
Masa Orientasi Siswa (MOS) 2.1
***
Mentari pagi mulai bersinar, burung-burung mulai
berkicau menandakan bahwa hari baru sudah datang. Di salah satu rumah mewah,
sosok gadis cantik sedang asik menikmati sarapannya. Sesekali ikut obrolan
keluarganya.
Suara ponsel gadis cantik tersebut menarik
perhatian yang lain. Saat ingin bertanya. Gadis cantik itu langsung pamit ke
sekolah karena harus berangkat lebih pagi.
Tidak curiga dengan pesan yang ia terima, gadis
cantik itu memasuki kawasan sekolahnya yang masih sepi.
Baru saja ia ingin memasuki aula, pukulan di tengkuknya
membuat gadis cantik tersebut jatuh pingsan. Dua sosok yang melihat tindakan
mereka tersenyum senang. Tidak mau ada yang curiga, mereka langsung membawa
tubuh gadis cantik tersebut ke sebuah gudang yang tidak pernah di kunjungi oleh
orang lain. Gudang yang sangat terasingkan dari bangunan megah Starlight SHS.
Dua sosok itu mengikat gadis tersebut di kursi yang
ada di sana. Suasana pengap membuat siapapun akan sulit bertahan di sana.
Apalagi, hanya ada satu fentilasi yang ada. Dua sosok itu langsung pergi
meninggalkan lokasi tersebut.
**
Sama halnya seperti hari kemarin, Starlight sudah
di penuhi oleh anggota baru mereka. Anak-anak OSIS sudah sibuk menyiapkan diri
untuk kegiatan hari ini. Termasuk Galmoners yang akan tampil beberapa jam lagi.
"Gengs! Dapat kabar gak dari Fresa? Ini udah
jam sembilan loh. Dan dia udah ngaret dua jam!" Kata Mahda panik.
"Gak tau ni, handphonenya mati. Apa perlu gue
tanyain nyokapnya?" Tanya Fanisa.
"Tanyain aja deh Fan, gue takut si Fresa sakit
gegara luka kemarin. Apalagi liat tangannya di jahit gitu buat gue ngeri. Yang
lebih ngeri, dari mana Faza tahu semua itu?" Tanya Mahda.
Kiki tersenyum kikuk. "Sebenarnya gue yang
kasih tahu kak Faza. Habis dia tiba-tiba nelpon gue, karena panik ya gue
langsung asal ceplos." Jelas Kiki.
"Gils! Acting lu kemarin sangat bagus! Cocok
banget jadi artis," balas Fanisa sinis.
"Sorry deh,"tutur Kiki.
Di saat Fanisa berbicara dengan ibunya Fresa, Mahda
dan Kiki mencoba mengirim pesan atau apapun yang bisa mereka lakukan Sampai....
"Gawat!" Teriak Fanisa membuat mereka
menarik perhatian geng FEGA.
"Gawat kenapa?" Tanya Gibran yang
tiba-tiba bergabung dengan mereka.
"Gak kenapa-kenapa, cuma nyokapnya gak bisa di
hubungi," balas Fanisa dengan senyum lebarnya.
"Sialan! Gue kira ada gak buruk yang terjadi
dengan Fresa!" Kata Kiki yang tadi sempat panik.
"Ouhhh.. kalian cari Fresa? Dia tadi kirim sms
pagi-pagi. Katanya gak bisa datang karena urusan keluarga. Mungkin itu juga
alasan kenapa nyokap Fresa gak jawab telpon kalian." Jelas Gibran.
"Ouh.. Like that. Kalau gitu kita langsung aja
tampil. Toh kalau Fresa ada di juga gak bakal bisa tampil," tutur Mahda.
"Bener juga! Ya udah kuy kita hibur dede emes!"kata
Fanisa.
Tidak perlu menunggu lama, mereka langsung naik ke
atas panggung.
"Pagi adik-adik!" Sapa Mahda.
"Pagi kak!"
"Dari pada bosen, mending ikut kakak nyanyi.
Ada yang tau lagu Havana gak?" Tanya Mahda
"Tau kak! Yang di cover sama Manu Rios!"
Celetuk salah satu anak baru.
Kiki melihat Fanisa antusias langsung mengambil
alih sebelum Fanisa beraksi.
"Baiklah adik-adik, kita nyanyi sama-sama
ya!" Kata Kiki
1... 2.. 3...
Mereka pun bernyanyi bersama. Sedangkan FEGA dan
yang lain sudah berpencar untuk menyembunyikan pin OSIS mereka. Mereka semua
berharap hari kedua ini, berjalan dengan lancar seperti hari kemarin.
***
Tepat setelah Galmoners selesai menyanyikan lagu.
Arkan dan Gibran langsung naik ke atas panggung.
"Hello adik-adik! Seperti yang sudah di
jelaskan sebelumnya. Hari ini kita akan bermain game! Apa gamenya? Pertama,
kalian harus cari pin OSIS yang kami sembunyikan di beberapa tempat. Dan kedua,
kalian harus benar menjawab soal yang akan kalian terima di setiap pos. Jika
kalian semua bisa menjawab dengan baik, kami akan memberikan sebuah hadiah
untuk kelompok mana saja yang bisa menjawab dengan baik. Jadi, kalian semua
harus kompak dan semangat! Siap untuk kegiatan hari in?!" Ucap Gibran.
"Siap kak!" Koor semuanya.
"Sepertinya mereka sangat siap, kalau begitu
kita langsung saja memulai acara ini. So, have fun guys!" Kata Arkan.
Karena Galmoners dan FEGA bukan penjaga pos, mereka
langsung melangkahkan kaki menuju aula. Ya, mereka akan menyiapkan beberapa
hadiah untuk kelompok yang bisa menjalankan tugas mereka dengan baik.
"Guys! Gue kok ngerasa aneh ya. Okey awalnya
kita sempet panik karena Fresa gak hadir. Tapi kok gue ngerasa Fresa ada di
sekitar kita. Tapi, ya you know," ucap Fanisa.
"Gue gak tau apa perasaan gue aja, tapi gue
ngerasa panik. Bahkan saat kita nyanyi tadi gue kepikiran Fresa," kata
Kiki.
"Makanya jangan pakai perasaan, dasar
cewek," cibir Evan.
"Yehh si kambing! Emang lu di ajak!"
Balas Fanisa ketus.
"Nah! Karena gue gak di ajak, jadi gue
langsung nimbrung," kata Evan.
Tidak mau menanggapi Evan, Mahda dan sahabatnya
lebih baik fokus membungkus hadiah yang ada di hadapan mereka. Toh, ucapan Evan
juga bukan ucapan bermutu, jadi tidak perlu mereka balas.
***
Di sebuah rumah sakit ternama, sosok tampan yang tengah
duduk di bangku singgasananya sedang gelisah. Entah kenapa dia merasa ada yang
aneh dengan dirinya. Bahkan saat dirinya memeriksa pasien, ia selalu teringat
adiknya.
"Woii! Kenapa lu?!" Bentak seseorang.
"Bisa kah anda ketuk pintu?!" Bentak Faza
balik.
"Maaf dokter, tadi saya sudah mengetuk pintu
anda tapi anda tidak membalas. Jadi saya berinisiatif untuk masuk ke ruangan
dokter. Kali saja anda mati di tempat, siapa yang tahu?" balas sosok
cantik di depan Faza.
"Gue gak ada urusan sama lu, jadi gua mau
pergi!" Kata Faza dingin
"Gak nanya,"balasnya. Membuat Faza ingin
sekali melemparnya ke Pluto!
Di saat Faza keluar dari ruangannya, sosok cantik
tersebut tersenyum bahagia. Akhirnya mereka bertemu kembali.
***
"Akhirnya selesai juga, karena saran Fresa
kerjaan kita jadi numpuk. Menyebalkan!"dengus Evan. Saat mereka semua menyelesaikan
acara bungkus hadiah.
"Lu parah banget dah sebagai saudara
seangkatan! Kalau Fresa hadir juga dia gak bakal nyusahin kita. Apalagi Fresa
itu orang yang mandiri!" Balas Mahda ketus.
lagi PMS," balas Evan asal.
"Akhirnya seorang Evan mengakui kalau dia
wanita. Luar biasa!" Ucap Fanisa sambil bertepuk tangan.
"Eh bocah! Lu gak tau PMS apa?!" Tanya
Evan sengit.
"Tau! itu premenstrual syndrome atau bisa di
bilang masa datang bulannya perempuan! Dasar bodoh!" Umpat Mahda.
"Bukan! Lu ke ipaan banget dah! PMS itu
artinya Pedih Menjadi selingkuhan bodoh! Dasar gak ke kinian!" Balas Evan
sengit.
Arkan dan yang lain, hanya bisa tersenyum sinis
melihat tingkah memalukan sahabat mereka. Seandainya, nyawa Evan banyak mungkin
cowok itu sudah habis dengan mereka.
"Hahaha... Gue yakin kalau ada Fresa lu
bakal di bully! Selingkuhan? Sejak kapan Mahda mau sama lu? Mahda aja masih
setia sama mantannya. Kasian banget hidup lu Van! Gue ikut prihatin," kata
Fanisa sambil menepuk pundak Evan membuat Fano yang melihat mendengus di
tempatnya.
"Udah deh Van, kalau mau nyebar virus jangan
ke kita-kita. Kesel gue liat lu lagi lebay kaya gini," kata Gibran.
"Alah iri bilang aja, secara gue ini orang
yang paling banyak punya fans!" Balas Evan.
"Sok ngartis lu!" Balas Mahda ketus.
Adu mulut terus terjadi antara Mahda dan Evan.
Sampai saat sosok tampan dengan kemeja putih mendatangi mereka dengan raut
wajah panik.
"Fresa mana?!" Bentak sosok tersebut.
"Kak Faza? Bukannya kakak sama yang lain lagi
ada urusan?" Tanya Gibran bingung.
"Urusan apa?! Orang dari tadi gue di rumah
sakit, terus feeling gue buruk tentang si Fresa. Mana tuh bocah?!" Balas Faza
sengit.
"Emmm.. sebenarnya dari tadi pagi, kita
gak liat Fresa kak. Terus kata Gibran dia dapat pesan dari Fresa kalau dia
tidak bisa hadir hari ini, jad--"
"Sial!!! Kalian ini sahabatnya bukan si?!
Kemarin Fresa luka karena belain sahabatnya dan sekarang?! Astaga!" Ucap
Faza emosi. Bagaimana tidak?! Jelas-jelas adiknya datang lebih pagi dan di
antar olehnya sedangkan jawaban mereka?!
"Kak Faza sabar dulu. Gibran bisa liat pesan
yang dikirim Fresa?"tanya Kiki.
Gibran langsung menunjukkan pesan yang ia dapatkan
pagi hari.
"Ini bukan ketikan Fresa,"balas Faza
lirih.
Mendengar jawaban Faza, membuat Galmoners dan FEGA
langsung berlari keluar aula. Tidak perlu memerintah mereka langsung berpencar
mencari keberadaan Fresa. Begitupun dengan Faza.
***
Gibran terus mencari keberadaan Fresa, sampai ia
menginjak sesuatu.
"Gantungan tas Fresa?" Gumam Gibran.
Baru saja mau pergi, suara benda terjatuh membuat
Gibran menghentikan langkahnya. Gibran menempelkan telinganya di pintu, tidak
salah lagi, ada orang di dalam! Tanpa menunggu lama, Gibran langsung mendobrak
pintu tersebut. Dan betapa kaget ia saat melihat apa yang ada di hadapannya.
"Fresa!!!"
Gibran langsung membuka ikatan tali yang mengikat
Fresa, bahkan melihat luka di tengkuk Fresa menjelaskan jika Fresa di pukul
dari belakang.
"Fresa! Do you hear me?"tanya Gibran saat
ia sudah melepaskan plester dari mulut Fresa.
"Sesak," balas Fresa lirih. Tanpa di
sadari air mata Fresa sudah mengalir.
Melihat Fresa menangis, emosi Gibran memuncak. Ia
menghubungi yang lain untuk bertemu di UKS dan tanpa banyak bicara Gibran
langsung menggendong tubuh Fresa. Tanpa Gibran sadari dua sosok yang
bersembunyi di balik pilar tersenyum bahagia. Rencana mereka berhasil. Mereka
tinggal melakukan permainan selanjutnya.
***
Mahda dan yang lain tengah cemas melihat kondisi
Fresa yang pucat tadi. Ia tidak menyangka hal buruk terjadi dengan Fresa
kembali. Bahkan kejadian kemarin saja mereka belum tahu pelakunya, sekarang
masalah baru lagi?! Sial!
"Apa maksud ucapan Faza tadi?!" Bentak
Gibran kepada Fanisa.
"Santai Gi! Gue tau lu khawatir tapi gak usah
bentak Fanisa!" Omel Fano.
"Diam lu No! Gue gak lagi bicara sama
lu!" Bentak Gibran.
"Stop guys! Kami emang salah karena bohong,
tapi ada saatnya semua yang terjadi sama sahabat gue, gak perlu lu ketahui. Gue
tau lu itu seperti apa Gibran, jadi wajar jika kami melakukan ini. Intinya,
kemarin Fresa di serang dan sampai detik ini Fresa tidak memberi tahu siapa
yang nyerang dia. Puas?" Tanya Kiki.
Gibran terduduk lesu. Mereka semua sama seperti
Gibran, khawatir. Tapi...
"Fresa dengarkan kakak!"
Bentakan Faza membuat Gibran dan yang lain langsung
masuk ke dalam UKS.
"Dengarkan kakak?! For what?! Kakak gak pernah
kasih aku kesempatan untuk menyelesaikan masalah aku sendiri! Kakak
egois!" Balas Fresa marah.
"Kakak gak peduli kamu bilang apa. Keputusan
kakak sudah bulat, besok kita ke Jerman. Dan kakak tidak menerima penolakan,
kecuali jika kamu menyebut siapa pelaku tersebut" pancing Faza.
"Aku tau kakak seperti apa, aku akan ke
Jerman!" Putus Fresa membuat Mahda dan yang lain terdiam kaku. Mereka tidak
sanggup jika harus berpisah dengan Fresa. Mereka...
"Fresa hiks... Jangan pergi," kata Mahda.
"Ya Ca! Jangan pergi, apa jadinya Galmoners
kalau gak ada lu? Ah Eca mah!" Balas Fanisa menangis.
"Tau ih Eca! Masa mau pergi ke Jerman, nanti
kalau lu pergi yang bakal ledekin kita-kita siapa? Terus yang bakal bully Mahda
siapa hiksss..."
"Yaa Ca. Gue ikhlas di Bully sama lu, yang
penting jangan pergi. Hikssssss.."
"Tau Ca, kalau lu di Jerman sepi gak ada
kita-kita" tambah Fanisa.
"Kan bisa video call" balas Fresa lirih.
"Ah! Gak seru. Hikss... Lebih seru tuh
aslinya. Apaan cuma liat gambar doang, mana kita tahu di sana lu
kenapa-kenapa" balas Mahda.
Mahda dan yang lain tidak mau persahabatan mereka
harus terpisah jarak dan waktu. Mereka belum siap untuk itu. Sampai...
.
.
.
.
Plakkkkkk....
Suara tamparan terdengar begitu nyaring. Semua
pandangan langsung menatap sosok cantik tersebut, sedangkan Fresa? Dia bahagia
melihat kakaknya di tampar. Karena Fresa bahagia malaikat pelindungnya kembali.
❤️❤️❤️