
Masa Orientasi Siswa (MOS) 2.2
***
Tamparan begitu nyaring membuat siapapun yang ada
di sana berpikir buruk tentang Faza. Bahkan Fresa bisa mendengar ucapan Mahda
yang mengatakan kakaknya menghamili wanita di depannya. Membuat Fresa tanpa
sadar tertawa. Bagaimana bisa kakaknya menghamili wanita di depannya?
Menaklukkan wanita itu saja sangat sulit. Sebenarnya tidak sulit, tapi kakaknya
saja yang menyulitkan semuanya.
"Sakit?! Itu gak seberapa dengan perasaan
Fresa yang tidak anda percayai! Ouh ayolah Faza, anda pernah muda right? Toh,
biarkan Fresa menghadapi masalahnya dia bukan anak kecil lagi!" Kata sosok
cantik.
"Felly Alexander! Anda melewati batas yang
saya berikan!" Bentak Faza.
"Batas? Batas apa?! Batas suci?!" Tanya
Felly sinis.
"Batas di mana anda tidak berhak untuk ikut
campur!" Balas Faza dingin.
"Ouh ya? Sayangnya saya akan melanggar semua
itu. Saya tidak peduli jika saya harus adu mulut dengan anda. Apa anda lupa
perjanjian kita? Anda berjanji membebaskan Fresa! Tapi apa?! Anda malah semakin
mengekang Fresa. Dan apa tadi? Bawa Fresa ke Jerman for what?! Jika di sini
Fresa memiliki penyemangat kenapa harus di larikan ke luar? Saya tidak habis
pikir dengan anda!" Jelas Felly.
"Saya cuma ingin yang terbaik untuk Fresa! Dan
anda tidak berhak mengatur saya!" Balas Faza.
Perdebatan terus terjadi di antara keduanya.
Sampai...
"Felly Alexander?! Itu dokter cantik yang suka
ada di TV kan?!" Tanya Mahda. Membuat Fresa dan yang lain mendengus kesal.
"Heum. Kenapa?" Tanya Felly malas.
"Ya ampun kak! Aku ngefans banget sama kakak.
Apalagi kalau masalah perawatan. Aku suka sekali kak, tapi kenapa kakak nampar
kak Faza? Apa kak Faza menghamili kakak?" Tanya Mahda membuat Faza
melotot.
"Iya dia menghamili saya. So, saya pinjam
Fazanya dulu Okey!" Kata Felly sambil menarik tangan Faza.
Lepas kepergian Faza dan Felicia, Mahda memulai
interogasinya. Ia sangat amat kepo, sejak kapan Fresa kenal dengan dokter
cantik tersebut? Kenapa selama ini mereka tidak tau?! Ah! Fresa memang
penyimpan rahasia yang sangat baik.
"So, can you explain?" Tanya Mahda.
"No, I can't" balas Fresa membuat Mahda
menatap Fresa tajam.
"Why?!" Tanya Mahda gemas.
"Because, this isn't my business." Balas
Fresa.
Ya, karena ini bukan urusannya. Kalaupun ia
kakaknya menghamili Felly itu kabar baik untuknya. Karena tidak ada yang akan
mengganggu hidupnya lagi nanti.
"Kenapa lu senyum?" Tanya Fanisa saat
melihat senyum tipis di wajah Fresa.
"Gak kenapa-kenapa," balas Fresa acuh tak
acuh.
"Ekhem.. sorry kita ke lapangan duluan. Karena
anak-anak sudah selesai. Sekalian mau kasih tau kalau mereka istirahat,"
ucap Arkan
"Ouh ya! Anak-anak Fre! Ayolah kita ke sana.
Lau di sini aja ya, nanti pas istirahat kita bakal jemput lu ke sini. Gak apa
kan kalau sendiri?" Tanya Mahda.
"Gue ikut! Lagian cukuplah tadi
istirahat," balas Fresa.
"Gak! Lu di sini istirahat. Dan siapkan alasan
jelas untuk kejadian dua hari ini," kata Gibran.
"Nanti juga kalian tahu siapa pelakunya,"
balas Fresa yang sudah turun dari kasur.
"Lu yakin mau ke lapangan?" Tanya Kiki
khawatir.
"Kiki yang cantik, gue yakin elah. Toh kalau
gue kenapa-kenapa ada kalian. Jadi santai aja oke!" Balas Fresa.
Memang dasarnya Fresa keras kepala, jadi mau tidak
mau mereka mengizinkan Fresa mengikuti mereka. Ya, semoga saja Fresa sudah
membaik.
***
Acara pembagian hadiah di lakukan oleh Arkan dan
Kiki. Kedua orang di atas panggung itu tengah asik dengan dunia mereka. Bahkan
tanpa mereka sadari, keakraban mereka membuat FEGA dan Galmoners saling
pandang.
"Apa Kiki sudah move on?" Tanya Evan
tiba-tiba.
"Lu nanya sama gue? Gue nanya ame sape
kambing!" Balas Mahda ketus.
"Ya ampun Mahda ku yang cantik bak bidadari.
Kenapa dirimu selalu menyiksaku? Apakah ke tampanan yang aku miliki tidak cukup
untuk membuat hati mu luluh?" Tanya Evan lebay.
"Gak! Udah deh Van, gue lagi malas debat sama
lu. Sudah cukup emosi gue terkuras. Jadi, lebih baik lu diam!" Omel
Mahda.
"Fresa, kamu jangan galak kaya Mahda ya.
Soalnya kalau kamu galak kamu lebih cantik dari biasanya dan aku gak suka,"
bisik Gibran. Membuat Fresa terdiam kaku. Entah kenapa perasaannya aneh saat
Gibran mengatakan hal tersebut.
"Ca? You okay?" Tanya Fanisa saat melihat
Fresa melamun.
"Ah? Gue? Okay kok," balas Fresa.
Mahda dan yang lain kembali fokus dengan Arkan dan Kiki.
Kini, mereka tidak lagi berduaan. Di atas panggung ada anak-anak OSIS lainnya
yang datang membawa ribuan surat untuk acara dan keperluan apa saja yang akan
di bawa esok hari. Mahda dan panitia yang lain sudah lebih dulu mendapatkan
surat tersebut.
"Ca pokoknya lu harus ikut camping! Gue gak
mau tau lu harus rayu kak Faza!" Kata Mahda memaksa.
gue datang, berarti gue ikut. Kalau gak? Ya, you know lah." Balas Fresa.
Mahda menganggukkan kepalanya. Lepas itu, mereka
langsung pergi menuju kantin guna mengisi cacing-cacing di perut mereka.
***
Suasana kantin terlihat sangat ramai. Mahda dan
sahabat-sahabatnya tengah asik memakan makanan yang ada di hadapan mereka.
Sampai, sosok cantik dengan pakaian ketatnya berdiri di hadapan mereka bersama
antek-anteknya.
"Well... Well... Well... Ada ketua kuman dan
antek-anteknya. Lihat deh gengs yang satu penyakitan yang satu gagal move on,
cocok kan mereka berdua jadi kuman?" Teriak cewek cantik sambil menunjuk
Fresa dan Mahda.
"Cocok banget! Yang satu kegatelan dan yang
satunya sok jual mahal. Cocok banget mereka," balas antek-anteknya.
Mahda dan Fresa saling pandang.
"Wah! Seorang Cheryl mau datang ke tempat
kuman? Sungguh di sayangkan! Ah! Apa anda tidak tahu? Yang lebih kuman itu
anda! Merebut Alex dengan cara murahan? Menjijikan!" Balas Mahda sinis.
Ya, Cheryl adalah kekasih dari Alex. Cewek manja
yang suka melukai siapapun yang memancing emosinya dan pastinya dia selalu di
bawah perlindungan Alex.
Semua pengunjung kantin yang tadi fokus dengan
makanan mereka, kini menatap ke arah meja Galmoners. Termasuk keempat cowok
tampan, FEGA.
"See? Lu itu gak tau malu ya! Gue ini sekarang
pacarnya Alex dan harusnya lu gak usah kegatelan dekat-dekat sama dia. Cantik
si tapi pengemis cinta buat apa?" Tanya Cheryl.
"Coba ulang ucapan lu!" Perintah Fresa
dingin.
"Pengemis cinta. Kalian berempat itu pengemis
cinta! Saking udah di buangnya sama mantan, kalian tetap aja deketin. Dasar
mur--"
Plak...
Suara tamparan terdengar sangat keras. Fresa Aditya
menampar seorang Cheryl. Membuat Alex langsung berdiri di hadapan Fresa.
"Lu itu cewek! Gak bisa apa gak main kasar?!
Lu tuh sama kaya Mahda! Bar-bar! Gue heran kenapa Gibran suka sama cewek macem
lu. Kalau gue jadi Gibran gak bakal sudi!" Bentak Alex.
"Sayangnya lu bukan Gibran Pahlevi! Suka atau
gak gue, bukan urusan lu. Okay, gue tahu lu kakak kelas dan kekasih Cheryl.
Tapi, lihat?! Siapa yang mancing mereka? Pacar murahan lu! Jadi, jangan
salahkan orang lain atas kesalahan pacar lu!" Balas Gibran dingin. Entah
kenapa sekarang Gibran malas basa-basi dengan Alex. Mungkin ia akan menandai
Alex sebagai musuhnya, selain Bian.
Cheryl terlihat sangat marah, ia mengambil sebuah
gunting yang entah ia dapat dari mana. Baru saja Cheryl ingin menusuk gunting
tersebut, Gibran menahannya.
"Lebih baik bawa cewek lu ke rumah sakit jiwa.
Kalau sampai gue tahu dia melukai Fresa, detik itu juga gue bakal hancurkan apa
yang dia miliki. So, go away!" Bentak Gibran.
Alex, Cheryl dan antek-anteknya meninggalkan meja
Galmoners. Fanisa dan Kiki seperti mendapatkan sebuah petunjuk baru, dan ia
akan menanyakannya nanti kepada Fresa.
"Lain kali, jangan hadapi Cheryl sendiri. Dia
itu gila! Gue gak mau kalau lu terluka karena dia!" Kata Gibran serius.
"I know, but i don't like her. So, i can do
anything for her. Because this is my business." Kata Fresa berharap
sahabat kecilnya mengerti.
"No! I will do anything for you, because your
en--"
"Don't talk that!" Ancam Fresa memotong
ucapan Gibran.
Mahda dan yang lain hanya bisa memandang mereka
bingung. Entah kenapa, ada hal yang di sembunyikan Fresa dari mereka. Bahkan
perbincangan serius Fresa dan Gibran menjadi bukti semuanya.
"Oke, gue gak bakal bahas itu lagi. Dengan
satu syarat!" Tawar Gibran membuat Mahda dan yang lain menatap Gibran
serius.
Wajah menyebalkan Gibran membuat Fresa berpikiran
buruk saat ini.
"Apa?" Balas Fresa malas.
"Jadi pacar gue!" Perintah Gibran.
Ucapan Gibran membuat geng FEGA dan Galmoners
langsung saling pandang. Ya, sejak Fresa adu mulut dengan Gibran mereka sudah
duduk satu meja.
"Gue gak bak--"
Cupppp...
Kecupan Gibran di pipi Fresa membuat gadis cantik
itu terdiam kaku. Sedangkan Gibran? Ia sangat menunggu umpatan Fresa.
"Gibran Pahlevi brengsek!!!!!!!"
Teriak Fresa.
"Ya, Fresa sayang? Ada apa? Kamu mau
lagi?" Tanya Gibran membuat emosi Fresa memuncak. Tidak menunggu lama
lagi, Fresa langsung melayangkan tangannya ke pipi Gibran, namun sayang usaha
Fresa gagal.
"Gue berasa nonton drama Korea," celetuk
Evan yang sedari tadi menyaksikan mereka dengan serius.
"Kali ini gue setuju sama lu Van. Mereka kaya
pasangan suami-istri yang lagi bertengkar. Terus endingnya si cowok bakal meluk
si cewek. Sweet kan?" Tanya Mahda.
"Sweet banget Da. Apalagi kalau suaminya
penyayang macem Tackie di novel kak Cecil Wang," balas Kiki.
"Iya ih, Tackie bisa sweet ya? Kalau gue punya
suami kaya dia gue bersyukur banget!" Tambah Fanisa.
Tanpa mereka sadari hari itu adalah hari dimana
permusuhan antara FEGA dan Galmoners menghilang. Bahkan keakraban mereka
membuat dua sosok yang tidak jauh dari mereka menatap penuh kebencian. Dua
sosok tersebut sudah menyiapkan banyak rencana untuk memecahkan persahabatan
mereka. Ya, keduanya sangat ingin melihat mereka hancur. Sama seperti kehidupan
mereka yang hancur.
❤️❤️❤️