
Rencana ke pasar malam.
Benci dan kecewa beda tipis. Setipis helai rambut.
***
Sudah seminggu Galmoners kembali ke sekolah, tetap
saja sahabat mereka. Ketua Galmoners. Masih sama seperti sebelumnya. Menjauh
dan cuek. Ingin sekali Galmoners menegur ketua mereka, tapi penolakan selalu
mereka dapatkan. Setiap hari mereka menegurnya, namun di hiraukan dan di balas
dengan ucapan tajam nan ketus. Seperti halnya saat ini, di jam istirahat Fresa
Aditya mendatangi meja Mahda Adijaya yang sedang bermesraan dengan Alex.
"Da gue mau ngomong." Perkataan Fresa
membuat Mahda yang asik bercengkrama dengan kekasihnya terganggu.
"Mau ngomong apa? Sama kaya kemarin? Mending
gak usah Fre. Bilangin sama yang lain, keputusan gue tetap sama. Gue percaya
Alex sepenuh hati." Perkataan Mahda membuat Alex tersenyum, bahkan tidak
tanggung-tanggung cowok yang terkenal dengan mantan OSIS itu tengah mencium
telapak tangan Mahda, membuat Fresa yang sedari tadi berdiri menahan amarahnya.
"Lu tahukan Da? Gue bukan tipe orang yang
basa-basi. Jika lu emang lebih percaya sama pacar lu, ya udah kita gak larang.
Tapi jangan biarkan jarak membuat semuanya jadi runyam. Lu pernah bilang
sahabat lebih penting, tapi kenyataannya? Bullshit. Jangan ucapkan apa yang gak
bisa lu lakukan. Kalau emang lu benci gue, jangan benci yang lain. Dan satu
lagi, penyesalan gak pernah datang di awal jadi pikirkan keputusan lu sebelum
semuanya berubah." Perkataan Fresa membuat Mahda tersadar, selama ini dia
membuat jarak dengan sahabatnya. Tapikan dia tidak salah, pasalnya ketiga
sahabatnya selalu menjelekkan Alex. Jadi mau tidak mau, Mahda menjauh dari
mereka daripada harus mendengar kekasihnya di jelek-jelekin. Karena inilah
pengorbanan Mahda. Melepas sahabatnya demi kekasihnya.
"Kamu mau ke mereka? Gak apa kok, aku bisa
sama Cheryl. Kayanya benar kata Fresa, dari pada kamu nyesel lebih baik datangi
mereka dan minta maaf."ucap Alex.
Mahda tersenyum ke arah kekasihnya. "Akan ada
waktu semua kebenaran terungkap. Lagi pula mereka mengerti jika ini keputusan
aku. Udah ah lupakan yang tadi. Jadi bagaimana setelah kamu lulus nanti?"
Pertanyaan Mahda membuat keduanya larut dalam obrolan. Sedangkan Fresa yang
duduk tidak jauh dari mereka tersenyum sendu. Ternyata dia di kecewakan lagi.
FEGA yang duduk tidak jauh dari tempat Galmoners,
menatap Mahda kesal. Lagi-lagi Mahda membuat sahabatnya sendiri kecewa. Bahkan
Evan sendiri gemas dengan sifat Mahda kali ini.
"Bro, gimana kita ajak Galmoners ke pasar
malam?" Perkataan Arkan membuat sahabatnya menatap Arkan serius.
"Pasar malam? Sejak kapan seorang Arkan Hutama
main ke pasar malam? Biasanya sibuk sama buku tebal." Balas Gibran.
"Lu sahabat **** ya Gi! Ya jelaslah dia mau
jalan sama yayang Kiki. Gitu aja pakai tanya, lu gak tau? Sejak insiden
perpustakaan mereka deket loh." Tambah Evan.
"Bodoh!" Ucap Fano membuat Evan dan
Gibran saling pandang.
"Bodoh? Siapa?" Tanya Evan.
"Lu berdua." Balas Fano.
"Apaan si No, kok lu gak jelas. Situ butuh
aqua?" Tanya Gibran membuat Fano mendengus.
"Arkan dekat sama Kiki, sejak dia nembak Kiki.
****!" Omel Fano.
"Nembak Kiki? Mati dong! Ah lu **** juga
No!" Balas Gibran membuat Fano menggeram.
"Bodo Gi! Pantes aja Fresa gak luluh sama lu.
Lu terlalu ****!" Ucap Fano.
"Sialan! Coba lu taklukkan si Fresa. Kaya bisa
aja." Balas Gibran kesal.
"Kalau gue deketin Fresa terus dia jatuh cinta
sama gue gimana? Tar lu nangis lagi." Ucapan Fano membuat Gibran spontan
memiting leher Fano, sedangkan Arkan dan Evan sudah lebih dulu meninggalkan
mereka. Karena malu.
"Haiiii Fresa." Sapa Evan dan langsung
mendudukkan dirinya di samping Fresa.
"Kenapa lu? Kerasukan lagi?" Pertanyaan
Fresa membuat Evan tersenyum.
"Yaa, akang kerasukan cinta neng." Balas
Evan membuat Fresa mendengus.
"Jangan gangguin Fresa gue!" Omel Gibran.
"Alah Fresa lu, pacaran aja kagak, tunangan
bukan, suami apalagi. Udah deh jangan ganggu gue lagi pendekatan!" Balas
Evan sengit.
Arkan mulai mengambil alih pembicaraan.
"Gi, lu duduk deh. Ada yang mau gue omongin
sama Galmoners." Perintah Arkan membuat Gibran duduk di sisi kiri Fresa
setelah mengusir Fanisa dari bangkunya.
"Dasar Gibran sialan!" Omel Fanisa
membuat Fano yang duduk di sampingnya langsung mengelus bahu Fanisa, berharap
gadis pujaan hati Fano tenang.
"Baiklah, karena kalian sudah tenang. Langsung
aja ya. Weekend ada pasar malam, gue mau ngundang Galmoners untuk gabung sama
kita. Kalau kalian gak mau ki--"
"Mau!" Ucapan Kiki yang memotong
pembicaraan Arkan membuat cowok berkacamata tersebut tersenyum tipis.
"Fre kamu tahu gak perbedaan kamu sama matahari?"
"Gue sama matahari? Gitu aja nanya! Lu anak
IPA apa bukan si?!" Omel Fresa.
"Bagus Fre! Jangan tanggepin orang gila!
Jelas-jelas lu manusia dan matahari tata surya bodoh aja tuh orang." Balas
Evan. Cowok tengil itu sengaja menganggu Gibran. Tidak peduli sahabatnya marah
nanti, yang penting selama dia jomblo maka Gibran harus jomblo juga. Enak aja!
"Diam Van jangan sampe gue tendang lu dari
sini!" Ancam Gibran.
Gibran menggenggam tangan kiri Fresa. "Bedanya
kamu sama matahari satu. Jika matahari menyinari dunia maka kamu menyinari
duniaku." Kata Gibran sambil mengecup tangan kiri Fresa.
"Prett! Bohong banget Fres, kemarin gue liat
dia lagi rayu kakak kelas, jadi jangan percaya!" Perkataan Evan membuat
Gibran melempar bakso di depannya. Bukan mengenai Evan malah mengenai Alex. Dan
itu tandanya perang segera di mulai.
Brakkk....
Gebrakan meja yang di lakukan oleh Mahda membuat
kantin yang tadi penuh dengan gelak tawa berubah menjadi hening.
"Lu itu kekanakan banget si Fres! Gue tau lu
gak suka sama Alex, tapi gak kaya gini caranya. Jika dia mati tadi gimana?! Gue
bisa loh nuntut lu." Kata Mahda tajam.
"Bukan Fresa tapi gue, kalau lu mau nuntut,
tuntut gue!" Balas Gibran dingin. Semua mata menatap mereka penuh
perhatian, sedangkan Alex dan dua sosok lain tersenyum bahagia melihat
pertengkaran tersebut.
"Tuntut gue? gue gak takut!" Balas Fresa
sinis.
"Da, kayanya lu harus pergi ke dokter deh.
Karena mata lu udah gak berfungsi dengan baik." Kata Fanisa menyindir.
"Kayanya lebih baik lu deh Fan, karena lu gak
bisa ngeliat kebusukan Fresa." Balas Mahda tak kalah sinis.
"Cukup Da! Gue minta maaf atas nama Fresa dan
Fanisa. Gue juga minta maaf karena ulah Gibran lu jadi salah paham. Maafin
mereka ya?" Perkataan Kiki membuat Mahda tersenyum tipis.
"Okey gue maafin. Lain kali gue gak mau lihat
kejadian kaya gini. Dan sorry Fres gue salah nuduh lu tadi." Perkataan
Mahda membuat Fresa bergumam dan kejadian tersebut membuat mereka kembali ke
tempat duduknya, sedangkan Galmoners dan FEGA melanjutkan perbincangan mereka.
***
Faza Aditya tengah menunggu kedatangan adik
tercinta. Sejak menerima hasil lab dari pihak Jerman, Faza langsung
meninggalkan rumah sakit menuju sekolah adiknya.
"Fresa!!!" Teriak Faza saat melihat
adiknya bersembunyi di balik jaket Gibran. Mendengar teriakan kakaknya membuat
Fresa menarik tangan Gibran.
"Stop Fre! Itu kakak kamu nanti ngamuk terus
gak kasih restu gimana?"perkataan Gibran membuat Fresa spontan memukul
perut Gibran.
Baru saja ia mau meninggalkan Gibran, cowok
tersebut menahannya, membuat Faza langsung berlari ke arah mereka.
"Bagus adik ipar, calon lau gue bawa
dulu." Baru saja Faza mau membawa adiknya, Gibran menahan tangan Faza.
"Gue gak tahu apa yang di sembunyikan kalian,
tapi kali ini gue gak bisa tinggal diam gue ini En--"
"Ya gue tahu status lu. Tapi ini urusan
keluarga gue, lu bukan suaminya jadi gak ada hak!" Balas Faza membuat
Gibran terdiam.
"Ya udah kalau gitu, gue bakal suruh keluarga
gue datang ke rumah buat lamar Fresa gimana?" Pertanyaan Gibran membuat
Fresa menginjak kaki Gibran.
"Lu cari mati hah?! Udah ah, ayok pulang"
ajak Fresa kepada kakaknya.
"Gue ikut!" Balas Gibran sambil menahan
tangan Fresa.
"Si kambing ngajak banget ribut, ya sudah lu
ikut!" Balasan Faza membuat Fresa menatap kakaknya tajam, ini kakaknya
serius?!
"Woi kambing! Latihan futsal!" Omel Fano.
"Ouh ya, bro gue gak jadi deh. Nanti gue
nyusul. Dan lu! Jangan kemana-mana! Gue bakal ke rumah. Sebagai calon
ist--"
"Bacot! Udah ah. Bye bro, bye Fres!"
Lepas peninggalan Gibran dan Fano. Fresa dan Faza meninggalkan pelataran
sekolah.
Selama di dalam mobil, Fresa hanya diam menatap tab
yang ada di genggamannya. Sudah dia duga, kabar buruk akan ia dengar. Fresa
menutup tab tersebut dan mulai masuk ke alam bawah sadarnya. Faza yang melihat
perubahan Fresa merasa tertohok. Ia bersumpah akan melakukan apapun demi
keselamatan adiknya apapun itu.
Cupp...
Faza mencium kening Fresa penuh sayang. Dia berjanji
akan mendampingi Fresa apapun kondisinya. Jika mengharuskan dia tidak memiliki
kekasih dia ikhlas. Yang penting, adiknya selalu dalam jangkauannya.
❤️❤️❤️