
Epilog
Terkadang sebuah cerita tidak perlu berakhir dengan happy atau sad. Karena kita tidak pernah tahu rencana kedepannya seperti apa.
Sekarang, Mahda tengah menyaksikan penampilan adik-adik tingkatnya di atas panggung. Dengan kebaya berwarna merah, Mahda terlihat sangat anggun hari ini.
Di tempat Mahda duduk, Mahda bisa melihat sahabat-sahabatnya tengah berbahagia dengan kekasih mereka. Manda bersyukur hubungan mereka berjalan dengan baik, setidaknya kali ini mereka tidak salah memilih pasangan.
Berbicara pasangan, pasti kalian ingat perusuh para pasangan? Yap! Evan. Setelah di nyatakan lulus, Evan memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Entah kenapa semuanya terburu-buru. Bahkan hari ini saja Evan tidak hadir untuk menerima penghargaan. Yang pasti Mahda berdoa yang terbaik untuk Evan.
Jika Mahda ditanya kenapa gak sama Evan? Jawabannya, belum berjodoh. Jika Tuhan belum mengizinkan dirinya untuk bersama Evan, itu tandanya ada yang Mahda harus lakukan sebelum fokus pada cintanya.
Mahda keluar dari tempat acara, dia memilih menyendiri di taman. Tempat di mana Mahda dan Evan sering menghabiskan waktu di saat mereka malas berada di kantin dan kini, Mahda sangat merindukan saat-saat itu. Saat di mana Evan menghapus air matanya. Saat di mana Evan memeluknya dan saat di mana Evan menjadikan dirinya wanita paling berharga. Namun sayang, semua hanya tinggal kenangan.
"Ada kiriman bunga." Kata seseorang yang kini berjongkok di hadapan Mahda.
"Saya tidak memesan bunga, mungkin anda salah orang." Balas Mahda ketus. Toh buat apa dia memesan bunga? Kurang kerjaan!
Mahda melihat pembawa bunga tidak mau berpindah dari tempatnya dan hal tersebut membuat mood Mahda hancur!
"Kalau mau jadi tukang bunga jangan di sini bang! Ganggu orang lagi galau aja! Abang gak tahu aja saya lagi iri sama sahabat saya yang taken!" Cerocos Mahda.
"Sama saya aja neng, saya jomblo." Balas pembawa bunga.
"Gak tertarik bang, nanti setiap hari Abang bawaain saya bunga lagi. Emang saya taman!" Balas Mahda ketus.
"Saya gak akan bawakan bunga neng, tapi saya bawakan cinta. Cinta untuk neng dan anak-anak kita nantinya." Ucap pembawa bunga, membuat Mahda mendengus.
"Lu ngomong ama gue bang? Ye kali! Gue itu udah punya cowok jadi jangan macem-macem." Kata Mahda ketus.
"Alah siapa si neng pacarnya? Paling pacar khayalan. Mending sama saya." Jawab pembawa bunga tersebut.
Manda malas sekali meladeni tukang bunga di depannya. Apalagi dia menganggu Mahda yang tengah menikmati moment kebersamaan dirinya dan Evan. Tukang bunga menyebalkan!
"Mau pacar khayalan kek, mau gak kek bukan urusan Abang! Lagian ngapain si di sini, ganggu aja!" Ujar Mahda sambil menatap ponselnya, di mana ada pesan masuk dari Fresa yang mengatakan jika mereka menunggu dirinya di cafe dekat sekolah.
"Lebih baik di ganggu saya daripada di ganggu setan." Dengus pembawa bunga.
"Di mana-mana mending di ganggu setan, Baca Al-Qur'an langsung pergi nah ini, di usir secara halus aja gak mempan dasar manusia kurang kerjaan." Balas Mahda.
"Saya punya kerjaan neng, mengantar bunga kepada kekasih hati saya. Emang gak boleh?!" Ucap si pembawa bunga.
"Abang kok ngeyel ya! Saya bilang saya gak mesen bunga dan saya gak mau lihat wajah abang di sini, eh Salah maksudnya tubuh abang di sini. Karena kan saya gak tahu wajah Abang." Ucap Mahda membuat pembawa bunga terkekeh.
"Kalau ini, kenal gak neng?" Tanya si pembawa bunga sambil memindahkan bunganya ke tangan kirinya. Dan detik berikutnya Mahda langsung menutup mulutnya. Jadi yang dia ajak berdebat tadi...? Evan?! Astaga! Mahda tidak tahu harus berkata apalagi.
"Evan!!! Ngesilin banget si lu!" Omel Mahda langsung memukuli bahu Evan membuat cowok tampan tersebut menahan tangan Mahda dan membawa ke pelukannya.
"Gak liat beberapa bulan aja kangen, gimana kalau pisah bertahun-tahun. Rasanya gak bisa terima kalau pisah selama itu, tapi--Mahda gue sayang banget sama lu. Sampe gue sendiri bingung keputusan apa yang gue ambil ke depannya. Mungkin keputusan yang gue ambil termasuk gila. Tapi gue gak bisa nahan lebih lama lagi, cukup tiga tahun gue nunggu lu dan gue gak mau lagi menunggu lu terlalu lama. So, Will You Marry Me?"
Evan yang tadi memeluk Mahda, mengambil sebuah kotak kecil di kantungnya lepas itu ia berjongkok layaknya teman-temannya yang pernah melakukan hal yang sama kepada kekasih mereka.
"Gue mau aja nikah sama lu tapi--"
"Mau." Balas Mahda membuat Evan langsung memeluk calon istrinya. Sekarang masalah dengan Mahda selesai, satu masalah yang harus ia lakukan. Keluarganya.
Evan tidak tahu apa yang terjadi dengan keputusan yang ia ambil saat ini, semoga saja keluarganya menyetujui keputusan dirinya. Apalagi Evan tidak bisa berpisah dari Mahda. Bisa gila dia kalau Mahda dengan pria lain.
"Jika aku pergi, jangan pernah dekat dengan pria manapun. Karena kamu akan tahu siapa aku sebenarnya nanti." Bisik Evan membuat Mahda menegang.
Entah kenapa Mahda merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Seakan-akan Evan yang ia kenal hari ini berbeda dengan Evan yang ia kenal sebelumnya. Apa dia memiliki kembaran?
"Aku gak punya kembaran. Lebih baik kita kabari yang lain tentang pernikahan kita." Kata Evan membawa tangan Mahda keluar dari taman.
Gemerlap lampu menerangi sebuah gedung mewah di kawasan kota Bandung. Dengan nuansa pink soft dan putih semua terlihat begitu cantik.
Wanita berusia 20 tahun dan sang pria berusia sama tengah berdiri di atas panggung sambil menyalami tamu-tamu undangan. Mereka Mahda dan Evan. Awalnya Evan pikir keluarganya akan menolak keputusannya ternyata tidak. Ayahnya hanya meminta Evan menjalankan janjinya dulu dan Evan menyanggupi. Selama Mahda sudah menjadi miliknya Evan bisa bernafas lega.
"Selamat ya Mahda, semoga cepet dapat baby." Kata Cheryl yang datang bersama anak laki-laki di gendongannya.
"Amin. Semoga kakak cepat dapat pengganti Alex." Balas Mahda.
Cheryl tersenyum. "Tidak bisa Mahda. Hanya dia yang mau aku jadikan suami. Aku tidak mau anakku memiliki ayah baru." Ucap Cheryl.
"Kalau gitu semoga Alex berubah nantinya." Doa Mahda.
"Mau gendong Alex dong." Kata Mahda membuat Cheryl memberikan gendongannya pada Mahda. Anak berusia satu tahun lebih itu begitu riang dalam gendongan Mahda, bahkan Evan yang melihat pun senang.
"Aku ambil makan dulu deh, titip ya." Kata Cheryl.
Belum juga Cheryl turun dari panggung suara teriakan seseorang membuat Cheryl menghentikan langkahnya.
"Mahda!!"
"Alex?!" Ucap Mahda dan Cheryl bersamaan.
"Wah, ternyata si cupu ini menikahi kamu? Setelah sekian lama menunggu dia akhirnya menikahi kamu? Hahaha... Sialan!" Teriak Alex.
Evan tidak tahu kenapa Alex bisa berada di sini. Yang ia tahu waktu bebas Alex masih lama. Hanya satu yang pasti, yaitu kabur dari penjara.
Alex melangkahkan kakinya memasuki lokasi pernikahan. Semua anak-anak FEGA dan Galmoners merasakan perasaan aneh. Perasaan di mana mereka akan kehilangan seseorang. Entah siapa, tapi perasaan itu begitu nyata di rasakan oleh ke-enam anak muda tersebut. Bahkan Evan pun merasakan hal yang sama.
"Tidak ada satupun yang boleh memiliki Mahda selain gue! Jika Mahda tidak bisa gue miliki maka orang lain pun tidak bisa gue miliki! Karena selamanya Mahda harus milik gue!"
Bentakan Alex membuat semua orang menatap Alex tajam. Bahkan Fano sudah menghubungi seseorang yang bisa membantu mereka. Namun, semua sia-sia saat suara tembakan bertubi-tubi terdengar.
Dorr....
Dorrr...
Dorrr.....
Satu yang pasti. Hari itu adalah hari yang paling mereka benci. Hari di mana seseorang yang mereka kenal harus pergi dari dunia ini dengan sejuta amanah.
❤️❤️❤️