
Everything Has Changed 2
Jam istirahat membuat semua warga Starlight mulai memasuki kawasan kantin. Begitupun dengan Galmoners.
Mahda dan kawan-kawannya duduk di tempat biasa bersama dengan FEGA. Namun geng mereka kekurangan satu personel yaitu, Fresa dan Gibran. Kedua orang tersebut tengah sibuk di rumah sakit. Fanisa yang sempat di kabari Gibran, langsung menghubungi yang lain. Awalnya mereka ingin menyusul tapi, karena tidak dapat izin mereka memilih mengalah.
"Makanya gue ajakin kabur mau." Celetuk Evan saat melihat wajah muram Mahda dan sahabatnya.
"Pengennya gitu Van. Tapi--"
"Ki hidup jangan kebanyakan tapi, kalau emang kalian mau cabut ayok aja!" Ajak Evan.
Baru saja Mahda ingin menjawab, Alex datang ke meja mereka. Membuat Evan dan yang lain saling pandang.
"Mahda aku minta maaf tentang tadi pagi." Perkataan Alex membuat Mahda mendengus kesal. Bahkan kini Mahda melengos pergi meninggalkan kantin. Membuat yang lain langsung mengikuti Mahda.
"Makanya kalau suka sama satu cewek. Satu aja. Tampang kaya lu gak cocok jadi playboy." Bisik Evan membuat Alex geram.
Alex menatap kepergian mereka semua dengan penuh kebencian. Benci karena usahanya mendekati Mahda gagal hari ini.
"Di tolak bro? Kasian." Ledek Bian.
"Ngaca orang mah!" Balas Alex sambil meninggalkan Bian yang tengah tersenyum penuh misterius.
Di sebuah rumah sakit, Gibran bersama dengan keluarga Fresa dan keluarganya tengah menunggu keputusan dokter yang tengah menangani Fresa.
Sejak mendatangi rumah sakit, dokter selalu memeriksa kondisi Fresa. Entah apa yang di lakukan di dalam sana membuat Gibran ingin sekali mendobrak pintu di depannya.
Namun sayang, Gibran tidak segila itu untuk melakukan hal tersebut. Mungkin nanti, Bukan sekarang.
"Sabar Za, adik kamu sedang berjuang." Kata Fresca.
"Sabar mah?! Di saat dia bisa operasi kenapa gak? Dan dia itu terlalu bodoh dengan memilih percaya dengan kemo yang buat dia mati perlahan!"
Suara Faza menjadi bumerang saat ini. Pasalnya, Gibran tengah menatap pria dewasa didepannya dengan wajah penuh amarah.
"Jaga mulut lu! Jangan sampai wajah tampan lu habis di tangan gue!" Bentak Gibran.
Di saat suasana di luar menegang, maka suasana di dalam ruang Fresa juga sama-sama menegang. Pasalnya detak jantung Fresa kini sangat lemah. Bahkan sosok cantik tersebut terlihat sangat pucat.
Felly pun tidak kuasa menahan tangisnya saat melihat kondisi Fresa yang jauh dari kata baik.
Felly pun tidak tahu, apakah operasi akan memperbaiki semuanya? Atau malah semakin memperburuk. Felly hanya dokter yang melakukan semua usaha sesuai dengan perannya. Sedangkan yang mengatur semuanya ialah, Tuhan.
Felly bersama dengan yang lain terus melakukan semua usaha yang ia mampu, namun semua tidak berjalan dengan baik.
Sekarang, di hadapannya. Fresa--Felly tidak sanggup menjelaskan kepada keluarga Fresa. Dia takut semua orang akan kecewa. Dia takut semua orang akan sedih. Felly tidak mau melihat kesedihan mereka saat ini.
Di saat Felly keluar ruangan, semua keluarga Fresa dan Gibran tengah menunggu. Lagi-lagi Felly tidak kuat menjelaskan semuanya. Felly tidak tahu harus mulai dari mana.
Melihat wajah berharap mereka membuat Felly tidak kuat menahan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya.
Bahkan kini, butiran bening tersebut sudah turun. Membuat sosok bertampang dingin yang sedari tadi diam langsung memeluk tubuhnya.
"Fresa tidak mati kan?" Pertanyaan Faza membuat Felly memukul bahunya.
"Terus kenapa nangis?" Tanya Faza sabar.
"Karena Fresa. Fresa hiksss.. "
Faza menghela nafasnya. Bagi Faza perempuan itu sangat merepotkan dan berbelit. Faza sangat tidak suka akan hal tersebut.
Baru saja Faza ingin masuk ke dalam sana, Felly berujar sesuatu yang membuat Faza diam.
"Fresa koma."
Perkataan tersebut bukan hanya membuat Faza terdiam. Melainkan semuanya. Termasuk Mahda dan kawan-kawannya yang baru tiba di rumah sakit.
"Bagaimana bisa?!" Balasan spontan mahda membuat Felly menatapnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin jika sudah ke hendak sang maha kuasa."
Di saat semua larut dalam pikiran mereka. Maka, Gibran langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Fresa.
Saat masuk, Gibran melihat wajah pucat pasi Fresa. Hal tersebut membuat dirinya ingin sekali menangis. Menangis akan semua hal yang terjadi saat ini.
Gibran mendekati tubuh Fresa. Tidak ada kata-kata kasar yang ia dengar saat ini. Hanya ada sosok cantik yang tertidur pulas dengan suara pendeteksi jantung.
Gibran duduk di samping kasur Fresa sambil menggenggam tangan Fresa.
"Kenapa lu tidur di saat yang tidak tepat sayang? Lu tahu? Mahda sudah berubah. Dia sudah mulai percaya dengan semua bukti yang lu kasih ke dia. Dia juga sudah berani menolak si Alex sialan itu. Usaha lu selama ini berhasil. Please buka mata lu."
Gibran tidak peduli jika Fresa tidak menjawabnya. Yang Gibran harus lakukan adalah mengajak tunangannya berbicara. Entah sedang apa Fresa di sana. Yang pasti Gibran akan kembali menuntun Fresa. Ia mau Fresa kembali untuknya.
Mahda dan yang lain memasuki ruangan Fresa. Air mata turun dari wajah cantik mereka. Bahkan mereka sangat takut dengan situasi saat ini. Takut jika Fresa akan pergi selamanya dan tidak kembali lagi.
"Ca. Gue tahu, gue sahabat paling bego. Tapi jangan gini balas dendamnya Ca. Gue gak kuat. Gue ngerasa nyesal banget sekarang. Seandainya gue percaya sama lu. Mungkin kebersamaan kita seperti biasanya akan semakin banyak. Mungkin liburan kemarin kita bisa habiskan di Paris. Namun sayang, gue menghancurkan semuanya Ca! Gue menghancurkan persahabatan kita hanya demi laki-laki yang tidak membalas perasaan gue. Harusnya saat itu gue percaya bukan malah memarahi lu. Maafin gue Fresa. Hiksss..."
Jika Mahda memiliki kantung Doraemon. Ia langsung meminta Doraemon untuk mengajaknya ke masa di mana dia membentak Fresa. Dia ingin merubah semua dari sana. Tapi sayang, dia berada di dunia nyata bukan imajinasi.
"Tahu Ca. Bangun dong. Lu kan bisa mengumpat untuk Mahda karena suka salah bedain nama kita. Lu bisa marahin di sepuasnya. Karena dia udah gak bego lagi. Asal lu tahu Ca. Selama ini Mahda gak pernah berani nolak Alex. Sekarang? Dia berani Ca! Bahkan nolaknya di depan orang banyak. Gue yakin kalau lu ada tadi lu bakal ngakak liat tampang cowok munafik itu! Upsss sorry Da!" Ucap Fanisa membuat Mahda tersenyum tipis. Dia tidak marah. Malahan saat ini dia ingin sekali mengumpat di depan wajah Alex. Mengeluarkan semua unek-unek yang ia rasakan.
"Ca lu harus bangun! Karena si Evan bakal punya rencana untuk cariin Gibran jodoh. Lu gak mau kan Gibran di ambil orang lain? Makanya bangun Ca. Entar kalau udah bangun kita nongki cantik sekaligus cari cogan-cogan. Gue yakin di luar sana banyak yang lebih ganteng dari FEGA." Ucapan Kiki membuat FEGA mendengus.
"Jangan mau Ca! Kita ini lebih ganteng dari semua cowok yang tercipta di dunia ini." Kata Evan.
"Tahi!" Balas Fanisa dan Mahda.
"Sudah-sudah. Lebih baik kita keluar. Fresa butuh istirahat cukup. Besok kita ke sini lagi. Lagi pula, kalian gak mungkin melewati pelajaran pak Karno kan?".
Ucapan Arkan membuat Mahda dan yang lain langsung panik.
"Ca kita balik! Lu tahu kan pak Karno seperti apa. Jadi sampai jumpa besok!" Balas Mahda dan kedua sahabatnya. Mereka langsung berpamitan dengan keluarga Fresa dan Gibran.
Suasana kembali hening. Gisca yang berdiri tidak jauh dari anaknya langsung memeluk tubuh anaknya.
"Fresa akan baik-baik saja. Dia butuh support kamu dan yang lain. Kalau kamu kaya gini, bagaimana Fresa bisa kembali? Kamu harus kuat untuk Fresa. Mama yakin kamu bisa."
Seperti sebuah bara api yang membakar kayu. Semangat dalam tubuh Gibran menguar. Senyuman manis cowok tersebut membuat Gisca ikut tersenyum.
Biarkan Fresa tertidur saat ini, tapi setelah Fresa siuman Gibran akan memaksanya untuk operasi. Entah apa hasil akhirnya nanti. Gibran akan berusaha memaksa tunangannya. Dan ia harap dengan operasi bisa mengurangi penderitaan Fresa selama ini.
❤❤❤❤❤