
Merenung.
Malam yang dingin tidak membuat Mahda pergi dari balkon kamarnya. Bintang yang terang di atas sana membuat Mahda tersenyum tipis.
Terkadang Mahda ingin sekali tertawa karena kebodohannya. Tapi, mau di katakan apa lagi? Cinta jika sudah memilih akan tetap memilih sampai cinta itu lelah sendiri.
Sekarang, Mahda sedang dalam kondisi di mana dirinya merasa aneh. Pertama, saat Evan berubah ada hal lain yang ia rasa. Yaitu perasaan hampa dan sesak melihat Evan berubah. Kedua, setiap kali Mahda mengirim pesan kepada Alex. Selalu saja Evan ada di bayangannya. Dan terakhir, dia tidak tahu seperti apa perasaannya saat ini. Akankah Alex masih ada dalam hatinya? Atau dia sudah di gantikan oleh Evan?
Jika Mahda bisa menjawab semuanya mungkin dia tidak akan duduk bersandar di balkon kamar saat ini. Jika Mahda boleh memilih Mahda ingin kembali ke masa di mana ia belum mengerti akan cinta. Seperti masa SMPnya masa di mana dia dan yang lain hanya fokus belajar, dan bermain. Tidak seperti saat ini.
Ting!
Sebuah pesan masuk membuat Mahda membuka lock ponselnya. Di sana tertera pesan masuk dari seseorang yang tidak Mahda ketahui.
Unknown Number
Tetaplah jadi gadis bodoh, supaya gue bisa menyakiti salah satu dari kalian melalui lu.
Mahda tersenyum sinis. Mungkin dulu Mahda akan membiarkan semuanya. Sekarang tidak! Mahda akan membongkar semua yang dia ketahui, bahkan jika perlu dia membuka kedok seseorang yang selama ini tidak terlihat.
Karena Mahda sudah lelah. Lelah mencintai sendiri. Lelah mencintai seseorang yang tidak bisa membalasnya. Dan dia juga lelah menjadi gadis bodoh.
Mahda mulai memasuki kamarnya dan memilih untuk memejamkan mata, karena hari esok adalah hari berat untuknya.
Jika Mahda sudah membulatkan tekadnya, maka Fanisa masih labil dengan semuanya. Semua perasaan yang ada dalam dirinya. Okey, setelah melihat rekaman video dan bertanya langsung Fanisa sudah menemukan jawabannya. Benar kata Fresa, jika mantannya benar-benar jatuh cinta sebelum perjanjian bersama Cheryl dan alasan mantannya pergi juga bukan sepenuhnya karena Cheryl tapi karena mantan Fanisa takut jika dia kenapa-kenapa. Dan di sanalah asal mulanya. Karena sebuah ucapan singkat yang menegaskan ke khawatiran membuat Fanisa bingung kembali dengan perasaannya. Di tambah lagi, sosok mantannya akan kembali ke Bandung dan itu membuat Fanisa benar-benar ingin pergi menjauh dari daerah ini. Bukan karena ia takut kembali kepada masa lalunya. Tapi dia takut melukai seseorang yang selalu berjuang untuknya. Berjuang di saat dia masih memiliki kekasih bahkan sampai detik ini.
Ting!
Fano
Gue tau lu belum bisa melupakan dia, tapi gue bukan dia yang bisa ninggalin lu gitu aja. Sorry, gue masih berjuang dan gue yakin lu belum sadar ke mana hati lu sebenarnya.
Fanisa tidak membalas, dia hanya diam merenungkan semua ucapan Fano. Apakah benar ia sudah move on? Atau dia malah terjebak di ruang nostalgia?
Ting!
Firhan
Bisakah Fanisa berkata kasar? Dia bilang suruh lupakan tapi dia juga yang membuat Fanisa menjadi kepikiran. Sial!
Fanisa malas membalas kedua cowok tersebut. Dia lebih memilih tidur karena ia serahkan semuanya kepada sang pencipta.
Sama halnya dengan Fanisa. Kiki juga sulit untuk membuka hati yang baru untuk seseorang. Karena melupakan seseorang yang di cintainya sangat lama. Oke, Kiki sudah mendengar jelas alasan mantannya. Bukan berarti kemarahannya bisa ia lampiaskan ke orang lain dengan cara membuka hati bukan? Karena setelah kejadian ini Kiki tidak ingin gegabah. Kiki tidak ingin terluka dengan nama yang sama.
Mungkin Arkan termasuk cowok yang sangat sabar. Buktinya Arkan benar-benar menunggu dirinya sampai dirinya benar-benar siap untuk membuka hati baru.
Kiki ingin mencoba bersama Arkan. Tapi dia tidak mau jika Arkan menjadi pelampiasannya. Makanya untuk saat ini Kiki lebih memilih cara aman yaitu bersahabat dengannya.
Ting!
Arkan
Selamat malam Kiki, semoga mimpi indah. And love you.
Pesan tersebut sudah setiap hari Kiki terima. Ada perasaan aneh yang dia rasakan tapi Kiki takut. Kiki takut memulai kembali. Semoga saja esok ia menemukan jawaban dari keresahan ini. Kiki berharap ia bisa membalas perasaan Arkan tanpa membawa perasaan masa lalunya.
Kiki membalas pesan Arkan dan setelahnya dia memilih untuk tidur.
Jika semua orang sedang galau,maka Fresa sama! Oke, Gibran sudah tahu masalah perasaannya. Tapi dia tidak suka mengumbar perasaaan cintanya. Bahkan setiap bertatap muka dengan Gibran dia malu. Seperti halnya malam ini, cowok tampan itu duduk disampingnya dengan senyuman merekahnya.
Fresa risih? Sangat!
Apalagi sejak kejadian penculikan, pasti Gibran selalu meledeknya dan itu membuat Fresa ingin sekali menendang cowok tersebut ke Pluto.
"Sayang..." Panggil Gibran
"Hem." Balas Fresa.
"I love you!" Kata Gibran sambil mengecup sudut bibir Fresa setelah itu, dia pamit pulang ke rumahnya.
"Gibran sialan!!!" Teriakan Fresa membuat Gibran terbahak. Akhirnya sekarang dia benar-benar bahagia. Ternyata Fresa mencintainya sejak lama dan itu membuat bahagia. Kebahagiaan yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata. Ia harap sahabatnya bisa merasakan hal yang sama dengannya.
❤️❤️❤️❤️