Galmoners

Galmoners
Part 18



Fresa kembali.



Sebulan sudah berlalu. Itulah waktu yang di perlukan Fresa dan keluarganya untuk pergi ke Jerman. Setelah kejadian Fresa masuk ke rumah sakit, malam itu juga Fredrick langsung membawa putri bungsunya untuk ke Jerman. Kenapa? Karena Fredrick tahu selama ini ada orang-orang yang membencinya mulai menganggu putri kesayangannya. Jadi, mau tidak mau dia memutuskan untuk membawa Fresa sementara ke Jerman. Memulai perobatan seperti yang sudah di tentukan sebelumnya.


Hari ini, mereka kembali ke tanah air. Fresa yang berjalan di samping papanya, bisa melihat dengan sangat jelas apa yang ada di hadapannya saat ini.


Ya, di sana Gibran dan sahabat-sahabatnya hadir, bukan hanya itu saja Fanisa dan Kiki juga hadir. Namun, Fresa tidak melihat di mana Mahda? Apa yang terjadi selama sebulan ini?


"Jangan cari Mahda please. Dia udah bukan temen kita lagi." Ucapan dingin Fanisa membuat Fresa menatap Kiki. Sebulan di Jerman, membuat Fresa menyesali semuanya. Jika saja ponselnya tidak ia berikan kepada Gibran mungkin dia tahu apa yang terjadi. Bicara tentang ponsel, Dimana ponselnya sekarang?


"Jangan cari ponsel lu, karena ponsel lu gue tahan sampai waktu yang tidak bisa di tentukan." Ucap Gibran.


"Gak! Siapa juga." Balas Fresa gugup. Karena sebulan tidak melihat Gibran membuat perasaan aneh di hatinya mulai muncul. Apa dirinya kembali jatuh hati kepada Gibran?


"Fresa, kamu pulang sama Gibran. Papa percaya sama dia. Ada banyak hal yang harus kamu jelaskan sebelum terlambat." Ucap Frederick.


"Aku mau sama papa." Mendengar balasan Fresa membuat Gibran menyeringai. Lagi-lagi Fresa merasakan hal aneh. Entah hanya perasaanya atau bukan. Tapi melihat mereka semua membuat Fresa yakin ada yang mereka sembunyikan dari dirinya.


"Om.. Tante... Silakan masuk ke dalam mobil dan lu ikut gue!" Perintah Gibran dingin.


Fresa menatap Faza dan Felly, berharap kedua orang tersebut bisa membantunya. Namun, mereka hanya diam bak patung. Entah apa yang terjadi dengan semua ini Fresa bingung!


Sepeninggalan keluarganya dan keluarga Gibran. Ya keluarga Gibran memang ikut dirinya ke Jerman. Bahkan ibunda Gibran selalu menemaninya selama proses perobatan. Jadi, Fresa memiliki teman bicara selain mamanya dan Felly.


"Ayo sayang." Ajak Gibran membuat Fresa mendengus.


"Udahlah Fre ikut aja, sama tunangan sendiri juga. Toh kalau lu bosen sama dia lu bisa ngomong sama gue saat itu ju-- ampun bos!" Ucapan terpotong Evan membuat Fresa paham ke mana arah jalan pembicaraannya. Karena setahu Fresa, Evan itu sangat suka menjaili Gibran. Tapi, jika Fano yang melakukannya pasti aneh. seperti saat ini.


"Mending sama gue."


Ucapan tiga kata dari mulut Fano membuat Fresa pusing. Namun ada yang menarik perhatiannya, Fanisa. Setelah Fano berucap demikian Fanisa langsung pergi begitu saja membuat Fresa yakin ada masalah di antara keduanya.


"Fan, kita duluan ya ke mobil. Nanti kita ke temuan aja di kafe biasa. Gak apakan kalau kita makan siang sama-sama?" Pertanyaan Kiki dengan nada khawatir membuat Fresa yakin mereka tahu jika dirinya sakit.


"Gak. Biasa aja." Balas Fresa acuh.


Melihat kedua sahabatnya sudah naik mobil masing-masing. Fresa mengikuti langkah kaki Gibran. Sampai tidak sengaja seseorang menabrak tubuhnya. Hampir saja ia terjatuh jika Gibran tidak menahannya.


"Lain kali hati-hati Pak! Jika dia terluka saya bisa membalas anda lebih kejam." Ucap Gibran dingin.


Aneh.


Lagi-lagi perasaan itu muncul. Fresa merasa semua sangat berubah dari mulai Gibran yang jadi dingin dan--semua hal yang berubah.


"Nona anda tidak apa?" Pertanyaan pak tua di depannya membuat Fresa mengangguk. Setelahnya, pak tua tadi meninggalkan mereka berdua.


"Ada yang sakit?"pertanyaan Gibran membuat Fresa menatap wajah Gibran yang memang masih dekat. Karena cowok di depannya belum melepaskan rengkuhan di pinggangnya. Fresa bisa melihat tatapan khawatir Gibran dan tatapan itu sama seperti tatapan keluarganya. Dan Fresa sangat benci itu.


"Bisa gak anda pura-pura tidak tahu? Saya yakin bukan hak anda untuk tahu semua tentang saya." Balas Fresa dingin. Bahkan kini, Fresa mulai melepaskan rengkuhan Gibran.


"Satu lagi, jangan bertingkah seakan lu mengasihani gue. Karena lu sama saja kaya mereka." Baru saja Fresa ingin memasuki taksi. Gibran langsung menggendong tubuh Fresa dan memasukkannya ke dalam mobil. Melihat Fresa berontak membuat Gibran menatap tajam cewek di depannya.


"Gue gak pernah mengasihani lu dan apa yang gue lakukan sama lu itu karena gue khawatir. Jangan buat gue marah saat ini, karena gue bukan Gibran yang dulu." Perkataan dingin Gibran membuat Fresa menahan nafasnya. Karena jarak mereka terlalu dekat. Dan itu membuat Fresa takut jika Gibran melakukan hal seperti Bian dulu.


"Yaampun sayang, komuk kamu lucu banget si! Gemes deh." Ucap Gibran sambil mencubit kedua pipinya. Melihat tingkah laku aneh Gibran membuat Fresa pusing.


"Udah ah, duduk yang cantik. Jangan pancing emosi gue. Karena ada kalanya gue gak bisa menahan emosi gue kaya tadi." Kata Gibran. Setelah menutup pintu mobil. Gibran berjalan ke arah kemudi. Namun, belum Gibran duduk di sana, Fresa melihat Gibran mengangkat telpon entah dari siapa. Bisa Fresa tebak jika orang tersebut memancing emosi Gibran sampai tatapan mata mereka bertemu. Tanpa melepaskan ponsel dari telinganya Gibran langsung membuka pintu kemudi dan langsung mendekat kan tubuhnya ke arah Fresa. Raut wajah dingin Gibran membuat Fresa mengingat Bian.


"Jangan dekat-dekat!" Bentak Fresa namun di hiraukan oleh Gibran dia terus mendekat. Bahkan saat Fresa memukuli tubuhnya Gibran tidak peduli tujuannya hanya satu.


Alat pelacak!


Fresa terdiam saat melihat seringai puas muncul di wajah Gibran sambil memegang alat kecil yang Fresa yakin itu pelacak.


"Maaf sayang buat lu khawatir." Ucap Gibran sambil membawa Fresa ke dalam rengkuhannya.


"Jangan lakukan lagi." Bisik Fresa lemah. Ia takut sekali melihat Gibran tadi.


"Tidak akan." Balas Gibran.


Gibran kembali berbicara dengan seseorang di sana. Bahkan sesekali pandangan Gibran selalu melirik ke arahnya. Membuat Fresa jadi takut.


"Semua sudah berubah, jadi jangan pernah jauh-jauh dari gue. Oke?" Awalnya Fresa bingung, namun melihat kejadian tadi membuatnya spontan mengangguk mungkin efek masih shock. Karena pada dasarnya Fresa tidak suka di atur. Tapi hari ini dengan mudahnya dia menganggukkan kepala, seakan-akan dia mempercayai hidupnya pada Gibran.


Selama di perjalanan tidak ada yang berani membuka suara sampai, seseorang muncul di hadapan mobil mereka. Fresa tidak tahu mereka siapa, yang pasti mereka bukan orang baik. Terlihat jelas dari pukulan di kaca sebelahnya.


"Are you Fine?" Tanya Gibran saat mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Hem.. Tapi ada yang ikuti kita." Kata Fresa saat melihat beberapa mobil mengikuti mereka.


"Bukan mereka, tapi anak buah gue." Balasan dari Gibran membuat Fresa mengangguk. Namun ada hal yang membuat dirinya bingung. Sejak kapan dia di incar? Apa sejak dia berada si rumah sakit? Atau sejak awal memasuki kampus? Entahlah Fresa pusing sekarang. Lebih baik ia tidur. Ia butuh mengistirahatkan semuanya.


Gibran tahu kekasihnya pastì memikirkan semua hal yang terjadi hari ini. Cuma ia tidak ingin memberikan kabar buruk di saat kekasihnya baru pulih. Ia tidak akan membiarkan semua itu.


"Maaf buat kamu khawatir, karena saat ini kehidupan kamu akan berubah dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh kamu. Temasuk dia." Ucap Gibran sambil mengecup dahi Fresa yang terlelap tidur. Melihat rambu berwarna hijau, Gibran langsung menjalankan kembali mobilnya.



Akhirnya, setelah perjalanan jauh. Gibran berhasil tiba dengan selamat. Melihat dua mobil sahabatnya membuat Gibran yakin, mereka pasti menunggu lama.


"Sayang bangun." Ucap Gibran sambil mengelus-elus pipi Fresa. Melihat ada pergerakan membuat dia tersenyum. Gibran keluar dari kemudi dan berjalan ke tempat Fresa, menunggu nyawa Fresa kembali ke asalnya.


"Sudah?" Tanya Gibran.


"Hem.."


Dengan hati-hati Gibran membantu Fresa keluar dari mobilnya. Mulai hari ini, dia akan melakukan apapun untuk Fresa termasuk bertaruh nyawa seperti tadi.


Keduanya memasuki kawasan kafe yang ada di sekitar Dago. Kafe hits yang sangat terkenal di kawasan anak muda.


"Akhirnya datang juga kalian. Duduk deh terus pesan makan. Liat wajah loyo Fresa jadi gak tega." Kata Kiki.


"Loyo? Kaya lagu BTS." Kata Fresa langsung duduk di tempat yang kosong di ikuti oleh Gibran yang duduk di sampingnya.


"Sejak kapan Yolo jadi loyo Ca. Gue gibeng lu." Kata Fanisa sebal.


"Maklum efek jetleg dan balapan jadi tunangan gue rada gesrek." Balas Gibran membuat Fresa menatapnya tajam.


"Sekarang gue sadar Fres, seharusnya gue kenal lu lebih dulu. Ternyata lu cantik juga kalau marah." Kata Evan sambil bertopang dagu.


"Jangan mentang-mentang di tolak Mahda lu pindah haluan. Awas aja! Gue gak bakal biarin Fresa dengan cowok lain, hanya gue yang boleh miliki Fresa." Tutur Gibran.


"Emang lu Tuhan?!" Balas Fresa ketus.


"Bukanlah. Tapi gue berharap jika endingnya kita selalu bersama." Ucap Gibran lagi.


"Jangan terlalu percaya diri, karena kita tidak tahu beberapa menit kemudian akan terjadi apa." Balas Fresa.


Mendengar jawaban Fresa membuat Kiki dan Fanisa keluar dari bangkunya dan langsung memeluk tubuh Fresa.


"Astaga! Gue kangen banget sama lu Ca! Kalau gue bisa nyusul gue susul lu. Tapi gak mungkin karena lu gak mau kan kita tahu penyakit lu?" Kata Fanisa membuat Fresa menegang.


"Ca kali ini aja, jangan sembunyikan apa-apa sendiri. Lu masih punya gue dan Fanisa. Ah Mahda juga. Jika lu masih kaya gini, kita ngerasa gagal jadi sahabat lu. Ya lah! Sahabat macem apa yang gak tahu rahasia sahabatnya. Apalagi masalah pertunangan lu sama Gibran." Sindir Kiki.


"Tau lu Fre! Kalau lu kasih tau gue kalian tunangan, gue kan bisa batalin." Kata Evan asal.


"Mulut lu butuh di sekolahin." Kata Gibran dingin.


"Udah sekolah, ni baru pulang-- Pulang ke hati doi." Balas Evan.


"Gak jelas!" Ucap Fresa ketus.


Semua orang yang ada di meja Fresa menatap Fresa dan Gibran bergantian. Fresa tidak tahu apa yang mereka inginkan. Tapi masalah pertunangan--Fresa ingin sekali menjelaskannya tapi, ia bingung dari mana.


"Jadi?" Pancing Fano. Cowok tampan di sana sudah kesal karena tidak ada yang memancing pembicaraan kali ini. Bahkan Evan yang cerewet saja hanya diam saat ini.


"Semua di mulai saat kami pulang dari persiapan MOS. Pasti kalian ingat bukan yang gue bilang sama Fresa di kafe? Nah, saat itulah semua terjadi. Kedua orang tua kami menjelaskan perjodohan yang sudah di rencanakan oleh tetua sebelumnya. Awalnya Fresa menolak. Namun, seminggu saat kita di Jerman merubah semuanya. Kakek dan nenek Fresa meninggal secara bersamaan, dan saat sebelum mereka meninggal, mereka ingin melihat kami bertunangan. Mau tidak mau malam itu di langsungkan pertunangan secara tiba-tiba. Setelah bertunangan kakek dan nenek Fresa tiada. And, you know what i mean gengs." Jelas Gibran.


"Pantes saat itu setiap ngomong tunangan or engagement lu setengah-setengah. Pasti karena Fresa tidak mau di ketahui banyak orang?" Tanya Fanisa. Sebenarnya dia sudah feeling saat itu ternyata dugaannya benar.


"True!" Jawab Gibran.


Lepas mendengar penjelasan dari Gibran mereka semua sudah paham jika sepasang manusia di depannya memiliki banyak rahasia. Bahkan mereka sangat yakin ada banyak rahasia yang masih di sembunyikan oleh mereka.


"Terima kasih sudah berbohong." Bisik Fresa dengan suara lirih. Gibran menganggukkan kepalanya. Karena Gibran yakin belum saatnya mereka mengetahui semuanya dan beruntung Gibran melakukan negoisasi sebelum masuk kafe. Jika tidak? Bisa saja Gibran menjelaskan semuanya.


Acara makan siang mereka berjalan dengan lancar. Saking lancarnya, mereka tidak tahu jika ada sepasang mata menatap mereka penuh kebencian. Tatapan yang menyiratkan haus akan dendam.


❤️❤️❤️