Galmoners

Galmoners
5



Masa Orientasi Siswa (MOS) 2.2


***


Tamparan begitu nyaring membuat siapapun yang ada


di sana berpikir buruk tentang Faza. Bahkan Fresa bisa mendengar ucapan Mahda


yang mengatakan kakaknya menghamili wanita di depannya. Membuat Fresa tanpa


sadar tertawa. Bagaimana bisa kakaknya menghamili wanita di depannya?


Menaklukkan wanita itu saja sangat sulit. Sebenarnya tidak sulit, tapi kakaknya


saja yang menyulitkan semuanya.


"Sakit?! Itu gak seberapa dengan perasaan


Fresa yang tidak anda percayai! Ouh ayolah Faza, anda pernah muda right? Toh,


biarkan Fresa menghadapi masalahnya dia bukan anak kecil lagi!" Kata sosok


cantik.


"Felly Alexander! Anda melewati batas yang


saya berikan!" Bentak Faza.


"Batas? Batas apa?! Batas suci?!" Tanya


Felly sinis.


"Batas di mana anda tidak berhak untuk ikut


campur!" Balas Faza dingin.


"Ouh ya? Sayangnya saya akan melanggar semua


itu. Saya tidak peduli jika saya harus adu mulut dengan anda. Apa anda lupa


perjanjian kita? Anda berjanji membebaskan Fresa! Tapi apa?! Anda malah semakin


mengekang Fresa. Dan apa tadi? Bawa Fresa ke Jerman for what?! Jika di sini


Fresa memiliki penyemangat kenapa harus di larikan ke luar? Saya tidak habis


pikir dengan anda!" Jelas Felly.


"Saya cuma ingin yang terbaik untuk Fresa! Dan


anda tidak berhak mengatur saya!" Balas Faza.


Perdebatan terus terjadi di antara keduanya.


Sampai...


"Felly Alexander?! Itu dokter cantik yang suka


ada di TV kan?!" Tanya Mahda. Membuat Fresa dan yang lain mendengus kesal.


"Heum. Kenapa?" Tanya Felly malas.


"Ya ampun kak! Aku ngefans banget sama kakak.


Apalagi kalau masalah perawatan. Aku suka sekali kak, tapi kenapa kakak nampar


kak Faza? Apa kak Faza menghamili kakak?" Tanya Mahda membuat Faza


melotot.


"Iya dia menghamili saya. So, saya pinjam


Fazanya dulu Okey!" Kata Felly sambil menarik tangan Faza.


Lepas kepergian Faza dan Felicia, Mahda memulai


interogasinya. Ia sangat amat kepo, sejak kapan Fresa kenal dengan dokter


cantik tersebut? Kenapa selama ini mereka tidak tau?! Ah! Fresa memang


penyimpan rahasia yang sangat baik.


"So, can you explain?" Tanya Mahda.


"No, I can't" balas Fresa membuat Mahda


menatap Fresa tajam.


"Why?!" Tanya Mahda gemas.


"Because, this isn't my business." Balas


Fresa.


Ya, karena ini bukan urusannya. Kalaupun ia


kakaknya menghamili Felly itu kabar baik untuknya. Karena tidak ada yang akan


mengganggu hidupnya lagi nanti.


"Kenapa lu senyum?" Tanya Fanisa saat


melihat senyum tipis di wajah Fresa.


"Gak kenapa-kenapa," balas Fresa acuh tak


acuh.


"Ekhem.. sorry kita ke lapangan duluan. Karena


anak-anak sudah selesai. Sekalian mau kasih tau kalau mereka istirahat,"


ucap Arkan


"Ouh ya! Anak-anak Fre! Ayolah kita ke sana.


Lau di sini aja ya, nanti pas istirahat kita bakal jemput lu ke sini. Gak apa


kan kalau sendiri?" Tanya Mahda.


"Gue ikut! Lagian cukuplah tadi


istirahat," balas Fresa.


"Gak! Lu di sini istirahat. Dan siapkan alasan


jelas untuk kejadian dua hari ini," kata Gibran.


"Nanti juga kalian tahu siapa pelakunya,"


balas Fresa yang sudah turun dari kasur.


"Lu yakin mau ke lapangan?" Tanya Kiki


khawatir.


"Kiki yang cantik, gue yakin elah. Toh kalau


gue kenapa-kenapa ada kalian. Jadi santai aja oke!" Balas Fresa.


Memang dasarnya Fresa keras kepala, jadi mau tidak


mau mereka mengizinkan Fresa mengikuti mereka. Ya, semoga saja Fresa sudah


membaik.


***


Acara pembagian hadiah di lakukan oleh Arkan dan


Kiki. Kedua orang di atas panggung itu tengah asik dengan dunia mereka. Bahkan


tanpa mereka sadari, keakraban mereka membuat FEGA dan Galmoners saling


pandang.


"Apa Kiki sudah move on?" Tanya Evan


tiba-tiba.


"Lu nanya sama gue? Gue nanya ame sape


kambing!" Balas Mahda ketus.


"Ya ampun Mahda ku yang cantik bak bidadari.


Kenapa dirimu selalu menyiksaku? Apakah ke tampanan yang aku miliki tidak cukup


untuk membuat hati mu luluh?" Tanya Evan lebay.


"Gak! Udah deh Van, gue lagi malas debat sama


lu. Sudah cukup emosi gue terkuras. Jadi, lebih baik lu diam!"  Omel


Mahda.


"Fresa, kamu jangan galak kaya Mahda ya.


Soalnya kalau kamu galak kamu lebih cantik dari biasanya dan aku gak suka,"


bisik Gibran. Membuat Fresa terdiam kaku. Entah kenapa perasaannya aneh saat


Gibran mengatakan hal tersebut.


"Ca? You okay?" Tanya Fanisa saat melihat


Fresa melamun.


"Ah? Gue? Okay kok," balas Fresa.


Mahda dan yang lain kembali fokus dengan Arkan dan Kiki.


Kini, mereka tidak lagi berduaan. Di atas panggung ada anak-anak OSIS lainnya


yang datang membawa ribuan surat untuk acara dan keperluan apa saja yang akan


di bawa esok hari. Mahda dan panitia yang lain sudah lebih dulu mendapatkan


surat tersebut.


"Ca pokoknya lu harus ikut camping! Gue gak


mau tau lu harus rayu kak Faza!" Kata Mahda memaksa.


gue datang, berarti gue ikut. Kalau gak? Ya, you know lah." Balas Fresa.


Mahda menganggukkan kepalanya. Lepas itu, mereka


langsung pergi menuju kantin guna mengisi cacing-cacing di perut mereka.


***


Suasana kantin terlihat sangat ramai. Mahda dan


sahabat-sahabatnya tengah asik memakan makanan yang ada di hadapan mereka.


Sampai, sosok cantik dengan pakaian ketatnya berdiri di hadapan mereka bersama


antek-anteknya.


"Well... Well... Well... Ada ketua kuman dan


antek-anteknya. Lihat deh gengs yang satu penyakitan yang satu gagal move on,


cocok kan mereka berdua jadi kuman?" Teriak cewek cantik sambil menunjuk


Fresa dan Mahda.


"Cocok banget! Yang satu kegatelan dan yang


satunya sok jual mahal. Cocok banget mereka," balas antek-anteknya.


Mahda dan Fresa saling pandang.


"Wah! Seorang Cheryl mau datang ke tempat


kuman? Sungguh di sayangkan! Ah! Apa anda tidak tahu? Yang lebih kuman itu


anda! Merebut Alex dengan cara murahan? Menjijikan!" Balas Mahda sinis.


Ya, Cheryl adalah kekasih dari Alex. Cewek manja


yang suka melukai siapapun yang memancing emosinya dan pastinya dia selalu di


bawah perlindungan Alex.


Semua pengunjung kantin yang tadi fokus dengan


makanan mereka, kini menatap ke arah meja Galmoners. Termasuk keempat cowok


tampan, FEGA.


"See? Lu itu gak tau malu ya! Gue ini sekarang


pacarnya Alex dan harusnya lu gak usah kegatelan dekat-dekat sama dia. Cantik


si tapi pengemis cinta buat apa?" Tanya Cheryl.


"Coba ulang ucapan lu!" Perintah Fresa


dingin.


"Pengemis cinta. Kalian berempat itu pengemis


cinta! Saking udah di buangnya sama mantan, kalian tetap aja deketin. Dasar


mur--"


Plak...


Suara tamparan terdengar sangat keras. Fresa Aditya


menampar seorang Cheryl. Membuat Alex langsung berdiri di hadapan Fresa.


"Lu itu cewek! Gak bisa apa gak main kasar?!


Lu tuh sama kaya Mahda! Bar-bar! Gue heran kenapa Gibran suka sama cewek macem


lu. Kalau gue jadi Gibran gak bakal sudi!" Bentak Alex.


"Sayangnya lu bukan Gibran Pahlevi! Suka atau


gak gue, bukan urusan lu. Okay, gue tahu lu kakak kelas dan kekasih Cheryl.


Tapi, lihat?! Siapa yang mancing mereka? Pacar murahan lu! Jadi, jangan


salahkan orang lain atas kesalahan pacar lu!" Balas Gibran dingin. Entah


kenapa sekarang Gibran malas basa-basi dengan Alex. Mungkin ia akan menandai


Alex sebagai musuhnya, selain Bian.


Cheryl terlihat sangat marah, ia mengambil sebuah


gunting yang entah ia dapat dari mana. Baru saja Cheryl ingin menusuk gunting


tersebut, Gibran menahannya.


"Lebih baik bawa cewek lu ke rumah sakit jiwa.


Kalau sampai gue tahu dia melukai Fresa, detik itu juga gue bakal hancurkan apa


yang dia miliki. So, go away!" Bentak Gibran.


Alex, Cheryl dan antek-anteknya meninggalkan meja


Galmoners. Fanisa dan Kiki seperti mendapatkan sebuah petunjuk baru, dan ia


akan menanyakannya nanti kepada Fresa.


"Lain kali, jangan hadapi Cheryl sendiri. Dia


itu gila! Gue gak mau kalau lu terluka karena dia!" Kata Gibran serius.


"I know, but i don't like her. So, i can do


anything for her. Because this is my business." Kata Fresa berharap


sahabat kecilnya mengerti.


"No! I will do anything for you, because your


en--"


"Don't talk that!" Ancam Fresa memotong


ucapan Gibran.


Mahda dan yang lain hanya bisa memandang mereka


bingung. Entah kenapa, ada hal yang di sembunyikan Fresa dari mereka. Bahkan


perbincangan serius Fresa dan Gibran menjadi bukti semuanya.


"Oke, gue gak bakal bahas itu lagi. Dengan


satu syarat!" Tawar Gibran membuat Mahda dan yang lain menatap Gibran


serius.


Wajah menyebalkan Gibran membuat Fresa berpikiran


buruk saat ini.


"Apa?" Balas Fresa malas.


"Jadi pacar gue!" Perintah Gibran.


Ucapan Gibran membuat geng FEGA dan Galmoners


langsung saling pandang. Ya, sejak Fresa adu mulut dengan Gibran mereka sudah


duduk satu meja.


"Gue gak bak--"


Cupppp...


Kecupan Gibran di pipi Fresa membuat gadis cantik


itu terdiam kaku. Sedangkan Gibran? Ia sangat menunggu umpatan Fresa.


"Gibran Pahlevi brengsek!!!!!!!"


Teriak  Fresa.


"Ya, Fresa sayang? Ada apa? Kamu mau


lagi?" Tanya Gibran membuat emosi Fresa memuncak. Tidak menunggu lama


lagi, Fresa langsung melayangkan tangannya ke pipi Gibran, namun sayang usaha


Fresa gagal.


"Gue berasa nonton drama Korea," celetuk


Evan yang sedari tadi menyaksikan mereka dengan serius.


"Kali ini gue setuju sama lu Van. Mereka kaya


pasangan suami-istri yang lagi bertengkar. Terus endingnya si cowok bakal meluk


si cewek. Sweet kan?" Tanya Mahda.


"Sweet banget Da. Apalagi kalau suaminya


penyayang macem Tackie di novel kak Cecil Wang," balas Kiki.


"Iya ih, Tackie bisa sweet ya? Kalau gue punya


suami kaya dia gue bersyukur banget!" Tambah Fanisa.


Tanpa mereka sadari hari itu adalah hari dimana


permusuhan antara FEGA dan Galmoners menghilang. Bahkan keakraban mereka


membuat dua sosok yang tidak jauh dari mereka menatap penuh kebencian. Dua


sosok tersebut sudah menyiapkan banyak rencana untuk memecahkan persahabatan


mereka. Ya, keduanya sangat ingin melihat mereka hancur. Sama seperti kehidupan


mereka yang hancur.


❤️❤️❤️