
Nongki!
Langit yang cerah di kota Bandung membuat empat orang gadis cantik tersenyum manis. Ya! Sejak kejadian di mana Mahda dan Fresa di culik, mereka kembali dekat. Dan kali ini mereka benar-benar dekat. Mahda sudah jarang membahas Alex dan sebagainya. Kini, dia hanya ingin waktu bersama dengan sahabat-sahabatnya.
Mahda dan yang lain tengah duduk di sebuah Kafe tempat biasa mereka nongkrong.
"Ca, lu kan sama Gibran tunangan. Kok gue gak liat ada cincin?" Pertanyaan Mahda membuat yang lain mengangguk setuju.
Fresa tersenyum tipis, dia mengeluarkan kalung yang dia gunakan dan saat dia menunjukkan sebuah cincin di kalung tersebut, mereka semua mengangguk paham.
"Gue kira lu bohong pas bilang tunangan saat di Kafe." Balas Fanisa.
"Sebenarnya, seminggu gue menghilang itu bukan karena gue tunangan sama si kucrut. Tapi, karena saat nenek dan kakek gue meninggal gue sempet drop. Yang seperti kalian tahu, gue leukimia. Entah kapan Tuhan akan membawa gue kembali. Gue harap, gue pergi di saat yang tepat." Kata Fresa. Membuat ketiga sahabatnya yang lain langsung memeluknya.
"Gak Ca! Lu pasti sembuh, ada kita yang bakal nemenin lu. Ouh ya, pas pulang dari TKP waktu itu gimana Gibran?" Tanya Fanisa mengalihkan pembicaraan.
"Gimana? Gak gimana-gimana. Gue kan tidur selama perjalanan. Jadi gue gak tahu tuh kucrut kenapa." Balas Fresa.
"Lu mah Ca tidur mulu!" Omel Fanisa.
"Emang kenapa si?" Tanya Fresa penasaran.
"Semua satu kampus sudah tahu lu tunangannya Gibran setelah tunangan lu itu memposting foto kalian yang sedang tukar cincin." Jelas Kiki.
Fresa mendengus. "Kalau kalian tahu gue tukar cincin ngapain nanya cincinnya?" Tanya Fresa membuat ketiga sahabatnya nyengir.
"Ya habis, gak lu gak Gibran sama-sama gak pakai cincin. Jadi gue pikir bisa aja manipulasi semuanya. Atau jangan-jangan lu udah nikah sama Gibran?" Tanya Mahda serius.
"Nikah apaan si Da! Gak lah. Emang gua sejahat itu nikah gak ngundang kalian hah?!" Balas Fresa kesal.
"Ya juga si. Tapi Ca, kan sejak lu di rawat di Jerman sebulan lebih Gibran berubah. Lu gak tanya kenapa?" Tanya Mahda.
"Gue gak tahu alasannya kenapa Da, Tapi jika Gibran marah dia serem." Balas Fresa.
"Serem gimana?" Pertanyaan tersebut bukan keluar dari mulut ketiga sahabat Fresa, melainkan dari mulut seorang cowok tampan dengan kaos biru lautnya.
"Perasaan hari ini waktunya Galmoners kumpul deh, tapi kenapa kalian di sini?" Tanya Mahda sambil menatap empat cowok di depannya.
"Karena, kita gak sengaja lewat." Balas Evan.
"Anak kecil juga tahu kalau kalian itu sengaja bukan gak sengaja. Tolong bedain ya!" Dengus Fresa.
Gibran dan yang lain tidak mempedulikan ucapan Mahda ataupun Fresa, malah mereka sudah duduk di samping orang-orang yang mereka cintai.
"Gue merasa aneh." Kata Fanisa saat Fano duduk di sampingnya. Sedangkan Kiki? Dia hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku ketiga sahabatnya.
"Aneh? Atau deg-degan?" Ledek Evan.
"Si anying..." Umpat Fanisa membuat Fano mendelik.
"Dah jangan berisik! Gue mau interogasi. Bran mana cincin tunangan lu?" Tanya Mahda serius.
"Tunangan?" Pertanyaan balik Gibran membuat Mahda dan yang lain menatap Gibran serius.
"Iya tunangan! Bukannya lu tunangan sama Fresa? Atau lu berdua pura-pura?" Tanya Mahda menyelidik.
"Gue sama Fresa udah nikah." Celetuk Gibran membuat Fresa yang tengah meminum jusnya langsung menyembur. Untung saja tidak mengenai orang lain.
"Tai! Nikah sama kambing sana." Balas Fresa kesal.
"Bercanda elah. Tegang amat si. Ni cincin gue!" Kata Gibran sambil menunjukkan cincin di jari manis kirinya.
"Ternyata Gibran doang yang serius di sini. Masa lu cemen si Ca. Ayo dong pakai cincinnya!" Paksa Mahda. Entah kenapa Fresa merasa aneh dengan Mahda saat ini.
Tapi, karena paksaan yang lain membuat Fresa melepaskan kalungnya dan mengambil sebuah cincin di sana. Baru saja ia ingin pakai, Gibran sudah merebutnya dan langsung memakaikan ke jari manisnya.
"For you my queen." Kata Gibran sambil mengecup tangan Fresa.
Cekrek...
Kamera handphone Mahda terdengar jelas. Yang lain mengutuk Mahda karena teledor saat ini.
"Lu mau apakan tuh foto hah?!" Tanya Fresa sengit.
"Yeh geer lu Fres! Orang si Mahda ambil gambar kita." Balas Evan.
"Gitu aja pusing Fres, gimana nanti kita berumah tangga." Celetuk Evan.
"Ngomong kaya gitu, habis lu sama gue!" Omel Gibran.
"Sekarang Gibran gak asik." Balas Evan.
"Dari pada kalian berisik, lebih baik kalian pesan makanan. Atau kalian mau di sini? Soalnya kita mau pergi shopping." Kata Kiki.
"Waw! Tumben shopping. Gue pikir kalian sejenis wanita yang anti--"
"Berisik! Udah ah sekarang aja. Nanti keburu habis." Balas Fresa langsung bangkit dari duduknya. Baru satu langkah, Gibran menahan tangannya membuat mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Gue kangen banget sama lu Ca." Ucap Gibran sambil memeluk tubuh Fresa membuat gadis cantik tersebut menegang.
"Hem.. Udah ah lepas." Ucap Fresa.
"Kita tunggu di sini, kalau udah selesai hubungi gue. Karena kita pulang bareng." Balas Gibran.
"Bagus deh, karena salah satu dari kita gak bawa kendaraan, jadi kalian bisa jadi tukang ojek. Sip lah." Kata Mahda membuat Evan yang duduk di sampingnya mendengus, tapi Evan juga bahagia saat ini. Walaupun dia belum bisa meledek Mahda seperti biasanya, Evan tetap senang Mahda bisa kembali ke sahabat-sahabatnya.
Tidak mau menunggu lama, mereka langsung meninggalkan Kafe dan mulai berjalan ke arah mall yang tidak jauh dari Kafe tersebut.
Mungkin bagi kalian mereka akan shopping pakaian dan sebagainya. Kalian salah! Walaupun mereka beli beberapa setel pakaian, mereka tetap memburu sebuah novel melebihi kadarnya. Bahkan jika di hitung-hitung harga novel mereka lebih mahal dari pakaian yang mereka beli.
Seperti yang kalian ketahui sebelumnya, Galmoners pencinta Sastra, jadi jika ada buku baru dan menarik perhatian mereka, maka mereka berempat langsung menuju TKP.
"Ca hp lu belom balik?" Tanya Mahda membuat Fresa menatap sahabatnya.
"Belum kenapa?" Balas Fresa membuat Mahda menggelengkan kepalanya.
"Gak kenapa-kenapa si, tapi aneh aja kalau hp lu di tuker sama hp yang cuma bisa nelpon dan SMS." Ucapan Mahda membuat Fresa terpikir satu hal.
"Nanti gue coba minta. Ouh ya, gimana hubungan lu sama Alex?" Tanya Fresa.
"Gak gimana-gimana. Dia lagi sibuk buat skripsi. Kan pas masuk nanti dia sudah sibuk sama ujian hidupnya." Balas Mahda.
"Ya juga. Ya udah lah yang penting kalian baik-baik saja. Kalau lu nyerah sama keadaan bilang Da, karena ada saatnya kita harus berkorban." Ucap Fresa membuat Mahda tersenyum tipis.
"Pasti Ca."
Puas dengan belanjaan mereka, Fresa mulai menghubungi Gibran untuk menjemput mereka di lobby. Karena tidak mungkin jika mereka membawa semua ini menunju kafe. Sangat berat.
"Udah?" Tanya Gibran yang turun dari motor kesayangannya.
"Hem..."Balas Fresa.
Gibran dan yang lain membantu para cewek-cewek untuk naik ke atas motor, setelah semua duduk di motor, barulah Gibran mengambil belanjaan Fresa dan memberikan kepada tunangannya.
"Gue pikir bakal belanja baju atau tas, eh malah buku." Ucap Gibran.
"Serah gue!" Balas Fresa.
"Peluk Ca!" Perintah Gibran namun di hiraukan oleh Fresa. Merasa tertantang, dia langsung menggas motornya membuat Fresa spontan memeluknya. Jika Kiki langsung nurut, maka Mahda dan Fanisa harus di paksa macam Fresa. Seandainya semua perempuan kaya Kiki, mereka pasti tidak akan membuang-buang tenaga.
"Bran!" Panggil Fresa.
"Kenapa?"
"Gak jadi." Balas Fresa.
Gibran tahu apa yang Fresa inginkan, namun dia diam saja. Setibanya di kediaman Fresa, Gibran membantu gadis cantik tersebut turun dan...
"Maaf ponselnya nginep lagi." Ucap Gibran sambil memberikan ponsel cadangan yang Gibran berikan dulu.
"Kenapa ponsel ini? Kenapa gak ponsel yang lama saja?" Tanya Fresa.
"Udah ambil. Nanti malam gue ke rumah. Bye Ca!" Pamit Gibran setelah memberikan ponsel Fresa. Padahal Fresa ingin ponsel lamanya. Menyebalkan!
Kiki dan Arkan melempar senyum saat mereka tiba di rumah Kiki, bahkan Arkan baru pergi saat Kiki masuk ke dalam rumahnya. Sama halnya dengan Fano. Makhluk es tersebut menunggu Fanisa memasuki kediamannya, lepas itu dia pergi meninggalkan kawasan perumahan tersebut.
"Thanks Van" kata Mahda membuat Evan menganggukkan kepalanya setelah itu ia pergi. Mahda tersenyum sendu melihat perubahan Evan. Entah kenapa dia merasa aneh saat Evan menjauhi dirinya. Seperti ada hal yang hilang begitu saja.
Mahda memasuki kediamannya, berharap semua akan berubah nantinya.
❤️❤️❤️❤️