
Mak lampir!
Tidak terasa sudah memasuki akhir bulan, itu tandanya semester ganjil akan segera berakhir. Dan kini, Fresa bersama dengan sahabatnya tengah asik berbincang masalah liburan semester yang biasa mereka rencanakan. Mengingat liburan, Fresa jadi ingat saat di mana Mahda ingin sekali berlibur ke Paris. Saat itu mereka sudah buat planning untuk akhir tahun ini, tapi nyatanya semua gagal total. Haruskah Fresa marah dengan Alex karena sudah mencuci otak sahabatnya?
"Gue ke toilet." Kata Fresa membuat Fanisa dan Kiki langsung menatapnya.
"Gue sendirian aja. Ouh ya, pesenin gue makanan seperti biasa. Dan jangan berbau telur." Ucap Fresa membuat keduanya mengangguk.
Fresa dan telur adalah hal yang tidak bisa bersama. Sama kaya Fresa dengan Gibran, gengsi Fresa lah yang membuatnya mereka sulit bersama. Padahal jika Fresa mengurangi atau membuang gengsinya pasti Fresa sudah bisa merasakan kebahagiaannya saat ini.
Fresa melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah kamar mandi. Entah kenapa saat ini Fresa merasakan perasaan asing. Perasaan di mana dia selalu di awasi seseorang. Entah alasannya apa, yang pasti itu sangat mengganggunya.
Saat belokan ke arah kamar mandi, matanya tidak sengaja melihat sosok Cheryl bersama dengan antek-anteknya. Entah apa yang mereka lakukan di sana, yang pasti suatu hal buruk akan terjadi. Terlihat sangat jelas jika mereka membicarakan hal serius.
"Well.... Well... Well... Mak lampir memang sangat cocok berada di kamar mandi, karena memang tempat kaya gitu sangat cocok untuk sampah macem lu." Ucap Fresa dingin. Entah keberanian dari mana, kata-kata tersebut begitu saja keluar dari mulutnya. Tapi, Fresa tidak menyesal melakukan hal itu. Karena cewek-cewek di depannya telah mengganggu kehidupan Fresa dan dia sangat tidak menyukai hal tersebut.
"What?! Jaga mulut lu ya! Gue bisa aja bilang ke pihak kampus untuk mengeluarkan lu dari sini! Jangan macam-macam sama gue!" Balas Cheryl geram.
"Apa yang maksudnya macam-macam? Bukannya kalian yang sedang berbuat macam-macam?" Tanya Fresa sinis.
"Fresa Aditya. Apa lu gak sadar posisi lu? Kita bertiga dan lu sendiri. Gue bisa lakukan apapun untuk melukai lu, so...?" Ucapan gantung Cheryl membuat senyuman sinis terbit di wajah Fresa.
"Gue gak takut sama kakak tingkat macem kalian! Dan gue kasih tahu! Gue bukan lu yang bersembunyi di balik ketek pacar lu yang tai itu. Dan gue juga bukan lu yang selalu berlindung di bawah antek-antek lu. Dan sekali lagi gue juga bukan lu yang suka pamer kekayaan keluarga! Karena gue tahu apa yang ada di dunia ini sementara, termasuk lu dan duit yang lu punya." Kata Fresa meninggalkan Cheryl yang terdiam di belakangnya.
"Ah! Satu lagi, hati-hati sama ucapan lu tadi. Karena biasanya penguasa itu selalu jatuh kapan saja. See ya Mak lampir!" Lanjut Fresa membuat Cheryl geram. Baru saja Fresa ingin memasuki toilet seseorang menariknya dan kejadian sangat cepat saat sebuah tangan menyentuh pipi cantiknya.
Plakkk...
"Sakit?! Gue bakal bikin yang lebih sakit dari ini! Gue bersumpah gue akan menghancurkan keluarga lu dan semua sahabat lu. Dan satu lagi, yang sedikit lagi hancur itu lu! Karena Gibran tidak akan sabar jika menunggu cewek jual mahal kaya lu!" Bentak Cheryl.
"Cheryl.. Cheryl... Lu emang bodoh ya? Gue bukan Mahda yang gampang lu hasut dan jika lu gak tau apapun tentang gue lebih baik diam, dari pada lu malu nantinya." Balas Fresa.
Semua orang memang tidak tahu hubungannya dengan Gibran. Biarkan hanya beberapa orang saja yang mengetahui rahasia yang ia sembunyikan selama ini.
"Malu? Gak lah! Sekarang mikir! Setelah UAS Gibran pergi ninggalin lu gitu aja. Apa itu namanya sayang? Gak! Dia sudah muak sama cewek kaya lu!" Ucap Cheryl sinis.
Fresa ingat saat di mana Gibran meninggalkan dirinya tiba-tiba setelah menerima telpon. Entah apa yang terjadi, Fresa sangat yakin jika hal buruk terjadi padanya.
"Bagus dong kalau dia muak. Jadi lu bisa lanjutkan rencana lu membuat semua anak FEGA menjauh dari Galmoners seperti dulu! Seperti saat lu mengirim sahabat-sahabat si tai untuk deketin gue dan yang lain. Untungnya gue tahu lebih cepat. Sayang ya rencana lu gagal di gue." Balas Fresa dengan seriangainya.
"Cewek sialan!!! Gue emang nyuruh semua sahabat Alex untuk main-main sama sahabat lu. Tapi terbukti bukan? Jika sahabat lu semua itu bodoh dan gagal move on! Menyedihkan!" Sindir Cheryl.
Suasana semakin panas. Fresa dan Cheryl tidak sadar jika ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka di balik pohon.
"Menyedihkan? Gak tuh! Buktinya di saat sahabat gue di jahatin sama lu dan cowok sialan itu mereka masih baik-baik saja. Yang menyedihkan itu lu! Lu tuh terlalu takut tersaingi! Dan lu tahu? Orang yang lu suruh buat deketin gue sama sahabat gue jatuh cinta dengan sendirinya, sampai lu membuat skenario mereka semua pergi dan menyuruh Bian melakukan hal menjijikan. Menyedihkan bukan?" Balas Fresa malas.
"Gue emang menyedihkan tapi hidup gue masih panjang gak kaya lu! Lu akan mati sebentar lagi. Entah itu di tangan gue ataupun di tangan dia. Karena lu pembawa sial untuk kehidupan gue dan dia." Ujar Cheryl.
"Kematian gue di tangan sang pencipta bukan di tangan Mak Lampir macem lu!" Balas Fresa.
"Lu tuh emang harus di kasih pelajaran ya biar semua orang tahu kalau gue lah penguasa di sini! Pegang dia!" Perintah Cheryl kepada dua anak buahnya yang sejak tadi diam mendengarkan perdebatan Cheryl dan Fresa.
Fresa tersenyum sinis, saat ia merasakan tangannya di pegangi oleh kedua orang.
"See? Lu tuh terlalu pengecut!" Bentak Fresa.
Emosi Cheryl semakin tersulut. Ia menjambak rambut Fresa membuat gadis cantik itu meringis kecil, bukan karena tarikan rambut di kepalanya tapi karena rasa sakit lain yang tiba-tiba menyerang dirinya. Fresa kesal jika penyakitnya kambuh saat ini. Ia harus bisa melawan mereka!
Di kantin Kiki dan Fanisa tengah duduk menunggu kedatangan Fresa. Namun sudah setengah jam berlalu Fresa juga belum kembali. Sampai...
"Fresa mana? Kok cuma kalian berdua?" Pertanyaan seseorang membuat keduanya mengangkat kepalanya.
"Masih berani lu muncul di hadapan gue hah?! Setelah meninggalkan Fresa lu masih berani menanyakan keberadaannya?! Sialan lu emang!" Omel Fanisa membuat geng FEGA langsung menatap Fanisa tajam.
"Yang berhak tahu alasan gue melakukan itu adalah Fresa mana dia?!" Balas Gibran dingin.
"Lu gak nemenin dia?! Fanisa bego!" Umpat Gibran setelah itu dia pergi meninggalkan kantin dengan tergesa-gesa.
"Ada banyak rahasia yang disembunyikan Fresa ataupun Gibran. Yang kita harus lakukan saat ini diam dan tunggu waktu mereka menjelaskan apa rahasia yang mereka sembunyikan." Kata Kiki membuat semua orang yang ada di sana mengangguk paham.
Di tempat Fresa, Cheryl dan antek-anteknya masih melukai Fresa dengan cara menampar dan menjambak. Bahkan Cheryl sangat puas saat melihat hidung Fresa mengeluarkan darah. Seperti kerjaannya sudah selesai.
Tanpa Cheryl sadari, sosok di balik pohon merekam semuanya sambil menahan emosi yang ada di dalam tubuhnya. Ia harus melakukan ini untuk membongkar semua kejahatan Cheryl.
"See? Lu tuh terlalu lemah bagi gue! Jangan coba macam-macam sama gue sialan! Karena gue bakal buat lu lebih dari ini!" Bentak Cheryl membuat Fresa tersenyum sinis.
"Berbahagia lah hari ini, karena suatu saat nanti gue gak akan biarkan lu bahagia. Gue bukan penguasa di dunia ini, tapi sang pencipta lah yang akan membalas semuanya." Kata Fresa lirih.
Cheryl tersenyum mengejek ke arah Fresa, saat tangannya ingin menampar Fresa kembali seseorang menahannya dan hal tersebut membuat Cheryl terdiam kaku.
"Well... Well... Well... Seorang Cheryl melukai adik tingkatnya? Dasar pengecut! Lepasin tangan kalian berdua sebelum gue memperlakukan hal yang sama ke kalian semua!" Bentak cowok membuat sosok yang bersembunyi tersenyum senang dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Wah Gibran Pahlevi! Bukannya lu udah muak sama ni cewek jual mahal ya? Terus kenapa lu di sini? Ah! Gue tahu apa dia menawarkan tubuhnya ini?" Tanya Cheryl
"Sorry, Fresa Aditya bukan seperti lu!" Balas Gibran sambil mendorong kedua anak buahnya. Sedangkan kini, Fresa sudah ada di dalam gendongannya.
"Gue akan balas lu semua. Tunggu dan liat nanti!" Ucap Gibran setelah itu dia meninggalkan Cheryl dan yang lain di sana.
Selama di perjalanan menuju parkiran banyak anak-anak yang melihat ke arah mereka, namun Gibran hiraukan. Bahkan saat sahabatnya dan sahabat Fresa melihat Gibran hanya menatap mereka sekilas setelah itu meninggalkan mereka semua.
Gibran menyesal sekarang, seandainya dia tidak pergi kejadian ini tidak akan terjadi. Gibran bersumpah akan membalas mereka semua!
flashback
Saat itu semua mahasiswa Starlight sudah selesai melakukan UAS mereka. Seperti biasanya, Fresa dan Gibran selalu bersama tanpa terkecuali. Bahkan gosip mereka jadian sudah terdengar jelas di telinga siapapun. Namun, hari ini ada yang berbeda.
Di saat semua orang sibuk makan di kantin, maka Gibran sibuk dengan ponsel yang ada di dalam genggamannya. Entah apa yang sedang dia lakukan, yang pasti sesuatu yang sangat penting.
Fresa tidak berhak menegur ataupun menanyakannya saat ini, karena Fresa yakin Gibran akan menjelaskannya nanti.
"Ayo pulang!" Ajak Gibran memaksa membuat Fresa dan yang lain bingung. Namun Fresa tetap mengikuti Gibran. Toh dia juga ingin cepat-cepat sampai rumah.
Hari ini, Fresa menyadari ada yang berubah dari Gibran. Entah apa, yang pasti ada rahasia yang dia sembunyikan. Melihat Gibran bersikap tak seperti biasanya.
Nada dering ponsel Gibran kembali menarik perhatian Fresa. Umpatan dan makian di lontarkan Gibran di sana membuat Fresa sedikit takut dengan sosok Gibran saat ini.
"Turun Ca! Sekarang!" Bentak Gibran membuat Fresa mau tidak mau langsung turun di tengah jalan. Setelahnya, Gibran langsung meninggalkan Fresa begitu saja.
Kecewa? Sangat.
Fresa langsung menghubungi Fanisa untuk menjemputnya. Dan sejak saat itu Fresa selalu memikirkan hubungannya dengan Gibran. Entah keputusannya benar atau tidak, dia berjanji akan mengatakannya saat Gibran kembali.
Gibran menengok ke arah Fresa, di sampingnya. Gadis cantik tersebut hanya diam sambil memandang ke arah luar.
"Ca maaf." Kata Gibran.
"For what?" Tanya Fresa. Kini keduanya tengah berhenti di tempat di mana Gibran menurunkan Fresa beberapa hari yang lalu.
"Karena gue ninggalin lu beberapa hari lalu. Alasan gue meninggalkan lu kemarin, karena Greg berhasil kabur dan beberapa hari ini bisnis bokap juga bermasalah. Untung ada keluarga lu. Lu percayakan sama gue?" Pertanyaan Gibran membuat Fresa tersenyum.
"Kenapa gak bilang? Kalau lu bilang gue gak bakal mikir macam-macam. Gue percaya sama lu Bran." Balas Fresa.
"Terima kasih sayang." Ucap Gibran sambil memeluk tubuh Fresa. Ah! Betapa sangat merindukannya Gibran saat ini.
"Pelukannya udah dong bro! Iri gue sama kalian!" Celetukan seseorang membuat Fresa dan Gibran langsung melepaskan diri mereka dan langsung menatap ke arah belakang.
"Lo?!"
Ucapan keduanya yang bersamaan membuat sosok tersebut menyeringai.
❤️❤️❤️