
Camping 2.1
***
Udara sejuk di tempat camping membuat siapapun
mengerat jaket milik mereka. Seperti halnya Galmoners. Ketiga gadis cantik
tersebut memakai jaket tebal yang mereka bawa sebelumnya.
Berdiri di depan makanan yang sudah siap untuk
anak-anak lain, membuat mereka ingin sekali cepat-cepat masuk ke dalam tenda.
Pasalnya udara yang mereka rasakan sangat dingin.
Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, FEGA
berjalan menuju mereka. Gibran yang galau karena Fresa, berjalan malas.
Pasalnya penyemangat hidupnya tidak hadir saat ini.
"Gibran ada salam dari Fresa." Kata
Fanisa saat FEGA berdiri di hadapan mereka. Gibran tersenyum senang, namun
semua hancur saat mendengar ucapan Mahda.
"Kapan Fresa nitip salam? Perasaan selama kita
di sini kita gak boleh megang hp. Ah! Lu main hp diam-diam ya?" Penuturan
Mahda membuat Fanisa mendengus. Pasalnya, niat Fanisa ingin meledek Gibran
gagal.
'dasar Mahda lemot!' gerutu Fanisa membuat Kiki
yang berdiri di sampingnya tersenyum tipis. Mahda dan lemot sesuatu yang tidak
terpisahkan selama mereka bersahabat. Jadi, sabar aja jika Mahda dalam mode
ini.
"Gak asik lu Fan!" Gibran pergi setelah
mengambil sarapan paginya membuat Fanisa terkekeh. Ia bisa menceritakan ini
pada Fresa nantinya.
"Senang banget kayanya." Celetuk Fano
yang kini berdiri di samping kiri Fanisa.
"Sangat! Pasalnya Gibran sama Fresa itu lucu.
Yang satu gengsi yang satu terlalu frontal. Kan lucu No." Perkataan Fanisa
membuat Fano refleks mengelus kepala Fanisa. Membuat gadis cantik tersebut
terpaku di tempatnya. Sedangkan Mahda? Dia shock melihat apa yang ada di
hadapannya. Ia tidak menyangka orang cuek seperti Fano bisa sweet juga.
Kiki yang berdiri di sebelah kanan Fanisa tadi,
sudah memisahkan diri saat Arkan memanggilnya lewat gerakan tangan. Kini Kiki
sedang melihat hasil potretannya tadi. Ternyata, seorang Fano Malik bisa
melakukan hal tidak terduga. Jika Fresa ada di sini, Kiki yakin Fresa akan
shock. Namun sayang perempuan itu masih di Jerman.
"Thanks Ar! Nanti kirim ke gue ya." Ucap
Kiki senang. Ia mengembalikan ponsel milik Arkan yang tadi ia pinjam untuk
memotret keduanya.
"Nanti gue kirim. Ouh ya, ni buat lu."
Arkan memberikan dua buah coklat untuk Kiki. Awalnya dia bingung, namun melihat
wajah serius Arkan membuat ia tersenyum.
"Thanks loh Ar! By the way, ada acara apa
kasih gue coklat?" Pertanyaan Kiki yang kepo itu membuat Arkan refleks
mencubit pipinya. Ternyata Kiki bisa imut juga.
"Sebagai rasa cinta gue ke lu." Ucapan
Arkan frontal membuat Kiki terdiam kaku. Jantungnya berdegup kencang. Apa kini
saatnya ia membuka lembaran baru?
"Gak usah di jawab sekarang. Gue selalu siap
kapan lu mau jawab. Karena setelah lu terima gue, gue gak akan lepasin lu
dengan mudah." Arkan meninggalkan Kiki yang terdiam di tempatnya dengan
senyuman tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Setidaknya,
hari ini dia sudah berani mengungkapkan perasaannya yang sudah lama ia pendam.
Soal di tolak atau di terima itu urusan belakangan. Karena hari ini, Arkan
sudah lega.
Tanpa mereka sadari, dua sosok yang selalu memantau
mereka, menatap penuh kebencian. Ia akan memulai rencana mereka hari ini! Ya,
siapapun yang terluka hari ini akan membuat keduanya bahagia.
***
Hari semakin siang, semua yang sudah sarapan dan
bersih-bersih langsung berkumpul di lapangan. Hari ini, mereka akan bermain
dengan alam. Mulai dari yang kotor sampai basah-basahan.
Panitia sudah berdiri di hadapan mereka semua. Kali
ini Evan lah yang jadi pembawa acara.
"Pagi menjelang siang adik-adik!" Teriak
Evan.
"Pagi menjelang siang juga kak." Balas
anak-anak baru
"Baiklah kali ini kita akan bermain dengan
alam, untuk kelas 11 dan 12 jaga ya adiknya. Awas jatuh cinta! Ingat menjaga!
Jangan di pacari. Kalau mau pacaran nanti ae, kalau gue udah dapat pacar
oke?!" Ucap Evan
"Oke!" Balas kelas 10, sedangkan kelas 11
dan 12 hanya bisa mendengus melihat tingkah laku Evan yang menurut mereka sudah
tidak asing.
Panitia langsung masuk ke dalam tim yang sudah mereka
dapat sebelumnya. Karena Galmoners berpisah membuat mereka sedih. Namun, bagi
dua sosok yang memiliki dendam pada mereka menjadi kesempatan emas.
Kini, setiap kelompok sudah bergerak mengikuti
peta. Mahda yang sekelompok dengan Cheryl dan Alex, menggeram. Ia benci berada
di situasi ini! Seandainya Evan satu kelompok dengannya pasti ada orang yang
Jika Mahda kesal, maka Kiki sedang ketar-ketir.
Pasalnya ia satu kelompok dengan Arkan. Kalian tahu bukan gimana perasaan kalian
jika seseorang mengatakan perasaannya pada kalian, tapi kalian gantung. Pasti
aneh bukan? Sama seperti dirinya. Dia juga aneh dengan situasi ini. Jika ada
sahabatnya di sini mungkin bisa membantunya.
Sama halnya dengan Kiki, perasaan aneh mulai merasuki
perasaan Fanisa saat ia berada satu lingkup dengan Fano. Yang Fanisa heran,
kenapa ia bisa sekolompok dengan Fano? Padahal Mahda saja berpisah dari Evan.
Pasti ada yang di sembunyikan di sini!
"Awas nabrak!" Ucap Fano sambil menahan
kepala Fanisa yang hampir menabrak pohon.
"Eh? Thanks." Balasan kikuk Fanisa
membuat Fano menggeleng. Jika ia bisa, ingin sekali Fano mencium pipi tersebut.
Sayangnya Fano tidak sebrengsek itu. Dia bukan Gibran yang apa-apa terlalu
frontal. Dia hanyalah Fano yang bisa diam mengagumi orang yang di cintainya.
Tanpa Fanisa dan Fano sadari sosok di belakang
mereka tengah menatap bengis, bahkan sosok itu sudah memiliki niat jahat kepada
Fanisa.
"Jangan mesraan mulu woi! Ingat tugas!"
celetuk sosok itu, membuat Fanisa dan Fano melanjutkan jalannya.
Jika ketiga gadis cantik itu tengah asik mengikuti
permainan yang ada. Maka gadis cantik yang baru tiba, langsung memasuki kawasan
camping bersama dua orang yang berjalan di belakangnya.
"Fresa Aditya! Kenapa kamu ada di sini?"
Tanya salah satu guru yang berjaga.
"Saya mau ikut camping." Balas Fresa
membuat guru tersebut menatap Fresa dan dua orang di sampingnya serius.
"Saya tahu, pasti kedua orangtua saya sudah
memberi tahu semuanya. Tapi, seperti yang ibu lihat sekarang. Adik saya sangat
keras kepala. Biarkan dia mengikuti acara hari ini dan izinkan kami berdua
untuk ikut." Penjelasan Faza membuat guru berumur itu mengangguk paham.
Bahkan guru tersebut sudah mengizinkan mereka untuk ikut andil. Karena Fresa
baru tiba, Faza memutuskan untuk menemani Fresa di tendanya. Namun baru
beberapa langkah tiba di tenda Galmoners mereka melihat sosok memasuki tenda
Galmoners, mereka bersembunyi di balik pohon sampai..
"Gue sudah tinggalkan surat atas nama Fresa.
Dan lu tenang aja, rencana kita akan berjalan lancar. Gue yakin setelah ini,
Fresa akan di jauhi oleh sahabat-sahabatnya."
"Gak sabar liat Fresa hancur."
"Gue juga, karena pembalasan gue belum
seberapa dari ini."
"Gue tahu lu kejam."
Kedua orang tersebut meninggalkan tenda Galmoners.
Felly yang mengerti dengan situasi ini, dia langsung berjalan memasuki tenda
dan mengambil surat tersebut. Setelah itu, ia kembali ke tempat tadi.
Di saat mereka membaca surat tersebut, sosok lain
ikut membaca surat tersebut dengan bingung.
"Kakak gak bisa buat kamu dalam bahaya! Kita
harus melakukan sesuatu dek." Kata Faza.
"Aku tahu kak, dua orang itu benci sama aku.
Tapi, kita gak bisa gegabah. Bahkan kita gak punya bukti," balas Fresa.
"Kakak punya! Liat rekaman ini." Kata
Felly.
Disaat ketiganya melihat rekaman tersebut, sosok
yang berdiri di belakang mereka sudah menahan amarahnya. Ternyata tidak salah
menjadikan mereka musuh.
"Jangan beri tahu siapapun, pasti akan ada
yang kecewa nantinya. Biarkan semua mengalir seperti air." Kata Fresa. Sosok
yang berdiri di belakang merekah sudah pergi entah kemana. Sedangkan Fresa dan
yang lain memilih masuk ke dalam tenda.
***
Di saat semua sibuk mencari petunjuk yang hilang,
Fanisa malah asik menikmati pemandangan hijau di depannya. Tanpa Fanisa sadari,
sosok yang berdiri di belakangnya mendorong tubuh Fanisa dan membuat gadis
cantik itu terjatuh.
"Well... Satu kuman menghilang! Good bye
kuman." Ucap wanita yang sedari tadi menargetkan Fanisa. Fanisa yang
melihat sosok itu dengan jelas, hanya bisa menggeram.
Fanisa menggenggam dahan pohon dengan erat, namun
jika ia kelamaan berada di sana pasti dahan itu akan patah. Mau tidak mau
Fanisa berteriak minta tolong.
"Tolonggggg!!!!!"
Fanisa terus mengulangi kata yang sama, namun tidak
ada tanda-tanda orang akan menyelamatkan dirinya. Sampai dahan pohon yang ia
pegang patah dan...
"Fanoo!!!!!"
Lepas berteriak, Fanisa merasakan sakit di sekujur
tubuhnya. Bahkan pening yang di rasakan Fanisa membawanya, pada lubang hitam.
Fanisa berharap seseorang menemukannya.
❤️❤️❤️