
Masa Orientasi Siswa (MOS) 1
***
Suasana SMA Starlight, terlihat begitu ramai. Siswa
dan siswi dengan pakaian putih biru mulai memenuhi area sekolah. Mereka semua
datang bukan untuk demo, kunjungan, atau cari jodoh. Melainkan mereka sedang
menjalankan suatu program sekolah yang dimakan MOS atau masa orientasi siswa.
"Pagi adik-adik!!!" teriak Mahda membuat
ketiga sahabat Mahda dan yang lain langsung menatap panggung horor. Mereka
belum prepare atau bicara apapun tapi Mahda? Langsung naik ke panggung dengan
tampang polosnya?! Astaga!
"Pacar gue makin hari makin cantik aja. Jika
KUA dekat dari sini gue tarik tuh anak." tutur Evan sambil menatap Mahda.
"Eh buaya darat! Enak aja lu kata. Gue sama
yang lain gak bakal ikhlas kalau Mahda sama lu! Lu gak lupakan kita ini
musuhan? Dan jangan gunain gencatan senjata ini sebagai kesempatan buat kalian modus.
Awas aja!" omel Fanisa.
"Aduh Fanisa yang cantik ngalahin Raisa.
Jangan galak-galak dong. Nanti kalau akang makin cinta gimana?" tanya
Fano. Membuat Fresa menatap cowok itu bingung.
"Eh! Balok es! Lu kesambet?" tanya Fresa
ketus.
"Ya akang kesambet. Kesambet cintanya eneng
Fresa," balas Gibran membuat Fresa melempar buku yang sedang ia pegang.
Untung Gibran sigap jadi ia langsung menangkap buku tersebut.
"Aduh pagi-pagi udah modus aja sama bekasan
gue." celetuk Bian.
"Yeh orang gila! Mantan sebulan aja
belagu," kata Fanisa sinis.
"Sialan! Jaga mulut lu ya!" kata Bian
geram.
"Yeh! Lu sokap? Mulut-mulut gue ya terserah
gue," balas Fanisa.
"Bian... Bian... Gue heran sama lu. Ini yang
gagal move on itu lu apa Fresa? Tapi kayanya bukan Fresa deh, toh dia biasa
aja. Tapi lebih ke lu yang gagal move on," kata Evan.
"Nah! Bener banget Van. Ini kutu emang gak
bisa move on dari mantannya. Kasian banget ya?" ledek Fanisa.
"Eh, Mulut mercon! emang lu udah move
on?" tanya Bian sengit.
"Kepo dah lo," balas Fanisa dan Fresa
bersamaan.
"Gengs! Udah ya, lebih baik kita susul Mahda.
Kalian gak mau kan dia malu-maluin di sana?" tanya Kiki.
"Biarin aja dia di sana. Dia lagi galau gegara
doi makin mesra sama pacarnya," balas Fanisa menyindir Alex.
"Lu nyindir gue?" tanya Alex, mantan
sekaligus sahabat karib Bian.
"Gak! Nyindir orang yang tidak
berperikemanusiaan dan perikeadilan," balas Fanisa ketus.
Ya, Alex sama seperti Bian, namun masih brengsek
kan Bian. Jika Bian hampir melecehkan Fresa maka lain halnya dengan Alex. Dia
memutuskan Mahda tiba-tiba tanpa alasan jelas.
"Wihhh ada mantan. Hello, mantan! Apa kabarnya
hari ini?" tanya Mahda yang tiba-tiba bergabung. Emang dasar Mahda yang
ceria jadi siapapun akan dia sapa termasuk mantannya.
"Gue mah baik. Emang lu!" balas Alex
sinis.
Mahda mengernyit bingung, namun melihat wajah
sahabat-sahabatnya ia langsung paham jika Alex memancing amarah sahabatnya.
"Yeh gembel! Gue juga baik. Ya, gue doain aja
lu cepat putus sama cabe-cabean." celetuk Mahda.
Niatnya mau menjaga jarak malah bertemu dengan
mantannya. Sialan emang!
"Mendoakan hal buruk bertanda belum move
on." celetuk Bian.
"Yehhh si brengsek ada di sini! Eh gue kasih
tau ya, move on atau belum itu urusan kita dan lu jadi cowok jangan sok
kegantengan! Ingat karma berlaku brayy," kata Mahda.
Melihat suasana mulai menegang, Arkan langsung
mengambil tindakan sebelum sahabatnya ikut andil membela orang yang mereka cintai.
"Stop guys! Ingat tujuan kita di sini, jangan
sampai acara ini hancur karena ego kalian." kata Arkan tegas.
"Benar kata Arkan, untuk saat ini kita samping
kan masalah hati. Sekarang, waktunya kita sambut murid baru. So, forget
it!" kata Kiki membuat Arkan tersenyum.
Mahda dan yang lain menghela nafas kasar saat bos
besar sudah memerintah. Mereka mulai menaiki panggung mengikuti bos besar yang
lebih dulu menaiki panggung.
"Pagi adik-adik!" teriak Arkan.
"Pagi kakak ganteng." koor anak cewek
membuat Mahda dan kawan-kawannya tertawa.
"***** ganteng." celetuk Mahda membuat
gadis cantik itu di tatap tajam oleh Arkan.
"Ya, dia lumayan lah ya. Apalagi kalau lagi
pakai kacamata gini," kata Kiki membuat Mahda dan yang lain menatap Kiki
serius.
"Lu pac---"
"Gak lah!" potong Kiki saat tahu ke arah
mana pembicaraan Fanisa.
"Ya kalaupun lu pacaran kita mah dukung aja.
Asal jangan pria brengsek," ucap Fresa. Karena dia tidak mau sahabatnya
merasakan apa yang ia rasakan.
"Baiklah adik-adik. Sebelumnya kami ucapkan
selamat kepada kalian karena bisa melewati ujian dengan baik dan juga selamat
datang di rumah baru kalian, Starlight Senior High School," tutur Arkan
dan di sambut dengan tepuk tangan meriah.
"Okey, terima kasih atas tepuk tangannya. Nama
kakak Arkan Hutama. Ketua OSIS di SMA tercinta ini. Dan kakak juga wakil ketua
basket," kata Arkan.
"Hello semuanya! Nama kakak Gibran Pahlevi.
Wakil ketua OSIS dan kakak juga wakil ketua futsal. Ah satu lagi, pacar kakak.
Fresa Aditya." tunjuk Gibran ke arah Fresa yang sedang menatapnya tajam.
"Cieee.. patah hati ya. Nama kakak Fanisa
Wijaya. Sekretaris dan ketua jurnalis," kata Fanisa.
"Aduh adik-adik jangan patah hati ya, masih
banyak kakak tampan di sini yang jomblo kok. By the way. Nama kakak, Kiki
Rahardja. Bendahara dan ketua modern dance," ucap Kiki.
"Nama kakak Fano malik. Ketua basket,"
ucap Fano singkat.
"Nama gue Bian. Senior di sini dan gue anggota
basket." tutur Bian.
"Sama kaya Bian. Kakak senior di sini dan
sebelumnya jabatan kakak ketua OSIS dan ketua basket." jelas Alex.
"Nama kakak Fresa Aditya, anggota OSIS, dan
jurnalis," ucap Fresa malas.
Sebelum Gibran memulai modusnya, Fresa langsung
menginjak kaki Gibran. Beruntung cowok itu di sampingnya tadi, jadi ia bisa
melakukan kekerasan.
"Jangan envy sama mereka ya. Nama kakak Mahda
Adijaya. Ketua dari band sekolah," ucap Mahda.
"Hello fans! Nama kakak Evan Laksono. Ketua
futsal dan pacar dari Mahda," ucap Evan.
"Yeh? Lu gila?" tanya Mahda tajam.
"Ya aku gila! Gila karena kamu cantik."
tutur Evan membuat anak-anak berkoar "cie".
Perkenalan terus berlanjut kepada anak-anak OSIS dan
ekstrakulikuler lainnya.
"Baiklah karena sudah selesai semuanya.
Sebelumnya kakak akan kasih tau apa yang kalian lakukan seminggu ini. Hari
pertama perkenalan sekolah. Hari kedua, game dan hiburan. Terakhir camping
sekaligus penutup acara." Jelas Arkan.
"Seperti yang sudah Arkan katakan tadi,
sekarang kakak akan membacakan nama kelompok dan pembimbing kalian. Harap di
Selama pembacaan nama kelompok, Mahda sering kali
curi-curi pandang ke arah Alex. Membuat Fresa yang berdiri di sampingnya
mendengus kesal.
"Ada ya, orang udah di sakitin masih aja
baik," celetuk Fresa.
"Gue cuma masih mau nunggu alasan dia mutusin
gue Ca. Gue bodoh banget ya?" tanya Mahda sendu.
"No and yes," balas Fresa ambigu.
"Ish! Eca mah nyebelin!" kata Mahda
merajuk.
Fyi, Eca adalah panggilan untuk Fresa dari ketiga
sahabatnya.
"Sorry deh," balas Fresa acuh tak acuh.
Setelah Kiki selesai membacakan daftar kelompok,
anggota OSIS lainnya mulai gabung dengan kelompok mereka termasuk Galmoners dan
FEGA.
***
Fresa Aditya, tengah berjalan sendiri di lorong
sekolahnya. Ia meninggalkan kelompoknya di bawah bimbingan Gibran dan Bian.
Berada di sekitar mereka membuat kepala Fresa pening. Apalagi jika harus
mendengar ocehan dari si brengsek.
"Well... Well... Well... Ada sahabatnya kuman
di sini," kata cewek gembel dengan pakaian ketatnya.
"Eh? Biji cabe!" celetuk Fresa.
"Jaga ucapan lu ya!" bentak cewek di
depan Fresa.
"Ya gua jaga. Saking jaganya gue gak bakal
nikung orang!" kata Fresa tajam.
Fresa melihat perubahan wajah kakak kelasnya, hanya
bisa tersenyum sinis. Dasar perusak hubungan orang!
Baru saja Fresa ingin kembali, bahunya di tarik
sehingga dirinya berbenturan dengan tembok.
"Merasa kalah heh?" tanya Fresa sinis.
Entah kapan cewek gila dihadapan Fresa mengambil
benda tajam karena saat ini dia tengah merasakan sakit di sekitar telapak
tangannya.
"Puas?" tanya Fresa tajam.
"Sangat! Bye sahabat kuman!" ucap cewek
gila.
Fresa mengumpat saat tangan kanannya sudah di
penuhi darah. Tidak perlu menunggu lama, dia langsung menghubungi ketiga
sahabatnya dan setelah itu ia terduduk lesu di lantai.
***
Mahda, Fanisa dan Kiki langsung berlari kencang
saat mendapati voice chat dari Fresa.
"Mahda, lu ke UKS. Gue ambil alat kebersihan
dan Fanisa lu susul Fresa!" perintah Kiki. Membuat mereka langsung
berpencar.
"Fresa!" teriak Fanisa.
"Hai, Fan! Gak ada yang curiga kan?"
tanya Fresa membuat Fanisa terdiam kaku.
"Ah! Sepertinya tidak." lanjut Fresa.
Fanisa menatap horor darah yang ada di tangan Fresa.
Ia bersumpah akan membalas siapapun yang melukai Fresa.
"Fresa!" teriak Kiki dan Mahda.
Mereka berjalan mendekati Fresa dengan barang
bawaannya. Meraka yakin, ini tidak cukup untuk di balut. Apalagi pecahan kaca
tersebut masih nyangkut di tangan Fresa membuat mereka menatap ngeri.
"Terpaksa kita har-----"
"Fresa?!"
Teriakan yang sangat mereka hafal membuat mereka
menegang. Bahkan keempat gadis cantik tersebut tidak berani memutar tubuhnya.
"Sudah kakak duga! Kalian minggir!"usir
kakak laki-laki Fresa, Faza.
Faza Aditya, pria tampan yang juga dokter ini
langsung mengobati adiknya. Ia sudah menduga jika ada hal buruk dengan adiknya
dan benar saja.
"Siapa pelakunya?" tanya Faza sambil
menjahit luka adiknya.
"Tadi aku jatuh kak," balas Fresa
berbohong.
"Baiklah jika kamu mau kakak yang turun
tangan. Jangan harap kakak akan melepaskan orang itu!" ucap Faza.
"Stop kak! Aku capek kalau kakak kaya gini, aku
juga mau kaya anak yang lain. Please, beri aku kesempatan aku akan balas
dia." kata Fresa.
"Baiklah, kakak kasih kamu waktu seminggu ini,
lepas itu jangan harap orang itu lepas dari genggaman kakak!" kata Faza.
Mahda dan kedua sahabatnya menahan nafas selama
mendengar perbincangan Fresa dan kakaknya. Faza adalah orang yang paling
menyeramkan, jadi mereka lebih baik tidak ikut campur saat Faza berbicara.
Karena bertemu dengan Faza sama halnya dengan bertemu malaikat maut.
"Kembali ke kelas kalian! Biar petugas
kebersihan yang membereskan." perintah Faza.
Di saat Galmoners meninggalkan TKP, Faza sudah
menyeringai di tempatnya. Ia bahkan langsung meminta anak buahnya untuk
mengambil rekaman cctv. Adiknya memang bisa menyelesaikan sendiri, tapi Faza
akan membalasnya berkali-kali lipat.
***
Ternyata, di saat Galmoners sibuk dengan Fresa
tadi, acara pengenalan selesai, bahkan tinggal anak OSIS yang sedang
mempersiapkan diri untuk esok.
"Syukurlah Ca. Kalau sampai lu ketemu Gibran,
gue gak tau dia bakal ngapain lu nantinya," kata Fanisa.
"Kenapa sama gue? Dan apa yang bakal gue
lakuin?" tanya Gibran tiba-tiba.
"Kepo lu kambing!" celetuk Fresa
mengalihkan keterkejutan mereka.
"Kalian perginya lama banget ada apa?"
tanya Arkan serius.
"Tadi di panggil guru," balas mereka
kompak.
"Widih! Sudah tyduck diragukan jika Galmoners
selalu kompak!" kata Evan.
"Hahaha.. lucu!" balas Fresa.
"Dia gak lucu Ca! Tapi lebay, dan saking
lebaynya, ingin gue musnahkan dia!" balas Mahda ketus.
"Kalau lu musnahin gue tar lu kangen
lagi." celetuk Evan.
"Hahaha kangen? Sama lu?! Najis!" balas
Mahda ketus.
"Tangan lu kenapa Ca?!" tanya Gibran.
"Lu tau gak ? Fresa jatuh gegara liat
ghost!" balas Fanisa antusias.
"Lu kira gue ****! Fresa gak takut sama yang
begitu!" omel Gibran. Membuat Fanisa mengumpat dalam hati.
"Gak usah ngomel berapa bro?" tanya Fano
dingin.
"Diem No! Tangan lu kenapa?!" tanya
Gibran sengit.
"Cuma jatuh tadi." balas Fresa lembut,
membuat emosi Gibran menghilang seketika.
"Anjay jinak!" ledek anggota OSIS yang
lain.
"Emang gue binatang buas!" umpat Gibran.
"Lu bukan binatang buas Gib! Tapi lu buaya
darat," balas Fanisa membuat yang lain terbahak.
Mereka bersyukur hari pertama berjalan dengan
lancar. Tanpa mereka sadari ada masalah yang terjadi hari esok. Dan semoga saja
Galmoners bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.
❤️❤️❤️