Galmoners

Galmoners
7



Camping 2.1


***


Udara sejuk di tempat camping membuat siapapun


mengerat jaket milik mereka. Seperti halnya Galmoners. Ketiga gadis cantik


tersebut memakai jaket tebal yang mereka bawa sebelumnya.


Berdiri di depan makanan yang sudah siap untuk


anak-anak lain, membuat mereka ingin sekali cepat-cepat masuk ke dalam tenda.


Pasalnya udara yang mereka rasakan sangat dingin.


Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, FEGA


berjalan menuju mereka. Gibran yang galau karena Fresa, berjalan malas.


Pasalnya penyemangat hidupnya tidak hadir saat ini.


"Gibran ada salam dari Fresa." Kata


Fanisa saat FEGA berdiri di hadapan mereka. Gibran tersenyum senang, namun


semua hancur saat mendengar ucapan Mahda.


"Kapan Fresa nitip salam? Perasaan selama kita


di sini kita gak boleh megang hp. Ah! Lu main hp diam-diam ya?" Penuturan


Mahda membuat Fanisa mendengus. Pasalnya, niat Fanisa ingin meledek Gibran


gagal.


'dasar Mahda lemot!' gerutu Fanisa membuat Kiki


yang berdiri di sampingnya tersenyum tipis. Mahda dan lemot sesuatu yang tidak


terpisahkan selama mereka bersahabat. Jadi, sabar aja jika Mahda dalam mode


ini.


"Gak asik lu Fan!" Gibran pergi setelah


mengambil sarapan paginya membuat Fanisa terkekeh. Ia bisa menceritakan ini


pada Fresa nantinya.


"Senang banget kayanya." Celetuk Fano


yang kini berdiri di samping kiri Fanisa.


"Sangat! Pasalnya Gibran sama Fresa itu lucu.


Yang satu gengsi yang satu terlalu frontal. Kan lucu No." Perkataan Fanisa


membuat Fano refleks mengelus kepala Fanisa. Membuat gadis cantik tersebut


terpaku di tempatnya. Sedangkan Mahda? Dia shock melihat apa yang ada di


hadapannya. Ia tidak menyangka orang cuek seperti Fano bisa sweet juga.


Kiki yang berdiri di sebelah kanan Fanisa tadi,


sudah memisahkan diri saat Arkan memanggilnya lewat gerakan tangan. Kini Kiki


sedang melihat hasil potretannya tadi. Ternyata, seorang Fano Malik bisa


melakukan hal tidak terduga. Jika Fresa ada di sini, Kiki yakin Fresa akan


shock. Namun sayang perempuan itu masih di Jerman.


"Thanks Ar! Nanti kirim ke gue ya." Ucap


Kiki senang. Ia mengembalikan ponsel milik Arkan yang tadi ia pinjam untuk


memotret keduanya.


"Nanti gue kirim. Ouh ya, ni buat lu."


Arkan memberikan dua buah coklat untuk Kiki. Awalnya dia bingung, namun melihat


wajah serius Arkan membuat ia tersenyum.


"Thanks loh Ar! By the way, ada acara apa


kasih gue coklat?" Pertanyaan Kiki yang kepo itu membuat Arkan refleks


mencubit pipinya. Ternyata Kiki bisa imut juga.


"Sebagai rasa cinta gue ke lu." Ucapan


Arkan frontal membuat Kiki terdiam kaku. Jantungnya berdegup kencang. Apa kini


saatnya ia membuka lembaran baru?


"Gak usah di jawab sekarang. Gue selalu siap


kapan lu mau jawab. Karena setelah lu terima gue, gue gak akan lepasin lu


dengan mudah." Arkan meninggalkan Kiki yang terdiam di tempatnya dengan


senyuman tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Setidaknya,


hari ini dia sudah berani mengungkapkan perasaannya yang sudah lama ia pendam.


Soal di tolak atau di terima itu urusan belakangan. Karena hari ini, Arkan


sudah lega.


Tanpa mereka sadari, dua sosok yang selalu memantau


mereka, menatap penuh kebencian. Ia akan memulai rencana mereka hari ini! Ya,


siapapun yang terluka hari ini akan membuat keduanya bahagia.


***


Hari semakin siang, semua yang sudah sarapan dan


bersih-bersih langsung berkumpul di lapangan. Hari ini, mereka akan bermain


dengan alam. Mulai dari yang kotor sampai basah-basahan.


Panitia sudah berdiri di hadapan mereka semua. Kali


ini Evan lah yang jadi pembawa acara.


"Pagi menjelang siang adik-adik!" Teriak


Evan.


"Pagi menjelang siang juga kak." Balas


anak-anak baru


"Baiklah kali ini kita akan bermain dengan


alam, untuk kelas 11 dan 12 jaga ya adiknya. Awas jatuh cinta! Ingat menjaga!


Jangan di pacari. Kalau mau pacaran nanti ae, kalau gue udah dapat pacar


oke?!" Ucap Evan


"Oke!" Balas kelas 10, sedangkan kelas 11


dan 12 hanya bisa mendengus melihat tingkah laku Evan yang menurut mereka sudah


tidak asing.


Panitia langsung masuk ke dalam tim yang sudah mereka


dapat sebelumnya. Karena Galmoners berpisah membuat mereka sedih. Namun, bagi


dua sosok yang memiliki dendam pada mereka menjadi kesempatan emas.


Kini, setiap kelompok sudah bergerak mengikuti


peta. Mahda yang sekelompok dengan Cheryl dan Alex, menggeram. Ia benci berada


di situasi ini! Seandainya Evan satu kelompok dengannya pasti ada orang yang


Jika Mahda kesal, maka Kiki sedang ketar-ketir.


Pasalnya ia satu kelompok dengan Arkan. Kalian tahu bukan gimana perasaan kalian


jika seseorang mengatakan perasaannya pada kalian, tapi kalian gantung. Pasti


aneh bukan? Sama seperti dirinya. Dia juga aneh dengan situasi ini. Jika ada


sahabatnya di sini mungkin bisa membantunya.


Sama halnya dengan Kiki, perasaan aneh mulai merasuki


perasaan Fanisa saat ia berada satu lingkup dengan Fano. Yang Fanisa heran,


kenapa ia bisa sekolompok dengan Fano? Padahal Mahda saja berpisah dari Evan.


Pasti ada yang di sembunyikan di sini!


"Awas nabrak!" Ucap Fano sambil menahan


kepala Fanisa yang hampir menabrak pohon.


"Eh? Thanks." Balasan kikuk Fanisa


membuat Fano menggeleng. Jika ia bisa, ingin sekali Fano mencium pipi tersebut.


Sayangnya Fano tidak sebrengsek itu. Dia bukan Gibran yang apa-apa terlalu


frontal. Dia hanyalah Fano yang bisa diam mengagumi orang yang di cintainya.


Tanpa Fanisa dan Fano sadari sosok di belakang


mereka tengah menatap bengis, bahkan sosok itu sudah memiliki niat jahat kepada


Fanisa.


"Jangan mesraan mulu woi! Ingat tugas!"


celetuk sosok itu, membuat Fanisa dan Fano melanjutkan jalannya.


Jika ketiga gadis cantik itu tengah asik mengikuti


permainan yang ada. Maka gadis cantik yang baru tiba, langsung memasuki kawasan


camping bersama dua orang yang berjalan di belakangnya.


"Fresa Aditya! Kenapa kamu ada di sini?"


Tanya salah satu guru yang berjaga.


"Saya mau ikut camping." Balas Fresa


membuat guru tersebut menatap Fresa dan dua orang di sampingnya serius.


"Saya tahu, pasti kedua orangtua saya sudah


memberi tahu semuanya. Tapi, seperti yang ibu lihat sekarang. Adik saya sangat


keras kepala. Biarkan dia mengikuti acara hari ini dan izinkan kami berdua


untuk ikut." Penjelasan Faza membuat guru berumur itu mengangguk paham.


Bahkan guru tersebut sudah mengizinkan mereka untuk ikut andil. Karena Fresa


baru tiba, Faza memutuskan untuk menemani Fresa di tendanya. Namun baru


beberapa langkah tiba di tenda Galmoners mereka melihat sosok memasuki tenda


Galmoners, mereka bersembunyi di balik pohon sampai..


"Gue sudah tinggalkan surat atas nama Fresa.


Dan lu tenang aja, rencana kita akan berjalan lancar. Gue yakin setelah ini,


Fresa akan di jauhi oleh sahabat-sahabatnya."


"Gak sabar liat Fresa hancur."


"Gue juga, karena pembalasan gue belum


seberapa dari ini."


"Gue tahu lu kejam."


Kedua orang tersebut meninggalkan tenda Galmoners.


Felly yang mengerti dengan situasi ini, dia langsung berjalan memasuki tenda


dan mengambil surat tersebut. Setelah itu, ia kembali ke tempat tadi.


Di saat mereka membaca surat tersebut, sosok lain


ikut membaca surat tersebut dengan bingung.


"Kakak gak bisa buat kamu dalam bahaya! Kita


harus melakukan sesuatu dek." Kata Faza.


"Aku tahu kak, dua orang itu benci sama aku.


Tapi, kita gak bisa gegabah. Bahkan kita gak punya bukti," balas Fresa.


"Kakak punya! Liat rekaman ini." Kata


Felly.


Disaat ketiganya melihat rekaman tersebut, sosok


yang berdiri di belakang mereka sudah menahan amarahnya. Ternyata tidak salah


menjadikan mereka musuh.


"Jangan beri tahu siapapun, pasti akan ada


yang kecewa nantinya. Biarkan semua mengalir seperti air." Kata Fresa. Sosok


yang berdiri di belakang merekah sudah pergi entah kemana. Sedangkan Fresa dan


yang lain memilih masuk ke dalam tenda.


***


Di saat semua sibuk mencari petunjuk yang hilang,


Fanisa malah asik menikmati pemandangan hijau di depannya. Tanpa Fanisa sadari,


sosok yang berdiri di belakangnya mendorong tubuh Fanisa dan membuat gadis


cantik itu terjatuh.


"Well... Satu kuman menghilang! Good bye


kuman." Ucap wanita yang sedari tadi menargetkan Fanisa. Fanisa yang


melihat sosok itu dengan jelas, hanya bisa menggeram.


Fanisa menggenggam dahan pohon dengan erat, namun


jika ia kelamaan berada di sana pasti dahan itu akan patah. Mau tidak mau


Fanisa berteriak minta tolong.


"Tolonggggg!!!!!"


Fanisa terus mengulangi kata yang sama, namun tidak


ada tanda-tanda orang akan menyelamatkan dirinya. Sampai dahan pohon yang ia


pegang patah dan...


"Fanoo!!!!!"


Lepas berteriak, Fanisa merasakan sakit di sekujur


tubuhnya. Bahkan pening yang di rasakan Fanisa membawanya, pada lubang hitam.


Fanisa berharap seseorang menemukannya.


❤️❤️❤️