Galmoners

Galmoners
8



Camping 2.2


***


Kelompok Fano sedang mendapat masalah. Pasalnya,


penunjuk jalan yang biasa ada di pohon hilang. Hal tersebut membuat Fano dan


yang lain sibuk. Sampai teriakan seseorang menyadarkan mereka. Sosok kakak


kelasnya menemukan penunjuk jalan yang terletak di bawah pohon besar. Tanpa


menunggu lama mereka meninggalkan tempat tersebut, kecuali Fano.


"Kalian duluan! Gue mau cari Fanisa."


Ucapan Fano membuat yang lain menghentikan langkah kaki mereka.


"Fanisa hilang?!" Tanya kakak kelasnya.


"Kayanya kak, soalnya dari tadi dia gak


muncul."


"Mungkin ini ulah Fanisa. Bisa aja kan cewek


itu menyembunyikan penunjuk jalan dan dia kembali sendiri saat tidak kuatnya di


alam? Kan anak orang kaya beda sama kita." Kata perempuan cantik, yang


Fano tebak dia kakak kelasnya.


"Sepertinya dugaan anda salah. Fanisa tidak


seperti itu, dan jika anda ingin menjadi kompor jangan di depan saya!"


Fano menatap kakak kelasnya tajam.


"Gue bukan jadi kompor, ya kali aja dia kaya


gitu. Siapa yang tahu." Balas cewek itu asal.


"Terkadang orang yang menyalahkan orang lain,


ialah pelaku utama. Atau jangan-jangan kakak pelakunya?" Pertanyaan Fano


membuat kakak kelasnya menegang. Detik itu juga Fano meninggalkan kelompoknya


dan pergi mencari Fanisa. Ia bersumpah akan membalas perempuan tersebut!


"Fano!!!!!"


Teriakan Fanisa membuat Fano menghentikan


langkahnya. Ia mencari keberadaan di tempat ia berdiri. Sampai, Fano melihat


Fanisa di bawah tempat ia berdiri. Melihat kondisi Fanisa seperti ini, membuat


Fano emosi, namun baru saja ia ingin menolong Fanisa secara frontal, sahabatnya


menahan.


"Gue tahu lu mencintai dia, Tapi jika lu gak


memperhitungkan semuanya lu akan sama aja kaya dia. Tunggu bala bantuan, gue


tadi sudah minta kelompok lu untuk cari bantuan"


"Thanks Gibran!" Saat Fano menengok ke


arah Gibran, tanpa sengaja dia melihat sosok wanita yang tengah tersenyum


bahagia ke arahnya.


"Lu tahu siapa pelakunya sekarang?"


Pertanyaan Gibran membuat Fano mengernyit, bingung.


"Dia pelaku yang sama dengan orang yang mau mengadu


domba Fresa. Untung saja Fresa dan yang lain sigap. Gue yakin jika mereka tidak


sigap, Galmoners akan mengalami hal buruk." Jelas Gibran.


"Fresa di sini?" Tanya Fano.


"Ya dia baru sampe tadi, gue kan gak ngumpul


hp, jadi gue bisa lacak si Fresa. Baru mau buat kejutan malah gue yang dapat


kejutan. Sialan emang!" Dengus Gibran.


Fano paham, musuh mereka adalah orang yang mereka


kenal. Sangat di sayangkan.


***


"Bu!!!! Fanisa jatuh ke jurang dan dia


tersangkut di dahan pohon. Jika kita tidak cep--"


"Dimana Fanisa?!" Bentak Fresa. Ya, tadi


Fresa sedang ingin berkeliling. Tapi melihat orang panik membuat Fresa


penasaran.


"Kamu tunggu di sini, ibu akan memanggil


petugas."


Di saat gurunya pergi, Fresa meminta cewek yang


tadi mengabarkan mengantar dirinya. Faza dan Felly yang baru tiba mengambil


sesuatu di mobil tidak tahu jika Fresa sedang dalam masalah.


Fresa mengikuti arah yang di tunjukkan oleh teman


beda jurusannya. Namun, melihat sosok yang berdiri di depannya membuat Fresa


mengerti satu hal. Dia di jebak!


"Well... Well... Well... Teman si kuman tiba,


thanks sudah bantu gue."


"Mau lu sebenarnya apa si?! Kehancuran


Galmoners?! Gue gak bakal biarkan itu terjadi!" Balas Fresa.


"Sayangnya hal itu akan terjadi Fresa. Kalian


akan hancur sesuai dengan skenario gue."


"Ouh ya? Masa sih? Kok gue ngerasa bau-bau


kekalahan ya?" Balas Fresa sinis.


Melihat wajah Fresa yang tenang membuat sosok


cantik tersebut geram. Ia langsung menerjang tubuh Fresa, namun gagal karena


Fresa lebih dulu menghindar.


"Ngapain lu di sana? Ngepel tanah?" Itu


bukan suara Fresa, melainkan sosok tampan yang sangat ia kenali. Sosok yang


membuat masalah dengannya sebelum ia pergi, Gibran Pahlevi.


"Sial! Awas lu berdua gue bakal balas


kalian." Ucap cewek tersebut dan pergi meninggalkan Fresa dan Gibran.


"Bagus lu ada di sini! Tunjukan jalan ke


tempat Fanisa." Perintah Fresa membuat Gibran langsung menggenggam tangan


Fresa dan membawanya ke tempat tadi ia berbincang dengan Fano.


Tepat saat mereka tiba, Fano sudah membawa Fanisa


naik ke atas dengan bantuan petugas. Melihat darah di kening Fanisa membuat


Fresa menggeram. Sudah Fresa duga jika ini perbuatan orang yang sama. Hanya dia


yang bisa melakukan hal gila seperti ini.


"Gue dan Fano sudah tahu siapa pelakunya.


Karena dia sangat pintar memainkan emosi, gue harap lu gak gegabah."


Ucapan Gibran membuat Fresa menatap sahabat kecilnya tersebut. Dan Fresa


membenarkan semuanya.


***


Fresa. Mereka tidak menyangka jika Fresa bisa senekat ini memasuki hutan yang


tidak ia tahu seluk-beluknya. Bahkan raut wajah Faza dan Felly yang sangat


khawatir membuat keduanya saling pandang. Seperti ada sesuatu yang mereka


sembunyikan.


Mahda dan Kiki langsung berlari saat melihat Fanisa


di gendong oleh Fano. Luka di kening Fanisa membuat mereka sadar jika Fanisa


mengalami hal buruk. Felly yang melihat kedatangan mereka, langsung meminta


Fano membawa Fanisa ke tenda Galmoners. Sedangkan Fresa? Dia sedang mendapat


ceramah dari sang kakak.


"Apa pelaku Fanisa sama dengan pelaku yang


melukai Fresa?" Tanya Kiki.


"Ya." Balas Fresa. Karena memang


pelakunya sama. Tapi Fresa yakin ada pelaku lain yang bekerja di belakang


mereka. Pasalnya di saat Fresa tatap muka dengan cabe tadi, ada seseorang yang


mengawasi dia. Berarti bukan hanya cabe dan anteknya tapi ada yang lain lagi.


Sialan!


"Kenapa Ca? Ada yang lu sembunyikan?"


Pertanyaan Mahda membuat Fresa tersadar dari lamunannya.


"Gak. Cuma kepikiran Fanisa." Balas


Fresa. Namun tidak bagi Gibran dan Fano, kedua orang tersebut sudah paham apa


yang di sembunyikan Fresa. Ingatkan mereka untuk berbicara enam mata nanti. Ya,


kalau Fano ajak berbincang empat mata yang ada Gibran ngamuk.


"Apa lu gak mau kasih tahu kita siapa


pelakunya?" Tanya Kiki.


"Tunggu Fanisa ya, gue takut beda orang."


Balas Fresa. Bukan Fresa tidak mau jujur dengan sahabatnya. Tapi, Fresa yakin


ada orang lain yang melukai Fanisa. Dan pastinya bukan dua orang yang ia temui


di tenda dan si cabe. Tapi mungkin aja si cabe pelakunya. Kan yang otaknya kriminal


cuma dia.


"Fresa bisa masuk ke tenda, ada yang Fanisa


ingin jelaskan." Kata Felly.


Baru saja Mahda ingin protes, Alex datang ke tempat


mereka dan meminta Mahda untuk berbincang empat mata. Karena perasaan senang,


Mahda langsung mengiyakan saja. Bahkan tanpa Mahda sadari semua akan berubah


setelah ini.


"Kak Felly, boleh saya ikut ke dalam?"


Tanya Kiki membuat Arkan dan Evan yang baru datang bingung.


"Boleh deh, kalian berempat jaga tenda ini,


jika ada yang mencurigakan  tahan di pikiran kalian dan laporkan


nanti!" Perintah Felly.


"Siapp kakak ipar!" Balas Gibran. Membuat


yang lain tersenyum atas tingkah laku Gibran.


Sebenarnya, jika Kiki boleh jujur ia bingung dengan


situasi ini. Situasi ini mengingatkan ia akan kejadian dimana Mahda membentak Fresa


dan berakhir dengan hubungan mereka merenggang. Kiki sangat berharap kejadian


itu tidak terulang kembali. Ya, dia berharap itu.


***


Mahda dan Alex memilih duduk di bawah pohon. Entah


kenapa Mahda tiba-tiba merasa senang. Karena, saat Cheryl izin ke toilet. Alex


selalu mengajaknya berbincang. Bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih


saat itu. Makanya saat Alex mengajaknya ke suatu tempat, hati Mahda kembali


berdebar kencang. Ia tidak menyangka jika harus berdekatan kembali dengan


mantannya.


"Jadi apa yang mau lu omongin?" Tanya


Mahda.


"Gue mau minta maaf. Maaf gue mutusin lu


tiba-tiba, karena Fresa mengancam gue Da. Dia bilang, jika gue gak mutusin lu


dia akan membunuh Cheryl. Mungkin kalian mikir gue sama Cheryl pacaran?


Nyatanya gak. Gue sama dia saudara jauh. Dan saat lu liat gue mesra sama


Cheryl, itu tandanya dia di ancam. Dan orang yang ngancem dia--"


"Fresa?" Potong Mahda membuat Alex


terdiam.


"Ternyata dugaan gue benar, karena Fresa ingin


menghancurkan hubungan kita? Apa dia iri karena dia gak bisa mendapatkan


Gibran? Gue gak habis pikir sekarang!" Ucap Mahda Dengan wajah tidak


percaya.


"Jadi, lu mau balikan sama gue kan?"


Pertanyaan Alex tiba-tiba membuat Mahda mengangguk.


Mahda sangat amat bahagia. Ternyata Alex mencintai


dirinya. Buktinya dia dengan Cheryl hanya saudara jauh. Ternyata selama ini,


Fresa membohongi dirinya. Sial!


Sosok yang bersembunyi tidak jauh dari mereka


tersenyum bahagia. Akhirnya permainan mereka di mulai. Mereka tidak sabar


dengan kehancuran Fresa dan Galmoners. Ah sangat amat tidak sabar!


"Jangan kasih tahu Fresa. Kamu cukup pura-pura


tahu aja. Karena kalau kamu memberi tahu Fresa dia ak--"


"Dia akan ancam Cheryl? Tenang saja aku tidak


akan berbicara apapun. Aku cuma bilang kita balikan dan kamu putus sama


Cheryl." Balasan Mahda membuat Alex tersenyum.


Mereka memutuskan untuk kembali. Genggaman tangan


Alex di tangan Mahda membuat gadis cantik itu bahagia.


"Terima kasih Alex" kata Mahda tulus.


"Anything for you baby." Balas Alex


sambil mengecup tangan Mahda.


FEGA dan Galmoners hanya diam saja melihat semua


kejadian di depan mata mereka. Karena, jika mereka menjelaskan semuanya, Mahda


akan kembali seperti dulu. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Karena mereka


yakin Mahda akan sadar dengan sendirinya.


❤️❤️❤️