
Mencoba melupakan 2
***
Jam sekolah berakhir, itu tandanya
murid-murid Starlight mulai kembali ke rumah masing-masing. Namun, tidak
dengan Fanisa dan Fresa. Kedua gadis cantik tersebut langsung melangkahkan
kakinya menuju basecamp jurnalis. Ya, setiap hari jumat mereka akan latihan
jurnalis. Lain halnya dengan Mahda, gadis cantik tersebut akan latihan band
setiap hari selasa bersamaan dengan ekstrakurikuler futsal. Ah! Fresa jadi
teringat dengan hari di mana Fano mengajak Gibran futsal. Saat itu Fresa
langsung paham jika geng FEGA di tantang oleh geng Bian untuk adu futsal. Fresa
pikir Bian sudah mati, nyatanya dia masih hidup. Ya, mungkin balas dendam
karena Gibran membuat mantan ketua OSIS tersedak Bakso. Entahlah rahasia para
lelaki.
Setibanya di sana, Fresa dan Fanisa memasuki ruang
berisi alat-alat jurnalis tersebut. Baru saja mereka membuka pintu, tamu tidak
bekepentingan duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Kalian bisa menebak
siapa? Ya, Gibran dan Fano. Kadang Fresa dan Fanisa menganggap mereka seperti
adik kakak, karena kemanapun mereka pergi pasti selalu berdua.
“Ca, lu sadar gak si? Gibran dan Fano itu saling
melengkapi?” bisik Fanisa.
“Sadar kok, malah mereka terihat seperti kita. Lu
kadang berisik dan gue yang cuek. Ya sama lah dengan mereka.” Balas Fresa.
Berbicara tentang persahabatan, Fresa akan
menjelaskan kembali tentang mereka berempat. Fresa dan Fanisa kenal sejak kecil
karena keluarga mereka bersahabat. Panggilan Eca atau Ca itu panggilan yang
keluarganya berikan untuknya, nah karena hal tersebut yang lain jadi mengikuti.
Sedangkan dengan Kiki dan Mahda, Fresa bersahabat
sejak duduk di bangku SMP. Di mana mereka berempat selalu mendapat kelas yang
sama. Entah settingan atau rencana takdir Fresa tidak mengerti. Karena sejak
saat itu, mereka jadi dekat satu sama lain. Sampai akhirnya duduk di bangku
SMA.
Fresa pikir Mahda dan Kiki akan ambil sekolah
negeri, ternyata tidak. Fresa yakin saat itu ia sedang di bohongi, terbukti
dari respon Fanisa yang biasa saja.
Seiring berjalannya waktu, salah satu dari mereka
memiliki kekasih masing-masing. Termasuk Fresa. Awalnya dia menjadikan Bian
kekasih karena ingin melupakan perasaannya pada Gibran, tenyata semua sia-sia.
Fresa sulit melupakan Gibran. Sampai akhirnya Fresa memutuskan Bian sepihak.
Saat itulah masalah bertubi-tubi datang. Di mulai Mahda membentak Fresa karena
menuduh Alex selingkuh. Lalu, kejadian di mana bian hampir melecehkan Fresa,
Fanisa yang putus karena kekasihnya harus berbeda daerah. Dan lebih parah lagi
Kiki, dia harus mengikhlaskan kekasihnya bertunangan dengan orang lain dan
menetap di luar negeri. Fresa bersyukur mantan Fanisa dan Kiki tidak satu
daerah. Setidaknya mereka masih bisa memanfaatkan waktu untuk menata hati
mereka kembali. Karena Fresa tahu rasa kehilangan terhadap seseorang bisa
membuat kita trauma ataupun takut. Jadi, wajar saja jika saat ini mereka galmov
karena melupakan orang yang kita cintai tidak semudah membalikkan telapak
tangan. Apalagi Fresa! Gibran sudah seperti hantu baginya. Entah di sekolah
ataupun di rumah dia selalu saja menganggu Fresa. Itulah sebabnya sulit bagi
Fresa melupakan Gibran. Bagaimanapun, gengsi Fresa lebih tinggi dari ketiga
sahabatnya. Dan karena alasan tersebutlah Mahda langsung membuat group bernama
Galmoners. Ya, seperti yang sudah kalian ketahui sebelumnya.
Kembali pada dunia nyata, Fresa dan Fanisa
memutuskan untuk memasuki ruangan jurnalis tidak lupa mereka juga sudah
meletakan tas gendong mereka di salah satu meja yang ada di sana.
“Gue gak tahu kalian ini tipe orang yang kurang
kerjaan atau emang kalian gak punya kerjaan?” pertanyaan Fanisa membuat Fano
menyeringai.
“Kita punya kerjaan” balas Fano masih dengan
seringainya.
“Apaan?” tanya Fanisa malas.
“Kepo!” Balas Fano ketus.
Bolehkah Fanisa membunuh seseorang? Jika di
perbolehkan dia ingin sekali membunuh Fano! Pasalnya selain makhluk kutub
utara, dia juga makhluk titisan iblis yang menyebalkan.
“Intinya rahasia lelaki. Daripada ngurusin kita,
lebih baik urusin anak buah lu tuh.” Tunjuk Gibran menggunakan dagunya. Karena
kata orang kalau pakai tangan gak sopan, jadi lebih baik dengan dagu.
Fanisa langsung memutar tubuhnya, begitupun dengan
Fresa. Melihat anak-anak jurnalis sudah ramai, Fresa mulai menjauhi mereka.
Namun di tahan oleh Fanisa. Ya, Fanisa ingin Fresa lebih dekat dengan yang
lain. Karena bagaimanapun Fanisa ingin Fresa bersosialisasi, toh tidak masalah
selama untuk kebaikan bukan?
“Fan..”panggilan Fresa di hiraukan oleh Fanisa,
membuat Fresa harus menghela nafas kasar.
“Okay, ini kak Fre—“
“Tahu kak! Dia calon pacar saya!” seru adik kelas
Fanisa entah dari jurusan apa.
Fanisa menengok ke arah Gibran, melihat cowok
tengil itu tenang membuat Fanisa sedikit binggung tapi ya sudahlah, mungkin
Gibran sudah insaf.
“Calon pacar gundul mu!” balas Fresa ketus.
Anak- anak yang lain terbahak mendengar balasan
Fresa termasuk cowok yang tadi meledek Fresa. Setelah lelah tertaw, kini
saatnya mereka serius. Bahkan Fanisa yang tadi penuh dengan keceriaan mulai
merubah raut wajahnya menjadi serius, membuat yang lainpun ikut serius.
“Baiklah adik-adik kalian pasti tahu kegiatan
Di mana kelompok tersebut akan bertanggung jawab dengan tugasnya masing-masing.
Dan kakak akan memberikan kertas dan dari kertas tersebut kakak dan yang lain
akan membuat kelompok kalian. Jadi harap jujur menjawab dan sesuai dengan
keinganan kalian juga.” Kata Fanisa membuat salah satu anak mengangkat
tangannya.
“Kak aku mau tanya, kita tetap di ajarkan semuanya
kan?” pertanyaan tersebut membuat Fresa angkat tangan.
“Kita tetap belajar semuanya. Alasan di buat
kelompok biar tidak adanya ketimpangan. Misalnya tim A, passionnya kebanyakan
yang bisa membuat puisi. Nah, maka nanti tim lain akan timpang. Alasan kenapa
setiap divisi di pecah, supaya kalian saling melengkapi satu sama lain. Bukan
karena kalian ingin numpang nama." Fresa sengaja mengatakan hal tersebut,
karena dia belajar dari kesalahan kakak kelasnya dulu.
"Wah! Kak sering-sering ngomong ya. Suara
kakak membuat jantungku berdegup kencang." Kata sosok cowok dengan
kacamata di wajahnya.
"Ban! Saingan lu tuh." Celetuk Fanisa.
Gibran menyeringai, "Mau setampan apapun cowok
itu, Fresa sudah jadi milik gue Fan." Balas Gibran dingin.
Fanisa menuntut penjelasan kepada Fresa, namun yang
di tatap malah melengos pergi membuat Fanisa geram sendiri.
'Liat saja, gue bakal cari tahu!' ucap Fanisa dalam
hati, karena dia yakin ada yang di sembunyikan oleh Fresa dan Gibran. Karena
tidak mungkin Gibran setenang ini menghadapi Fresa yang di goda cowok lain.
Bukan Gibran sekali.
"Baiklah adik-adik, isi kertas tersebut
setelah selesai kalian akan mendapat pelajaran pertama dari kak Ago. Dan kakak
akan membentuk kelompok kalian." Jelas Fanisa.
Di saat mereka sedang menunggu kertas-kertas di
kumpulkan. Gibran dan Fano mendekati perempuan yang mereka cintai.
"Pulang sama gue, si Faza gak bisa jemput ada
urusan." Perkataan Gibran membuat Fresa mengangguk membalas ucapan cowok
berkacamata tersebut, padahal Fresa sedang tidak fokus saat ini.
"Eh? Gak! Gue naik taksi." Balasnya.
"Semua angkutan umum udah gue suruh blacklist
nama lu. Jadi lu gak ada pilihan lain sayang." Ucap Gibran dengan
seringainya.
"Sialan!" Bentak Fresa membuat adik kelas
dan seniornya menatap bingung.
"Sorry, tadi kalah main ML." Balas Fresa
asal. Padahal dia tidak suka permainan yang selalu Fanisa mainkan tersebut.
Karena bingung, ya sudah dia jawab apa saja yang ada di pikirannya.
"Asli Ca, lu lucu banget!" Ucap Fanisa
terbahak.
"Dari lahir."balas Fresa ketus.
Setelah berdiskusi tentang kelompok dan
penanggungjawabnya. Akhirnya Fanisa mengumumkan nama-nama tersebut. Melihat
suka cita mereka membuat Fanisa dan Fresa ingat masa lalu.
"Baiklah adik-adik, sebelum pulang alangkah
baiknya kita berdoa menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Berdoa di
mulai." Perkataan Fanisa membuat semua anggota eskul langsung menundukkan
kepala mereka, termasuk Fano dan Gibran. Setelah berdoa mereka langsung
meninggalkan lokasi sekolah.
"Kenapa harus naik motor? Gue kan pakai rok
Bran!" Omel Fresa.
"Ih! Ngomel mulu nanti cepet tua loh. Udah naik
dulu, nanti di tutup sama jaket gue. Rebes kan?"
"Hem!"
Fresa menaiki motor sport Gibran dengan bantuan
cowok tengil tersebut. Setelah duduk tenang, Gibran langsung membuka jaketnya.
"Tenyata tidak tertutupi. Kita naik
taksi." Perkataan tersebut membuat Fresa menatap cowok di depannya dengan
tajam. Gibran emang menyebalkan!
Lain halnya dengan Fresa, Fanisa duduk manis di
samping kemudi. Bahkan selama mereka keluar dari sekolah, Fano tidak mau
mengajaknya berbincang. Sama halnya jika dia chat via line. Cowok itu akan
membalas singkat. Sangat singkat sampai-sampai Fanisa sendiri bingung.
"Gue nyalain lagu ya." Perkataan Fanisa
hanya di jawab dengan gumaman.
"Fan! Waktu pembagian suara lu gak dateng ya?
Pantes irit ngomong." Celetuk Fanisa.
"Apa?" Tanya Fano membuat Fanisa
mendengus.
"Gak tadi kucing gue ngelahirin." Balas
Fanisa asal. Demi Neptunus! Fanisa jarang menghadapi orang-orang seperti Fano.
Jika ada banyak Fano di dunia ini, Fanisa lebih baik bunuh diri. Lelah dirinya.
"Gak jelas." Ucap Fano.
See?
Emang Fano doang yang bisa mengubah emosi Fanisa.
Liat saja dia akan membalas semuanya!
Perjalanan keduanya berjalan dengan lancar, Fresa
harus menerima ceramahan Gibran selama di taksi dan Fanisa harus menerima
keheningan perjalanannya. Kedua gadis cantik tersebut tidak tahu rencana apa
yang sudah di buat kedua lelaki tersebut. Semoga saja sebuah kejutan yang tidak
membuat darah naik.
❤️❤️❤️❤️