
Nongki!
***
Langit yang cerah di kota Bandung membuat empat
orang gadis cantik tersenyum manis. Ya! Sejak kejadian di mana Mahda dan Fresa
di culik, mereka kembali dekat. Dan kali ini mereka benar-benar dekat. Mahda
sudah jarang membahas Alex dam sebagainya. Kini, dia hanya ingin waktu bersama
dengan sahabat-sahabatnya.
Mahda dan yang lain tengah duduk di sebuah Kafe
tempat biasa mereka nongkrong.
"Ca, lu kan sama Gibran tunangan. Kok gue gak
liat ada cincin?" Pertanyaan Mahda membuat yang lain mengangguk setuju.
Fresa tersenyum tipis, dia mengeluarkan kalung yang
dia gunakan dan saat dia menunjukkan sebuah cincin di kalung tersebut, mereka
semua mengangguk paham.
"Gue kira lu bohong pas bilang tunangan saat
di Kafe." Balas Fanisa.
"Sebenarnya, seminggu gue menghilang itu bukan
karena gue tunangan sama si kucrut. Tapi, karena saat nenek dan kakek gue
meninggal gue sempet drop. Yang seperti kalian tahu, gue leukimia. Entah kapan
Tuhan akan membawa gue kembali. Gue harap, gue pergi di saat yang tepat."
Kata Fresa. Membuat ketiga sahabatnya yang lain langsung memeluknya.
"Gak Ca! Lu pasti sembuh, ada kita yang bakal
nemenin lu. Ouh ya, pas pulang dari TKP waktu itu gimana Gibran?" Tanya
Fanisa mengalihkan pembicaraan.
"Gimana? Gak gimana-gimana. Gue kan tidur
selama perjalanan. Jadi gue gak tahu tuh kucrut kenapa." Balas Fresa.
"Lu mah Ca tidur mulu!" Omel Fanisa.
"Emang kenapa si?" Tanya Fresa penasaran.
"Semua satu sekolah sudah tahu lu tunangannya
Gibran setelah tunangan lu itu memposting foto kalian yang sedang tukar
cincin." Jelas Kiki.
Fresa mendengus. "Kalau kalian tahu gue tukar
cincin ngapain nanya cincinnya?" Tanya Fresa membuat ketiga sahabatnya
nyengir.
"Ya habis, gak lu gak Gibran sama-sama gak
pakai cincin. Jadi gue pikir bisa aja manipulasi semuanya. Atau jangan-jangan
lu udah nikah sama Gibran?" Tanya Mahda serius.
"Nikah apaan si Da! Gak lah. Emang gua sejahat
itu nikah gak ngundang kalian hah?!" Balas Fresa kesal.
"Ya juga si. Tapi Ca, kan sejak lu di rawat di
Jerman sebulan lebih Gibran berubah. Lu gak tanya kenapa?" Tanya Mahda.
"Gue gak tahu alasannya kenapa Da, Tapi jika
Gibran marah dia serem." Balas Fresa.
"Serem gimana?" Pertanyaan tersebut bukan
keluar dari mulut ketiga sahabat Fresa, melainkan dari mulut seorang cowok
tampan dengan kaos biru lautnya.
"Perasaan hari ini waktunya Galmoners kumpul
deh, tapi kenapa kalian di sini?" Tanya Mahda sambil menatap empat cowok
di depannya.
"Karena, kita gak sengaja lewat." Balas
Evan.
"Anak kecil juga tahu kalau kalian itu sengaja
bukan gak sengaja. Tolong bedain ya!" Dengus Fresa.
Gibran dan yang lain tidak mempedulikan ucapan
Mahda ataupun Fresa, malah mereka sudah duduk di samping orang-orang yang
mereka cintai.
"Gue merasa aneh." Kata Fanisa saat Fano
duduk di sampingnya. Sedangkan Kiki? Dia hanya bisa tersenyum melihat tingkah
laku ketiga sahabatnya.
"Aneh? Atau deg-degan?" Ledek Evan.
"Si anying..." Umpat Fanisa membuat Fano
mendelik.
"Dah jangan berisik! Gue mau interogasi. Bran
mana cincin tunangan lu?" Tanya Mahda serius.
"Tunangan?" Pertanyaan balik Gibran
membuat Mahda dan yang lain menatap Gibran serius.
"Iya tunangan! Bukannya lu tunangan sama
Fresa? Atau lu berdua pura-pura?" Tanya Mahda menyelidik.
"Gue sama Fresa udah nikah." Celetuk
Gibran membuat Fresa yang tengah meminum jusnya langsung menyembur. Untung saja
tidak mengenai orang lain.
"***! Nikah sama kambing sana." Balas
Fresa kesal.
"Bercanda elah. Tegang amat si. Ni cincin
gue!" Kata Gibran sambil menunjukkan cincin di jari manis kirinya.
"Ternyata Gibran doang yang serius di sini.
Masa lu cemen si Ca. Ayo dong pakai cincinnya!" Paksa Mahda. Entah kenapa
Fresa merasa aneh dengan Mahda saat ini.
Tapi, karena paksaan yang lain membuat Fresa
melepaskan kalungnya dan mengambil sebuah cincin di sana. Baru saja ia ingin
pakai, Gibran sudah merebutnya dan langsung memakaikan ke jari manisnya.
"For you my queen." Kata Gibran sambil
mengecup tangan Fresa.
Cekrek...
Kamera handphone Mahda terdengar jelas. Yang lain
mengutuk Mahda karena teledor saat ini.
"Lu mau apakan tuh foto hah?!" Tanya
Fresa sengit.
"Yeh geer lu Fres! Orang si Mahda ambil gambar
kita." Balas Evan.
"Serah lu semua dah ya. Eug pusing." Ucap
Fresa membuat tawa Evan muncul.
"Gitu aja pusing Fres, gimana nanti kita
berumah tangga." Celetuk Evan.
"Ngomong kaya gitu, habis lu sama gue!"
Omel Gibran.
"Sekarang Gibran gak asik." Balas Evan.
"Dari pada kalian berisik, lebih baik kalian
pesan makanan. Atau kalian mau di sini? Soalnya kita mau pergi shopping."
Kata Kiki.
"Waw! Tumben shopping. Gue pikir kalian
sejenis wanita yang anti--"
"Berisik! Udah ah sekarang aja. Nanti keburu
habis." Balas Fresa langsung bangkit dari duduknya. Baru satu langkah,
Gibran menahan tangannya membuat mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Gue kangen banget sama lu Ca." Ucap
Gibran sambil memeluk tubuh Fresa membuat gadis cantik tersebut menegang.
"Hem.. Udah ah lepas." Ucap Fresa.
"Kita tunggu di sini, kalau udah selesai
hubungi gue. Karena kita pulang bareng." Balas Gibran.
"Bagus deh, karena salah satu dari kita gak
bawa kendaraan, jadi kalian bisa jadi tukang ojek. Sip lah." Kata Mahda
membuat Evan yang duduk di sampingnya mendengus, tapi Evan juga bahagia saat
ini. Walaupun dia belum bisa meledek Mahda seperti biasanya, Evan tetap senang
Mahda bisa kembali ke sahabat-sahabatnya.
Tidak mau menunggu lama, mereka langsung
meninggalkan Kafe dan mulai berjalan ke arah mall yang tidak jauh dari Kafe
tersebut.
Mungkin bagi kalian mereka akan shopping pakaian
dan sebagainya. Kalian salah! Walaupun mereka beli beberapa setel pakaian,
mereka tetap memburu sebuah novel melebihi kadarnya. Bahkan jika di
hitung-hitung harga novel mereka lebih mahal dari pakaian yang mereka beli.
Seperti yang kalian ketahui sebelumnya, Galmoners
pencinta Sastra, jadi jika ada buku baru dan menarik perhatian mereka, maka
mereka berempat langsung menuju TKP.
"Ca hp lu belom balik?" Tanya Mahda
membuat Fresa menatap sahabatnya.
"Belum kenapa?" Balas Fresa membuat Mahda
menggelengkan kepalanya.
"Gak kenapa-kenapa si, tapi aneh aja kalau hp
lu di tuker sama hp yang cuma bisa nelpon dan SMS." Ucapan Mahda membuat
Fresa terpikir satu hal.
"Nanti gue coba minta. Ouh ya, gimana hubungan
lu sama Alex?" Tanya Fresa.
"Gak gimana-gimana. Dia lagi sibuk buat UN.
Kan pas masuk nanti dia sudah sibuk sama ujian-ujian." Balas Mahda.
"Ya juga. Ya udah lah yang penting kalian
baik-baik saja. Kalau lu nyerah sama keadaan bilang Da, karena ada saatnya kita
harus berkorban." Ucap Fresa membuat Mahda tersenyum tipis.
"Pasti Ca."
Puas dengan belanjaan mereka, Fresa mulai
menghubungi Gibran untuk menjemput mereka di lobby. Karena tidak mungkin jika
mereka membawa semua ini menunju kafe. Sangat berat.
"Udah?" Tanya Gibran yang turun dari
motor kesayangannya.
"Hem..."Balas Fresa.
Gibran dan yang lain membantu para cewek-cewek
untuk naik ke atas motor, setelah semua duduk di motor, barulah Gibran
mengambil belanjaan Fresa dan memberikan kepada tunangannya.
"Gue pikir bakal belanja baju atau tas, eh
malah buku." Ucap Gibran.
"Serah gue!" Balas Fresa.
"Peluk Ca!" Perintah Gibran namun di
hiraukan oleh Fresa. Merasa tertantang, dia langsung menggas motornya membuat
Fresa spontan memeluknya. Jika Kiki langsung nurut, maka Mahda dan Fanisa harus
di paksa macam Fresa. Seandainya semua perempuan kaya Kiki, mereka pasti tidak
akan membuang-buang tenaga.
"Bran!" Panggil Fresa.
"Kenapa?"
"Gak jadi." Balas Fresa.
Gibran tahu apa yang Fresa inginkan, namun dia diam
saja. Setibanya di kediaman Fresa, Gibran membantu gadis cantik tersebut turun
dan...
"Maaf ponselnya nginep lagi." Ucap Gibran
sambil memberikan ponsel cadangan yang Gibran berikan dulu.
"Kenapa ponsel ini? Kenapa gak ponsel yang
lama saja?" Tanya Fresa.
"Udah ambil. Nanti malam gue ke rumah. Bye
Ca!" Pamit Gibran setelah memberikan ponsel Fresa. Padahal Fresa ingin
ponsel lamanya. Menyebalkan!
Kiki dan Arkan melempar senyum saat mereka tiba di
rumah Kiki, bahkan Arkan baru pergi saat Kiki masuk ke dalam rumahnya. Sama halnya
dengan Fano. Makhluk es tersebut menunggu Fanisa memasuki kediamannya, lepas
itu dia pergi meninggalkan kawasan perumahan tersebut.
"Thanks Van" kata Mahda membuat Evan
menganggukkan kepalanya setelah itu ia pergi. Mahda tersenyum sendu melihat
perubahan Evan. Entah kenapa dia merasa aneh saat Evan menjauhi dirinya.
Seperti ada hal yang hilang begitu saja.
Mahda memasuki kediamannya, berharap semua akan
berubah nantinya.
❤️❤️❤️❤️
Merenung.
****
Malam yang dingin tidak membuat Mahda pergi dari balkon
kamarnya. Bintang yang terang di atas sana membuat Mahda tersenyum tipis.
Terkadang Mahda ingin sekali tertawa karena
kebodohannya. Tapi, mau di katakan apa lagi? Cinta jika sudah memilih akan
tetap memilih sampai cinta itu lelah sendiri.
Sekarang, Mahda sedang dalam kondisi di mana
dirinya merasa aneh. Pertama, saat Evan berubah ada hal lain yang ia rasa.
Yaitu perasaan hampa dan sesak melihat Evan berubah. Kedua, setiap kali Mahda
mengirim pesan kepada Alex. Selalu saja Evan ada di bayangannya. Dan terakhir,
dia tidak tahu seperti apa perasaannya saat ini. Akankah Alex masih ada dalam
hatinya? Atau dia sudah di gantikan oleh Evan?
Jika Mahda bisa menjawab semuanya mungkin dia tidak
akan duduk bersandar di balkon kamar saat ini. Jika Mahda boleh memilih Mahda
ingin kembali ke masa di mana ia belum mengerti akan cinta. Seperti masa SMPnya
masa di mana dia san yang lain hanya fokus belajar, dan bermain. Tidak seperti
saat ini.
Ting!
Sebuah pesan masuk membuat Mahda membuka lock
ponselnya. Di sana tertera pesan masuk dari seseorang yang tidak Mahda ketahui.
Unknown Number
Tetaplah jadi gadis bodoh, supaya gue bisa
menyakiti salah satu dari kalian melalui lu.
Mahda tersenyum sinis. Mungkin dulu Mahda akan
membiarkan semuanya. Sekarang tidak! Mahda akan membongkar semua yang dia
ketahui, bahkan jika perlu dia membuka kedok seseorang yang selama ini tidak
terlihat.
Karena Mahda sudah lelah. Lelah mencintai sendiri.
Lelah mencintai seseorang yang tidak bisa membalasnya. Dan dia juga lelah
menjadi gadis bodoh.
Mahda mulai memasuki kamarnya dan memilih untuk memejamkan
mata, karena hari esok adalah hari berat untuknya.
***
Jika Mahda sudah membulatkan tekadnya, maka Fanisa
masih labil dengan semuanya. Semua perasaan yang ada dalam dirinya. Okey,
setelah melihat rekaman video dan bertanya langsung Fanisa sudah menemukan
jawabannya. Benar kata Fresa, jika mantannya benar-benar jatuh cinta sebelum
perjanjian bersama Cheryl dan alasan mantannya pergi juga bukan sepenuhnya
karena Cheryl tapi karena mantan Fanisa takut jika dia kenapa-kenapa. Dan di
sanalah asal mulanya. Karena sebuah ucapan singkat yang menegaskan ke
khawatiran membuat Fanisa bingung kembali dengan perasaannya. Di tambah lagi,
sosok mantannya akan kembali ke Bandung dan itu membuat Fanisa benar-benar
ingin pergi menjauh dari daerah ini. Bukan karena ia takut kembali kepada masa
lalunya. Tapi dia takut melukai seseorang yang selalu berjuang untuknya.
Berjuang di saat dia masih memiliki kekasih bahkan sampai detik ini.
Ting!
Fano
Gue tau lu belum bisa melupakan dia, tapi gue bukan
dia yang bisa ninggalin lu gitu aja. Sorry, gue masih berjuang dan gue yakin lu
belum sadar ke mana hati lu sebenarnya.
Fanisa tidak membalas, dia hanya diam merenungkan
semua ucapan Fano. Apakah benar ia sudah move on? Atau dia malah terjebak di
ruang nostalgia?
Ting!
Firhan
Kita sudah berubah Fan, gue sudah punya kekasih di
sini. Bahkan kita sudah tunangan beberapa bulan lalu. Jadi gue harap kedatangan
gue tidak mengganggu perasaan lu. Tapi kalau gue boleh jujur gue masih
merindukan kita yang dulu.
Bisakah Fanisa berkata kasar? Dia bilang suruh
lupakan tapi dia juga yang membuat Fanisa menjadi kepikiran. Sial!
Fanisa malas membalas kedua cowok tersebut. Dia
lebih memilih tidur karena ia serahkan semuanya kepada sang pencipta.
****
Sama halnya dengan Fanisa. Kiki juga sulit untuk
membuka hati yang baru untuk seseorang. Karena melupakan seseorang yang di
cintainya sangat lama. Oke, Kiki sudah mendengar jelas alasan mantannya. Bukan
berarti kemarahannya bisa ia lampiaskan ke orang lain dengan cara membuka hati
bukan? Karena setelah kejadian ini Kiki tidak ingin gegabah. Kiki tidak ingin
terluka dengan nama yang sama.
Mungkin Arkan termasuk cowok yang sangat sabar.
Buktinya Arkan benar-benar menunggu dirinya sampai dirinya benar-benar siap
untuk membuka hati baru.
Kiki ingin mencoba bersama Arkan. Tapi dia tidak
mau jika Arkan menjadi pelampiasannya. Makanya untuk saat ini Kiki lebih
memilih cara aman yaitu bersahabat dengannya.
Ting!
Arkan
Selamat malam Kiki, semoga mimpi indah. And love
you.
Pesan tersebut sudah setiap hari Kiki terima. Ada
perasaan aneh yang dia rasakan tapi Kiki takut. Kiki takut memulai kembali.
Semoga saja esok ia menemukan jawaban dari keresahan ini. Kiki berharap ia bisa
membalas perasaan Arkan tanpa membawa perasaan masa lalunya.
Kiki membalas pesan Arkan dan setelahnya dia
memilih untuk tidur.
***
Jika semua orang sedang galau,maka Fresa sama! Oke,
Gibran sudah tahu masalah perasaannya. Tapi dia tidak suka mengumbar perasaaan
cintanya. Bahkan setiap bertatap muka dengan Gibran dia malu. Seperti halnya
malam ini, cowok tampan itu duduk disampingnya dengan senyuman merekahnya.
Fresa risih? Sangat!
Apalagi sejak kejadian penculikan, pasti Gibran
selalu meledeknya dan itu membuat Fresa ingin sekali menendang cowok tersebut
ke Pluto.
"Sayang..." Panggil Gibran
"Hem." Balas Fresa.
"I love you!" Kata Gibran sambil mengecup
sudut bibir Fresa setelah itu, dia pamit pulang ke rumahnya.
"Gibran sialan!!!" Teriakan Fresa membuat
Gibran terbahak. Akhirnya sekarang dia benar-benar bahagia. Ternyata Fresa
mencintainya sejak lama dan itu membuat bahagia. Kebahagiaan yang tidak bisa di
jelaskan oleh kata-kata. Ia harap sahabatnya bisa merasakan hal yang sama
dengannya.
❤️❤️❤️❤️
Everything Has Changed 1
***
Semester baru tiba! Mahda dan kedua sahabatnya
mulai memasuki kawasan sekolah yang mulai ramai.
"Da! Alex." Kata Fanisa membuat Mahda
menatap ke arah di mana Fanisa memandang.
Di sana, Alex dan Cheryl memasuki pelataran
parkiran, di susul di belakang mereka Gibran beserta kawan-kawannya. Mahda
sudah tidak tertarik dengan Alex, sejak keputusannya malam itu dia sudah
membulatkan tekadnya.
"Gak usah di liatin Da, karena akan
menyakitkan." Balas Kiki.
"Gue gak liat mereka. Dan juga kenapa gue
harus sakit? Mereka kan adik kakak. Lagi pula, ada yang lebih menarik dari
mereka." Tutur Mahda.
"Siapa?" Tanya Fanisa.
"Fresa." Balasan Mahda membuat Fanisa dan
Kiki langsung mencari keberadaan Fresa. Dan benar saja! Di sana Fresa tengah
beradu argumen dengan anak-anak FEGA. Bukan hanya itu saja. Alex dan Cheryl
juga ikut andil di sana membuat Mahda langsung berlari mendekati mereka.
"Lu biasa aja dong! Jelas-jelas yang nabrak
Fresa itu lu cabe! Ngapa nyalahin orang!" Bentak Evan.
"Wahh! Siapa si Fresa? Sampai di bela oleh
anak-anak Fega. Ah! Apa lu piala bergilir merek--"
Plakkkk....
Suara tamparan terdengar begitu nyaring. Semua yang
sibuk dengan urusannya langsung memfokuskan pandangan ke arah di mana Fresa dan
yang lain berada.
"Gue kasih tahu. Pertama, Fresa itu bukan lu.
Kedua, Fresa itu cewek yang sulit dekat dengan cowok. Ketiga, wajar FEGA dekat
dengan Fresa karena dia tunangan dari Gibtan. Dan lu! Seharusnya bisa jaga
mulut adik lu ini, jangan sampai ucapannya berbalik arah nanti!" Bentakan
Mahda membuat Fresa tersenyum. Akhirnya sahabatnya kembali menjadi cerdas.
"Kamu berubah, lebih baik kita break."
Kata Alex.
"Kenapa harus break? Kenapa gak sekalian putus
aja?" Ucapan Mahda membuat Alex menegang.
"Aku gak akan mutusin kamu, jadi stop
pembicaraan ini. Ayo Cheryl!" Ucap Alex sambil menarik tangan Cheryl.
"Da, lu ?" Fanisa tidak bisa melanjutkan
kata-katanya. Dia terlalu shock! Seorang Mahda yang tidak bisa menjauhi Alex
tiba-tiba berucap demikian? Ini sangat aneh!
Manda hanya tersenyum membalas pertanyaan Fanisa,
sedangkan ia sudah lebih dulu melangkahkan kaki meninggalkan pelataran
parkiran.
"Gue susul Mahda. Nanti gue kabarin."
Ucap Kiki langsung berlari menyusul Mahda.
Fresa dan Fanisa memilih pergi menuju kelasnya.
Namun baru beberapa langkah....
"Fresa Aditya milik Gibran Pahlevi! Siapapun
yang mengganggunya akan berhadapan langsung dengan gue!"
Mendengar ucapan Gibran, membuat Fresa tenang dan
malu dalam waktu bersamaan.
"Cieee Eca." Ledek Fanisa.
"Berisik!" Balas Fresa meninggalkan
Fanisa di belakangnya.
"Titip Eca. Jika penyakitnya kambuh hubungi
gue." Ucap Gibran. Setelah itu mereka semua berpisah ke gedung lain.
Fanisa memasuki kelasnya, namun dia tidak melihat
keberadaan Fresa. Mungkinkah Fresa...?
Baru saja ia ingin berbalik, guru muncul di
hadapannya membuat Fanisa mau tidak mau langsung masuk ke dalam kelas. Tidak
lupa, dia juga sudah memberi tahu Gibran tentang Fresa. Semoga saja, Gibran
langsung mencari keberadaan Fresa.
***
Di lain tempat, Gibran dan Fano baru saja duduk di
bangku mereka. Belum juga ada sejam, pesan masuk dari Fanisa membuat Gibran
langsung berlari. Bahkan Fano yang melihatnya bingung. Bukan hanya Fano, guru
yang mengajar pun juga bingung melihat tingkah Gibran.
"Itu Gibran kenapa?" Tanya Guru
"Kebelet." Balas Fano asal. Membuat guru
tersebut menganggukkan kepalanya.
Tanpa semua orang sadari, Gibran sudah berkeliling
mencari keberadaan Fresa. Sampai satu tempat yang belum ia datangi.
Toilet!
Tanpa menunggu lagi, Gibran langsung berlari mencari
Fresa ke seluruh kamar mandi perempuan. Tidak peduli rasa lelah yang ia
rasakan, karena yang Gibran rasakan saat ini adalah ketakutan. Ketakutan akan
hal yang tidak bisa di jelaskan.
Gibran berada di kamar mandi terakhir. Kamar mandi
yang jauh dari koridor kelas atau ruangan lainnya. Bahkan suasana koridor
di sini sangat sepi. Membuat Gibran semakin khawatir jika Fresa kenapa-kenapa.
Saat Gibran membuka pintu toilet, di sanalah Gibran
menemukan Fresa. Gadis cantik itu tengah terduduk di lantai dengan wajah
menunduk. Bisa Gibran tebak gadisnya habis muntah.
"Mau muntah lagi?" Pertanyaan Gibran
membuat Fresa mengangkat kepalanya.
Tidak ada jawaban dari Fresa melainkan tatapan
sendunya membuat Gibran langsung mendekati Fresa.
"Jangan Bran! Gue jalan aja." Kata Fresa
saat Gibran mau mengangkat tubuhnya.
Gibran tidak peduli perkataan Fresa, ia lebih
memilih langsung menggendong tubuh mungil tersebut.
Fresa sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya benar-benar
merasakan sakit. Bahkan rasanya Fresa ingin selalu mengeluarkan isi perutnya.
Jika Fresa bisa memilih lebih baik dia pergi selamanya daripada merasakan semua
penyiksaan ini.
"Kenapa Fresa?" Tanya salah satu guru.
"Saya mau bawa ke rumah sakit. Saya harap ibu
bisa memaklumi." Jawab Gibran.
"Ya sudah bawa Fresa, kalau ada apa-apa
hubungi pihak sekolah. Atau ibu ikut ngantar?" Tanya gurunya.
"Tidak usah bu, saya bisa sendiri. Jadi,
saya duluan. Permisi."
Gibran sudah melewati halangan. Sekarang dia sedang
mendudukkan tubuh Fresa di bangku samping kemudi. Wajah pucat Fresa membuat
Gibran benar-benar ingin menangis sekarang. Ia tidak bisa melihat Fresa seperti
ini.
"Muka lu biasa aja. Kaya gue mau mati
aja." Kata Fresa sambil terkekeh.
"Jangan mati sekarang! Gue gak ikhlas."
Setelah mengucapkan hal tersebut Gibran langsung menjalankan mobilnya
meninggalkan pelataran sekolah, tidak lupa ia menghubungi keluarganya dan
Fresa. Biarkan nanti Gibran menghubungi yang lain setelah tiba. Karena, kondisi
Fresa lebih utama dari apapun.
❤️❤️❤️
Everything Has Changed 2
***
Jam istirahat membuat semua warga Starlight mulai
memasuki kawasan kantin. Begitupun dengan Galmoners.
Mahda dan kawan-kawannya duduk di tempat biasa
bersama dengan FEGA. Namun geng mereka kekurangan satu personel yaitu, Fresa
dan Gibran. Kedua orang tersebut tengah sibuk di rumah sakit. Fanisa yang
sempat di kabari Gibran, langsung menghubungi yang lain. Awalnya mereka ingin
menyusul tapi, karena tidak dapat izin mereka memilih mengalah.
"Makanya gue ajakin kabur mau." Celetuk
Evan saat melihat wajah muram Mahda dan sahabatnya.
"Pengennya gitu Van. Tapi--"
"Ki hidup jangan kebanyakan tapi, kalau emang
kalian mau cabut ayok aja!" Ajak Evan.
Baru saja Mahda ingin menjawab, Alex datang ke meja
mereka. Membuat Evan dan yang lain saling pandang.
"Mahda aku minta maaf tentang tadi pagi."
Perkataan Alex membuat Mahda mendengus kesal. Bahkan kini Mahda melengos pergi
meninggalkan kantin. Membuat yang lain langsung mengikuti Mahda.
"Makanya kalau suka sama satu cewek. Satu aja.
Tampang kaya lu gak cocok jadi playboy." Bisik Evan membuat Alex geram.
Alex menatap kepergian mereka semua dengan penuh
kebencian. Benci karena usahanya mendekati Mahda gagal hari ini.
"Di tolak bro? Kasian." Ledek Bian.
"Ngaca orang mah!" Balas Alex sambil
meninggalkan Bian yang tengah tersenyum penuh misterius.
***
Di sebuah rumah sakit, Gibran bersama dengan
keluarga Fresa dan keluarganya tengah menunggu keputusan dokter yang tengah
menangani Fresa.
Sejak mendatangi rumah sakit, dokter selalu
memeriksa kondisi Fresa. Entah apa yang di lakukan di dalam sana membuat Gibran
ingin sekali mendobrak pintu di depannya.
Namun sayang, Gibran tidak segila itu untuk
melakukan hal tersebut. Mungkin nanti, Bukan sekarang.
"Sabar Za, adik kamu sedang berjuang."
Kata Fresca.
"Sabar mah?! Di saat dia bisa operasi kenapa
gak? Dan dia itu terlalu bodoh dengan memilih percaya dengan kemo yang buat dia
mati perlahan!"
Suara Faza menjadi bumerang saat ini. Pasalnya,
Gibran tengah menatap pria dewasa didepannya dengan wajah penuh amarah.
"Jaga mulut lu! Jangan sampai wajah tampan lu
habis di tangan gue!" Bentak Gibran.
Di saat suasana di luar menegang, maka suasana di
dalam ruang Fresa juga sama-sama menegang. Pasalnya detak jantung Fresa kini
sangat lemah. Bahkan sosok cantik tersebut terlihat sangat pucat.
Felly pun tidak kuasa menahan tangisnya saat
melihat kondisi Fresa yang jauh dari kata baik.
Felly pun tidak tahu, apakah operasi akan
memperbaiki semuanya? Atau malah semakin memperburuk. Felly hanya dokter yang
melakukan semua usaha sesuai dengan perannya. Sedangkan yang mengatur semuanya
ialah, Tuhan.
Felly bersama dengan yang lain terus melakukan
semua usaha yang ia mampu, namun semua tidak berjalan dengan baik.
Sekarang, di hadapannya. Fresa--Felly tidak sanggup
menjelaskan kepada keluarga Fresa. Dia takut semua orang akan kecewa. Dia takut
semua orang akan sedih. Felly tidak mau melihat kesedihan mereka saat ini.
Di saat Felly keluar ruangan, semua keluarga Fresa
dan Gibran tengah menunggu. Lagi-lagi Felly tidak kuat menjelaskan semuanya.
Felly tidak tahu harus mulai dari mana.
Melihat wajah berharap mereka membuat Felly tidak
kuat menahan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya.
Bahkan kini, butiran bening tersebut sudah turun.
Membuat sosok bertampang dingin yang sedari tadi diam langsung memeluk
tubuhnya.
"Fresa tidak mati kan?" Pertanyaan Faza
membuat Felly memukul bahunya.
"Kamu nyumpahin dia mati?! Kakak macam apa
kamu!" Balas Felly geram.
"Terus kenapa nangis?" Tanya Faza sabar.
"Karena Fresa. Fresa hiksss.. "
Faza menghela nafasnya. Bagi Faza perempuan itu
Baru saja Faza ingin masuk ke dalam sana, Felly
berujar sesuatu yang membuat Faza diam.
"Fresa koma."
Perkataan tersebut bukan hanya membuat Faza
terdiam. Melainkan semuanya. Termasuk Mahda dan kawan-kawannya yang baru tiba
di rumah sakit.
"Bagaimana bisa?!" Balasan spontan mahda
membuat Felly menatapnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin jika sudah ke
hendak sang maha kuasa."
Di saat semua larut dalam pikiran mereka. Maka,
Gibran langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Fresa.
Saat masuk, Gibran melihat wajah pucat pasi Fresa.
Hal tersebut membuat dirinya ingin sekali menangis. Menangis akan semua hal
yang terjadi saat ini.
Gibran mendekati tubuh Fresa. Tidak ada kata-kata
kasar yang ia dengar saat ini. Hanya ada sosok cantik yang tertidur pulas
dengan suara pendeteksi jantung.
Gibran duduk di samping kasur Fresa sambil
menggenggam tangan Fresa.
"Kenapa lu tidur di saat yang tidak tepat
sayang? Lu tahu? Mahda sudah berubah. Dia sudah mulai percaya dengan semua
bukti yang lu kasih ke dia. Dia juga sudah berani menolak si Alex sialan itu.
Usaha lu selama ini berhasil. Please buka mata lu."
Gibran tidak peduli jika Fresa tidak menjawabnya.
Yang Gibran harus lakukan adalah mengajak tunangannya berbicara. Entah sedang
apa Fresa di sana. Yang pasti Gibran akan kembali menuntun Fresa. Ia mau Fresa
kembali untuknya.
Mahda dan yang lain memasuki ruangan Fresa. Air
mata turun dari wajah cantik mereka. Bahkan mereka sangat takut dengan situasi
saat ini. Takut jika Fresa akan pergi selamanya dan tidak kembali lagi.
"Ca. Gue tahu, gue sahabat paling ****. Tapi
jangan gini balas dendamnya Ca. Gue gak kuat. Gue merasa menyesal banget
sekarang. Seandainya gue percaya sama lu. Mungkin kebersamaan kita seperti
biasanya. Mungkin liburan kemarun kita di Paris. Namun sayang, gue
menghancurkan semuanya Ca! Gue menghancurkan persahabatan kita hanya demi
laki-laki yang tidak membalas perasaan gue. Harusnya saat itu gue percaya bukan
malah memarahi lu. Maafin gue Fresa. Hiksss..."
Jika Mahda memiliki kantung Doraemon. Ia langsung
meminta Doraemon untuk mengajaknya ke masa di mana dia membentak Fresa. Dia
ingin merubah semua dari sana. Tapi sayang, dia berada di dunia nyata bukan
imajinasi.
"Tahu Ca. Bangun dong. Lu kan bisa mengumpat
untuk Mahda karena suka salah bedain nama kita. Lu bisa marahin di sepuasnya.
Karena dia udah gak **** lagi. Asal lu tahi Ca. Selama ini Mahda gak pernah
berani nolak Alex. Sekarang? Dia berani Ca! Bahkan nolaknya di depan orang
banyak. Gue yakin kalau lu ada tadi lu bakal ngakak liat tampang cowok munafik
itu! Upsss sorry Da!" Ucap Fanisa membuat Mahda tersenyum tipis. Dia tidak
marah. Malahan saat ini dia ingin sekali mengumpat di depan wajah Alex.
Mengeluarkan semua unek-unek yang ia rasakan.
"Ca lu harus bangun! Karena si Evan bakal
punya rencana untuk cariin Gibran jodoh. Lu gak mau kan Gibran di ambil orang
lain? Makanya bangun Ca. Entar kalau udah bangun kita nongki cantik sekaligus
cari cogan-cogan. Gue yakin di luar sana banyak yang lebih ganteng dari
FEGA." Ucapan Kiki membuat FEGA mendengus.
"Jangan mau Ca! Kita ini lebih ganteng dari
semua cowok yang tercipta di dunia ini." Kata Evan.
"Tahi!" Balas Fanisa dan Mahda.
"Sudah-sudah. Lebih baik kita keluar. Fresa
butuh istirahat cukup. Besok kita ke sini lagi. Lagi pula, kalian gak mungkin
melewati pelajaran pak Karno kan?".
Ucapan Arkan membuat Mahda dan yang lain langsung
panik.
"Ca kita balik! Lu tahu kan pak Karno seperti
apa. Jadi sampai jumpa besok!" Balas Mahda dan kedua sahabatnya. Mereka
langsung berpamitan dengan keluarga Fresa dan Gibran.
Suasana kembali hening. Gisca yang berdiri tidak
jauh dari anaknya langsung memeluk tubuh anaknya.
"Fresa akan baik-baik saja. Dia butuh support
kamu dan yang lain. Kalau kamu kaya gini, bagaimana Fresa bisa kembali? Kamu
harus kuat untuk Fresa. Mama yakin kamu bisa."
Seperti sebuah bara api yang membakar kayu.
Semangat dalam tubuh Gibran menguar. Senyuman manis cowok tersebut membuat
Gisca ikut tersenyum.
Biarkan Fresa tertidur saat ini, tapi setelah Fresa
siuman Gibran akan memaksanya untuk operasi. Entah apa hasil akhirnya nanti.
Gibran akan berusaha memaksa tunangannya. Dan ia harap dengan operasi bisa
mengurangi penderitaan Fresa selama ini.
❤❤❤❤❤
Merindukan
Terkadang orang yang biasa kita anggap absurd dan
menyebalkan, suatu saat bisa menjadi seseorang yang akan kita rindukan.
***
Pagi ini adalah pagi yang tidak biasa bagi seorang
Mahda Adijaya. Gadis cantik yang baru beberapa minggu lalu berusia 18 tahun,
tengah serius memandang sebuah figura foto. Foto di mana ada dirinya dan ketiga
sahabatnya sedang tersenyum bahagia di depan Oxford University.
Tempat yang mereka kunjungi saat berlibur di London
beberapa tahun lalu. Yap, bisa di katakan saat itu mereka masih berusia 15
tahun. Masih mungil dan imut. Belum tahu apa itu cinta. Yang mereka tahu
hanyalah kebahagiaan bersama, Belajar dan Belajar.
Menginjak bangku SMA, barulah semuanya berubah. Di
mana mereka mulai berani untuk memulai hal yang bernama "Cinta". Dan
semua itu di awali oleh dirinya dan berlanjut kepada tiga sahabatnya. Namun,
dari mereka semua. Hanya Fresa yang masih menyimpan perasaan pada sosok Gibran.
Mahda ingat sekali, waktu itu Fresa tidak sengaja melihat Gibran duduk berdua
dengan kakak kelas perempuan. Entah apa yang di bicarakan oleh mereka, yang
pasti saat itu keputusan salah Fresa buat. Di mana ia mencoba menerima Bian
yang sama sekali tidak ia cintai.
Awalnya semua baik-baik saja. Sampai Fresa
mendapatkan pelecehan dari Bian. Entah alasannya apa, Mahda pun bingung. Tapi
selama Mahda mengamati keduanya, Mahda memang tidak suka dengan Bian. Bisa di
katakan Bian bisa lebih jahat dari Alex.
Kenapa? Karena Bian tipe cowok pemaksa dan apa yang
dia inginkan harus terwujud. Seperti halnya beberapa hari lalu. Saat itu Mahda
dan kawan-kawannya tengah asik berbincang banyak hal. Tiba-tiba Bian datang ke
meja mereka dengan raut wajah kesal.
"Mana Fresa?!" Bentak Bian membuat semua
penghuni kantin menatap ke arah mereka.
"Apa hak lu nanya Fresa? Pacar? Bukan! Suami
apalagi. Jadi lebih baik lu pergi!" Bentak Fanisa.
Bukan tanpa alasan Fanisa memarahi Bian. Semua yang
mereka lakukan ada alasannya, bahkan Mahda sendiri setuju dengan tindakan
Fanisa. Karena bagi Mahda, Bian ialah sosok yang harus di jauhkan dari Fresa.
Kenapa? Karena cowok gila itu sangat terobsesi dengan Fresa. Makanya sebisa
mungkin Mahda dan yang lain menjauhkan Fresa darinya.
"Gue kakak kelas lu! Jangan nyolot!" Omel
Bian membuat sosok dingin yang sedari tadi diam langsung berjalan ke arah meja
Galmoners.
"Pergi." Ucapan dingin Fano membuat Bian
mendengus.
"Gue bakal rebut Fresa dari sahabat lu! Camkan
itu!" Balasan Bian membuat Fano menatap bengis. Entah apa yang Fano
sembunyikan. Yang pastinya, membuat Mahda penasaran.
Kini, Mahda tengah asik melihat chattan lalu
dirinya dengan Fresa. Chattan yang berisi umpatan kasar, Omelan dan nasihat.
Semua yang Fresa katakan padanya membuat Mahda menyesal saat ini. Dia menyesal
telah menyia-nyiakan waktu hanya untuk pacar yang tidak peka terhadap
perasaannya. Jika Mahda bisa katakan, dia sangat amat menyesal. Kalau saja dia
mengikuti perkataan Fresa, kemungkinan hari-harinya akan selalu di kelilingi
oleh Galmoners, bukan cowok yang berpura-pura peduli. Kini, Mahda sudah yakin
dengan keputusannya. Yaitu, dia akan memutuskan hubungannya dengan Alex. Karena
saat ini persahabatan mereka lebih utama.
***
Di tempat yang berbeda, Fanisa tengah berdiri
menatap sosok yang sudah seminggu terbaring dalam tidurnya. Sosok yang Fanisa
rindukan saat ini.
"Fresa akan baik-baik saja Fan."
Perkataan sosok laki-laki membuat Fanisa menatap ke arah sampingnya.
"Firhan?"
"Hemmm... Kamu semakin cantik Fan." Balas
Firhan.
Kalian ingat Firhan? Dia adalah mantan kekasih
Fanisa. Mantan kekasih yang berada di daerah yang jauh dari tempatnya berada.
"Sendirian aja? Pacar kamu mana?"
Pertanyaan tersebut membuat Fanisa mendengus.
"Kemana kek yang enak. Lagian kenapa lu di
sini? Jenguk pacar?" Tanya Fanisa malas.
Entah kenapa Fanisa lagi malas bertemu dengan
mantan. Karena efek mantan masih besar di kehidupannya dan dia takut jika dekat
lagi dengan mantan, malah membuat sosok yang selalu berjuang untuknya ia
lupakan. Fanisa tidak ingin menjadi orang jahat. Tapi--Fanisa harus lupakan
perasaannya saat ini, Fresa lebih penting!
"Bukan jenguk pacar, tapi jenguk mantan yang
semakin cantik." Balas Firhan dengan gaya tengilnya. Membuat Fanisa
tersenyum tipis. Entah kenapa saat ini, Fanisa biasa saja dengan ucapan Firhan
apa mungkin dia? Tidak mungkin!
"Kenapa Fan geleng-geleng? Kamu pusing?"
Tanya Firhan sambil mengelus kepala Fanisa. Membuat debaran di jantung Fanisa.
"Gak!" Balas Fanisa ketus.
"Galak banget si Fan. Kalau galak ginikan aku
makin cinta." Ucap Firhan.
"Stop ngomongin cinta! Tuh cewek lu ngawasin.
Mending pergi." Usir Fanisa.
Firhan menatap ke arah pandangan Fanisa. Tidak ada
siapapun di sana. Kemungkinan besar Fanisa berbohong.
"Bohong dosa loh Fan. Kamu gak mau meluk aku?
Kan kita baru saja berjumpa." Pancing Firhan, membuat Fanisa langsung
memeluknya.
Firhan tersenyum sinis ke arah seseorang, bahkan
dia mengelus punggung Fanisa. Menyatakan ke seseorang di depannya kalau dia
menang hari ini. Sedangkan sosok tersebut tengah menyeringai. Dia tahu jika
saat ini Fanisa lagi kehilangan arah. Dan dia yakin Fanisa akan tahu ke mana
perasaan sesungguhnya. Melihat adegan ala novel tersebut membuat Fano
meninggalkan rumah sakit. Ya! Fano melihat semua adegan keduanya. Tapi, Fano
hanya diam. Toh nanti akan ada waktunya.
***
Angin kencang mulai meniup helai demi helai rambut
Kiki yang tengah asik duduk di balkon kamarnya. Kiki tengah asik memandangi
matahari yang malu-malu. Jika Kiki bisa kembali ke masa lalu, dia akan kembali
ke masa di mana hujan lebat terjadi dan Kiki sangat merindukan hal tersebut.
Rindu dengan umpatan kasar Fresa di saat mereka menarik Fresa untuk bermain
hujan-hujanan. Bukan hanya itu saja. Kiki juga rindu dengan chattan Fresa
dan yang lain. Rindu di mana Fresa akan memarahi Mahda ketika ketua Galmoners
itu dalam mode lemotnya. Bahkan Fresa ataupun Fanisa akan menyumpahi Mahda jika
gadis bawel tersebut salah menyebut nama keduanya.
"Sayang, ada Arkan di bawah" ucapan
ibunya membuat Kiki langsung berlari ke luar dari kamarnya. Ia tidak tahu jika
Arkan akan berkunjung sepagi ini.
"Masih pagi, udah bertamu aje." Ledek
Kiki.
"Udah jam 11 Ki, itu namanya udah mau siang.
Bahkan matahari yang malu-malu saja sudah mulai beraktivitas." Balas
Arkan.
" Ya si, lagian mau ke mana deh?" Tanya
Kiki yang kini duduk di seberang Arkan.
"Mau ngapelin cewek." Balas Arkan.
"Udah dari pada kamu banyak nanya mending
ganti baju. Kasian Arkan nunggu lama." Kata Ibunda Kiki.
Kiki sebenarnya malas keluar, apalagi disaat
situasi seperti ini. Mana mungkin dia bisa tenang jalan-jalan, yang ada dia malah
kepikiran Fresa.
"Ke rumah sakit saja ya. Gue lagi malas
jalan-jalan." Balas Kiki yang di hadiahi anggukan oleh Arkan.
Setelah berpakaian rapi, Kiki dan Arkan berpamitan
dengan ibunda Kiki.
Baru saja mereka ingin meninggalkan rumah tersebut.
Suara nada dering menganggu keduanya. Mau tidak mau mereka langsung mengangkat
telpon masing-masing.
"Kenapa Fan?" Tanya Kiki.
"Fresa..."
"Fresa kenapa?!" Balas Kiki khawatir.
"Fresa kritis!"
Duar!
Seperti ada sebuah kembang api yang meledak di
jantung Kiki. Semua organ tubuhnya mati rasa, bahkan semua blank!
Mereka saling pandang, setelahnya membelah
keramaian jalan sambil berdoa semoga Fresa baik-baik saja.
❤️❤️❤️
Kembali...
Seperti sebuah belati yang menancap tajam ke relung
hati...
Seperti sebuah jarum yang menusuk setiap bagian
tubuhmu...
Itulah yang kita rasakan saat, sesuatu hal yang
berharga bagi kita terluka.
-Aulia-
***
Suasana rumah sakit berubah menjadi mencengkram.
Tangisan demi tangisan mulai terdengar memenuhi tempat tersebut.
Sosok tampan, dengan wajah tegarnya berusaha
mati-matian untuk tidak memukul sesuatu. Hatinya sakit, jantungnya berdetak
begitu lemah dan untuk bernafas saja dia sangat sulit. Itulah yang Gibran
rasakan saat wanita paruh baya mengatakan tunangannya kritis.
Gibran tidak tahu apa yang terjadi dengan
tunangannya. Tapi, seingatnya. Saat itu kondisi Fresa masih stabil.
Kecuali--tidak mungkin! Gibran tidak boleh salah sangka.
"Gue ke toilet." Kata Gibran membuat
semuanya menganggukkan kepalanya. Namun tidak dengan Fano. Cowok dingin bak
Antartika itu malah ikut berjalan di belakang Gibran. Dia tahu, jika
Gibran sedang mencari sesuatu. Apalagi, kejadian ini terbilang cukup aneh di
saat kondisi Fresa baik-baik saja.
Ruang CCTV.
Itulah tempat yang Gibran datangi saat ini, awalnya
petugas menolak kedatangan Gibran, namun saat melihat Fano muncul. Petugas
langsung memberikan izin. Apalagi, jika Fano mengatakan dia kehilangan ponakannya.
Sungguh kebohongan yang sangat luar biasa.
"Jadi bagaimana ciri-ciri ponakan anda?" Tanya
petugas.
"Diam!" Balas Fano dingin.
Tangan Fano sudah asik mengutak-atik komputer di
depannya. Sedangkan Gibran menghafal semua rekaman yang di tampilkan Fano.
Sampai...
"Stop!" Bentakan Gibran membuat Fano
melepaskan jemarinya dari alat-alat di hadapannya dan dia ikut menyaksikan
rekaman ulang tersebut.
"Sial! Brengsek! Gue bunuh dia!" Umpat
Gibran.
"Bisa kah kalian hubungi polisi? Setidaknya
dengan kalian membantu kami, bisa mengurangi kesalahan kalian." Ucapan
Fano membuat salah satu dari mereka langsung menghubungi polisi.
Fano menarik tubuh Gibran untuk keluar dari sana.
Beruntung, Fano sudah mengcopy tadi. Jadi jika ada penghianat di sana dia sendiri
bisa langsung turun tangan.
"Gue tahu lu marah saat ini, tapi kita gak
tahu kebenarannya kaya gimana. So, sabar sampai polisi memutuskan
kebenarannya." Kata Fano.
Gibran memukul tembok di sampingnya, membuat buku
tangan Gibran terluka bahkan ada jari-jari tangannya yang sudah mengeluarkan
darah.
"Sabar, lu bilang?! Tunangan gue sekarat di dalam
sana No! Dan lu gak tahu gimana rasanya jadi gue! Lu gak tau No!" Bentak
Gibran sambil mengacak-acak rambutnya.
"Gue tahu rasanya." Balas Fano membuat
Gibran menatapnya sekilas.
"Sorry gue emosi."
Fano mengangguk sebagai jawabannya. Kini, mereka
memutuskan untuk kembali ke tempat di mana Fresa berada. Namun, bukannya
kesedihan yang mereka lihat. Namun, senyuman bahagia dari orang-orang yang ada
di sana.
"Ada apa mah?" Tanya Gibran.
"Fresa siuman. Dan dia minta kamu ke dalam
tadi." Balas Gisca.
Sebuah senyuman muncul di balik wajah tampan
Gibran, ia tidak menyangka akhirnya Fresa kembali setelah seminggu lebih
tertidur pulas.
"Gibran.." suara lirih Fresa membuat
Gibran langsung mendekati tubuh tunangannya.
"Iam here baby, kenapa cari aku? Rindu ya?"
Tanya Gibran.
Seandainya Fresa baik-baik saja kemungkinan
tangannya sudah bersarang di tubuh Gibran saat ini. Namun, melihat Fresa tidak
melakukan apapun membuat Gibran menghela nafasnya. Lagi-lagi perasaan
menyesakkan kembali hadir dalam dirinya.
"Kata dokter, penyakit gue semakin parah dan
gue memutuskan untuk meng--."
"Tidak! Jangan pernah bicara apapun tentang
itu. Karena lu akan tetap jadi milik gue!" Potong Gibran membuat Fresa
menaikkan alisnya. Dia bingung saat ini, niatnya dia ingin memberi tahu Gibran
jika dia akan--ah! Fresa yakin Gibran salah tanggap saat ini!
Fresa mengelus pipi Gibran dengan senyuman tipis di
wajah pucatnya.
"Gue memutuskan untuk operasi. Itu ucapan gue
selanjutnya." Balas Fresa membuat Gibran tersenyum sumringah. Bahkan cowok
tampan tersebut langsung memeluk tubuh Fresa.
Galmoners dan FEGA ikut bahagia melihat keduanya.
Apalagi, Fresa sekarang sudah mulai berani menunjukkan perasaannya. Membuat
Galmoners tersenyum sendiri. Ya, kali saja insiden ini bisa menjadi bahan untuk
membully Fresa nantinya.
"Serius?! Gue seneng banget! I love you
Fres." Ucap Gibran sambil mengecup tangan Fresa berulang kali.
"Ish! Lebay." Balas Fresa.
Fresa sekarang sadar, lebih baik dia melakukan yang
seharusnya ia lakukan. Jikalau takdir tidak menakdirkan ia untuk hidup lepas
operasi itu tandanya takdir hidup Fresa sampai di sana. Tapi, Fresa yakin ia
akan sembuh total seperti cerita novel-novel yang pernah ia baca.
"Lebay? Tapi cinta kan?" Ledek Gibran.
"Bodo." Balas Fresa.
Fresa merasa aneh dengan tangan kanan Gibran.
Kenapa sedari tadi tangan itu di letakkan di bawah?
"Give me your hand!"
"Nih!" Balas Gibran sambil memberikan
tangan kirinya, namun tatapan tajam Fresa membuat Gibran menghela nafasnya.
"Sorry." Ucap Gibran saat melihat raut
wajah khawatir Fresa.
"For what? Lu gak salah. Ini kenapa? Lu
berantem sama tembok?" Tanya Fresa berusaha mengalihkan perhatian.
"Hmmm... temboknya bikin aku cemburu. Karena
deket-deket sama lu." Balas Gibran.
"Gak jelas. Obati sana." Usir Fresa.
"Gak ah. Mau di sini aja. Lu mau bicara
sam--"
"Dia mau bicara sama gue, jadi pergi lu."
Usir Faza yang masuk dengan Sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Felly Alexander.
"Berisik ***! Gue di sini aja. Kalau lu
tiba-tiba meluk atau cium berabe." Balas Gibran dengan nada sinisnya.
"Si ****! Yang ngomong gitu harusnya gue
sialan. Gue mah kakaknya. Nah lu? Hanya orang asing!"
Belum sempat Gibran membalas, Felly sudah lebih
dulu berbicara.
"Jika mau bertengkar, silahkan keluar!"
Usir Felly.
"Ogah! Lu aja yang keluar." Balas Gibran
ketus.
Pluk!
Felly menjitak kepala Gibran, membuat sang empunya
langsung menatap tajam.
"Dasar cewek bar-bar!" Umpat Gibran
"Biarin bar-bar dari pada lu! Cowok gak punya
sopan santun. Sama yang tua aja songong!" Balas Felly ketus.
"Yee gila. Berisik dah lo. Mending lo diam.
Suara lu ganggu." Ujar Gibran.
Fresa tersenyum melihat tingkah laku Gibran dan
Felly. Ternyata banyak hal yang Fresa tidak ketahui. Termasuk kedekatan kembali
kakak dan sahabatnya ini.
"So?" Tanya Fresa.
"Kakak mau menikah dua bulan lagi, setelah itu
kakak akan fokus dengan bisnis keluarga kita." Balas Faza.
"What?! Menikah?! Tapi kan kak. Kak Felly di
sini." Ucap Fresa sambil menatap Felly sendu, membuat Gibran yang gemas
langsung mengecup pipi tunangannya.
"Si bar-bar sama batu es mau nikah beb. Jadi
gak usah pasang tampang kaya gitu, bikin gemes." Kata Gibran sambil
mencubit pipi Fresa dengan lembut.
"Cihhhh... Kalau kalian menikah bagus dong.
Tandanya gengsi kakak sudah pergi. Dan--"
Ucapan Fresa terhenti saat sebuah pesan masuk
terdengar di sana. Pesan tersebut bukan masuk ke ponsel Faza ataupun Felly
melainkan ke ponsel Gibran. Bahkan Fresa bisa melihat raut wajah kebencian di
wajah Gibran saat ini. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia yakin ada
rahasia yang Gibran sembunyikan.
"Gue pergi, titip Fresa." Setelah
mengucapkan kata-kata tersebut Gibran melangkahkan kakinya untuk keluar. Namun
belum membuka pintu, Fresa langsung berteriak kesakitan membuat Gibran langsung
berlari mendekati Fresa kembali.
"You okay? Mana yang sakit? Gue panggil
dokter? Atau lu mau--"
"Stay here." Potong Fresa dengan nada
serius membuat Gibran mau tidak mau langsung kembali duduk di samping Fresa.
"Yes, iam here. Istirahatlah. Dan lu berdua
sana pergi!" Usir Gibran.
"Kamu istirahat saja dulu. Besok kakak dan
Felly kembali lagi ke sini. Dan jika ni anak macam-macam, kamu teriak
saja." Kata Faza.
"Hem. Tolong panggilkan teman-teman aku ya
kak." Balas Fresa.
"Gak! Lu kudu istirahat." Kata Gibran.
"Apaan si, lebay ah. Gue mau ketemu sama
temen-temen gue emang salah?" Tanya Fresa.
"Salah! Apalagi kalau lu ketemu sama
temen-temen gue. Pokoknya lu harus istirahat! Kalau gak gue pulang." Ancam
Gibran.
"Pulang saja sana." Balas Fresa acuh.
Gibran langsung mengangkat tubuhnya untuk segera
keluar. Tapi, tangan mungil menahannya membuat senyum tipis muncul di wajah
Gibran.
"See? Lu gak bisa jauh dari gue Ca."
"Apaan si! Gue cuma mau ngasih tahu, kalau lu
keluar sekarang gue gak bakal izinin lu untuk datang ke sini. Dan sekalian
panggilkan yang lain." Jawab Fresa membuat Gibran mendengus kesal.
"Udah ah, kakak pulang. Cepet sembuh
adikku." Ucap Faza, setelahnya dia mengecup pipi Fresa dan pergi dari
ruangan adiknya.
"Rasanya pengen gue dobrak ni pintu."
Kata Mahda.
"Lebay!" Balas Fresa.
"Ya ampun Fresa, kenapa dirimu begitu kecil
dan pucat? Ah! Diriku tahu. Pasti kamu merindukan aku. Benar apa benar?"
Tanya Evan.
"Lu sawan?" Tanya balik Fresa membuat
Evan langsung mendekati tubuhnya.
"Hemm.. karena cinta adek."
Belum sempat mencubit pipi Fresa, Gibran sudah
memukul tangan Evan dengan sadis. Membuat Kiki dan yang lain terkikik geli akan
tingkah laku Gibran.
"***! Sana lu pergi. Fresa butuh
istirahat!" Usir Gibran.
"Ogah! Gue masih merindukan Fresa
tercinta." Kata Evan.
Magda tersenyum tipis. Entah kenapa, Mahda
merasakan sesuatu yang aneh dengan dirinya. Bahkan hatinya seperti di tusuk
duri saat ini.
"Yeh si dari songong!" Balas Gibran.
"Udah Bran. Ouh ya, lu baru datang Fir?"
Tanya Fresa kepada sosok lain di sini.
"Yaa baru aja. Lu gimana enakan? Ouh ya,
sebentar lagi Bian ke sini. Gak apakan?"
Pertanyaan Firhan membuat Gibran mengeraskan
rahangnya. Bahkan Kini Gibran sudah maju ke depan Firhan membuat Fresa takut
jika Gibran main tangan saat ini.
"Lu bilang Bian?! Lu gak tahu gue sama Fresa
sudah tunangan?! Mending lu pergi sebelum gue bongkar ke busukan lu!"
Bentak Gibran membuat Fanisa dan Fresa saling pandang.
"Kebusukan? Maksudnya?" Tanya Fanisa.
Sepertinya Fresa tahu situasi saat ini. Dia meminta
Kiki untuk menarik semuanya keluar. Ada yang harus ia dengar dari mulut Gibran
saat ini.
"Jadi, kebusukan apa yang anda maksud tuan
Gibran?" Tanya fresa serius.
"Gak ada."
"Pembohong! Lu sembunyikan sesuatu kan?!"
"Gak ada Ca! Lebih baik lu istirahat." Balas
Gibran ketus. Bahkan cowok itu meninggalkan Fresa yang shock akibat bentakan
Gibran.
Fresa yakin, Gibran tahu sesuatu. Karena jika
tidak, Gibran tidak akan berlaku kasar padanya. Atau haruskah ia katakan kepada
Gibran tentang apa yang terjadi di Jerman dulu?
"Fresa you okay?" Tanya Kiki yang masuk
bersama dengan dua sahabatnya yang lain.
Mereka memeluk tubuh Fresa dengan sangat erat.
Membuat Fresa tanpa sadar menitikkan air matanya.
"Gibran gak maksud bentak lu Fres, gue tahu
Gibran tuh kaya gimana. Dia gak akan menyakiti lu. Jadi, dari pada mikirin si
Gibran lebih baik istirahat." Kata Fanisa.
"Bener banget Fres! Lebih baik istirahat. Kita
bertiga akan jaga lu di sini. Jadi istirahat!" Ucap Mahda dengan penuh
penekanan.
"Hem. Thanks all."
Fresa di bantu oleh Kiki dan yang lain, mulai
memejamkan matanya. Bahkan tanpa mereka ketahui, jika Gibran melihat mereka
dengan tatapan sulit di baca. Fano yang di sampingnya saja tidak tahu apa yang
sedang Gibran rencanakan.
"Gue bakal buat si *** menyesal." Kata
Gibran membuat Fano dan yang lain saling pandang. Tidak mau menunggu lama,
mereka langsung berlari menyusul Gibran yang pergi entah kemana. Sedangkan keluarga
Fresa dan Gibran memutuskan untuk kembali ke rumah. Toh, sudah ada yang menjaga
Fresa saat ini.
Tanpa semua orang sadari, sosok lain tengah
menyeringai penuh kemenangan. Rencananya kali ini berjalan dengan lancar. Ia
tidak sabar dengan rencana puncaknya nanti. Ia akan buat salah satu dari mereka
kehilangan nyawanya. Tidak sekarang, permainannya masih sangat panjang. Karena
masih banyak jebakan yang akan ia lakukan.
Dengan wajah bahagia, sosok tampan tersebut
meninggalkan kawasan rumah sakit. Akhirnya harapannya sesuai rencana.
❤️❤️❤️❤️