
Extra Part - 1.1
***
Beberapa bulan sebelum pernikahan Mahda dan Evan
Galmoners malam ini tengah mengadakan rapat dadakan bersama dengan keempat lelaki yang sedari tadi sibuk dengan dunia mereka sendiri. Masih di kafe yang sama. Bahkan tanpa mereka sadari, tempat duduk yang mereka tempati masih sama. Seakan pertemuan ini memang sudah terencanakan oleh takdir.
Apalagi menyambut bulan Ramadhan membuat mereka semakin bersemangat dalam berbagi hal kebaikan pada yang lain. Entah kenapa Galmoners selalu bisa mengejutkan orang-orang di sekitarnya.
"Jadi gini guys! Gue mau selama puasa ini, kita ngadain beberapa acara gitu. Misalnya kaya santunan, buka bersama, sahur bersama atau hal apapun yang berhubungan dengan Ramadhan. Nah gue mau kalian semua di sini ikut serta, mengemukakan ide kalian," ujar Mahda.
"Maksud kamu sayang?" Evan selalu saja menyebalkan setiap saat. Tidak tahu saja jika Mahda sudah mengeluarkan taringnya sebentar lagi.
"Evan serius untuk malam ini saja! Aku tidak mau jadi sasaran empuk Kakaknya Fresa karena bawa kabur adiknya malam-malam!" Semprot Mahda.
"Santai aja, kakak gue lagi minggat bareng doinya."
"Really? Kakak lu kapan nikah?"
Fresa memutar kedua bola matanya. "Miror please. Katanya mau serius." Sindir Fresa.
"Ouh ya lupa! Lanjut guys, gue butuh suara kalian semua." Mahda kembali bersemangat seperti awal.
"Sebenarnya gue udah buat rencana gitu sebelum lu nyuruh kita ke sini." Jelas Arkan membuat keempat gadis cantik itu mendengarkan dengan seksama.
"Apa?" Tanya Kiki penasaran, Karena Arkan sedari tadi hanya diam saja tanpa mau melanjutkan niatannya."
"Jadi akan ada beberapa event yang akan kita mulai saat puasa nanti. Pertama, kita akan adakan lomba membaca Al-quran, sholawat, marawis dan kawan-kawannya. Kedua, lomba menulis essay, puisi, dan cerpen bertema Ramadhan. Ketiga, penggalangan dana dengan melibatkan kreativitas mahasiswa. Terakhir, sahur bersama dan buka bersama dengan anak-anak yatim piatu dan setiap nahasiswa dan panitia yang ikut serta, wajib membawa hadiah sebagai kenang-kenangan mereka. Gimana?" Arkan bertanya pada semua audience yang mendengarkan penjelasannya dengan serius.
"Setuju! Kapan kita mulai?" Galmoners menjawab dengan antusias. Begitupun dengan sahabat Arkan lainnya. Mereka sama-sama bersemangat demi kelancaran nanti.
"Senin depan. Gue mau kalian semua sudah siap dengan apa saja yang kita butuhkan selama event berlangsung." Arkan sangat tegas malam ini, membuat Kiki semakin jatuh hati kepadanya.
"Tapi Ar, apa semua keburu dalam minggu ini?" Tanya Gibran.
"Keburu. Gue bakal bagi kalian tugas masing-masing dan setiap tim harus melaporkan apapun pada gue nantinya. Supaya gue bisa melihat progres kalian semua sampai dimana. Mengerti?!" Arkan menatap satu-satu wajah di sekitarnya. Takut-takut ada yang menolak usulan Arkan atau bahkan menganggap Arkan sok mengatur mereka.
"Siap mengerti!"
Arkan mulai fokus membagi kelompok, sedangkan yang lain menunggu dengan harap cemas, berharap mereka bisa satu kelompok atau sebaliknya.
Tapi bagi Kiki Arkan malam ini sangat keren, membuat ia tidak bisa mengalihkan pandangan sedikit pun darinya. Wajar lagi jatuh cinta, jadi dunia kelam pun seakan terasa indah baginya.
"Cek HP kalian, gue sudah kirim nama-namanya dan gue harap ketua tim harus membantu anggotanya dalam hal ini. Mengerti?"
"Siap mengerti."
"Bagus. Gue tunggu laporan kalian semua." Seru Arkan.
Mereka semua mulai sibuk menyelesaikan atau memahami apa yang Arkan jelaskan di group, sampai akhirnya mereka keluar dari kafe.
Brakkkk...
"Main pergi aja Mbanya! Minta maaf. Udah buat celaka teman gue, gak ada sopan-sopannya ya." Mahda menarik tangannya.
"Ouh? Nabrak ya? Saya gak liat," ujar si perempuan sambil menatap Fresa dengan sinis.
"Gak liat biji mata lu! Ini temen gue hampir kebentur sama meja, tapi situ gampang banget bilang gak liat! Mata lu kemana Mba!" Fanisa mengeluarkan taringnya. Ia tidak bisa melihat Fresa hampir terluka. Apalagi perempuan dihadapan mereka bukanlah orang yang merek kenali.
"Mata saya ada. Mungkin temen kamu aja yang terlalu lemah." Sindinya.
"Lemah anda bilang? Coba deh ikut saya dulu." Kiki menarik perempuan itu untuk mengikuti dia keruangan CCTV. Jika perempuan ini bilang tidak melihat Fresa, maka dia akan minta maaf atas perlakuan sahabat-sahabatnya tapi jika kebalikannya, maka Kiki mau perempuan ini meminta maaf atas tindakannya yang sembrono itu.
"Berikan rekaman CCTV." Arkan memerintahkan beberapa penjaga di depannya. Arkan dan sahabatnya yang lain sangat tahu jika perempuan tanpa nama itu, sengaja menyenggol Fresa. Ah bukan menyenggol mungkin sedikit mendorong. Karena Arkan melihat tangan perempuan itu kemana tadi.
Mereka semua menyaksikan rekaman CCTV dengan malas. Bahkan Gibran yang sedari tadi hanya diam dengan menahan segala emosinya. Seketika berkeinginan mengeluarkan segala emosinya sekarang. Namun, Fresa yang ada dalam dekapannya malah menggelengkan kepalanya.
"Lain kali kalau mau cari masalah pikir-pikir dulu Mba. Kekasih saya tidak mengenal anda tapi anda benci dengannya. Aneh."
***
Gibran ingat siapa wanita itu! Dia wanita yang sama yang pernah menabrak Fresa saat mereka tengah sibuk mengurusi kegiatan selama Ramadan yang diadakan kampus mereka. Tapi kenapa wanita itu datang lagi? Malah melakukan hal yang lebih parah dibandingkan yang dulu. Ingin sekali bertanya, tapi Fresa sudah tertidur. Mungkin karena kelelahan serta luka yang dia rasakan, membuatnya memilih tidur lebih awal.
"Jika kedatangan lu mau bertanya masalah tadi siang, tenang saja. Gue sudah memprosesnya. Sekarang wanita itu masih di kantor kepolisian untuk ditindak lanjuti perihal kejadian tadi. Gue juga minta sama lu dan adik gue buat mengingat siapa perempuan ini." Jelas Faza.
"Waktu itu kita pernah ada acara kampus, nah si cewek ini juga sama pernah nabrak si Fresa. Dan gue pikir selain di situ gak ada lagi kita ketemu sama dia." Gibran mengutarakan apa yang ada di kepalanya.
"Tuh anak, gak bakal nekat nyerang Fresa kalau bukan ada hal lain Gib. Sekarang lupikirin aja nih ya, dia nyerang adik gue udah dua kali. Kalaupun mereka orang gak kenal pasti saat pertama dia akan minta maaf. Tapi gue yakin tuh orang gak minta maafkan? Jadi, gue berpikir kalian pernah ketemu sama dia atau lu pernah ketemu sama dia sampai buat dia sangat terobsesi sama lu," ucap Faza.
"Sebentar gue pikirkan dulu. Gue gak pernah nolong orang kecuali..." Gibran ingat, dia pernah menyelamatkan seorang perempuan. Cuma waktu itu si perempuan memakai kacamata besar seperti anak nerdy gitu. Tapi kalau di pikir-pikir persis sama bentukan wajahnya dengan perempuan yang nabrak Fresa.
"See? Lu nolong diakan. Tapi lu gak sadar. Sekarang gini aja deh, besok lu coba temuin dia. Takutnya nih ya, dia bakal ngancam keselamatan adik gue lagi. Gue si bakal tetap proses kasus ini Gib. Walaupun tuh perempuan bakal keras. Gue bakal lebih keras." Wajar bukan Faza melindungi adiknya. Apalagi kejadian tadi hampir saja melukai Alex. Makanya wajar adiknya terluka demi melindunginya. Sebagai kakak juga Faza akan melakukan apapun yang dia bisa.
"Istirahatlah dulu Gib. Kita bahas besok pagi gimana?"
"Boleh deh, sekalian gue juga mau lihat tuh manusia."
"Boleh."
Walaupun Gibran tidak bisa bertanya pada Fresa. Tapi, dia menemui beberapa bukti yang dia sadari sendiri. Sekarang, tinggal bagaimana anak buahnya menemukan data lengkap wanita itu di masa lalunya. Jika dia sudah mendapatkannya dia akan menindak lanjuti kejadian siang tadi.
"Tidak ada satupun yang boleh melukai Fresa."
💗💗💗
Buat kalian yang baik hati dan tidak sombong, follow ig atau platform kepenulisanku yang ada dengan nama Sweetchocopink. Aku juga menulis di orange dan kuda poni. Terima kasih.
Kalau mau chat sama aku bisa dm Ig aku, nanti ku balas secara berkala.
Terima kasih dukungan kalian semuanya. Tanpa kalian cerita ini hanyalah butiran debu ðŸ˜
See you soon and the next extra part. 🥰