Galmoners

Galmoners
4



Masa Orientasi Siswa (MOS) 2.1


***


Mentari pagi mulai bersinar, burung-burung mulai


berkicau menandakan bahwa hari baru sudah datang. Di salah satu rumah mewah,


sosok gadis cantik sedang asik menikmati sarapannya. Sesekali ikut obrolan


keluarganya.


Suara ponsel gadis cantik tersebut menarik


perhatian yang lain. Saat ingin bertanya. Gadis cantik itu langsung pamit ke


sekolah karena harus berangkat lebih pagi.


Tidak curiga dengan pesan yang ia terima, gadis


cantik itu memasuki kawasan sekolahnya yang masih sepi.


Baru saja ia ingin memasuki aula, pukulan di tengkuknya


membuat gadis cantik tersebut jatuh pingsan. Dua sosok yang melihat tindakan


mereka tersenyum senang. Tidak mau ada yang curiga, mereka langsung membawa


tubuh gadis cantik tersebut ke sebuah gudang yang tidak pernah di kunjungi oleh


orang lain. Gudang yang sangat terasingkan dari bangunan megah Starlight SHS.


Dua sosok itu mengikat gadis tersebut di kursi yang


ada di sana. Suasana pengap membuat siapapun akan sulit bertahan di sana.


Apalagi, hanya ada satu fentilasi yang ada. Dua sosok itu langsung pergi


meninggalkan lokasi tersebut.


**


Sama halnya seperti hari kemarin, Starlight sudah


di penuhi oleh anggota baru mereka. Anak-anak OSIS sudah sibuk menyiapkan diri


untuk kegiatan hari ini. Termasuk Galmoners yang akan tampil beberapa jam lagi.


"Gengs! Dapat kabar gak dari Fresa? Ini udah


jam sembilan loh. Dan dia udah ngaret dua jam!" Kata Mahda panik.


"Gak tau ni, handphonenya mati. Apa perlu gue


tanyain nyokapnya?" Tanya Fanisa.


"Tanyain aja deh Fan, gue takut si Fresa sakit


gegara luka kemarin. Apalagi liat tangannya di jahit gitu buat gue ngeri. Yang


lebih ngeri, dari mana Faza tahu semua itu?" Tanya Mahda.


Kiki tersenyum kikuk. "Sebenarnya gue yang


kasih tahu kak Faza. Habis dia tiba-tiba nelpon gue, karena panik ya gue


langsung asal ceplos." Jelas Kiki.


"Gils! Acting lu kemarin sangat bagus! Cocok


banget jadi artis," balas Fanisa sinis.


"Sorry deh,"tutur Kiki.


Di saat Fanisa berbicara dengan ibunya Fresa, Mahda


dan Kiki mencoba mengirim pesan atau apapun yang bisa mereka lakukan Sampai....


"Gawat!" Teriak Fanisa membuat mereka


menarik perhatian geng FEGA.


"Gawat kenapa?" Tanya Gibran yang


tiba-tiba bergabung dengan mereka.


"Gak kenapa-kenapa, cuma nyokapnya gak bisa di


hubungi," balas Fanisa dengan senyum lebarnya.


"Sialan! Gue kira ada gak buruk yang terjadi


dengan Fresa!" Kata Kiki yang tadi sempat panik.


"Ouhhh.. kalian cari Fresa? Dia tadi kirim sms


pagi-pagi. Katanya gak bisa datang karena urusan keluarga. Mungkin itu juga


alasan kenapa nyokap Fresa gak jawab telpon kalian." Jelas Gibran.


"Ouh.. Like that. Kalau gitu kita langsung aja


tampil. Toh kalau Fresa ada di juga gak bakal bisa tampil," tutur Mahda.


"Bener juga! Ya udah kuy kita hibur dede emes!"kata


Fanisa.


Tidak perlu menunggu lama, mereka langsung naik ke


atas panggung.


"Pagi adik-adik!" Sapa Mahda.


"Pagi kak!"


"Dari pada bosen, mending ikut kakak nyanyi.


Ada yang tau lagu Havana gak?" Tanya Mahda


"Tau kak! Yang di cover sama Manu Rios!"


Celetuk salah satu anak baru.


Kiki melihat Fanisa antusias langsung mengambil


alih sebelum Fanisa beraksi.


"Baiklah adik-adik, kita nyanyi sama-sama


ya!" Kata Kiki


1... 2.. 3...


Mereka pun bernyanyi bersama. Sedangkan FEGA dan


yang lain sudah berpencar untuk menyembunyikan pin OSIS mereka. Mereka semua


berharap hari kedua ini, berjalan dengan lancar seperti hari kemarin.


***


Tepat setelah Galmoners selesai menyanyikan lagu.


Arkan dan Gibran langsung naik ke atas panggung.


"Hello adik-adik! Seperti yang sudah di


jelaskan sebelumnya. Hari ini kita akan bermain game! Apa gamenya? Pertama,


kalian harus cari pin OSIS yang kami sembunyikan di beberapa tempat. Dan kedua,


kalian harus benar menjawab soal yang akan kalian terima di setiap pos. Jika


kalian semua bisa menjawab dengan baik, kami akan memberikan sebuah hadiah


untuk kelompok mana saja yang bisa menjawab dengan baik. Jadi, kalian semua


harus kompak dan semangat! Siap untuk kegiatan hari in?!" Ucap Gibran.


"Siap kak!" Koor semuanya.


"Sepertinya mereka sangat siap, kalau begitu


kita langsung saja memulai acara ini. So, have fun guys!" Kata Arkan.


Karena Galmoners dan FEGA bukan penjaga pos, mereka


langsung melangkahkan kaki menuju aula. Ya, mereka akan menyiapkan beberapa


hadiah untuk kelompok yang bisa menjalankan tugas mereka dengan baik.


"Guys! Gue kok ngerasa aneh ya. Okey awalnya


kita sempet panik karena Fresa gak hadir. Tapi kok gue ngerasa Fresa ada di


sekitar kita. Tapi, ya you know," ucap Fanisa.


"Gue gak tau apa perasaan gue aja, tapi gue


ngerasa panik. Bahkan saat kita nyanyi tadi gue kepikiran Fresa," kata


Kiki.


"Makanya jangan pakai perasaan, dasar


cewek," cibir Evan.


"Yehh si kambing! Emang lu di ajak!"


Balas Fanisa ketus.


"Nah! Karena gue gak di ajak, jadi gue


langsung nimbrung," kata Evan.


Tidak mau menanggapi Evan, Mahda dan sahabatnya


lebih baik fokus membungkus hadiah yang ada di hadapan mereka. Toh, ucapan Evan


juga bukan ucapan bermutu, jadi tidak perlu mereka balas.


***


Di sebuah rumah sakit ternama, sosok tampan yang tengah


duduk di bangku singgasananya sedang gelisah. Entah kenapa dia merasa ada yang


aneh dengan dirinya. Bahkan saat dirinya memeriksa pasien, ia selalu teringat


adiknya.


"Woii! Kenapa lu?!" Bentak seseorang.


"Bisa kah anda ketuk pintu?!" Bentak Faza


balik.


"Maaf dokter, tadi saya sudah mengetuk pintu


anda tapi anda tidak membalas. Jadi saya berinisiatif untuk masuk ke ruangan


dokter. Kali saja anda mati di tempat, siapa yang tahu?" balas sosok


cantik di depan Faza.


"Gue gak ada urusan sama lu, jadi gua mau


pergi!" Kata Faza dingin


"Gak nanya,"balasnya. Membuat Faza ingin


sekali melemparnya ke Pluto!


Di saat Faza keluar dari ruangannya, sosok cantik


tersebut tersenyum bahagia. Akhirnya mereka bertemu kembali.


***


"Akhirnya selesai juga, karena saran Fresa


kerjaan kita jadi numpuk. Menyebalkan!"dengus Evan. Saat mereka semua menyelesaikan


acara bungkus hadiah.


"Lu parah banget dah sebagai saudara


seangkatan! Kalau Fresa hadir juga dia gak bakal nyusahin kita. Apalagi Fresa


itu orang yang mandiri!" Balas Mahda ketus.


lagi PMS," balas Evan asal.


"Akhirnya seorang Evan mengakui kalau dia


wanita. Luar biasa!" Ucap Fanisa sambil bertepuk tangan.


"Eh bocah! Lu gak tau PMS apa?!" Tanya


Evan sengit.


"Tau! itu premenstrual syndrome atau bisa di


bilang masa datang bulannya perempuan! Dasar bodoh!" Umpat Mahda.


"Bukan! Lu ke ipaan banget dah! PMS itu


artinya Pedih Menjadi selingkuhan bodoh! Dasar gak ke kinian!" Balas Evan


sengit.


Arkan dan yang lain, hanya bisa tersenyum sinis


melihat tingkah memalukan sahabat mereka. Seandainya, nyawa Evan banyak mungkin


cowok itu sudah habis dengan mereka.


"Hahaha...  Gue yakin kalau ada Fresa lu


bakal di bully! Selingkuhan? Sejak kapan Mahda mau sama lu? Mahda aja masih


setia sama mantannya. Kasian banget hidup lu Van! Gue ikut prihatin," kata


Fanisa sambil menepuk pundak Evan membuat Fano yang melihat mendengus di


tempatnya.


"Udah deh Van, kalau mau nyebar virus jangan


ke kita-kita. Kesel gue liat lu lagi lebay kaya gini," kata Gibran.


"Alah iri bilang aja, secara gue ini orang


yang paling banyak punya fans!" Balas Evan.


"Sok ngartis lu!" Balas Mahda ketus.


Adu mulut terus terjadi antara Mahda dan Evan.


Sampai saat sosok tampan dengan kemeja putih mendatangi mereka dengan raut


wajah panik.


"Fresa mana?!" Bentak sosok tersebut.


"Kak Faza? Bukannya kakak sama yang lain lagi


ada urusan?" Tanya Gibran bingung.


"Urusan apa?! Orang dari tadi gue di rumah


sakit, terus feeling gue buruk tentang si Fresa. Mana tuh bocah?!" Balas Faza


sengit.


"Emmm..  sebenarnya dari tadi pagi, kita


gak liat Fresa kak. Terus kata Gibran dia dapat pesan dari Fresa kalau dia


tidak bisa hadir hari ini, jad--"


"Sial!!! Kalian ini sahabatnya bukan si?!


Kemarin Fresa luka karena belain sahabatnya dan sekarang?! Astaga!" Ucap


Faza emosi. Bagaimana tidak?! Jelas-jelas adiknya datang lebih pagi dan di


antar olehnya sedangkan jawaban mereka?!


"Kak Faza sabar dulu. Gibran bisa liat pesan


yang dikirim Fresa?"tanya Kiki.


Gibran langsung menunjukkan pesan yang ia dapatkan


pagi hari.


"Ini bukan ketikan Fresa,"balas Faza


lirih.


Mendengar jawaban Faza, membuat Galmoners dan FEGA


langsung berlari keluar aula. Tidak perlu memerintah mereka langsung berpencar


mencari keberadaan Fresa. Begitupun dengan Faza.


***


Gibran terus mencari keberadaan Fresa, sampai ia


menginjak sesuatu.


"Gantungan tas Fresa?" Gumam Gibran.


Baru saja mau pergi, suara benda terjatuh membuat


Gibran menghentikan langkahnya. Gibran menempelkan telinganya di pintu, tidak


salah lagi, ada orang di dalam! Tanpa menunggu lama, Gibran langsung mendobrak


pintu tersebut. Dan betapa kaget ia saat melihat apa yang ada di hadapannya.


"Fresa!!!"


Gibran langsung membuka ikatan tali yang mengikat


Fresa, bahkan melihat luka di tengkuk Fresa menjelaskan jika Fresa di pukul


dari belakang.


"Fresa! Do you hear me?"tanya Gibran saat


ia sudah melepaskan plester dari mulut Fresa.


"Sesak," balas Fresa lirih. Tanpa di


sadari air mata Fresa sudah mengalir.


Melihat Fresa menangis, emosi Gibran memuncak. Ia


menghubungi yang lain untuk bertemu di UKS dan tanpa banyak bicara Gibran


langsung menggendong tubuh Fresa. Tanpa Gibran sadari dua sosok yang


bersembunyi di balik pilar tersenyum bahagia. Rencana mereka berhasil. Mereka


tinggal melakukan permainan selanjutnya.


***


Mahda dan yang lain tengah cemas melihat kondisi


Fresa yang pucat tadi. Ia tidak menyangka hal buruk terjadi dengan Fresa


kembali. Bahkan kejadian kemarin saja mereka belum tahu pelakunya, sekarang


masalah baru lagi?! Sial!


"Apa maksud ucapan Faza tadi?!" Bentak


Gibran kepada Fanisa.


"Santai Gi! Gue tau lu khawatir tapi gak usah


bentak Fanisa!" Omel Fano.


"Diam lu No! Gue gak lagi bicara sama


lu!" Bentak Gibran.


"Stop guys! Kami emang salah karena bohong,


tapi ada saatnya semua yang terjadi sama sahabat gue, gak perlu lu ketahui. Gue


tau lu itu seperti apa Gibran, jadi wajar jika kami melakukan ini. Intinya,


kemarin Fresa di serang dan sampai detik ini Fresa tidak memberi tahu siapa


yang nyerang dia. Puas?" Tanya Kiki.


Gibran terduduk lesu. Mereka semua sama seperti


Gibran, khawatir. Tapi...


"Fresa dengarkan kakak!"


Bentakan Faza membuat Gibran dan yang lain langsung


masuk ke dalam UKS.


"Dengarkan kakak?! For what?! Kakak gak pernah


kasih aku kesempatan untuk menyelesaikan masalah aku sendiri! Kakak


egois!" Balas Fresa marah.


"Kakak gak peduli kamu bilang apa. Keputusan


kakak sudah bulat, besok kita ke Jerman. Dan kakak tidak menerima penolakan,


kecuali jika kamu menyebut siapa pelaku tersebut" pancing Faza.


"Aku tau kakak seperti apa, aku akan ke


Jerman!" Putus Fresa membuat Mahda dan yang lain terdiam kaku. Mereka tidak


sanggup jika harus berpisah dengan Fresa. Mereka...


"Fresa hiks... Jangan pergi," kata Mahda.


"Ya Ca! Jangan pergi, apa jadinya Galmoners


kalau gak ada lu? Ah Eca mah!" Balas Fanisa menangis.


"Tau ih Eca! Masa mau pergi ke Jerman, nanti


kalau lu pergi yang bakal ledekin kita-kita siapa? Terus yang bakal bully Mahda


siapa hiksss..."


"Yaa Ca. Gue ikhlas di Bully sama lu, yang


penting jangan pergi. Hikssssss.."


"Tau Ca, kalau lu di Jerman sepi gak ada


kita-kita" tambah Fanisa.


"Kan bisa video call" balas Fresa lirih.


"Ah! Gak seru. Hikss... Lebih seru tuh


aslinya. Apaan cuma liat gambar doang, mana kita tahu di sana lu


kenapa-kenapa" balas Mahda.


Mahda dan yang lain tidak mau persahabatan mereka


harus terpisah jarak dan waktu. Mereka belum siap untuk itu. Sampai...


.


.


.


.


Plakkkkkk....


Suara tamparan terdengar begitu nyaring. Semua


pandangan langsung menatap sosok cantik tersebut, sedangkan Fresa? Dia bahagia


melihat kakaknya di tampar. Karena Fresa bahagia malaikat pelindungnya kembali.


❤️❤️❤️