
Penjelasan
Dua insan manusia saling terdiam satu sama lain. Tidak ada satupun yang mau berinisiatif untuk membuka suara. Mereka ialah Fanisa dan Fano. Dua insan yang tengah mengalami masalah hampir dua bulan ini. Bahkan selama itu, tidak ada satupun yang berani membuka suara untuk menjelaskan. Bukan karena takut tersakiti, tapi mereka sama-sama diam menunggu waktu yang tepat.
Seperti halnya saat ini, keduanya sadar sudah terlalu lama mereka larut dalam permasalahan dan hal tersebut membuat Fanisa geram sendiri. Jadi dengan amat terpaksa cewek cantik tersebut membuka pembicaraan mereka.
"Gue gak tahu kenapa harus gue mendengar penjelasan lu. Dan gue juga gak tahu kenapa kaki gue melangkah ke sini. Tapi satu yang gue tahu, apa yang Evan lakukan tadi membuat gue sadar, gue juga butuh penjelasan dari lu walaupun gue juga bingung untuk apa." Penjelasan Fanisa membuat Fano tersenyum tipis. Sangat tipis. Bahkan hanya Tuhan dan Fano yang tahu jika cowok tampan tersebut tersenyum.
"Apa yang Mahda katakan bohong." Balas Fano.
Fano mengajak Fanisa untuk duduk di sampingnya sambil memandang air mancur dan taman bunga yang indah di hadapan mereka.
"Bohong? Tapi, Mahda gak mungkin kaya gitu No!" Ujar Fanisa sambil menahan amarahnya. Ia memang sedang jaga jarak dengan Mahda. Tapi, bukan berarti dia sepenuh benci Mahda. Persahabatan mereka gak selemah itu. Fanisa dan Kiki hanya mengikuti alur yang Mahda mainkan. Karena cepat atau lambat mereka akan tahu siapa dalang semuanya.
"Tidak ada yang menyalahkan Mahda." Balas Fano membuat Fanisa geram. Pasalnya cowok di sampingnya menjelaskan sepotong-sepotong. Membuat Fanisa ingin membenturkan kepala Fano ke dinding detik ini juga.
"Serah lu No! Jadi, maksud lu apa?" Tanya Fanisa berusaha sabar dengan mahluk irit di sampingnya.
"Sama." Balas Fano.
"Ya Allah No! Lu ngomong juga gak bayar, takut banget gue kenain biaya. Selama masih bisa berbicara, gunakanlah dengan baik! Jangan bikin gue kesel hari ini. Lu gak tahu kan cewek PMS kalau marah kaya gimana?! Jadi jelasin! Dan jangan muter-muter!" Omelan Fanisa membuat seringai tipis muncul di wajah Fano. Dia sangat merindukan Fanisa yang seperti ini. Di bandingkan Fanisa yang cuek dan diam macem batu. Lebih baik ini.
"Okey, dengarkan jangan potong!" Perintah Fano dan di balas anggukan.
"Sejak kejadian di rumah sakit, gue dan yang lain bagi-bagi tugas untuk mencari tahu penyakit Fresa dan orang yang menerornya. Sampai Gibran menemukan jawaban semuanya. Gue pikir Gibran akan menjelaskan kepada kami. Ternyata tidak. Akhirnya, gue berinisiatif mendatangi seorang dokter. Dan perempuan yang lu lihat itu adalah dokter yang pernah nanganin Fresa pertama kali sebelum dia bertemu dengan Felly." Jelas Fano.
"Jadi, foto yang Mahda tunjukkan itu bukan cewek lu?" Pertanyaan spontan tersebut membuat Fanisa mengutuk mulutnya. Namun, gelengan kepala Fano membuat Fanisa lega. Entah kenapa saat ia tahu semua ini dia jadi lebih tenang. Bahkan Fanisa merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa ia jelaskan.
"Yaa, foto yang Mahda tunjukkan semua kebohongan. Jelas-jelas wanita tersebut sudah memiliki suami dan dua anak. Emang lu pikir gue penyuka tante-tante?" Pertanyaan Fano membuat Fanisa mendelik.
"Ya kali aja." Balas Fanisa malas.
"Intinya, jangan percaya apa yang lu lihat sebelum mendengarkan penjelasannya. Dan jangan menghakimi seseorang yang belum tentu salah." Kata Fano
"Maksudnya?" Tanya Fanisa bingung.
"Mungkin bagi orang lain Mahda adalah orang terjahat di sini. Padahal sebenarnya di belakang Mahda ada orang yang lebih jahat lagi. Gue hanya menyimpulkan, Mahda itu terlalu mudah percaya sehingga kebohongan menutupi kebenaran yang ada." Balas Fano.
"Lu gak marah sama Mahda? Terus apa yang lu dapatkan saat bertemu dengan dokter tersebut?" Tanya Fanisa.
"Lu lucu ya Fan." Balas Fano membuat Fanisa menaikkan alisnya.
"Lu terlampau ekspresif. Membuat gue gemes liatnya." Ucap Fano membuat jantung Fanisa berdegup kencang.
"Apaan si lu gak jelas. Jadi???" Tanya Fanisa mencoba mengalihkan semuanya.
"Gue marah sama Mahda? Gak. Lagian gak ada untungnya marah sama orang yang lupa arah. Dan yang gue dapatkan dari dokter tersebut adalah rahasia. Ibarat kata, jika Fresa belum mau terbuka maka lebih baik kita tunggu. Karena menjelaskan semuanya tidak semudah membalik telapak tangan Fan. Apalagi ini menyangkut penyakit yang parah." Jelas Fano.
"Parah?" Tanya Fanisa lirih.
"Hem. Yang lebih parah lagi, Fresa itu menjadi incaran musuh keluarga gue dan keluarganya. Jadi, jaga Fresa selama lu bisa menjaganya. Terima kasih No, untuk tidak menjelaskan tentang penyakit Fresa. Karena ada saatnya di mana semua itu akan terbongkar." Balasan dari arah belakang mereka membuat keduanya memutar tubuh dan menetap sosok yang mereka kenal, Gibran Pahlevi.
Gibran berjalan mendekati mereka. Kini, ketiga orang tersebut tengah asik dengan pikiran mereka masing-masing.
"Mahda terjebak dengan Cheryl. Entah apa yang cewek gila itu katakan dengan Mahda. Tapi, gue rasa memang dalang semuanya adalah Cheryl. Karena kan selama ini yang memulai semua kekacauan adalah Cheryl. Dan setahu gue Alex hanya pion yang Cheryl gunakan. Selebihnya gue gak tahu siapa lagi dalang di belakang semuanya. Karena seperti yang kita ketahui sebelumnya, lu jatuh karena Cheryl dan telapak tangan Fresa juga terluka karena cewek gila itu, jadi menurut gue emang si Cheryl lah pelaku utamanya." Jelas Gibran membuat Fano menggelengkan kepalanya.
"Gak Bran, bisa saja dalang sesungguhnya bersembunyi di balik kejahatan Cheryl? Siapa yang tahu bukan?" Ucapan tersebut bukan keluar dari mulut mereka bertiga melainkan sosok lain yang baru bergabung dengan mereka.
"Maksud lu Van?" Tanya Fanisa.
"Banyak nanya lu kaya Dora." Balas Evan ketus.
"Lebih baik jadi Dora yang banyak tanya, dari pada jadi Patrick!" Ucap Fanisa sinis.
"Apa hubungannya Dora sama Patrick Fan. Mereka itu beda pencipta! Bego!" Balas Evan sebal.
"Lu kenapa si?! Kayanya kesel banget sama gue?!" Tanya Fanisa.
"Perasaan lu aja kali, lu kan sama Fresa 11 12 jadi gue kesel sama lu berdua barengan." Balas Evan.
"Maksudnya?" Tanya Gibran.
"Lu tahu saat kalian ninggalin Fresa, dia jadi berubah!" Balas Evan dengan menggebu-gebu.
"Berubah gimana?! Jangan setengah-setengah sialan!" Ucap Gibran geram.
"Berubah jadi batu. Di ajak ngomong malah diam. Tapi gue sadar ucapan Arkan memang benar si." Balas Evan bingung.
"Benar gimana?! Arkan ngomong apa?" Tanya Gibran menuntut.
"Arkan benar, gue gak adil jika kepo masalah kalian tapi gue sendiri gak terbuka dengan kalian. Egois banget ya gue." Balasan suara lain membuat mereka berempat terdiam. Bahkan langkah sepatu sosok tersebut membuat mereka semakin takut. Mereka seperti maling yang tercyduck!
"Karena gue udah tahu semuanya, jadi sebaiknya kalian juga tahu tentang gue. Beberapa bulan ini gue sak--"
"Fresa masuk ke mobil!" Perintah dari pihak lain membuat Fresa mencibir. Mau tidak mau Fresa mendekati sosok kurang kerjaan di depannya. Siapa lagi jika bukan Faza Aditya.
"Aku masih sekolah kak. Ya kali di suruh pulang." Cibir Fresa.
"Nona gak lupakan sekarang jadwal non--"
"Gak lupa! Dan jika kalian mau tahu jawaban dari semua yang gue sembunyikan, kalian bisa datang ke Jhonson Hospital. Bye guys!" Pamit Fresa.
Di saat Fresa meninggalkan mereka, Kiki dan Arkan tiba dengan wajah panik! Membuat mereka saling pandang.
"Ada apa?!" Tanya Fanisa.
"Fresa!"
"Fresa barusan pergi sama Faza." Balas Fanisa.
"Kalian itu bodoh atau apa si! Faza hubungi gue kalau dia gak bisa jemput Fresa!" Bentak Kiki.
Melihat Kiki panik Gibran langsung berlari keluar sekolah di ikuti sahabatnya yang lain, sedangkan Kiki dan Fanisa mengurus masalah tas mereka yang tertinggal. Entah apa yang terjadi saat ini semua orang khawatir dengan Fresa!
❤️❤️❤️