
Camping 2.2
***
Kelompok Fano sedang mendapat masalah. Pasalnya,
penunjuk jalan yang biasa ada di pohon hilang. Hal tersebut membuat Fano dan
yang lain sibuk. Sampai teriakan seseorang menyadarkan mereka. Sosok kakak
kelasnya menemukan penunjuk jalan yang terletak di bawah pohon besar. Tanpa
menunggu lama mereka meninggalkan tempat tersebut, kecuali Fano.
"Kalian duluan! Gue mau cari Fanisa."
Ucapan Fano membuat yang lain menghentikan langkah kaki mereka.
"Fanisa hilang?!" Tanya kakak kelasnya.
"Kayanya kak, soalnya dari tadi dia gak
muncul."
"Mungkin ini ulah Fanisa. Bisa aja kan cewek
itu menyembunyikan penunjuk jalan dan dia kembali sendiri saat tidak kuatnya di
alam? Kan anak orang kaya beda sama kita." Kata perempuan cantik, yang
Fano tebak dia kakak kelasnya.
"Sepertinya dugaan anda salah. Fanisa tidak
seperti itu, dan jika anda ingin menjadi kompor jangan di depan saya!"
Fano menatap kakak kelasnya tajam.
"Gue bukan jadi kompor, ya kali aja dia kaya
gitu. Siapa yang tahu." Balas cewek itu asal.
"Terkadang orang yang menyalahkan orang lain,
ialah pelaku utama. Atau jangan-jangan kakak pelakunya?" Pertanyaan Fano
membuat kakak kelasnya menegang. Detik itu juga Fano meninggalkan kelompoknya
dan pergi mencari Fanisa. Ia bersumpah akan membalas perempuan tersebut!
"Fano!!!!!"
Teriakan Fanisa membuat Fano menghentikan
langkahnya. Ia mencari keberadaan di tempat ia berdiri. Sampai, Fano melihat
Fanisa di bawah tempat ia berdiri. Melihat kondisi Fanisa seperti ini, membuat
Fano emosi, namun baru saja ia ingin menolong Fanisa secara frontal, sahabatnya
menahan.
"Gue tahu lu mencintai dia, Tapi jika lu gak
memperhitungkan semuanya lu akan sama aja kaya dia. Tunggu bala bantuan, gue
tadi sudah minta kelompok lu untuk cari bantuan"
"Thanks Gibran!" Saat Fano menengok ke
arah Gibran, tanpa sengaja dia melihat sosok wanita yang tengah tersenyum
bahagia ke arahnya.
"Lu tahu siapa pelakunya sekarang?"
Pertanyaan Gibran membuat Fano mengernyit, bingung.
"Dia pelaku yang sama dengan orang yang mau mengadu
domba Fresa. Untung saja Fresa dan yang lain sigap. Gue yakin jika mereka tidak
sigap, Galmoners akan mengalami hal buruk." Jelas Gibran.
"Fresa di sini?" Tanya Fano.
"Ya dia baru sampe tadi, gue kan gak ngumpul
hp, jadi gue bisa lacak si Fresa. Baru mau buat kejutan malah gue yang dapat
kejutan. Sialan emang!" Dengus Gibran.
Fano paham, musuh mereka adalah orang yang mereka
kenal. Sangat di sayangkan.
***
"Bu!!!! Fanisa jatuh ke jurang dan dia
tersangkut di dahan pohon. Jika kita tidak cep--"
"Dimana Fanisa?!" Bentak Fresa. Ya, tadi
Fresa sedang ingin berkeliling. Tapi melihat orang panik membuat Fresa
penasaran.
"Kamu tunggu di sini, ibu akan memanggil
petugas."
Di saat gurunya pergi, Fresa meminta cewek yang
tadi mengabarkan mengantar dirinya. Faza dan Felly yang baru tiba mengambil
sesuatu di mobil tidak tahu jika Fresa sedang dalam masalah.
Fresa mengikuti arah yang di tunjukkan oleh teman
beda jurusannya. Namun, melihat sosok yang berdiri di depannya membuat Fresa
mengerti satu hal. Dia di jebak!
"Well... Well... Well... Teman si kuman tiba,
thanks sudah bantu gue."
"Mau lu sebenarnya apa si?! Kehancuran
Galmoners?! Gue gak bakal biarkan itu terjadi!" Balas Fresa.
"Sayangnya hal itu akan terjadi Fresa. Kalian
akan hancur sesuai dengan skenario gue."
"Ouh ya? Masa sih? Kok gue ngerasa bau-bau
kekalahan ya?" Balas Fresa sinis.
Melihat wajah Fresa yang tenang membuat sosok
cantik tersebut geram. Ia langsung menerjang tubuh Fresa, namun gagal karena
Fresa lebih dulu menghindar.
"Ngapain lu di sana? Ngepel tanah?" Itu
bukan suara Fresa, melainkan sosok tampan yang sangat ia kenali. Sosok yang
membuat masalah dengannya sebelum ia pergi, Gibran Pahlevi.
"Sial! Awas lu berdua gue bakal balas
kalian." Ucap cewek tersebut dan pergi meninggalkan Fresa dan Gibran.
"Bagus lu ada di sini! Tunjukan jalan ke
tempat Fanisa." Perintah Fresa membuat Gibran langsung menggenggam tangan
Fresa dan membawanya ke tempat tadi ia berbincang dengan Fano.
Tepat saat mereka tiba, Fano sudah membawa Fanisa
naik ke atas dengan bantuan petugas. Melihat darah di kening Fanisa membuat
Fresa menggeram. Sudah Fresa duga jika ini perbuatan orang yang sama. Hanya dia
yang bisa melakukan hal gila seperti ini.
"Gue dan Fano sudah tahu siapa pelakunya.
Karena dia sangat pintar memainkan emosi, gue harap lu gak gegabah."
Ucapan Gibran membuat Fresa menatap sahabat kecilnya tersebut. Dan Fresa
membenarkan semuanya.
***
Fresa. Mereka tidak menyangka jika Fresa bisa senekat ini memasuki hutan yang
tidak ia tahu seluk-beluknya. Bahkan raut wajah Faza dan Felly yang sangat
khawatir membuat keduanya saling pandang. Seperti ada sesuatu yang mereka
sembunyikan.
Mahda dan Kiki langsung berlari saat melihat Fanisa
di gendong oleh Fano. Luka di kening Fanisa membuat mereka sadar jika Fanisa
mengalami hal buruk. Felly yang melihat kedatangan mereka, langsung meminta
Fano membawa Fanisa ke tenda Galmoners. Sedangkan Fresa? Dia sedang mendapat
ceramah dari sang kakak.
"Apa pelaku Fanisa sama dengan pelaku yang
melukai Fresa?" Tanya Kiki.
"Ya." Balas Fresa. Karena memang
pelakunya sama. Tapi Fresa yakin ada pelaku lain yang bekerja di belakang
mereka. Pasalnya di saat Fresa tatap muka dengan cabe tadi, ada seseorang yang
mengawasi dia. Berarti bukan hanya cabe dan anteknya tapi ada yang lain lagi.
Sialan!
"Kenapa Ca? Ada yang lu sembunyikan?"
Pertanyaan Mahda membuat Fresa tersadar dari lamunannya.
"Gak. Cuma kepikiran Fanisa." Balas
Fresa. Namun tidak bagi Gibran dan Fano, kedua orang tersebut sudah paham apa
yang di sembunyikan Fresa. Ingatkan mereka untuk berbicara enam mata nanti. Ya,
kalau Fano ajak berbincang empat mata yang ada Gibran ngamuk.
"Apa lu gak mau kasih tahu kita siapa
pelakunya?" Tanya Kiki.
"Tunggu Fanisa ya, gue takut beda orang."
Balas Fresa. Bukan Fresa tidak mau jujur dengan sahabatnya. Tapi, Fresa yakin
ada orang lain yang melukai Fanisa. Dan pastinya bukan dua orang yang ia temui
di tenda dan si cabe. Tapi mungkin aja si cabe pelakunya. Kan yang otaknya kriminal
cuma dia.
"Fresa bisa masuk ke tenda, ada yang Fanisa
ingin jelaskan." Kata Felly.
Baru saja Mahda ingin protes, Alex datang ke tempat
mereka dan meminta Mahda untuk berbincang empat mata. Karena perasaan senang,
Mahda langsung mengiyakan saja. Bahkan tanpa Mahda sadari semua akan berubah
setelah ini.
"Kak Felly, boleh saya ikut ke dalam?"
Tanya Kiki membuat Arkan dan Evan yang baru datang bingung.
"Boleh deh, kalian berempat jaga tenda ini,
jika ada yang mencurigakan tahan di pikiran kalian dan laporkan
nanti!" Perintah Felly.
"Siapp kakak ipar!" Balas Gibran. Membuat
yang lain tersenyum atas tingkah laku Gibran.
Sebenarnya, jika Kiki boleh jujur ia bingung dengan
situasi ini. Situasi ini mengingatkan ia akan kejadian dimana Mahda membentak Fresa
dan berakhir dengan hubungan mereka merenggang. Kiki sangat berharap kejadian
itu tidak terulang kembali. Ya, dia berharap itu.
***
Mahda dan Alex memilih duduk di bawah pohon. Entah
kenapa Mahda tiba-tiba merasa senang. Karena, saat Cheryl izin ke toilet. Alex
selalu mengajaknya berbincang. Bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih
saat itu. Makanya saat Alex mengajaknya ke suatu tempat, hati Mahda kembali
berdebar kencang. Ia tidak menyangka jika harus berdekatan kembali dengan
mantannya.
"Jadi apa yang mau lu omongin?" Tanya
Mahda.
"Gue mau minta maaf. Maaf gue mutusin lu
tiba-tiba, karena Fresa mengancam gue Da. Dia bilang, jika gue gak mutusin lu
dia akan membunuh Cheryl. Mungkin kalian mikir gue sama Cheryl pacaran?
Nyatanya gak. Gue sama dia saudara jauh. Dan saat lu liat gue mesra sama
Cheryl, itu tandanya dia di ancam. Dan orang yang ngancem dia--"
"Fresa?" Potong Mahda membuat Alex
terdiam.
"Ternyata dugaan gue benar, karena Fresa ingin
menghancurkan hubungan kita? Apa dia iri karena dia gak bisa mendapatkan
Gibran? Gue gak habis pikir sekarang!" Ucap Mahda Dengan wajah tidak
percaya.
"Jadi, lu mau balikan sama gue kan?"
Pertanyaan Alex tiba-tiba membuat Mahda mengangguk.
Mahda sangat amat bahagia. Ternyata Alex mencintai
dirinya. Buktinya dia dengan Cheryl hanya saudara jauh. Ternyata selama ini,
Fresa membohongi dirinya. Sial!
Sosok yang bersembunyi tidak jauh dari mereka
tersenyum bahagia. Akhirnya permainan mereka di mulai. Mereka tidak sabar
dengan kehancuran Fresa dan Galmoners. Ah sangat amat tidak sabar!
"Jangan kasih tahu Fresa. Kamu cukup pura-pura
tahu aja. Karena kalau kamu memberi tahu Fresa dia ak--"
"Dia akan ancam Cheryl? Tenang saja aku tidak
akan berbicara apapun. Aku cuma bilang kita balikan dan kamu putus sama
Cheryl." Balasan Mahda membuat Alex tersenyum.
Mereka memutuskan untuk kembali. Genggaman tangan
Alex di tangan Mahda membuat gadis cantik itu bahagia.
"Terima kasih Alex" kata Mahda tulus.
"Anything for you baby." Balas Alex
sambil mengecup tangan Mahda.
FEGA dan Galmoners hanya diam saja melihat semua
kejadian di depan mata mereka. Karena, jika mereka menjelaskan semuanya, Mahda
akan kembali seperti dulu. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Karena mereka
yakin Mahda akan sadar dengan sendirinya.
❤️❤️❤️