
Everything Has Changed 1
Semester baru tiba! Mahda dan kedua sahabatnya mulai memasuki kawasan kampus yang mulai ramai.
"Da! Alex." Kata Fanisa membuat Mahda menatap ke arah di mana Fanisa memandang.
Di sana, Alex dan Cheryl memasuki pelataran parkiran, di susul di belakang mereka Gibran beserta kawan-kawannya. Mahda sudah tidak tertarik dengan Alex, sejak keputusannya malam itu dia sudah membulatkan tekadnya.
"Gak usah di liatin Da, karena akan menyakitkan." Balas Kiki.
"Gue gak liat mereka. Dan juga kenapa gue harus sakit? Mereka kan adik kakak. Lagi pula, ada yang lebih menarik dari mereka." Tutur Mahda.
"Siapa?" Tanya Fanisa.
"Fresa." Balasan Mahda membuat Fanisa dan Kiki langsung mencari keberadaan Fresa. Dan benar saja! Di sana Fresa tengah beradu argumen dengan anak-anak FEGA. Bukan hanya itu saja. Alex dan Cheryl juga ikut andil di sana membuat Mahda langsung berlari mendekati mereka.
"Lu biasa aja dong! Jelas-jelas yang nabrak Fresa itu lu cabe! Ngapa nyalahin orang!" Bentak Evan.
"Wahh! Siapa si Fresa? Sampai di bela oleh anak-anak Fega. Ah! Apa lu piala bergilir merek--"
Plakkkk....
Suara tamparan terdengar begitu nyaring. Semua yang sibuk dengan urusannya langsung memfokuskan pandangan ke arah di mana Fresa dan yang lain berada.
"Gue kasih tahu. Pertama, Fresa itu bukan lu. Kedua, Fresa itu cewek yang sulit dekat dengan cowok. Ketiga, wajar FEGA dekat dengan Fresa karena dia tunangan dari Gibran. Dan lu! Seharusnya bisa jaga mulut adik lu ini, jangan sampai ucapannya berbalik arah nanti!" Bentakan Mahda membuat Fresa tersenyum. Akhirnya sahabatnya kembali menjadi cerdas.
"Kamu berubah, lebih baik kita break." Kata Alex.
"Kenapa harus break? Kenapa gak sekalian putus aja?" Ucapan Mahda membuat Alex menegang.
"Aku gak akan mutusin kamu, jadi stop pembicaraan ini. Ayo Cheryl!" Ucap Alex sambil menarik tangan Cheryl.
"Da, lu ?" Fanisa tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu shock! Seorang Mahda yang tidak bisa menjauhi Alex tiba-tiba berucap demikian? Ini sangat aneh!
Manda hanya tersenyum membalas pertanyaan Fanisa, sedangkan ia sudah lebih dulu melangkahkan kaki meninggalkan pelataran parkiran.
"Gue susul Mahda. Nanti gue kabarin." Ucap Kiki langsung berlari menyusul Mahda.
Fresa dan Fanisa memilih pergi menuju kelasnya. Namun baru beberapa langkah....
"Fresa Aditya milik Gibran Pahlevi! Siapapun yang mengganggunya akan berhadapan langsung dengan gue!"
Mendengar ucapan Gibran, membuat Fresa tenang dan malu dalam waktu bersamaan.
"Cieee Eca." Ledek Fanisa.
"Berisik!" Balas Fresa meninggalkan Fanisa di belakangnya.
Fanisa memasuki kelasnya, namun dia tidak melihat keberadaan Fresa. Mungkinkah Fresa...?
Baru saja ia ingin berbalik, dosen muncul di hadapannya membuat Fanisa mau tidak mau langsung masuk ke dalam kelas. Tidak lupa, dia juga sudah memberi tahu Gibran tentang Fresa. Semoga saja, Gibran langsung mencari keberadaan Fresa. Dia khawatir dengan Fresa yang sering menghilang seperti itu.
Di lain tempat, Gibran dan Fano baru saja duduk di bangku mereka. Belum juga ada sejam, pesan masuk dari Fanisa membuat Gibran langsung berlari. Bahkan Fano yang melihatnya bingung. Bukan hanya Fano, dosen yang mengajar pun juga bingung melihat tingkah Gibran.
"Itu Gibran kenapa?" Tanya dosen.
"Kebelet." Balas Fano asal. Membuat dosen tersebut menganggukkan kepalanya.
Tanpa semua orang sadari, Gibran sudah berkeliling mencari keberadaan Fresa. Sampai satu tempat yang belum ia datangi.
Toilet!
Tanpa menunggu lagi, Gibran langsung berlari mencari Fresa ke seluruh kamar mandi perempuan. Tidak peduli rasa lelah yang ia rasakan, karena yang Gibran rasakan saat ini adalah ketakutan. Ketakutan akan hal yang tidak bisa di jelaskan.
Gibran berada di kamar mandi terakhir. Kamar mandi yang jauh dari koridor kelas atau ruangan lainnya. Bahkan suasana koridor di sini sangat sepi. Membuat Gibran semakin khawatir jika Fresa kenapa-kenapa.
Saat Gibran membuka pintu toilet, di sanalah Gibran menemukan Fresa. Gadis cantik itu tengah terduduk di lantai dengan wajah menunduk. Bisa Gibran tebak gadisnya habis muntah.
"Mau muntah lagi?" Pertanyaan Gibran membuat Fresa mengangkat kepalanya.
Tidak ada jawaban dari Fresa melainkan tatapan sendunya membuat Gibran langsung mendekati Fresa.
"Jangan Bran! Gue jalan aja." Kata Fresa saat Gibran mau mengangkat tubuhnya.
Gibran tidak peduli perkataan Fresa, ia lebih memilih langsung menggendong tubuh mungil tersebut.
Fresa sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya benar-benar merasakan sakit. Bahkan rasanya Fresa ingin selalu mengeluarkan isi perutnya. Jika Fresa bisa memilih lebih baik dia pergi selamanya daripada merasakan semua penyiksaan ini.
"Kenapa Fresa?" Tanya salah satu dosen.
"Saya mau bawa ke rumah sakit. Saya harap ibu bisa memaklumi." Jawab Gibran.
"Ya sudah bawa Fresa, kalau ada apa-apa hubungi pihak kampus. Atau ibu ikut ngantar?" Tanya dosennya menawarkan diri.
"Tidak usah bu, saya bisa sendiri. Jadi, saya duluan. Permisi."
Gibran sudah melewati halangan. Sekarang dia sedang mendudukkan tubuh Fresa di bangku samping kemudi. Wajah pucat Fresa membuat Gibran benar-benar ingin menangis sekarang. Ia tidak bisa melihat Fresa seperti ini.
"Muka lu biasa aja. Kaya gue mau mati aja." Kata Fresa sambil terkekeh.
"Jangan mati sekarang! Gue gak ikhlas." Setelah mengucapkan hal tersebut Gibran langsung menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran kampus, tidak lupa ia menghubungi keluarganya dan Fresa. Biarkan nanti Gibran menghubungi yang lain setelah tiba. Karena, kondisi Fresa lebih utama dari apapun.
❤️❤️❤️