
First School.
***
Hujan yang mengguyur kota Bandung membuat beberapa
orang berlarian memasuki sekolah. Sama halnya dengan Galmoners. Keempat gadis
cantik itu datang bersamaan menggunakan mobil Fanisa. Dan kini, mereka sedang
berlarian menuju lobby sekolahnya.
"Ya ampun Fresa! Kenapa harus
hujan-hujanan?!" Keempat gadis cantik tersebut menghentikan langkah mereka
dan berbalik melihat siapa orang yang pagi-pagi marah-marah.
"Suka-suka gue lah!" Balas Fresa ketus.
"Emang suka-suka lu! By the way, kok gak ada
matahari ya?"
"Gibran jomblo jadi **** ya! Namanya hujan ya
mataharinya ngumpet." Balas Fresa ketus.
"Mataharinya gak ngumpet, tapi pindah ke
kamu." Balas Gibran sambil menatap kedua manik mata Fresa.
Mahda dan yang lain meninggalkan kedua orang
tersebut. Mereka yakin Gibran butuh privasi sekarang, terbukti saat Gibran
mengkode mereka untuk pergi.
"Fre jangan jadi angkot ya?" Pertanyaan
Gibran membuat Fresa menaikkan alisnya.
"Maksudnya?" Balas Fresa bingung. Angkot?
Dia kan manusia? Gibran aneh aja!
"Ngetem sembarangan terus tiba-tiba
pergi." Tutur Gibran membuat Fresa terdiam.
"Gue kaga ngerti lu ngomong apa. Udah ah gue
mau ke kelas." Balas Fresa meninggalkan Gibran.
Melihat Fresa menjauh darinya, Gibran tersenyum
bahagia. Karena Gibran tahu gengsi Fresa itu besar. Jadi mau tidak mau harus
melakukan apapun untuk membuat Fresa hanya melihat untuknya.
Sama halnya dengan Gibran, Fresa menahan dirinya
untuk tidak berteriak atau berekspresi yang membuatnya malu. Karena kelakuan
Gibran membuat dirinya..
Brakkk...
Fresa terjatuh akibat tabrakan dari seseorang. Ia
melihat siapa yang menabrak semua itu dengan senyuman sinis.
"Kalau jalan pakai mata! Kalau gak bisa pakai
kacamata biar lu sadar kalau lu salah jalan!" Ucap Fresa ketus. Ia berdiri
memandang kakak kelasnya dengan penuh kebencian.
"Gue? Salah jalan? Gak mungkin! Karena jalan
yang gue ambil udah benar, menghancurkan persahabatan kalian dan membuat
seorang Mahda Adijaya menjadi gadis bodoh." Balasnya.
"Mungkin saat ini anda menang. Next time? Gue
yang bakal bikin lu sadar apa itu menghancurkan!" Balasan dari Fresa
membuat sosok cantik yang berdiri di depannya menatap geram. Baru saja ia ingin
melakukan tindakan buruk, Mahda datang.
"Wah ada kak Cheryl. Ada apa?" Pertanyaan
Mahda membuat Cheryl tersenyum misterius.
"Ini Da, gue kan mau ke kelas lu ngasih tau
tentang Alex. Eh sahabat lu malah marah-marah dan ancam gu--"
"Bohong Da! Ni mulut mercon emang minta gue
sembelih." Potong Fresa. Ia tidak tahu apa yang cabe ini rencanakan yang
pasti hal buruk.
"Fre, gue tahu lu gak suka gue balikan sama
Alex. Tapi jangan gini caranya, Alex dan Cheryl tuh saudara. Dan kalian semua
juga tahu itu. Gue gak mau kita marahan, jadi you know what I mean." Balas
Mahda serius. Bahkan saking seriusnya, Mahda membuat Fresa kecewa tanpa Mahda
sadari.
Fresa tersenyum tipis. "Akan ada saatnya lu
tahu mana yang baik dan mana yang buruk." Fresa meninggalkan Mahda yang
terdiam di tempatnya. Sedangkan Cheryl tersenyum bahagia melihat keretakan
persahabatan mereka.
"Maafin Fresa ya kak, kadang dia suka
gitu." Ucap Mahda dan di balas dengan anggukan.
Kedua gadis cantik itu memutuskan untuk memisahkan
diri setelah berbincang penting. Entah apa yang Cheryl ucapkan, yang pasti akan
merubah suatu hal nantinya.
***
Pagi yang mulai cerah membuat anak-anak kelas 11
IPS 2 berlari ke lapangan. Ya, jam pertama pelajaran mereka adalah olahraga.
Fresa dan Fanisa yang sudah berganti pakaian langsung menggerakkan kaki mereka
ke lapangan.
"Ingat Fre! Lu Anemia. Jangan sampai lu
ikut-ikutan olahraga dan berakhir lu di bawa ke Jerman lagi." Ancam
Fanisa.
Ya, alasan lain kenapa Fresa tidak ikut camping saat
itu, karena keluarganya yang overprotektif tersebut meminta ia melakukan
prosedur rumah sakit seperti pemeriksaan biasa, tes darah dan ronsen full body.
Entah alasannya apa, yang pasti Fresa sangat kesal dengan keluarganya.
"Mereka aja yang sensitif." Balas Fresa
ketus.
"Mereka bukan sensitif, tapi mereka tidak mau
menjadi orang terakhir yang tahu lu sakit. Sama kaya bonyok kemarin, pas pulang
gue di suruh banyak istirahat. Padahal gue sendiri gak mau. Ya untung aja ada
Fan--"
"Sejak kapan lu dekat sama Fano?!" Ucapan
Fresa membuat keduanya menjadi perhatian teman sekelas mereka. Karena Fresa
typical orang yang masa bodo, jadi dia menghiraukan tatapan teman-temannya yang
kepo.
"Deket sama Fano? Gak ah biasa aja. Orang tuh
ya dia cuma ngajak gue jalan ke Dusun Bambu. Udah. Apanya yang deket."
Balas Fanisa membuat Fresa menelan ludahnya susah payah.
"Lu kenapa deh Ca. Aneh!" Tambah Fanisa
saat melihat wajah Fresa seperti maling yang tertangkap basah.
"Hah? Gak. Tapi lu gak liat ac--"
"Liat Ca!" Potong Fanisa membuat Fresa
panik seketika.
"Liat apa?" Balas Fresa lirih.
"Liat kalau si Fano ganteng juga. Tapi gue
belum cinta mungkin besok?" Pertanyaan Fanisa membuat Fresa melengos
pergi. Entah kenapa Fresa menjadi panik jika seseorang membahas Dusun Bambu.
Karena ia tidak mau rahasianya terbongkar saat ini.
"Fre lu ada apa si sama Dusun Bambu? Tingkah
lak--"
"Fresa!! Fanisa!! Sini kalian, kenapa masih di
sana? Orang-orang udah nungguin juga!" Omel Reno. Guru olahraga mereka
yang masih terbilang muda. Bahasa yang di gunakan Reno juga bahasa anak muda.
Makanya banyak cewek-cewek Starlight jatuh hati padanya, tapi tidak dengan
Fanisa dan Fresa. Keduanya anti yang namanya jatuh cinta sama guru, nanti kaya
cerita di ******* lagi, kan berabe.
di pinggir lapangan. Karena keluarga kamu meminta seperti itu. Dan kamu Fanisa!
Jangan kebanyakan bengong! Saya tahu saya tampan jadi biasa aja." Ucap
Reno membuat Fanisa mendengus kesal. Selain sok muda, Reno juga kurang ajar
alias mesum. Lihat saja tatapan pria itu pada Fanisa.
'dasar om-om kurang belaian!' gumam Fanisa membuat
Fresa seketika tertawa.
"Fresa kamu kenapa? Ada yang lucu?"
Pertanyaan Reno membuat Fresa geleng kepala. Bagaimana tidak? Guru berusia 25
tahun itu tengah menatap sahabatnya lapar! Sudah di pastikan guru tersebut
kurang belaian seperti yang sahabatnya ucapkan tadi.
"Gak pak tadi saya lagi latihan ketawa."
Balas Fresa ketus.
Bisik-bisik tentang dirinya tertawa mulai terdengar
di telinga Fresa membuat gadis cantik itu mendengus. Semua karena Fanisa!
Ingatkan dia untuk memarahinya nanti.
Disaat Fresa sedang duduk manis di pinggir
lapangan, seseorang duduk di sampingnya. Siapa lagi jika bukan Gibran Pahlevi.
Pria itu tidak pernah absen jika dia olah raga. Bukan karena terobsesi. Tapi
memang jadwal olahraga mereka selalu sama.
"Tumben makhluk es mau ikut." Ucap Gibran
membuat Fresa menengok ke arah mereka.
"Kenapa? Masalah?!" Balas Fano ketus.
"Masalah lah! Kar--"
"Lu berdua berisik!" Omelan Fresa membuat
Fano maupun Gibran terdiam. Setelah itu mereka mulai fokus melihat sesuatu di
depan mereka.
"Ini perasaan gue apa emang bener ya kalau tuh
guru caper tapi melakukan hal tidak senonoh?" Pertanyaan tiba-tiba Fano
membuat Fresa dan Gibran saling pandang.
"Emang." Balas Fresa membuat Fano
langsung bangkit dari duduknya. Membuat rasa penasaran keduanya semakin besar.
Ya lah, guru macem Reno harus di kasih pelajaran. Jika dulu Fanisa mengadu
tidak ada yang percaya mungkin saat ini berbeda. Karena ada Fano di sini.
Fanisa merasa kesal dengan gurunya tersebut.
Kenapa? Karena sedari tadi gurunya tersebut selalu saja mencari perhatiannya.
Sudah Fanisa duga, guru di depannya kurang belaian.
"Fanisa bapak tahu kamu suka sama bapak, tapi
jangan seperti ini."
"Bapak Reno yang terhormat! Anda ini guru
kenapa selalu saja menggoda anak murid? Saya bisa laporkan bapak detik ini
juga, dan satu lagi! Don't touch my girl! I see you touch her again? I kill
you!" Ucapan Fano membuat Fanisa terdiam. Tapi di lain sisi Fanisa sangat
senang. Guru tersebut langsung bungkam. Karena, memang gurunya itu terbilang
kurang ajar. Jika saja dia tidak memukul tangan guru tersebut sudah di pastikan
guru tersebut akan macam-macam kepadanya.
"Bener sekali Fano! Mending pecat aja dia.
Tadi dia juga melakukan hal menjijikan ke kita-kita." Koor temannya yang
lain.
Tidak menunggu lama, seseorang yang di hubungi Fano
langsung datang. Yaitu, pihak berwajib.
"Saya akan balas kamu anak muda!" Teriak
Reno membuat sorakan kebencian di utarakan teman-teman sekelas Fanisa.
"Thanks No." Balas Fanisa saat lapangan
menyisakan mereka berdua.
"Anything. Lain kali hati-hati." Ucap
Fano sambil mengusap kepala Fanisa dengan senyuman manisnya. Entah sadar atau
tidak. Fresa dan Gibran yang sedari tadi menonton shock dengan tingkah laku
makhluk es tersebut. Mereka sudah menduga sesuatu hal terjadi dengan mereka.
Jika Fanisa dan Fresa sibuk dengan masalah guru
mesum. Maka lain halnya dengan Kiki. Gadis cantik tersebut harus merasakan
kelelahannya akibat hukuman yang gurunya berikan. Jika saja Mahda tidak
berbicara kasar mengenai Fresa, mungkin dia tidak akan terjebak di
perpustakaan! Menyebalkan.
"Emang Mahda sialan! Gue sumpahin cepet
putus!" Ucap Kiki menggerutu. Tanpa Kiki sadari, rak dekat ia berdiri
bergoyang dan....
Brakkk...
Kiki tidak merasakan sakit apapun, cuma ia
merasakan tubuh seseorang di bawahnya. Tidak menunggu lama, gadis cantik itu
langsung membuka matanya.
"Astaga! Arkan lu gak apa?" Tanya Kiki
langsung bangkit dari tempatnya tadi.
"Gak apa, lain kali hati-hati ya. Kalau gak
ada gue gimana? Lu bisa luka dan gue gak suka liat lu luka." Perkataan
Arkan membuat Kiki terdiam. Bahkan saat Arkan mencium dahinya Kiki masih
terdiam.
"Kenap--"
"Kenapa cium lu? Biar lu sadar kalau ada orang
ganteng di depan lu. Udah ah rapihin, sebelum penjaga perpustakaan
ngamuk." Ucapan Arkan membuat Kiki langsung melaksanakan tugasnya
tadi. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa, karena dia sendiri masih shock
atas apa yang terjadi.
***
Bel istirahat berbunyi, Mahda langsung keluar dari
kelasnya menuju kelas Alex.
"Kak Cheryl? Alex ada?" Pertanyaan Mahda
membuat Cheryl tersenyum tipis.
"Ke dalam aja, gue duluan ya!" Ucapan
Cheryl membuat Mahda langsung memasuki kelas Alex.
"Hai sayang, mau ke kantin sekarang?"
Pertanyaan Alex membuat Mahda mengangguk.
Tidak perlu menunggu lama, kedua insan tersebut
mulai berjalan keluar dari kelas Alex dan pergi menuju kantin.
Fresa dan yang lain asik menikmati makanan mereka,
namun kedatangan Mahda dan Alex membuat kantin seketika hening. Bahkan Mahda
hanya melengos saat melihat Fresa dan Kiki.
Fresa sudah tidak tahan! Baru saja ia bangkit untuk
menjelaskan semuanya pada Mahda, FEGA menahan Fresa membuat gadis cantik
tersebut menggeram.
"Mau jelasin ke Mahda? Percuma! Gue pernah
jelasin sebelumnya sama aja, malah dia bilang gini, 'kalau lu cinta sama gue,
lu harusnya relain gue! Dan jangan jadi Fresa yang melakukan hal buruk demi
hubungan gue putus.' lu tau gak si saat dia ngomong itu? Sakit Fre! Tapi gue diem
aja, semoga tuh anak sadar cepat." Balas Evan dingin.
Benar kata Evan, sekeras apapun kita menjelaskan
semuanya. Jika Mahda tetap Keukeh pada pendiriannya, sama saja. Fresa harap
Mahda sadar sebelum ia tersakiti terlalu dalam. Biarkan hari ini mereka kalah,
Fresa yakin nanti kemenangan datang untuk mereka
❤️❤️❤️