Galmoners

Galmoners
11



Rencana ke pasar malam.


Benci dan kecewa beda tipis. Setipis helai rambut.


***


Sudah seminggu Galmoners kembali ke sekolah, tetap


saja sahabat mereka. Ketua Galmoners. Masih sama seperti sebelumnya. Menjauh


dan cuek. Ingin sekali Galmoners menegur ketua mereka, tapi penolakan selalu


mereka dapatkan. Setiap hari mereka menegurnya, namun di hiraukan dan di balas


dengan ucapan tajam nan ketus. Seperti halnya saat ini, di jam istirahat Fresa


Aditya mendatangi meja Mahda Adijaya yang sedang bermesraan dengan Alex.


"Da gue mau ngomong." Perkataan Fresa


membuat Mahda yang asik bercengkrama dengan kekasihnya terganggu.


"Mau ngomong apa? Sama kaya kemarin? Mending


gak usah Fre. Bilangin sama yang lain, keputusan gue tetap sama. Gue percaya


Alex sepenuh hati." Perkataan Mahda membuat Alex tersenyum, bahkan tidak


tanggung-tanggung cowok yang terkenal dengan mantan OSIS itu tengah mencium


telapak tangan Mahda, membuat Fresa yang sedari tadi berdiri menahan amarahnya.


"Lu tahukan Da? Gue bukan tipe orang yang


basa-basi. Jika lu emang lebih percaya sama pacar lu, ya udah kita gak larang.


Tapi jangan biarkan jarak membuat semuanya jadi runyam. Lu pernah bilang


sahabat lebih penting, tapi kenyataannya? Bullshit. Jangan ucapkan apa yang gak


bisa lu lakukan. Kalau emang lu benci gue, jangan benci yang lain. Dan satu


lagi, penyesalan gak pernah datang di awal jadi pikirkan keputusan lu sebelum


semuanya berubah." Perkataan Fresa membuat Mahda tersadar, selama ini dia


membuat jarak dengan sahabatnya. Tapikan dia tidak salah, pasalnya ketiga


sahabatnya selalu menjelekkan Alex. Jadi mau tidak mau, Mahda menjauh dari


mereka daripada harus mendengar kekasihnya di jelek-jelekin. Karena inilah


pengorbanan Mahda. Melepas sahabatnya demi kekasihnya.


"Kamu mau ke mereka? Gak apa kok, aku bisa


sama Cheryl. Kayanya benar kata Fresa, dari pada kamu nyesel lebih baik datangi


mereka dan minta maaf."ucap Alex.


Mahda tersenyum ke arah kekasihnya. "Akan ada


waktu semua kebenaran terungkap. Lagi pula mereka mengerti jika ini keputusan


aku. Udah ah lupakan yang tadi. Jadi bagaimana setelah kamu lulus nanti?"


Pertanyaan Mahda membuat keduanya larut dalam obrolan. Sedangkan Fresa yang


duduk tidak jauh dari mereka tersenyum sendu. Ternyata dia di kecewakan lagi.


FEGA yang duduk tidak jauh dari tempat Galmoners,


menatap Mahda kesal. Lagi-lagi Mahda membuat sahabatnya sendiri kecewa. Bahkan


Evan sendiri gemas dengan sifat Mahda kali ini.


"Bro, gimana kita ajak Galmoners ke pasar


malam?" Perkataan Arkan membuat sahabatnya menatap Arkan serius.


"Pasar malam? Sejak kapan seorang Arkan Hutama


main ke pasar malam? Biasanya sibuk sama buku tebal." Balas Gibran.


"Lu sahabat **** ya Gi! Ya jelaslah dia mau


jalan sama yayang Kiki. Gitu aja pakai tanya, lu gak tau? Sejak insiden


perpustakaan mereka deket loh." Tambah Evan.


"Bodoh!" Ucap Fano membuat Evan dan


Gibran saling pandang.


"Bodoh? Siapa?" Tanya Evan.


"Lu berdua." Balas Fano.


"Apaan si No, kok lu gak jelas. Situ butuh


aqua?" Tanya Gibran membuat Fano mendengus.


"Arkan dekat sama Kiki, sejak dia nembak Kiki.


****!" Omel Fano.


"Nembak Kiki? Mati dong! Ah lu **** juga


No!" Balas Gibran membuat Fano menggeram.


"Bodo Gi! Pantes aja Fresa gak luluh sama lu.


Lu terlalu ****!" Ucap Fano.


"Sialan! Coba lu taklukkan si Fresa. Kaya bisa


aja." Balas Gibran kesal.


"Kalau gue deketin Fresa terus dia jatuh cinta


sama gue gimana? Tar lu nangis lagi." Ucapan Fano membuat Gibran spontan


memiting leher Fano, sedangkan Arkan dan Evan sudah lebih dulu meninggalkan


mereka. Karena malu.


"Haiiii Fresa." Sapa Evan dan langsung


mendudukkan dirinya di samping Fresa.


"Kenapa lu? Kerasukan lagi?" Pertanyaan


Fresa membuat Evan tersenyum.


"Yaa, akang kerasukan cinta neng." Balas


Evan membuat Fresa mendengus.


"Jangan gangguin Fresa gue!" Omel Gibran.


"Alah Fresa lu, pacaran aja kagak, tunangan


bukan, suami apalagi. Udah deh jangan ganggu gue lagi pendekatan!" Balas


Evan sengit.


Arkan mulai mengambil alih pembicaraan.


"Gi, lu duduk deh. Ada yang mau gue omongin


sama Galmoners." Perintah Arkan membuat Gibran duduk di sisi kiri Fresa


setelah mengusir Fanisa dari bangkunya.


"Dasar Gibran sialan!" Omel Fanisa


membuat Fano yang duduk di sampingnya langsung mengelus bahu Fanisa, berharap


gadis pujaan hati Fano tenang.


"Baiklah, karena kalian sudah tenang. Langsung


aja ya. Weekend ada pasar malam, gue mau ngundang Galmoners untuk gabung sama


kita. Kalau kalian gak mau ki--"


"Mau!" Ucapan Kiki yang memotong


pembicaraan Arkan membuat cowok berkacamata tersebut tersenyum tipis.


"Fre kamu tahu gak perbedaan kamu sama matahari?"


"Gue sama matahari? Gitu aja nanya! Lu anak


IPA apa bukan si?!" Omel Fresa.


"Bagus Fre! Jangan tanggepin orang gila!


Jelas-jelas lu manusia dan matahari tata surya bodoh aja tuh orang." Balas


Evan. Cowok tengil itu sengaja menganggu Gibran. Tidak peduli sahabatnya marah


nanti, yang penting selama dia jomblo maka Gibran harus jomblo juga. Enak aja!


"Diam Van jangan sampe gue tendang lu dari


sini!" Ancam Gibran.


Gibran menggenggam tangan kiri Fresa. "Bedanya


kamu sama matahari satu. Jika matahari menyinari dunia maka kamu menyinari


duniaku." Kata Gibran sambil mengecup tangan kiri Fresa.


"Prett! Bohong banget Fres, kemarin gue liat


dia lagi rayu kakak kelas, jadi jangan percaya!" Perkataan Evan membuat


Gibran melempar bakso di depannya. Bukan mengenai Evan malah mengenai Alex. Dan


itu tandanya perang segera di mulai.


Brakkk....


Gebrakan meja yang di lakukan oleh Mahda membuat


kantin yang tadi penuh dengan gelak tawa berubah menjadi hening.


"Lu itu kekanakan banget si Fres! Gue tau lu


gak suka sama Alex, tapi gak kaya gini caranya. Jika dia mati tadi gimana?! Gue


bisa loh nuntut lu." Kata Mahda tajam.


"Bukan Fresa tapi gue, kalau lu mau nuntut,


tuntut gue!" Balas Gibran dingin. Semua mata menatap mereka penuh


perhatian, sedangkan Alex dan dua sosok lain tersenyum bahagia melihat


pertengkaran tersebut.


"Tuntut gue? gue gak takut!" Balas Fresa


sinis.


"Da, kayanya lu harus pergi ke dokter deh.


Karena mata lu udah gak berfungsi dengan baik." Kata Fanisa menyindir.


"Kayanya lebih baik lu deh Fan, karena lu gak


bisa ngeliat kebusukan Fresa." Balas Mahda tak kalah sinis.


"Cukup Da! Gue minta maaf atas nama Fresa dan


Fanisa. Gue juga minta maaf karena ulah Gibran lu jadi salah paham. Maafin


mereka ya?" Perkataan Kiki membuat Mahda tersenyum tipis.


"Okey gue maafin. Lain kali gue gak mau lihat


kejadian kaya gini. Dan sorry Fres gue salah nuduh lu tadi." Perkataan


Mahda membuat Fresa bergumam dan kejadian tersebut membuat mereka kembali ke


tempat duduknya, sedangkan Galmoners dan FEGA melanjutkan perbincangan mereka.


***


Faza Aditya tengah menunggu kedatangan adik


tercinta. Sejak menerima hasil lab dari pihak Jerman, Faza langsung


meninggalkan rumah sakit menuju sekolah adiknya.


"Fresa!!!" Teriak Faza saat melihat


adiknya bersembunyi di balik jaket Gibran. Mendengar teriakan kakaknya membuat


Fresa menarik tangan Gibran.


"Stop Fre! Itu kakak kamu nanti ngamuk terus


gak kasih restu gimana?"perkataan Gibran membuat Fresa spontan memukul


perut Gibran.


Baru saja ia mau meninggalkan Gibran, cowok


tersebut menahannya, membuat Faza langsung berlari ke arah mereka.


"Bagus adik ipar, calon lau gue bawa


dulu." Baru saja Faza mau membawa adiknya, Gibran menahan tangan Faza.


"Gue gak tahu apa yang di sembunyikan kalian,


tapi kali ini gue gak bisa tinggal diam gue ini En--"


"Ya gue tahu status lu. Tapi ini urusan


keluarga gue, lu bukan suaminya jadi gak ada hak!" Balas Faza membuat


Gibran terdiam.


"Ya udah kalau gitu, gue bakal suruh keluarga


gue datang ke rumah buat lamar Fresa gimana?" Pertanyaan Gibran membuat


Fresa menginjak kaki Gibran.


"Lu cari mati hah?! Udah ah, ayok pulang"


ajak Fresa kepada kakaknya.


"Gue ikut!" Balas Gibran sambil menahan


tangan Fresa.


"Si kambing ngajak banget ribut, ya sudah lu


ikut!" Balasan Faza membuat Fresa menatap kakaknya tajam, ini kakaknya


serius?!


"Woi kambing! Latihan futsal!" Omel Fano.


"Ouh ya, bro gue gak jadi deh. Nanti gue


nyusul. Dan lu! Jangan kemana-mana! Gue bakal ke rumah. Sebagai calon


ist--"


"Bacot! Udah ah. Bye bro, bye Fres!"


Lepas peninggalan Gibran dan Fano. Fresa dan Faza meninggalkan pelataran


sekolah.


Selama di dalam mobil, Fresa hanya diam menatap tab


yang ada di genggamannya. Sudah dia duga, kabar buruk akan ia dengar. Fresa


menutup tab tersebut dan mulai masuk ke alam bawah sadarnya. Faza yang melihat


perubahan Fresa merasa tertohok. Ia bersumpah akan melakukan apapun demi


keselamatan adiknya apapun itu.


Cupp...


Faza mencium kening Fresa penuh sayang. Dia berjanji


akan mendampingi Fresa apapun kondisinya. Jika mengharuskan dia tidak memiliki


kekasih dia ikhlas. Yang penting, adiknya selalu dalam jangkauannya.


❤️❤️❤️