Galmoners

Galmoners
Part 31



Operasi!


Aku takut perasaan nyaman ini membuat ku tidak bisa melepaskan kamu...


Aku takut perasaan ini membuat aku tertahan di suatu dimensi lain...


Aku takut perasaan ini membuatku sulit mengucapkan kata perpisahan...


Lalu aku harus apa?



Dia sebuah ruangan serba putih. Terdengar suara canda tawa yang mengalun dengan indah.


Fresa dan Gibran tengah asik menikmati waktu berdua mereka. Bahkan, Gibran sangat takut dengan perubahan Fresa kali ini. Dia takut ini adalah terakhir kalinya dia melihat Fresa.


"Ca, Jangan kaya gini. Gue takut." Kata Gibran jujur.


"Takut kenapa? Seorang Gibran yang terkenal absurd tiba-tiba takut pada hal yang tidak jelas? Waw!" Ledek Fresa.


"Bukan gitu kambing!" Balas Gibran.


"Terus apa dong?" Tanya Fresa dengan nada polosnya.


"Gak usah sok polos, udah ah. Pokoknya gue kesel sama lu. Pertama, jangan kaya gini gue ngerasa aneh. Kaya bukan Fresa banget. Kedua, omongan kita barusan kaya lu mau pergi ke mana gitu. Terakhir, gue belum siap lu tinggal pergi. Gue gak tahu apa jadinya jika gak ada lu." Ucap Gibran lirih.


Fresa mengambil tangan Gibran dan mulai menggenggam tangannya dengan erat.


"Bran janji ya, jika terjadi hal buruk sama gue. Lu harus move on. Cari wanita lain yang bisa lu jadikan teman hidup. Gue yakin tampang ganteng lu berguna kok. Ah! Satu lagi. Jangan pernah berubah. Ada atau gak adanya gue jangan pernah berubah." Kata Fresa.


"Ca, tahu gak? Kenapa gue suka sama lu? Karena lu berbeda. Lu buat gue ngerasa nyaman. Bahkan saat kita berdua kaya gini, gue merasa lu itu udah separuh hidup gue. Gue gak tahu kenapa. Hati gue selalu maunya sama lu." Balas Gibran serius. Ia tak pernah berbohong dengab ucapannya barusan.


"Bukan gak mau Bran. Tapi belum. Lu belum aja nemu sosok lain di kehidupan lu. Gue yakin cewek itu akan lebih baik dari gue." Tutur Fresa.


"Gak! Gue maunya sama lu! Janji sama gue kalau lu bakal kembali. Janji sama gue kalau lu bakal ada di sisi gue. Janji sama gue kalau kita bakal tua bareng! Janji Ca!" Teriak Gibran frustasi.


"Gue janji. Jika gue gak bisa nepati janji gue, tolong lupakan gue. Lupakan semua tentang gue. Dan hiduplah dengan baik di sini." Balas Fresa sambil menahan laju air mata yang ingin mengalir.


"Nona Fresa, sudah waktunya." Ucapan suster membuat Fresa merasakan kematiannya semakin dekat.


"Janji Ca, gue mohon." Pinta Gibran tanpa sadar air mata sudah turun melalui media bola matanya.


"Insyaallah. Doakan gue ya."


Lepas berbicara dengan Gibran, Fresa di pindahkan ke ruang operasi. Pagi itu, Gibran tidak bisa berpikir jernih. Bahkan yang ia lakukan saat ini hanya duduk sambil berdoa berharap sang pencipta mengabulkan permohonannya.


Tiga puluh menit Fresa di dalam, barulah keluarga besar Fresa dan sahabat-sahabatnya datang. Gibran yakin mereka semua rela meninggalkan hal penting bagi kehidupan mereka demi menemani Fresa.


"Gue yakin Fresa kembali bro, jadi jangan manyun gitu enek gue liatnya." Ledek Evan.


"Kambing!" Balas Gibran saat Evan memeluknya.


"Alah, kangen bilang aja. Kita gak ketemu bro selama... Ah! 2 jam." Ucap Evan membuat Fano menjitak kepalanya.


"Kenapa si No? Lu iri sama gue?" Tanya Evan yang di balas dengan dengusan.


Fanisa melihat tingkah laku Evan merasa terhibur, tapi sesuatu lain yang ia rasakan membuat dirinya tidak tenang. Contohnya, pembicara Fano dan Gibran beberapa hari yang lalu. Walaupun ia tidak tahu siapa orang yang di maksud, tapi Fanisa yakin orang itu berhubungan dengan seseorang yang ia kenal. Tapi, Fanisa tidak bisa bertanya. Dia takut jika jawaban mereka membuat dirinya sakit.


"Kenapa Fan?" Tanya Kiki


"Gak. Gue ke toilet dulu." Balas Fanisa.


Langkah kaki Fanisa mulai menyusuri lorong rumah sakit, namun langkahnya terhenti saat mendengar nama sahabatnya di sebut.


"Tenang saja, operasi gak bakal buat dia hidup. Bahkan dokter hanya bisa memberikan 1% persentase kehidupannya. Jadi lu gak usah takut. Rencana kali ini akan berjalan dengan lancar. Soal Firhan yang di tahan itu urusan nanti, siapa suruh masuk di saat gue selesai membunuh Fresa. Jadi biarkan saja dia di penjara."


Bisakah Fanisa marah saat ini? Jadi Firhan dipenjara? Dan itu semua ulah--astaga! Fanisa harus membuka kedok cowok sialan itu!


Prok... Prok... Prok...


"Ternyata anda yang menjebak tunangan saya!" Kata wanita cantik, membuat Fanisa menahan langkahnya dan kembali bersembunyi.


"Kenapa? Mau marah? Bukannya tunangan lu itu masih cinta sama mantannya dan sialnya lagi mantannya juga masih cinta sama dia. Paling ni ya, kalau mereka kembali dekat lu akan di buang!"


"Ouh ya? Terus gue peduli? Gak! Gue emang cinta sama Firhan. Bukan berarti cinta gue akan menyakiti Firhan ataupun mantannya. Jika pun Firhan bukan milik gue kenapa? Itu tandanya takdir tuhan tidak berpihak pada gue."


Fanisa tertohok. Ia merasa menjadi wanita jahat saat ini. Ia tidak menyangka di balik semua perhatian Firhan beberapa hari ini, ada sosok yang menahan sakit? Astaga Fanisa sudah berubah menjadi jahat. Seandainya Fanisa tahu semuanya dari awal dia akan menjauhi Firhan. Apalagi mereka sudah bertunangan.


"Lu terlalu baik, lu gak tahu Fanisa sama Firhan pernah pelukan di sini." Pancing cowok tersebut.


"Gue tahu, dan gue liat. Bahkan cowok yang mencintai Fanisa itu juga melihat adegan itu. Apa dia marah? Gak. Karena kita tahu, mereka masih tersesat dengan perasaan mereka sendiri. Mereka tidak sadar jika perasaan baru muncul di hati mereka. Udahlah jangan bahas masalah ini. Gue mau lu lepasin Firhan atau gue bongkar semuanya!" Ancam cewek tersebut.


Fanisa yakin cowok yang dimaksud ialah Fano. Pantas saja saat mereka bertatap wajah Fano menghindar. Dasar bodoh! Tapi apakah benar yang cewek itu ucapkan? Jika dirinya sudah jatuh pada Fano?


"Lu ngancam gue?! Gue gak takut! Gue yakin gak ada satupun orang yang akan percaya sama lu!" Bentak cowok tersebut.


"Sayangnya ada ini" balas cewek tersebut sambil menunjukkan sebuah rekaman. Membuat cowok tersebut langsung mencekik lehernya.


Uhukkk... Uhuk....


"Lu gak apa?" Tanya Fanisa.


"Hemm.. thanks." Balasnya.


"Gue--"


"Fanisa. Gue tahu kok. Gua Fani." Balasnya. Membuat Fanisa kaget.


"Ah? Senang bertemu dengan anda." Kata Fanisa.


"Gue-lu aja. Kita cuma beda setahun." Balas Fani.


Fanisa tidak menyangka jika Firhan mendapatkan perempuan yang lebih darinya. Dan sayangnya Firhan bodoh melihat semuanya.


"Okey. Gue duluan ya mau ke kamar mandi." Balas Fanisa.


"Hem. Gue mau ke kantor polisi. Terima kasih sudah bantu gue."


"Ah! Fani, gue udah gak cinta sama Firhan jadi lu tenang saja. Pelukan kemarin hanya pelukan perpisahan dan gue yakin Firhan juga cinta sama lu. so, semangat!" Teriak Fanisa membuat Fani tersenyum.


Keduanya berpisah tempat. Dan keduanya berharap di pertemukan di waktu yang lebih baik.



Kini, Fanisa dan yang lain tengah menunggu hasil akhir dari operasi ini. Ayahnya Fresa yang jadi penyumbang sum-sum tulang belakang, sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Sedangkan Fresa? Belum ada tanda-tanda jelas jika wanita itu mau bangun. Terlihat dari kaca jika wanita cantik itu masih menutup matanya.


Hal tersebut membuat Gibran dan Fanisa langsung panik. Mereka takut jika hal buruk terjadi pada Fresa.


Namun...


Mata Fresa mulai terbuka, dokter mulai menanyakan apapun pada Fresa. Membuat Fanisa dan Gibran tersenyum senang.


Fresa yang berada di dalam ruangan tersebut hanya bisa menjawab dokter dengan sekenanya. Sekarang, Fresa memenuhi janjinya pada seseorang. Fresa tidak perlu khawatir lagi. Mungkin tuhan ingin memberikan kesempatan padanya.


"Kami akan memantau kamu selama beberapa minggu. Jika operasi ini berhasil, kamu akan keluar dari rumah sakit ini." Kata dokter.


"Terima kasih."


Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Fresa langsung dia bawa keluar dari ruang operasi. Tangisan kebahagiaan mulai Fresa lihat dari sahabat-sahabatnya.


"Ahhhhh fresaaaaaa... Akhirnya." Kata Mahda


"Fresa kita kembali!" Ucap Kiki.


"Gue tahu, lu bukan orang yang ingkar janji." Tutur Fanisa.


Ketiga orang tersebut memeluk tubuh Fresa. Membuat Fresa tanpa sadar menangis. Ia tidak tahu kenapa saat ini ia ingin menangis. Bahkan rasanya sangat tidak percaya jika ia bisa kembali lagi ke sini. Rasanya mustahil di saat dirinya di ambang kematian.


"Terima kasih gengs!" Ucap Fresa.


Hari itu, adalah awal dari perjalanan mereka sesungguhnya. Di hari itu, mereka semua mendapatkan kabar jika Bian di tangkap polisi. Bukan hanya itu saja, kedatangan Firhan bersama dengan tunangannya membuat Fanisa dan yang lain tersenyum. Fresa sadar, jika sahabatnya yang satu itu sudah ikhlas melepaskan Firhan seperti halnya dengan Kiki.


Fresa berharap, sahabatnya menemukan kekasih hati mereka masing-masing.


"I love you Fresa..." Bisik Gibran di tengah keramaian ruang perawatan Fresa.


"Hmm..." Balas Fresa.


"Sosor terus ya Bran! Lupa kalau ada jomblo di sini!" Ujar Evan saat melihat Gibran mengecup dahi Fresa.


"Iri aja dah lo. Tuh Mahda ada atau lu mau si Fanisa juga boleh. Kalau Kiki jangan, dia udah taken!" Kata Gibran membuat seseorang berteriak.


"What?! Lu jadian sama siapa Ki?! Kok gak bilang-bilang?!" Kata Mahda.


"Pengen surprise aja si nanti. Intinya, gue sama Arkan jadian dan baru dua hari." Balas Kiki kikuk.


"Hem.. hem... PJ bisa kali." Ledek Fresa.


"Peja peje! Harusnya lu! Tunangan kapan tahu tapi gak pernah traktiran!" Omel Kiki.


"Setuju Ki! Keluar dari rumah sakit makan-makan." Balas Evan.


Canda tawa memenuhi ruangan tersebut. Bahkan Fresa sendiri terhibur dengan kedatangan mereka semua. Fresa mengucapkan terimakasih kepada papanya. Karena pahlawannya itu sudah berjuang untuk kesembuhannya.


Fredrick tersenyum tipis saat melihat gerakan bibir anaknya. Karena diapun sangat bahagia melihat Fresa saat ini. Dan ia harap Fresa akan selalu bahagia.


Lagi-lagi, dibalik kebahagiaan mereka. Ada sosok lain yang menatap penuh kebencian. Ia harap permainan selanjutnya lebih menyenangkan, karena Fresa sudah kembali.


"Lihat saja, gue akan buat sahabat kalian mati saat itu juga." Kata sosok tersebut dan menghilang bersamaan dengan keramaian rumah sakit.


❤️❤️❤️