
Pasar malam versi Fresa Aditya.
Kediaman Aditya terlihat ramai. Faza dan Fresa asik menyaksikan siaran televisi yang ada di depan mereka. Bahkan keduanya tidak menyadari jika ada sepasang suami-istri yang berjalan mendekati mereka.
"Apa kamu sudah meminum obat?"tanya wanita cantik dengan dress rumahannya, Fresca.
Fresca duduk di samping suaminya. Atau bisa di katakan mereka duduk di bangku lain dari kedua anaknya.
"Sudah ma." Balas Fresa dengan senyuman tipisnya. Pertanyaan yang akhir-akhir ini sering dia dengar dan itu membuatnya lelah. Lelah dengan semua raut wajah khawatir keluarganya.
"Bagus! Itu baru putri papa. Kapan kalian pergi?" Tanya pria tampan dengan wajah dingin khasnya, Fredrick.
"Nanti pah. Lagian pasar malam gak bakal kemana-mana." Balas Fresa.
"Papa tahu gak bakal ke mana-mana. Tapi, kalian berdua kan belum siap-siap terus apa kamu sudah hubungi Fanisa?" Pertanyaan Fredrick membuat Fresa langsung memfokuskan pandangannya kepada sang papa.
"Nanti, paling jam segini Fanisa lagi sibuk sama BTS." Balas Fresa.
"BTS? Apa itu? Buku tahunan sekolah? Kan kalian belum lulus" Ucap Fredrick.
"Ed...." Sapaan dari seseorang di belakang mereka membuat keluarga Aditya langsung menengok ke belakang. Ternyata...
"Wah! Calon besan! Ada apa gerangan kemari?" Pertanyaan Fredrick membuat sosok di depannya tersenyum.
Namun tidak dengan Fresa, karena gadis cantik tersebut tengah memandang tajam sosok berkacamata yang seumuran dengannya.
"Biasa menjenguk calon menantu kami, mana Fresa?" Tanya sosok seumuran dengan Fredrick, Gara Pahlevi.
"Tuh lagi sama kakaknya, duduk dulu bro, kasian pada berdiri." Kata Ed.
"Ya elah! Kaya sama siapa aja! Kalem aja si Ed nanti kita juga langsung duduk seperti biasanya." Balas wanita cantik dengan dress biru, Gisca.
"Tahu om, gak perlu di suruh nanti Dad sama Mom langsung duduk. Ya gak calon istri?" Pertanyaan Gibran membuat Fresa mendengus. Entah kenapa Fresa malas bertemu dengan Gibran apalagi sejak kejadian di taksi. Demi apapun Fresa malu jika mengingatnya.
"Calon istri gundul mu!" Balas Fresa ketus.
"Aduhh neng Fresa bikin akang ingin cium neng deh." Celetuk Gibran.
"Situ mau gue tampol hah?!" Bentak Faza. Jika saja kemarin dia tidak berhalangan hadir pasti sosok brengsek di depannya tidak akan mencium Fresa. Ya, kemarin lepas turun dari taksi Gibran mencium Fresa di pipinya, tepat saat itu juga Faza langsung meninju rahang Gibran. Dan seperti yang kalian bayangkan, perkelahian lelaki dan Fresa yang jatuh pingsan.
"Tampol nih! Gue mah gak takut sama lu. Ouh ya, lu gak apa kan Fresa? Liat lu mimisan sempet mikir lu sakit keras. Tapi itu gak mungkin kan ya? Secara lu kan strong woman." Balas Gibran membuat suasana seketika hening. Bahkan sosok cantik yang baru masuk bersama asisten rumah tangga bingung melihat keheningan dua keluarga di depannya. Sampai...
"Kok diam? Lagi ada masalah?" Tanya Felly tiba-tiba.
"Hemm.. masalah yang di sembunyikan mereka semua, termasuk lu!" Tunjuk Gibran kepada keluarga Aditya, kedua orangtuanya dan terakhir sosok dokter cantik, Felly.
Felly sepertinya menyadari ke arah mana pembicaraan ini. Apalagi kemarin Felly ada di TKP saat Fresa mimisan dan jatuh pingsan. Jadi, wajar saja jika Gibran curiga saat ini.
"Rahasia apaan?! Rahasia kalian bukannya tentang per--"
"Ah! Aku mau ganti baju dulu ma.. pa.. kasian Fanisa nunggu." Ucapan Fresa memotong pembicaraan Felly. Bahkan kini Fresa sudah berlari ke arah kamarnya.
Di dalam kamar, Fresa langsung berganti pakaian dengan baju santai. Jeans dan kaos putih. Melihat ponsel. Tidak lupa ia mengirim pesan melalui social media kepada Fanisa, namun tidak di respon. Hal tersebut membuat Fresa mendengus. Sudah di pastikan Fanisa sedang asik menyaksikan video BTS, Menyebalkan!
Baru saja Fresa membuka pintu, Gibran sudah berdiri di depan kamarnya dengan senyum menawan.
"Sudah siap princess? Gue sudah telpon rumah Fanisa untuk bilang kita duluan. Jadi, apa anda sudah siap my queen?" Pertanyaan Gibran membuat Fresa menatap cowok berkacamata di depannya datar.
"Gue udah pesan Gobang!" Balas Fresa ketus.
"Sayangnya Gobang sudah gue usir. Lupa kalau gue sudah meminta semua angkutan umum untuk blacklist nama lu?" Pertanyaan Gibran lagi-lagi membuat Fresa menahan rasa kesalnya.
"Bodo amat! Udah ah minggir!" Usir Fresa.
Melihat Fresa berjalan mendahuluinya, Gibran langsung menyusul dengan senyum tipisnya.
"Kak Faza mana?" Pertanyaan Fresa membuat empat orang dewasa langsung menatap ke arahnya.
"Cantiknya menantu mom." Perkataan Gisca membuat Fresa tersenyum tipis.
"Kakak kamu sudah berangkat sama Felly." Balas Fresca.
"Yah! Terus aku sama siapa?" Pertanyaan Fresa membuat keempat orang tersebut menaikkan alisnya.
"Sama Gibran lah, buat apa punya--"
"Okey semua! Aku berangkat." Perkataan Fresa yang memotong ucapan papanya membuat Gibran mendengus. Apa sebegitu malunya Fresa mengakui kalau mereka--ah sudahlah!
"Gibran! Ih bengong! Nanti Fresa naik taksi loh." Perkataan Gisca membuat Gibran tersadar dan langsung pamit kepada empat orang dewasa tersebut.
"Gibran akan jaga Fresa. Cepat atau lambat dia akan tahu dengan sendirinya apa yang kita rahasiakan." Ucapan Gisca membuat tiga orang lain di sana membenarkan ucapannya.
Fresa menunggu Gibran keluar dari rumahnya sambil menghubungi Fanisa. Sama halnya dengan Fanisa di sebrang sana. Fresa juga sedang mengumpat kasar untuk Gibran. Tidak tanggung-tanggung, semua umpatan yang ia pendam di keluarkan semuanya.
"Jadi gue ganteng?" Tanya Gibran yang tidak sengaja mendengar Fresa mengucapkan kata ganteng untuknya.
"Nah? Pede gila! Yang ganteng itu Andrew Garfield! Bukan lu bodoh!" Balas Fresa ketus. Ia langsung mematikan panggilannya sepihak. Dan Fresa yakin Fanisa sudah paham apa yang terjadi dengannya.
"Gue kan kembarannya!" Tutur Gibran membuat Fresa spontan memukul bahu Gibran yang kini di sampingnya.
"Lu? Kembarannya? Ngimpi! Udah ah jalan! Fanisa udah duluan sama balok es." Perkataan Fresa membuat Gibran mendengus. Tidak lupa setelah Gibran naik motor sportnya, dia langsung memakaikan helm kepada Fresa membuat jarak wajah mereka sangat dekat.
"Gak usah nahan nafas, gue gak akan cium lu sebelum kita nikah nanti. Udah naik!" Perintah Gibran membuat Fresa langsung menaiki motor tersebut dengan bantuan Gibran.
"Sudah?" Tanya Gibran
"Heum.."
Mereka pun meninggalkan kediaman Aditya. Hal yang Gibran rindukan saat di motornya ialah pelukan Fresa. Seperti sekarang ini, dia memanfaatkan aksi kebutan di jalan demi merasakan pelukan Fresa.
"Sampai my queen!" Ucapan Gibran menyadarkan Fresa jika mereka sudah sampai di pelataran parkir. Bahkan Fresa melihat keramaian tersebut dengan horor. Entah kenapa saat ini ia sangat mual. Apa efek kebut-kebutan Gibran tadi?
"Heum."
Gibran turun lebih dulu, setelahnya ia menggendong tubuh Fresa dan menurunkan ia di dekatnya.
"Yuk liat-liat!" Ajak Fresa.
Gibran menahan tangan Fresa, membuat gadis yang biasanya ketus itu menatap Gibran bingung.
"Apa?" Tanya Fresa malas.
"Helm" balasan Gibran membuat Fresa tersenyum kikuk. Baru kali ini dia melakukan hal bodoh dan itu membuatnya malu sekarang.
"Gak usah malu. Toh lu juga akan jadi bagian hidup gue." Kata Gibran sambil merapikan kedua helm di depannya.
Tanpa Gibran ketahui, Fresa menitikkan air matanya. Namun langsung di hapus oleh Fresa. Gadis cantik tersebut memutuskan untuk menatap langit sampai dia melihat bintang jatuh. Saat itu juga dia langsung menutup matanya dan berdoa.
"Sudah?" Tanya Gibran dan di balas anggukan oleh Fresa.
Keduanya pun langsung memasuki kawasan pasar malam dengan saling merangkul. Fresa dan Gibran melakukan hal apapun yang di lakukan sepasang kekasih, di mulai bermain permainan yang ada di sana sampai keduanya duduk manis sambil memakan permen gula.
"Kok permen aku pahit ya?" Kata Gibran.
"Masa sih?" Tanya Fresa bingung.
"Ya, karena manisnya pindah ke kamu." Balas Gibran.
"Gak jelas!" Ucap Fresa ketus.
"Kamu tahu bedanya kamu sama kail?" Tanya Gibran.
"Dia benda aku manusia! Gitu aja bingung." Balas Fresa ketus.
"Bukan dong! Kalau kail untuk mancing ikan tapi kamu untuk mancing hatiku." Tutur Gibran dengan senyuman manisnya.
"Yeh gila! Mana mau gue mancing hati lu! Lebih baik gue mancing ikan. Jelas bisa gue makan!" Balas Fresa ketus.
"Kamu tahu? kamu sama cabe tuh sama. Sama-sama bikin panas." Celetuk Gibran.
"Bodo amat!" Balas Fresa ketus.
"Aduh galaknya. Jadi makin cinta akang." Ucap Gibran.
"Lu mau gue tampol hah?!" Bentak Fresa kesal.
"Kalau tampolnya pakai cinta boleh. Hayati siap neng." Balas Gibran dengan seringainya.
"Gibran stop! Jijik tau gak si!" Ucap Fresa. Beruntung permennya sudah habis jadi dia bisa meninggalkan Gibran.
Baru beberapa langkah Gibran sudah di sampingnya, merangkul pinggang Fresa. Membuat cewek itu mendengus.
"Emang gue anak kecil!" Ucap Fresa ketus.
"Kamu bukan anak kecil, tapi aku gak suka jika tatapan pria lain ke arah kamu. Karena kamu milik aku. Ingat kita itu--"
Fresa memotong ucapan Gibran langsung.
"I know." Balasan Fresa membuat Gibran tersenyum senang. Mereka melanjutkan perjalanan mereka sampai mereka tidak sengaja melihat dua sosok yang mereka kenal.
"Alex dan Cheryl? Bukannya Alex sama Mahda?" Perkataan Fresa membuat Gibran menatap gadisnya serius.
"Take a picture! Suatu saat akan berguna nanti." Perkataan Gibran membuat Fresa langsung memotretnya. Puas dengan hasil yang dia dapat, Fresa dan Gibran melanjutkan perjalanan mereka sampai, Bian muncul di hadapan Fresa.
"Wahh mantan kekasih sedang jalan sama orang yang di cintainya. Memuakkan!" Kata Bian ketus.
"Hadeh! Di mana-mana ketemu sama si Brengsek. Lelah hayati." Balas Gibran.
"Sialan!!!! Kalau seandainya Fresa gak suka sama lu, kita gak bakal putus!" Bentak Bian dengan penuh amarah.
"Masa? Gue gak peduli." Balas Gibran langsung membawa Fresa meninggalkan Bian di sana.
"Lihat saja gue bakal ambil Fresa dari lu, Gibran! Camkan itu." Teriak Bian membuat Gibran menghentikan langkahnya. Fresa menahan tangan Gibran saat cowok tersebut mau meninggalkan dirinya.
"Gue gak akan menyerahkan Fresa dengan mudah! Jika nyawa taruhannya gue bakal lakukan! Jika lu berani menyentuh dia seujung kuku, detik itu juga gue akan buat lu kehilangan kehidupan lu. Camkan itu!" Balasan Gibran membuat Fresa takut. Entah kenapa ada yang aneh dengan Gibran. Ia yakin semua itu karena dirinya.
"Kita lihat saja nanti." Kata Bian meninggalkan Gibran dan Fresa di sana.
"Jangan. Jangan pertaruhkan nyawa lu, karena tanpa lu pertaruhkan gue akan pergi dengan sendirinya." Setelah berucap demikian Fresa langsung meninggalkan Gibran yang terdiam kaku di tempatnya. Entah apa. Maksud Fresa, yang pasti hal tersebut membuat Gibran sangat khawatir.
Setelah berdiam diri, Gibran langsung mencari keberadaan Fresa. Sampai akhirnya dia melihat Fresa tengah duduk di taman dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya. Bahkan tidak ada suara yang Gibran dengar dari gadis yang ia cintai. Ia hanya terus memejamkan mata sambil mengeluarkan semua air matanya.
"Fresa lelah, Fresa ingin cepat menyusul nenek dan kakek." Perkataan Fresa membuat Gibran tertohok. Entah kerasukan apa, Gibran langsung berlari dan menarik Fresa ke dalam pelukannya.
"Gue gak tahu apa yang lu sembunyikan. Gue janji akan menjaga dan selalu di sisi lu sampai takdir memisahkan kita, jangan pernah merasa sendiri. Gue dan yang lain akan selalu di sisi lu. Don't cry please, it's hurt me." Kata Gibran sambil mengelus punggung Fresa.
Malam yang terang oleh sinar rembulan, harum tubuh Gibran dan kehangatan pelukannya. Membuat Fresa tenang saat ini. pasar malam yang tidak bisa Fresa lupakan. Kini, Fresa sudah menutup matanya saat ia merasakan Gibran mengecup puncak kepalanya.
"Fresa? You okay?!" Melihat mata Fresa terpejam, ia menepuk bahkan berteriak memanggil namanya sampai akhirnya Gibran langsung menghubungi Faza untuk datang ke tempatnya.
"Kenapa Fresa?!" Tanya Faza yang datang bersama Felly. Raut khawatir Faza membuat Gibran yakin ada yang mereka sembunyikan.
"Gue gak tahu, pokonya dia ketemu si Bian terus nangis di sini dan bilang dia lelah. Dan gue gak mau main kasar sama lu Za. Tapi, gue mau lu jujur apa yang terjadi dengan Fresa?" Pertanyaan tersebut membuat kedua cowok tersebut saling pandang.
"Bisakah kita bawa Fresa ke rumah sakit lebih dulu?!" Bentak Felly membuat Faza langsung menggendong Fresa namun di tahan.
"Tunjukan jalannya dan gue akan ikuti lu." Kata Gibran dingin.
"Sudahlah benar kata Gibran. Jangan debat lagi please! Kamu gak mau kehilangan Fresa bukan?" Tanya Felly.
"Hemm"
Akhirnya mereka berempat meninggalkan lokasi pasar malam. Malam yang seharusnya menjadi malam kebahagiaan untuk mereka, berubah seketika. Gibran berharap tidak ada hal buruk yang terjadi dengan Fresa. Ya, semoga.
❤️❤️❤️