Galmoners

Galmoners
10



First School.


***


Hujan yang mengguyur kota Bandung membuat beberapa


orang berlarian memasuki sekolah. Sama halnya dengan Galmoners. Keempat gadis


cantik itu datang bersamaan menggunakan mobil Fanisa. Dan kini, mereka sedang


berlarian menuju lobby sekolahnya.


"Ya ampun Fresa! Kenapa harus


hujan-hujanan?!" Keempat gadis cantik tersebut menghentikan langkah mereka


dan berbalik melihat siapa orang yang pagi-pagi marah-marah.


"Suka-suka gue lah!" Balas Fresa ketus.


"Emang suka-suka lu! By the way, kok gak ada


matahari ya?"


"Gibran jomblo jadi **** ya! Namanya hujan ya


mataharinya ngumpet." Balas Fresa ketus.


"Mataharinya gak ngumpet, tapi pindah ke


kamu." Balas Gibran sambil menatap kedua manik mata Fresa.


Mahda dan yang lain meninggalkan kedua orang


tersebut. Mereka yakin Gibran butuh privasi sekarang, terbukti saat Gibran


mengkode mereka untuk pergi.


"Fre jangan jadi angkot ya?" Pertanyaan


Gibran membuat Fresa menaikkan alisnya.


"Maksudnya?" Balas Fresa bingung. Angkot?


Dia kan manusia? Gibran aneh aja!


"Ngetem sembarangan terus tiba-tiba


pergi." Tutur Gibran membuat Fresa terdiam.


"Gue kaga ngerti lu ngomong apa. Udah ah gue


mau ke kelas." Balas Fresa meninggalkan Gibran.


Melihat Fresa menjauh darinya, Gibran tersenyum


bahagia. Karena Gibran tahu gengsi Fresa itu besar. Jadi mau tidak mau harus


melakukan apapun untuk membuat Fresa hanya melihat untuknya.


Sama halnya dengan Gibran, Fresa menahan dirinya


untuk tidak berteriak atau berekspresi yang membuatnya malu. Karena kelakuan


Gibran membuat dirinya..


Brakkk...


Fresa terjatuh akibat tabrakan dari seseorang. Ia


melihat siapa yang menabrak semua itu dengan senyuman sinis.


"Kalau jalan pakai mata! Kalau gak bisa pakai


kacamata biar lu sadar kalau lu salah jalan!" Ucap Fresa ketus. Ia berdiri


memandang kakak kelasnya dengan penuh kebencian.


"Gue? Salah jalan? Gak mungkin! Karena jalan


yang gue ambil udah benar, menghancurkan persahabatan kalian dan membuat


seorang Mahda Adijaya menjadi gadis bodoh." Balasnya.


"Mungkin saat ini anda menang. Next time? Gue


yang bakal bikin lu sadar apa itu menghancurkan!" Balasan dari Fresa


membuat sosok cantik yang berdiri di depannya menatap geram. Baru saja ia ingin


melakukan tindakan buruk, Mahda datang.


"Wah ada kak Cheryl. Ada apa?" Pertanyaan


Mahda membuat Cheryl tersenyum misterius.


"Ini Da, gue kan mau ke kelas lu ngasih tau


tentang Alex. Eh sahabat lu malah marah-marah dan ancam gu--"


"Bohong Da! Ni mulut mercon emang minta gue


sembelih." Potong Fresa. Ia tidak tahu apa yang cabe ini rencanakan yang


pasti hal buruk.


"Fre, gue tahu lu gak suka gue balikan sama


Alex. Tapi jangan gini caranya, Alex dan Cheryl tuh saudara. Dan kalian semua


juga tahu itu. Gue gak mau kita marahan, jadi you know what I mean." Balas


Mahda serius. Bahkan saking seriusnya, Mahda membuat Fresa kecewa tanpa Mahda


sadari.


Fresa tersenyum tipis. "Akan ada saatnya lu


tahu mana yang baik dan mana yang buruk." Fresa meninggalkan Mahda yang


terdiam di tempatnya. Sedangkan Cheryl tersenyum bahagia melihat keretakan


persahabatan mereka.


"Maafin Fresa ya kak, kadang dia suka


gitu." Ucap Mahda dan di balas dengan anggukan.


Kedua gadis cantik itu memutuskan untuk memisahkan


diri setelah berbincang penting. Entah apa yang Cheryl ucapkan, yang pasti akan


merubah suatu hal nantinya.


***


Pagi yang mulai cerah membuat anak-anak kelas 11


IPS 2 berlari ke lapangan. Ya, jam pertama pelajaran mereka adalah olahraga.


Fresa dan Fanisa yang sudah berganti pakaian langsung menggerakkan kaki mereka


ke lapangan.


"Ingat Fre! Lu Anemia. Jangan sampai lu


ikut-ikutan olahraga dan berakhir lu di bawa ke Jerman lagi." Ancam


Fanisa.


Ya, alasan lain kenapa Fresa tidak ikut camping saat


itu, karena keluarganya yang overprotektif tersebut meminta ia melakukan


prosedur rumah sakit seperti pemeriksaan biasa, tes darah dan ronsen full body.


Entah alasannya apa, yang pasti Fresa sangat kesal dengan keluarganya.


"Mereka aja yang sensitif." Balas Fresa


ketus.


"Mereka bukan sensitif, tapi mereka tidak mau


menjadi orang terakhir yang tahu lu sakit. Sama kaya bonyok kemarin, pas pulang


gue di suruh banyak istirahat. Padahal gue sendiri gak mau. Ya untung aja ada


Fan--"


"Sejak kapan lu dekat sama Fano?!" Ucapan


Fresa membuat keduanya menjadi perhatian teman sekelas mereka. Karena Fresa


typical orang yang masa bodo, jadi dia menghiraukan tatapan teman-temannya yang


kepo.


"Deket sama Fano? Gak ah biasa aja. Orang tuh


ya dia cuma ngajak gue jalan ke Dusun Bambu. Udah. Apanya yang deket."


Balas Fanisa membuat Fresa menelan ludahnya susah payah.


"Lu kenapa deh Ca. Aneh!" Tambah Fanisa


saat melihat wajah Fresa seperti maling yang tertangkap basah.


"Hah? Gak. Tapi lu gak liat ac--"


"Liat Ca!" Potong Fanisa membuat Fresa


panik seketika.


"Liat apa?" Balas Fresa lirih.


"Liat kalau si Fano ganteng juga. Tapi gue


belum cinta mungkin besok?" Pertanyaan Fanisa membuat Fresa melengos


pergi. Entah kenapa Fresa menjadi panik jika seseorang membahas Dusun Bambu.


Karena ia tidak mau rahasianya terbongkar saat ini.


"Fre lu ada apa si sama Dusun Bambu? Tingkah


lak--"


"Fresa!! Fanisa!! Sini kalian, kenapa masih di


sana? Orang-orang udah nungguin juga!" Omel Reno. Guru olahraga mereka


yang masih terbilang muda. Bahasa yang di gunakan Reno juga bahasa anak muda.


Makanya banyak cewek-cewek Starlight jatuh hati padanya, tapi tidak dengan


Fanisa dan Fresa. Keduanya anti yang namanya jatuh cinta sama guru, nanti kaya


cerita di ******* lagi, kan berabe.


di pinggir lapangan. Karena keluarga kamu meminta seperti itu. Dan kamu Fanisa!


Jangan kebanyakan bengong! Saya tahu saya tampan jadi biasa aja." Ucap


Reno membuat Fanisa mendengus kesal. Selain sok muda, Reno juga kurang ajar


alias mesum. Lihat saja tatapan pria itu pada Fanisa.


'dasar om-om kurang belaian!' gumam Fanisa membuat


Fresa seketika tertawa.


"Fresa kamu kenapa? Ada yang lucu?"


Pertanyaan Reno membuat Fresa geleng kepala. Bagaimana tidak? Guru berusia 25


tahun itu tengah menatap sahabatnya lapar! Sudah di pastikan guru tersebut


kurang belaian seperti yang sahabatnya ucapkan tadi.


"Gak pak tadi saya lagi latihan ketawa."


Balas Fresa ketus.


Bisik-bisik tentang dirinya tertawa mulai terdengar


di telinga Fresa membuat gadis cantik itu mendengus. Semua karena Fanisa!


Ingatkan dia untuk memarahinya nanti.


Disaat Fresa sedang duduk manis di pinggir


lapangan, seseorang duduk di sampingnya. Siapa lagi jika bukan Gibran Pahlevi.


Pria itu tidak pernah absen jika dia olah raga. Bukan karena terobsesi. Tapi


memang jadwal olahraga mereka selalu sama.


"Tumben makhluk es mau ikut." Ucap Gibran


membuat Fresa menengok ke arah mereka.


"Kenapa? Masalah?!" Balas Fano ketus.


"Masalah lah! Kar--"


"Lu berdua berisik!" Omelan Fresa membuat


Fano maupun Gibran terdiam. Setelah itu mereka mulai fokus melihat sesuatu di


depan mereka.


"Ini perasaan gue apa emang bener ya kalau tuh


guru caper tapi melakukan hal tidak senonoh?" Pertanyaan tiba-tiba Fano


membuat Fresa dan Gibran saling pandang.


"Emang." Balas Fresa membuat Fano


langsung bangkit dari duduknya. Membuat rasa penasaran keduanya semakin besar.


Ya lah, guru macem Reno harus di kasih pelajaran. Jika dulu Fanisa mengadu


tidak ada yang percaya mungkin saat ini berbeda. Karena ada Fano di sini.


Fanisa merasa kesal dengan gurunya tersebut.


Kenapa? Karena sedari tadi gurunya tersebut selalu saja mencari perhatiannya.


Sudah Fanisa duga, guru di depannya kurang belaian.


"Fanisa bapak tahu kamu suka sama bapak, tapi


jangan seperti ini."


"Bapak Reno yang terhormat! Anda ini guru


kenapa selalu saja menggoda anak murid? Saya bisa laporkan bapak detik ini


juga, dan satu lagi! Don't touch my girl! I see you touch her again? I kill


you!" Ucapan Fano membuat Fanisa terdiam. Tapi di lain sisi Fanisa sangat


senang. Guru tersebut langsung bungkam. Karena, memang gurunya itu terbilang


kurang ajar. Jika saja dia tidak memukul tangan guru tersebut sudah di pastikan


guru tersebut akan macam-macam kepadanya.


"Bener sekali Fano! Mending pecat aja dia.


Tadi dia juga melakukan hal menjijikan ke kita-kita." Koor temannya yang


lain.


Tidak menunggu lama, seseorang yang di hubungi Fano


langsung datang. Yaitu, pihak berwajib.


"Saya akan balas kamu anak muda!" Teriak


Reno membuat sorakan kebencian di utarakan teman-teman sekelas Fanisa.


"Thanks No." Balas Fanisa saat lapangan


menyisakan mereka berdua.


"Anything. Lain kali hati-hati." Ucap


Fano sambil mengusap kepala Fanisa dengan senyuman manisnya. Entah sadar atau


tidak. Fresa dan Gibran yang sedari tadi menonton shock dengan tingkah laku


makhluk es tersebut. Mereka sudah menduga sesuatu hal terjadi dengan mereka.


Jika Fanisa dan Fresa sibuk dengan masalah guru


mesum. Maka lain halnya dengan Kiki. Gadis cantik tersebut harus merasakan


kelelahannya akibat hukuman yang gurunya berikan. Jika saja Mahda tidak


berbicara kasar mengenai Fresa, mungkin dia tidak akan terjebak di


perpustakaan! Menyebalkan.


"Emang Mahda sialan! Gue sumpahin cepet


putus!" Ucap Kiki menggerutu. Tanpa Kiki sadari, rak dekat ia berdiri


bergoyang dan....


Brakkk...


Kiki tidak merasakan sakit apapun, cuma ia


merasakan tubuh seseorang di bawahnya. Tidak menunggu lama, gadis cantik itu


langsung membuka matanya.


"Astaga! Arkan lu gak apa?" Tanya Kiki


langsung bangkit dari tempatnya tadi.


"Gak apa, lain kali hati-hati ya. Kalau gak


ada gue gimana? Lu bisa luka dan gue gak suka liat lu luka." Perkataan


Arkan membuat Kiki terdiam. Bahkan saat Arkan mencium dahinya Kiki masih


terdiam.


"Kenap--"


"Kenapa cium lu? Biar lu sadar kalau ada orang


ganteng di depan lu. Udah ah rapihin, sebelum penjaga perpustakaan


ngamuk." Ucapan  Arkan membuat Kiki langsung melaksanakan tugasnya


tadi. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa, karena dia sendiri masih shock


atas apa yang terjadi.


***


Bel istirahat berbunyi, Mahda langsung keluar dari


kelasnya menuju kelas Alex.


"Kak Cheryl? Alex ada?" Pertanyaan Mahda


membuat Cheryl tersenyum tipis.


"Ke dalam aja, gue duluan ya!" Ucapan


Cheryl membuat Mahda langsung memasuki kelas Alex.


"Hai sayang, mau ke kantin sekarang?"


Pertanyaan Alex membuat Mahda mengangguk.


Tidak perlu menunggu lama, kedua insan tersebut


mulai berjalan keluar dari kelas Alex dan pergi menuju kantin.


Fresa dan yang lain asik menikmati makanan mereka,


namun kedatangan Mahda dan Alex membuat kantin seketika hening. Bahkan Mahda


hanya melengos saat melihat Fresa dan Kiki.


Fresa sudah tidak tahan! Baru saja ia bangkit untuk


menjelaskan semuanya pada Mahda, FEGA menahan Fresa membuat gadis cantik


tersebut menggeram.


"Mau jelasin ke Mahda? Percuma! Gue pernah


jelasin sebelumnya sama aja, malah dia bilang gini, 'kalau lu cinta sama gue,


lu harusnya relain gue! Dan jangan jadi Fresa yang melakukan hal buruk demi


hubungan gue putus.' lu tau gak si saat dia ngomong itu? Sakit Fre! Tapi gue diem


aja, semoga tuh anak sadar cepat." Balas Evan dingin.


Benar kata Evan, sekeras apapun kita menjelaskan


semuanya. Jika Mahda tetap Keukeh pada pendiriannya, sama saja. Fresa harap


Mahda sadar sebelum ia tersakiti terlalu dalam. Biarkan hari ini mereka kalah,


Fresa yakin nanti kemenangan datang untuk mereka


❤️❤️❤️