
Pasar malam versi Mahda Adijaya.
Tidak terasa hari sabtu telah tiba, seperti janji sebelumnya. Mahda kali ini akan pergi ke pasar malam bersama dengan Alex. Ia sangat tidak sabar menunggu hal tersebut.
Dengan jeans dan kaos kebanggaannya, Mahda duduk bersama keluarganya menunggu kedatangan Alex.
"Kapan Alex akan jemput kamu?" Tanya wanita cantik, Melia.
"Tidak tahu mah kapan. Lagian mungkin macet di jalan, kan rumah dia sama aku jauh." Balas Mahda Enteng.
"Mama tahu, kalau dia sudah hafal rumah ini jauh, seharusnya dia berangkat lebih awal dong?" Tanya Melia kepada putri tunggalnya.
"Benar kata mama kamu, papa yakin Alex itu cuma mau main-main sama kamu. Buktinya setiap janjian jalan dia selalu telat, atau kalau tidak dia batalkan janji sepihak. Papa gak suka pria seperti itu. Tidak konsisten." Ucap pria tampan yang duduk di seberang Mahda, Martin.
Martin sangat tahu, Alex itu bukan anak baik-baik. Bahkan Martin tidak pernah setuju jika Mahda berpacaran dengan Alex. Karena firasatnya selalu buruk.
Ting... Nong...
"Nah! Itu Alex." Seru Mahda bergembira. Setelah sejam lebih menunggu akhirnya Alex datang. Setidaknya mematahkan rasa kecewa kedua orangtuanya.
"Assalamualaikum om... Tante..." Ucapan seseorang di belakang mereka membuat mereka bingung, pasalnya Alex jarang melakukan hal tersebut. Apalagi suara yang mereka dengar juga sangat asing.
Lain halnya dengan Mahda, perempuan cantik tersebut sudah hafal suara siapa yang ia dengar, namun yang Mahda bingung, kenapa cowok itu di sini? Mereka kan tidak ada janji sebelumnya.
"Eh? Kamu siapa ya?" Pertanyaan Martin membuat Mahda tersadar dari lamunannya.
"Saya Evan Laksono pak. Calon suaminya Mahda di masa depan." Perkataan Evan membuat Martin tersenyum. Entah kenapa Martin sangat suka jika melihat Mahda bersama dengan Evan. Apalagi, cowok di depannya sangat sopan.
"Kamu bisa saja, duduk dulu deh kamu mau minum apa Evan?" Tanya Martin.
"Saya mau langsung aja deh om, tante. Takut kemalaman nanti pulangnya. Jadi saya izin meminjam anak om dan tante yang cantik ini dulu ya. Saya janji sebelum jam 9 anak om dan tante sudah tiba di rumah dalam keadaan utuh." Kata Evan.
"Kamu ini! Kalau sampai tidak utuh om tidak akan merestui kalian." Balas Martin. Mahda merasa aneh, karena tingkah laku papanya sangatlah berbanding terbalik jika dengan Alex. Aneh.
"Wah! Jadi om ngerestuin saya ni??" Tanya Evan bahagia. Sedangkan Mahda sudah mendengus kesal.
"Restuin dong! Ya sudah kalian berangkat sana. Nanti keburu malam." Kata Martin.
Sebelum mereka berangkat, Mahda mendapat pesan dari Alex. Awalnya dia sangat bahagia. Namun saat membuka pesan tersebut...
Sayang Alex
Maaf ya sayang, aku gak bisa ikut kamu. Aku ada urusan keluarga. Lain kali kita jalan deh. Sorry baby.
Pesan tersebut membuat Mahda tersenyum kecut. Ini bukan kali pertama Alex menolak janji mereka saat weekend. Tapi sudah kesekian kalinya dan Mahda hanya bisa mengelus dada. Semoga saja apa yang Alex ucapkan benar bukan suatu kebohongan.
Saat Mahda memasukkan ponsel ke dalam tas kecil, keluarganya menatap dirinya penuh minat. Sampai...
"Dugaan papa benar, Alex gak bisa di pegang ucapannya. Lihat sekarang? Dia tidak datang bukan? Papa yakin alasan dia membatalkan acara kalian karena urusan keluarga. Ya kan?" Pertanyaan Martin membuat Mahda terdiam. Mahda tidak mengelak atau pun membantah karena apa yang di ucapkan papanya benar.
"Gak perlu di jawab papa sudah tahu jawabannya." Sambung Martin. Entah kenapa pria berkepala empat tersebut sangat kesal saat ini. Pasalnya, putri satu-satunya di permainkan oleh orang lain dan Martin sangat benci itu.
"Aduh om! Keburu malam nih, marahnya di lanjutkan nanti ya. Sekarang saya mau culik anaknya dulu. Assalamualaikum!" Pamit Evan.
Martin dan istrinya. Menatap kepergian mereka dengan senyum bahagia. Entah kenapa mereka sangat ingin Evan menjadi menantu. Ya semoga saja Evan benar jodoh anaknya. Karena Martin tenang jika anaknya dengan Evan.
Di sinilah Mahda dan Evan berada. Setelah aksi kebutan di jalan, akhirnya mereka selamat sampai tujuan.
"Bilang aja mau modus biar bisa di peluk kan! Dasar buaya!" Semprot Mahda saat gadis cantik tersebut turun dari motor Evan.
"Tau aja si Da, kali-kali gak tahu dong, biar sweet. Kapan-kapan peluk gue lagi ya!" Seru Evan membuat Mahda langsung menjitak kepala Evan.
"Ngimpi aja lu sono!" Omel Mahda.
" Ya mimpi yang jadi kenyataan." Balas Evan.
Tanpa persetujuan dari Mahda, Evan langsung menggenggam tangan Mahda dan mulai mengajaknya keliling pasar. Walaupun keadaan ramai, Evan tetap bersemangat membawa Mahda berkeliling. Bahkan sekarang, mereka tengah berdiri di sebuah permainan. Dimana Evan harus bisa memasukkan bola ke dalam ring yang jauh dari tempat ia berdiri.
Dugggg....
Mahda melotot! Bagaimana bisa anak futsal bermain basket? Mustahil bukan? Atau memang Mahda yang belum kenal dengan Evan? Entahlah.
"See gue tuh lebih bisa di andalkan daripada si Alex. Nih bonekanya!" Ucap Evan sambil memberikan boneka beruang besar. Tanpa menunggu lama, Mahda langsung meninggalkan Evan dengan Teddy bear di tangannya. Masa bodo dia jadi kesal dengan Evan. Siapa suruh membahas Alex!
"Mahda sayang kuh, jangan lari dong. Aku minta maaf sayang, tapi semua ini aku lakukan untuk kamu, apapun akan aku lakukan karena aku sangat mencintai Mahda Adijaya!" Teriakan Evan membuat Mahda terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Entah karena dia jadi pusat perhatian atau karena hal lain. Yang pasti Mahda hanya bisa terdiam kaku di tempatnya berdiri.
"Udah mba! Maafin aja, kalau gak saya rebut loh." Entah itu suara siapa yang pasti suara tersebut membuat Mahda semakin terdiam. Sampai Evan memutar tubuhnya dan langsung memeluknya.
"Aku sayang banget sama kamu. Jika harus merebut kamu dari Alex sepertinya aku siap. Karena malam ini, aku akan memulai semuanya." Bisikkan Evan membuat Mahda menegang.
"Wah! Saya sudah di maafkan. Terima kasih bantuannya semua" teriak Evan sambil melepaskan rengkuhannya.
Mahda bingung harus apa, yang pasti ada hal aneh yang ia rasakan saat ini. Makanya dia lebih memilih diam.
"Lain kali, buat yang lebih elit" celetukan suara di belakang Mahda dan Evan membuat keduanya berbalik. Di sana mereka melihat Faza datang bersama dengan...
"Kak Felly?!"
"Suttttt... Jangan berisik. Udah ah kita mau lanjut. Duluan" pamit Felly.
"Dasar aneh." Balas Mahda dan Evan bersamaan. Keduanya sempat terdiam namun akhirnya mereka saling melepas tawa.
Ya, malam ini mahda akan melupakan Alex sejenak. Karena dia juga butuh hiburan saat ini. Melihat senyum di wajah Mahda, Evan tersenyum lega. Dia terus mengajak Mahda bermain apapun, bahkan ia juga meminta Mahda untuk foto bersama.
"Mau kemana lagi?" Tanya Evan.
"Ke rumah hantu?" Balas Mahda dengan pertanyaan juga.
"Mau?" Tanya Evan.
"Boleh deh." Balas Mahda.
Keduanya memasuki kawasan rumah hantu. Awalnya mereka masih baik-baik saja. Sampai di pertengahan entah ulah setan yang muncul atau memang takdir. Evan mencium Mahda. Ingat! Evan mencium Mahda! Dimana? Di.....
Dahi!
Bahkan Mahda shock saat merasakan dahinya basah. Ia tidak pernah mendapatkan hal seperti ini, karena Mahda selalu memberikan batas saat mereka berpacaran. Tapi malam ini?
Jantung Mahda berdegup kencang bahkan Evan merasakan hal yang sama. Tidak mau membuat Mahda kepikiran Evan langsung mengalihkan.
"Ah setan! Untung ciumnya dahi bukan bibir. Coba kalau bibir--"
"Kenapa bro?" Tanya sosok pocong di depan mereka.
"Lu bakal gue kasih duit. Tapi karena lu dah bantu gue lu tetap dapat tip dari gue. Nih!" Balas Evan sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah.
"Evan sialan!!!! Lu sengaja kan?!" Bentak Mahda.
"Gak lah kenal juga gak sama ni pocong. Lagian itu pas buat hadiah teddy bearnya. Udah lah lanjut kasian si pocong iri. Bye Cong!" Pamit Evan sambil menarik Mahda untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Selama dia dalam wahana tersebut, Mahda mengeluarkan umpatan-umpatannya untuk Evan sampai Evan menarik ke dalam pelukannya.
Mahda mencoba melepaskan rengkuhan Evan namun gagal. Bahkan seringaian Evan membuat Mahda takut. Apalagi saat wajah keduanya hampir dekat. Mahda yang parno hanya bisa menutup kedua matanya. Sampai...
"Hahaha... Ngarep amat mba di cium!" Ucapan Evan membuat Mahda membuka matanya. Wajahnya memerah, menahan malu. Sedangkan Evan masih terus tertawa sampai.
"Gue memang mencintai lu, tapi gue gak berniat menyentuh lu. Okay yang tadi gue minta maaf. Karena gue akan menyentuh lu nanti saat kita sudah sah bersuami istri. Karena cowok sejati akan menahan nafsu dan menjaga orang yang di cintainya. Karena, jika gue ngerusak lu. Gue gak pantas ada di sisi lu lagi. Gue emang brengsek! Suka tawuran or balapan tapi, gue gak suka mainin hati perempuan. Karena perempuan terlalu berharga buat gue. Apalagi lu! Lu sangat berharga untuk kehidupan gue." Jelas Evan membuat Mahda menatap cowok di depannya dengan berkaca-kaca.
"Aduh jangan nangis dong. Gue gak bakal cium lu, tapi kalau meluk lu gue bakal lakuin. Gue emang menghargai perempuan tapi tidak untuk perempuan jahat" perkataan Evan membuat Mahda bingung, namun dia sedikit tenang malam ini. Seandainya Alex seperti ini, dia pasti sangat bahagia. Sayangnya Alex lebih sering diam atau bahkan cuek saat mereka jalan. Membuat Mahda merasa mencintai sendirian.
"Tinggalkan apa yang harusnya di tinggalkan. Dan pertahanan apa yang harus lu pertahankan. Itulah hidup. Harus rela melepaskan demi mempertahankan yang lebih baik." Kata Evan.
Mahda hanya bisa tersenyum. Seandainya Mahda mengenal Evan lebih dulu, mungkin dia tidak akan merasakan sakit hati kepada Alex. Mahda langsung mengikuti Evan yang mengajaknya kembali berkeliling.
Tanpa Mahda sadari, Mahda sudah memberikan ruang untuk Evan. Ruang tersendiri yang ada didalam hatinya.
❤️❤️❤️