Galmoners

Galmoners
20



Akhir cerita


***


Byurrrrr.....


"Awwwwww......"


Teriakan Fresa membuat Gibran langsung mendekati


tunangannya. Bahkan ia langsung memeriksa wajah Fresa yang terkena cairan entah


apa namanya.


"Aku gak apa, cuma panas aja." Kata Fresa


lirih.


"Itu akibatnya karena lu jadi perusak hubungan


gue sam--"


Plakkk....


Mahda menampar wajah Alex dengan sekuat tenaga.


Nafasnya memburu, amarahnya memuncak. Kali ini, Mahda tidak akan tinggal diam.


Ia akan melaporkan Alex pada pihak berwenang.


"Lu itu laki-laki paling sialan yang gue


kenal! Lu tadi mau bunuh gue sekarang Fresa?! Cowok macem apa lu! Apa lu gak mikir


jika ibu lu di posisi kita?! Apa lu gak mikir jika ibu lu di sakitin?! Mikir


orang mah!" Bentak Mahda.


Semua anak-anak mulai menatap ke arah mereka.


Melihat wajah Fresa terluka membuat mereka paham jika Alex berulah kembali.


Mungkin jika mereka senior, ini bukanlah pertama kali Alex bertindak layaknya


orang gila. Tapi setahun lalu Alex juga melakukan hal yang sama, entah


alasannya apa yang pasti Alex selalu lolos dalam kejaran kepolisian.


"Hahaha... Mikir? Buat apa? Selama gue bisa


melakukan apapun yang gue mau, gue bakal lakukan itu. Kalau perlu ngebunuh aja


gue lakuin. Asal lu tahu Mahda, semua perempuan itu munafik, bilangnya gak


cinta tapi cinta. Kaya lu! Lu nolak gue tapi hati lu berkata lain, bullshit


tahu gak?!" Balas Alex sengit.


Gibran tidak tahu harus melakukan apa, yang pasti


saat ini ia ingin menghancurkan wajah Alex. Namun, langkah kakinya di tahan


oleh Fresa.


"Kita pergi." Bisik Fresa membuat Gibran


langsung membawa Fresa keluar dari kantin. Sedangkan yang lain masih sibuk


meladeni Alex.


"Lu gak punya kaca di rumah?! Yang bullshit


itu lu! Lu memainkan hati Mahda bahkan lu menyuruh Bian dan Cheryl ikut


permainan lu! Basi tahu gak?!" Ucap Evan.


"Ouuuu ternyata ada yang tahu rencana


gue." Balas Alex dengan smirk.


"Gila! Mau lu apa si?! Lu mau bunuh kita


semua?!" Bentak Fanisa.


"Iya! Lu tahu? Alasan gue menyakiti wanita?


Karena Kakaknya Fresa yang buat kakak gue bunuh diri! Karena Gibran juga kakak


gue di penjara! Lu tahu Greg? Nah dia kakak pertama gue! Gue benci banget sama


Fresa, karena semua rencana gue selalu gagal karena dia, bahkan saat gue


menyuruh Cheryl menghancurkan hubungan kalian, Fresa bisa memutar keadaan dan


gue benci itu! Gue benci di kalahkan oleh adik pembunuh!" Teriak Alex


membuat semua mata mulai berbisik.


"Lu bilang kakak lu bunuh diri? Lu pernah


nanya gak ke diri lu sendiri?! Kakak lu jelas-jelas bunuh diri karena tidak


kuat dengan tingkah laku kalian berdua! Dari mana gue tahu? Itu gak penting.


Yang harus lu tahu ialah, semua yang ada di isi kepala lu salah! Lu pernah


membunuh seorang wanita kan? Bahkan kakak lu sering menghambur-hamburkan uang


dan melakukan tindakan tidak senonoh. Yang lebih parah lagi, kalian berdua


sama-sama membunuh wanita yang kalian anggap membosankan? Astaga! Kalian berdua


itu gila! Dan itulah kenapa kakak lu bunuh diri! Jangan salahkan perasaannya


dengan Faza yang tak terbalas. Tapi salahkan diri kalian yang terlalu asik


dalam kehidupan kalian sendiri!" Jawab Mahda.


Alex tertawa, membuat semua orang di sana menatap


Alex ngeri. Bahkan Cheryl yang mendengar semuanya ikut merasakan kecemasan.


Entah kenapa ia merasa cemas saat ini pasalnya, ia tengah menyembunyikan sebuah


rahasia dalam hidupnya. Apalagi sejak keluarganya bergantung pada Alex, Cheryl


selalu melakukan apapun untuk Alex.


"Mahda... Mahda... Gue gak akan percaya! Gue


lebih percaya dengan apa yang gue pikirkan. Dan lu! Gak usah menggurui gue,


karena gak penting. Satu lagi, gue bakal buat kehidupan kalian menderita mulai


detik ini!" Teriak Alex diiringi dengan tawanya.


"Sorry menyela, menurut gue semua harus


berakhir di sini. Karena cerita ini sudah menuju endingnya. So, silakan kalian


bawa pria di sana jangan biarkan dia kabur." Kata Fano kepada beberapa


orang yang menggunakan pakaian putih-putih.


"Baik Tuan."


"Mungkin dulu lu bisa kabur karena gue gak ada


di sini, tapi gue di sini sekarang. Siapapun yang mengusik sahabat gue ataupun


kekasih gue. Gue bakal buat kalian lupa apa itu dunia. So, selamat menikmati


dunia baru anda Alex." Ucap Fano dingin.


Alex di tarik paksa, bahkan saat Alex berontak


sebuah suntikan menusuk tubuhnya membuat pria tersebut terjatuh tidak sadarkan


diri. Semua yang ada di kantin bernafas lega, akhirnya kejahatan Alex


terbongkar semuanya. Ia tidak menyangka pria setampan Alex dan sebaik Alex bisa


melakukan hal seburuk itu.


Mahda tersenyum ke arah Fano. "Terima kasih


atas bantuannya, kalau gak ada kalian mungkin cerita ini akan semakin rumit.


Sekarang, lebih baik kita mengunjungi Fresa, toh kita pulang cepat saat


ini." Kata Mahda.


"Hem.. lain kali kalau butuh batuan ngomong


sama kita, kita bakal bantu. Kalau lu ke tahuan saat mencari data-data Alex


gimana?" Tanya Kiki.


"Gue percaya, selain gue **** kadang salah


nyebut nama Fresa dan Fanisa. Gue yakin ada yang bisa gue lakukan untuk semua


ini. Karena gue semuanya jadi serunyam ini. Ahhh..  rasanya lega


sekali." Jawab Mahda.


Lega? Itulah yang saat ini mereka rasakan. Sosok


cantik berjalan mendekati mereka.


"Maaf..  maaf pernah melukai kalian. Maaf


karena gue selalu menghancurkan apapun. Maaf karena gue lagi-lagi gak bisa jadi


diri gue sendiri. Gue bersalah banget sama Fresa. Tolong sampaikan maaf gue ke


dia. Karena setelah ini, gue bakal menjauh dari sini bersama dengan dia."


Kata Cheryl lirih. Bahkan Cheryl mengusap perutnya yang masih datar.


"Lu?! Astaga Alex brengsek!" Bentak


Mahda.


"Gak apa, mungkin ini balasan gue karena gue


jahat sama kalian dulunya. Sampai gue sendiri gak sadar kalau gue salah jalan.


Gue pikir dengan merebut Alex akan membuat dia lupa sama lu ternyata gak. Dan


gue pikir Alex cinta sama lu, sampai-sampai gue selalu berniat jahat sama lu.


Ternyata, ini alasan dari semuanya. Gue gak tahu kenapa mereka tutup mulut


tentang kejahatan Alex bahkan gue yang seangkatannya aja gak tahu. Intinya,


terima kasih. Jika saja gue gegabah bilang dia hadir saat ini, gue yakin Alex


akan melakukan hal yang sama Seperti perempuan yang pernah ia bunuh. Intinya


gue sangat berterima kasih pada kalian semua dan maaf karena gue jahat


dulu." Penjelasan Cheryl membuat Mahda menangis, sebenarnya Mahda tahu


alasan di balik Cheryl melakukan hal tersebut pertama karena perasaannya dan


terakhir karena dia menyayangi ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit.


Tanpa bantuan Alex mungkin ayah Cheryl sudah tiada saat ini.


"Kita memaafkan!" Balas Mahda dan yang


lain. Membuat air mata haru Cheryl turun dari pipinya.


"Terima kasih."


Mereka semua tersenyum bahagia. Inilah akhir dari


perjalanan mereka. Perjalanan yang seharusnya di akhiri dengan cepat.


Karena bagi Mahda kebahagiaan itu bukan harus


berkumpul dengan orang yang kita cinta, tapi dengan adanya sahabat dan hal


kecil saja seperti memaafkan bisa membuat kita merasakan apa itu kebahagiaan.


Inilah akhir perjalanan mereka. Mungkin masih banyak rintangan yang akan mereka


terima di depan. Tapi Mahda sangat yakin apapun yang terjadi nantinya, Mahda


memiliki mereka. Mereka yang selalu hadir untuk dirinya.


------- END---------


❤️❤️❤️❤️❤️


Epilog


Terkadang sebuah cerita tidak perlu berakhir dengan


happy atau sad. Karena kita tidak pernah tahu rencana kedepannya seperti apa.


***


Sekarang, Mahda tengah menyaksikan penampilan


adik-adik kelasnya di atas panggung. Dengan kebaya berwarna merah, Mahda


terlihat sangat anggun hari ini.


Di tempat Mahda duduk, Mahda bisa melihat


sahabat-sahabatnya tengah berbahagia dengan kekasih mereka. Manda bersyukur


hubungan mereka berjalan dengan baik, setidaknya kali ini mereka tidak salah


memilih pasangan.


Berbicara pasangan, pasti kalian ingat perusuh para


pasangan? Yap! Evan. Setelah di nyatakan lulus, Evan memutuskan untuk


meninggalkan Indonesia. Entah kenapa semuanya terburu-buru. Bahkan hari ini


saja Evan tidak hadir untuk menerima penghargaan. Yang pasti Mahda berdoa yang


Jika Mahda ditanya kenapa gak sama Evan?


Jawabannya, belum berjodoh. Jika Tuhan belum mengizinkan dirinya untuk bersama


Evan, itu tandanya ada yang Mahda harus lakukan sebelum fokus pada cintanya.


Mahda keluar dari tempat acara, dia memilih


menyendiri di taman. Tempat di mana Mahda dan Evan sering menghabiskan waktu di


saat mereka malas berada di kantin dan kini, Mahda sangat merindukan saat-saat


itu. Saat di mana Evan menghapus air matanya. Saat di mana Evan memeluknya dan


saat di mana Evan menjadikan dirinya wanita paling berharga. Namun sayang,


semua hanya tinggal kenangan.


"Ada kiriman bunga." Kata seseorang yang


kini berjongkok di hadapan Mahda.


"Saya tidak memesan bunga, mungkin anda salah


orang." Balas Mahda ketus.  Toh buat apa dia memesan bunga? Kurang


kerjaan!


Mahda melihat pembawa bunga tidak mau berpindah


dari tempatnya dan hal tersebut membuat mood Mahda hancur!


"Kalau mau jadi tukang bunga jangan di sini


bang! Ganggu orang lagi galau aja! Abang gak tahu aja saya lagi iri sama


sahabat saya yang taken!" Cerocos Mahda.


"Sama saya aja neng, saya jomblo." Balas


pembawa bunga.


"Gak tertarik bang, nanti setiap hari Abang


bawaain saya bunga lagi. Emang saya taman!" Balas Mahda ketus.


"Saya gak akan bawakan bunga neng, tapi saya


bawakan cinta. Cinta untuk neng dan anak-anak kita nantinya." Ucap pembawa


bunga, membuat Mahda mendengus.


"Lu ngomong ama gue bang? Ye kali! Gue itu


udah punya cowok jadi jangan macem-macem." Kata Mahda ketus.


"Alah siapa si neng pacarnya? Paling pacar


khayalan. Mending sama saya." Jawab pembawa bunga tersebut.


Manda malas sekali meladeni tukang bunga di depannya.


Apalagi dia menganggu Mahda yang tengah menikmati moment kebersamaan dirinya


dan Evan. Tukang bunga menyebalkan!


"Mau pacar khayalan kek, mau gak kek bukan


urusan Abang! Lagian ngapain si di sini, ganggu aja!" Ujar Mahda sambil


menatap ponselnya, di mana ada pesan masuk dari Fresa yang mengatakan jika


mereka menunggu dirinya di cafe dekat sekolah.


"Lebih baik di ganggu saya daripada di ganggu


setan." Dengus pembawa bunga.


"Di mana-mana mending di ganggu setan, Baca


Al-Qur'an langsung pergi nah ini, di usir secara halus aja gak mempan dasar


manusia kurang kerjaan." Balas Mahda.


"Saya punya kerjaan neng, mengantar bunga


kepada kekasih hati saya. Emang gak boleh?!" Ucap si pembawa bunga.


"Abang kok ngeyel ya! Saya bilang saya gak


mesen bunga dan saya gak mau lihat wajah abang di sini, eh Salah maksudnya


tubuh abang di sini. Karena kan saya gak tahu wajah Abang." Ucap Mahda


membuat pembawa bunga terkekeh.


"Kalau ini, kenal gak neng?" Tanya si


pembawa bunga sambil memindahkan bunganya ke tangan kirinya. Dan detik


berikutnya Mahda langsung menutup mulutnya. Jadi yang dia ajak berdebat


tadi...? Evan?! Astaga! Mahda tidak tahu harus berkata apalagi.


"Evan!!! Ngesilin banget si lu!" Omel


Mahda langsung memukuli bahu Evan membuat cowok tampan tersebut menahan tangan


Mahda dan membawa ke pelukannya.


"Gak liat beberapa bulan aja kangen, gimana


kalau pisah bertahun-tahun. Rasanya gak bisa terima kalau pisah selama itu,


tapi--Mahda gue sayang banget sama lu. Sampe gue sendiri bingung keputusan apa


yang gue ambil ke depannya. Mungkin keputusan yang gue ambil termasuk gila.


Tapi gue gak bisa nahan lebih lama lagi, cukup tiga tahun gue nunggu lu dan gue


gak mau lagi menunggu lu terlalu lama. So, Will You Marry Me?"


Evan yang tadi memeluk Mahda, mengambil sebuah kotak


kecil di kantungnya lepas itu ia berjongkok layaknya teman-temannya yang pernah


melakukan hal yang sama kepada kekasih mereka.


"Gue mau aja nikah sama lu tapi--"


"Gue butuh jawaban iya, supaya gue bisa


memutuskan apa yang harus gue lakukan setelah ini. Karena lu kan tahu gue anak


tunggal dan semua milik keluarga gue harus gue pegang. So,?" Pancing Evan.


"Mau." Balas Mahda membuat Evan langsung


memeluk calon istrinya. Sekarang masalah dengan Mahda selesai, satu masalah


yang harus ia lakukan. Keluarganya.


Evan tidak tahu apa yang terjadi dengan keputusan


yang ia ambil saat ini, semoga saja keluarganya menyetujui keputusan dirinya.


Apalagi Evan tidak bisa berpisah dari Mahda. Bisa gila dia kalau Mahda dengan


pria lain.


"Jika aku pergi, jangan pernah dekat dengan


pria manapun. Karena kamu akan tahu siapa aku sebenarnya nanti." Bisik


Evan membuat Mahda menegang.


Entah kenapa Mahda merasakan sesuatu yang aneh


dalam dirinya. Seakan-akan Evan yang ia kenal hari ini berbeda dengan Evan yang


ia kenal sebelumnya. Apa dia memiliki kembaran?


"Aku gak punya kembaran. Lebih baik kita


kabari yang lain tentang pernikahan kita." Kata Evan membawa tangan Mahda


keluar dari taman.


***


Gemerlap lampu menerangi sebuah gedung mewah di


kawasan kota Bandung. Dengan nuansa pink soft dan putih semua terlihat begitu


cantik.


Wanita berusia 18 tahun dan sang pria berusia sama


tengah berdiri di atas panggung sambil menyalami tamu-tamu undangan. Mereka


Mahda dan Evan. Awalnya Evan pikir keluarganya akan menolak keputusannya ternyata


tidak. Ayahnya hanya meminta Evan menjalankan janjinya dulu dan Evan


menyanggupi. Selama Mahda sudah menjadi miliknya Evan bisa bernafas lega.


"Selamat ya Mahda, semoga cepet dapat


baby."  Kata Cheryl yang datang bersama anak laki-laki di


gendongannya.


"Amin. Semoga kakak cepat dapat pengganti


Alex." Balas Mahda.


Cheryl tersenyum. "Tidak bisa Mahda. Hanya dia


yang mau aku jadikan suami. Aku tidak mau anakku memiliki ayah baru." Ucap


Cheryl.


"Kalau gitu semoga Alex berubah


nantinya." Doa Mahda.


"Mau gendong Alex dong." Kata Mahda


membuat Cheryl memberikan gendongannya pada Mahda. Anak berusia satu tahun


lebih itu begitu riang dalam gendongan Mahda, bahkan Evan yang melihat pun


senang.


"Aku ambil makan dulu deh, titip ya."


Kata Cheryl.


Belum juga Cheryl turun dari panggung suara


teriakan seseorang membuat Cheryl menghentikan langkahnya.


"Mahda!!"


"Alex?!" Ucap Mahda dan Cheryl bersamaan.


"Wah, ternyata si cupu ini menikahi kamu?


Setelah sekian lama menunggu dia akhirnya menikahi kamu? Hahaha... Sialan!"


Teriak Alex.


Evan tidak tahu kenapa Alex bisa berada di sini.


Yang ia tahu waktu bebas Alex masih lama. Hanya satu yang pasti, yaitu kabur


dari penjara.


Alex melangkahkan kakinya memasuki lokasi


pernikahan. Semua anak-anak FEGA dan Galmoners merasakan perasaan aneh.


Perasaan di mana mereka akan kehilangan seseorang. Entah siapa, tapi perasaan


itu begitu nyata di rasakan oleh ke-enam anak muda tersebut. Bahkan Evan pun


merasakan hal yang sama.


"Tidak ada satupun yang boleh memiliki Mahda


selain gue! Jika Mahda tidak bisa gue miliki maka orang lain pun tidak bisa gue


miliki! Karena selamanya Mahda harus milik gue!"


Bentakan Alex membuat semua orang menatap Alex


tajam. Bahkan Fano sudah menghubungi seseorang yang bisa membantu mereka.


Namun, semua sia-sia saat suara tembakan bertubi-tubi terdengar.


Dorr....


Dorrr...


Dorrr.....


Satu yang pasti. Hari itu adalah hari yang paling


mereka benci. Hari di mana seseorang yang mereka kenal harus pergi dari dunia


ini dengan sejuta amanah. Dengan sejuta memori dan pastinya mereka tidak akan pernah kembali. Selain hanya sebuah ingatan yang tak pernah terlupakan.


Sebuah cerita yang menutup perjlanan serta perjuangan panjangnya menemukan segala cita dan cinta. Sebuah cerita yang memang bukan negeri dongeng yang harus berakhir happy ending. Hanya sebuah cerita yang mengajarkan jika kematian akan selalu menanti.


TAMAT


 


❤️❤️❤️


JAdi ada perbedaan ya kalu di versi paling lamanya aku gak pernah kasih Extra Part dan berakhir selalu di sini. Karena menurutku tidak harus semuanya berakhir happy kala itu. Terima kaish manteman, semoga versi lama bisa menghibur kalian di saat aku merevisi cerita yang barunya. Terima kasih jangan lupa follow ig @sweetchocopink see you byebye. Kalau mau ada yang mau ngobrol-ngobrol sama aku silakan gabung di group ya. Kala senggang aku akan balas obrolan kalian. Terima Kasih.