Galmoners

Galmoners
Part 24



Pengganggu!



"Lo?!"


Ucapan keduanya yang bersamaan membuat sosok tersebut menyeringai.


"Gils, ke tampanan gue membuat seorang Fresa Aditya yang sedang sakit langsung sehat bugar, luar biasa!"


"Gila!" Balas Fresa sinis.


"Gila-gila tapi lu suka kan. Udahlah Fresa bilang aja kalau lu udah bosan sama tunangan lu."


Kalian sudah tahu bukan siapa cowok tengil tersebut? Yup! Dia Evan Laksono. Entah dia masuk lewat mana yang pasti keberadaannya membuat seorang Gibran Pahlevi geram.


"Niatnya si gitu Van, tapi melihat muka dia melas gak tega." Balas Fresa asal.


"Fresa?!" Teriak Gibran membuat Fresa tertawa dalam hati. Mengerjai Gibran tidak ada salahnya bukan?


"Makanya Bran, jangan suka ninggalin cewek. Lu gak tau aja, pas lu nurunin Fresa, saat itu juga gue langsung menjemput dia dan sejak kejadian itu kita--"


"Kita apa?!" Balas Gibran memaksa.


"Kita jad--"


"Lu jadian sama tempe mendoan Ca?! Lu gak ingat gue masih tunangan lu?!" Balas Gibran panik.


"Terus kenapa kalau gue jadian sama Evan? Gak masalah bukan? Lu bukan suami gue" balas Fresa membuat Evan tertawa.


"Diem lu tempe mendoan!" Bentak Gibran.


"Ca lu gak serius kan?" Tanya Gibran.


"Serius gak ni Van?" Tanya Fresa malas.


"Serius ajalah. Setelah ini biar dunia tahu jika Fresa Aditya milik Evan Laksono." Balas Evan dengan seringainya.


"Turun!" Perintah Gibran. Fresa menggerakan tubuhnya namun di tahan oleh si tampan.


"Bukan kamu sayang." Kata Gibran lembut, membuat Fresa tersenyum dalam hati.


"Fres putusin tunangan lu sekarang juga! Masa FEGA cuma dia doang yang bahagia. Gue gak ikhlas!" Sungut Evan.


"Mending lu tutup mulut lu tempe mendoan! Kita lanjut ke rumah sakit ya." Ucap Gibran sambil mengelus kepala Fresa. Membuat gadis cantik tersebut menganggukkan kepalanya.


"Nasib jomblo gini amat ya, sabarkan hati Evan ya Allah." Ucap Evan membuat Gibran mendengus.


Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pergi menuju rumah sakit, sedangkan Evan menghubungi sahabatnya yang lain untuk menyusul mereka.



Di tempat yang berbeda, Mahda tengah duduk sendirian di bangku taman. Entah apa yang harus ia lakukan setelah mendengar semuanya. Akankah ia membongkar semuanya atau malah diam seperti biasanya?


Mahda mengirimkan rekaman tersebut ke Evan, entah kenapa saat ini Mahda merasa hanya Evan yang bisa membantunya, walaupun Evan tidak merespon pesannya, Mahda tetap bersyukur karena Evan masih sudi membaca pesannya saat ini.


"Boleh saya duduk?" Tanya seorang pria.


"Silakan." Balas Mahda dengan senyum manisnya.


"Sendirian aja?" Tanya pria tersebut.


"Gak kok. Ada sang pencipta yang menemani saya." Balas Mahda.


"Ah! Iya juga." Balas pria itu kikuk.


"Kamu kenal Fresa Aditya?" Tanya pria tersebut saat melihat lock screen ponsel Mahda foto dirinya bersama Galmoners.


"Kenal. Kenapa?" Tanya Mahda malas.


"Kamu tahu? Kakaknya itu pembunuh bahkan keluarganya itu menghancurkan kehidupan saya. Jahat bukan?"


"Mungkin anda salah sangka. Karena kita tidak bisa menghakimi orang lain jahat. Bisa saja di balik semua itu ada dalangnya yang lebih jahat. Karena hidup itu bukan tentang satu atau dua orang Om." Balas Mahda.


Pria tersebut memikirkan ucapan Mahda. Namun, entah kenapa dia punya rencana setelah ini!


"Ouh gitu ya, kalau gitu terima kasih!" Balas pria tersebut.


Baru saja Mahda berdiri untuk kembali ke rumah, sosok dibelakangnya sudah memukul tengkuknya dan detik berikutnya Mahda jatuh pingsan. Entah apa yang orang tersebut rencanakan, pastinya sesuatu yang sangat besar.


**


Fresa baru saja selesai menerima pengobatan. Saat dia ingin keluar dari ruangannya, sebuah pesan masuk menarik perhatiannya.


Unknown number


Sent photo


(Anggap foto Mahda terikat di sebuah bangku)


Apa kamu mengenal dia? Jika ia temui saya sendiri di gudang bekas di jl. Mawar. Jika kamu datang bersama orang lain, detik ini juga saya akan membunuh dia.


Fresa mematikan ponselnya buru-buru saat melihat Gibran dan yang lain berjalan ke arahnya.


"Kenapa kata dokter?" Tanya Gibran.


"Gak kenapa-kenapa. Gue ke toilet ke belet. Bye!" Pamit Fresa langsung berlari ke arah luar.


Tanpa Fresa sadari, dia sudah memberikan petunjuk kepada yang lain jika Fresa tidak ingin ke toilet.


"Si bego! Ayo susul, tapi jangan sampai ketahuan." Ucap Fanisa.


"Tanpa lu suruh gue juga bakal ikutin!" Dengus Gibran. Apa yang di sembunyikan tunangannya sehingga mereka semua tidak di izinkan mengetahuinya.


"Stop Fan, lebih baik kita susul Fresa. Entah apa yang dia sembunyikannya, gue yakin berhubungan dengan salah satu dari kita." Ucapan Kiki membuat seseorang menyadari satu hal.


"Mahda." Katanya lirih.


"Maksud lu Van?" Tanya Gibran serius.


"Saat Fresa di periksa, Mahda ngirim video di mana di dan Cheryl sedang debat dan--"


"Liat videonya!" Perintah Fanisa.


Mereka semua langsung menyaksikan video tersebut, entah kecewa atau apa. Fanisa merasa jika Fresa membohongi dirinya kembali.


"Jangan salahkan Fresa. Kalian dengar kan? Cowok yang jadi pacar kalian dulunya benar-benar jatuh cinta sama kalian. Tapi Mak Lampir menyeting semuanya. Jadi gue pikir, bukan salah Fresa di sini. Karena jika Fresa bicara ke kalian sejujurnya pasti kalian akan bertindak seperti Mahda. Makanya Fresa hanya diam. Dia bukan takut kehilangan kalian, tapi dia lebih takut jika kalian seperti Mahda. Terjebak dalam sebuah permainan orang lain." Penjelasan Arkan memang benar. Kita gak bisa menghakimi orang lain bersalah hanya karena salah satu sudut pandang, tapi. Kita bisa melihat dari semua sudut pandang tentang kejelasan masalah ini.


"Kalian bisa tanya mantan kalian. Dan lebih baik kita susul Fresa. Perasaan gue gak enak." Balas Gibran.


Dengan berbekal GPS, mereka mulai menemukan ke arah mana Fresa pergi. Yang Gibran heran, kenapa mereka pergi ke tempat yang jauh dari jalan raya. Apa mungkin--tidak! Gibran pasti salah. Tapi kemungkinan hanya dia yang berani melakukan itu.


"Bran! Lu udah telpon polisi dan kawan-kawannya?" Tanya Evan berbisik.


"Udah lu tenang saja." Balas Gibran dengan jantung berdegup kencang.


Gibran dan yang lain mulai memasuki gedung tua tersebut. Namun mereka gagal, karena mereka semua masuk ke dalam jebakan seseorang.


"Sial!!" Umpat mereka saat melihat ponsel Fresa terletak di sebuah bangku yang ada di sana.


"Selain ponsel, lu gak naro pelacak apapun?" Tanya Evan serius.


Gibran bukan membalas ucapan Evan malah tersenyum misterius. Evan tak perlu penjelasan, dia sudah paham tabiat Gibran seperti apa.


"Jadi lu sengaja biar kita ikutin permainan si orang bodoh itu?" Tanya Fano kesal.


"Yap. Kita langsung nyusul Fresa!" Kata Gibran.


"Lu sama Evan nyusul mereka, kita tetap stay di sini. Karena kalau semua ikut dia akan curiga." Jelas Kiki.


"Bener juga, ya udah tunggu bae di sini. Bye!" Balas Gibran


Jika mereka sedang menjalankan permainan, maka Fresa dan Mahda tengah terikat di sebuah gedung yang penuh bau amis. Entah bekas apa gedung tersebut yang pasti Fresa dan Mahda sangat mual menghirup udara di sana.


"Fresa Aditya. Ternyata selain cantik anda juga bodoh heh?" Tanya sosok di depannya.


"Well.. seorang Greg lebih bodoh dari gue. Buat apa menyekap anak-anak? Situ terlalu pengecut!" Balas Fresa dingin.


Plakkk...


Suara tamparan terdengar begitu nyaring di ruangan sana bahkan Mahda yang di samping Fresa mulai menatap geram pria di depannya.


"Om! Jika Om mau balas dendam seharusnya pikir-pikir dulu! Bisa jadi apa yang Om pikirkan salah." Ucap Mahda.


"Salah? Jelas-jelas abang dia membunuh adik saya! Dan kamu tahu? Keluarga dia itu licik, sekarang dia berkedok teman bisa jadi besok dia menusuk kamu." Balas Greg.


"Itumah perasaan lu aja. Kalau keluarga di kaya gitu, udah sejak lama bukan dia nusuk keluarga gue? Bisa jadi bisnis keluarga lu hancur karena lu sendiri. Who know?" Ucap Mahda membuat Fresa menyeringai.


"Ah! Gue paham, lu tipe yang suka buang-buang duit right? Bisa jadi perusahaan lu hancur karena lu sendiri. Dasar bego!" Sindir Fresa.


"Diam kalian berdua! Gue bisa saja membunuh kalian saat ini!" Bentak Greg.


"Hobi orang gitu ya, ngucapin bunuh udah kaya pakaian sehari-hari. Dasar manusia labil." Balas Fresa membuat Greg geram. Saking geramnya pria itu langsung mencekik leher Fresa membuat gadis cantik tersebut susah bernafas.


Mahda yang terikat dekat dengan Fresa mencoba untuk melepaskan ikatan tersebut namun sulit. Kenapa jika di film sangat mudah tapi kenapa realitanya sulit? Pikir Mahda.


"Sebelum lu bunuh gue, gue cuma mau titip pesan sama lu. Dendam akan menunda kebahagiaan lu. Dan Mahda bilang ke Gibran, perasaan gue sama dia gak pernah berubah." Ucap Fresa dengan nada terputus-putus.


"Om! Lepasin Fresa! Apa om yakin jika adik Om meninggal karena kak Faza? Bisa jadi adik Om meninggal karena tingkah Om sendiri! Lepasin temen gue sialan!!!" Tepat Mahda berteriak pintu di belakang Greg terbuka lebar akibat paksaan seseorang. Di sana, Gibran dan Evan memasuki ruangan tersebut dengan tenang, bahkan mereka tidak tahu bahaya apa yang akan menyerang mereka setelahnya.


"Greg! Lu menyentuh tunangan gue?! Wah cari mati dia!" Ucap Gibran dengan nada dinginnya.


"Matiin dah. Kalau bisa jadiin peyek." Balas Evan asal.


Di saat Gibran mendekati Greg, Greg malah menodongkan pistol ke arah dahi Fresa membuat Gibran menghentikan langkahnya.


"Okay! Jauhin pistol sialan itu dari Fresa, kita one by one." Kata Gibran membuat Greg tersenyum sinis.


"Maaf, gak tertarik." Balas Greg membuat Gibran geram sendiri.


"Fresa coba lu ulangi ucapin kata-kata terakhir lu!" Perintah Greg.


"Sebelum lu bunuh gue, gue cuma mau titip pesan sama lu. Dendam akan menunda kebahagiaan lu. Dan Gibran, perasaan gue sama lu gak pernah berubah." Ucap Fresa lirih.


Senyum Greg terbit di wajahnya, tanpa semua orang sadari, Fresa sudah bisa melepaskan ikatannya. Sampai...


"Lu gak bisa nyentuh gue sialan!" Balas Fresa sambil mendorong tubuh Greg, sedangkan pistolnya sudah jatuh entah ke mana.


Gibran dan Evan langsung berlari ke arah Fresa dan Mahda, tepat saat itu pula polisi memasuki gedung tersebut.


"Ada yang luka?!" Tanya Gibran panik.


"Gak kok, pulang Bran, gue mau tidur." Balas Fresa.


"Ya."


Mereka semua langsung meninggalkan TKP, sedangkan Greg sudah di urus oleh pihak berwenang. Jika saja Fresa salah mendorong Greg, Gibran tidak tahu apa yang akan terjadi dengan cewek cantik tersebut.


"Lain kali jangan kaya tadi, kalau lu terluka gimana?" Tanya Gibran lirih.


"Sorry, but gue gak janji" balas Fresa


Selama di perjalanan mereka saling diam. Sama halnya dengan Evan dan Mahda. Mereka lebih memilih diam. Karena akan ada waktu di mana mereka memiliki waktu untuk menjelaskan semuanya. Tidak sekarang, tapi nanti.


❤️❤️❤️