
Back To School!
***
Pagi ini mungkin pagi yang sangat membahagiakan
untuk Fresa Aditya. Karena setelah berlibur ke Singapura, sekarang waktunya
dirinya menyibukkan diri dengan rutinitas seperti biasanya.
Datang bersama tunangannya membuat Fresa menjadi
pusat perhatian saat ini. Apalagi sejak tersebarnya berita pertunangan dirinya.
"Gak usah mikirin mereka." Kata Gibran
berbisik.
"Mikirin gak, cuma risih aja." Balas
Fresa malas.
"Sama aja." Balas Gibran menyentil dahi
Fresa.
"Aduhh, yang udah taken beda ye. Apalagi mau
nikah. Aduh beda banget dah auranya." Celetuk Evan.
"Lu gila?!" Kata Fresa sinis.
Nikah dari Hongkong! Dia saja takut memikirkan hal
berbau pernikahan, nah ini? Mulut mercon ngomong asal jeplak membuat mood Fresa
hancur seketika!
"Kaga! Emang kenyatannya kaya gitu. Setelah
tunangan pasti menikah liat saja nanti. Jika benar kalian yang nikah duluan
kalian harus traktir gue liburan." Kata Evan.
"Yeh gila! Ngomong lu sana sama tembok."
Balas Fresa ketus.
Fresa heran kenapa sekarang Evan jadi sangat menyebalkan.
Apalagi sekarang dia selalu saja menganggu dirinya dan Gibran. Okey, Fresa
bukan ingin berduaan dengan Gibran. Tapi kalau di recoki seperti ini membuat
dirinya kesal sendiri.
"Welcome back Fresa!!" Teriak teman-teman
sekelasnya saat dia baru memasuki kelas.
"Waw! Thanks you gengs! Terharu deh."
Kata Fresa.
"Harus dong Fres! Sebagai ketua kelas gue
harus bisa menyenangi anak-anak gue."
"Wahh terima kasih bapaknya anak-anak."
Ledek Fresa.
Gibran mendengus saat mendengar ucapan Fresa. Tidak
biasanya Fresa mau berbaur. Atau mungkin dia sudah insaf?
"Aku kembali ke kelas. Jangan lupa, istirahat
aku tunggu di kantin." Ucap Gibran yang kini berdiri di depan Fresa.
"Heem. Thanks ya!" Balas Fresa.
Belum, Gibran pergi dari sana. Cheryl dan dua antek-anteknya
sudah berdiri di kelas Fresa.
"Pagi Gibran! Wah, pasti habis antar
selingkuhan kamu ya. Kamu gimana si Bran. Kita ini tunangan loh." Ucap
Cheryl.
"Dari mana lu tunangan Gibran?" Tanya
Fanisa sinis.
"Ini!" Balas Cheryl sambil menunjukan
Cincin yang ia gunakan.
Gibran dan Fresa tersenyum sinis. Mereka
menunjukkan cincin keduanya. Cincin di mana milik keluarga besar Gibran dan
kini melekat di tangan keduanya. Perhatian anak-anak mulai ke cincin ketiganya.
Dan mereka sudah paham siapa sejatinya tunangan Gibran.
"See? You lose. Jika mau memanipulasi Cincin
ini tidak bisa. Sekalipun serupa ada bagian dari cincin ini yang tidak bisa di
miliki toko perhiasan lainnya." Jelas Gibran.
"Tahu lu Medusa! Insaf kenapa si, gue tahu lu
iri sama Fresa tapi ya gak gini juga keleus. Kan yang malu lu juga."
Tambah Evan.
"Bisa aja punya Fresa palsu!" Balas
Cheryl Keukeh.
"Sebenarnya dari Cincin yang gue gunakan saja
gue bisa tahu mana pasangan cincin ini. Udahlah sana pergi. Gue muak sama
permainan lu. Ah satu lagi! Lu bakal berhubungan dengan pihak berwajib. Thanks
Fano!" Kata Gibran langsung pergi dari kelas Fresa.
Teman sekelas Fresa menatap Cheryl jijik, pasalnya
mereka juga tahu seperti apa Cheryl sebenarnya. Apalagi Cheryl ini kakak kelas
mereka, jadi menurut mereka tidak pantas.
"Dari pada berniat menghancurkan kehidupan
gue. Lebih baik lu belajar yang benar, supaya lu lulus. Jangan sampe gak lulus.
Malu loh." Ledek Fresa membuat teman-temannya menyaut.
"Tahu! Cantik doang kalau otak gak ada mah
buat apaan. Kasian anak gue nantinya." Saut ketua kelas.
"Setuju sekali bapaknya anak-anak. Sekarang
mah modal cantik gampang, berdiri di pinggir jalan aja laku. Coba kalau orang
cerdas? Beda lagi!" Balas Fanisa membuat Cheryl menggeram.
"Liat lu semua! Gue bakal buat perhitungan
sama kalian." Ancam Cheryl.
"Perhitungan? Emang lu jago matematika? Nilai
merah aja belagu." Kata ketua kelas membuat kelas Fresa semakin ramai.
"Sialan! Liat aja nanti, gue bakal buat lu
lupa sama dunia!" Kata Cheryl sambil menunjuk Fresa.
"Lupa dunia? Lu kali. Wahhhaa..."
Cheryl sudah teramat kesal, dia lebih memilih meninggalkan
tempat tersebut dari pada semakin malu.
"Sepertinya ada yang gue lewatkan, apa
itu?" Tanya Fresa membuat semua langsung bersemangat bercerita.
***
Di lain sisi, Mahda dan Kiki tengah asik
berbincang-bincang. Semua anak-anak IPS 2 tengah asik menyibukkan diri.
Brakkk....
Gebrakan meja membuat semua mata memandang pelaku
kebisingan tersebut.
"Mau apaan lagi si lu! Udah kelas 12 juga
masih aja cari gara-gara." Ucap ketua kelas.
"Diam lu! Gue gak ada urusan sama lu. Mana
Mahda! Gue mau bicara sama dia." Kata Alex dengan penuh amarah.
"Ngapain lagi si lu! Mending cabut aja dari
sini, lagian kita gak ada yang harus di selesaikan. Jadi lebih baik lu pergi
sebelum kita semua ngusir lu kaya kemarin." Balas Mahda yang kini asik
duduk di bangkunya.
Alex berjalan mendekati meja Mahda membuat Mahda
dan Kiki bersiaga. Pasalnya kemarin Alex main tangan. Beruntung Mahda cepat
menghindar jika tidak? Kemungkinan wajah Mahda sudah jadi pelampiasan amarah
kakak kelas tersebut.
Kriettt...
Bangku yang Mahda duduki berderit akibat tendangan
kaki Alex. Mata keduanya saling menatap tajam seakan-akan mata mereka itu pisau
runcing yang siap menusuk siapapun.
"Aduh Alex, bisa gak si gak cari masalah
sehari aja. Lu sudah besar, sudah punya KTP dan pastinya lebih dewasa dari
kita. Tapi tingkah laku ku kaya anak-anak! Menyedihkan." Ucap Kiki
menyindir.
"Diam! Gue gak ada urusannya sama lu! Jadi lu
gak usah ikut campur." Bentak Alex.
"Terus lu mau bilang kita punya masalah?
Masalah apalagi Alex! Gue sudah ikhlas putus sama lu, gue juga udah gak ganggu
lu lagi. Terus mau lu apa?!" Balas Mahda kesal.
"Mau gue ya lu sama gue balikan! Apa perlu gue
lukain sahabat lu supaya lu balik sama gue?" Tanya Alex mengancam.
"Gue gak bakal sudi balikan sama lu. Anggap
aja kemarin gue lagi ****. So, gak ada lagi yang harus di bahas." Jawab
Mahda membuat Alex emosi.
Cowok tampan tersebut langsung mencekik leher Mahda
membuat beberapa teman sekelas Mahda berlari ke arah mereka. Bahkan Kiki yang
membantu saja terdorong ke lantai.
"Kamu gak apa?" Tanya Arkan yang entah
kapan dia datang.
"Gak apa, tapi Mahda." Balas Kiki.
Arkan mengerti. Ia langsung menarik tubuh Alex dan
mendorongnya.
"Lu mau jadi pembunuh?! Jangan di sini! Di
tempat lain sana! Jangan cemarkan sekolah kita dengan tingkah murahan lu. Apa
lu gak mikir dampak yang lu lakukan ini?! Ingat orang tua lu! Kalau lu masuk
penjara dan gagal ujian, siapa yang bakal mereka banggakan kalau cuma lu?!
Sudahlah Alex, masa lalu itu jadikan pembelajaran, bukan malah di jadikan beban
hidup. Ada kalanya kita gak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. So, lebih
baik lu kembali." Kata Arkan.
"Gue gak takut! Jika Mahda gak bisa jadi milik
gue maka semua orang tidak bisa memiliki Mahda termasuk teman sialan lu! Gue
bakal kembali lagi sampai lu mau menerima gue!" Ucap Alex sebelum
meninggalkan tempat tersebut. Alex bersumpah akan membalas mereka semua. Ia
tidak peduli siapa lawannya yang pasti Mahda harus jadi miliknya. Harus!
"Gue gak sudi! Lebih baik lu pergi dan jangan
pernah muncul kembali ke hadapan gue, karena lu itu gak penting bagi gue!"
Balas Mahda.
"Kita lihat saja nanti." Ucap Alex
misterius.
Mahda tidak tahu harus berbuat apalagi, yang ia
harapkan semua ini cepat selesai. Karena dirinya sendiri juga lelah dengan
sikap Alex yang menurutnya tidak rasional.
Kantin
***
Bel istirahat berbunyi...
Seluruh siswa dan siswi Starlight mulai berhamburan
keluar dari kelas mereka.
Jika biasanya mereka akan berlari ke kantin, maka
lain halnya dengan hari ini. Mereka semua berlari ke lapangan.
Kenapa ke lapangan?
Karena di sana sudah di sulap! Lapangan yang
tadinya kosong berubah menjadi tempat penuh bunga dan balon berwarna merah
jambu. Siapapun yang melihatnya pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Fresa dan kawan-kawannya mulai mengikuti pergerakan
siswa dan siswi lain untuk mendekati lokasi tersebut. Mereka penasaran dengan
orang yang romantis ini. Apalagi orang ini sangat berani melakukannya di
sekolah.
"Menurut lu siapa? Kalau Alex gak mungkin kan?
Jangan sampe deh." Kata Mahda.
"Alex ya? Bisa aja si. Apalagi sejak putus
sama lu dia jadi gila." Balas Fanisa.
"Tapi ya jangan Alex juga kali, kalau gue yang
jadi pemeran utamanya bingung. Tar kaya di ******* lagi dia ngancem gue buat
jadi pacarnya lagi." Tutur Mahda.
"Yehh gila, kalau emang lu gak suka tinggal
tolak. Ada kita juga di sini. Dia macam-macam? Balas! Jangan takut sama iblis
itu." Kata Fresa marah. Apalagi Fresa sudah tahu apa yang terjadi selama
dirinya di Singapura.
"Tau Da, jangan sampe lu masuk ke lobang
iblis!" Tambah Kiki.
Di saat Mahda asik berpikir. Seseorang dengan
topeng di wajahnya menarik Fanisa. Membuat gadis cantik tersebut bingung.
Pasalnya dia sendiri tidak tahu menahu masalah ini.
Petikan gitar mulai terdengar di telinga Fanisa.
Sosok bertopeng tersebut tengah memainkan lagu bertajuk cinta. Fanisa tidak mau
terlalu berharap jika di hadapannya Fano. Karena, sejak kejadian di rumah sakit
hubungan mereka aneh. Kenapa? Mereka dekat tapi Fanisa merasakan sesuatu yang
membuat mereka berjarak. Entah apa itu Fanisa juga tidak mengerti. Yang pasti
saat itu Fanisa berpura-pura bahagia.
Setelah usai lagu yang dinyanyikan, sosok bertopeng
tersebut mulai berjongkok di hadapannya ala-ala orang ingin melamar.
"Gue bukan cowok romantis, gue juga bukan cowok
humoris tapi gue berusaha menjadi yang terbaik untuk lu. Fanisa Adijaya, maukah
engkau menjadi tunangan ku? Jika kamu menerima buka topengku dan jika tidak kamu
bisa kembali kepada sahabat-sahabat mu."
Fanisa ragu, takut orang didepannya bukanlah Fano.
Ia takut sekarang.
"Tutup mata kamu, maka kamu akan tahu siapa
aku." Bisiknya
Fanisa menutup matanya. Menarik nafas dalam-dalam.
Setelahnya dia langsung membuka penutup topeng tersebut.
"Aaaaaaa...." Teriakan siswi-siswi
membuat Fanisa ikut terbawa suasana. Pasalnya di hadapannya saat ini adalah
Fano Malik. Sosok yang selama ini menemani dirinya di saat dirinya memantapkan
hati dan sekarang, astaga! Fanisa ingin memeluknya namun dia malu.
Fano tersenyum. Dia memakaikan cincin di tangan
Fanisa setelah itu dia mencium tangan tersebut. Sampai...
"Gue yang ngajarin tuh!" Teriak Evan
membuat Gibran memukul lengan sahabatnya.
Fanisa menggelengkan kepalanya, dia melakukan hal
yang sama dengan apa yang Fano lakukan. Selesai memakaikan cincin. Fano memeluk
tubuh Fanisa dengan sangat erat seakan-akan ia takut Fanisa hanyalah mimpi.
"Seperti mimpi."
"Sama." Balas Fanisa.
"Udah woii! Yang jomblo iri nih." Teriak
Evan lagi.
"Berisik banget si lu, kurang kerjaan."
Balas Mahda.
"Neng Mahda sensi ni yee. Mau juga kaya gitu?
Nanti ya neng, sampai hati neng siap dan akang siap kita langsung ke KUA."
Ucap Evan membuat Mahda mendengus namun jantungnya saat itu berdebar lebih
kencang. Evan memang punya efek tersendiri.
Beberapa murid mulai memisahkan diri, mereka mulai
menuju tujuan utama mereka, kantin. Sama halnya dengan yang lain FEGA dan
Galmoners pun ikut melakukan hal yang sama.
**
"Yang taken banyak amat, apa cuma gue doang
yang jomblo." Kata Evan.
"Emang." Balas Mahda.
"Yeh ngaca ****! Lu juga jomblo!" Ucap
Evan ketus.
"Gue mah jomblo gak sedepresi lu! Udah deh
jangan berisik, lu ganggu orang makan." Kata Mahda
"Yaelah, makan tinggal makan aja lu ribet
amat! Apa perlu gue suapin hah?!" Tanya Evan sengit.
"Dih! Najis." Balas Mahda.
"Najis-najis! Awas aja kalau suka sama gue.
Gue bakal gantung lu di pohon toge." Ucap Evan.
Suasana kantin sangat ramai, makanya perdebatan
mereka tidak terlalu menarik perhatian orang lain. Toh stand mereka di pojok
jadi tidak mengganggu anak-anak lain.
"Gantung dah kaya bisa aja." Balas Mahda
ketus.
Fanisa dan yang lain tidak mau ikut campur dalam
obrolan keduanya. Toh apa yang mereka bicarakan tidak penting dan tidak perlu
di bahas oleh mereka.
"Da, katanya lu di cekik tadi. Kok gak
mati?" Tanya Gibran membuat Fresa memukul lengannya.
Plakkk...
"Sakit sayang, kamu ini melakukan kekejaman
dalam rumah tangga!" Ucap Gibran.
"Habis kalau ngomong gak di jaga!" Omel
Fresa.
"Lu mau gue mati?! Lu kok jahat banget si
Bran! Lu tuh harusnya mendoakan gue semoga umur panjang! Dasar teman
sialan!" Ucap Mahda dengan amarahnya.
"Emang gue temen lu?" Balas Gibran asal
membuat Mahda geram sendiri.
"Bisa gue gabung?" Tanya Alex.
"Gak!" Jawab Fresa membuat semua orang di
sana mengangguk setuju.
"Sayangnya gue gak bisa di bantah." Balas
Alex langsung duduk di samping Mahda.
"Gak usah nanya kalau gitu!" Dengus
Fanisa.
"Eh? Fanisa. Congrats ya! Semoga langgeng
sampe kakek nenek. Kalau bisa jangan pura-pura mencintai," ujar Alex
membuat Fresa mengangkat alisnya.
"Gue gak pura-pura! Gue bukan lu yang
pura-pura mencintai sahabat gue. Gue juga bukan lu yang ngejar-ngejar mantannya
karena dosanya dan gue juga bukan lu yang suka bertindak kasar ke orang
lain!" Balas Fanisa marah.
Siapa yang tidak marah jika di usik seperti itu?
Pasti marah bukan. Apalagi ini menyangkut perasaan. Urusannya pasti lebih rumit
dari pada rumus matematika.
"Upss... Santai. Gue pikir lu kaya
seseorang." Pancing Alex.
"Gak usah berisik deh! Kalau lu mau berisik
jangan di sini, mending lu cari tempat dan ngomong sendiri di sana. Kalau di
sini lu ganggu!" Balas Kiki ketus.
"Ganggu? Bukannya yang ganggu itu kalian?
Kalian itu gak ngaca atau gimana si. Penghancur hubungan gue sama Mahda ya
Fresa. Dan sekarang di saat gue mau balikan, kalian semua penghambatnya! Jadi
siapa yang ganggu?" Tanya Alex.
"Gue penghancur hubungan lu sama Mahda?!
Mikir! Yang ngancurin hubungan lu ya lu sendiri! Emang dasar gak tahu malu ya
lu, udah salah gak mau ngaku. Najis!" Balas Fresa.
Mahda ikut merasakan panas, pasalnya Alex menjelek-jelekkan
sahabatnya dan Mahda paling tidak suka jika sahabatnya di jelek-jelekan.
"Gue gak tahu rencana lu apa, yang pasti saat
lu menghina sahabat gue. Gue bakal benci banget sama lu." Kata Mahda
dingin.
Di saat semua orang terdiam, Alex mengeluarkan sesuatu
di sakunya.
Byurrrrr.....
"Awwwwww......"