Galmoners

Galmoners
2



Masa Orientasi Siswa (MOS) 1


***


Suasana SMA Starlight, terlihat begitu ramai. Siswa


dan siswi dengan pakaian putih biru mulai memenuhi area sekolah. Mereka semua


datang bukan untuk demo, kunjungan, atau cari jodoh. Melainkan mereka sedang


menjalankan suatu program sekolah yang dimakan MOS atau masa orientasi siswa.


"Pagi adik-adik!!!" teriak Mahda membuat


ketiga sahabat Mahda dan yang lain langsung menatap panggung horor. Mereka


belum prepare atau bicara apapun tapi Mahda? Langsung naik ke panggung dengan


tampang polosnya?! Astaga!


"Pacar gue makin hari makin cantik aja. Jika


KUA dekat dari sini gue tarik tuh anak." tutur Evan sambil menatap Mahda.


"Eh buaya darat! Enak aja lu kata. Gue sama


yang lain gak bakal ikhlas kalau Mahda sama lu! Lu gak lupakan kita ini


musuhan? Dan jangan gunain gencatan senjata ini sebagai kesempatan buat kalian modus.


Awas aja!" omel Fanisa.


"Aduh Fanisa yang cantik ngalahin Raisa.


Jangan galak-galak dong. Nanti kalau akang makin cinta gimana?" tanya


Fano. Membuat Fresa menatap cowok itu bingung.


"Eh! Balok es! Lu kesambet?" tanya Fresa


ketus.


"Ya akang kesambet. Kesambet cintanya eneng


Fresa," balas Gibran membuat Fresa melempar buku yang sedang ia pegang.


Untung Gibran sigap jadi ia langsung menangkap buku tersebut.


"Aduh pagi-pagi udah modus aja sama bekasan


gue." celetuk Bian.


"Yeh orang gila! Mantan sebulan aja


belagu," kata Fanisa sinis.


"Sialan! Jaga mulut lu ya!" kata Bian


geram.


"Yeh! Lu sokap? Mulut-mulut gue ya terserah


gue," balas Fanisa.


"Bian... Bian... Gue heran sama lu. Ini yang


gagal move on itu lu apa Fresa? Tapi kayanya bukan Fresa deh, toh dia biasa


aja. Tapi lebih ke lu yang gagal move on," kata Evan.


"Nah! Bener banget Van. Ini kutu emang gak


bisa move on dari mantannya. Kasian banget ya?" ledek Fanisa.


"Eh, Mulut mercon! emang lu udah move


on?" tanya Bian sengit.


"Kepo dah lo," balas Fanisa dan Fresa


bersamaan.


"Gengs! Udah ya, lebih baik kita susul Mahda.


Kalian gak mau kan dia malu-maluin di sana?" tanya Kiki.


"Biarin aja dia di sana. Dia lagi galau gegara


doi makin mesra sama pacarnya," balas Fanisa menyindir Alex.


"Lu nyindir gue?" tanya Alex, mantan


sekaligus sahabat karib Bian.


"Gak! Nyindir orang yang tidak


berperikemanusiaan dan perikeadilan," balas Fanisa ketus.


Ya, Alex sama seperti Bian, namun masih brengsek


kan Bian. Jika Bian hampir melecehkan Fresa maka lain halnya dengan Alex. Dia


memutuskan Mahda tiba-tiba tanpa alasan jelas.


"Wihhh ada mantan. Hello, mantan! Apa kabarnya


hari ini?" tanya Mahda yang tiba-tiba bergabung. Emang dasar Mahda yang


ceria jadi siapapun akan dia sapa termasuk mantannya.


"Gue mah baik. Emang lu!" balas Alex


sinis.


Mahda mengernyit bingung, namun melihat wajah


sahabat-sahabatnya ia langsung paham jika Alex memancing amarah sahabatnya.


"Yeh gembel! Gue juga baik. Ya, gue doain aja


lu cepat putus sama cabe-cabean." celetuk Mahda.


Niatnya mau menjaga jarak malah bertemu dengan


mantannya. Sialan emang!


"Mendoakan hal buruk bertanda belum move


on." celetuk Bian.


"Yehhh si brengsek ada di sini! Eh gue kasih


tau ya, move on atau belum itu urusan kita dan lu jadi cowok jangan sok


kegantengan! Ingat karma berlaku brayy," kata Mahda.


Melihat suasana mulai menegang, Arkan langsung


mengambil tindakan sebelum sahabatnya ikut andil membela orang yang mereka cintai.


"Stop guys! Ingat tujuan kita di sini, jangan


sampai acara ini hancur karena ego kalian." kata Arkan tegas.


"Benar kata Arkan, untuk saat ini kita samping


kan masalah hati. Sekarang, waktunya kita sambut murid baru. So, forget


it!" kata Kiki membuat Arkan tersenyum.


Mahda dan yang lain menghela nafas kasar saat bos


besar sudah memerintah. Mereka mulai menaiki panggung mengikuti bos besar yang


lebih dulu menaiki panggung.


"Pagi adik-adik!" teriak Arkan.


"Pagi kakak ganteng." koor anak cewek


membuat Mahda dan kawan-kawannya tertawa.


"***** ganteng." celetuk Mahda membuat


gadis cantik itu di tatap tajam oleh Arkan.


"Ya, dia lumayan lah ya. Apalagi kalau lagi


pakai kacamata gini," kata Kiki membuat Mahda dan yang lain menatap Kiki


serius.


"Lu pac---"


"Gak lah!" potong Kiki saat tahu ke arah


mana pembicaraan Fanisa.


"Ya kalaupun lu pacaran kita mah dukung aja.


Asal jangan pria brengsek," ucap Fresa. Karena dia tidak mau sahabatnya


merasakan apa yang ia rasakan.


"Baiklah adik-adik. Sebelumnya kami ucapkan


selamat kepada kalian karena bisa melewati ujian dengan baik dan juga selamat


datang di rumah baru kalian, Starlight Senior High School," tutur Arkan


dan di sambut dengan tepuk tangan meriah.


"Okey, terima kasih atas tepuk tangannya. Nama


kakak Arkan Hutama. Ketua OSIS di SMA tercinta ini. Dan kakak juga wakil ketua


basket," kata Arkan.


"Hello semuanya! Nama kakak Gibran Pahlevi.


Wakil ketua OSIS dan kakak juga wakil ketua futsal. Ah satu lagi, pacar kakak.


Fresa Aditya." tunjuk Gibran ke arah Fresa yang sedang menatapnya tajam.


"Cieee.. patah hati ya. Nama kakak Fanisa


Wijaya. Sekretaris dan ketua jurnalis," kata Fanisa.


"Aduh adik-adik jangan patah hati ya, masih


banyak kakak tampan di sini yang jomblo kok. By the way. Nama kakak, Kiki


Rahardja. Bendahara dan ketua modern dance," ucap Kiki.


"Nama kakak Fano malik. Ketua basket,"


ucap Fano singkat.


"Nama gue Bian. Senior di sini dan gue anggota


basket." tutur Bian.


"Sama kaya Bian. Kakak senior di sini dan


sebelumnya jabatan kakak ketua OSIS dan ketua basket." jelas Alex.


"Nama kakak Fresa Aditya, anggota OSIS, dan


jurnalis," ucap Fresa malas.


Sebelum Gibran memulai modusnya, Fresa langsung


menginjak kaki Gibran. Beruntung cowok itu di sampingnya tadi, jadi ia bisa


melakukan kekerasan.


"Jangan envy sama mereka ya. Nama kakak Mahda


Adijaya. Ketua dari band sekolah," ucap Mahda.


"Hello fans! Nama kakak Evan Laksono. Ketua


futsal dan pacar dari Mahda," ucap Evan.


"Yeh? Lu gila?" tanya Mahda tajam.


"Ya aku gila! Gila karena kamu cantik."


tutur Evan membuat anak-anak berkoar "cie".


Perkenalan terus berlanjut kepada anak-anak OSIS dan


ekstrakulikuler lainnya.


"Baiklah karena sudah selesai semuanya.


Sebelumnya kakak akan kasih tau apa yang kalian lakukan seminggu ini. Hari


pertama perkenalan sekolah. Hari kedua, game dan hiburan. Terakhir camping


sekaligus penutup acara." Jelas Arkan.


"Seperti yang sudah Arkan katakan tadi,


sekarang kakak akan membacakan nama kelompok dan pembimbing kalian. Harap di


Selama pembacaan nama kelompok, Mahda sering kali


curi-curi pandang ke arah Alex. Membuat Fresa yang berdiri di sampingnya


mendengus kesal.


"Ada ya, orang udah di sakitin masih aja


baik," celetuk Fresa.


"Gue cuma masih mau nunggu alasan dia mutusin


gue Ca. Gue bodoh banget ya?" tanya Mahda sendu.


"No and yes," balas Fresa ambigu.


"Ish! Eca mah nyebelin!" kata Mahda


merajuk.


Fyi, Eca adalah panggilan untuk Fresa dari ketiga


sahabatnya.


"Sorry deh," balas Fresa acuh tak acuh.


Setelah Kiki selesai membacakan daftar kelompok,


anggota OSIS lainnya mulai gabung dengan kelompok mereka termasuk Galmoners dan


FEGA.


***


Fresa Aditya, tengah berjalan sendiri di lorong


sekolahnya. Ia meninggalkan kelompoknya di bawah bimbingan Gibran dan Bian.


Berada di sekitar mereka membuat kepala Fresa pening. Apalagi jika harus


mendengar ocehan dari si brengsek.


"Well... Well... Well... Ada sahabatnya kuman


di sini," kata cewek gembel dengan pakaian ketatnya.


"Eh? Biji cabe!" celetuk Fresa.


"Jaga ucapan lu ya!" bentak cewek di


depan Fresa.


"Ya gua jaga. Saking jaganya gue gak bakal


nikung orang!" kata Fresa tajam.


Fresa melihat perubahan wajah kakak kelasnya, hanya


bisa tersenyum  sinis. Dasar perusak hubungan orang!


Baru saja Fresa ingin kembali, bahunya di tarik


sehingga dirinya berbenturan dengan tembok.


"Merasa kalah heh?" tanya Fresa sinis.


Entah kapan cewek gila dihadapan Fresa mengambil


benda tajam karena saat ini dia tengah merasakan sakit di sekitar telapak


tangannya.


"Puas?" tanya Fresa tajam.


"Sangat! Bye sahabat kuman!" ucap cewek


gila.


Fresa mengumpat saat tangan kanannya sudah di


penuhi darah. Tidak perlu menunggu lama, dia langsung menghubungi ketiga


sahabatnya dan setelah itu ia terduduk lesu di lantai.


***


Mahda, Fanisa dan Kiki langsung berlari kencang


saat mendapati voice chat dari Fresa.


"Mahda, lu ke UKS. Gue ambil alat kebersihan


dan Fanisa lu susul Fresa!" perintah Kiki. Membuat mereka langsung


berpencar.


"Fresa!" teriak Fanisa.


"Hai, Fan! Gak ada yang curiga kan?"


tanya Fresa membuat Fanisa terdiam kaku.


"Ah! Sepertinya tidak." lanjut Fresa.


Fanisa menatap horor darah yang ada di tangan Fresa.


Ia bersumpah akan membalas siapapun yang melukai Fresa.


"Fresa!" teriak Kiki dan Mahda.


Mereka berjalan mendekati Fresa dengan barang


bawaannya. Meraka yakin, ini tidak cukup untuk di balut. Apalagi pecahan kaca


tersebut masih nyangkut di tangan Fresa membuat mereka menatap ngeri.


"Terpaksa kita har-----"


"Fresa?!"


Teriakan yang sangat mereka hafal membuat mereka


menegang. Bahkan keempat gadis cantik tersebut tidak berani memutar tubuhnya.


"Sudah kakak duga! Kalian minggir!"usir


kakak laki-laki Fresa, Faza.


Faza Aditya, pria tampan yang juga dokter ini


langsung mengobati adiknya. Ia sudah menduga jika ada hal buruk dengan adiknya


dan benar saja.


"Siapa pelakunya?" tanya Faza sambil


menjahit luka adiknya.


"Tadi aku jatuh kak," balas Fresa


berbohong.


"Baiklah jika kamu mau kakak yang turun


tangan. Jangan harap kakak akan melepaskan orang itu!" ucap Faza.


"Stop kak! Aku capek kalau kakak kaya gini, aku


juga mau kaya anak yang lain. Please, beri aku kesempatan aku akan balas


dia." kata Fresa.


"Baiklah, kakak kasih kamu waktu seminggu ini,


lepas itu jangan harap orang itu lepas dari genggaman kakak!" kata Faza.


Mahda dan kedua sahabatnya menahan nafas selama


mendengar perbincangan Fresa dan kakaknya. Faza adalah orang yang paling


menyeramkan, jadi mereka lebih baik tidak ikut campur saat Faza berbicara.


Karena bertemu dengan Faza sama halnya dengan bertemu malaikat maut.


"Kembali ke kelas kalian! Biar petugas


kebersihan yang membereskan." perintah Faza.


Di saat Galmoners meninggalkan TKP, Faza sudah


menyeringai di tempatnya. Ia bahkan langsung meminta anak buahnya untuk


mengambil rekaman cctv. Adiknya memang bisa menyelesaikan sendiri, tapi Faza


akan membalasnya berkali-kali lipat.


***


Ternyata, di saat Galmoners sibuk dengan Fresa


tadi, acara pengenalan selesai, bahkan tinggal anak OSIS yang sedang


mempersiapkan diri untuk esok.


"Syukurlah Ca. Kalau sampai lu ketemu Gibran,


gue gak tau dia bakal ngapain lu nantinya," kata Fanisa.


"Kenapa sama gue? Dan apa yang bakal gue


lakuin?" tanya Gibran tiba-tiba.


"Kepo lu kambing!" celetuk Fresa


mengalihkan keterkejutan mereka.


"Kalian perginya lama banget ada apa?"


tanya Arkan serius.


"Tadi di panggil guru," balas mereka


kompak.


"Widih! Sudah tyduck diragukan jika Galmoners


selalu kompak!" kata Evan.


"Hahaha.. lucu!" balas Fresa.


"Dia gak lucu Ca! Tapi lebay, dan saking


lebaynya, ingin gue musnahkan dia!" balas Mahda ketus.


"Kalau lu musnahin gue tar lu kangen


lagi." celetuk Evan.


"Hahaha kangen? Sama lu?! Najis!" balas


Mahda ketus.


"Tangan lu kenapa Ca?!" tanya Gibran.


"Lu tau gak ? Fresa jatuh gegara liat


ghost!" balas Fanisa antusias.


"Lu kira gue ****! Fresa gak takut sama yang


begitu!" omel Gibran. Membuat Fanisa mengumpat dalam hati.


"Gak usah ngomel berapa bro?" tanya Fano


dingin.


"Diem No! Tangan lu kenapa?!" tanya


Gibran sengit.


"Cuma jatuh tadi." balas Fresa lembut,


membuat emosi Gibran menghilang seketika.


"Anjay jinak!" ledek anggota OSIS yang


lain.


"Emang gue binatang buas!" umpat Gibran.


"Lu bukan binatang buas Gib! Tapi lu buaya


darat," balas Fanisa membuat yang lain terbahak.


Mereka bersyukur hari pertama berjalan dengan


lancar. Tanpa mereka sadari ada masalah yang terjadi hari esok. Dan semoga saja


Galmoners bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.


❤️❤️❤️