
Mencoba melupakan 2
Jam kampus berakhir, itu tandanya murid-murid Starlight mulai kembali ke rumah masing-masing. Namun, tidak dengan Fanisa dan Fresa. Kedua gadis cantik tersebut langsung melangkahkan kakinya menuju basecamp jurnalis. Ya, setiap hari jumat mereka akan latihan jurnalis. Lain halnya dengan Mahda, gadis cantik tersebut akan latihan band setiap hari selasa bersamaan dengan ekstrakurikuler futsal. Ah! Fresa jadi teringat dengan hari di mana Fano mengajak Gibran futsal. Saat itu Fresa langsung paham jika geng FEGA di tantang oleh geng Bian untuk adu futsal. Fresa pikir Bian sudah mati, nyatanya dia masih hidup. Ya, mungkin balas dendam karena Gibran membuat mantan ketua BEM tersedak Bakso. Atau ada hal lain, entahlah rahasia para lelaki.
Setibanya di sana, Fresa dan Fanisa memasuki ruang berisi alat-alat jurnalis tersebut. Baru saja mereka membuka pintu, tamu tidak bekepentingan duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Kalian bisa menebak siapa? Ya, Gibran dan Fano. Kadang Fresa dan Fanisa menganggap mereka seperti adik kakak, karena kemanapun mereka pergi pasti selalu berdua.
“Ca, lu sadar gak si? Gibran dan Fano itu saling melengkapi?” bisik Fanisa.
“Sadar kok, malah mereka terihat seperti kita. Lu kadang berisik dan gue yang cuek. Ya sama lah dengan mereka.” Balas Fresa.
Berbicara tentang persahabatan, Fresa akan menjelaskan kembali tentang mereka berempat. Fresa dan Fanisa kenal sejak kecil karena keluarga mereka bersahabat. Panggilan Eca atau Ca itu panggilan yang keluarganya berikan untuknya, nah karena hal tersebut yang lain jadi mengikuti.
Sedangkan dengan Kiki dan Mahda, Fresa bersahabat sejak duduk di bangku SMP. Di mana mereka berempat selalu mendapat kelas yang sama. Entah settingan atau rencana takdir Fresa tidak mengerti. Karena sejak saat itu, mereka jadi dekat satu sama lain. Sampai akhirnya duduk di bangku kuliah.
Fresa pikir Mahda dan Kiki akan ambil sekolah negeri, ternyata tidak. Fresa yakin saat itu ia sedang di bohongi, terbukti dari respon Fanisa yang biasa saja.
Seiring berjalannya waktu, salah satu dari mereka memiliki kekasih masing-masing. Termasuk Fresa. Awalnya dia menjadikan Bian kekasih karena ingin melupakan perasaannya pada Gibran, tenyata semua sia-sia. Fresa sulit melupakan Gibran. Sampai akhirnya Fresa memutuskan Bian sepihak. Saat itulah masalah bertubi-tubi datang. Di mulai Mahda membentak Fresa karena menuduh Alex selingkuh. Lalu, kejadian di mana Bian hampir melecehkan Fresa, Fanisa yang putus karena kekasihnya harus berbeda daerah. Dan lebih parah lagi Kiki, dia harus mengikhlaskan kekasihnya bertunangan dengan orang lain dan menetap di luar negeri. Fresa bersyukur mantan Fanisa dan Kiki tidak satu daerah. Setidaknya mereka masih bisa memanfaatkan waktu untuk menata hati mereka kembali. Karena Fresa tahu rasa kehilangan terhadap seseorang bisa membuat kita trauma ataupun takut. Jadi, wajar saja jika saat ini mereka galmov karena melupakan orang yang kita cintai tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi Fresa! Gibran sudah seperti hantu baginya. Entah di sekolah ataupun di rumah dia selalu saja menganggu Fresa. Itulah sebabnya sulit bagi Fresa melupakan Gibran. Bagaimanapun, gengsi Fresa lebih tinggi dari ketiga sahabatnya. Dan karena alasan tersebutlah Mahda langsung membuat group bernama Galmoners. Ya, seperti yang sudah kalian ketahui sebelumnya.
Kembali pada dunia nyata, Fresa dan Fanisa memutuskan untuk memasuki ruangan jurnalis tidak lupa mereka juga sudah meletakan tas gendong mereka di salah satu meja yang ada di sana.
“Gue gak tahu kalian ini tipe orang yang kurang kerjaan atau emang kalian gak punya kerjaan?” pertanyaan Fanisa membuat Fano menyeringai.
“Kita punya kerjaan” balas Fano masih dengan seringainya.
“Apaan?” tanya Fanisa malas.
“Kepo!” Balas Fano ketus.
Bolehkah Fanisa membunuh seseorang? Jika di perbolehkan dia ingin sekali membunuh Fano! Pasalnya selain makhluk kutub utara, dia juga makhluk titisan iblis yang menyebalkan.
“Intinya rahasia lelaki. Daripada ngurusin kita, lebih baik urusin anak buah lu tuh.” Tunjuk Gibran menggunakan dagunya. Karena kata orang kalau pakai tangan gak sopan, jadi lebih baik dengan dagu.
Fanisa langsung memutar tubuhnya, begitupun dengan Fresa. Melihat anak-anak jurnalis sudah ramai, Fresa mulai menjauhi mereka. Namun di tahan oleh Fanisa. Ya, Fanisa ingin Fresa lebih dekat dengan yang lain. Karena bagaimanapun Fanisa ingin Fresa bersosialisasi, toh tidak masalah selama untuk kebaikan bukan?
“Fan..”panggilan Fresa di hiraukan oleh Fanisa, membuat Fresa harus menghela nafas kasar.
“Okay, ini kak Fre—“
“Tahu kak! Dia calon pacar saya!” seru adik tingkat Fanisa entah dari jurusan apa.
Fanisa menengok ke arah Gibran, melihat cowok tengil itu tenang membuat Fanisa sedikit binggung tapi ya sudahlah, mungkin Gibran sudah insaf.
“Calon pacar gundul mu!” balas Fresa ketus.
Anak- anak yang lain terbahak mendengar balasan Fresa termasuk cowok yang tadi meledek Fresa. Setelah lelah tertawa, kini saatnya mereka serius. Bahkan Fanisa yang tadi penuh dengan keceriaan mulai merubah raut wajahnya menjadi serius, membuat yang lainpun ikut serius.
“Baiklah adik-adik kalian pasti tahu kegiatan Jurnalis itu seperti apa bukan? Nah hari ini, kakak akan membagikan kelompok. Di mana kelompok tersebut akan bertanggung jawab dengan tugasnya masing-masing. Dan kakak akan memberikan kertas dan dari kertas tersebut kakak dan yang lain akan membuat kelompok kalian. Jadi harap jujur menjawab dan sesuai dengan keinganan kalian juga.” Kata Fanisa membuat salah satu anak mengangkat tangannya.
“Kak aku mau tanya, kita tetap di ajarkan semuanya kan?” pertanyaan tersebut membuat Fresa angkat tangan.
“Kita tetap belajar semuanya. Alasan di buat kelompok biar tidak adanya ketimpangan. Misalnya tim A, passionnya kebanyakan yang bisa membuat puisi. Nah, maka nanti tim lain akan timpang. Alasan kenapa setiap divisi di pecah, supaya kalian saling melengkapi satu sama lain. Bukan karena kalian ingin numpang nama." Fresa sengaja mengatakan hal tersebut, karena dia belajar dari kesalahan kakak kelasnya dulu.
"Wah! Kak sering-sering ngomong ya. Suara kakak membuat jantungku berdegup kencang." Kata sosok cowok dengan kacamata di wajahnya.
"Ban! Saingan lu tuh." Celetuk Fanisa.
Fanisa menuntut penjelasan kepada Fresa, namun yang di tatap malah melengos pergi membuat Fanisa geram sendiri.
'Liat saja, gue bakal cari tahu!' ucap Fanisa dalam hati, karena dia yakin ada yang di sembunyikan oleh Fresa dan Gibran. Karena tidak mungkin Gibran setenang ini menghadapi Fresa yang di goda cowok lain. Bukan Gibran sekali.
"Baiklah adik-adik, isi kertas tersebut setelah selesai kalian akan mendapat pelajaran pertama dari kak Ago. Dan kakak akan membentuk kelompok kalian." Jelas Fanisa.
Di saat mereka sedang menunggu kertas-kertas di kumpulkan. Gibran dan Fano mendekati perempuan yang mereka cintai.
"Pulang sama gue, si Faza gak bisa jemput ada urusan." Perkataan Gibran membuat Fresa mengangguk membalas ucapan cowok berkacamata tersebut, padahal Fresa sedang tidak fokus saat ini.
"Eh? Gak! Gue naik taksi." Balasnya.
"Semua angkutan umum udah gue suruh blacklist nama lu. Jadi lu gak ada pilihan lain sayang." Ucap Gibran dengan seringainya.
"Sialan!" Bentak Fresa membuat adik kelas dan seniornya menatap bingung.
"Sorry, tadi kalah main ML." Balas Fresa asal. Padahal dia tidak suka permainan yang selalu Fanisa mainkan tersebut. Karena bingung, ya sudah dia jawab apa saja yang ada di pikirannya.
"Asli Ca, lu lucu banget!" Ucap Fanisa terbahak.
"Dari lahir."balas Fresa ketus.
Setelah berdiskusi tentang kelompok dan penanggungjawabnya. Akhirnya Fanisa mengumumkan nama-nama tersebut. Melihat suka cita mereka membuat Fanisa dan Fresa ingat masa lalu.
"Baiklah adik-adik, sebelum pulang alangkah baiknya kita berdoa menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Berdoa di mulai." Perkataan Fanisa membuat semua anggota eskul langsung menundukkan kepala mereka, termasuk Fano dan Gibran. Setelah berdoa mereka langsung meninggalkan lokasi sekolah.
"Kenapa harus naik motor? Gue kan pakai rok Bran!" Omel Fresa. Fresa menyesal memakai rok hari ini. Kalau tahu kakaknya tidak bisa menjemput pasti dia akan pakai celana.
"Ih! Ngomel mulu nanti cepet tua loh. Udah naik dulu, nanti di tutup sama jaket gue. Rebes kan?"
"Hem!"
Fresa menaiki motor sport Gibran dengan bantuan cowok tengil tersebut. Setelah duduk tenang, Gibran langsung membuka jaketnya.
"Tenyata tidak tertutupi. Kita naik taksi." Perkataan tersebut membuat Fresa menatap cowok di depannya dengan tajam. Gibran emang menyebalkan!
Lain halnya dengan Fresa, Fanisa duduk manis di samping kemudi. Bahkan selama mereka keluar dari sekolah, Fano tidak mau mengajaknya berbincang. Sama halnya jika dia chat via line. Cowok itu akan membalas singkat. Sangat singkat sampai-sampai Fanisa sendiri bingung.
"Gue nyalain lagu ya." Perkataan Fanisa hanya di jawab dengan gumaman.
"Fan! Waktu pembagian suara lu gak dateng ya? Pantes irit ngomong." Celetuk Fanisa.
"Apa?" Tanya Fano membuat Fanisa mendengus.
"Gak tadi kucing gue ngelahirin." Balas Fanisa asal. Demi Neptunus! Fanisa jarang menghadapi orang-orang seperti Fano. Jika ada banyak Fano di dunia ini, Fanisa lebih baik bunuh diri. Lelah dirinya.
"Gak jelas." Ucap Fano.
See?
Emang Fano doang yang bisa mengubah emosi Fanisa. Liat saja dia akan membalas semuanya!
Perjalanan keduanya berjalan dengan lancar, Fresa harus menerima ceramahan Gibran selama di taksi dan Fanisa harus menerima keheningan perjalanannya. Kedua gadis cantik tersebut tidak tahu rencana apa yang sudah di buat kedua lelaki tersebut. Semoga saja sebuah kejutan yang tidak membuat darah naik.
❤️❤️❤️❤️