
Akhir cerita
***
Byurrrrr.....
"Awwwwww......"
Teriakan Fresa membuat Gibran langsung mendekati
tunangannya. Bahkan ia langsung memeriksa wajah Fresa yang terkena cairan entah
apa namanya.
"Aku gak apa, cuma panas aja." Kata Fresa
lirih.
"Itu akibatnya karena lu jadi perusak hubungan
gue sam--"
Plakkk....
Mahda menampar wajah Alex dengan sekuat tenaga.
Nafasnya memburu, amarahnya memuncak. Kali ini, Mahda tidak akan tinggal diam.
Ia akan melaporkan Alex pada pihak berwenang.
"Lu itu laki-laki paling sialan yang gue
kenal! Lu tadi mau bunuh gue sekarang Fresa?! Cowok macem apa lu! Apa lu gak mikir
jika ibu lu di posisi kita?! Apa lu gak mikir jika ibu lu di sakitin?! Mikir
orang mah!" Bentak Mahda.
Semua anak-anak mulai menatap ke arah mereka.
Melihat wajah Fresa terluka membuat mereka paham jika Alex berulah kembali.
Mungkin jika mereka senior, ini bukanlah pertama kali Alex bertindak layaknya
orang gila. Tapi setahun lalu Alex juga melakukan hal yang sama, entah
alasannya apa yang pasti Alex selalu lolos dalam kejaran kepolisian.
"Hahaha... Mikir? Buat apa? Selama gue bisa
melakukan apapun yang gue mau, gue bakal lakukan itu. Kalau perlu ngebunuh aja
gue lakuin. Asal lu tahu Mahda, semua perempuan itu munafik, bilangnya gak
cinta tapi cinta. Kaya lu! Lu nolak gue tapi hati lu berkata lain, bullshit
tahu gak?!" Balas Alex sengit.
Gibran tidak tahu harus melakukan apa, yang pasti
saat ini ia ingin menghancurkan wajah Alex. Namun, langkah kakinya di tahan
oleh Fresa.
"Kita pergi." Bisik Fresa membuat Gibran
langsung membawa Fresa keluar dari kantin. Sedangkan yang lain masih sibuk
meladeni Alex.
"Lu gak punya kaca di rumah?! Yang bullshit
itu lu! Lu memainkan hati Mahda bahkan lu menyuruh Bian dan Cheryl ikut
permainan lu! Basi tahu gak?!" Ucap Evan.
"Ouuuu ternyata ada yang tahu rencana
gue." Balas Alex dengan smirk.
"Gila! Mau lu apa si?! Lu mau bunuh kita
semua?!" Bentak Fanisa.
"Iya! Lu tahu? Alasan gue menyakiti wanita?
Karena Kakaknya Fresa yang buat kakak gue bunuh diri! Karena Gibran juga kakak
gue di penjara! Lu tahu Greg? Nah dia kakak pertama gue! Gue benci banget sama
Fresa, karena semua rencana gue selalu gagal karena dia, bahkan saat gue
menyuruh Cheryl menghancurkan hubungan kalian, Fresa bisa memutar keadaan dan
gue benci itu! Gue benci di kalahkan oleh adik pembunuh!" Teriak Alex
membuat semua mata mulai berbisik.
"Lu bilang kakak lu bunuh diri? Lu pernah
nanya gak ke diri lu sendiri?! Kakak lu jelas-jelas bunuh diri karena tidak
kuat dengan tingkah laku kalian berdua! Dari mana gue tahu? Itu gak penting.
Yang harus lu tahu ialah, semua yang ada di isi kepala lu salah! Lu pernah
membunuh seorang wanita kan? Bahkan kakak lu sering menghambur-hamburkan uang
dan melakukan tindakan tidak senonoh. Yang lebih parah lagi, kalian berdua
sama-sama membunuh wanita yang kalian anggap membosankan? Astaga! Kalian berdua
itu gila! Dan itulah kenapa kakak lu bunuh diri! Jangan salahkan perasaannya
dengan Faza yang tak terbalas. Tapi salahkan diri kalian yang terlalu asik
dalam kehidupan kalian sendiri!" Jawab Mahda.
Alex tertawa, membuat semua orang di sana menatap
Alex ngeri. Bahkan Cheryl yang mendengar semuanya ikut merasakan kecemasan.
Entah kenapa ia merasa cemas saat ini pasalnya, ia tengah menyembunyikan sebuah
rahasia dalam hidupnya. Apalagi sejak keluarganya bergantung pada Alex, Cheryl
selalu melakukan apapun untuk Alex.
"Mahda... Mahda... Gue gak akan percaya! Gue
lebih percaya dengan apa yang gue pikirkan. Dan lu! Gak usah menggurui gue,
karena gak penting. Satu lagi, gue bakal buat kehidupan kalian menderita mulai
detik ini!" Teriak Alex diiringi dengan tawanya.
"Sorry menyela, menurut gue semua harus
berakhir di sini. Karena cerita ini sudah menuju endingnya. So, silakan kalian
bawa pria di sana jangan biarkan dia kabur." Kata Fano kepada beberapa
orang yang menggunakan pakaian putih-putih.
"Baik Tuan."
"Mungkin dulu lu bisa kabur karena gue gak ada
di sini, tapi gue di sini sekarang. Siapapun yang mengusik sahabat gue ataupun
kekasih gue. Gue bakal buat kalian lupa apa itu dunia. So, selamat menikmati
dunia baru anda Alex." Ucap Fano dingin.
Alex di tarik paksa, bahkan saat Alex berontak
sebuah suntikan menusuk tubuhnya membuat pria tersebut terjatuh tidak sadarkan
diri. Semua yang ada di kantin bernafas lega, akhirnya kejahatan Alex
terbongkar semuanya. Ia tidak menyangka pria setampan Alex dan sebaik Alex bisa
melakukan hal seburuk itu.
Mahda tersenyum ke arah Fano. "Terima kasih
atas bantuannya, kalau gak ada kalian mungkin cerita ini akan semakin rumit.
Sekarang, lebih baik kita mengunjungi Fresa, toh kita pulang cepat saat
ini." Kata Mahda.
"Hem.. lain kali kalau butuh batuan ngomong
sama kita, kita bakal bantu. Kalau lu ke tahuan saat mencari data-data Alex
gimana?" Tanya Kiki.
"Gue percaya, selain gue **** kadang salah
nyebut nama Fresa dan Fanisa. Gue yakin ada yang bisa gue lakukan untuk semua
ini. Karena gue semuanya jadi serunyam ini. Ahhh.. rasanya lega
sekali." Jawab Mahda.
Lega? Itulah yang saat ini mereka rasakan. Sosok
cantik berjalan mendekati mereka.
"Maaf.. maaf pernah melukai kalian. Maaf
karena gue selalu menghancurkan apapun. Maaf karena gue lagi-lagi gak bisa jadi
diri gue sendiri. Gue bersalah banget sama Fresa. Tolong sampaikan maaf gue ke
dia. Karena setelah ini, gue bakal menjauh dari sini bersama dengan dia."
Kata Cheryl lirih. Bahkan Cheryl mengusap perutnya yang masih datar.
"Lu?! Astaga Alex brengsek!" Bentak
Mahda.
"Gak apa, mungkin ini balasan gue karena gue
jahat sama kalian dulunya. Sampai gue sendiri gak sadar kalau gue salah jalan.
Gue pikir dengan merebut Alex akan membuat dia lupa sama lu ternyata gak. Dan
gue pikir Alex cinta sama lu, sampai-sampai gue selalu berniat jahat sama lu.
Ternyata, ini alasan dari semuanya. Gue gak tahu kenapa mereka tutup mulut
tentang kejahatan Alex bahkan gue yang seangkatannya aja gak tahu. Intinya,
terima kasih. Jika saja gue gegabah bilang dia hadir saat ini, gue yakin Alex
akan melakukan hal yang sama Seperti perempuan yang pernah ia bunuh. Intinya
gue sangat berterima kasih pada kalian semua dan maaf karena gue jahat
dulu." Penjelasan Cheryl membuat Mahda menangis, sebenarnya Mahda tahu
alasan di balik Cheryl melakukan hal tersebut pertama karena perasaannya dan
terakhir karena dia menyayangi ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit.
Tanpa bantuan Alex mungkin ayah Cheryl sudah tiada saat ini.
"Kita memaafkan!" Balas Mahda dan yang
lain. Membuat air mata haru Cheryl turun dari pipinya.
"Terima kasih."
Mereka semua tersenyum bahagia. Inilah akhir dari
perjalanan mereka. Perjalanan yang seharusnya di akhiri dengan cepat.
Karena bagi Mahda kebahagiaan itu bukan harus
berkumpul dengan orang yang kita cinta, tapi dengan adanya sahabat dan hal
kecil saja seperti memaafkan bisa membuat kita merasakan apa itu kebahagiaan.
Inilah akhir perjalanan mereka. Mungkin masih banyak rintangan yang akan mereka
terima di depan. Tapi Mahda sangat yakin apapun yang terjadi nantinya, Mahda
memiliki mereka. Mereka yang selalu hadir untuk dirinya.
------- END---------
❤️❤️❤️❤️❤️
Epilog
Terkadang sebuah cerita tidak perlu berakhir dengan
happy atau sad. Karena kita tidak pernah tahu rencana kedepannya seperti apa.
***
Sekarang, Mahda tengah menyaksikan penampilan
adik-adik kelasnya di atas panggung. Dengan kebaya berwarna merah, Mahda
terlihat sangat anggun hari ini.
Di tempat Mahda duduk, Mahda bisa melihat
sahabat-sahabatnya tengah berbahagia dengan kekasih mereka. Manda bersyukur
hubungan mereka berjalan dengan baik, setidaknya kali ini mereka tidak salah
memilih pasangan.
Berbicara pasangan, pasti kalian ingat perusuh para
pasangan? Yap! Evan. Setelah di nyatakan lulus, Evan memutuskan untuk
meninggalkan Indonesia. Entah kenapa semuanya terburu-buru. Bahkan hari ini
saja Evan tidak hadir untuk menerima penghargaan. Yang pasti Mahda berdoa yang
Jika Mahda ditanya kenapa gak sama Evan?
Jawabannya, belum berjodoh. Jika Tuhan belum mengizinkan dirinya untuk bersama
Evan, itu tandanya ada yang Mahda harus lakukan sebelum fokus pada cintanya.
Mahda keluar dari tempat acara, dia memilih
menyendiri di taman. Tempat di mana Mahda dan Evan sering menghabiskan waktu di
saat mereka malas berada di kantin dan kini, Mahda sangat merindukan saat-saat
itu. Saat di mana Evan menghapus air matanya. Saat di mana Evan memeluknya dan
saat di mana Evan menjadikan dirinya wanita paling berharga. Namun sayang,
semua hanya tinggal kenangan.
"Ada kiriman bunga." Kata seseorang yang
kini berjongkok di hadapan Mahda.
"Saya tidak memesan bunga, mungkin anda salah
orang." Balas Mahda ketus. Toh buat apa dia memesan bunga? Kurang
kerjaan!
Mahda melihat pembawa bunga tidak mau berpindah
dari tempatnya dan hal tersebut membuat mood Mahda hancur!
"Kalau mau jadi tukang bunga jangan di sini
bang! Ganggu orang lagi galau aja! Abang gak tahu aja saya lagi iri sama
sahabat saya yang taken!" Cerocos Mahda.
"Sama saya aja neng, saya jomblo." Balas
pembawa bunga.
"Gak tertarik bang, nanti setiap hari Abang
bawaain saya bunga lagi. Emang saya taman!" Balas Mahda ketus.
"Saya gak akan bawakan bunga neng, tapi saya
bawakan cinta. Cinta untuk neng dan anak-anak kita nantinya." Ucap pembawa
bunga, membuat Mahda mendengus.
"Lu ngomong ama gue bang? Ye kali! Gue itu
udah punya cowok jadi jangan macem-macem." Kata Mahda ketus.
"Alah siapa si neng pacarnya? Paling pacar
khayalan. Mending sama saya." Jawab pembawa bunga tersebut.
Manda malas sekali meladeni tukang bunga di depannya.
Apalagi dia menganggu Mahda yang tengah menikmati moment kebersamaan dirinya
dan Evan. Tukang bunga menyebalkan!
"Mau pacar khayalan kek, mau gak kek bukan
urusan Abang! Lagian ngapain si di sini, ganggu aja!" Ujar Mahda sambil
menatap ponselnya, di mana ada pesan masuk dari Fresa yang mengatakan jika
mereka menunggu dirinya di cafe dekat sekolah.
"Lebih baik di ganggu saya daripada di ganggu
setan." Dengus pembawa bunga.
"Di mana-mana mending di ganggu setan, Baca
Al-Qur'an langsung pergi nah ini, di usir secara halus aja gak mempan dasar
manusia kurang kerjaan." Balas Mahda.
"Saya punya kerjaan neng, mengantar bunga
kepada kekasih hati saya. Emang gak boleh?!" Ucap si pembawa bunga.
"Abang kok ngeyel ya! Saya bilang saya gak
mesen bunga dan saya gak mau lihat wajah abang di sini, eh Salah maksudnya
tubuh abang di sini. Karena kan saya gak tahu wajah Abang." Ucap Mahda
membuat pembawa bunga terkekeh.
"Kalau ini, kenal gak neng?" Tanya si
pembawa bunga sambil memindahkan bunganya ke tangan kirinya. Dan detik
berikutnya Mahda langsung menutup mulutnya. Jadi yang dia ajak berdebat
tadi...? Evan?! Astaga! Mahda tidak tahu harus berkata apalagi.
"Evan!!! Ngesilin banget si lu!" Omel
Mahda langsung memukuli bahu Evan membuat cowok tampan tersebut menahan tangan
Mahda dan membawa ke pelukannya.
"Gak liat beberapa bulan aja kangen, gimana
kalau pisah bertahun-tahun. Rasanya gak bisa terima kalau pisah selama itu,
tapi--Mahda gue sayang banget sama lu. Sampe gue sendiri bingung keputusan apa
yang gue ambil ke depannya. Mungkin keputusan yang gue ambil termasuk gila.
Tapi gue gak bisa nahan lebih lama lagi, cukup tiga tahun gue nunggu lu dan gue
gak mau lagi menunggu lu terlalu lama. So, Will You Marry Me?"
Evan yang tadi memeluk Mahda, mengambil sebuah kotak
kecil di kantungnya lepas itu ia berjongkok layaknya teman-temannya yang pernah
melakukan hal yang sama kepada kekasih mereka.
"Gue mau aja nikah sama lu tapi--"
"Gue butuh jawaban iya, supaya gue bisa
memutuskan apa yang harus gue lakukan setelah ini. Karena lu kan tahu gue anak
tunggal dan semua milik keluarga gue harus gue pegang. So,?" Pancing Evan.
"Mau." Balas Mahda membuat Evan langsung
memeluk calon istrinya. Sekarang masalah dengan Mahda selesai, satu masalah
yang harus ia lakukan. Keluarganya.
Evan tidak tahu apa yang terjadi dengan keputusan
yang ia ambil saat ini, semoga saja keluarganya menyetujui keputusan dirinya.
Apalagi Evan tidak bisa berpisah dari Mahda. Bisa gila dia kalau Mahda dengan
pria lain.
"Jika aku pergi, jangan pernah dekat dengan
pria manapun. Karena kamu akan tahu siapa aku sebenarnya nanti." Bisik
Evan membuat Mahda menegang.
Entah kenapa Mahda merasakan sesuatu yang aneh
dalam dirinya. Seakan-akan Evan yang ia kenal hari ini berbeda dengan Evan yang
ia kenal sebelumnya. Apa dia memiliki kembaran?
"Aku gak punya kembaran. Lebih baik kita
kabari yang lain tentang pernikahan kita." Kata Evan membawa tangan Mahda
keluar dari taman.
***
Gemerlap lampu menerangi sebuah gedung mewah di
kawasan kota Bandung. Dengan nuansa pink soft dan putih semua terlihat begitu
cantik.
Wanita berusia 18 tahun dan sang pria berusia sama
tengah berdiri di atas panggung sambil menyalami tamu-tamu undangan. Mereka
Mahda dan Evan. Awalnya Evan pikir keluarganya akan menolak keputusannya ternyata
tidak. Ayahnya hanya meminta Evan menjalankan janjinya dulu dan Evan
menyanggupi. Selama Mahda sudah menjadi miliknya Evan bisa bernafas lega.
"Selamat ya Mahda, semoga cepet dapat
baby." Kata Cheryl yang datang bersama anak laki-laki di
gendongannya.
"Amin. Semoga kakak cepat dapat pengganti
Alex." Balas Mahda.
Cheryl tersenyum. "Tidak bisa Mahda. Hanya dia
yang mau aku jadikan suami. Aku tidak mau anakku memiliki ayah baru." Ucap
Cheryl.
"Kalau gitu semoga Alex berubah
nantinya." Doa Mahda.
"Mau gendong Alex dong." Kata Mahda
membuat Cheryl memberikan gendongannya pada Mahda. Anak berusia satu tahun
lebih itu begitu riang dalam gendongan Mahda, bahkan Evan yang melihat pun
senang.
"Aku ambil makan dulu deh, titip ya."
Kata Cheryl.
Belum juga Cheryl turun dari panggung suara
teriakan seseorang membuat Cheryl menghentikan langkahnya.
"Mahda!!"
"Alex?!" Ucap Mahda dan Cheryl bersamaan.
"Wah, ternyata si cupu ini menikahi kamu?
Setelah sekian lama menunggu dia akhirnya menikahi kamu? Hahaha... Sialan!"
Teriak Alex.
Evan tidak tahu kenapa Alex bisa berada di sini.
Yang ia tahu waktu bebas Alex masih lama. Hanya satu yang pasti, yaitu kabur
dari penjara.
Alex melangkahkan kakinya memasuki lokasi
pernikahan. Semua anak-anak FEGA dan Galmoners merasakan perasaan aneh.
Perasaan di mana mereka akan kehilangan seseorang. Entah siapa, tapi perasaan
itu begitu nyata di rasakan oleh ke-enam anak muda tersebut. Bahkan Evan pun
merasakan hal yang sama.
"Tidak ada satupun yang boleh memiliki Mahda
selain gue! Jika Mahda tidak bisa gue miliki maka orang lain pun tidak bisa gue
miliki! Karena selamanya Mahda harus milik gue!"
Bentakan Alex membuat semua orang menatap Alex
tajam. Bahkan Fano sudah menghubungi seseorang yang bisa membantu mereka.
Namun, semua sia-sia saat suara tembakan bertubi-tubi terdengar.
Dorr....
Dorrr...
Dorrr.....
Satu yang pasti. Hari itu adalah hari yang paling
mereka benci. Hari di mana seseorang yang mereka kenal harus pergi dari dunia
ini dengan sejuta amanah. Dengan sejuta memori dan pastinya mereka tidak akan pernah kembali. Selain hanya sebuah ingatan yang tak pernah terlupakan.
Sebuah cerita yang menutup perjlanan serta perjuangan panjangnya menemukan segala cita dan cinta. Sebuah cerita yang memang bukan negeri dongeng yang harus berakhir happy ending. Hanya sebuah cerita yang mengajarkan jika kematian akan selalu menanti.
TAMAT
❤️❤️❤️
JAdi ada perbedaan ya kalu di versi paling lamanya aku gak pernah kasih Extra Part dan berakhir selalu di sini. Karena menurutku tidak harus semuanya berakhir happy kala itu. Terima kaish manteman, semoga versi lama bisa menghibur kalian di saat aku merevisi cerita yang barunya. Terima kasih jangan lupa follow ig @sweetchocopink see you byebye. Kalau mau ada yang mau ngobrol-ngobrol sama aku silakan gabung di group ya. Kala senggang aku akan balas obrolan kalian. Terima Kasih.