan selanjutnya lebih
menyenangkan, karena Fresa sudah kembali.
"Lihat saja, gue akan buat sahabat kalian mati
saat itu juga." Kata sosok tersebut dan menghilang bersamaan dengan
keramaian rumah sakit.
❤️❤️❤️
Flashback!
Hari dimana Fresa kritis.....
Saat itu Fanisa melepaskan pelukannya dengan
Firhan.
"Maaf, gue udah gak ada perasaan lagi sama lu.
Jadi gue harap lu bisa buka hati lu buat cewek lu." Kata Fanisa.
"Tapi Fan..."
"Firhan. Dengerin gue ya. Lu udah punya cewek
lain. Coba deh mikir, jika gue jadi cewek lu? Pasti sakit. Anggap aja pelukan
ini sebagai perpisahan. Kalau boleh jujur, gue emang ngerasain perasaan itu
tapi gue gak tahu perasaan ini apa." Ucap Fanisa.
"Itu cinta Fan, udah gue duga pasti lu masih
sayang sama gue kan? Udahlah gak usah ngelak. Gimana kalau kita balikan?"
Pertanyaan Firhan membuat Fanisa terdiam.
"Maaf.. gue emang mau banget balikan sama lu,
tapi--"
"Udahlah Fan, jangan pikirin yang lain.
Intinya kita balikan!" Kata Firhan bahagia.
"Gak! Gue gak mau. Gue gak tahu perasaan ini
apa, tapi gue gak mau egois sama perasaan ini. Karena gue yakin lu juga gak
tahu sama perasaan lu sebenarnya gimana. Bisa jadi perasaan ini hanya sesaat.
Jadi, gue putuskan untuk bilang gak. Sorry Firhan." Balas Fanisa dan pergi
meninggalkan ruang perawatan Fresa.
Di saat Firhan galau dan pergi dari sana. Seseorang
memanfaatkan keadaan. Dengan menggunakan topeng wajah yang mirip dengan Firhan
dia memasuki ruang perawatan Fresa.
"Jika gue gak bisa miliki lu, maka Gibran juga
tidak bisa!" Lepas mengucapkan kata tersebut, cowok itu langsung
melepaskan alat bantuan nafas di tubuh Fresa, membuat tubuh yang tergeletak di
sana kejang-kejang. Cowok tersebut tersenyum tipis dan pergi meninggalkan Fresa.
Dokter yang mendapatkan kabar Fresa kritis langsung
berlari ke ruangan Fresa. Begitupun dengan yang lainnya. Mereka semua langsung
berlari dari arah kantin. Sedangkan Mahda dan Kiki datang bersama dengan cowok
yang dekat dengan mereka.
Semua menunggu dengan cemas. Isak tangis mulai
terdengar di sana. Bahkan tingkah laku Gibran membuat Fanisa tertarik, bahkan
sampai mengikuti Gibran dan Fano.
Di saat keduanya memasuki ruang cctv. Saat itu juga
Fanisa langsung bersembunyi. Berharap jika dia tahu satu hal. Namun, semua
gagal. Kenapa? Karena Gibran menggunakan kata pengganti saat berbicara dengan
Fano, membuat Fanisa kesal sendiri. Melihat usahanya sia-sia Fanisa kembali ke
tempatnya dan di sanalah dia melihat Fresa kembali. Rasa haru mulai merasuki
dirinya. Fanisa bahagia Fresa kembali.
Namun, semua berubah saat Fresa berkata Operasi.
Seketika pikiran buruk mulai merasuki Fanisa.
"Fresa baik." Ucap Fano membuat Fanisa
menatap cowok di sampingnya bingung.
"Maksudnya, dia akan baik-baik saja."
Jelas Fano membuat Fanisa menganggukkan kepalanya.
Setelah merasa Fresa kembali, mereka semua
memutuskan untuk pulang. Meninggalkan Gibran dan keluarga Fresa disana.
***
Dua hari sebelum Fresa operasi...
Galmoners minus Fresa tengah berkumpul di kantin.
Seperti biasa, mereka akan bergosip apapun. Entah itu tentang mantan mereka,
Fresa atau tentang hal yang berhubungan dengan dunia artis.
"Mahda gue mau kita balikan!" Bentakan
Alex membuat orang-orang di kantin menatap mereka penuh perhatian.
"Sayangnya gue gak mau! Emang gue **** apa?!
Lu tuh gak suka kan sama gue? Tapi lu cuma pura-pura suka. Dan Cheryl yang lu
kata adek juga bukan adek lu kan? Jadi kenapa? Kenapa lu susah payah
mohon-mohon di sini? Apa Cheryl yang nyuruh lu atau orang lain yang nyuruh
lu?" Balas Mahda.
"Gak ada yang nyuruh gue. Kali ini gue serius
Mahda. Gue benar-benar menyesal." Kata Alex memohon.
"Simpan saja rasa penyesalan lu. Karena gue
gak butuh!" Balas Mahda sambil berlari keluar kantin.
Tanpa mereka semua sadari seringai tipis muncul di
salah satu wajah orang-orang yang ada di kantin. Entah kenapa dia merasa punya
ide akan hal ini.
Mahda duduk di bangku taman, dia menangis di sana.
Mahda lelah jika harus kembali ke masa lalunya. Dia lelah jika harus mencintai
sendiri. Akankah ia terus seperti ini?
"Nangis lah. Gue bakal tutupin lu. Jadi
luapkan semuanya." Kata Evan yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Mendengar tawaran tersebut Manda langsung menangis
sejadi-jadinya. Dia meluapkan semua yang ia rasakan. Rasa sakit, kekecewaan dan
kebenciannya. Semua ia luapkan. Bahkan Mahda tidak sadar jika sekarang dia
menangis di pelukan Evan. Pelukan seorang cowok yang selalu menunggu Mahda
sadar. Cowok yang rela sakit demi Mahda. Namun, Mahda hanya menganggap Evan
hanyalah candaan.
"Sakit Van... Kenapa dia harus bohong. Apa
rencana dia Van?! Apa dia gak cukup menyakiti gue saja?!" Kata Mahda
histeris.
"Mungkin dia lelah." Balas Evan sambil
mengusap punggung Mahda. Berharap jika pujaan hatinya segera tenang.
"Gue harus move on! Pokoknya gue gak mau ada
Alex-Alex lagi!" Kata Mahda antusias.
"Jangan melupakan, karena akan sulit. Tapi
dibawa santai aja. Karena move on itu bukan tentang melupakan tapi tentang
bagaimana kita mengikhlaskan." Jelas Evan.
"Makasih Van." Jawab Mahda.
Kini Mahda sudah yakin, dia akan benar-benar
mengikhlaskan Alex. Karena Mahda yakin, jika ia akan menemukan pengganti sosok
Alex. Ia harap, saat menemukan sosok itu. Dia tidak lagi jatuh. Ia Mahda
berharap itu.
Kiki dan Fanisa tersenyum melihat Mahda dan Evan.
Bahkan keduanya berterima kasih karena Evan ada di saat Mahda seperti sekarang.
Baru saja mereka mau meninggalkan taman, Kiki di tarik oleh Arkan membuat
Fanisa bingung.
"Pinjam Sahabat lu!" Kata Arkan melalui
gerakan bibirnya.
"Sip!" Balas Fanisa dengan acungan
jempol.
Arkan mengajak Kiki keluar dari wilayah sekolah
mereka. Ada yang Arkan siapkan untuk hari ini.
"Mau kemana Ar?" Tanya Kiki saat mereka
keluar dari pelataran sekolah.
"Ada deh. Hari ini kita bolos." Balas
Arkan.
"Tapikan Tas--?" Tanya Kiki terpotong
oleh ucapan Arkan.
"Aman, sudah gue minta Fano bawain. Jadi
setelah urusan selesai kita ke basecamp FEGA."
Kiki diam saja dirinya kau di bawa kemana. Toh,
Arkan bukan tipe cowok nakal jadi dia tidak perlu takut akan suatu hal.
Selama di perjalanan, Arkan menatap Kiki dengan
senyuman tipisnya. Hari ini adalah hari yang tepat untuk ia mengungkapkan
semuanya. Intinya, Arkan tidak mau keduluan orang lain.
Kiki dan Arkan memasuki kawasan Dago Pakar, Arkan
sengaja membooking cafe di sana karena nuansanya sangat pas untuk mengungkapkan
sesuatu.
Kiki bingung dengan suasana Cafe yang sepi. Bahkan
Kiki kira Cafe ini baru buka. Namun, dugaannya salah.
Saat ia memasuki Cafe tersebut, semua foto candid
dirinya terpampang jelas. Di mulai foto ia bayi, sampai foto ia dewasa.
Bukan hanya itu saja. Empat sosok orang dewasa yang
sudah berumur juga menambah kebingungan Kiki. Ia tidak tahu ada apa dengan
semua ini. Bahkan ia tidak tahu kenapa keluarganya ada di sini. Sampai...
Suara alunan melodi piano mulai terdengar begitu
indah. Marry Your Daughter mengalun begitu pas. Bahkan Kiki sekarang sadar jika
Arkan sedang menjalankan perannya.
"Untuk gadis cantik di sana. Mungkin usia gue
masih muda untuk menikah. Tapi, di hadapan kalian semua gue mau mengungkapkan
semuanya. Gue suka sama lu Ki. Lu tahu kapan? Sejak gue lihat foto lu bersama
dengan Fresa. Saat itu gue langsung mikir, ku harus punya gue. Sampai takdir
mempertemukan kita. Lu pasti gak sadar, gue orang yang menyelamatkan lu yang
hampir ke tabrak mobil di saat lu ingin menyelamatkan kucing. Lu tahu apa yang
gue pikirkan saat itu? Tuh cewek **** banget, tapi dari sana gue sadar. Lu
punya perasaan lembut dan hal itulah membuat gue semakin jatuh cinta sama lu.
Kayanya kelamaan pidato gue, jadi langsung saja. Di hadapan kedua orang tua lu.
Gue, Arkan Hutama. Siap menjadi imam untuk gadis cantik bernama Kiki Rahardja.
So, Will You Mar----"
Ucapan gantung Arkan membuat jantung Kiki berdetak
kencang, ia takut jika Arkan serius menikahi dirinya saat ini. Kiki bukannya
tidak suka dengan Arkan tapi Kiki belum siap untuk jenjang pernikahan. Masih
banyak hal yang ingin ia capai.
"So, will You Be My Girlfriend?" Lanjut
Arkan membuat Kiki spontan mengangguk.
Arkan yang ada di atas panggung langsung berlari
mendekati Kiki dan memeluknya.
"Sekarang kita pacaran, Soon kita akan jadi
tunangan." Bisik Arkan membuat Kiki mendengus.
"Serah lu dah." Balas Kiki sekenanya.
Raut wajah bahagia Kiki lihat dari empat orang
dewasa di depannya.
"Bagaimana setelah pembagian rapor, mereka
bertunangan?" Tanya Areta, Ibunda Arkan.
Kini, mereka tengah makan bersama setelah acara
Arkan tadi.
"Boleh, saya setuju. Toh Arkan juga bisa jaga
Dua ibu langsung menatap Arkan dan Kiki serius,
membuat mereka langsung mengucapkan apa yang ada di pikiran mereka.
"Saya setuju." Ucap Arkan dan Kiki
bersamaan.
Keduanya saling pandang namun setelahnya mereka
saling melempar senyum. Membuat orang tua langsung melepaskan jurus ledekan
mereka.
Kiki bahagia jika akhirnya hari ini tiba. Bahkan
Kiki sangat berterima kasih dengan takdirnya saat ini. Biarkan hari ini dia
memulai semuanya. Memulai hal baru bersama dengan orang baru.
❤️❤️❤️
Happy!
***
Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya. Kini,
Fresa tengah berbaring di tempat tidur sambil menyaksikan sebuah berita yang
tengah hits saat ini.
"Bian anak pengusaha ternama Indonesia di
tangkap polisi di kediamannya. Seorang wanita cantik melaporkan kejahatan Bian
dengan rekaman suara yang wanita itu lakukan dengan pelaku. Begitu mengejutkan
memang, saat tahu kelakuan asli seorang Bian. Hanya karena sakit hati dia rela
mengikhlaskan cita-citanya demi terdiam di balik jeruji besi. Pihak keluarga
Bian sudah mendatangi korban. Bahkan mereka meminta masalah ini di bicarakan
secara kekeluargaan. Namun sayang, pihak korban menolak. Karena apa yang Bian
lakukan sangat pantas untuk masuk ke dalam jeruji besi. Bukan hanya percobaan
pembunuhan, tapi Bian juga di tangkap karena memfitnah seseorang. Kita doakan
saja semoga Bian berubah setelah ini."
Fresa mematikan televisi. Ia sangat bosan jika
semua berita isinya tentang Bian. Bahkan keluarganya juga ikut di bawa-bawa.
Menyebalkan!
"Pagi cantik, kok udah cemberut aja?"
Tanya Fresca yang datang sambil membawa kotak putih. Sudah Fresa pastikan
mamanya membawa sebuah bubur. Ckckck...
"Nope. Kapan aku keluar?" Tanya Fresa.
"Jika kamu sudah benar-benar pulih hari ini
keluar. Kenapa? Kangen sama Gibran?" Sindir Fresca.
"Cihhhh.. Siapa juga yang kangen sama dia! Gak
lah." Balas Fresa ketus.
"Kamu masih aja gedein gengsi, giliran mau
died aja berani jujur-jujuran. Anak muda Jaman Now gitu ya, gengsi di
gedein." Ujar Fresca membuat Fresa mendengus kesal.
"Mama sok kekinian deh. Ouh ya makhluk es
kapan nikah? Emang kak Felly gak ada niatan batalin pernikahannya?" Tanya
Fresa.
"Gak lah! Secara Felly cinta mati sama kakak,
gimana mau batalin." Balas Faza.
"Gak usah sok! Aku yakin kak Felly itu terpaksa
sama kakak. Orang waktu itu aku gak sengaja lihat kak Felly jalan sama cowok
lain." Tutur Fresa membuat Faza langsung keluar dari kamarnya.
"Mama gak ikut campur, kalau
kenapa-kenapa." Balas Fresca membuat Fresa panik sendiri.
Fresa mulai mengambil alat infusnya untuk ia pegang
dan mengejar kakaknya, namun seseorang menahannya membuat Fresa mengumpat
kasar.
"Mau kemana?" Tanya Gibran dingin.
"Kepo!" Balas Fresa sengit.
Gibran menghela nafas, ia membantu Fresa membawa
infusannya namun detik berikutnya, Fresa juga sudah berpindah tempat ke dalam
gendongan Gibran.
"So, mau kemana? Mumpung gue baik gue ajak lu
jalan-jalan." Kata Gibran membuat Fresa mendengus.
"Cari kak Faza dan kak Felly sekarang!"
Balas Fresa.
"Cari mereka? Ngapain! Mending di sini."
"Udah turuti Fresa Bran sebelum perang dunia
terjadi." Kata Fresca membuat Gibran bingung. Walaupun masih bingung
dengan situasi ini, Gibran tetap membawa Fresa berkeliling rumah sakit mencari
keberadaan dua tikus tersebut. Sampai...
"Siapa cowok yang ajak kamu jalan?"
"Cowok siapa?! Aku tuh jalan sama cowok kalau
gak kamu ya papa kamu! Kamu aneh deh."
"Jangan bohong! Fresa sendiri yang
lihat."
"Bodoh! Fresa aja belum boleh keluar dari
rumah sakit dari mana dia tahu."
"Felly! Aku serius, siapa cowok yang jalan
sama kamu!" Bentak Faza membuat Felly terdiam.
"Kamu gak berubah, masih sama. Sebaiknya kita
pikirkan matang-matang pernikahan kita." Balas Felly lirih.
"Tidak!" Teriak Fresa membuat keduanya
menoleh.
"Gini kak, sebenarnya kak Felly gak jalan sama
siapa-siapa aku tuh bohong sama kakak." Jelas Fresa lirih. Dia takut
kakaknya memarahinya saat ini.
"Kamu--Astaga! Kamu mau buat pernikahan kakak
gagal?! Kamu tahukan Fresa kalau kakak tuh udah nunggu banget hari ini dan
kamu--Kakak kecewa!" Balas Faza meninggalkan tempat tersebut.
Fresa yang melihat kakaknya pergi, meminta Gibran
menurunkannya. Namun Gibran hanya diam saja.
"Ada kalanya sesuatu bisa di jadikan
bercandaan. Dan hal ini tidak bisa kamu jadikan bercandaan sayang. Biarkan Faza
memikirkan semuanya sendiri. Toh ada kak Felly. Kita kembali ke kamar ya."
Kata Gibran.
"Aku cuma mau bercanda aja. Salah ya?"
Tanya Fresa saat Gibran membawanya kembali ke kamar.
"Gak salah, cuma tidak tepat." Balas
Gibran sambil mengecup dahi Fresa. Dua hari tidak melihat Fresa dia sudah
serindu ini, bagaimana nanti.
"Ada yang kamu pikirkan ya?" Tanya Fresa.
"Hem. Aku mau ke Singapura untuk urusan
bisnis. Mau ikut gak?" Tanya Gibran.
"Gak ah, aku mau sekolah aja." Balas
Fresa.
"Sayangnya kamu harus ikut aku." Ucap
Gibran membuat Fresa mendengus.
"Ngapain ngajak sialan!"
"Hus. Gak boleh mengumpat dengan calon
suami." Nasihat Gibran.
"Sok tua!" Balas Fresa membuat Gibran
terbahak.
Gibran menurunkan Fresa di kasurnya, sedangkan ia
mulai duduk di sofa yang sudah di sediakan. Hari ini Gibran mengantuk. Jadi
biarkan dia beristirahat saat ini.
"Kamu tuh peka kenapa si Ca. Calon suami kamu
itu baru sampai dari urusan bisnis malah kamu susahin. Bisa aja emang
modusnya." Sindir Fresca.
"Mana aku tahu." Balas Fresa langsung
menikmati sarapannya.
***
Di tempat lain, FEGA dan Galmoners sudah siap untuk
mengunjungi Fresa. Mereka sudah memutuskan siang ini akan membolos sekolah.
Bahkan ketua OSIS saja ikut andil dalam bolos ini, jadi tidak masalah.
"Please jangan pacaran! Masih ada jomblo di
sini." Kata Evan saat melihat kedekatan Kiki dan Arkan.
"Gak usah di lihat Van. Ouh ya, gue bersyukur
akhirnya Bian mendapatkan balasannya. Gue harap setelah ini tidak ada lagi
masalah." Kata Fanisa.
"Sepertinya hal itu tidak terjadi deg Fan,
liat siapa yang datang." Kata Kiki saat melihat geng Cherry memasuki area
parkir.
"Haiii Arkan." Kata salah satu antek
Cherry.
"Ciee di cuekin, mang enak!" Balas Mahda
ketus.
"Aduh makin panas aja. Mending langsung aja
cabut, sebelum tangan gue gatel ngacak-ngacak." Kata Fanisa.
"Belagu banget lu! Asal lu tahu ya Fan, Fano
tuh gak suka sama lu. Dia itu sudah bertunangan sama gue. Bukan begitu
Fano?" Tanya Cika.
"Gak." Balas Fano membuat Cika menggeram
kesal.
Fano sendiri tidak pernah di jodohkan siapapun,
jadi kenapa cewek gak jelas ini berani berbicara seperti itu? Membuat mood Fano
rusak saat ini.
"Malu dah gue kalau jadi lu. Udah lah mending
lu pergi dari sini sebelum tangan gue bersarang di wajah kalian." Balas
Fanisa sinis.
"Jangan sombong! Gue bakal buat kalian
menderita kembali. Camkan itu!"
"Jangan sombong! Gue bakal buat kalian
menderita kembali. Camkan itu! Cihhh... Dia pikir semua bakal berjalan sesuai
kemauannya? Tentu saja tidak! Gue bakal buat dia yang menderita." Kata
Mahda dengan wajah dinginnya.
"Caranya?" Tanya Fanisa.
"Nanti juga tahu." Balas Mahda misterius.
Tidak mau ambil pusing, mereka memutuskan untuk
meninggalkan pelataran sekolah. Toh mereka percaya Mahda pasti sudah menyusun
semuanya secara matang.
***
Hari menjelang siang, Fresa bosan hanya duduk
sambil menyaksikan televisi. Ibunya sudah pergi keluar membeli makanan, karena
tahu sahabat-sahabatnya akan datang hari ini.
"Siang Fresa, kita periksa dulu ya."
Tanya dokter wanita yang sudah tua.
"Ya bu." Balas Fresa.
Tepat saat Fresa selesai melakukan pemeriksaan,
sahabat-sahabatnya datang bersama dengan Fresca dan Gisca.
"Hello Ev--" ucapan Evan terhenti saat
Fresa melempar bantal ke arahnya.
"Jangan berisik!" Ucap Fresa sambil
menunjuk ke arah Gibran. Evan yang melihat sahabatnya tertidur pulas langsung
memiliki ide jahil.
"Pinjam lipstik!" Kata Evan.
"Lipstik kita mahal!" Balas Galmoners.
"Alah lipstik gocengan aja belagu." Balas
Evan sinis.
"Yeh songong! Lipstick kita mahal! Enak aja
gocengan!" Ucap Mahda ketus.
"Udah-udah. Nih pakai punya Tante." Balas
Gisca membuat Fresa spontan teriak.
"Mami!"
"Sekali-kali jahili Gibran gak
apakan?"tanya Gisca membuat Fresa menghembuskan nafasnya lelah.
Fresa tidak ikut campur jika Gibran marah nanti.
Lebih baik dia makan siang saja.
"Bran!!! Si Fresa minta beliin es krim."
Teriak Evan membuat Gibran langsung bangun.
"Kamu mau apa Ca?" Tanya Gibran.
"Gak, aku udah kenyang." Balas Fresa.
"Bohong! Tadi mami denger sendiri, kalau dia
mau es krim kesukaannya itu. Masa kamu gak tahu?" Tanya Gisca.
"Ouh itu, ya udah bentar. Kalian mau titip
apa?" Tanya Gibran ke yang lain.
"Seperti biasa aja Bran." Mendengar
jawaban Evan langsung membuat Gibran melangkahkan kaki ke luar. .
Gibran tidak tahu kenapa semua orang menertawai
dirinya. Mungkin saja karena kadar ketampanannya meningkat.
Dengan percaya diri, Gibran memasuki mini market.
Setelah puas mencari pesanan mereka. Dia langsung membayar belanjanya. Sampai
salah satu kasir memberikan sebuah kaca awalnya bingung, namun saat ia
menggunakan kaca tersebut...
"Evan Laksono!!!"
Evan yang mengikuti Gibran langsung kabur, di susul
dengan Gibran yang sudah selesai melakukan pembayaran.
"Jomblo sialan! Sini lu!" Kejar Gibran
membuat siapapun yang melihat terbahak akan tingkah mereka.
"Tolong! Saya di kejar banci!" Balas
Evan.
"Sialan! Kesini sekarang atau gue--"
"Gak takut! Kalau lu berani ancam gue Fresa
bakal gue rebut!" Ancam Evan.
"Jomblo sialan, lu benar-benar cari mati! Sini
lu!" Teriak Gibran.
Gibran terus mengejar Evan. Beruntung rumah sakit
sedang sepi. Jika tidak? Entahlah apa yang terjadi dengan keduanya.
"Tuhkan ke hibur juga." Ledek Gisca saat
melihat Fresa tertawa. Sedangkan yang di ledeki hanya bisa tersenyum malu-malu.
Akhirnya kebahagiaan yang Fresa rasakan datang
kembali. Ia tidak menyangka akan merasakan secepat ini, padahal baru kemarin
mereka bersedih sekarang--Fresa tidak menjelaskan semuanya dengan kata-kata.
Intinya Fresa sangat bahagia!
❤️❤️❤️
Singapura
***
Fresa dan Gibran tiba di tempat yang mereka tuju.
Gibran menggandeng tangan Fresa, seakan-akan takut jika gadis cantik di
sampingnya hilang kapan saja.
"Aku bukan anak kecil Bran. Stop memperlakukan
aku kaya anak kecil!" Ucap Fresa.
"Tidak bisa sayang, aku harus melakukannya.
Nanti kamu langsung istirahat. Karena aku langsung ke tempat meeting. Gak
apakan?" Tanya Gibran.
"Gak apa si." Balas Fresa malas.
Keduanya memasuki hotel yang akan mereka tempati
selama tiga hari ke depan. Baru saja mereka ingin meminta kunci seseorang menganggu
mereka.
"Welcome to Singapure! Untuk tuan dan nyonya
yang ingin berbulan madu kami menyiapkan paket hemat. Pertama anda akan di
kenakan biaya menginap 5 juta dengan fasilitas lengkap, dan--"
"Berisik!" Omel Gibran.
"Lu ngajak kutu kupret?" Tanya Fresa
membuat Gibran tersenyum miring. Melihat senyum tersebut membuat Fresa bergidik
ngeri, namun ia berucap kata "maaf" secara lirih. Berharap jika
Gibran tidak akan melakukan hal aneh padanya saat ini.
"Gak. Bahkan perjalanan ini khusus kita berdua
no more." Balas Gibran.
"Tapi dia kok bisa ada di sini?" Tanya
Fresa kembali.
"Karena gue ingin! Selama gue menjomblo gue
akan menganggu kalian semua yang taken!" Balas Evan dengan bangga.
"Ganggu orang bangga. Makanya cari
pacar!" Sindir Fresa.
"Dasar sombong! Mentang-mentang sudah tunangan
belagu. Gue sumpahin kalian gak bakal bahagia." Doa Evan.
"Doa buruk kebalikan." Celetuk Fresa.
"Yeh! Gak ada doa kebalikan! Guru ngaji lu
siapa si?! Apa perlu gue ajarin?" Balas Evan sinis.
Di saat keduanya berdebat, Gibran mengambil satu
buah kunci. Itu tandanya Gibran dan Fresa akan satu kamar. Gibran bersyukur
pengganggu itu datang, karena dirinya bisa menyabotase semuanya.hahaha...
"Yeh si gila, yang ada lu! Perlu di ruqyah. Ah
satu lagi, gimana Mahda mau jatuh cinta kalau lu sendiri takut memulai kembali.
Dasar pengecut." Umpat Fresa.
"Eh! Mak tiri! Lu gak tahu aja progres gue
sama Mahda. Kita tuh udah dekat bagaikan perangko jadi jangan sok dah lu!"
Balas Evan kesal.
"Siapa yang sok, kenyataannya gitu. Lu suka
sama Mahda tapi lu godain cewek lain. Gimana Mahda mau yakin kalau lu
serius!" Omel Fresa.
"Mak lampir benar-benar! Mahda gak perlu
penjelasan dari gue karena Mahda tahu hati gue emang udah jadi miliknya. Jadi
lu jangan bawel, mending lu urus calon suami lu itu! Kali aja dia bosan sama
lu." Celetuk Evan asal.
Fresa tidak tahu sejak kapan mereka mulai beradu
argumen. Tapi yang Fresa ingat, sejak kejadian Evan mempermalukan Gibran
dirinya jadi menandai Evan sebagai seseorang yang harus di hindari. Selain
menyebalkan dia juga bisa membuat naik darah. Seperti yang kalian liat saat
ini.
"Sialan! Kalau dia cari cewek lain gue juga
bisa cari cowok lain, bahkan yang lebih ganteng dari dia!" Balas Fresa
marah.
Gibran menghela nafasnya kasar. Gibran paling tidak
suka mendengar cowok lain di sebut Fresa. Bahkan jika Fresa bercerita tentang
Sahabatnya saja dia cemburu. Entah kenapa Gibran lebih suka Fresa bercerita
mengenai apapun kecuali cowok lain.
"Alah! Mana ada cowok yang bakal suka sama
cewek galak kaya lu! Cuma sahabat gue yang mau. Itupun karena dia udah lu
guna-guna!" Ucap Evan meledek.
Demi apapun, Evan sangat menyukai Fresa yang tengah
marah. Baginya Fresa adalah hiburan yang tidak bisa di lewatkan. Apalagi jika
keduanya sama-sama masuk perangkapnya. Itu membuat hari bahagia Evan
berkali-kali lipat.
"Gibran! Urus sahabat sialan lu itu gue mau ke
kamar, mana kuncinya!" Pinta Fresa. Membuat Gibran memberikan kuncinya.
Gibran juga meminta petugas hotel untuk membantu tunangannya.
"Lu jangan ganggu Fresa kenapa si. Udah tahu
dia lagi sensi sama lu." Kata Gibran.
"Dia mah sensi everyday! Lagi cuma jailin lu
aja ngamuknya kaya apa. Dasar mak tiri." Dengus Evan.
"Jangan gitu, coba kalau Mahda di posisi Fresa
pasti dia juga bakal melakukan hal yang sama. Udah ah gue mau meeting. Mending
lu temenin Fresa dari pada gabut." Ujar Gibran membuat Evan berdesis namun
ia tetap melangkahkan kakinya menuju lift.
Gibran meninggalkan kawasan hotel setelah meminta
dua bodyguard untuk menjaga Fresa. Setidaknya dia bisa tenang jika Fresa ada
yang jaga.
***
Evan sebenarnya tidak marah dengan Fresa, dia hanya
suka menjahili Fresa. Hanya itu saja, tapi Mak lampir tersebut lagi dalam
kondisi lapar--eh salah, baper maksudnya! jadi dia juga ke bawa baper deh.
Evan tidak melihat keberadaan Fresa, dimana Mak
lampir? Apa dia tersesat? Atau dia di culik?! Tidak mungkin! Bisa-bisa dirinya
di gorok oleh Gibran.
Evan mulai berkeliling mencari keberadaan Fresa
sampai dia bertemu dengan sosok yang di carinya. Sosok tersebut tengah asik
berbincang-bincang dengan what the hell! Problem!
Evan langsung berlari mendekati mereka sampai, Evan
mendengar...
"Gibran itu di jodohkan sama gue."
"Yeh gila, kebanyakan minum Baygon si lu jadi
gesrek. Udahlah kalau mau nguntit gue lu gak berhasil, siapapun dalang semuanya
gue yakin lu dan mantan lu itu ikut andil. Udah sana pergi gue muak."
Balas Fresa.
"Kita lihat seberapa kuat Gibran menahan
godaan seseorang." Tantang Cheryl.
"Sekalipun Gua tergoda gue hanya tergoda
dengan tunangan gue. Jadi niat busuk lu gagal!" Kata Gibran yang datang
dari sisi lain.
"Kok lu bisa?" Tanya Evan bingung.
"Mudah, dia menyuruh pegawai hotel mendekati
Fresa, dan membawanya ke sini. Gue pergi? Ya. Tapi beberapa menit kemudian gue
kembali, karena tangan kanan gue sudah mengatasinya. Jadi, sayang sekali nona
Cheryl rencana anda gagal" ledek Gibran.
"Ouh ya? Siapa bilang! Kalau gini, gue yang
menang!" Kata Cheryl yang kini berdiri di belakang Fresa dengan pisau yang
diarahkan ke lehernya. Cihhhh..
"Lu terlalu depresi di tolak Alex ? Atau emang
niat awal lu untuk Menghancurkan kebahagiaan orang lain?" Tanya Fresa
dingin.
"Dua-duanya. Gue pengen semua cowok tunduk
sama gue termasuk FEGA. Bahkan setelah Alex dan kawan-kawannya gue berencana
buat mendekati FEGA. Tapi sialannya, Galmoners masuk ke dalam FEGA membuat gue
sulit ambil celah. Dan itulah kenapa gue benci sama lu dan Mahda! Karena kalian
tipe masa bodo tapi di cintai bayak cowok dan gue benci itu!" Jelas
Cheryl.
"Benci hanya karena masalah kecil kaya gitu?! ****!
Asal lu tahunya, gue dan Mahda gak melakukan apapun ke mereka, dan kalau
motivasi hidup lu hanya untuk kaya gini mending ubah deh sebelum lu menyesal.
Karena bisa jadi ada seseorang yang menunggu lu berubah tapi lu gak pernah
sadar akan hal tersebut. Kenapa? Karena kita terlalu mengejar apa yang
seharusnya tidak jadi milik kita. Itulah kenapa banyak orang berpikir sempit
macem lu!" Jawab Fresa menejelaskan apa yang ada di kepala kecilnya.
"Lu gak tahu apapun jadi jangan sok
tahu!" Bentak Cheryl.
"Gue emang gak tahu apapun tentang hidup lu.
Tapi lu harus tahu, hidup lu yang kaya gini tuh menjijikan. Lebih baik lu
kembali ke tempat asal lu sebelum menyesal di kemudian hari." Balas Fresa.
"Gak usah guruin gue! Gue cuma kasih tahu
kalian permainan ini belum selesai. Karena mulai detik ini gue akan
terang-terangan melakukan kejahatan gue. So,wait and see!" Ucap Cheryl.
"So, wait and see? Cihh.. Medusa
menyebalkan!" Umpat Evan.
Gibran tersenyum tipis akan tingkah laku Evan. Dan
selama tiga hari, ketiga remaja tersebut berlibur ke tempat-tempat yang indah
dan menarik di Singapore. Bahkan Fresa melupakan jika dirinya tengah berperang
dengan Evan Laksono. Tiga hari berlalu begitu cepat sampai akhirnya mereka
harus kembali ke sekolah.
❤️❤️❤️