Galmoners

Galmoners
Part 19



Adil?



Mahda Adijaya sedang duduk di kantin bersama dengan kekasihnya. Seminggu sudah Fresa kembali ke tanah air membuat Mahda tersenyum lega. Ya, melihat sahabatnya baik-baik saja membuat Mahda senang.


"Kamu kangen sahabat kamu? Ke sana aja. Bilang kalau kamu mau minta maaf" ucapan Alex mengingatkan Mahda tentang kejadian sebulan tanpa Fresa.


Kejadian di mana dia dan kedua sahabatnya bertengkar hebat karena masalah yang sama, yaitu Alex. Terkadang Mahda bingung dengan sahabat-sahabatnya, mereka terlalu mudah menghakimi orang lain dan itu membuat Mahda jemu dengan semuanya.


"Aku gak salah, kenapa harus minta maaf?" Pertanyaan Mahda membuat senyum tipis muncul di wajah Alex. Dan Mahda tidak lihat itu.


"Jangan gitu ah! Mereka juga kan sahabat kamu. Dan sahabat selalu memaafkan." Balas Alex membuat Mahda tersenyum tipis.


"Gak sekarang, nanti." Ucapan Mahda membuat Alex menghela nafasnya. Lagi-lagi dia gagal membujuk Mahda.


Di tempat yang sama, Fresa dan dua sahabatnya tengah asik berbincang-bincang. Sampai kedatangan FEGA membuat Fresa dan yang lain mendengus lelah. Selalu saja keempat cowok tersebut menarik perhatian.


"Udah makan siang?" Tanya Gibran yang duduk di samping Fresa. Sejak Fresa kembali, sejak saat itu pula Gibran selalu menempel pada Fresa membuat gosip mereka berpacaran tersebar luas. Karena hal tersebut, Fresa sering mendapatkan teror dan yang tahu tentang hal tersebut hanya Fanisa dan Kiki. Fresa tidak tahu apa yang akan Gibran lakukan jika cowok itu mengetahui rahasia yang dia sembunyikan.


"Belum. Kata Fresa dia mau nunggu tunangannya dulu." Balas Kiki meledek.


"Yang nunggu itu gue apa lu?" Balas Fresa sinis. Jelas-jelas yang menunggu kedatangan FEGA itu Kiki kenapa jadi dia jadi kambing hitam? Menyebalkan!


"Udahlah Ca. Ngaku aja. Jangan kebanyakan gengsi. Gibran pergi baru tahu rasa loh!" Ujar Fanisa membuat Fresa menghentikan gerakan tangan yang sibuk dengan ponsel barunya.


"Siap--"


"Kak ada titipan." Kata cowok yang Fresa yakini adik kelasnya.


"Apa ya?" Tanya Fresa malas.


"Ini kak. Dari cowok ganteng katanya selamat makan siang cantik." Balas cowok di depannya. Fresa tertawa. Entah adik kelasnya terlampau polos atau emang itu cara dia menyampaikan pesan, tapi yang Fresa yakini setelahnya. Adik kelas tersebut langsung di usir oleh Gibran dengan mengembalikan makanan yang ia pegang tadi.


"Bilangin sama si cowok ganteng itu, Fresa udah kenyang." Ucap Gibran dingin.


Dengan bingung anak cowok tersebut kembali ke tempatnya sambil membawa makanan tersebut. Sedangkan cowok yang menyuruhnya tadi tersenyum sinis dan pergi meninggalkan kantin. Pasalnya, rencana dia gagal lagi.


"Aneh gak si Fre, masa anak baru selalu datang ke sini untuk ngasih makanan yang sama? Lu gak curiga gitu kalau ini--"


"Jebakan?" Potong Fresa membuat Evan menganggukkan kepalanya.


"Iya jebakan. Kalau gue jadi lu bakal gue incar tuh orang. Karena hampir sebulan ini dia melakukan hal yang sama sejak lu kembali. Jadi menurut gue aneh saja." Balas Evan.


Tanpa Evan sadari, Fresa memang sudah curiga dengan semua yang terjadi saat ini. Namun ia pura-pura tidak tahu. Karena jika dia bersikap tidak wajar, maka orang tersebut akan semakin sering melakukan tindakannya. Jadi mau tidak mau, ia berusaha menutupi ke khawatirannya.


"Lu kebanyakan nonton sinetron! Emangnya Fresa siapa sampai harus mendapatkan kejadian buruk? Fresa itu galak, jadi kalau ada yang jahatin dia keburu kabur." Balas Kiki.


"Lucu lu Ki! Gue serius ettt" balas Evan.


"Jangan serius-serius, nanti sakit hati aja berabe." Ucap Fanisa spontan membuat Evan dan yang lainnya menaikkan alisnya, bingung.


"Loh kok baper si Fan? Ah! Gue tahu lu lagi slek sama mantan lu ya?" Tanya Evan membuat Fresa menatap cowok itu tajam.


"Kaga lah! Sok tahu lu kambing!" Balas Fanisa.


"Jangan pedulikan mereka, makan dan minum obat lu. Atau lu mau rahasia lu di restoran gue bongkar?" Bisik Gibran yang tadi datang sambil membawa makanan bersama dengan Fano dan Arkan.


"Hem... Gue gak nafsu makan." Balas Fresa lirih, membuat Gibran menghela nafasnya.


"Jangan mendebat. Lakukan sesuai perintah gue!"


Mendengar nada dingin Gibran membuat Fresa mendengus sebal. Bahkan tanpa sadar dia memakan makanan yang ada di depannya, membuat Fanisa dan Kiki mencibir.


"Berisik!" Balas Fresa ketus.


"Sayang--"


"Gue bukan sayang lu!" Balas Fresa ketus membuat Gibran menghela nafasnya.


"Bukan sayang tapi bersemu mukanya. Lucu juga ya Fre. Kalau lu bukan tunangan sahabat gue, gue gebet lu." Balas Evan membuat Fresa tersedak.


"Evan Laksono!" Bentakan Gibran membuat Evan tertawa. Entah kenapa meledek Gibran adalah hal yang paling membahagiakan untuknya. Bahkan meja Fresa yang tadi serius berubah menjadi hangat karena ulah Evan.


"Biasa aja dong Bran! Lu kaya takut banget Fresa dead." Balas Evan.


"Yalah! Fresa itu separuh jiwa gue!" Ujar Gibran.


"Separuh jiwa? Emang jiwa lu bisa di bagi dua? Kalau iya gue mau dong jadi separuh jiwanya Fresa." Balas Evan membuat Gibran menggeram.


"Ngimpi aja lu sono! Fresa itu milik gue!" Kata Gibran.


"Milik lu? Sebelum janur kuning melengkung, Fresa bukan milik siapa-siapa dan gue pastikan dalam waktu dekat ini, Fresa Adijaya akan jatuh ke pelukan Evan Laksono. Liat saja nanti."


"Terkadang gue bingung, apa sejak Mahda nolak lu. Lu jadi sableng ya?" Tanya Fanisa.


"Kenapa Fan? Lu mau jadi separuh jiwa gue? boleh kok! Tapi ngantri ya." Balas Evan asal.


"Yeh gila! Emang lu kata penjaga tiket yang lu harus ngantri dapetinnya." Kata Fresa sinis.


"Yaalah! Tapi bedanya bukan tiket yang lu dapetin. Tapi, cinta tulus gue." Kata Evan membuat Fresa bergidik ngeri. Baginya Gibran saja sangat menyeramkan jika seperti itu, apalagi Evan yang bukan siapa-siapanya!


"Anjir Evan! Lu bangunin singa tidur." Kata Fanisa.


"Baru bangunin singa, bukan bangunin yang lain kan Fan?" Balas Evan membuat Fano memukul kepala sahabatnya.


"Jaga!" Kata Fano membuat yang lain bingung.


"Jaga? Maksudnya apaan si No! Ah! Atau lu mau bilang jaga hati lu? Tenang akang Evan tidak akan menyelingkuhi yayang Fano." Balas Evan membuat Fanisa melempar es batu yang ada di gelasnya.


"Gue semakin yakin, jika kalian berdua--"


"Jangan yakin sama apa yang lu lihat. Karena belum tentu semuanya benar." Potong Fano membuat Fanisa tertohok. Entah kenapa mendengar ucapan Fano membuat Fanisa merasakan perasaan aneh. Perasaan yang ia alami beberapa bulan ini.


"Nahloh! Fano ngambek. Lu si Fan!" Tuduh Evan membuat Fanisa mendengus kesal.


"Yang ada tuh lu yang salah! Udah tahu Fano suka sama Fanisa. Malah di ledekin." Tutur Gibran membuat Evan tersenyum senang.


"Akhirnya! Selain Gibran gue bisa jadi pengganggu Fano. Terima kasih ya Allah Evan bahagia karena bisa mengalahkan pesona es batu." Kata Evan.


"Seandainya gue dokter, gue suntik lu pakai cairan mematikan." Balas Fanisa dengan raut wajah kesalnya.


"Tidak usah jadi dokter! Karena orang macem lu lebih pantas jadi ibu dari anak-anak gue!" Ucap Evan membuat Fanisa berdiri dan langsung memukul bahu Evan.


"Gue gak sudi!" Balas Fanisa ketus. Bahkan kepergian Fanisa membuat Evan tersenyum. Rencananya berhasil! Semoga kedua insan yang pergi meninggalkan kantin saat ini bisa berbaikan. Karena Evan tahu apa yang terjadi di antara keduanya dan hal tersebut di karenakan Mahda sebelumnya. Jadi mau tidak mau, Evan harus mengembalikan semua seperti sedia kala sebelum semuanya semakin runyam.


"Tenang aja, Fanisa akan kembali seperti sedia kala. Karena kalau gue cerita kejadian selama sebulan lu pergi, gue yakin lu bakal benci dengan seseorang."


Kata-kata Evan membuat Fresa menatap mereka semua bergantian. Bahkan Gibran yang di tatap tidak meresponnya. Fresa yakin kejadian besar terjadi selama ia menghilang dan Fresa harus mencari tahunya sendiri.


"Lanjutkan makannya, gue ada urusan. Dan lu Ar, jagain cewek gue dari kunyuk ini. Jangan sampai dia ember." Ucapan Gibran semakin membuat Fresa penasaran. Ia bersumpah akan mencari tahunya. Liat saja, akan dia bongkar rahasia mereka semuanya!


"Ada kalanya kita menutupi semua karena gak mau lu tersakiti. Sama halnya dengan yang lu lakuin ke kita sekarang. Adil bukan?" Pertanyaan Arkan membuat Fresa kehilangan kata-kata untuk membalas semuanya. Jika memang untuk kebaikannya, Apa ini ada hubungannya dengan orang-orang yang mengikuti mereka?


❤️❤️❤️