Galmoners

Galmoners
Galmoners old Vers 1



Dear All Readers,


Aku lagi revisi dari part awal sampai dengan akhir. Namun, baru sampai part 4 aku mengalami masalah terus. Saat tulisan aku serahkan dan saat aku lihat tulisannya hilang berubah jadi kode-kode yang aku gak ngerti. Nah aku takut di kalian juga sama seperti itu. Nah untungnya aku punya save data cerita ini, cuma versi yang pertama kali aku buat. Semoga kalian memakluminya. Dan semoga revisian di kalian update. Terima kasih


 


 


**


 


 


GALMONERS


 


 


Mahda Adijaya, gadis cantik ketua


dari Galmoners ini. Harus melewati masa gagal move on nya bersama dengan tiga


sahabatnya yang lain. Putus dengan kakak kelas mereka membuat Mahda dkk harus


belajar move on. Sampai musuh bebuyutan mereka mendekat. Entah apa yang terjadi


dengan Mahda dkk dan musuh bebuyutannya itu.


 


 


Mungkinkah musuh bebuyutan Mahda


dkk bisa membantu mereka move on atau Mahda dkk memilih cara lain untuk move


on? Semua jawaban ada di tangan mereka.


 


 


***


 


 


PROLOG


 


 


GALMONERS, sebuah group yang


berisi empat orang gadis cantik dan kaya. Bukan hanya kecantikan dan kekayaan


saja yang mereka miliki, melainkan kecerdasan dan kemurahan hati mereka membuat


siapapun jatuh hati, termasuk group hits laki-laki di sekolah mereka.


 


 


Karena alasan gagal move on, Mahda


Adijaya membangun group ini bersama dengan ketiga sahabatnya. Awalnya memang


group ini di buat karena mereka gagal move on dengan kakak kelas mereka di


Starlight. Tapi, seiring berjalannya waktu semua berubah. GALMONERS berubah


menjadi sebutan biasa untuk memanggil keempat gadis cantik tersebut.


 


 


Lalu, apa yang terjadi dengan


keempat gadis cantik tersebut. Akankah mereka memilih jalan mereka sendiri atau


mereka memilih batuan dari anak-anak hits? Semua jawaban ada di tangan mereka.


Apapun yang mereka pilih, itulah yang harus mereka pertanggungjawabkan.


 


 


❤️❤️❤️


 


 


Perkenalan


 


 


***


 


 


Di sebuah kafe ternama di kawasan


dago, Mahda Adijaya bersama dengan ketiga sahabatnya sedang menikmati keindahan


alam kota Bandung sambil berbincang masalah MOS yang sekolah mereka adakan.


 


 


Karena Mahda dan sahabatnya


anggota OSIS. Mereka terjebak di kafe ini, karena harus menunggu anggota lain


untuk membicarakan masalah lusa.


 


 


Sebelumnya, Mahda akan


memperkenalkan kalian kepada tiga sahabatnya. Sahabat yang Mahda miliki sejak


ia duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).


 


 


Pertama, Fresa Aditya. Gadis


cantik yang pendiam, judes, dan tomboy. Walaupun sikap Fresa seperti itu,


kadang dia bisa menjadi orang paling bijak di antara mereka berempat.


 


 


Kedua, Fanisa Wijaya. Gadis cantik


yang ramah, ceria dan asal jeplos. Namun, dari semua sikap yang Fanisa miliki,


ia yang paling peka terhadap sahabat-sahabatnya. Ah, jangan lupakan Fanisa dan


Fresa pecinta K-Pop.


 


 


Terakhir, Kiki Rahardja. Gadis cantik


yang terkenal akan kesopanannya, baik hati, lembut dan kadang ia bisa menjadi


kakak yang baik untuk yang lain. Ya, bisa dikatakan Kiki lebih tua dari mereka


beberapa bulan. Gadis cantik ini sangat suka serial Riverdale. Bukan hanya


Kiki, tapi Fresa juga sangat menyukai serial yang menegangkan ini.


 


 


Walaupun banyak perbedaan yang


mereka miliki, tidak jadi penghambat dalam hubungan persahabatan mereka.


Apalagi ada hal yang sama dari mereka. Yaitu, mereka sangat mencintai dunia


kepenulisan. Tak hanya itu saja mereka juga berprestasi di bidangnya


masing-masing. Membanggakan? Pasti. Karena bagi mereka kecantikan bukanlah hal


terpenting di dunia kejam ini. Tidak memiliki otak dan kreativitas, kalian akan


terbuang. Itulah hidup.


 


 


Kini, Mahda dan sahabatnya sedang


asik berbincang apapun sambil menunggu kedatangan anggota OSIS lain. Sampai...


 


 


"Kalau tau lama mending gak


usah datang! Mending kita have fun dari pada nunggu keempat cowok nyebelin


itu!"kata Mahda kesal. Selain ceria, ramah, dan ngeselin. Mahda juga terkenal


sebagai orang yang tidak sabaran. Ya, seperti sekarang ini. Sudah setengah jam


mereka menunggu, tidak ada tanda-tanda kedatangan OSIS yang lain. Jika Mahda


bisa menghancurkan kafe ini, dia akan hancurkan sekarang.


 


 


"Setuju. Dari pada nunggu gak


jelas lebih baik gue nonton drakor. Apalagi BTS baru come back!"balas


Fanisa antusias.


 


 


"Yes, dan gue suka Rap


monster, sama Jin. Ah! V juga"kata Fresa sambil bertopang dagu.


 


 


"Setuju! Jin di MV terbaru


ini, lebih ganteng bang---"


 


 


"Sorry girls! Tadi ada insiden."potong


cowok tampan yang diikuti oleh ketiga sahabatnya.


 


 


"It's okay, kalian bisa duduk


lalu pesan,"kata Kiki ramah membuat cowok tersebut langsung duduk di


tempat yang kosong, begitupun dengan ketiga sahabatnya.


 


 


Cowok yang memotong ucapan Fanisa


adalah Fano Malik. Cowok tampan, ketua dari geng FEGA. Ya, geng anak-anak


tampan, bad boy, and smart? Kenapa smart? Ya, memang mereka memiliki kecerdasan


masing-masing. Bahkan mereka sering beradu kecerdasan dengan geng Mahda.


 


 


"Aduh Mahda makin cantik aja


deh, udah move on belum? Kalau udah akang siap mengantri."celetuk cowok


tampan, putih, dan tengil. Dia Evan Laksono, ketua futsal di Starlight SHS.


 


 


"Lu ngelindur? Sadar


woi!"balas Mahda ketus


 


 


"Gue yakin, kalian bakal


jadian dalam waktu dekat ini! Dan Fresa, apakah ada waktu setelah acara


ini?"tanya pria tampan, berkacamata dan manis. Dia Gibran Pahlevi. Wakil


ketua OSIS yang terkenal dengan tingkahnya yang selalu mengganggu Fresa.


Sialnya lagi, Gibran ini anak dari sahabat karib orang tua Fresa. Makanya jika


Fresa kemanapun, pasti orang tuanya akan bertanya pada Gibran. Apalagi sejak


Fresa putus, keluarganya jadi lebih over kepada Fresa.


 


 


"Ada,"balas Fresa ketus.


 


 


"Really? Tapi nyokap lu


bilang, gue harus bawa lu pergi setelah ini. Menyusul kedua orang tua kita yang


sedang berbincang penting,"kata Gibran menyeringai.


 


 


"Kalau tau jawabannya gak


usah tanya, bodoh!"balas Fresa sengit


 


 


"Udah deh jangan adu mulut


lebih baik kita bahas buat kegiatan besok"kata pria tampan yang duduk di


sebelah Evan. Dia Arkan Hutama, pria bijaksana, tegas, dan baik hati ini adalah


ketua OSIS kebanggaan Starlight SHS. Gagasan yang di keluarkannya selalu saja


membuat Starlight lebih baik dari masa sebelumnya.


 


 


"I know pak ketu,"balas


Evan. Membuat yang lain mulai fokus.


 


 


"Jadi gini, kita di beri dua


hari untuk perkenalan, dan sisanya sekolah akan mengadakan camping seperti


biasa. So, diantara kalian semua ada yang ingin memberi masukan untuk acara


ini?"tanya Arkan


 


 


"Kalau perkenalan sekolah itu


wajib, gimana kalau kita main game?"tanya Fanisa.


 


 


"Game? Can you


explain?"tanya Arkan.


 


 


"Jadi gini, kita gunakan


semua lantai yang ada di sekolah. Pertama, mereka harus cari pin OSIS yang kita


sembunyikan. Kedua, mereka harus memecahkan semua teka teki yang akan di


berikan setiap post. Terakhir, tim terbaik akan mendapat hadiah.


Gimana?"tanya Fanisa.


 


 


"Boleh. Setelah itu


apa?"tanya Fano


 


 


"Emm... Gimana kalau geng gue


tampil? Ya, sekalian memperkenalkan kepada mereka jika Starlight SHS juga punya


band ternama,"balas Mahda.


 


 


karena mau cari brondong kan?"tanya Fresa horor.


 


 


"No"


 


 


"What?!"


 


 


Ucapan Mahda dan Evan bersamaan


membuat keduanya menarik perhatian pengunjung lain.


 


 


"Ish! Malu-maluin aja


kalian,"kata Kiki.


 


 


"Okeyy, boleh lah kalian


tampil. Jangan pakai pakaian terbuka!"ancam Arkan.


 


 


"Ya kali,"balas Fresa


ketus.


 


 


Melihat Fresa yang bad mood


membuat Mahda tahu jika sahabatnya masih trauma.


 


 


"Percaya deh Fre, ini


terakhir kita tampil. Gue janji."ucap Mahda.


 


 


"Guys jangan bicarakan di


sini,"kata Kiki saat melihat keempat cowok menatap mereka penuh perhatian.


 


 


"Okey, kita perjelas aja ya.


Hari pertama perkenalan sekolah, kedua game dan Galmoners tampil. Sisanya


camping. Ada yang mau di bicarakan lagi?"tanya Fanisa.


 


 


"Gak deh Fan, lagi pula kalau


camping urusan senior"balas Arkan.


 


 


"Ouhhh ya, siapin hati yang


masih gagal move on. Karena mantan kalian akan ikut andil tampil


nanti,"kata Evan sambil menunjukkan chatnya dengan ketua OSIS sebelumnya,


Alex. Atau bisa dikatakan cowok tersebut adalah mantan Mahda.


 


 


"Sorry doi gue udah move on,


tau kalau doi lu"balas Gibran


 


 


"Udah deh kalian! Move on


atau belum bukan urusan kalian. So, jangan ikut campur!"kata Kiki


 


 


"Maafin temen-temen gue ya


ki, mereka suka jail,"ucap Arkan.


 


 


"Hemmm...."balas Kiki


 


 


"Okeyy pak ketu, setelah ini


apalagi? Apa anggota yang lain sudah di kabari?"tanya Fresa.


 


 


"Anak-anak sedang


mempersiapkan semuanya di sekolah. Bisa kita ke sekolah aja? Biar lebih enak


pembagian timnya,"kata Arkan.


 


 


"Boleh deh, lagian kalau di


sini kesannya rasis banget."kata Fanisa


 


 


"Setuju, kalian bawa


kendaraan?"tanya Fano


 


 


"Fanisa bawa mobil dan cukup


untuk kita berempat. Kalau lu mau modus kasih tumpangan jangan ke kita. Yuk


girls,"balas Fresa dingin


 


 


"See? My girl selalu


mempesona"kata Gibran menyusul Mahda dan sahabatnya, Sedangkan ketiga


orang yang lain? Hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah laku Gibran.


 


 


"Okeyy, Fanisa. Hati-hati


bawa mobilnya. Jangan teringat mantan. Nanti kesayangan gue


kenapa-kenapa,"kata Gibran


 


 


"I know. Lagi pula gue sama


dia udah pisah daerah. So, jangan bahas mantan-mantan kami oke? Karena itu


mengganggu."balas Fanisa.


 


 


Fresa memutar matanya saat ia


melihat Gibran sudah duduk di motor sportnya.


 


 


"Sudah puas liatin sahabat


kecilnya?"tanya Fanisa meledek


 


 


"Apaansi!"balas Fresa


ketus


 


 


Membuat ketiga gadis cantik di


sana tertawa. Ya, mereka sangat tahu jika Fresa sempat menyukai teman kecilnya


itu. Namun, ya gitu. Fresa takut jika dia jujur dengan perasaan semua akan


berubah. Dan alasan Fresa berpacaran karena ia ingin lepas dari Gibran namun


tidak bisa. Dan terjadilah insiden yang membuat Fresa trauma.


 


 


Jika Fresa trauma dengan cowok,


maka Mahda kebalikannya. Ketua Galmoners itu memang sulit untuk move on tapi


dia tidak menjaga jarak dengan laki-laki seperti halnya Fresa. Lain dengan


Fanisa, putus secara baik-baik membuat Fanisa berteman dengan mantanya. Bahkan


jarak jauh tidak menyurut keduanya untuk saling bertegur sapa, sampai akhirnya


Fanisa memutuskan menjauh saat mantannya memiliki kekasih. Berbeda dari ketiga


sahabatnya, Kiki yang ditinggal tunangan kekasihnya, harus bisa berpikir


positif atas semua yang terjadi pada mereka. Dan Kiki beruntung jika mereka


sudah beda negara, jadi dia bisa menata hatinya tanpa harus teringat masa


lalunya.


 


 


Kini, keempat gadis cantik


tersebut memasuki kawasan sekolah mereka. Teman-teman yang lain sudah menunggu


mereka.


 


 


"Sorry, tadi ada yang bilang


gue gak boleh ngebut jadi you know guys"kata Fanisa.


 


 


"It's okay Fan. Kita langsung


aja ya"kata anak OSIS lain.


 


 


Mereka pun langsung menjelaskan


apa yang tadi mereka bahas di kafe. Bahkan Mahda dan sahabatnya juga meminta


maaf tidak mengikut sertakan mereka dalam perbincangan, karena pada dasarnya


memang itu keinginan dari Mahda yang awalnya enggan ke sekolah. Setelah


mendengar jawaban maaf dari teman-temannya. Arkan selaku ketua OSIS langsung


membagikan lembar kertas yang berisi nama kelompok untuk lusa.


 


 


Mahda dan sahabatnya tertawa saat


melihat nama kelompok yang ada di kertas yang mereka pegang.


 


 


"Are you kidding me?! Lu buat


gue satu kelompok sama...."


 


 


"Ini udah keputusan final


tadi. So, terima aja"potong cowok yang sangat Fresa benci, Bian. Cowok


brengsek yang hampir melecehkan Fresa saat ia selesai tampil beruntung ada


Gibran saat itu, jika tidak?! Fresa tidak tau apa jadinya dia. Awalnya Fresa


memang salah mempermainkan Bian dan memutuskannya begitu saja. Tapi semua itu


ia lakukan karena keluarganya tidak menyukai Bian dan terbukti dengan sikap


brengseknya.


 


 


"Sudahlah sayang, ada aku di


kelompok kamu. Ouh ya, Ar! Gue sama Fresa izin ya. Mau on the way. Duluan


semuanya"pamit Gibran.


 


 


Lepas kepergian Fresa dan Gibran.


Mahda dan yang lain bisa melihat tatapan kebencian dari Bian kepada Fresa.


 


 


"Kalau lu berniat nyakitin


Fresa, gue gak segan hancurin muka lu detik ini juga"ancam Fanisa.


 


 


"Lu gak bisa sentuh gue


Fanisa Wijaya"balas Bian sinis.


 


 


Melihat suasana panas, Arkan


langsung mengambil alih dan mulai meminta teman-temannya yang lain untuk


melanjutkan tugas mereka. Sedangkan Mahda dan kawan-kawannya sudah meninggalkan


pelataran sekolah. Inilah alasan kenapa Mahda tidak mau ke sekolah, bukan


karena dia akan ketemu Alex tapi Bian lah masalahnya. Makanya tadi Mahda minta


Arkan dan sahabatnya ke kafe.


 


 


"Pokoknya kita harus jagain


Fresa! Gue bersumpah kalau Fresa kenapa-kenapa, si Arkan akan dapat


balasannya"kata Kiki. Fanisa dan Mahda mengangguk paham. Mereka yakin hari


berat akan menyambut mereka. Dan mereka tidak akan membiarkan orang lain


menyakiti salah satu dari mereka, termasuk Bian. Karena mereka sudah seperti


saudara. Saling mendukung dan melindungi satu sama lain.


 


 


❤️❤️❤️