Galmoners

Galmoners
19



Back To School!


 


 


***


 


 


Pagi ini mungkin pagi yang sangat membahagiakan


untuk Fresa Aditya. Karena setelah berlibur ke Singapura, sekarang waktunya


dirinya menyibukkan diri dengan rutinitas seperti biasanya.


 


 


Datang bersama tunangannya membuat Fresa menjadi


pusat perhatian saat ini. Apalagi sejak tersebarnya berita pertunangan dirinya.


 


 


"Gak usah mikirin mereka." Kata Gibran


berbisik.


 


 


"Mikirin gak, cuma risih aja." Balas


Fresa malas.


 


 


"Sama aja." Balas Gibran menyentil dahi


Fresa.


 


 


"Aduhh, yang udah taken beda ye. Apalagi mau


nikah. Aduh beda banget dah auranya." Celetuk Evan.


 


 


"Lu gila?!" Kata Fresa sinis.


 


 


Nikah dari Hongkong! Dia saja takut memikirkan hal


berbau pernikahan, nah ini? Mulut mercon ngomong asal jeplak membuat mood Fresa


hancur seketika!


 


 


"Kaga! Emang kenyatannya kaya gitu. Setelah


tunangan pasti menikah liat saja nanti. Jika benar kalian yang nikah duluan


kalian harus traktir gue liburan." Kata Evan.


 


 


"Yeh gila! Ngomong lu sana sama tembok."


Balas Fresa ketus.


 


 


Fresa heran kenapa sekarang Evan jadi sangat menyebalkan.


Apalagi sekarang dia selalu saja menganggu dirinya dan Gibran. Okey, Fresa


bukan ingin berduaan dengan Gibran. Tapi kalau di recoki seperti ini membuat


dirinya kesal sendiri.


 


 


"Welcome back Fresa!!" Teriak teman-teman


sekelasnya saat dia baru memasuki kelas.


 


 


"Waw! Thanks you gengs! Terharu deh."


Kata Fresa.


 


 


"Harus dong Fres! Sebagai ketua kelas gue


harus bisa menyenangi anak-anak gue."


 


 


"Wahh terima kasih bapaknya anak-anak."


Ledek Fresa.


 


 


Gibran mendengus saat mendengar ucapan Fresa. Tidak


biasanya Fresa mau berbaur. Atau mungkin dia sudah insaf?


 


 


"Aku kembali ke kelas. Jangan lupa, istirahat


aku tunggu di kantin." Ucap Gibran yang kini berdiri di depan Fresa.


 


 


"Heem. Thanks ya!" Balas Fresa.


 


 


Belum, Gibran pergi dari sana. Cheryl dan dua antek-anteknya


sudah berdiri di kelas Fresa.


 


 


"Pagi Gibran! Wah, pasti habis antar


selingkuhan kamu ya. Kamu gimana si Bran. Kita ini tunangan loh." Ucap


Cheryl.


 


 


"Dari mana lu tunangan Gibran?" Tanya


Fanisa sinis.


 


 


"Ini!" Balas Cheryl sambil menunjukan


Cincin yang ia gunakan.


 


 


Gibran dan Fresa tersenyum sinis. Mereka


menunjukkan cincin keduanya. Cincin di mana milik keluarga besar Gibran dan


kini melekat di tangan keduanya. Perhatian anak-anak mulai ke cincin ketiganya.


Dan mereka sudah paham siapa sejatinya tunangan Gibran.


 


 


"See? You lose. Jika mau memanipulasi Cincin


ini tidak bisa. Sekalipun serupa ada bagian dari cincin ini yang tidak bisa di


miliki toko perhiasan lainnya." Jelas Gibran.


 


 


"Tahu lu Medusa! Insaf kenapa si, gue tahu lu


iri sama Fresa tapi ya gak gini juga keleus. Kan yang malu lu juga."


Tambah Evan.


 


 


"Bisa aja punya Fresa palsu!" Balas


Cheryl Keukeh.


 


 


"Sebenarnya dari Cincin yang gue gunakan saja


gue bisa tahu mana pasangan cincin ini. Udahlah sana pergi. Gue muak sama


permainan lu. Ah satu lagi! Lu bakal berhubungan dengan pihak berwajib. Thanks


Fano!" Kata Gibran langsung pergi dari kelas Fresa.


 


 


Teman sekelas Fresa menatap Cheryl jijik, pasalnya


mereka juga tahu seperti apa Cheryl sebenarnya. Apalagi Cheryl ini kakak kelas


mereka, jadi menurut mereka tidak pantas.


 


 


"Dari pada berniat menghancurkan kehidupan


gue. Lebih baik lu belajar yang benar, supaya lu lulus. Jangan sampe gak lulus.


Malu loh." Ledek Fresa membuat teman-temannya menyaut.


 


 


"Tahu! Cantik doang kalau otak gak ada mah


buat apaan. Kasian anak gue nantinya." Saut ketua kelas.


 


 


"Setuju sekali bapaknya anak-anak. Sekarang


mah modal cantik gampang, berdiri di pinggir jalan aja laku. Coba kalau orang


cerdas? Beda lagi!" Balas Fanisa membuat Cheryl menggeram.


 


 


"Liat lu semua! Gue bakal buat perhitungan


sama kalian." Ancam Cheryl.


 


 


"Perhitungan? Emang lu jago matematika? Nilai


merah aja belagu." Kata ketua kelas membuat kelas Fresa semakin ramai.


 


 


"Sialan! Liat aja nanti, gue bakal buat lu


lupa sama dunia!" Kata Cheryl sambil menunjuk Fresa.


 


 


"Lupa dunia? Lu kali. Wahhhaa..."


 


 


Cheryl sudah teramat kesal, dia lebih memilih meninggalkan


tempat tersebut dari pada semakin malu.


 


 


"Sepertinya ada yang gue lewatkan, apa


itu?" Tanya Fresa membuat semua langsung bersemangat bercerita.


 


 


***


 


 


Di lain sisi, Mahda dan Kiki tengah asik


berbincang-bincang. Semua anak-anak IPS 2 tengah asik menyibukkan diri.


 


 


Brakkk....


 


 


Gebrakan meja membuat semua mata memandang pelaku


kebisingan tersebut.


 


 


"Mau apaan lagi si lu! Udah kelas 12 juga


masih aja cari gara-gara." Ucap ketua kelas.


 


 


"Diam lu! Gue gak ada urusan sama lu. Mana


Mahda! Gue mau bicara sama dia." Kata Alex dengan penuh amarah.


 


 


"Ngapain lagi si lu! Mending cabut aja dari


sini, lagian kita gak ada yang harus di selesaikan. Jadi lebih baik lu pergi


sebelum kita semua ngusir lu kaya kemarin." Balas Mahda yang kini asik


duduk di bangkunya.


 


 


Alex berjalan mendekati meja Mahda membuat Mahda


dan Kiki bersiaga. Pasalnya kemarin Alex main tangan. Beruntung Mahda cepat


menghindar jika tidak? Kemungkinan wajah Mahda sudah jadi pelampiasan amarah


kakak kelas tersebut.


 


 


Kriettt...


 


 


Bangku yang Mahda duduki berderit akibat tendangan


kaki Alex. Mata keduanya saling menatap tajam seakan-akan mata mereka itu pisau


runcing yang siap menusuk siapapun.


 


 


"Aduh Alex, bisa gak si gak cari masalah


sehari aja. Lu sudah besar, sudah punya KTP dan pastinya lebih dewasa dari


kita. Tapi tingkah laku ku kaya anak-anak! Menyedihkan." Ucap Kiki


menyindir.


 


 


"Diam! Gue gak ada urusannya sama lu! Jadi lu


gak usah ikut campur." Bentak Alex.


 


 


"Terus lu mau bilang kita punya masalah?


Masalah apalagi Alex! Gue sudah ikhlas putus sama lu, gue juga udah gak ganggu


lu lagi. Terus mau lu apa?!" Balas Mahda kesal.


 


 


"Mau gue ya lu sama gue balikan! Apa perlu gue


lukain sahabat lu supaya lu balik sama gue?" Tanya Alex mengancam.


 


 


"Gue gak bakal sudi balikan sama lu. Anggap


aja kemarin gue lagi ****. So, gak ada lagi yang harus di bahas." Jawab


Mahda membuat Alex emosi.


 


 


Cowok tampan tersebut langsung mencekik leher Mahda


membuat beberapa teman sekelas Mahda berlari ke arah mereka. Bahkan Kiki yang


membantu saja terdorong ke lantai.


 


 


"Kamu gak apa?" Tanya Arkan yang entah


kapan dia datang.


 


 


"Gak apa, tapi Mahda." Balas Kiki.


 


 


Arkan mengerti. Ia langsung menarik tubuh Alex dan


mendorongnya.


 


 


"Lu mau jadi pembunuh?! Jangan di sini! Di


tempat lain sana! Jangan cemarkan sekolah kita dengan tingkah murahan lu. Apa


lu gak mikir dampak yang lu lakukan ini?! Ingat orang tua lu! Kalau lu masuk


penjara dan gagal ujian, siapa yang bakal mereka banggakan kalau cuma lu?!


Sudahlah Alex, masa lalu itu jadikan pembelajaran, bukan malah di jadikan beban


hidup. Ada kalanya kita gak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. So, lebih


baik lu kembali." Kata Arkan.


 


 


"Gue gak takut! Jika Mahda gak bisa jadi milik


gue maka semua orang tidak bisa memiliki Mahda termasuk teman sialan lu! Gue


bakal kembali lagi sampai lu mau menerima gue!" Ucap Alex sebelum


meninggalkan tempat tersebut. Alex bersumpah akan membalas mereka semua. Ia


tidak peduli siapa lawannya yang pasti Mahda harus jadi miliknya. Harus!


 


 


"Gue gak sudi! Lebih baik lu pergi dan jangan


pernah muncul kembali ke hadapan gue, karena lu itu gak penting bagi gue!"


Balas Mahda.


 


 


"Kita lihat saja nanti." Ucap Alex


misterius.


 


 


Mahda tidak tahu harus berbuat apalagi, yang ia


harapkan semua ini cepat selesai. Karena dirinya sendiri juga lelah dengan


sikap Alex yang menurutnya tidak rasional.


 


 


 


 


Kantin


 


 


***


 


 


Bel istirahat berbunyi...


 


 


Seluruh siswa dan siswi Starlight mulai berhamburan


keluar dari kelas mereka.


 


 


Jika biasanya mereka akan berlari ke kantin, maka


lain halnya dengan hari ini. Mereka semua berlari ke lapangan.


 


 


Kenapa ke lapangan?


 


 


Karena di sana sudah di sulap! Lapangan yang


tadinya kosong berubah menjadi tempat penuh bunga dan balon berwarna merah


jambu. Siapapun yang melihatnya pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


 


 


Fresa dan kawan-kawannya mulai mengikuti pergerakan


siswa dan siswi lain untuk mendekati lokasi tersebut. Mereka penasaran dengan


orang yang romantis ini. Apalagi orang ini sangat berani melakukannya di


sekolah.


 


 


"Menurut lu siapa? Kalau Alex gak mungkin kan?


Jangan sampe deh." Kata Mahda.


 


 


"Alex ya? Bisa aja si. Apalagi sejak putus


sama lu dia jadi gila." Balas Fanisa.


 


 


"Tapi ya jangan Alex juga kali, kalau gue yang


jadi pemeran utamanya bingung. Tar kaya di ******* lagi dia ngancem gue buat


jadi pacarnya lagi." Tutur Mahda.


 


 


"Yehh gila, kalau emang lu gak suka tinggal


tolak. Ada kita juga di sini. Dia macam-macam? Balas! Jangan takut sama iblis


itu." Kata Fresa marah. Apalagi Fresa sudah tahu apa yang terjadi selama


dirinya di Singapura.


 


 


"Tau Da, jangan sampe lu masuk ke lobang


iblis!" Tambah Kiki.


 


 


Di saat Mahda asik berpikir. Seseorang dengan


topeng di wajahnya menarik Fanisa. Membuat gadis cantik tersebut bingung.


Pasalnya dia sendiri tidak tahu menahu masalah ini.


 


 


Petikan gitar mulai terdengar di telinga Fanisa.


Sosok bertopeng tersebut tengah memainkan lagu bertajuk cinta. Fanisa tidak mau


terlalu berharap jika di hadapannya Fano. Karena, sejak kejadian di rumah sakit


hubungan mereka aneh. Kenapa? Mereka dekat tapi Fanisa merasakan sesuatu yang


membuat mereka berjarak. Entah apa itu Fanisa juga tidak mengerti. Yang pasti


saat itu Fanisa berpura-pura bahagia.


 


 


Setelah usai lagu yang dinyanyikan, sosok bertopeng


tersebut mulai berjongkok di hadapannya ala-ala orang ingin melamar.


 


 


"Gue bukan cowok romantis, gue juga bukan cowok


humoris tapi gue berusaha menjadi yang terbaik untuk lu. Fanisa Adijaya, maukah


engkau menjadi tunangan ku? Jika kamu menerima buka topengku dan jika tidak kamu


bisa kembali kepada sahabat-sahabat mu."


 


 


Fanisa ragu, takut orang didepannya bukanlah Fano.


Ia takut sekarang.


 


 


"Tutup mata kamu, maka kamu akan tahu siapa


aku." Bisiknya


 


 


Fanisa menutup matanya. Menarik nafas dalam-dalam.


Setelahnya dia langsung membuka penutup topeng tersebut.


 


 


"Aaaaaaa...." Teriakan siswi-siswi


membuat Fanisa ikut terbawa suasana. Pasalnya di hadapannya saat ini adalah


Fano Malik. Sosok yang selama ini menemani dirinya di saat dirinya memantapkan


hati dan sekarang, astaga! Fanisa ingin memeluknya namun dia malu.


 


 


Fano tersenyum. Dia memakaikan cincin di tangan


Fanisa setelah itu dia mencium tangan tersebut. Sampai...


 


 


"Gue yang ngajarin tuh!" Teriak Evan


membuat Gibran memukul lengan sahabatnya.


 


 


Fanisa menggelengkan kepalanya, dia melakukan hal


yang sama dengan apa yang Fano lakukan. Selesai memakaikan cincin. Fano memeluk


tubuh Fanisa dengan sangat erat seakan-akan ia takut Fanisa hanyalah mimpi.


 


 


"Seperti mimpi."


 


 


"Sama." Balas Fanisa.


 


 


"Udah woii! Yang jomblo iri nih." Teriak


Evan lagi.


 


 


"Berisik banget si lu, kurang kerjaan."


Balas Mahda.


 


 


"Neng Mahda sensi ni yee. Mau juga kaya gitu?


Nanti ya neng, sampai hati neng siap dan akang siap kita langsung ke KUA."


Ucap Evan membuat Mahda mendengus namun jantungnya saat itu berdebar lebih


kencang. Evan memang punya efek tersendiri.


 


 


Beberapa murid mulai memisahkan diri, mereka mulai


menuju tujuan utama mereka, kantin. Sama halnya dengan yang lain FEGA dan


Galmoners pun ikut melakukan hal yang sama.


 


 


**


 


 


"Yang taken banyak amat, apa cuma gue doang


yang jomblo." Kata Evan.


 


 


"Emang." Balas Mahda.


 


 


"Yeh ngaca ****! Lu juga jomblo!" Ucap


Evan ketus.


 


 


"Gue mah jomblo gak sedepresi lu! Udah deh


jangan berisik, lu ganggu orang makan." Kata Mahda


 


 


"Yaelah, makan tinggal makan aja lu ribet


amat! Apa perlu gue suapin hah?!" Tanya Evan sengit.


 


 


"Dih! Najis." Balas Mahda.


 


 


"Najis-najis! Awas aja kalau suka sama gue.


Gue bakal gantung lu di pohon toge." Ucap Evan.


 


 


Suasana kantin sangat ramai, makanya perdebatan


mereka tidak terlalu menarik perhatian orang lain. Toh stand mereka di pojok


jadi tidak mengganggu anak-anak lain.


 


 


"Gantung dah kaya bisa aja." Balas Mahda


ketus.


 


 


Fanisa dan yang lain tidak mau ikut campur dalam


obrolan keduanya. Toh apa yang mereka bicarakan tidak penting dan tidak perlu


di bahas oleh mereka.


 


 


"Da, katanya lu di cekik tadi. Kok gak


mati?" Tanya Gibran membuat Fresa memukul lengannya.


 


 


Plakkk...


 


 


"Sakit sayang, kamu ini melakukan kekejaman


dalam rumah tangga!" Ucap Gibran.


 


 


"Habis kalau ngomong gak di jaga!" Omel


Fresa.


 


 


"Lu mau gue mati?! Lu kok jahat banget si


Bran! Lu tuh harusnya mendoakan gue semoga umur panjang! Dasar teman


sialan!" Ucap Mahda dengan amarahnya.


 


 


"Emang gue temen lu?" Balas Gibran asal


membuat Mahda geram sendiri.


 


 


"Bisa gue gabung?" Tanya Alex.


 


 


"Gak!" Jawab Fresa membuat semua orang di


sana mengangguk setuju.


 


 


"Sayangnya gue gak bisa di bantah." Balas


Alex langsung duduk di samping Mahda.


 


 


"Gak usah nanya kalau gitu!" Dengus


Fanisa.


 


 


"Eh? Fanisa. Congrats ya! Semoga langgeng


sampe kakek nenek. Kalau bisa jangan pura-pura mencintai," ujar Alex


membuat Fresa mengangkat alisnya.


 


 


"Gue gak pura-pura! Gue bukan lu yang


pura-pura mencintai sahabat gue. Gue juga bukan lu yang ngejar-ngejar mantannya


karena dosanya dan gue juga bukan lu yang suka bertindak kasar ke orang


lain!" Balas Fanisa marah.


 


 


Siapa yang tidak marah jika di usik seperti itu?


Pasti marah bukan. Apalagi ini menyangkut perasaan. Urusannya pasti lebih rumit


dari pada rumus matematika.


 


 


"Upss... Santai. Gue pikir lu kaya


seseorang." Pancing Alex.


 


 


"Gak usah berisik deh! Kalau lu mau berisik


jangan di sini, mending lu cari tempat dan ngomong sendiri di sana. Kalau di


sini lu ganggu!" Balas Kiki ketus.


 


 


"Ganggu? Bukannya yang ganggu itu kalian?


Kalian itu gak ngaca atau gimana si. Penghancur hubungan gue sama Mahda ya


Fresa. Dan sekarang di saat gue mau balikan, kalian semua penghambatnya! Jadi


siapa yang ganggu?" Tanya Alex.


 


 


"Gue penghancur hubungan lu sama Mahda?!


Mikir! Yang ngancurin hubungan lu ya lu sendiri! Emang dasar gak tahu malu ya


lu, udah salah gak mau ngaku. Najis!" Balas Fresa.


 


 


Mahda ikut merasakan panas, pasalnya Alex menjelek-jelekkan


sahabatnya dan Mahda paling tidak suka jika sahabatnya di jelek-jelekan.


 


 


"Gue gak tahu rencana lu apa, yang pasti saat


lu menghina sahabat gue. Gue bakal benci banget sama lu." Kata Mahda


dingin.


 


 


Di saat semua orang terdiam, Alex mengeluarkan sesuatu


di sakunya.


 


 


Byurrrrr.....


 


 


"Awwwwww......"