Galmoners

Galmoners
16



Mak lampir!


***


Tidak terasa sudah memasuki akhir bulan, itu


tandanya semester ganjil akan segera berakhir. Dan kini, Fresa bersama dengan


sahabatnya tengah asik berbincang masalah liburan semester yang biasa mereka


rencanakan. Mengingat liburan, Fresa jadi ingat saat di mana Mahda ingin sekali


berlibur ke Paris. Saat itu mereka sudah buat planning untuk akhir tahun ini,


tapi nyatanya semua gagal total. Haruskah Fresa marah dengan Alex karena sudah


mencuci otak sahabatnya?


"Gue ke toilet." Kata Fresa membuat


Fanisa dan Kiki langsung menatapnya.


"Gue sendirian aja. Ouh ya, pesenin gue


makanan seperti biasa. Dan jangan berbau telur." Ucap Fresa membuat


keduanya mengangguk.


Fresa dan telur adalah hal yang tidak bisa bersama.


Sama kaya Fresa dengan Gibran, gengsi Fresa lah yang membuatnya mereka sulit


bersama. Padahal jika Fresa mengurangi atau membuang gengsinya pasti Fresa


sudah bisa merasakan kebahagiaannya saat ini.


Fresa melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah


kamar mandi. Entah kenapa saat ini Fresa merasakan perasaan asing. Perasaan di


mana dia selalu di awasi seseorang. Entah alasannya apa, yang pasti itu sangat


mengganggunya.


Saat belokan ke arah kamar mandi, matanya tidak


sengaja melihat sosok Cheryl bersama dengan antek-anteknya. Entah apa yang


mereka lakukan di sana, yang pasti suatu hal buruk akan terjadi. Terlihat


sangat jelas jika mereka membicarakan hal serius.


"Well.... Well... Well... Mak lampir memang


sangat cocok berada di kamar mandi, karena memang tempat kaya gitu sangat cocok


untuk sampah macem lu." Ucap Fresa dingin. Entah keberanian dari mana,


kata-kata tersebut begitu saja keluar dari mulutnya. Tapi, Fresa tidak menyesal


melakukan hal itu. Karena cewek-cewek di depannya telah mengganggu kehidupan


Fresa dan dia sangat tidak menyukai hal tersebut.


"What?! Jaga mulut lu ya! Gue bisa aja bilang


ke pihak sekolah untuk mengeluarkan lu dari sini! Jangan macam-macam sama gue!"


Balas Cheryl geram.


"Apa yang maksudnya macam-macam? Bukannya


kalian yang sedang berbuat macam-macam?" Tanya Fresa sinis.


"Fresa Aditya. Apa lu gak sadar posisi lu?


Kita bertiga dan lu sendiri. Gue bisa lakukan apapun untuk melukai lu,


so...?" Ucapan gantung Cheryl membuat senyuman sinis terbit di wajah


Fresa.


"Gue gak takut sama kakak kelas macem kalian!


Dan gue kasih tahu! Gue bukan lu yang bersembunyi di balik ketek pacar lu yang


*** itu. Dan gue juga bukan lu yang selalu berlindung di bawah antek-antek lu.


Dan sekali lagi gue juga bukan lu yang suka pamer kekayaan keluarga! Karena gue


tahu apa yang ada di dunia ini sementara, termasuk lu dan duit yang lu


punya." Kata Fresa meninggalkan Cheryl yang terdiam di belakangnya.


"Ah! Satu lagi, hati-hati sama ucapan lu tadi.


Karena biasanya penguasa itu selalu jatuh kapan saja. See ya Mak lampir!"


Lanjut Fresa membuat Cheryl geram. Baru saja Fresa ingin memasuki toilet


seseorang menariknya dan kejadian sangat cepat saat sebuah tangan menyentuh


pipi cantiknya.


Plakkk...


"Sakit?! Gue bakal bikin yang lebih sakit dari


ini! Gue bersumpah gue akan menghancurkan keluarga lu dan semua sahabat lu. Dan


satu lagi, yang sedikit lagi hancur itu lu! Karena Gibran tidak akan sabar jika


menunggu cewek jual mahal kaya lu!" Bentak Cheryl.


"Cheryl.. Cheryl... Lu emang bodoh ya? Gue


bukan Mahda yang gampang lu hasut dan jika lu gak tau apapun tentang gue lebih


baik diam, dari pada lu malu nantinya." Balas Fresa.


Semua orang memang tidak tahu hubungannya dengan


Gibran. Biarkan hanya beberapa orang saja yang mengetahui rahasia yang ia


sembunyikan selama ini.


"Malu? Gak lah! Sekarang mikir! Setelah UAS


Gibran pergi ninggalin lu gitu aja. Apa itu namanya sayang? Gak! Dia sudah muak


sama cewek kaya lu!" Ucap Cheryl sinis.


Fresa ingat saat di mana Gibran meninggalkan


dirinya tiba-tiba setelah menerima telpon. Entah apa yang terjadi, Fresa sangat


yakin jika hal buruk terjadi padanya.


"Bagus dong kalau dia muak. Jadi lu bisa


lanjutkan rencana lu membuat semua anak FEGA menjauh dari Galmoners seperti


dulu! Seperti saat lu mengirim sahabat-sahabat si *** untuk deketin gue dan


yang lain. Untungnya gue tahu lebih cepat. Sayang ya rencana lu gagal di


gue." Balas Fresa dengan seriangainya.


"Cewek sialan!!! Gue emang nyuruh semua sahabat


Alex untuk main-main sama sahabat lu. Tapi terbukti bukan? Jika sahabat lu


semua itu bodoh dan gagal move on! Menyedihkan!" Sindir Cheryl.


Suasana semakin panas. Fresa dan Cheryl tidak sadar


jika ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka di balik pohon.


"Menyedihkan? Gak tuh! Buktinya di saat


sahabat gue di jahatin sama lu dan cowok sialan itu mereka masih baik-baik


saja. Yang menyedihkan itu lu! Lu tuh terlalu takut tersaingi! Dan lu tahu?


Orang yang lu suruh buat deketin gue sama sahabat gue jatuh cinta dengan


sendirinya, sampai lu membuat skenario mereka semua pergi dan menyuruh Bian


melakukan hal menjijikan. Menyedihkan bukan?" Balas Fresa malas.


"Gue emang menyedihkan tapi hidup gue masih


panjang gak kaya lu! Lu akan mati sebentar lagi. Entah itu di tangan gue


ataupun di tangan dia. Karena lu pembawa sial untuk kehidupan gue dan


dia." Ujar Cheryl.


"Kematian gue di tangan sang pencipta bukan di


tangan Mak Lampir macem lu!" Balas Fresa.


"Lu tuh emang harus di kasih pelajaran ya biar


semua orang tahu kalau gue lah penguasa di sini! Pegang dia!" Perintah


Cheryl kepada dua anak buahnya yang sejak tadi diam mendengarkan perdebatan


Cheryl dan Fresa.


Fresa tersenyum sinis, saat ia merasakan tangannya


di pegangi oleh kedua orang.


"See? Lu tuh terlalu pengecut!" Bentak


Fresa.


Emosi Cheryl semakin tersulut. Ia menjambak rambut


Fresa membuat gadis cantik itu meringis kecil, bukan karena tarikan rambut di


kepalanya tapi karena rasa sakit lain yang tiba-tiba menyerang dirinya. Fresa


kesal jika penyakitnya kambuh saat ini. Ia harus bisa melawan mereka!


***


Di kantin Kiki dan Fanisa tengah duduk menunggu


kedatangan Fresa. Namun sudah setengah jam berlalu Fresa juga belum kembali.


Sampai...


"Fresa mana? Kok cuma kalian berdua?"


Pertanyaan seseorang membuat keduanya mengangkat kepalanya.


"Masih berani lu muncul di hadapan gue hah?!


Setelah meninggalkan Fresa lu masih berani menanyakan keberadaannya?! Sialan lu


emang!" Omel Fanisa membuat geng FEGA langsung menatap Fanisa tajam.


"Yang berhak tahu alasan gue melakukan itu


adalah Fresa mana dia?!" Balas Gibran dingin.


"I know. Dia ke kamar mandi." Ujar Fanisa


membuat Gibran melotot.


"Lu gak nemenin dia?! Fanisa ****!" Umpat


Gibran setelah itu dia pergi meninggalkan kantin dengan tergesa-gesa.


"Ada banyak rahasia yang disembunyikan Fresa


ataupun Gibran. Yang kita harus lakukan saat ini diam dan tunggu waktu mereka


menjelaskan apa rahasia yang mereka sembunyikan." Kata Kiki membuat semua


orang yang ada di sana mengangguk paham.


Di tempat Fresa, Cheryl dan antek-anteknya masih


melukai Fresa dengan cara menampar dan menjambak. Bahkan Cheryl sangat puas


saat melihat hidung Fresa mengeluarkan darah. Seperti kerjaannya sudah selesai.


Tanpa Cheryl sadari, sosok di balik pohon merekam


semuanya sambil menahan emosi yang ada di dalam tubuhnya. Ia harus melakukan


ini untuk membongkar semua kejahatan Cheryl.


"See? Lu tuh terlalu lemah bagi gue! Jangan


coba macam-macam sama gue sialan! Karena gue bakal buat lu lebih dari


ini!" Bentak Cheryl membuat Fresa tersenyum sinis.


"Berbahagia lah hari ini, karena suatu saat


nanti gue gak akan biarkan lu bahagia. Gue bukan penguasa di dunia ini, tapi


sang pencipta lah yang akan membalas semuanya." Kata Fresa lirih.


Cheryl tersenyum mengejek ke arah Fresa, saat


tangannya ingin menampar Fresa kembali seseorang menahannya dan hal tersebut


membuat Cheryl terdiam kaku.


"Well... Well... Well... Seorang Cheryl


melukai adik kelasnya? Dasar pengecut! Lepasin tangan kalian berdua sebelum gue


memperlakukan hal yang sama ke kalian semua!" Bentak cowok membuat sosok


yang bersembunyi tersenyum senang dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Wah Gibran Pahlevi! Bukannya lu udah muak


sama ni cewek jual mahal ya? Terus kenapa lu di sini? Ah! Gue tahu apa dia


menawarkan tubuhnya ini?" Tanya Cheryl


"Sorry, Fresa Aditya bukan seperti lu!"


Balas Gibran sambil mendorong kedua anak buahnya. Sedangkan kini, Fresa sudah


ada di dalam gendongannya.


"Gue akan balas lu semua. Tunggu dan liat


nanti!" Ucap Gibran setelah itu dia meninggalkan Cheryl dan yang lain di


sana.


Selama di perjalanan menuju parkiran banyak


anak-anak yang melihat ke arah mereka, namun Gibran hiraukan. Bahkan saat


sahabatnya dan sahabat Fresa melihat Gibran hanya menatap mereka sekilas


setelah itu meninggalkan mereka semua.


Gibran menyesal sekarang, seandainya dia tidak


pergi kejadian ini tidak akan terjadi. Gibran bersumpah akan membalas mereka


semua!


flashback


Saat itu semua murid Starlight sudah selesai


melakukan UAS mereka. Seperti biasanya, Fresa dan Gibran selalu bersama tanpa


terkecuali. Bahkan gosip mereka jadian sudah terdengar jelas di telinga


siapapun. Namun, hari ini ada yang berbeda.


Di saat semua orang sibuk makan di kantin, maka


Gibran sibuk dengan ponsel yang ada di dalam genggamannya. Entah apa yang


sedang dia lakukan, yang pasti sesuatu yang sangat penting.


Fresa tidak berhak menegur ataupun menanyakannya


saat ini, karena Fresa yakin Gibran akan menjelaskannya nanti.


"Ayo pulang!" Ajak Gibran memaksa membuat


Fresa dan yang lain bingung. Namun Fresa tetap mengikuti Gibran. Toh dia juga


ingin cepat-cepat sampai rumah.


Hari ini, Fresa menyadari ada yang berubah dari


Gibran. Entah apa, yang pasti ada rahasia yang dia sembunyikan.


Nada dering ponsel Gibran menarik perhatian Fresa.


Umpatan dan makian di lontarkan Gibran di sana membuat Fresa sedikit takut


dengan sosok Gibran saat ini.


"Turun Ca! Sekarang!" Bentak Gibran


membuat Fresa mau tidak mau langsung turun di tengah jalan. Setelahnya, Gibran


langsung meninggalkan Fresa begitu saja.


Kecewa? Sangat.


Fresa langsung menghubungi Fanisa untuk


menjemputnya. Dan sejak saat itu Fresa selalu memikirkan hubungannya dengan


Gibran. Entah keputusannya benar atau tidak, dia berjanji akan mengatakannya


saat Gibran kembali.


Gibran menengok ke arah Fresa, di sampingnya. Gadis


cantik tersebut hanya diam sambil memandang ke arah luar.


"Ca maaf." Kata Gibran.


"For what?" Tanya Fresa. Kini keduanya


tengah berhenti di tempat di mana Gibran menurunkan Fresa beberapa hari yang


lalu.


"Karena gue ninggalin lu beberapa hari lalu.


Alasan gue meninggalkan lu kemarin, karena Greg berhasil kabur dan beberapa


hari ini bisnis bokap juga bermasalah. Untung ada keluarga lu. Lu percayakan


sama gue?" Pertanyaan Gibran membuat Fresa tersenyum.


"Kenapa gak bilang? Kalau lu bilang gue gak bakal


mikir macam-macam. Gue percaya sama lu Bran." Balas Fresa.


"Terima kasih sayang." Ucap Gibran sambil


memeluk tubuh Fresa. Ah! Betapa sangat merindukannya Gibran saat ini.


"Pelukannya udah dong bro! Iri gue sama


kalian!" Celetukan seseorang membuat Fresa dan Gibran langsung melepaskan


diri mereka dan langsung menatap ke arah belakang.


"Lo?!"


Ucapan keduanya yang bersamaan membuat sosok


tersebut menyeringai.


❤️❤️❤️


Pengganggu!


***


"Lo?!"


Ucapan keduanya yang bersamaan membuat sosok


tersebut menyeringai.


"Gils, ke tampanan gue membuat seorang Fresa


Aditya yang sedang sakit langsung sehat bugar, luar biasa!"


"Gila!" Balas Fresa sinis.


"Gila-gila tapi lu suka kan. Udahlah Fresa


Kalian sudah tahu bukan siapa cowok tengil


tersebut? Yup! Dia Evan Laksono. Entah dia masuk lewat mana yang pasti


keberadaannya membuat seorang Gibran Pahlevi geram.


"Niatnya si gitu Van, tapi melihat muka dia


melas gak tega." Balas Fresa asal.


"Fresa?!" Teriak Gibran membuat Fresa


tertawa dalam hati. Mengerjai Gibran tidak ada salahnya bukan?


"Makanya Bran, jangan suka ninggalin cewek. Lu


gak tau aja, pas lu nurunin Fresa, saat itu juga gue langsung menjemput dia dan


sejak kejadian itu kita--"


"Kita apa?!" Balas Gibran memaksa.


"Kita jad--"


"Lu jadian sama tempe mendoan Ca?! Lu gak


ingat gue masih tunangan lu?!" Balas Gibran panik.


"Terus kenapa kalau gue jadian sama Evan? Gak


masalah bukan? Lu bukan suami gue" balas Fresa membuat Evan tertawa.


"Diem lu tempe mendoan!" Bentak Gibran.


"Ca lu gak serius kan?" Tanya Gibran.


"Serius gak ni Van?" Tanya Fresa malas.


"Serius ajalah. Setelah ini biar dunia tahu


jika Fresa Aditya milik Evan Laksono." Balas Evan dengan seringainya.


"Turun!" Perintah Gibran.


"Bukan kamu sayang." Kata Gibran lembut,


membuat Fresa tersenyum dalam hati.


"Fres putusin tunangan lu sekarang juga! Masa


FEGA cuma dia doang yang bahagia. Gue gak ikhlas!" Sungut Evan.


"Mending lu tutup mulut lu tempe mendoan! Kita


lanjut ke rumah sakit ya." Ucap Gibran sambil mengelus kepala Fresa.


Membuat gadis cantik tersebut menganggukkan kepalanya.


"Nasib jomblo gini amat ya, sabarkan hati Evan


ya Allah." Ucap Evan membuat Gibran mendengus.


Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pergi


menuju rumah sakit, sedangkan Evan menghubungi sahabatnya yang lain untuk


menyusul mereka.


***


Di tempat yang berbeda, Mahda tengah duduk


sendirian di bangku taman. Entah apa yang harus ia lakukan setelah mendengar


semuanya. Akankah ia membongkar semuanya atau malah diam seperti biasanya?


Mahda mengirimkan rekaman tersebut ke Evan, entah


kenapa saat ini Mahda merasa hanya Evan yang bisa membantunya, walaupun Evan


tidak merespon pesannya, Mahda tetap bersyukur karena Evan masih sudi membaca


pesannya saat ini.


"Boleh saya duduk?" Tanya seorang pria.


"Silakan." Balas Mahda dengan senyum


manisnya.


"Sendirian aja?" Tanya pria tersebut.


"Gak kok. Ada sang pencipta yang menemani


saya." Balas Mahda.


"Ah! Iya juga." Balas pria itu kikuk.


"Kamu kenal Fresa Aditya?" Tanya pria tersebut


saat melihat lock screen ponsel Mahda foto dirinya bersama Galmoners.


"Kenal. Kenapa?" Tanya Mahda malas.


"Kamu tahu? Kakaknya itu pembunuh bahkan


keluarganya itu menghancurkan kehidupan saya. Jahat bukan?"


"Mungkin anda salah sangka. Karena kita tidak


bisa menghakimi orang lain jahat. Bisa saja di balik semua itu ada dalangnya


yang lebih jahat. Karena hidup itu bukan tentang satu atau dua orang Om."


Balas Mahda.


Pria tersebut memikirkan ucapan Mahda. Namun, entah


kenapa dia punya rencana setelah ini!


"Ouh gitu ya, kalau gitu terima kasih! Balas


pria tersebut.


Baru saja Mahda berdiri untuk kembali ke rumah,


sosok dibelakangnya sudah memukul tengkuknya dan detik berikutnya Mahda jatuh


pingsan. Entah apa yang orang tersebut rencanakan, pastinya sesuatu yang sangat


besar.


**


Fresa baru saja selesai menerima pengobatan. Saat


dia ingin keluar dari ruangannya, sebuah pesan masuk menarik perhatiannya.


Unknown number


Sent photo



Apa kamu mengenal dia? Jika ia temui saya sendiri


di gudang bekas di jl. Mawar. Jika kamu datang bersama orang lain, detik ini


juga saya akan membunuh dia.


Fresa mematikan ponselnya buru-buru saat melihat


Gibran dan yang lain berjalan ke arahnya.


"Kenapa kata dokter?" Tanya Gibran.


"Gak kenapa-kenapa. Gue ke toilet ke belet.


Bye!" Pamit Fresa langsung berlari ke arah luar.


Tanpa Fresa sadari, dia sudah memberikan petunjuk


kepada yang lain jika Fresa tidak ingin ke toilet.


"Si ****! Ayo susul, tapi jangan sampai


ketahuan." Ucap Fanisa.


"Tanpa lu suruh gue juga bakal ikutin!"


Dengus Gibran.


"Ya, kali aja lu bakal ninggalin dia lagi. Gak


tahu aja pas gue jemput dia raut kecewa muncul di wajahnya. Awas aja kalau


alasan lu karena cewek gue bantai lu detik ini juga." Balas Fanisa sengit.


"Stop Fan, lebih baik kita susul Fresa. Entah


apa yang dia sembunyikan gue yakin berhubungan dengan salah satu dari


kita." Ucapan Kiki membuat seseorang menyadari satu hal.


"Mahda." Katanya lirih.


"Maksud lu Van?" Tanya Gibran serius.


"Saat Fresa di periksa, Mahda ngirim video di


mana di dan Cheryl sedang debat dan--"


"Liat videonya!" Perintah Fanisa.


Mereka semua langsung menyaksikan video tersebut,


entah kecewa atau apa. Fanisa merasa jika Fresa membohongi dirinya kembali.


"Jangan salahkan Fresa. Kalian dengar kan?


Cowok yang jadi pacar kalian dulunya benar-benar jatuh cinta sama kalian. Tapi


Mak Lampir menyeting semuanya. Jadi gue pikir, bukan salah Fresa di sini.


Karena jika Fresa bicara ke kalian sejujurnya pasti kalian akan bertindak


seperti Mahda. Makanya Fresa hanya diam. Dia bukan takut kehilangan kalian,


tapi dia lebih takut jika kalian seperti Mahda. Terjebak dalam sebuah permainan


orang lain." Penjelasan Arkan memang benar. Kita gak bisa menghakimi orang


lain bersalah hanya karena salah satu sudut pandang, tapi. Kita bisa melihat


dari semua sudut pandang tentang kejelasan masalah ini.


"Kalian bisa tanya mantan kalian. Dan lebih


baik kita susul Fresa. Perasaan gue gak enak." Balas Gibran.


Dengan berbekal GPS, mereka mulai menemukan ke arah


mana Fresa pergi. Yang Gibran heran, kenapa mereka pergi ke tempat yang jauh


dari jalan raya. Apa mungkin--tidak! Gibran pasti salah. Tapi kemungkinan hanya


dia yang berani melakukan itu.


"Bran! Lu udah telpon polisi dan


kawan-kawannya?" Tanya Evan berbisik.


"Udah lu tenang saja." Balas Gibran


Gibran dan yang lain mulai memasuki gedung tua


tersebut. Namun mereka gagal, karena mereka semua masuk ke dalam jebakan


seseorang.


"Sial!!" Umpat mereka saat melihat ponsel


Fresa terletak di sebuah bangku yang ada di sana.


"Selain ponsel, lu gak naro pelacak


apapun?" Tanya Evan serius.


Gibran bukan membalas ucapan Evan malah tersenyum


misterius. Evan tak perlu penjelasan, dia sudah paham tabiat Gibran seperti


apa.


"Jadi lu sengaja biar kita ikutin permainan si


orang bodoh itu?" Tanya Fano.


"Yap. Kita langsung nyusul Fresa!" Kata


Gibran.


"Lu sama Evan nyusul mereka, kita tetap stay


di sini. Karena kalau semua ikut dia akan curiga." Jelas Kiki.


"Bener juga, ya udah tunggu bae di sini.


Bye!" Balas Gibran


Jika mereka sedang menjalankan permainan, maka


Fresa dan Mahda tengah terikat di sebuah gedung yang penuh bau amis. Entah


bekas apa gedung tersebut yang pasti Fresa dan Mahda sangat mual menghirup


udara di sana.


"Fresa Aditya. Ternyata selain cantik anda


juga bodoh heh?" Tanya sosok di depannya.


"Well.. seorang Greg lebih bodoh dari gue.


Buat apa menyekap anak-anak? Situ terlalu pengecut!" Balas Fresa dingin.


Plakkk...


Suara tamparan terdengar begitu nyaring di ruangan


sana bahkan Mahda yang di samping Fresa mulai menatap geram pria di depannya.


"Om! Jika Om mau balas dendam seharusnya


pikir-pikir dulu! Bisa jadi apa yang Om pikirkan salah." Ucap Mahda.


"Salah? Jelas-jelas abang dia membunuh adik


saya! Dan kamu tahu? Keluarga dia itu licik, sekarang dia berkedok teman bisa


jadi besok dia menusuk kamu." Balas Greg.


"Itumah perasaan lu aja. Kalau keluarga di


kaya gitu, udah sejak lama bukan dia nusuk keluarga gue? Bisa jadi bisnis


keluarga lu hancur karena lu sendiri. Who know?" Ucap Mahda membuat Fresa


menyeringai.


"Ah! Gue paham, lu tipe yang suka buang-buang


duit right? Bisa jadi perusahaan lu hancur karena lu sendiri. Dasar ****!"


Sindir Fresa.


"Diam kalian berdua! Gue bisa saja membunuh


kalian saat ini!" Bentak Greg.


"Hobi orang gitu ya, ngucapin bunuh udah kaya


pakaian sehari-hari. Dasar manusia labil." Balas Fresa membuat Greg geram.


Saking geramnya pria itu langsung mencekik leher Fresa membuat gadis cantik


tersebut susah bernafas.


Mahda yang terikat dekat dengan Fresa mencoba untuk


melepaskan ikatan tersebut namun sulit. Kenapa jika di film sangat mudah tapi


kenapa realitanya sulit? Pikir Mahda.


"Sebelum lu bunuh gue, gue cuma mau titip


pesan sama lu. Dendam akan menunda kebahagiaan lu. Dan Mahda bilang ke Gibran, perasaan


gue sama dia gak pernah berubah." Ucap Fresa dengan nada terputus-putus.


"Om! Lepasin Fresa! Apa om yakin jika adik Om


meninggal karena kak Faza? Bisa jadi adik Om meninggal karena tingkah Om


sendiri! Lepasin temen gue sialan!!!" Tepat Mahda berteriak pintu di


belakang Greg terbuka lebar akibat paksaan seseorang. Di sana, Gibran dan Evan


memasuki ruangan tersebut dengan tenang, bahkan mereka tidak tahu bahaya apa


yang akan menyerang mereka setelahnya.


"Greg! Lu menyentuh tunangan gue?! Wah cari mati


dia!" Ucap Gibran dengan nada dinginnya.


"Matiin dah. Kalau bisa jadiin peyek."


Balas Evan asal.


Di saat Gibran mendekati Greg, Greg malah


menodongkan pistol ke arah dahi Fresa membuat Gibran menghentikan langkahnya.


"Okay! Jauhin pistol sialan itu dari Fresa,


kita one by one." Kata Gibran membuat Greg tersenyum sinis.


"Maaf, gak tertarik." Balas Greg membuat


Gibran geram sendiri.


"Fresa coba lu ulangi ucapin kata-kata


terakhir lu!" Perintah Greg.


"Sebelum lu bunuh gue, gue cuma mau titip


pesan sama lu. Dendam akan menunda kebahagiaan lu. Dan  Gibran, perasaan


gue sama lu gak pernah berubah." Ucap Fresa lirih.


Senyum Greg terbit di wajahnya, tanpa semua orang


sadari, Fresa sudah bisa melepaskan ikatannya. Sampai...


"Lu gak bisa nyentuh gue sialan!" Balas


Fresa sambil mendorong tubuh Greg, sedangkan pistolnya sudah jatuh entah ke


mana.


Gibran dan Evan langsung berlari ke arah Fresa dan


Mahda, tepat saat itu pula polisi memasuki gedung tersebut.


"Ada yang luka?!" Tanya Gibran panik.


"Gak kok, pulang Bran, gue mau tidur."


Balas Fresa.


"Ya."


Mereka semua langsung meninggalkan TKP, sedangkan


Greg sudah di urus oleh pihak berwenang. Jika saja Fresa salah mendorong Greg,


Gibran tidak tahu apa yang akan terjadi dengan cewek cantik tersebut.


"Lain kali jangan kaya tadi, kalau lu terluka


gimana?" Tanya Gibran lirih.


"Sorry, but gue gak janji" balas Fresa


Selama di perjalanan mereka saling diam. Sama


halnya dengan Evan dan Mahda. Mereka lebih memilih diam. Karena akan ada waktu


di mana mereka memiliki waktu untuk menjelaskan semuanya. Tidak sekarang, tapi nanti.


❤️❤️❤️