
Kantin
Bel istirahat berbunyi...
Seluruh mahasiswa dan mahasiswi Starlight mulai berhamburan keluar dari kelas mereka.
Jika biasanya mereka akan berlari ke kantin, maka lain halnya dengan hari ini. Mereka semua berlari ke lapangan.
Kenapa ke lapangan?
Karena di sana sudah di sulap! Lapangan yang tadinya kosong berubah menjadi tempat penuh bunga dan balon berwarna merah jambu. Siapapun yang melihatnya pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Fresa dan kawan-kawannya mulai mengikuti pergerakan siswa dan siswi lain untuk mendekati lokasi tersebut. Mereka penasaran dengan orang yang romantis ini. Apalagi orang ini sangat berani melakukannya di sekolah.
"Menurut lu siapa? Kalau Alex gak mungkin kan? Jangan sampe deh." Kata Mahda sambil memukul kepalanya seakan-akan berdoa semoga apa yang dipikirannya tidak terwujud.
"Alex ya? Bisa aja si. Apalagi sejak putus sama lu dia jadi gila." Balas Fanisa.
"Tapi ya jangan Alex juga kali, kalau gue yang jadi pemeran utamanya bingung. Tar kaya di wattpad lagi dia ngancem gue buat jadi pacarnya lagi." Tutur Mahda.
"Yehh gila, kalau emang lu gak suka tinggal tolak. Ada kita juga di sini. Dia macam-macam? Balas! Jangan takut sama iblis itu." Kata Fresa marah. Apalagi Fresa sudah tahu apa yang terjadi selama dirinya di Singapura.
"Tau Da, jangan sampe lu masuk ke lobang iblis!" Tambah Kiki.
Di saat Mahda asik berpikir. Seseorang dengan topeng di wajahnya menarik Fanisa. Membuat gadis cantik tersebut bingung. Pasalnya dia sendiri tidak tahu menahu masalah ini.
Petikan gitar mulai terdengar di telinga Fanisa. Sosok bertopeng tersebut tengah memainkan lagu bertajuk cinta. Fanisa tidak mau terlalu berharap jika di hadapannya Fano. Karena, sejak kejadian di rumah sakit hubungan mereka aneh. Kenapa? Mereka dekat tapi Fanisa merasakan sesuatu yang membuat mereka berjarak. Entah apa itu Fanisa juga tidak mengerti. Yang pasti saat itu Fanisa berpura-pura bahagia.
Setelah usai lagu yang dinyanyikan, sosok bertopeng tersebut mulai berjongkok di hadapannya ala-ala orang ingin melamar.
"Gue bukan cowok romantis, gue juga bukan cowok humoris tapi gue berusaha menjadi yang terbaik untuk lu. Fanisa Adijaya, maukah engkau menjadi tunangan ku? Jika kamu menerima buka topengku dan jika tidak kamu bisa kembali kepada sahabat-sahabat mu."
Fanisa ragu, takut orang didepannya bukanlah Fano. Ia takut sekarang.
"Tutup mata kamu, maka kamu akan tahu siapa aku." Bisiknya
Fanisa menutup matanya. Menarik nafas dalam-dalam. Setelahnya dia langsung membuka penutup topeng tersebut.
"Aaaaaaa...." Teriakan yang lain membuat Fanisa ikut terbawa suasana. Pasalnya di hadapannya saat ini adalah Fano Malik. Sosok yang selama ini menemani dirinya di saat dirinya memantapkan hati dan sekarang, astaga! Fanisa ingin memeluknya namun dia malu.
Fano tersenyum. Dia memakaikan cincin di tangan Fanisa setelah itu dia mencium tangan tersebut. Sampai...
"Gue yang ngajarin tuh!" Teriak Evan membuat Gibran memukul lengan sahabatnya.
Fanisa menggelengkan kepalanya, dia melakukan hal yang sama dengan apa yang Fano lakukan. Selesai memakaikan cincin. Fano memeluk tubuh Fanisa dengan sangat erat seakan-akan ia takut Fanisa hanyalah mimpi.
"Seperti mimpi."
"Sama." Balas Fanisa.
"Udah woii! Yang jomblo iri nih." Teriak Evan lagi.
"Berisik banget si lu, kurang kerjaan." Balas Mahda.
"Neng Mahda sensi ni yee. Mau juga kaya gitu? Nanti ya neng, sampai hati neng siap dan akang siap kita langsung ke KUA." Ucap Evan membuat Mahda mendengus namun jantungnya saat itu berdebar lebih kencang. Evan memang punya efek tersendiri.
Beberapa murid mulai memisahkan diri, mereka mulai menuju tujuan utama mereka, kantin. Sama halnya dengan yang lain FEGA dan Galmoners pun ikut melakukan hal yang sama.
**
"Yang taken banyak amat, apa cuma gue doang yang jomblo." Kata Evan.
"Yeh ngaca bego! Lu juga jomblo!" Ucap Evan ketus.
"Gue mah jomblo gak sedepresi lu! Udah deh jangan berisik, lu ganggu orang makan." Kata Mahda
"Yaelah, makan tinggal makan aja lu ribet amat! Apa perlu gue suapin hah?!" Tanya Evan sengit.
"Dih! Najis." Balas Mahda.
"Najis-najis! Awas aja kalau suka sama gue. Gue bakal gantung lu di pohon toge." Ucap Evan.
Suasana kantin sangat ramai, makanya perdebatan mereka tidak terlalu menarik perhatian orang lain. Toh stand mereka di pojok jadi tidak mengganggu anak-anak lain.
"Gantung dah kaya bisa aja." Balas Mahda ketus.
Fanisa dan yang lain tidak mau ikut campur dalam obrolan keduanya. Toh apa yang mereka bicarakan tidak penting dan tidak perlu di bahas oleh mereka.
"Da, katanya lu di cekik tadi. Kok gak mati?" Tanya Gibran membuat Fresa memukul lengannya.
Plakkk...
"Sakit sayang, kamu ini melakukan kekejaman dalam rumah tangga!" Ucap Gibran.
"Habis kalau ngomong gak di jaga!" Omel Fresa.
"Lu mau gue mati?! Lu kok jahat banget si Bran! Lu tuh harusnya mendoakan gue semoga umur panjang! Dasar teman sialan!" Ucap Mahda dengan amarahnya.
"Emang gue temen lu?" Balas Gibran asal membuat Mahda geram sendiri.
"Bisa gue gabung?" Tanya Alex.
"Gak!" Jawab Fresa membuat semua orang di sana mengangguk setuju.
"Sayangnya gue gak bisa di bantah." Balas Alex langsung duduk di samping Mahda.
"Gak usah nanya kalau gitu!" Dengus Fanisa.
"Eh? Fanisa. Congrats ya! Semoga langgeng sampe kakek nenek. Kalau bisa jangan pura-pura mencintai," ujar Alex membuat Fresa mengangkat alisnya.
"Gue gak pura-pura! Gue bukan lu yang pura-pura mencintai sahabat gue. Gue juga bukan lu yang ngejar-ngejar mantannya karena dosanya dan gue juga bukan lu yang suka bertindak kasar ke orang lain!" Balas Fanisa marah.
Siapa yang tidak marah jika di usik seperti itu? Pasti marah bukan. Apalagi ini menyangkut perasaan. Urusannya pasti lebih rumit dari pada rumus matematika.
"Upss... Santai. Gue pikir lu kaya seseorang." Pancing Alex.
"Gak usah berisik deh! Kalau lu mau berisik jangan di sini, mending lu cari tempat dan ngomong sendiri di sana. Kalau di sini lu ganggu!" Balas Kiki ketus.
"Ganggu? Bukannya yang ganggu itu kalian? Kalian itu gak ngaca atau gimana si. Penghancur hubungan gue sama Mahda ya Fresa. Dan sekarang di saat gue mau balikan, kalian semua penghambatnya! Jadi siapa yang ganggu?" Tanya Alex.
"Gue penghancur hubungan lu sama Mahda?! Mikir! Yang ngancurin hubungan lu ya lu sendiri! Emang dasar gak tahu malu ya lu, udah salah gak mau ngaku. Najis!" Balas Fresa.
Mahda ikut merasakan panas, pasalnya Alex menjelek-jelekkan sahabatnya dan Mahda paling tidak suka jika sahabatnya di jelek-jelekan.
"Gue gak tahu rencana lu apa, yang pasti saat lu menghina sahabat gue. Gue bakal benci banget sama lu." Kata Mahda dingin.
Di saat semua orang terdiam, Alex mengeluarkan sesuatu di sakunya.
Byurrrrr.....
"Awwwwww......"
❤️❤️❤️