
Pasar malam versi Mahda Adijaya.
***
Tidak terasa hari sabtu telah tiba, seperti janji
sebelumnya. Mahda kali ini akan pergi ke pasar malam bersama dengan Alex. Ia
sangat tidak sabar menunggu hal tersebut.
Dengan jeans dan kaos kebanggaannya, Mahda duduk
bersama keluarganya menunggu kedatangan Alex.
"Kapan Alex akan jemput kamu?" Tanya
wanita cantik, Melia.
"Tidak tahu mah kapan. Lagian mungkin macet di
jalan, kan rumah dia sama aku jauh." Balas Mahda Enteng.
"Mama tahu, kalau dia sudah hafal rumah ini
jauh, seharusnya dia berangkat lebih awal dong?" Tanya Melia kepada putri
tunggalnya.
"Benar kata mama kamu, papa yakin Alex itu
cuma mau main-main sama kamu. Buktinya setiap janjian jalan dia selalu telat,
atau kalau tidak dia batalkan janji sepihak. Papa gak suka pria seperti itu.
Tidak konsisten." Ucap pria tampan yang duduk di seberang Mahda, Martin.
Martin sangat tahu, Alex itu bukan anak baik-baik.
Bahkan Martin tidak pernah setuju jika Mahda berpacaran dengan Alex. Karena
firasatnya selalu buruk.
Ting... Nong...
"Nah! Itu Alex." Seru Mahda bergembira.
Setelah sejam lebih menunggu akhirnya Alex datang. Setidaknya mematahkan rasa
kecewa kedua orangtuanya.
"Assalamualaikum om... Tante..." Ucapan
seseorang di belakang mereka membuat mereka bingung, pasalnya Alex jarang
melakukan hal tersebut. Apalagi suara yang mereka dengar juga sangat asing.
Lain halnya dengan Mahda, perempuan cantik tersebut
sudah hafal suara siapa yang ia dengar, namun yang Mahda bingung, kenapa cowok
itu di sini? Mereka kan tidak ada janji sebelumnya.
"Eh? Kamu siapa ya?" Pertanyaan Martin
membuat Mahda tersadar dari lamunannya.
"Saya Evan Laksono pak. Calon suaminya Mahda
di masa depan." Perkataan Evan membuat Martin tersenyum. Entah kenapa
Martin sangat suka jika melihat Mahda bersama dengan Evan. Apalagi, cowok di
depannya sangat sopan.
"Kamu bisa saja, duduk dulu deh kamu mau minum
apa Evan?" Tanya Martin.
"Saya mau langsung aja deh om, tante. Takut
kemalaman nanti pulangnya. Jadi saya izin meminjam anak om dan tante yang
cantik ini dulu ya. Saya janji sebelum jam 9 anak om dan tante sudah tiba di
rumah dalam keadaan utuh." Kata Evan.
"Kamu ini! Kalau sampai tidak utuh om tidak
akan merestui kalian." Balas Martin. Mahda merasa aneh, karena tingkah
laku papanya sangatlah berbanding terbalik jika dengan Alex. Aneh.
"Wah! Jadi om ngerestuin saya ni??" Tanya
Evan bahagia. Sedangkan Mahda sudah mendengus kesal.
"Restuin dong! Ya sudah kalian berangkat sana.
Nanti keburu malam." Kata Martin.
Sebelum mereka berangkat, Mahda mendapat pesan dari
Alex. Awalnya dia sangat bahagia. Namun saat membuka pesan tersebut...
Sayang Alex
Maaf ya sayang, aku gak bisa ikut kamu. Aku ada
urusan keluarga. Lain kali kita jalan deh. Sorry baby.
Pesan tersebut membuat Mahda tersenyum kecut. Ini
bukan kali pertama Alex menolak janji mereka saat weekend. Tapi sudah kesekian
kalinya dan Mahda hanya bisa mengelus dada. Semoga saja apa yang Alex ucapkan
benar bukan suatu kebohongan.
Saat Mahda memasukkan ponsel ke dalam tas kecil,
keluarganya menatap dirinya penuh minat. Sampai...
"Dugaan papa benar, Alex gak bisa di pegang
ucapannya. Lihat sekarang? Dia tidak datang bukan? Papa yakin alasan dia
membatalkan acara kalian karena urusan keluarga. Ya kan?" Pertanyaan
Martin membuat Mahda terdiam. Mahda tidak mengelak atau pun
membantah karena apa yang di ucapkan papanya benar.
"Gak perlu di jawab papa sudah tahu
jawabannya." Sambung Martin. Entah kenapa pria berkepala empat tersebut
sangat kesal saat ini. Pasalnya, putri satu-satunya di permainkan oleh orang
lain dan Martin sangat benci itu.
"Aduh om! Keburu malam nih, marahnya di
lanjutkan nanti ya. Sekarang saya mau culik anaknya dulu.
Assalamualaikum!" Pamit Evan.
Marin dan istrinya. Menatap kepergian mereka dengan
senyum bahagia. Entah kenapa mereka sangat ingin Evan menjadi menantu. Ya
semoga saja Evan benar jodoh anaknya. Karena Martin tenang jika anaknya dengan
Evan.
***
Di sinilah Mahda dan Evan berada. Setelah aksi
kebutan di jalan, akhirnya mereka selamat sampai tujuan.
"Bilang aja mau modus biar bisa di peluk kan!
Dasar buaya!" Semprot Mahda saat gadis cantik tersebut turun dari motor
Evan.
"Tau aja si Da, kali-kali gak tahu dong, biar
sweet. Kapan-kapan peluk gue lagi ya!" Seru Evan membuat Mahda langsung
menjitak kepala Evan.
"Ngimpi aja lu sono!" Omel Mahda.
" Ya mimpi yang jadi kenyataan." Balas
Evan.
Tanpa persetujuan dari Mahda, Evan langsung
menggenggam tangan Mahda dan mulai mengajaknya keliling pasar. Walaupun keadaan
ramai, Evan tetap bersemangat membawa Mahda berkeliling. Bahkan sekarang,
mereka tengah berdiri di sebuah permainan. Dimana Evan harus bisa memasukkan bola
ke dalam ring yang jauh dari tempat ia berdiri.
"Gue yakin lu gak bisa. Udah jang--"
Dugggg....
Mahda melotot! Bagaimana bisa anak futsal bermain
basket? Mustahil bukan? Atau memang Mahda yang belum kenal dengan Evan?
Entahlah.
"See gue tuh lebih bisa di andalkan daripada
si Alex. Nih bonekanya!" Ucap Evan sambil memberikan boneka beruang besar.
Tanpa menunggu lama, Mahda langsung meninggalkan Evan dengan Teddy bear di
tangannya. Masa bodo dia jadi kesal dengan Evan. Siapa suruh membahas Alex!
"Mahda sayang kuh, jangan lari dong. Aku minta
maaf sayang, tapi semua ini aku lakukan untuk kamu, apapun akan aku lakukan
karena aku sangat mencintai Mahda Adijaya!" Teriakan Evan membuat Mahda
terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Entah karena dia jadi pusat perhatian
atau karena hal lain. Yang pasti Mahda hanya bisa terdiam kaku di tempatnya
berdiri.
"Udah mba! Maafin aja, kalau gak saya rebut
loh." Entah itu suara siapa yang pasti suara tersebut membuat Mahda
semakin terdiam. Sampai Evan memutar tubuhnya dan langsung memeluknya.
"Aku sayang banget sama kamu. Jika harus
merebut kamu dari Alex sepertinya aku siap. Karena malam ini, aku akan memulai
semuanya." Bisikkan Evan membuat Mahda menegang.
"Wah! Saya sudah di maafkan. Terima kasih
bantuannya semua" teriak Evan sambil melepaskan rengkuhannya.
Mahda bingung harus apa, yang pasti ada hal aneh
yang ia rasakan saat ini. Makanya dia lebih memilih diam.
"Lain kali, buat yang lebih elit"
celetukan suara di belakang Mahda dan Evan membuat keduanya berbalik. Di sana
mereka melihat Faza datang bersama dengan...
"Kak Felly?!"
"Suttttt... Jangan berisik. Udah ah kita mau
lanjut. Duluan" pamit Felly.
"Dasar aneh." Balas Mahda dan Evan
bersamaan. Keduanya sempat terdiam namun akhirnya mereka saling melepas tawa.
Ya, malam ini mahda akan melupakan Alex sejenak.
Karena dia juga butuh hiburan saat ini. Melihat senyum di wajah Mahda, Evan
tersenyum lega. Dia terus mengajak Mahda bermain apapun, bahkan ia juga meminta
Mahda untuk foto bersama.
"Mau kemana lagi?" Tanya Evan.
"Ke rumah hantu?" Balas Mahda dengan
pertanyaan juga.
"Mau?" Tanya Evan.
"Boleh deh." Balas Mahda.
Keduanya memasuki kawasan rumah hantu. Awalnya
mereka masih baik-baik saja. Sampai di pertengahan entah ulah setan yang muncul
atau memang takdir. Evan mencium Mahda. Ingat! Evan mencium Mahda! Dimana?
Di.....
Dahi!
Bahkan Mahda shock saat merasakan dahinya basah. Ia
tidak pernah mendapatkan hal seperti ini, karena Mahda selalu memberikan batas
saat mereka berpacaran. Tapi malam ini?
Jantung Mahda berdegup kencang bahkan Evan
merasakan hal yang sama. Tidak mau membuat Mahda kepikiran Evan langsung
mengalihkan.
"Ah setan! Untung ciumnya dahi bukan bibir.
Coba kalau bibir--"
"Kenapa bro?" Tanya sosok pocong di depan
mereka.
"Lu bakal gue kasih duit. Tapi karena lu dah
bantu gue lu tetap dapat tip dari gue. Nih!" Balas Evan sambil memberikan
dua lembar uang berwarna merah.
"Evan sialan!!!! Lu sengaja kan?!" Bentak
Mahda.
"Gak lah kenal juga gak sama ni pocong. Lagian
itu pas buat hadiah teddy bearnya. Udah lah lanjut kasian si pocong iri. Bye
Cong!" Pamit Evan sambil menarik Mahda untuk melanjutkan perjalanan
mereka.
Selama dia dalam wahana tersebut, Mahda
mengeluarkan umpatan-umpatannya untuk Evan sampai Evan menarik ke dalam
pelukannya.
Mahda mencoba melepaskan rengkuhan Evan namun
gagal. Bahkan seringaian Evan membuat Mahda takut. Apalagi saat wajah keduanya
hampir dekat. Mahda yang parno hanya bisa menutup kedua matanya. Sampai...
"Hahaha... Ngarep amat mba di cium!"
Ucapan Evan membuat Mahda membuka matanya. Wajahnya memerah, menahan malu.
Sedangkan Evan masih terus tertawa sampai.
"Gue memang mencintai lu, tapi gue gak berniat
menyentuh lu. Okay yang tadi gue minta maaf. Karena gue akan menyentuh lu nanti
saat kita sudah sah bersuami istri. Karena cowok sejati akan menahan nafsu dan
menjaga orang yang di cintainya. Karena, jika gue ngerusak lu. Gue gak pantas
ada di sisi lu lagi. Gue emang brengsek! Suka tawuran or balapan tapi, gue gak
suka mainin hati perempuan. Karena perempuan terlalu berharga buat gue. Apalagi
lu! Lu sangat berharga untuk kehidupan gue." Jelas Evan membuat Mahda
menatap cowok di depannya dengan berkaca-kaca.
"Aduh jangan nangis dong. Gue gak bakal cium
lu, tapi kalau meluk lu gue bakal lakuin. Gue emang menghargai perempuan tapi
tidak untuk perempuan jahat" perkataan Evan membuat Mahda bingung, namun
dia sedikit tenang malam ini. Seandainya Alex seperti ini, dia pasti sangat
bahagia. Sayangnya Alex lebih sering diam atau bahkan cuek saat mereka jalan.
Membuat Mahda merasa mencintai sendirian.
"Tinggalkan apa yang harusnya di tinggalkan.
Dan pertahanan apa yang harus lu pertahankan. Itulah hidup. Harus rela melepaskan
demi mempertahankan yang lebih baik." Kata Evan.
Mahda hanya bisa tersenyum. Seandainya Mahda
mengenal Evan lebih dulu, mungkin dia tidak akan merasakan sakit hati kepada
Alex. Mahda langsung mengikuti Evan yang mengajaknya kembali berkeliling.
Tanpa Mahda sadari, Mahda sudah memberikan ruang
untuk Evan. Ruang tersendiri yang ada didalam hatinya.
❤️❤️❤️
Pasar malam versi Fanisa Wijaya.
*
**
Di sebuah perumahan elit, Fanisa tengah asik
menyaksikan videoklip dari salah satu boyband terkenal di Korea, siapa lagi
jika bukan Bangtan Boys? Boyband yang terkenal dengan sebutan BTS tersebut
sudah mulai ke mancanegara. Bahkan mereka menepati Billboard. Sangat
membanggakan bukan?
Sambil memuja wajah tampan ke tujuh personil
tersebut, Fanisa menghiraukan suara ketukan pintu. Sampai....
"Sayang di bawah ada cowok, katanya teman kamu
sekolah."kata wanita cantik dengan dress rumahan, Fara.
"Ah? Cowok? Aku gak ada janji mah. Eh ada
deng. Tapi nanti ketemuan di pasar malam. Mungkin dia salah alamat kali
mah." Balas Fanisa malas.
Ya, ada hal yang membuat Fanisa badmood.
Menstruasi, orang yang ganggu dia menulis, dan orang yang ganggu dia
menyaksikan film atau video kesukaannya.
"Aduh sayang, gak mungkin. Cowoknya ganteng
banget loh. Lebih ganteng dari mantan kamu itu." Celetuk Fara membuat
Fanisa mendengus. Tidak bisakah mamanya tidak membahas hal tersebut? Bukan
masalah dia belum move on tapi, hal tersebut membuat Fanisa teringat masa lalu.
Ahhh sudahlah lupakan!
"Mama aku gak ada janji sama cowok."
Balas Fanisa kekeuh.
"Temuin aja dulu si Fan. Kasian itu cowok di
teror sama papa kamu." Ucap Fara memaksa.
"Ihh! Mama gak boleh maksa tahu. Nanti aku
kabur loh!" Celetuk Fanisa membuat Fara mendengus.
"Kabur aja sana! Nanti mama cari anak lagi.
Ah! Kalau bisa temen kamu yang cowok itu aja jadi anak mama. Lumayan lah
wajahnya ganteng pas sama mama dan papa." Balas Fara menggoda anaknya.
"Mama ihh! Awas aja kalau kangen sama
aku!" Ucap Fanisa kesal.
Dengan perasaan dongkol Fanisa turun dari kasur
kesayangannya. Padahal jika Fanisa boleh memilih, ia lebih baik menunggu
janjian ke pasar malam dengan menyaksikan videoklip BTS, menyebalkan!
"Kamu gak mau ganti baju?" Pertanyaan
Fara membuat Fanisa menatap mamanya bingung. Fanisa menatap pakaiannya.
"Sopan kok mah! Lagian juga biasanya kaya gini
kan?" Fanisa bertanya balik kepada mamanya.
Fanisa menatap apa yang dia gunakan saat ini. Baju
tidur sepasang, dengan gambar Doraemon kesayangannya. Tidak ada yang salah
bukan? Toh selama sopan dia akan berani saja keluar dari kamarnya. Dasar mama
aneh!
Tanpa menunggu balasan mamanya, Fanisa langsung
turun dari lantai dua. Melihat papanya asik berbincang dengan sosok yang tidak
ia kenal membuat rasa penasarannya muncul.
"Fanisa?! Kenapa kamu pakai baju tidur?"
Pertanyaan Farhan membuat Fanisa bingung. Kenapa papa sama mamanya
mempermasalahkan hal yang sama? Lagi pula nanti dia akan berganti pakaian saat
waktunya tiba.
"Ihh kan aku perginya nanti pah. Mama sama
papa kenapa si nanya hal yang sama? Terus itu siapa? Aku gak ngerasa punya
janji" balas Fanisa dengan raut wajah cemberut.
"Tau tuh pah! Sudah mama kasih tahu buat ganti
baju malah gak mau" ucapan Fara membuat Fanisa mendengus kesal.
"Aduin aja mah aduin." Balas Fanisa
ketus.
"Ganti baju sana kasian Fano datang jauh-jauh
buat jemput kamu." Perintah Farhan di hiraukan oleh Fanisa. Gadis cantik
itu malah berjalan mendekati papanya.
"Fano siapa si pah, aku gak punya tem--
Fano?!" Bentak Fanisa saat melihat sosok yang tidak ia inginkan di
rumahnya.
"Katanya gak kenal, liat mukanya histeris.
Dasar anak muda." Celetuk Fara.
"Sut! Mama jangan berisik! Siapa yang suruh lu
ke sini?!" Tanya Fanisa sengit.
"Fanisa bahasa kamu kok kasar?"
Pertanyaan papanya membuat Fanisa sadar, jika kepala rumah tangga tersebut
sangat tidak suka mendengarkan perkataan kasar dari mulutnya.
"Mianhe papa. Lagian aku gak ken--"
Ucapan Fanisa terpotong saat mendengar ucapan
papanya.
"Gak kenal? Tapi Fano bilang kalian sering
makan bersama." Kata Farhan.
Skakmat! Adalah hal yang pantas di dapatkan Fanisa
saat ini. Karena dia tidak bisa membalas ucapan papanya. Menyebalkan bukan
makhluk es di depannya?
"Tapi aku punya janji sama Fresa papa. Jadi
Fano suruh pulang aja." Balas Fanisa mengusir.
"Kamu kok jahat banget si Fan sama cowok
ganteng?" Pertanyaan mamanya membuat Farhan mendengus.
"Sudah ganti baju sana! Tadi Fresa nelpon pakai
telpon rumah katanya kamu harus on the way. Katanya hp kamu gak bisa di hubungi
kenapa?" Tanya Farhan serius.
"Paling dia chat sama mantannya pah, dia kan
gagal move on." Cibir Fara.
"Mama! Apaan si! Aku tuh habis nonton
konsernya BTS dan data ponsel aku matikan. Lagian kenapa Fresa gak sms atau
telpon?" Balasan Fanisa membuat Farhan mengangkat bahunya. Karena ia
sendiri tidak tahu.
"Kamu nanya mulu kaya wartawan! Udah sana
ganti baju. Malu udah gede pakai Doraemon." Kata Farhan.
"Biarin aja!" Dengus Fanisa sambil
menghentakkan kakinya. Fano yang sedari tadi menyaksikan hanya bisa tersenyum
tipis. Baginya, Fanisa versi di luar lebih menggemaskan.
"Maafin anak om ya." Kata Farhan.
"Ya tidak apa om."
Kini ketiganya asik tengelam dalam obrolan. Sampai tidak
menyadari ada sosok cantik yang sudah rapi dengan jeans dan kaos hitamnya.
Bahkan dehaman gadis cantik tersebut di hiraukan mereka. Sampai akhirnya suara
pintu di banting membuat ketiganya tertawa.
"Saya susul Fanisa dulu. Dan saya janji akan
kembalikan Fanisa dalam keadaan utuh." Kata Fano serius.
"Saya percaya kamu. Jaga anak saya! Jika kamu
membuatnya menangis saya tidak segan menghancurkan kamu!" Ancam Farhan.
"Om bisa pegang janji saya." Balas Fano.
Setelah mendapatkan izin dari kedua orangtua Fanisa,
Fano langsung menyusul Fanisa yang asik menghubungi seseorang sambil
mengeluarkan umpatan kasarnya.
"Udah selesai pencitraannya?! Lu kenapa si ke
rumah gue?! Gue kan gak ada janji sama lu. Kalau lu cuma mau modus jangan ke
gue, ke cewek lain aja. Lagi pula gue bakal pesen Gobang! Udah sana
pergi!" Usir Fanisa.
"Udah?" Tanya Fano sambil memberikan
helmnya.
"Ah?" Balas Fanisa bingung.
"Pidatonya udahkan? Sekarang pakai helm dan
naik ke motor gue" perintah Fano membuat Fanisa menatap malas cowok di
depannya. Ya, walaupun ada perubahan sedikit dari Fano. Tetap saja kejadian
kemarin masih membuat Fanisa gondok.
"Gak mau! Nah abang Gobang udah datang. Dah
Fano!" Baru saja Fanisa ingin berjalan ke arah tukang Gobang, Fano
langsung menahan tangan Fanisa. Cowok tampan tersebut terpaksa turun dari
motornya lagi dan memberikan satu lembar uang berwarna biru kepada driver
Gobang. Lepas itu Fano langsung menggendong Fanisa dan mendudukkan gadis cantik
tersebut di motornya. Gerakan tiba-tiba tersebut membuat jantung Fanisa
berdebar tidak karuan. Bahkan saat mereka meninggalkan perumahannya, jantung
Fanisa masih berdebar. Bersyukur Fano tidak cerewet saat di jalan. Kalau iya?
Fanisa tidak tahu harus merespon apa pertanyaan-pertanyaan Fano.
"Bang kiri bang!" Kata Fanisa saat
melihat keramaian di depannya.
"Emang gue ojek!" Umpat Fano sambil
mematikan motornya.
"Emang!" Balas Fanisa ketus.
Lepas meninggalkan helm di motor Fano, gadis cantik
tersebut langsung berburu hal yang berbau Doraemon. Kali saja dia beruntung
untuk memborong nantinya.
Di belakang Fanisa, Fano tengah kesusahan mencari
keberadaan Fanisa. Sampai...
Brukkkk...
Suara benda terjatuh menarik perhatian mereka
semua. Namun tidak dengan Fanisa. Gadis cantik itu terdiam saat melihat Fano
melindunginya dari tumpukan kardus yang entah datang dari mana. Bahkan cowok
tampan tersebut merelakan punggung demi dirinya.
"Ada yang sakit?" Pertanyaan Fano membuat
Fanisa tersadar.
"Gak. Tapi punggung lu gimana?" Tanya
Fanisa khawatir. Baru saja Fano mau menjawab seseorang menganggu mereka.
"Maaf saya tidak sengaja." Ucap petugas.
"Gak!" Balas Fano ketus. Dia membantu
Fanisa untuk berdiri. Setelah melihat Fanisa baik-baik saja, Fano langsung
memusatkan perhatiannya pada petugas.
"Lain kali kalau kerja liat situasi dan
kondisi! Jika saya bos kamu saya akan pecat kamu malam ini!" Ucapan dingin
Fano membuat anak-anak muda berbisik kagum tentangnya.
"Maaf saya tidak akan mengulanginya
kembali."balas petugas menyesal.
Melihat situasi aneh membuat Fanisa langsung
mengalihkan.
"Gak apa pak. Lagi pula saya juga teledor.
Kalau gitu kita permisi pak." Pamit Fanisa sambil menarik tangan Fano
menjauhi TKP. Sampai Fanisa melihat boneka besar kartun kesayangannya, apa lagi
jika bukan....
"Doraemon!!!!" Teriakan Fanisa membuat
tukang permainan basket kaget.
"Maneh teh mau bikin urang dead muda
heh?!"
"Gak bang! Saya mau Doraemon yang besar ya
bang!" Seru Fanisa dengan wajah berbinar.
"Ingat umur!" Balas Fano ketus.
"Kenapa sama umur hah?! Masalah? Gak kan! Selama
gue suka sama Doraemon lu gak berhak meledek gue! Jika lu gak senang pergi
sana!" Usir Fanisa.
"Maaf neng. Eta teh khusus untuk pemenang.
Jadi kalau neng mau suruh aja si akang kasep ini untuk mengalahkan rekor
sebelumnya." Kata si tukang.
"Saya bisa sendiri bang!" Balas Fanisa
ketus.
"Kelamaan!" Balas Fano greget. Dia
langsung mengambil bola basket di tangan Fanisa lepas itu mulai memasuki ke
dalam ring. Bahkan Fano tidak sadar jika Fanisa tengah menatap Fano horor,
pasalnya cowok cuek di sampingnya sudah melewati batas rekor sebelumnya dan
Fanisa tersenyum senang!
"Wah! Dua cowok tampan mendapatkan boneka demi
kekasihnya. Semoga kalian langgeng ya"
"Amin" balas Fano langsung mengambil
Doraemon pemberian si tukang tersebut.
"Amin? Ki--"
"Jangan pidato oke?" Balas Fano sambil
menggenggam tangan Fanisa ke arah wahana bianglala.
"Siapa juga yang mau pidato!" Balas
Fanisa ketus.
Melihat tingkah laku Fanisa membuat Fano semakin
gemas. Bolehkah ia membawa pulang Fanisa? Ingin sekali ia membawa Fanisa ke
rumahnya malam ini.
"Ya deh gak pidato. Silakan tuan putri."
Kata Fano sambil membuka pintu bianglala.
"Thanks!" Jawab Fanisa ketus.
Keduanya masih terdiam satu sama lain, sampai saat
mereka berada di paling atas, bianglala mati. Hal tersebut membuat Fanisa panik
seketika. Namun tidak dengan Fano, kini cowok tampan tersebut sedang berjongkok
di depan Fanisa.
"Gue gak tahu kapan perasaan ini muncul tapi
gue cuma mau ngucapin sekali. Gue cinta sama lu, dan gue gak akan pernah
lepasin lu kecuali takdir memisahkan kita. Karena, gue yakin lu adalah tulang
rusuk gue yang hilang." Kata Fano serius.
Tatapan keduanya bertemu, jantung keduanya
sama-sama berdebar. Sampai...
"Tulang rusuk lu hilang? Kok gak masuk rumah
sakit?!" Pertanyaan Fanisa membuat Fano mendengus sebal.
"Bodo Fan bodo!" Tepat Fano mengucapkan
hal tersebut bianglala mulai bergerak dan Fanisa tersenyum dalam hati.
Setidaknya dia bisa menghindari Fano saat ini.
Baru saja Fanisa ingin keluar, Fano menahan
tangannya.
"Jadi?" Tanya Fano membuat Fanisa
mendengus.
"Gue HIV!" Balas Fanisa ketus.
"HIV?" Wajah khawatir Fano mulai muncul
bahkan Fanisa yang melihatnya tersenyum tipis.
"Heumm... Hasrat Ingin Vivis!" Balas
Fanisa sambil menyentak tangan Fano.
Melihat kepergian Fanisa Fano tersenyum tipis,
setidaknya apa yang di khawatirkan sudah pupus.
❤️❤️❤️
Pasar malam versi Fresa Aditya.
***
Kediaman Aditya terlihat ramai. Faza dan Fresa asik
menyaksikan siaran televisi yang ada di depan mereka. Bahkan keduanya tidak
menyadari jika ada sepasang suami-istri yang berjalan mendekati mereka.
"Apa kamu sudah meminum obat?"tanya
wanita cantik dengan dress rumahannya, Fresca.
Fresca duduk di samping suaminya. Atau bisa di
"Sudah ma." Balas Fresa dengan senyuman
tipisnya. Pertanyaan yang akhir-akhir ini sering dia dengar dan itu membuatnya
lelah. Lelah dengan semua raut wajah khawatir keluarganya.
"Bagus! Itu baru putri papa. Kapan kalian
pergi?" Tanya pria tampan dengan wajah dingin khasnya, Fredrick.
"Nanti pah. Lagian pasar malam gak bakal kemana-mana."
Balas Fresa.
"Papa tahu gak bakal ke mana-mana. Tapi,
kalian berdua kan belum siap-siap terus apa kamu sudah hubungi Fanisa?"
Pertanyaan Fredrick membuat Fresa langsung memfokuskan pandangannya
kepada sang papa.
"Nanti, paling jam segini Fanisa lagi sibuk
sama BTS." Balas Fresa.
"BTS? Apa itu? Buku tahunan sekolah? Kan
kalian lulus tahun depan." Ucap Fredrick.
"Ed...." Sapaan dari seseorang di
belakang mereka membuat keluarga Aditya langsung menengok ke belakang.
Ternyata...
"Wah! Calon besan! Ada apa gerangan
kemari?" Pertanyaan Fredrick membuat sosok di depannya tersenyum.
Namun tidak dengan Fresa, karena gadis cantik
tersebut tengah memandang tajam sosok berkacamata yang seumuran dengannya.
"Biasa menjenguk calon menantu kami, mana
Fresa?" Tanya sosok seumuran dengan Fredrick, Gara Pahlevi.
"Tuh lagi sama kakaknya, duduk dulu bro,
kasian pada berdiri." Kata Ed.
"Ya elah! Kaya sama siapa aja! Kalem aja si Ed
nanti kita juga langsung duduk seperti biasanya." Balas wanita cantik
dengan dress biru, Gisca.
"Tahu om, gak perlu di suruh nanti Dad sama
Mom langsung duduk. Ya gak calon istri?" Pertanyaan Gibran membuat Fresa
mendengus. Entah kenapa Fresa malas bertemu dengan Gibran apalagi sejak
kejadian di taksi. Demi apapun Fresa malu jika mengingatnya.
"Calon istri gundul mu!" Balas Fresa
ketus.
"Aduhh neng Fresa bikin akang ingin cium neng
deh." Celetuk Gibran.
"Situ mau gue tampol hah?!" Bentak Faza.
Jika saja kemarin dia tidak berhalangan hadir pasti sosok brengsek di depannya
tidak akan mencium Fresa. Ya, kemarin lepas turun dari taksi Gibran mencium
Fresa di pipinya, tepat saat itu juga Faza langsung meninju rahang Gibran. Dan
seperti yang kalian bayangkan, perkelahian lelaki dan Fresa yang jatuh pingsan.
"Tampol nih! Gue mah gak takut sama lu. Ouh
ya, lu gak apa kan Fresa? Liat lu mimisan sempet mikir lu sakit keras. Tapi itu
gak mungkin kan ya? Secara lu kan strong woman." Balas Gibran membuat
suasana seketika hening. Bahkan sosok cantik yang baru masuk bersama asisten
rumah tangga bingung melihat keheningan dua keluarga di depannya. Sampai...
"Kok diam? Lagi ada masalah?" Tanya Felly
tiba-tiba.
"Hemm.. masalah yang di sembunyikan mereka
semua, termasuk lu!" Tunjuk Gibran kepada keluarga Aditya, kedua
orangtuanya dan terakhir sosok dokter cantik, Felly.
Felly sepertinya menyadari ke arah mana pembicaraan
ini. Apalagi kemarin Felly ada di TKP saat Fresa mimisan dan jatuh pingsan.
Jadi, wajar saja jika Gibran curiga saat ini.
"Rahasia apaan?! Rahasia kalian bukannya
tentang per--"
"Ah! Aku mau ganti baju dulu ma.. pa.. kasian
Fanisa nunggu." Ucapan Fresa memotong pembicaraan Felly. Bahkan kini Fresa
sudah berlari ke arah kamarnya.
Di dalam kamar, Fresa langsung berganti pakaian
dengan baju santai. Jeans dan kaos putih. Melihat ponsel. Tidak lupa ia
mengirim pesan melalui social media kepada Fanisa, namun tidak di respon. Hal
tersebut membuat Fresa mendengus. Sudah di pastikan Fanisa sedang asik
menyaksikan video BTS, Menyebalkan!
Baru saja Fresa membuka pintu, Gibran sudah berdiri
di depan kamarnya dengan senyum menawan.
"Sudah siap princess? Gue sudah telpon rumah
Fanisa untuk bilang kita duluan. Jadi, apa anda sudah siap my queen?"
Pertanyaan Gibran membuat Fresa menatap cowok berkacamata di depannya datar.
"Gue udah pesan Gobang!" Balas Fresa
ketus.
"Sayangnya Gobang sudah gue usir. Lupa kalau
gue sudah meminta semua angkutan umum untuk blacklist nama lu?" Pertanyaan
Gibran lagi-lagi membuat Fresa menahan rasa kesalnya.
"Bodo amat! Udah ah minggir!" Usir Fresa.
Melihat Fresa berjalan mendahuluinya, Gibran
langsung menyusul dengan senyum tipisnya.
"Kak Faza mana?" Pertanyaan Fresa membuat
empat orang dewasa langsung menatap ke arahnya.
"Cantiknya menantu mom." Perkataan Gisca
membuat Fresa tersenyum tipis.
"Kakak kamu sudah berangkat sama Felly."
Balas Fresca.
"Yah! Terus aku sama siapa?" Pertanyaan
Fresa membuat keempat orang tersebut menaikkan alisnya.
"Sama Gibran lah, buat apa punya--"
"Okey semua! Aku berangkat." Perkataan
Fresa yang memotong ucapan papanya membuat Gibran mendengus. Apa sebegitu
malunya Fresa mengakui kalau mereka...
"Gibran! Ih bengong! Nanti Fresa naik taksi
loh." Perkataan Gisca membuat Gibran tersadar dan langsung pamit kepada
empat orang dewasa tersebut.
"Gibran akan jaga Fresa. Cepat atau lambat dia
akan tahu dengan sendirinya apa yang kita rahasiakan." Ucapan Gisca
membuat tiga orang lain di sana membenarkan ucapannya.
***
Fresa menunggu Gibran keluar dari rumahnya sambil
menghubungi Fanisa. Sama halnya dengan Fanisa di sebrang sana. Fresa juga
sedang mengumpat kasar untuk Gibran. Tidak tanggung-tanggung, semua umpatan
yang ia pendam di keluarkan semuanya. Sampai..
"Jadi gue ganteng?" Tanya Gibran yang
tidak sengaja mendengar Fresa mengucapkan kata ganteng untuknya.
"Nah? Pede gila! Yang ganteng itu Andrew
Garfield! Bukan lu bodoh!" Balas Fresa ketus. Ia langsung mematikan
panggilannya sepihak. Dan Fresa yakin Fanisa sudah paham apa yang terjadi
dengannya.
"Gue kan kembarannya!" Tutur Gibran
membuat Fresa spontan memukul bahu Gibran yang kini di sampingnya.
"Lu? Kembarannya? Ngimpi! Udah ah jalan!
Fanisa udah duluan sama balok es." Perkataan Fresa membuat Gibran
mendengus. Tidak lupa setelah Gibran naik motor sportnya, dia langsung
memakaikan helm kepada Fresa membuat jarak wajah mereka sangat dekat.
"Gak usah nahan nafas, gue gak akan cium lu
sebelum kita nikah nanti. Udah naik!" Perintah Gibran membuat Fresa
langsung menaiki motor tersebut dengan bantuan Gibran.
"Sudah?" Tanya Gibran
"Heum.."
Mereka pun meninggalkan kediaman Aditya. Hal yang
Gibran rindukan saat di motornya ialah pelukan Fresa. Seperti sekarang ini, dia
memanfaatkan aksi kebutan di jalan demi merasakan pelukan Fresa.
"Sampai my queen!" Ucapan Gibran
menyadarkan Fresa jika mereka sudah sampai di pelataran parkir. Bahkan Fresa
melihat keramaian tersebut dengan horor. Entah kenapa saat ini ia sangat mual.
Apa efek kebut-kebutan Gibran tadi?
"You okay Fresa?" Tanya Gibran sambil
mengelus pipi Fresa.
"Heum."
Gibran turun lebih dulu, setelahnya ia menggendong
tubuh Fresa dan menurunkan ia di dekatnya.
"Yuk liat-liat!" Ajak Fresa.
Gibran menahan tangan Fresa, membuat gadis yang
biasanya ketus itu menatap Gibran bingung.
"Apa?" Tanya Fresa malas.
"Helm" balasan Gibran membuat Fresa
tersenyum kikuk. Baru kali ini dia melakukan hal bodoh dan itu membuatnya malu.
"Gak usah malu. Toh lu juga akan jadi bagian
hidup gue." Kata Gibran sambil merapikan kedua helm di depannya.
Tanpa Gibran ketahui, Fresa menitikkan air matanya.
Namun langsung di hapus oleh Fresa. Gadis cantik tersebut memutuskan untuk
menatap langit sampai dia melihat bintang jatuh. Saat itu juga dia langsung
menutup matanya dan berdoa.
"Sudah?" Tanya Gibran dan di balas
anggukan oleh Fresa.
Keduanya pun langsung memasuki kawasan pasar malam
dengan saling merangkul. Fresa dan Gibran melakukan hal apapun yang di lakukan
sepasang kekasih, di mulai bermain permainan yang ada di sana sampai keduanya
duduk manis sambil memakan permen gula.
"Kok permen aku pahit ya?" Kata Gibran.
"Masa sih?" Tanya Fresa bingung.
"Ya, karena manisnya pindah ke kamu."
Balas Gibran.
"Gak jelas!" Ucap Fresa ketus.
"Kamu tahu bedanya kamu sama kail?" Tanya
Gibran.
"Dia benda aku manusia! Gitu aja
bingung." Balas Fresa ketus.
"Bukan dong! Kalau kail untuk mancing ikan
tapi kamu untuk mancing hatiku." Tutur Gibran dengan senyuman manisnya.
"Yeh gila! Mana mau gue mancing hati lu! Lebih
baik gue mancing ikan. Jelas bisa gue makan!" Balas Fresa ketus.
"Kamu tahu? kamu sama cabe tuh sama. Sama-sama
bikin panas." Celetuk Gibran.
"Bodo amat!" Balas Fresa ketus.
"Aduh galaknya. Jadi makin cinta akang."
Ucap Gibran.
"Lu mau gue tampol hah?!" Bentak Fresa
kesal.
"Kalau tampolnya pakai cinta boleh. Hayati
siap neng." Balas Gibran dengan seringainya.
"Gibran stop! Jijik tau gak si!" Ucap Fresa.
Beruntung permennya sudah habis jadi dia bisa meninggalkan Gibran.
Baru beberapa langkah Gibran sudah di sampingnya,
merangkul pinggang Fresa. Membuat cewek itu mendengus.
"Emang gue anak kecil!" Ucap Fresa ketus.
"Kamu bukan anak kecil, tapi aku gak suka jika
tatapan pria lain ke arah kamu. Karena kamu milik aku. Ingat kita itu--"
Fresa memotong ucapan Gibran langsung.
"I know." Balasan Fresa membuat Gibran
tersenyum senang. Mereka melanjutkan perjalanan mereka sampai mereka tidak
sengaja melihat dua sosok yang mereka kenal.
"Alex dan Cheryl? Bukannya Alex sama
Mahda?" Perkataan Fresa membuat Gibran menatap gadisnya serius.
"Take a picture! Suatu saat akan berguna
nanti." Perkataan Gibran membuat Fresa langsung memotretnya. Puas dengan
hasil yang dia dapat, Fresa dan Gibran melanjutkan perjalanan mereka sampai,
Bian muncul di hadapan Fresa.
"Wahh mantan kekasih sedang jalan sama orang
yang di cintainya. Memuakkan!" Kata Bian ketus.
"Hadeh! Di mana-mana ketemu sama di Brengsek.
Lelah hayati." Balas Gibran.
"Sialan!!!! Kalau seandainya Fresa gak suka
sama lu, kita gak bakal putus!" Bentak Bian dengan penuh amarah.
"Masa? Gue gak peduli." Balas Gibran
langsung membawa Fresa meninggalkan Bian di sana.
"Lihat saja gue bakal ambil Fresa dari lu, Gibran!
Camkan itu." Teriak Bian membuat Gibran menghentikan langkahnya. Fresa
menahan tangan Gibran saat cowok tersebut mau meninggalkan dirinya.
"Gue gak akan menyerahkan Fresa dengan mudah!
Jika nyawa taruhannya gue bakal lakukan! Dan jika lu berani menyentuh dia
seujung kuku, detik itu juga gue akan buat lu kehilangan kehidupan lu. Camkan
itu!" Balasan Gibran membuat Fresa takut. Entah kenapa ada yang aneh
dengan Gibran. Dan semua itu karena dirinya.
"Kita lihat saja nanti." Kata Bian
meninggalkan Gibran dan Fresa di sana.
"Jangan. Jangan pertaruhkan nyawa lu, karena
tanpa lu pertaruhkan gue akan pergi dengan sendirinya." Setelah berucap
demikian Fresa langsung meninggalkan Gibran yang terdiam kaku di tempatnya.
Entah apa. Maksud Fresa, yang pasti hal tersebut membuat Gibran khawatir.
Setelah berdiam diri, Gibran langsung mencari
keberadaan Fresa. Sampai akhirnya dia melihat Fresa tengah duduk di taman
dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya. Bahkan tidak ada suara yang
Gibran dengar dari gadis yang ia cintai. Ia hanya terus memejamkan mata sambil
mengeluarkan semua air matanya.
"Fresa lelah, Fresa ingin cepat menyusul nenek
dan kakek." Perkataan Fresa membuat Gibran tertohok. Entah kerasukan apa,
Gibran langsung berlari dan menarik Fresa ke dalam pelukannya.
"Gue gak tahu apa yang lu sembunyikan. Gue
janji akan menjaga dan selalu di sisi lu sampai takdir memisahkan kita, jangan
pernah merasa sendiri. Gue dan yang lain akan selalu di sisi lu. Don't cry
please, it's hurt me." Kata Gibran sambil mengelus punggung Fresa.
Malam yang terang oleh sinar rembulan, harum tubuh
Gibran dan kehangatan pelukannya. Membuat Fresa tenang saat ini. pasar malam
yang tidak bisa Fresa lupakan. Dan Fresa sudah menutup matanya saat ia
merasakan Gibran mengecup puncak kepalanya.
"Fresa? You okay?!" Melihat mata Fresa
terpejam, membuat Gibran langsung menghubungi Faza untuk datang ke tempatnya.
"Kenapa Fresa?!" Tanya Faza yang datang
bersama Felly. Raut khawatir Faza membuat Gibran yakin ada yang mereka
sembunyikan.
"Gue gak tahu, pokonya dia ketemu si bian
terus nangis di sini dan bilang dia lelah. Dan gue gak mau main kasar sama lu
Za. Tapi, gue mau lu jujur apa yang terjadi dengan Fresa?" Pertanyaan tersebut
membuat kedua cowok tersebut saling pandang.
"Bisakah kita bawa Fresa ke rumah
sakit?!" Bentak Felly membuat Faza langsung menggendong Fresa namun di
tahan.
"Tunjukan jalannya dan gue akan ikuti
lu." Kata Gibran dingin.
"Sudahlah benar kata Gibran. Jangan debat lagi
please! Kamu gak mau kehilangan Fresa bukan?" Tanya Felly.
"Hemm"
Akhirnya mereka berempat meninggalkan lokasi pasar
malam. Malam yang seharusnya menjadi malam kebahagiaan untuk mereka berubah.
Gibran berharap tidak ada hal buruk yang terjadi dengan Fresa. Ya, semoga.
❤️❤️❤️
Pasar malam versi Kiki Rahardja.
***
Di kediaman Raharja, sosok wanita cantik dan pria
tampan tengah asik berbincang dengan pria muda berkacamata.
"Tante panggil Kiki dulu ya." Kata wanita
cantik dengan hijab di kepalanya, Karina.
"Panggil deh sayang, kasian udah nunggu
lama." Balas pria yang tadi duduk di samping Karina, Kenan.
Lepas kepergian istrinya, Kenan langsung memulai
aksi interogasinya.
"Sejak kapan kamu kenal Kiki?" Pertanyaan
Kenan membuat senyum terbit di wajahnya. Kalian tahu bukan siapa yang datang?
Ya, Arkan Hutama yang datang. Sosok itu langsung membalas pertanyaan Kenan
dengan lantang.
"Sejak MOS. Tapi kami tidak sedekat
sekarang." Balas Arkan.
"Tidak sedekat sekarang? maksudnya?"
Pertanyaan Kenan membuat Arkan kembali tersenyum.
"Dulu geng saya dan geng Kiki musuh bebuyutan
dalam akademik pak. Karena setiap kami ada perlombaan, kami selalu di
pertemukan oleh mereka. Bahkan tidak tanggung-tanggung, kami selalu berdebat
hal yang tidak jelas. Sampai akhirnya kami mencintai mereka. Awalnya kami
berniat untuk mendekati Kiki dan sahabatnya, namun gagal saat mereka memiliki
kekasih. Saat itu, yang kami bisa lakukan ialah menjaga Kiki dan sahabatnya
yang lain dari kejauhan. Bahkan jika mereka jalan, saya dan sahabat saya selalu
mengikuti mereka." Jelas Arkan.
"Kenapa?" Tanya Kenan serius.
"Karena kami tidak ingin mereka terluka karena
cowok tersebut. Sebrengsek apapun kami, kami tidak pernah melukai wanita karena
kami menghargai ibu kami"
Baru saja Kenan ingin menjawab, Kiki turun dari
kamarnya bersama ibunda tercinta.
"Loh? Bukannya kita gak ada janji? Gue sudah
pesan Gobang." Kata Kiki bingung.
"Gue kan udah bilang kemarin Ki, lupa?"
Tanya Arkan membuat Karina tersenyum.
"Bisa di cancel Ki, kamu gitu aja repot.
Kasian dong cogannya kalau di anggurin." Kata Karina.
"Ih! Mama udah tua masih genit. Ingat papa
mah!" Kata Kiki. Ya, kiki sekarang ingat jika mereka sudah janji
sebelumnya. Apa karena penampilan Arkan yang berbeda membuat Kiki lupa?
Entahlah.
"Ingat lah. Masa mama lupa." Balas Karina
sambil duduk di samping suaminya.
"Kali mama lupa saking terpesona sama
Arkan." Kata Kiki mengandaikan.
"Gak lah, kalau mama terpesona kamu nangis
lagi." Balasan mamanya membuat Kiki malu, bahkan dia lebih memilih
meninggalkan mereka.
"Kalau begitu saya pamit ya om.. Tante.. takut
kemalaman nanti dan gak enak bawa pulang Kiki malam-malam." Ucap Arkan.
"Jaga anak om ya, dia sangat berharga untuk
om." Kata Kenan.
"Pasti Om! Saya akan menjaganya dengan sepenuh
hati." Balasan Arkan membuat Kenan dan Karina tersenyum. Tidak mau menahan
lebih lama, akhirnya mereka memberikan izin kepada Arkan untuk menyusul Kiki.
***
"Maaf lama." Kata Arkan membuat Kiki
menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa, gue tahu seperti apa kedua
orangtua gue, pasti mereka membuat lu tertahan bukan?" Tanya Kiki.
"Yup. Tapi menurut gue wajar, karena jikapun
kita menikah dan punya anak nanti, gue akan melakukan hal yang sama."
Jelas Arkan membuat Kiki terbahak.
"Sekolah dulu yang bener. Baru SMA ngomongnya
nikah."balas Kiki. Padahal dalam hati Kiki juga melakukan pengandaian
seperti Arkan.
"Pengandaian sesekali boleh lah. Ayo naik,
nanti keburu malam." Kata Arkan.
Mereka pun meninggalkan pelataran rumah Kiki. Udara
malam yang dingin membuat Kiki merasakan sapuan lembut angin di tubuhnya.
Arkan menepikan motornya saat melihat Kiki
kedinginan.
"Pakai!" Perintah Arkan sambil memberikan
jaket yang dia gunakan tadi.
"Nah lu?" Tanya Kiki.
"Gue cowok. Udah pake!" Perintah Arkan
kembali. Tidak mau mengecewakan Arkan, Kiki menggunakan jaket Arkan. Dan mereka
melanjutkan kembali perjalanan.
Setibanya di sana, wajah antusias Kiki terlihat
jelas di spion motor Arkan.
"Ayok Ar! Nanti kembang gulanya keburu
habis." Ajak Kiki saat ia sudah turun dari motornya.
"Ayo." Balas Arkan sambil menggenggam tangan
Kiki.
Keduanya memasuki kawasan yang ramai tersebut.
Arkan tahu tujuan Kiki ke pasar malam adalah kembang gula. Jadi Arkan langsung
membawa ke TKP.
"Bang! Yang banyak ya." Seketika wajah bahagia
Kiki terekam jelas dalam memori Arkan.
"Siap neng." Balas tukang permen gula.
Arkan tidak malu dengan tingkah kekanakan Kiki saat
ini, bahkan bagi Arkan malam ini Kiki seperti memiliki sisi lain. Dan sisi
tersebut membuat Arkan semakin jatuh kepada Kiki.
"Ihh kakaknya cantik ya ma, kaya Barbie."
Mendengar ucapan anak kecil di depannya membuat Kiki tersenyum.
"Kamu juga tampan." Balas Kiki sambil
mencium pipi anak kecil yang Kiki taksir berusia empat tahun tersebut.
"Gue cemburu Ki." Kata Arkan saat melihat
senyum Kiki terus mengembang saat menatap kepergian anak kecil tersebut.
"Masa cemburu sama anak kecil, aneh lu
Ar!" Balas Kiki. Membuat Arkan mendesis kesal. Kiki memang bisa membuat
dia cemburu setiap saat dan Arkan tidak bisa mencegah perasaan tersebut.
Satu permen kapas sudah jadi, Kiki mengambilnya
dengan wajah berbinar. Dan lagi-lagi Arkan tersaingi. Sial!

Mereka menikmati gulali sambil duduk di bangku
dekat dengan tukangnya. Bahkan Kiki tidak sadar jika ada gulali kecil menempel
di sudut bibirnya, membuat sosok berkacamata yang duduk di sampingnya langsung
mendekati tubuh Kiki.
Kiki menatap Arkan bingung, bahkan Kiki sudah takut
dengan apa yang Arkan lakukan saat ini. Bagaimana tidak?! Cowok berkacamata
tersebut terus mendekatkan tubuhnya ke arah Kiki. Bahkan Kiki bisa menghirup
parfum maskulin miliknya.
"Ar..." Ucap Kiki namun di hiraukan oleh
Arkan.
Sampai mata Kiki terpejam, ia tidak merasakan
apapun. Hanya sebuah sapuan tangan di sudut bibirnya. Membuat Kiki langsung
membuka matanya.
"Ada gula di sudut bibir kamu." Kata
Arkan membuat Kiki malu. Kiki pikir Arkan...
"Kiki you okay?" Pertanyaan Arkan membuat
Kiki tersadar.
"Okay! Keliling yuk." Ajak Kiki. Arkan
pun kembali menggandeng Kiki menuju tempat permainan basket. Di sana sepasang
kekasih tengah mencoba namun gagal. Rasa penasaran Kiki membuat Arkan tersenyum
tipis. Tidak menunggu lama dia langsung melepaskan genggaman tangannya dan
mulai bermain basket.
"Wah! Empat cowok tampan mendapatkan boneka
edisi terbatas. Ini hadiah kalian." Kata tukang.
"Empat cowok?" Tanya Kiki.
"Ya yang pertama dia datang dengan cewek
imut, yang kedua cowok sama ceweknya sama-sama cakep, ketiga cowoknya kaca mata
tinggi terus ceweknya mungil tapi jutek, dan terakhir kalian." Balas
tukang.
Mendengar penjelasan tersebut membuat Kiki dan
Arkan paham siapa mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, Arkan meminta Kiki
untuk duduk kembali di bangku kosong dekat permen gulali. Karena Arkan lama,
Kiki kembali memesan gulali sambil berbincang dengan tukangnya.
"Buat lu." Kata Arkan sambil memberikan
minum kepada Kiki.
"Terima kasih pak ketos." Balasan Kiki
membuat Arkan spontan mencubit kedua pipinya.
"Anything for you sweetie" ucap Arkan
sambil mengelus pipi Kiki.
"Aduh si neng, malu-malu. Kalau neng yang tadi
malah ngomel-ngomel di gombalin sama cowoknya. Lucu deh." Kata tukang
gulali.
Baru Kiki ingin menjawab, Arkan menyela.
"Jangan kepo sayang, nanti gue cemburu
lagi." Kata Arkan sambil menatap kedua manik mata Kiki.
"Hem.. Keliling lagi aja yuk, setelah itu kita
kumpul sama yang lain." Kata Kiki mengalihkan, karena Kiki takut obrolan
ini menjalar ke hal yang Kiki tidak inginkan malam ini.
"Ayok!" Dengan boneka, minuman botol dan
genggaman tangan Arkan membuat Kiki merasa istimewa.
Saat Kiki ingin membawa boneka, Arkan menolaknya
dengan berkata "ini gak seberapa untuk gue, jadi lu tenang aja. Malam ini
khusus gue manjain lu." Perempuan mana yang tidak akan melting ketika di
perlakukan seperti ini?
Secara spontan, Kiki langsung memotret Arkan yang
tengah melihat ke arah lain sambil menggendong boneka hiu dan botol minuman.

"Kalau mau foto bilang. Gue bakal lakuin
apapun untuk lu malam ini." Ucap Arkan membuat Kiki tersenyum kikuk.
Setelah Arkan mendekat, Kiki pendapat pesan dari
Fanisa. Pesan tersebut membuat kebahagiaan yang Kiki rasakan lenyap seketika.
"Apapun?" Tanya Kiki serius.
"Apapun mumpung gue lagi baik." Balas
Arkan.
Mendengar balasan dari Arkan, Kiki langsung menarik
Arkan menuju parkiran. Awalnya Arkan bingung, namun saat Kiki menyebutkan kata
rumah sakit. Arkan langsung menggas motornya membelah keramaian kota Bandung.
Entah apa yang terjadi, Arkan yakin Kiki sedang mengalami masalah. Terlihat
dengan jelas wajah khawatir di wajah cantik Kiki dan hal tersebut menganggu pikiran
Arkan.
"Apapun yang mengganggu lu saat ini, gue cuma
mau bilang. Everything gonna be okay, because I'm beside you." Kata Arkan
saat mereka berada di tengah jalan.
❤️❤️❤️