Galmoners

Galmoners
13



Mencoba melupakan 2


***


Jam sekolah berakhir, itu tandanya


murid-murid  Starlight mulai kembali ke rumah masing-masing. Namun, tidak


dengan Fanisa dan Fresa. Kedua gadis cantik tersebut langsung melangkahkan


kakinya menuju basecamp jurnalis. Ya, setiap hari jumat mereka akan latihan


jurnalis. Lain halnya dengan Mahda, gadis cantik tersebut akan latihan band


setiap hari selasa bersamaan dengan ekstrakurikuler futsal. Ah! Fresa jadi


teringat dengan hari di mana Fano mengajak Gibran futsal. Saat itu Fresa


langsung paham jika geng FEGA di tantang oleh geng Bian untuk adu futsal. Fresa


pikir Bian sudah mati, nyatanya dia masih hidup. Ya, mungkin balas dendam


karena Gibran membuat mantan ketua OSIS tersedak Bakso. Entahlah rahasia para


lelaki.


Setibanya di sana, Fresa dan Fanisa memasuki ruang


berisi alat-alat jurnalis tersebut. Baru saja mereka membuka pintu, tamu tidak


bekepentingan duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Kalian bisa menebak


siapa? Ya, Gibran dan Fano. Kadang Fresa dan Fanisa menganggap mereka seperti


adik kakak, karena kemanapun mereka pergi pasti selalu berdua.


“Ca, lu sadar gak si? Gibran dan Fano itu saling


melengkapi?” bisik Fanisa.


“Sadar kok, malah mereka terihat seperti kita. Lu


kadang berisik dan gue yang cuek. Ya sama lah dengan mereka.” Balas Fresa.


Berbicara tentang persahabatan, Fresa akan


menjelaskan kembali tentang mereka berempat. Fresa dan Fanisa kenal sejak kecil


karena keluarga mereka bersahabat. Panggilan Eca atau Ca itu panggilan yang


keluarganya berikan untuknya, nah karena hal tersebut yang lain jadi mengikuti.


Sedangkan dengan Kiki dan Mahda, Fresa bersahabat


sejak duduk di bangku SMP. Di mana mereka berempat selalu mendapat kelas yang


sama. Entah settingan atau rencana takdir Fresa tidak mengerti. Karena sejak


saat itu, mereka jadi dekat satu sama lain. Sampai akhirnya duduk di bangku


SMA.


Fresa pikir Mahda dan Kiki akan ambil sekolah


negeri, ternyata tidak. Fresa yakin saat itu ia sedang di bohongi, terbukti


dari respon Fanisa yang biasa saja.


Seiring berjalannya waktu, salah satu dari mereka


memiliki kekasih masing-masing. Termasuk Fresa. Awalnya dia menjadikan Bian


kekasih karena ingin melupakan perasaannya pada Gibran, tenyata semua sia-sia.


Fresa sulit melupakan Gibran. Sampai akhirnya Fresa memutuskan Bian sepihak.


Saat itulah masalah bertubi-tubi datang. Di mulai Mahda membentak Fresa karena


menuduh Alex selingkuh. Lalu, kejadian di mana bian hampir melecehkan Fresa,


Fanisa yang putus karena kekasihnya harus berbeda daerah. Dan lebih parah lagi


Kiki, dia harus mengikhlaskan kekasihnya bertunangan dengan orang lain dan


menetap di luar negeri. Fresa bersyukur mantan Fanisa dan Kiki tidak satu


daerah. Setidaknya mereka masih bisa memanfaatkan waktu untuk menata hati


mereka kembali. Karena Fresa tahu rasa kehilangan terhadap seseorang bisa


membuat kita trauma ataupun takut. Jadi, wajar saja jika saat ini mereka galmov


karena melupakan orang yang kita cintai tidak semudah membalikkan telapak


tangan. Apalagi Fresa! Gibran sudah seperti hantu baginya. Entah di sekolah


ataupun di rumah dia selalu saja menganggu Fresa. Itulah sebabnya sulit bagi


Fresa melupakan Gibran. Bagaimanapun, gengsi Fresa lebih tinggi dari ketiga


sahabatnya. Dan karena alasan tersebutlah Mahda langsung membuat group bernama


Galmoners. Ya, seperti yang sudah kalian ketahui sebelumnya.


Kembali pada dunia nyata, Fresa dan Fanisa


memutuskan untuk memasuki ruangan jurnalis tidak lupa mereka juga sudah


meletakan tas gendong mereka di salah satu meja yang ada di sana.


“Gue gak tahu kalian ini tipe orang yang kurang


kerjaan atau emang kalian gak punya kerjaan?” pertanyaan Fanisa membuat Fano


menyeringai.


“Kita punya kerjaan” balas Fano masih dengan


seringainya.


“Apaan?” tanya Fanisa malas.


“Kepo!” Balas Fano ketus.


Bolehkah Fanisa membunuh seseorang? Jika di


perbolehkan dia ingin sekali membunuh Fano! Pasalnya selain makhluk kutub


utara, dia juga makhluk titisan iblis yang menyebalkan.


“Intinya rahasia lelaki. Daripada ngurusin kita,


lebih baik urusin anak buah lu tuh.” Tunjuk Gibran menggunakan dagunya. Karena


kata orang kalau pakai tangan gak sopan, jadi lebih baik dengan dagu.


Fanisa langsung memutar tubuhnya, begitupun dengan


Fresa. Melihat anak-anak jurnalis sudah ramai, Fresa mulai menjauhi mereka.


Namun di tahan oleh Fanisa. Ya, Fanisa ingin Fresa lebih dekat dengan yang


lain. Karena bagaimanapun Fanisa ingin Fresa bersosialisasi, toh tidak masalah


selama untuk kebaikan bukan?


“Fan..”panggilan Fresa di hiraukan oleh Fanisa,


membuat Fresa harus menghela nafas kasar.


“Okay, ini kak Fre—“


“Tahu kak! Dia calon pacar saya!” seru adik kelas


Fanisa entah dari jurusan apa.


Fanisa menengok ke arah Gibran, melihat cowok


tengil itu tenang membuat Fanisa sedikit binggung tapi ya sudahlah, mungkin


Gibran sudah insaf.


“Calon pacar gundul mu!” balas Fresa ketus.


Anak- anak yang lain terbahak mendengar balasan


Fresa termasuk cowok yang tadi meledek Fresa. Setelah lelah tertaw, kini


saatnya mereka serius. Bahkan Fanisa yang tadi penuh dengan keceriaan mulai


merubah raut wajahnya menjadi serius, membuat yang lainpun ikut serius.


“Baiklah adik-adik kalian pasti tahu kegiatan


Di mana kelompok tersebut akan bertanggung jawab dengan tugasnya masing-masing.


Dan kakak akan memberikan kertas dan dari kertas tersebut kakak dan yang lain


akan membuat kelompok kalian. Jadi harap jujur menjawab dan sesuai dengan


keinganan kalian juga.” Kata Fanisa membuat salah satu anak mengangkat


tangannya.


“Kak aku mau tanya, kita tetap di ajarkan semuanya


kan?” pertanyaan tersebut membuat Fresa angkat tangan.


“Kita tetap belajar semuanya. Alasan di buat


kelompok biar tidak adanya ketimpangan. Misalnya tim A, passionnya kebanyakan


yang bisa membuat puisi. Nah, maka nanti tim lain akan timpang. Alasan kenapa


setiap divisi di pecah, supaya kalian saling melengkapi satu sama lain. Bukan


karena kalian ingin numpang nama." Fresa sengaja mengatakan hal tersebut,


karena dia belajar dari kesalahan kakak kelasnya dulu.


"Wah! Kak sering-sering ngomong ya. Suara


kakak membuat jantungku berdegup kencang." Kata sosok cowok dengan


kacamata di wajahnya.


"Ban! Saingan lu tuh." Celetuk Fanisa.


Gibran menyeringai, "Mau setampan apapun cowok


itu, Fresa sudah jadi milik gue Fan." Balas Gibran dingin.


Fanisa menuntut penjelasan kepada Fresa, namun yang


di tatap malah melengos pergi membuat Fanisa geram sendiri.


'Liat saja, gue bakal cari tahu!' ucap Fanisa dalam


hati, karena dia yakin ada yang di sembunyikan oleh Fresa dan Gibran. Karena


tidak mungkin Gibran setenang ini menghadapi Fresa yang di goda cowok lain.


Bukan Gibran sekali.


"Baiklah adik-adik, isi kertas tersebut


setelah selesai kalian akan mendapat pelajaran pertama dari kak Ago. Dan kakak


akan membentuk kelompok kalian." Jelas Fanisa.


Di saat mereka sedang menunggu kertas-kertas di


kumpulkan. Gibran dan Fano mendekati perempuan yang mereka cintai.


"Pulang sama gue, si Faza gak bisa jemput ada


urusan." Perkataan Gibran membuat Fresa mengangguk membalas ucapan cowok


berkacamata tersebut, padahal Fresa sedang tidak fokus saat ini.


"Eh? Gak! Gue naik taksi." Balasnya.


"Semua angkutan umum udah gue suruh blacklist


nama lu. Jadi lu gak ada pilihan lain sayang." Ucap Gibran dengan


seringainya.


"Sialan!" Bentak Fresa membuat adik kelas


dan seniornya menatap bingung.


"Sorry, tadi kalah main ML." Balas Fresa


asal. Padahal dia tidak suka permainan yang selalu Fanisa mainkan tersebut.


Karena bingung, ya sudah dia jawab apa saja yang ada di pikirannya.


"Asli Ca, lu lucu banget!" Ucap Fanisa


terbahak.


"Dari lahir."balas Fresa ketus.


Setelah berdiskusi tentang kelompok dan


penanggungjawabnya. Akhirnya Fanisa mengumumkan nama-nama tersebut. Melihat


suka cita mereka membuat Fanisa dan Fresa ingat masa lalu.


"Baiklah adik-adik, sebelum pulang alangkah


baiknya kita berdoa menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Berdoa di


mulai." Perkataan Fanisa membuat semua anggota eskul langsung menundukkan


kepala mereka, termasuk Fano dan Gibran. Setelah berdoa mereka langsung


meninggalkan lokasi sekolah.


"Kenapa harus naik motor? Gue kan pakai rok


Bran!" Omel Fresa.


"Ih! Ngomel mulu nanti cepet tua loh. Udah naik


dulu, nanti di tutup sama jaket gue. Rebes kan?"


"Hem!"


Fresa menaiki motor sport Gibran dengan bantuan


cowok tengil tersebut. Setelah duduk tenang, Gibran langsung membuka jaketnya.


"Tenyata tidak tertutupi. Kita naik


taksi." Perkataan tersebut membuat Fresa menatap cowok di depannya dengan


tajam. Gibran emang menyebalkan!


Lain halnya dengan Fresa, Fanisa duduk manis di


samping kemudi. Bahkan selama mereka keluar dari sekolah, Fano tidak mau


mengajaknya berbincang. Sama halnya jika dia chat via line. Cowok itu akan


membalas singkat. Sangat singkat sampai-sampai Fanisa sendiri bingung.


"Gue nyalain lagu ya." Perkataan Fanisa


hanya di jawab dengan gumaman.


"Fan! Waktu pembagian suara lu gak dateng ya?


Pantes irit ngomong." Celetuk Fanisa.


"Apa?" Tanya Fano membuat Fanisa


mendengus.


"Gak tadi kucing gue ngelahirin." Balas


Fanisa asal. Demi Neptunus! Fanisa jarang menghadapi orang-orang seperti Fano.


Jika ada banyak Fano di dunia ini, Fanisa lebih baik bunuh diri. Lelah dirinya.


"Gak jelas." Ucap Fano.


See?


Emang Fano doang yang bisa mengubah emosi Fanisa.


Liat saja dia akan membalas semuanya!


Perjalanan keduanya berjalan dengan lancar, Fresa


harus menerima ceramahan Gibran selama di taksi dan Fanisa harus menerima


keheningan perjalanannya. Kedua gadis cantik tersebut tidak tahu rencana apa


yang sudah di buat kedua lelaki tersebut. Semoga saja sebuah kejutan yang tidak


membuat darah naik.


❤️❤️❤️❤️