
Hari dimana Fresa kritis.....
Saat itu Fanisa melepaskan pelukannya dengan Firhan.
"Maaf, gue udah gak ada perasaan lagi sama lu. Jadi gue harap lu bisa buka hati lu buat cewek lu." Kata Fanisa.
"Tapi Fan..."
"Firhan. Dengerin gue ya. Lu udah punya cewek lain. Coba deh mikir, jika gue jadi cewek lu? Pasti sakit. Anggap aja pelukan ini sebagai perpisahan. Kalau boleh jujur, gue emang ngerasain perasaan itu tapi gue gak tahu perasaan ini apa." Ucap Fanisa.
"Itu cinta Fan, udah gue duga pasti lu masih sayang sama gue kan? Udahlah gak usah ngelak. Gimana kalau kita balikan?" Pertanyaan Firhan membuat Fanisa terdiam.
"Maaf.. gue emang mau banget balikan sama lu, tapi--"
"Udahlah Fan, jangan pikirin yang lain. Intinya kita balikan!" Kata Firhan bahagia.
"Gak! Gue gak mau. Gue gak tahu perasaan ini apa, tapi gue gak mau egois sama perasaan ini. Karena gue yakin lu juga gak tahu sama perasaan lu sebenarnya gimana. Bisa jadi perasaan ini hanya sesaat. Jadi, gue putuskan untuk bilang gak. Sorry Firhan." Balas Fanisa dan pergi meninggalkan ruang perawatan Fresa.
Di saat Firhan galau dan pergi dari sana. Seseorang memanfaatkan keadaan. Dengan menggunakan topeng wajah yang mirip dengan Firhan dia memasuki ruang perawatan Fresa.
"Jika gue gak bisa miliki lu, maka Gibran juga tidak bisa!" Lepas mengucapkan kata tersebut, cowok itu langsung melepaskan alat bantuan nafas di tubuh Fresa, membuat tubuh yang tergeletak di sana kejang-kejang. Cowok tersebut tersenyum tipis dan pergi meninggalkan Fresa.
Dokter yang mendapatkan kabar Fresa kritis langsung berlari ke ruangan Fresa. Begitupun dengan yang lainnya. Mereka semua langsung berlari dari arah kantin. Sedangkan Mahda dan Kiki datang bersama dengan cowok yang dekat dengan mereka.
Semua menunggu dengan cemas. Isak tangis mulai terdengar di sana. Bahkan tingkah laku Gibran membuat Fanisa tertarik, bahkan sampai mengikuti Gibran dan Fano.
Di saat keduanya memasuki ruang cctv. Saat itu juga Fanisa langsung bersembunyi. Berharap jika dia tahu satu hal. Namun, semua gagal. Kenapa? Karena Gibran menggunakan kata pengganti saat berbicara dengan Fano, membuat Fanisa kesal sendiri. Melihat usahanya sia-sia Fanisa kembali ke tempatnya dan di sanalah dia melihat Fresa kembali. Rasa haru mulai merasuki dirinya. Fanisa bahagia Fresa kembali.
Namun, semua berubah saat Fresa berkata Operasi. Seketika pikiran buruk mulai merasuki Fanisa.
"Fresa baik." Ucap Fano membuat Fanisa menatap cowok di sampingnya bingung.
"Maksudnya, dia akan baik-baik saja." Jelas Fano membuat Fanisa menganggukkan kepalanya.
Setelah merasa Fresa kembali, mereka semua memutuskan untuk pulang. Meninggalkan Gibran dan keluarga Fresa disana.
Dua hari sebelum Fresa operasi...
Galmoners minus Fresa tengah berkumpul di kantin. Seperti biasa, mereka akan bergosip apapun. Entah itu tentang mantan mereka, Fresa atau tentang hal yang berhubungan dengan dunia artis.
"Mahda gue mau kita balikan!" Bentakan Alex membuat orang-orang di kantin menatap mereka penuh perhatian.
"Sayangnya gue gak mau! Emang gue bego apa?! Lu tuh gak suka kan sama gue? Tapi lu cuma pura-pura suka. Dan Cheryl yang lu kata adek juga bukan adek lu kan? Jadi kenapa? Kenapa lu susah payah mohon-mohon di sini? Apa Cheryl yang nyuruh lu atau orang lain yang nyuruh lu?" Balas Mahda.
"Gak ada yang nyuruh gue. Kali ini gue serius Mahda. Gue benar-benar menyesal." Kata Alex memohon.
"Simpan saja rasa penyesalan lu. Karena gue gak butuh!" Balas Mahda sambil berlari keluar kantin.
Tanpa mereka semua sadari seringai tipis muncul di salah satu wajah orang-orang yang ada di kantin. Entah kenapa dia merasa punya ide akan hal ini.
Mahda duduk di bangku taman, dia menangis di sana. Mahda lelah jika harus kembali ke masa lalunya. Dia lelah jika harus mencintai sendiri. Akankah ia terus seperti ini?
"Nangis lah. Gue bakal tutupin lu. Jadi luapkan semuanya." Kata Evan yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Mendengar tawaran tersebut Manda langsung menangis sejadi-jadinya. Dia meluapkan semua yang ia rasakan. Rasa sakit, kekecewaan dan kebenciannya. Semua ia luapkan. Bahkan Mahda tidak sadar jika sekarang dia menangis di pelukan Evan. Pelukan seorang cowok yang selalu menunggu Mahda sadar. Cowok yang rela sakit demi Mahda. Namun, Mahda hanya menganggap Evan hanyalah candaan.
"Sakit Van... Kenapa dia harus bohong. Apa rencana dia Van?! Apa dia gak cukup menyakiti gue saja?!" Kata Mahda histeris.
"Mungkin dia lelah." Balas Evan sambil mengusap punggung Mahda. Berharap jika pujaan hatinya segera tenang.
"Gue harus move on! Pokoknya gue gak mau ada Alex-Alex lagi!" Kata Mahda antusias.
"Jangan melupakan, karena akan sulit. Tapi dibawa santai aja. Karena move on itu bukan tentang melupakan tapi tentang bagaimana kita mengikhlaskan." Jelas Evan.
Kini Mahda sudah yakin, dia akan benar-benar mengikhlaskan Alex. Karena Mahda yakin, jika ia akan menemukan pengganti sosok Alex. Ia harap, saat menemukan sosok itu. Dia tidak lagi jatuh. Ia Mahda berharap itu.
Kiki dan Fanisa tersenyum melihat Mahda dan Evan. Bahkan keduanya berterima kasih karena Evan ada di saat Mahda seperti sekarang. Baru saja mereka mau meninggalkan taman, Kiki di tarik oleh Arkan membuat Fanisa bingung.
"Pinjam Sahabat lu!" Kata Arkan melalui gerakan bibirnya.
"Sip!" Balas Fanisa dengan acungan jempol.
Arkan mengajak Kiki keluar dari wilayah kampus mereka. Ada yang Arkan siapkan untuk hari ini.
"Mau kemana Ar?" Tanya Kiki saat mereka keluar dari pelataran kampus mereka dan kini menembus keramaian jalan.
"Ada deh. Hari ini kita bolos." Balas Arkan.
"Tapikan Tas--?" Tanya Kiki terpotong oleh ucapan Arkan.
"Aman, sudah gue minta Fano bawain. Jadi setelah urusan selesai kita ke basecamp FEGA."
Kiki diam saja dirinya mau di bawa kemana. Toh, Arkan bukan tipe cowok nakal jadi dia tidak perlu takut akan suatu hal.
Selama di perjalanan, Arkan menatap Kiki dengan senyuman tipisnya. Hari ini adalah hari yang tepat untuk ia mengungkapkan semuanya. Intinya, Arkan tidak mau keduluan orang lain.
Kiki dan Arkan memasuki kawasan Dago Pakar, Arkan sengaja membooking cafe di sana karena nuansanya sangat pas untuk mengungkapkan sesuatu.
Kiki bingung dengan suasana Cafe yang sepi. Bahkan Kiki kira Cafe ini baru buka. Namun, dugaannya salah.
Saat ia memasuki Cafe tersebut, semua foto candid dirinya terpampang jelas. Di mulai foto ia bayi, sampai foto ia dewasa.
Bukan hanya itu saja. Empat sosok orang dewasa yang sudah berumur juga menambah kebingungan Kiki. Ia tidak tahu ada apa dengan semua ini. Bahkan ia tidak tahu kenapa keluarganya ada di sini. Sampai...
Suara alunan melodi piano mulai terdengar begitu indah. Marry Your Daughter mengalun begitu pas. Bahkan Kiki sekarang sadar jika Arkan sedang menjalankan perannya.
"Untuk gadis cantik di sana. Mungkin usia gue masih muda untuk menikah. Tapi, di hadapan kalian semua gue mau mengungkapkan semuanya. Gue suka sama lu Ki. Lu tahu kapan? Sejak gue lihat foto lu bersama dengan Fresa. Saat itu gue langsung mikir, ku harus punya gue. Sampai takdir mempertemukan kita. Lu pasti gak sadar, gue orang yang menyelamatkan lu yang hampir ke tabrak mobil di saat lu ingin menyelamatkan kucing. Lu tahu apa yang gue pikirkan saat itu? Tuh cewek bego banget, tapi dari sana gue sadar. Lu punya perasaan lembut dan hal itulah membuat gue semakin jatuh cinta sama lu. Kayanya kelamaan pidato gue, jadi langsung saja. Di hadapan kedua orang tua lu. Gue, Arkan Hutama. Siap menjadi imam untuk gadis cantik bernama Kiki Rahardja. So, Will You Mar----"
Ucapan gantung Arkan membuat jantung Kiki berdetak kencang, ia takut jika Arkan serius menikahi dirinya saat ini. Kiki bukannya tidak suka dengan Arkan tapi Kiki belum siap untuk jenjang pernikahan. Masih banyak hal yang ingin ia capai.
"So, will You Be My Girlfriend?" Lanjut Arkan membuat Kiki spontan mengangguk.
Arkan yang ada di atas panggung langsung berlari mendekati Kiki dan memeluknya.
"Sekarang kita pacaran, Soon kita akan jadi tunangan." Bisik Arkan membuat Kiki mendengus.
"Serah lu dah." Balas Kiki sekenanya.
Raut wajah bahagia Kiki lihat dari empat orang dewasa di depannya.
"Bagaimana setelah liburan semester nanti, mereka bertunangan?" Tanya Areta, Ibunda Arkan.
Kini, mereka tengah makan bersama setelah acara Arkan tadi. Menikmati suasana kafe yang di penuhi hiasan akan tentangnya.
"Boleh, saya setuju. Toh Arkan juga bisa jaga anak saya." Balas Ibunda Kiki.
Dua ibu langsung menatap Arkan dan Kiki serius, membuat mereka langsung mengucapkan apa yang ada di pikiran mereka.
"Saya setuju." Ucap Arkan dan Kiki bersamaan.
Keduanya saling pandang namun setelahnya mereka saling melempar senyum. Membuat orang tua langsung melepaskan jurus ledekan mereka.
Kiki bahagia jika akhirnya hari ini tiba. Bahkan Kiki sangat berterima kasih dengan takdirnya saat ini. Biarkan hari ini dia memulai semuanya. Memulai hal baru bersama dengan orang baru.
❤️❤️❤️