Galmoners

Galmoners
Part 7



Camping 1.3


iri adalah sifat yang merusak diri



Kelompok Fano sedang mendapat masalah. Pasalnya, penunjuk jalan yang biasa ada di pohon hilang. Hal tersebut membuat Fano dan yang lain sibuk. Sampai teriakan seseorang menyadarkan mereka. Sosok kakak kelasnya menemukan penunjuk jalan yang terletak di bawah pohon besar. Tanpa menunggu lama mereka meninggalkan tempat tersebut, kecuali Fano.


"Kalian duluan! Gue mau cari Fanisa." Ucapan Fano membuat yang lain menghentikan langkah kaki mereka.


"Fanisa hilang?!" Tanya kakak kelasnya.


"Kayanya kak, soalnya dari tadi dia gak muncul."


"Mungkin ini ulah Fanisa. Bisa aja kan cewek itu menyembunyikan penunjuk jalan dan dia kembali sendiri saat tidak kuatnya di alam? Kan anak orang kaya beda sama kita." Kata perempuan cantik, yang Fano tebak dia kakak kelasnya.


"Sepertinya dugaan anda salah. Fanisa tidak seperti itu, dan jika anda ingin menjadi kompor jangan di depan saya!" Fano menatap kakak kelasnya tajam.


"Gue bukan jadi kompor, ya kali aja dia kaya gitu. Siapa yang tahu." Balas cewek itu asal.


"Terkadang orang yang menyalahkan orang lain, ialah pelaku utama. Atau jangan-jangan kakak pelakunya?" Pertanyaan Fano membuat kakak kelasnya menegang. Detik itu juga Fano meninggalkan kelompoknya dan pergi mencari Fanisa. Ia bersumpah akan membalas perempuan tersebut!


"Fano!!!!!"


Teriakan Fanisa membuat Fano menghentikan langkahnya. Ia mencari keberadaan di tempat ia berdiri. Sampai, Fano melihat Fanisa di bawah tempat ia berdiri. Melihat kondisi Fanisa seperti ini, membuat Fano emosi, namun baru saja ia ingin menolong Fanisa secara frontal, sahabatnya menahan.


"Gue tahu lu mencintai dia, Tapi jika lu gak memperhitungkan semuanya lu akan sama aja kaya dia. Tunggu bala bantuan, gue tadi sudah minta kelompok lu untuk cari bantuan"


"Thanks Gibran!" Saat Fano menengok ke arah Gibran, tanpa sengaja dia melihat sosok wanita yang tengah tersenyum bahagia ke arahnya.


"Lu tahu siapa pelakunya sekarang?" Pertanyaan Gibran membuat Fano mengernyit, bingung.


"Dia pelaku yang sama dengan orang yang mau mengadu domba Fresa. Untung saja Fresa dan yang lain sigap. Gue yakin jika mereka tidak sigap, Galmoners akan mengalami hal buruk." Jelas Gibran.


"Fresa di sini?" Tanya Fano.


"Ya dia baru sampe tadi, gue kan gak ngumpul hp, jadi gue bisa lacak si Fresa. Baru mau buat kejutan malah gue yang dapat kejutan. Sialan emang!" Dengus Gibran.


Fano paham, musuh mereka adalah orang yang mereka kenal. Sangat di sayangkan.



"Bu!!!! Fanisa jatuh ke jurang dan dia tersangkut di dahan pohon. Jika kita tidak cep--"


"Dimana Fanisa?!" Bentak Fresa. Ya, tadi Fresa sedang ingin berkeliling. Tapi melihat orang panik membuat Fresa penasaran.


"Kamu tunggu di sini, ibu akan memanggil petugas."


Di saat gurunya pergi, Fresa meminta cewek yang tadi mengabarkan mengantar dirinya. Faza dan Felly yang baru tiba mengambil sesuatu di mobil tidak tahu jika Fresa sedang dalam masalah.


Fresa mengikuti arah yang di tunjukkan oleh teman beda jurusannya. Namun, melihat sosok yang berdiri di depannya membuat Fresa mengerti satu hal. Dia di jebak!


"Well... Well... Well... Teman si kuman tiba, thanks sudah bantu gue."


"Mau lu sebenarnya apa si?! Kehancuran Galmoners?! Gue gak bakal biarkan itu terjadi!" Balas Fresa.


"Sayangnya hal itu akan terjadi Fresa. Kalian akan hancur sesuai dengan skenario gue."


"Ouh ya? Masa sih? Kok gue ngerasa bau-bau kekalahan ya?" Balas Fresa sinis.


Melihat wajah Fresa yang tenang membuat sosok cantik tersebut geram. Ia langsung menerjang tubuh Fresa, namun gagal karena Fresa lebih dulu menghindar.


"Ngapain lu di sana? Ngepel tanah?" Itu bukan suara Fresa, melainkan sosok tampan yang sangat ia kenali. Sosok yang membuat masalah dengannya sebelum ia pergi, Gibran Pahlevi.


"Sial! Awas lu berdua gue bakal balas kalian." Ucap cewek tersebut dan pergi meninggalkan Fresa dan Gibran.


"Bagus lu ada di sini! Tunjukan jalan ke tempat Fanisa." Perintah Fresa membuat Gibran langsung menggenggam tangan Fresa dan membawanya ke tempat tadi ia berbincang dengan Fano.


"Gue dan Fano sudah tahu siapa pelakunya. Karena dia sangat pintar memainkan emosi, gue harap lu gak gegabah." Ucapan Gibran membuat Fresa menatap sahabat kecilnya tersebut. Dan Fresa membenarkan semuanya.



Mahda dan Kiki menunggu kedatangan Fanisa dan Fresa. Mereka tidak menyangka jika Fresa bisa senekat ini memasuki hutan yang tidak ia tahu seluk-beluknya. Bahkan raut wajah Faza dan Felly yang sangat khawatir membuat keduanya saling pandang. Seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan.


Mahda dan Kiki langsung berlari saat melihat Fanisa di gendong oleh Fano. Luka di kening Fanisa membuat mereka sadar jika Fanisa mengalami hal buruk. Felly yang melihat kedatangan mereka, langsung meminta Fano membawa Fanisa ke tenda Galmoners. Sedangkan Fresa? Dia sedang mendapat ceramah dari sang kakak.


"Apa pelaku Fanisa sama dengan pelaku yang melukai Fresa?" Tanya Kiki.


"Ya." Balas Fresa. Karena memang pelakunya sama. Tapi Fresa yakin ada pelaku lain yang bekerja di belakang mereka. Pasalnya di saat Fresa tatap muka dengan cabe tadi, ada seseorang yang mengawasi dia. Berarti bukan hanya cabe dan anteknya tapi ada yang lain lagi. Sialan!


"Kenapa Ca? Ada yang lu sembunyikan?" Pertanyaan Mahda membuat Fresa tersadar dari lamunannya.


"Gak. Cuma kepikiran Fanisa." Balas Fresa. Namun tidak bagi Gibran dan Fano, kedua orang tersebut sudah paham apa yang di sembunyikan Fresa. Ingatkan mereka untuk berbicara enam mata nanti. Ya, kalau Fano ajak berbincang empat mata yang ada Gibran ngamuk.


"Apa lu gak mau kasih tahu kita siapa pelakunya?" Tanya Kiki.


"Tunggu Fanisa ya, gue takut beda orang." Balas Fresa. Bukan Fresa tidak mau jujur dengan sahabatnya. Tapi, Fresa yakin ada orang lain yang melukai Fanisa. Dan pastinya bukan dua orang yang ia temui di tenda dan si cabe. Tapi mungkin aja si cabe pelakunya. Kan yang otaknya kriminal cuma dia.


"Fresa bisa masuk ke tenda, ada yang Fanisa ingin jelaskan." Kata Felly.


Baru saja Mahda ingin protes, Alex datang ke tempat mereka dan meminta Mahda untuk berbincang empat mata. Karena perasaan senang, Mahda langsung mengiyakan saja. Bahkan tanpa Mahda sadari semua akan berubah setelah ini.


"Kak Felly, boleh saya ikut ke dalam?" Tanya Kiki membuat Arkan dan Evan yang baru datang bingung.


"Boleh deh, kalian berempat jaga tenda ini, jika ada yang mencurigakan tahan di pikiran kalian dan laporkan nanti!" Perintah Felly.


"Siapp kakak ipar!" Balas Gibran. Membuat yang lain tersenyum atas tingkah laku Gibran.


Sebenarnya, jika Kiki boleh jujur ia bingung dengan situasi ini. Situasi ini mengingatkan ia akan kejadian dimana Mahda membentak Fresa dan berakhir dengan hubungan mereka merenggang. Kiki sangat berharap kejadian itu tidak terulang kembali. Ya, dia berharap itu.



Mahda dan Alex memilih duduk di bawah pohon. Entah kenapa Mahda tiba-tiba merasa senang. Karena, saat Cheryl izin ke toilet. Alex selalu mengajaknya berbincang. Bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih saat itu. Makanya saat Alex mengajaknya ke suatu tempat, hati Mahda kembali berdebar kencang. Ia tidak menyangka jika harus berdekatan kembali dengan mantannya.


"Jadi apa yang mau lu omongin?" Tanya Mahda.


"Gue mau minta maaf. Maaf gue mutusin lu tiba-tiba, karena Fresa mengancam gue Da. Dia bilang, jika gue gak mutusin lu dia akan membunuh Cheryl. Mungkin kalian mikir gue sama Cheryl pacaran? Nyatanya gak. Gue sama dia saudara jauh. Dan saat lu liat gue mesra sama Cheryl, itu tandanya dia di ancam. Dan orang yang ngancem dia--"


"Fresa?" Potong Mahda membuat Alex terdiam.


"Ternyata dugaan gue benar, karena Fresa ingin menghancurkan hubungan kita? Apa dia iri karena dia gak bisa mendapatkan Gibran? Gue gak habis pikir sekarang!" Ucap Mahda Dengan wajah tidak percaya.


"Jadi, lu mau balikan sama gue kan?" Pertanyaan Alex tiba-tiba membuat Mahda mengangguk.


Mahda sangat amat bahagia. Ternyata Alex mencintai dirinya. Buktinya dia dengan Cheryl hanya saudara jauh. Ternyata selama ini, Fresa membohongi dirinya. Sial!


Sosok yang bersembunyi tidak jauh dari mereka tersenyum bahagia. Akhirnya permainan mereka di mulai. Mereka tidak sabar dengan kehancuran Fresa dan Galmoners. Ah sangat amat tidak sabar!


"Jangan kasih tahu Fresa. Kamu cukup pura-pura tahu aja. Karena kalau kamu memberi tahu Fresa dia ak--"


"Dia akan ancam Cheryl? Tenang saja aku tidak akan berbicara apapun. Aku cuma bilang kita balikan dan kamu putus sama Cheryl." Balasan Mahda membuat Alex tersenyum.


Mereka memutuskan untuk kembali. Genggaman tangan Alex di tangan Mahda membuat gadis cantik itu bahagia.


"Terima kasih Alex" kata Mahda tulus.


"Anything for you baby." Balas Alex sambil mengecup tangan Mahda.


FEGA dan Galmoners hanya diam saja melihat semua kejadian di depan mata mereka. Karena, jika mereka menjelaskan semuanya, Mahda akan kembali seperti dulu. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Karena mereka yakin Mahda akan sadar dengan sendirinya.


❤️❤️❤️