Galmoners

Galmoners
15



🏥 Rumah Sakit 🏥


***


Malam ini, rembulan bersinar sangat terang. Bintang-bintang


pun ikut bersinar menemani sang rembulan. Membuat siapapun sangat bahagia menikmati


keindahan malam ini. Tapi, hal tersebut tidak terjadi dengan Gibran. Sosok


tampan tersebut masih setia menunggu dokter keluar memeriksa kondisi Fresa.


Entah apa yang mereka lakukan di sana, yang pasti sesuatu hal yang membuat


Gibran menitikkan air mata.


Tepukan di bahu Gibran membuat sosok tersebut


menengok ke sampingnya. Di sana kedua orangtuanya berdiri.


"Fresa kuat!" Ucapan itu yang selalu dia


dengar dari beberapa orang. Bahkan Gibran tidak yakin apakah benar Fresa kuat?


Bahkan Faza yang saudara sedarahnya saja tidak percaya jika Fresa kuat.


Siapakah yang harus Gibran percayai?


"Gibran hanya mau dengar apa.yajg terjadi


dengan Fresa." Balasan Gibran membuat semua yang ada di sana saling


pandang. Bahkan kedua orangtua Fresa juga melakukan hal yang sama.


"Kami tidak bisa memberi tahu, karena ini


kemauan Fresa. Jika kamu ingin, cari tahu sendiri. Dan jika kamu mendapatkan


jawabannya jangan kaget." Ucap Frederick dingin.


Gibran tidak tahu, seberapa parah penyakit Fresa


sampai harus dirahasiakan. Apa dia tidak berhak?


Di saat Gibran tengah asik dengan pikirannya.


Fanisa dan Fano tiba dengan nafas memburu. Keduanya sama-sama panik saat


mendapati pesan dari Gibran. Mau tidak mau mereka langsung ke rumah sakit.


"Gimana Fresa?!" Perkataan Fanisa membuat


siapapun langsung menatap Fanisa.


"Fan jangan teriak-teriak." Bisik Fano,


membuat Fanisa langsung mendelik ke arah cowok tampan tersebut.


Melihat Fresa sedang di periksa melalui kaca,


membuat Fanisa paham pasti hal buruk benar-benar terjadi kepada Fresa.


"Fresa mana?!" Bentak Mahda membuat


Fanisa dan yang lain langsung menengok ke arahnya.


Mahda bingung kenapa semuanya terdiam, namun saat


Evan menunjukkan sesuatu. Saat itu juga Mahda terdiam kaku. Mesin denyutan


jantung sudah terpasang di tubuh sahabatnya, begitupun dengan alat bantuan


nafas.


Di seberang Mahda ada kedua orang tua Fresa. Di


sana mama Fresa sedang menangis di pelukan suaminya, sama halnya dengan ibunda


Gibran. Mahda dan Fanisa saling tatap.


"Fresa sakit apa Tante?" Pertanyaan Mahda


membuat isak tangis Fresca dan Gisca terhenti.


"Jangan tanyakan hal yang tidak bisa di


jelaskan. Mungkin sekarang belum saatnya kalian tahu." Kata Faza dingin.


Mahda yang masih bingung mencoba menerka-nerka apa


yang terjadi dengan Fresa, sedangkan Evan sudah menghubungi Arkan untuk segera


ke rumah sakit.


Di saat semua terdiam, Gibran memulia aksinya. Ia


sudah tidak kuat melihat apa yang dokter lakukan pada Fresa.


"Kenapa harus nanti?! Apa tunggu Fresa mati


baru kalian menjelaskan semuanya?!" Bentak Gibran.


"Gibran! Ucapan lu itu--"


"Kenapa sama ucapan gue Fan?! Salah? Gak!


Sekarang lu pikir Fan, seandainya di sana Fresa tiada apa yang akan lu lakukan?


Dan lu juga da! Gue heran lu sebodoh apa, liat ponsel Fresa di sana lu akan


menemukan jawabannya!" Lepas mengeluarkan unek-uneknya, pintu ruangan


Fresa terbuka. Gibran langsung mendekati Felly.


"Gimana Fresa?" Pertanyaan tersebut


membuat Felly diam. Karena jika dia menjelaskan semuanya di sini, itu sama saja


membongkar rahasia Fresa.


"Dia baik, hanya butuh penanganan khusus saat


ini. Bisa kita bicara om.. tante?" Perkataan Felly kepada Fresca dan


Frederick membuat Gibran menatap mereka tajam.


"Gue punya hak untuk tau nona Felly


Alexander!" Bentak Gibran.


"Gue tahu lu itu tunangannya! Tapi ada kalanya


lu cukup pura-pura gak tahu apa-apa. Kalau lu cerdas lu bisa tahu dengan


sendirinya." Balas Felly dingin. Felly tidak bisa berbasa-basi dengan


orang lain. Yang dia butuhkan saat ini adalah keluarganya.


"Lu tunangan? Sama Fresa?! Sejak kapan?!"


Tanya Mahda shock.


"Sejak gue dan Fresa pergi bersamaan dan sejak


saat lu terlalu fokus sama pacar sialan lu itu!" Balas Gibran ketus. Entah


kenapa, malam ini Gibran akan membenci Mahda, karena ulah Mahda Fresa jadi


sulit beristirahat. Gibran sangat tahu, jika Fresa pasti sedang mengumpulkan


berbagai bukti. Terlihat jelas di dalam ponselnya. Ponsel?!


Mengingat itu, Gibran langsung merebut ponsel yang


tadi dia berikan pada Mahda. Tidak menunggu lama lagi dia langsung membuka


semua tempat yang Fresa sembunyikan. Sampai suatu folder menarik perhatiannya.


Folder tersebut berisi foto rekam medis. Tidak perlu bertanya lagi, Gibran


sudah paham dengan semua ini. Gibran menghapus folder tersebut dan kembali


memberikan ponsel tersebut pada Mahda.


"Gue cuma kasih tahu sekali. Jangan libatkan


Fresa dalam masalah setelah ini. Jika lu gak percaya dengan kejujuran Fresa ya


sudah. Gue cuma bilang, jangan sampai lu nyesel suatu saat nanti!"


Perkataan dingin Gibran membuat siapapun yang mendengarnya bisa merasakan emosi


di dalam sana. Tepat saat Gibran meninggalkan mereka, Kiki dan Arkan tiba.


"Gibran kenapa?" Tanya Arkan.


"Dia kacau dan parahnya keluarga Fresa tidak


ingin kita semua tahu tentang penyakit Fresa. Dan hal tersebut membuat Gibran


murka." Balas Evan membuat Arkan mengangguk paham.


Di sisi lain Mahda dan gengnya sedang melihat semua


hasil jepretan kamera Fresa dan terakhir yang membuat Mahda shock adalah foto


Alex dan Cheryl di tempat yang sama dengannya. Mereka lagi-lagi melakukan hal


yang membuat Mahda terlihat bodoh!


"Gue gak percaya. Silakan kalian hujat gue,


gue gak peduli." Ucap Mahda langsung meninggalkan rumah sakit. Evan yang


bingung langsung menyusul Mahda. Karena apapun yang terjadi Mahda tanggung


jawabnya sekarang.


"Biarin si bodoh itu menenangkan diri."


Kata Fanisa dingin.


"Tapi sampai kapan Fan?! Mahda itu sudah


terlalu buta dengan Alex." Balas Kiki.


"Itulah cinta Ki, entah dia yang bodoh karena


cinta atau memang dasarnya dia tidak pernah percaya sama kita? Who know?"


Ucapan Fanisa membuat Kiki terdiam. Namun anehnya Kiki merasa perasaan aneh.


Perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan.


"Kok gue ngerasa akan kehilangan seseorang ya


Fan?" Pertanyaan Kiki membuat Fanisa menengok. Sama halnya dengan Kiki


Fanisa juga merasakan hal yang sama. Entah Fresa yang akan pergi atau Mahda.


Karena hanya dua orang tersebut yang berkesempatan untuk pergi.


"Kalian pulang saja sudah larut, besok kalian


bisa ke sini." Kata Fresca kepada Fanisa dan Kiki.


"Sebenarnya saya mau stay Tante. Tapi, karena


belum izin dan nanti gak enak sama Fano. Ya udah deh saya pulang dulu. Kalau


ada apa-apa tolong kabari Fanisa ya Tante" perkataan Fanisa membuat Fresca


tersenyum.


"Pasti Tante kabari." Balas ibu dua anak


tersebut.


"Tante aku memang baru jadi teman Fresa, aku


percaya apa yang Fresa sembunyikan dari kami itu demi kebaikan kami. Kami tahu


Fresa kuat dan kami harap Tante berkenan untuk memberikan informasi mengenai


keadaan Fresa." Kata Kiki. Senyum sendu mulai Kiki lihat dari wajah wanita


dewasa di depannya. Kiki yakin penyakit Fresa bukan penyakit biasa.


"Baiklah Tante, kalau gitu kami pamit. Permisi


semuanya." Ucap Arkan.


Di saat keempat orang tersebut meninggalkan rumah


sakit, mereka tidak sengaja mendengar seseorang berdiri tidak jauh dari mereka


seseorang tersebut tengah membelakangi mereka. Sehingga, sosok itu tidak tahu


jika ada mereka.


"Kita lanjutkan permainan, karena Fresa sedang


sakit. Jadi kita mulai adu domba Mahda dengan yang lain. Gue harap jangan ada


kecacatan dalam gal ini. Jika iya? Gue bakal buat hidup lu menderita. Karena


nyawa keluarga lu ada di tangan gue." Perkataan sosok di depannya membuat


keempat orang tersebut menatap penuh kebencian, di saat Fanisa ingin mendekat


Fano menahannya dan menarik Fanisa untuk bersembunyi. Sama halnya dengan Arkan


dia juga melakukan hal yang sama sampai...


"Waktu kamu akan berakhir Aditya!" Ucap


sosok dengan masker di wajahnya setelah itu, sosok tersebut hilang di balik


kegelapan malam.


Fanisa dan yang lain keluar dari persembunyiannya,


baru saja Fanisa ingin berucap sosok lain muncul di hadapan mereka.


"Gue pikir kalian bukan tipe orang yang kepo


ternyata"


Mereka langsung memutar tubuhnya dan....


"Gibran?!" Teriak mereka.


"Gak usah kaget gitu, alasan gue pergi tadi


mau ngejar dia dan ternyata gue menemukan jawabannya. Sekarang, yang bisa kita


lakukan hanya satu. Pura-pura diam sampai rencana mereka berhasil, setelah itu


kita putar keadaan gimana?" Ucapan Gibran yang membingungkan membuat Arkan


memutuskan untuk bertemu kembali esok. Karena membuat rencana untuk menjebak


orang jahat sangat sulit, apalagi jika dia memiliki mata-mata. Jadi mau tidak


mau mereka menahan semua hal tersebut.


❤️❤️❤️❤️


Fresa kembali.


***


Sebulan kemudian. Itulah waktu yang di perlukan


Fresa dan keluarganya untuk pergi ke Jerman. Setelah kejadian Fresa masuk ke


rumah sakit, malam itu juga Fredrick langsung membawa putri bungsunya untuk ke


Jerman. Kenapa? Karena Fredrick tahu selama ini ada orang-orang yang


membencinya mulai menganggu putri kesayangannya. Jadi, mau tidak mau dia


memutuskan untuk membawa Fresa sementara ke Jerman. Memulai perobatan seperti


yang sudah di tentukan sebelumnya.


Hari ini, mereka kembali ke tanah air.  Fresa


yang berjalan di samping papanya, bisa melihat dengan sangat jelas apa yang ada


di hadapannya saat ini.


Ya, di sana Gibran dan sahabat-sahabatnya hadir,


bukan hanya itu saja Fanisa dan Kiki juga hadir. Namun, Fresa tidak melihat di


mana Mahda? Apa yang terjadi selama sebulan ini?


"Jangan cari Mahda please. Dia udah bukan


temen kita lagi." Ucapan dingin Fanisa membuat Fresa menatap Kiki. Sebulan


di Jerman, membuat Fresa menyesali semuanya. Jika saja ponselnya tidak ia


berikan kepada Gibran mungkin dia tahu apa yang terjadi. Bicara tentang ponsel....


"Jangan cari ponsel lu, karena ponsel lu gue


tahan sampai waktu yang tidak bisa di tentukan." Ucap Gibran.


"Gak! Siapa juga." Balas Fresa gugup.


Karena sebulan tidak melihat Gibran membuat perasaan aneh di hatinya mulai


muncul. Apa dirinya kembali jatuh hati kepada Gibran?


"Fresa, kamu pulang sama Gibran. Papa percaya


sama dia. Ada banyak hal yang harus kamu jelaskan sebelum terlambat." Ucap


Frederick.


"Aku mau sama papa." Mendengar balasan


Fresa membuat Gibran menyeringai. Lagi-lagi Fresa merasakan hal aneh. Entah


hanya perasaanya atau bukan. Tapi melihat mereka semua membuat Fresa yakin ada


yang mereka sembunyikan dari dirinya.


"Om.. Tante... Silakan masuk ke dalam mobil


dan lu ikut gue!" Perintah Gibran dingin.


Fresa menatap Faza dan Felly, berharap kedua orang


tersebut bisa membantunya. Namun, mereka hanya diam bak patung. Entah apa yang


terjadi dengan semua ini Fresa bingung!


Sepeninggalan keluarganya dan keluarga Gibran. Ya


keluarga Gibran memang ikut dirinya ke Jerman. Bahkan ibunda Gibran selalu


menemaninya selama proses perobatan. Jadi, Fresa memiliki teman bicara selain


mamanya dan Felly.


"Ayo sayang." Ajak Gibran membuat Fresa


mendengus.


"Udahlah Fre ikut aja, sama tunangan sendiri


juga. Toh kalau lu bosen sama dia lu bisa ngomong sama gue saat itu ju-- ampun


bos!" Ucapan terpotong Evan membuat Fresa paham ke mana arah jalan


pembicaraannya. Karena setahu Fresa, Evan itu sangat suka menjaili Gibran.


Tapi, jika Fano yang melakukannya pasti aneh. seperti saat ini.


"Mending sama gue."


Ucapan tiga kata dari mulut Fano membuat Fresa


pusing. Namun ada yang menarik perhatiannya, Fanisa. Setelah Fano berucap


demikian Fanisa langsung pergi begitu saja membuat Fresa yakin ada masalah di


antara keduanya.


"Fan, kita duluan ya ke mobil. Nanti kita ke


temuan aja di kafe biasa. Gak apakan kalau kita makan siang sama-sama?"


Pertanyaan Kiki dengan nada khawatir membuat Fresa yakin mereka tahu jika


dirinya sakit.


"Gak. Biasa aja." Balas Fresa acuh.


Melihat kedua sahabatnya sudah naik mobil masing-masing.


Fresa mengikuti langkah kaki Gibran. Sampai tidak sengaja seseorang menabrak


tubuhnya. Hampir saja ia terjatuh jika Gibran tidak menahannya.


"Lain kali hati-hati Pak! Jika dia terluka


saya bisa membalas anda lebih kejam." Ucap Gibran dingin.


Aneh.


Lagi-lagi perasaan itu muncul. Fresa merasa semua


sangat berubah dari mulai Gibran yang jadi dingin dan--


"Nona anda tidak apa?" Pertanyaan pak tua


di depannya membuat Fresa mengangguk. Setelahnya, pak tua tadi meninggalkan


mereka berdua.


"Ada yang sakit?"pertanyaan Gibran


membuat Fresa menatap wajah Gibran yang memang masih dekat. Karena cowok di


depannya belum melepaskan rengkuhan di pinggangnya. Fresa bisa melihat tatapan


khawatir Gibran dan tatapan itu sama seperti tatapan keluarganya. Dan Fresa sangat


benci itu.


"Bisa gak anda pura-pura tidak tahu? Saya


yakin bukan hak anda untuk tahu semua tentang saya." Balas Fresa dingin.


Bahkan kini, Fresa mulai melepaskan rengkuhan Gibran.


"Satu lagi, jangan bertingkah seakan lu


mengasihani gue. Karena lu sama saja kaya mereka." Baru saja Fresa ingin


memasuki taksi. Gibran langsung menggendong tubuh Fresa dan memasukkannya ke


dalam mobil. Melihat Fresa berontak membuat Gibran menatap tajam cewek di


depannya.


"Gue gak pernah mengasihani lu dan apa yang


gue lakukan sama lu itu karena gue khawatir. Jangan buat gue marah saat ini,


karena gue bukan Gibran yang dulu." Perkataan dingin Gibran membuat Fresa


menahan nafasnya. Karena jarak mereka terlalu dekat. Dan itu membuat Fresa


takut jika Gibran melakukan hal seperti Bian dulu.


"Yaampun sayang, komuk kamu lucu banget si!


Gemes deh." Ucap Gibran sambil mencubit kedua pipinya. Melihat tingkah


laku aneh Gibran membuat Fresa pusing.


"Udah ah, duduk yang cantik. Jangan pancing


emosi gue. Karena ada kalanya gue gak bisa menahan emosi gue kaya tadi."


Kata Gibran. Setelah menutup pintu mobil. Gibran berjalan ke arah kemudi.


Namun, belum Gibran duduk di sana, Fresa melihat Gibran mengangkat telpon entah


dari siapa. Bisa Fresa tebak jika orang tersebut memancing emosi Gibran sampai


tatapan mata mereka bertemu. Tanpa melepaskan ponsel dari telinganya Gibran langsung


membuka pintu kemudi dan langsung mendekat kan tubuhnya ke arah Fresa. Raut


wajah dingin Gibran membuat Fresa mengingat Bian.


"Jangan dekat-dekat!" Bentak Fresa namun


di hiraukan oleh Gibran dia terus mendekat. Bahkan saat Fresa memukuli tubuhnya


Gibran tidak peduli tujuannya hanya satu....


Alat pelacak!


Fresa terdiam saat melihat seringai puas muncul di


wajah Gibran sambil memegang alat kecil yang Fresa yakin itu pelacak.


"Maaf sayang buat lu khawatir." Ucap


Gibran sambil membawa Fresa ke dalam rengkuhannya.


"Jangan lakukan lagi." Bisik Fresa.


"Tidak akan." Balas Gibran.


Gibran kembali berbicara dengan seseorang di sana.


Bahkan sesekali pandangan Gibran selalu melirik ke arahnya. Membuat Fresa jadi


takut.


"Semua sudah berubah, jadi jangan pernah


jauh-jauh dari gue. Oke?" Awalnya Fresa bingung, namun melihat kejadian


tadi membuatnya spontan mengangguk mungkin efek masih shock. Karena pada


dasarnya Fresa tidak suka di atur.


Selama di perjalanan tidak ada yang berani membuka


suara sampai, seseorang muncul di hadapan mobil mereka. Fresa tidak tahu mereka


siapa, yang pasti mereka bukan orang baik. Terlihat jelas dari pukulan di kaca


sebelahnya.


"Lu percayakan sama gue?" Pertanyaan


Gibran membuat Fresa menengok dan menatap mata Gibran. Fresa tidak tahu, tapi


lagi-lagi anggukan spontan balasannya. Tidak menunggu lama, Fresa merasa di


tarik dan setelah itu di dorong dengan cepat. Bingung? Sama Fresa juga. Intinya


Gibran memundurkan mobilnya di jalan yang sepi tersebut dan langsung menekan


pedal gas membuat orang-orang yang tadi menghalangi langsung memundurkan


tubuhnya.


"Are you Fine?" Tanya Gibran saat mereka


kembali melanjutkan perjalanan.


"Hem.. Tapi ada yang ikuti kita." Kata


Fresa.


"Bukan mereka, tapi anak buah gue."


Balasan dari Gibran membuat Fresa mengangguk. Namun ada hal yang membuat


dirinya bingung. Sejak kapan dia di incar? Memikirkan hak tersebut membuat


Fresa pusing. Sampai akhirnya gadis cantik tersebut terlelap tidur.


"Maaf buat kamu khawatir, karena saat ini


kehidupan kamu akan berubah dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh


kamu. Temasuk dia." Ucap Gibran sambil mengecup dahi Fresa yang terlelap


tidur. Melihat rambu berwarna hijau, Gibran langsung menjalankan kembali


mobilnya.


***


Akhirnya, setelah perjalanan jauh. Gibran berhasil


tiba dengan selamat. Melihat dua mobil sahabatnya membuat Gibran yakin, mereka


pasti menunggu lama.


"Sayang bangun." Ucap Gibran sambil


mengelus-elus pipi Fresa. Melihat ada pergerakan membuat dia tersenyum. Gibran


keluar dari kemudi dan berjalan ke tempat Fresa, menunggu nyawa Fresa kembali


ke asalnya.


"Sudah?" Tanya Gibran.


"Hem.."


Dengan hati-hati Gibran membantu Fresa keluar dari


mobilnya. Mulai hari ini, dia akan melakukan apapun untuk Fresa termasuk


bertaruh nyawa seperti tadi.


Keduanya memasuki kawasan kafe yang ada di sekitar


Dago. Kafe hits yang sangat terkenal di kawasan anak muda.


"Akhirnya datang juga kalian. Duduk deh terus


pesan makan. Liat wajah loyo Fresa jadi gak tega." Kata Kiki.


"Loyo? Kaya lagu BTS." Kata Fresa


langsung duduk di tempat yang kosong di ikuti oleh Gibran yang duduk di


sampingnya.


"Sejak kapan Yolo jadi loyo Ca. Gue gibeng


lu." Kata Fanisa sebal.


"Maklum efek jetleg dan balapan jadi tunangan


gue rada gesrek." Balas Gibran membuat Fresa menatapnya tajam.


"Sekarang gue sadar Fres, seharusnya gue kenal


lu lebih dulu. Ternyata lu cantik juga kalau marah." Kata Evan sambil


bertopang dagu.


"Jangan mentang-mentang di tolak Mahda lu


pindah haluan. Awas aja! Gue gak bakal biarin Fresa dengan cowok lain, hanya


gue yang boleh miliki Fresa." Tutur Gibran.


"Emang lu Tuhan?!" Balas Fresa ketus.


"Bukanlah. Tapi gue berharap jika endingnya


kita selalu bersama." Ucap Gibran lagi.


"Jangan terlalu percaya diri, karena kita


tidak tahu beberapa menit kemudian akan terjadi apa." Balas Fresa.


Mendengar jawaban Fresa membuat Kiki dan Fanisa


keluar dari bangkunya dan langsung memeluk tubuh Fresa.


"Astaga! Gue kangen banget sama lu Ca! Kalau


gue bisa nyusul gue susul lu. Tapi gak mungkin karena lu gak mau kan kita tahu


penyakit lu?" Kata Fanisa membuat Fresa menegang.


"Ca kali ini aja, jangan sembunyikan apa-apa


sendiri. Lu masih punya gue dan Fanisa. Ah Mahda juga. Jika lu masih kaya gini,


kita ngerasa gagal jadi sahabat lu. Ya lah! Sahabat macem apa yang gak tahu


rahasia sahabatnya. Apalagi masalah pertunangan lu sama Gibran." Sindir


Kiki.


"Tau lu Fre! Kalau lu kasih tau gue kalian


tunangan, gue kan bisa batalin." Kata Evan asal.


"Mulut lu butuh di sekolahin." Kata


Gibran dingin.


"Udah sekolah, ni baru pulang-- Pulang ke hati


doi." Balas Evan.


"Gak jelas!" Ucap Fresa ketus.


Semua orang yang ada di meja Fresa menatap Fresa


dan Gibran bergantian. Fresa tidak tahu apa yang mereka inginkan. Tapi masalah


pertunangan--Fresa ingin sekali menjelaskannya tapi, ia bingung dari mana.


"Jadi?" Pancing Fano. Cowok tampan di


sana sudah kesal karena tidak ada yang memancing pembicaraan kali ini. Bahkan


Evan yang cerewet saja hanya diam saat ini.


"Semua di mulai saat kami pulang dari


persiapan MOS. Pasti kalian ingat bukan yang gue bilang sama Fresa di kafe?


Nah, saat itulah semua terjadi. Kedua orang tua kami menjelaskan perjodohan


yang sudah di rencanakan oleh tetua sebelumnya. Awalnya Fresa menolak. Namun,


seminggu saat kita di Jerman merubah semuanya. Kakek dan nenek Fresa meninggal


secara bersamaan, dan saat sebelum mereka meninggal, mereka ingin melihat kami


bertunangan. Mau tidak mau malam itu di langsungkan pertunangan secara


tiba-tiba. Setelah bertunangan kakek dan nenek Fresa tiada. And, you know what


i mean gengs." Jelas Gibran.


"Pantes saat itu setiap ngomong tunangan or


engagement lu setengah-setengah. Pasti karena Fresa tidak mau di ketahui banyak


orang?" Tanya Fanisa. Sebenarnya dia sudah feeling saat itu ternyata


dugaannya benar.


"True!" Jawab Gibran.


Lepas mendengar penjelasan dari Gibran mereka semua


sudah paham jika sepasang manusia di depannya memiliki banyak rahasia. Bahkan


mereka sangat yakin ada banyak rahasia yang masih di sembunyikan oleh mereka.


"Terima kasih sudah berbohong." Bisik


Fresa dengan suara lirih. Gibran menganggukkan kepalanya. Karena Gibran yakin


belum saatnya mereka mengetahui semuanya dan beruntung Gibran melakukan


negoisasi sebelum masuk kafe. Jika tidak? Bisa saja Gibran menjelaskan


semuanya.


Acara makan siang mereka berjalan dengan lancar.


Saking lancarnya, mereka tidak tahu jika ada sepasang mata menatap mereka penuh


kebencian. Tatapan yang menyiratkan haus akan dendam.


❤️❤️❤️


Adil?


***


Mahda Adijaya sedang duduk di kantin bersama dengan


kekasihnya. Seminggu sudah Fresa kembali ke tanah air membuat Mahda tersenyum


lega. Ya, melihat sahabatnya baik-baik saja membuat Mahda senang.


"Kamu kangen sahabat kamu? Ke sana aja. Bilang


kalau kamu mau minta maaf" ucapan Alex mengingatkan Mahda tentang kejadian


sebulan tanpa Fresa.


Kejadian di mana dia dan kedua sahabatnya


bertengkar hebat karena masalah yang sama, yaitu Alex. Terkadang Mahda bingung


dengan sahabat-sahabatnya, mereka terlalu mudah menghakimi orang lain dan itu


membuat Mahda jemu dengan semuanya.


"Aku gak salah, kenapa harus minta maaf?"


Pertanyaan Mahda membuat senyum tipis muncul di wajah Alex. Dan Mahda tidak


lihat itu.


"Jangan gitu ah! Mereka juga kan sahabat kamu.


Dan sahabat selalu memaafkan." Balas Alex membuat Mahda tersenyum tipis.


"Gak sekarang, nanti." Ucapan Mahda


membuat Alex menghela nafasnya. Lagi-lagi dia gagal membujuk Mahda.


Di tempat yang sama, Fresa dan dua sahabatnya


tengah asik berbincang-bincang. Sampai kedatangan FEGA membuat Fresa dan yang


lain mendengus lelah. Selalu saja keempat cowok tersebut menarik perhatian.


"Udah makan siang?" Tanya Gibran yang


duduk di samping Fresa. Sejak Fresa kembali, sejak saat itu pula Gibran selalu


menempel pada Fresa membuat gosip mereka berpacaran tersebar luas. Karena hal


tersebut, Fresa sering mendapatkan teror dan yang tahu tentang hal tersebut


hanya Fanisa dan Kiki. Fresa tidak tahu apa yang akan Gibran lakukan jika cowok


itu mengetahui rahasia yang dia sembunyikan.


"Belum. Kata Fresa dia mau nunggu tunangannya


dulu." Balas Kiki meledek.


"Yang nunggu itu gue apa lu?" Balas Fresa


sinis. Jelas-jelas yang menunggu kedatangan FEGA itu Kiki kenapa jadi dia jadi


kambing hitam? Menyebalkan!


"Udahlah Ca. Ngaku aja. Jangan kebanyakan


gengsi. Gibran pergi baru tahu rasa loh!" Ujar Fanisa membuat Fresa


menghentikan gerakan tangan yang sibuk dengan ponsel barunya.


"Siap--"


"Kak ada titipan." Kata cowok yang Fresa


yakini adik kelasnya.


"Apa ya?" Tanya Fresa malas.


"Ini kak. Dari cowok ganteng katanya selamat


makan siang cantik." Balas cowok di depannya. Fresa tertawa. Entah adik


kelasnya terlampau polos atau emang itu cara dia menyampaikan pesan, tapi yang


Fresa yakini setelahnya. Adik kelas tersebut langsung di usir oleh Gibran


dengan mengembalikan makanan yang ia pegang tadi.


"Bilangin sama si cowok ganteng itu, Fresa


udah kenyang." Ucap Gibran dingin.


Dengan bingung anak cowok tersebut kembali ke


tempatnya sambil membawa makanan tersebut. Sedangkan cowok yang menyuruhnya


tadi tersenyum sinis dan pergi meninggalkan kantin. Pasalnya, rencana dia gagal


lagi.


"Aneh gak si Fre, masa anak baru selalu datang


ke sini untuk ngasih makanan yang sama? Lu gak curiga gitu kalau ini--"


"Jebakan?" Potong Fresa membuat Evan


menganggukkan kepalanya.


"Iya jebakan. Kalau gue jadi lu bakal gue


incar tuh orang. Karena hampir sebulan ini dia melakukan hal yang sama sejak lu


kembali. Jadi menurut gue aneh saja." Balas Evan.


Tanpa Evan sadari, Fresa memang sudah curiga dengan


semua yang terjadi saat ini. Namun ia pura-pura tidak tahu. Karena jika dia


bersikap tidak wajar, maka orang tersebut akan semakin sering melakukan


tindakannya. Jadi mau tidak mau, ia berusaha menutupi ke khawatirannya.


"Lu kebanyakan nonton sinetron! Emangnya Fresa


siapa sampai harus mendapatkan kejadian buruk? Fresa itu galak, jadi kalau ada


yang jahatin dia keburu kabur." Balas Kiki.


"Lucu lu Ki! Gue serius ettt" balas Evan.


"Jangan serius-serius, nanti sakit hati aja


berabe." Ucap Fanisa spontan membuat Evan dan yang lainnya menaikkan


alisnya, bingung.


"Loh kok baper si Fan? Ah! Gue tahu lu lagi


slek sama mantan lu ya?" Tanya Evan membuat Fresa menatap cowok itu tajam.


"Kaga lah! Sok tahu lu kambing!" Balas


Fanisa.


"Jangan pedulikan mereka, makan dan minum obat


lu. Atau lu mau rahasia lu di restoran gue bongkar?" Bisik Gibran yang


tadi datang sambil membawa makanan bersama dengan Fano dan Arkan.


"Hem... Gue gak nafsu makan." Balas Fresa


lirih, membuat Gibran menghela nafasnya.


"Jangan mendebat. Lakukan sesuai perintah


gue!"


Mendengar nada dingin Gibran membuat Fresa


mendengus sebal. Bahkan tanpa sadar dia memakan makanan yang ada di depannya,


membuat Fanisa dan Kiki mencibir.


"Tuh kan gengsi tapi mau!" Kata Kiki dan


Fanisa.


"Berisik!" Balas Fresa ketus.


"Sayang--"


"Gue bukan sayang lu!" Balas Fresa ketus


membuat Gibran menghela nafasnya.


"Bukan sayang tapi bersemu mukanya. Lucu juga


ya Fre. Kalau lu bukan tunangan sahabat gue, gue gebet lu." Balas Evan


membuat Fresa tersedak.


"Evan Laksono!" Bentakan Gibran membuat


Evan tertawa. Entah kenapa meledek Gibran adalah hal yang paling membahagiakan


untuknya. Bahkan meja Fresa yang tadi serius berubah menjadi hangat karena ulah


Evan.


"Biasa aja dong Bran! Lu kaya takut banget


Fresa dead." Balas Evan.


"Yalah! Fresa itu separuh jiwa gue!" Ujar


Gibran.


"Separuh jiwa? Emang jiwa lu bisa di bagi dua?


Kalau iya gue mau dong jadi separuh jiwanya Fresa." Balas Evan membuat


"Ngimpi aja lu sono! Fresa itu milik


gue!" Kata Gibran.


"Milik lu? Sebelum janur kuning melengkung,


Fresa bukan milik siapa-siapa dan gue pastikan dalam waktu dekat ini, Fresa


Adijaya akan jatuh ke pelukan Evan Laksono. Liat saja nanti."


"Terkadang gue bingung, apa sejak Mahda nolak


lu. Lu jadi sableng ya?" Tanya Fanisa.


"Kenapa Fan? Lu mau jadi separuh jiwa gue?


boleh kok! Tapi ngantri ya." Balas Evan asal.


"Yeh gila! Emang lu kata penjaga tiket yang lu


harus ngantri dapetinnya." Kata Fresa sinis.


"Yaalah! Tapi bedanya bukan tiket yang lu


dapetin. Tapi, cinta tulus gue." Kata Evan membuat Fresa bergidik ngeri.


Baginya Gibran saja sangat menyeramkan jika seperti itu, apalagi Evan yang


bukan siapa-siapanya!


"***** Evan! Lu bangunin singa tidur."


Kata Fanisa.


"Baru bangunin singa, bukan bangunin yang lain


kan Fan?" Balas Evan membuat Fano memukul kepala sahabatnya.


"Jaga!" Kata Fano membuat yang lain


bingung.


"Jaga? Maksudnya apaan si No! Ah! Atau lu mau


bilang jaga hati lu? Tenang akang Evan tidak akan menyelingkuhi yayang


Fano." Balas Evan membuat Fanisa melempar es batu yang ada di gelasnya.


"Gue semakin yakin, jika kalian berdua--"


"Jangan yakin sama apa yang lu lihat. Karena


belum tentu semuanya benar." Potong Fano membuat Fanisa tertohok. Entah


kenapa mendengar ucapan Fano membuat Fanisa merasakan perasaan aneh. Perasaan


yang ia alami beberapa bulan ini.


"Nahloh! Fano ngambek. Lu si Fan!" Tuduh


Evan membuat Fanisa mendengus kesal.


"Yang ada tuh lu yang salah! Udah tahu Fano


suka sama Fanisa. Malah di ledekin." Tutur Gibran membuat Evan tersenyum


senang.


"Akhirnya! Selain Gibran gue bisa jadi pengganggu


Fano. Terima kasih ya Allah Evan bahagia karena bisa mengalahkan pesona es


batu." Kata Evan.


"Seandainya gue dokter, gue suntik lu pakai


cairan mematikan." Balas Fanisa dengan raut wajah kesalnya.


"Kalau jadi dokter! Karena orang macem lu


lebih pantas jadi ibu dari anak-anak gue!" Ucap Evan membuat Fanisa


berdiri dan langsung memukul bahu Evan.


"Gue gak sudi!" Balas Fanisa ketus.


Bahkan kepergian Fanisa membuat Evan tersenyum. Rencananya berhasil! Semoga kedua


insan yang pergi meninggalkan kantin saat ini bisa berbaikan. Karena Evan tahu


apa yang terjadi di antara keduanya dan hal tersebut di karenakan Mahda


sebelumnya. Jadi mau tidak mau, Evan harus mengembalikan semua seperti sedia


kala sebelum semuanya semakin runyam.


"Tenang aja, Fanisa akan kembali seperti sedia


kala. Karena kalau gue cerita kejadian selama sebulan lu pergi, gue yakin lu


bakal benci dengan seseorang."


Kata-kata Evan membuat Fresa menatap mereka semua


bergantian. Bahkan Gibran yang di tatap tidak meresponnya. Fresa yakin kejadian


besar terjadi selama ia menghilang dan Fresa harus mencari tahunya sendiri.


"Lanjutkan makannya, gue ada urusan. Dan lu


Ar, jagain cewek gue dari kunyuk ini. Jangan sampai dia ember." Ucapan


Gibran semakin membuat Fresa penasaran. Ia bersumpah akan mencari tahunya. Liat


saja, akan dia bongkar rahasia mereka semuanya!


"Ada kalanya kita menutupi semua karena gak


mau lu tersakiti. Sama halnya dengan yang lu lakuin ke kita sekarang. Adil


bukan?" Pertanyaan Arkan membuat Fresa kehilangan kata-kata untuk membalas


semuanya. Jika memang untuk kebaikannya apa? Apa ini ada hubungannya dengan


orang-orang yang mengikuti mereka?


❤️❤️❤️


Penjelasan


***


Dua insan manusia saling terdiam satu sama lain.


Tidak ada satupun yang mau berinisiatif untuk membuka suara. Mereka ialah


Fanisa dan Fano. Dua insan yang tengah mengalami masalah hampir dua bulan ini.


Bahkan selama itu, tidak ada satupun yang berani membuka suara untuk


menjelaskan. Bukan karena takut tersakiti, tapi mereka sama-sama diam menunggu


waktu yang tepat.


Seperti halnya saat ini, keduanya sadar sudah


terlalu lama mereka larut dalam permasalahan dan hal tersebut membuat Fanisa


geram sendiri. Jadi dengan amat terpaksa cewek cantik tersebut membuka


pembicaraan mereka.


"Gue gak tahu kenapa harus gue mendengar


penjelasan lu. Dan gue juga gak tahu kenapa kaki gue melangkah ke sini. Tapi


satu yang gue tahu, apa yang Evan lakukan tadi membuat gue sadar, gue juga


butuh penjelasan dari lu walaupun gue juga bingung untuk apa." Penjelasan


Fanisa membuat Fano tersenyum tipis. Sangat tipis. Bahkan hanya Tuhan dan Fano


yang tahu jika cowok tampan tersebut tersenyum.


"Apa yang Mahda katakan bohong." Balas


Fano.


Fano mengajak Fanisa untuk duduk di sampingnya


sambil memandang air mancur dan taman bunga yang indah di hadapan mereka.


"Bohong? Tapi, Mahda gak mungkin kaya gitu


No!" Ujar Fanisa sambil menahan amarahnya. Ia memang sedang jaga jarak


dengan Mahda. Tapi, bukan berarti dia sepenuh benci Mahda. Persahabatan mereka


gak selemah itu. Fanisa dan Kiki hanya mengikuti alur yang Mahda mainkan.


Karena cepat atau lambat mereka akan tahu siapa dalang semuanya.


"Tidak ada yang menyalahkan Mahda." Balas


Fano membuat Fanisa geram. Pasalnya cowok di sampingnya menjelaskan


sepotong-sepotong. Membuat Fanisa ingin membenturkan kepala Fano ke dinding


detik ini juga.


"Serah lu No! Jadi, maksud lu apa?" Tanya


Fanisa berusaha sabar dengan mahluk irit di sampingnya.


"Sama." Balas Fano.


"Ya Allah No! Lu ngomong juga gak bayar, takut


banget gue kenain biaya. Selama masih bisa berbicara, gunakanlah dengan baik!


Jangan bikin gue kesel hari ini. Lu gak tahu kan cewek PMS kalau marah kaya


gimana?! Jadi jelasin! Dan jangan muter-muter!" Omelan Fanisa membuat


seringai tipis muncul di wajah Fano. Dia sangat merindukan Fanisa yang seperti


ini. Di bandingkan Fanisa yang cuek dan diam macem batu. Lebih baik ini.


"Okey, dengarkan jangan potong!" Perintah


Fano dan di balas anggukan.


"Sejak kejadian di rumah sakit, gue dan yang


lain bagi-bagi tugas untuk mencari tahu penyakit Fresa dan orang yang


menerornya. Sampai Gibran menemukan jawaban semuanya. Gue pikir Gibran akan


menjelaskan kepada kami. Ternyata tidak. Akhirnya, gue berinisiatif mendatangi


seorang dokter. Dan perempuan yang lu lihat itu adalah dokter yang pernah


nanganin Fresa pertama kali sebelum dia bertemu dengan Felly." Jelas Fano.


"Jadi, foto yang Mahda tunjukkan itu bukan


cewek lu?" Pertanyaan spontan tersebut membuat Fanisa mengutuk mulutnya.


Namun, gelengan kepala Fano membuat Fanisa lega. Entah kenapa saat ia tahu


semua ini dia jadi lebih tenang. Bahkan Fanisa merasakan sebuah kebahagiaan


yang tidak bisa ia jelaskan.


"Yaa, foto yang Mahda tunjukkan semua


kebohongan. Jelas-jelas wanita tersebut sudah memiliki suami dan dua anak.


Emang lu pikir gue penyuka tante-tante?" Pertanyaan Fano membuat Fanisa


mendelik.


"Ya kali aja." Balas Fanisa malas.


"Intinya, jangan percaya apa yang lu lihat


sebelum mendengarkan penjelasannya. Dan jangan menghakimi seseorang yang belum


tentu salah." Kata Fano


"Maksudnya?" Tanya Fanisa bingung.


"Mungkin bagi orang lain Mahda adalah orang


terjahat di sini. Padahal sebenarnya di belakang Mahda ada orang yang lebih


jahat lagi. Gue hanya menyimpulkan, Mahda itu terlalu mudah percaya sehingga


kebohongan menutupi kebenaran yang ada." Balas Fano.


"Lu gak marah sama Mahda? Terus apa yang lu


dapatkan saat bertemu dengan dokter tersebut?" Tanya Fanisa.


"Lu lucu ya Fan." Balas Fano membuat


Fanisa menaikkan alisnya.


"Lu terlampau ekspresif. Membuat gue gemes


liatnya." Ucap Fano membuat jantung Fanisa berdegup kencang.


"Apaan si lu gak jelas. Jadi???" Tanya


Fanisa mencoba mengalihkan semuanya.


"Gue marah sama Mahda? Gak. Lagian gak ada


untungnya marah sama orang yang lupa arah. Dan yang gue dapatkan dari dokter


tersebut adalah rahasia. Ibarat kata, jika Fresa belum mau terbuka maka lebih


baik kita tunggu. Karena menjelaskan semuanya tidak semudah membalik telapak


tangan Fan. Apalagi ini menyangkut penyakit yang parah." Jelas Fano.


"Parah?" Tanya Fanisa lirih.


"Hem. Yang lebih parah lagi, Fresa itu menjadi


incaran musuh keluarga gue dan keluarganya. Jadi, jaga Fresa selama lu bisa


menjaganya. Terima kasih No, untuk tidak menjelaskan tentang penyakit Fresa.


Karena ada saatnya di mana semua itu akan terbongkar." Balasan dari arah


belakang mereka membuat keduanya memutar tubuh dan menetap sosok yang mereka


kenal, Gibran Pahlevi.


Gibran berjalan mendekati mereka. Kini, ketiga


orang tersebut tengah asik dengan pikiran mereka masing-masing.


"Terus apa yang Mahda maksud dengan 'kalian


semua itu di bodohi oleh Fresa?! Bahkan dia lah kehancuran persahabatan kita


sesungguhnya?' okey ucapan tersebut sangat menyinggung gue. Karena dari kecil


gue kenal Fresa dan dia bukan tipe orang munafik yang bersembunyi  dengan


topengnya. So, ada yang bisa jelaskan?" Pertanyaan Mahda membuat memori


tentang kejadian sebulan lalu terbongkar. Fano dan Gibran saling pandang, entah


apa yang mereka lakukan dengan kontak mata tersebut, yang Fanisa yakini mereka


sedang berdiskusi melalui gerakan mata atau saling tunjuk menunjuk untuk siapa


yang mau menjelaskan semuanya.


"Mahda terjebak dengan Cheryl. Entah apa yang


cewek gila itu katakan dengan Mahda. Tapi, gue rasa memang dalang semuanya


adalah Cheryl. Karena kan selama ini yang memulai semua kekacauan adalah


Cheryl. Dan setahu gue Alex hanya pion yang Cheryl gunakan. Selebihnya gue gak


tahu siapa lagi dalang di belakang semuanya. Karena seperti yang kita ketahui


sebelumnya, lu jatuh karena Cheryl dan telapak tangan Fresa juga terluka karena


cewek gila itu, jadi menurut gue emang si Cheryl lah pelaku utamanya."


Jelas Gibran membuat Fano menggelengkan kepalanya.


"Gak Bran, bisa saja dalang sesungguhnya


bersembunyi di balik kejahatan Cheryl? Siapa yang tahu bukan?" Ucapan


tersebut bukan keluar dari mulut mereka bertiga melainkan sosok lain yang baru


bergabung dengan mereka.


"Maksud lu Van?" Tanya Fanisa.


"Banyak nanya lu kaya Dora." Balas Evan


ketus.


"Lebih baik jadi Dora yang banyak tanya, dari


pada jadi Patrick!" Ucap Fanisa sinis.


"Apa hubungannya Dora sama Patrick Fan. Mereka


itu beda pencipta! ****!" Balas Evan sebal.


"Lu kenapa si?! Kayanya kesel banget sama


gue?!" Tanya Fanisa.


"Perasaan lu aja kali, lu kan sama Fresa 11 12


jadi gue kesel sama lu berdua barengan." Balas Evan.


"Maksudnya?" Tanya Gibran.


"Lu tahu saat kalian ninggalin Fresa, dia jadi


berubah!" Balas Evan dengan menggebu-gebu.


"Berubah gimana?! Jangan setengah-setengah


sialan!" Ucap Gibran geram.


"Berubah jadi batu. Di ajak ngomong malah


diam. Tapi gue sadar ucapan Arkan memang benar si." Balas Evan bingung.


"Benar gimana?! Arkan ngomong apa?" Tanya


Gibran menuntut.


"Arkan benar, gue gak adil jika kepo masalah


kalian tapi gue sendiri gak terbuka dengan kalian. Egois banget ya gue."


Balasan suara lain membuat mereka berempat terdiam. Bahkan langkah sepatu sosok


tersebut membuat mereka semakin takut. Mereka seperti maling yang tercyduck!


"Karena gue udah tahu semuanya, jadi sebaiknya


kalian juga tahu tentang gue. Beberapa bulan ini gue sak--"


"Fresa masuk ke mobil!" Perintah dari


pihak lain membuat Fresa mencibir. Mau tidak mau Fresa mendekati sosok kurang


kerjaan di depannya. Siapa lagi jika bukan Faza Aditya.


"Aku masih sekolah kak. Ya kali di suruh


pulang." Cibir Fresa.


"Nona gak lupakan sekarang jadwal non--"


"Gak lupa! Dan jika kalian mau tahu jawaban


dari semua yang gue sembunyikan, kalian bisa datang ke Jhonson Hospital. Bye


guys!" Pamit Fresa.


Di saat Fresa meninggalkan mereka, Kiki dan Arkan


tiba dengan wajah panik! Membuat mereka saling pandang.


"Ada apa?!" Tanya Fanisa.


"Fresa!"


"Fresa barusan pergi sama Faza." Balas


Fanisa.


"Kalian itu bodoh atau apa si! Faza hubungi


gue kalau dia gak bisa jemput Fresa!" Bentak Kiki.


Melihat Kiki panik Gibran langsung berlari keluar


sekolah di ikuti sahabatnya yang lain, sedangkan Kiki dan Fanisa mengurus


masalah tas mereka yang tertinggal. Entah apa yang terjadi saat ini semua orang


khawatir dengan Fresa!


❤️❤️❤️


Kelemahan Fresa.


***


Gibran keluar dari pelataran sekolah dengan


mengendarai motor kesayangannya. Dia tidak peduli dengan umpatan para pengguna


jalan, karena setiap detik yang Gibran sia-siakan sangat berharga untuknya.


Apalagi jika menyangkut seorang Fresa Aditya.


Bagi Gibran dan keluarganya, Fresa adalah perempuan


yang harus di jaga dengan sebaik-baiknya. Bahkan jika perlu perlindungan khusus


akan mereka lakukan. Seperti halnya saat ini, jangan mereka pikir anak buahnya


bisa di lumpuhkan. Nyatanya, anak buah Gibran tengah mengikuti jejak Fresa,


terlihat jelas dalam GPS yang ada di ponsel Gibran.


"Orang bodoh adalah orang yang berani


menantang Pahlevi." Gumam Gibran dengan seringainya. Tanpa menunggu lama


dia langsung menancap gasnya.


**


Sama halnya dengan Gibran, Evan dan yang lainnya


juga berpencar mencari keberadaan Fresa dengan feeling seadanya. Mereka membagi


tugas, ada yang ke daerah Lembang, Dago dan ada yang di sekitar perumahan


Fresa. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa, kecuali lalu lintas seperti


biasanya dan keadaan sepi di beberapa jalan.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi Gibran


setelah mereka berkumpul bersama. Dering pertama, tidak ada jawaban dan dering


kedua panggilan di putus sepihak. Dan dering ketiga? Sama! Membuat Fanisa dan


Kiki menggeram, Kesal.


"Lacak ponsel Gibran aja kenapa si! Lu semua


terlampau ribet!" Omel Arkan.


"Ya juga, kalau gitu lanjutkan


perjalanan!" Perintah Evan membuat semuanya mencibir kesal.


**


Di tempat berbeda, di dalam sebuah kotak persegi


beroda empat. Sosok wanita cantik terlelap dalam mimpi indahnya.


Sosok tampan dengan wajah aslinya tengah


menyeringai penuh kemenangan. Misi balas dendamnya sedikit lagi tercapai.


Namun, tanpa sosok tersebut sadari, dia terjebak dengan permainannya sendiri.


"Faza Aditya! Sebentar lagi lu akan merasakan


kehilangan seorang adik." Kata sosok tersebut sambil memandang wajah


Fresa.


"Jika gue liat-liat, adik lu imut Za, apa gue


rusak adik lu?" Gumam sosok tersebut.


Fresa merasakan pening di kepalanya. Ia mencoba


mengumpulkan semua bayang-bayang yang ada di hadapannya. Sampai sosok asing


terekam jelas dalam ingatannya.


"Siapa lu?! Mana kakak gue?!" Bentak


Fresa membuat sosok yang asik menyetir tersebut menyeringai.


"Gue? Greg. Rekan bisnis kakak lu." Balasnya.


Greg? Rekan bisnis? Apa Greg yang ada di pikirannya


sama dengan Greg yang ad--gak mungkin! Karena Greg yang Fresa kenal sudah tidak


lagi tinggal di Indonesia. Ya, mungkin dia Greg yang lain.


"Kakak gak punya rekan bisnis macem lu."


Balas Fresa ketus.


"Gue musuh bisnisnya, dan tujuan gue kembali


ke Indonesia untuk membalaskan dendam adik gue. Gue yakin lu pasti tahu."


Jelas Greg.


"Gue kaga tau sialan! Mending lu keluarin gue


dari sini! Cepet gak?!" Paksa Fresa membuat Greg terbahak.


"Gak! Sebelum lu mati, lu gak bisa


keluar!" Balas Greg marah.


Fresa mencari akal, namun saat matanya tidak


sengaja melihat spion di sampingnya, saat itu juga rasa tenang memenuhi dada


Fresa. Setidaknya, ada orang yang menjaganya saat ini dan Fresa tahu, Dia tidak


akan membiarkan Fresa terluka.


"Kematian manusia ada di tangan Allah SWT.


Bukan di tangan manusia jahanam kaya lu!" Ucap Fresa dingin.


"Lu tuh persis kaya Faza! Buat gue tambah


benci!" Bentak Greg.


"Gue adiknya bloon! yaa sama lah." Balas


Fresa asal.


Greg menahan amarahnya, ia sangat kesal mendengar


penuturan Fresa. Ingin sekali dia menabrakkan mobil ini ke bahu jalan, namun


sayang rencana Greg tidak semudah itu. Dia ingin merasakan Fresa sakit seperti


adiknya.


"Lagian om, ngapain si nyulik gue? Gak ada faedahnya.


Gue itu penyakitan, kurus kering dan kalau makan gue banyak yang ada lu


tekor." Ucap Fresa panjang lebar membuat Greg mencibir.


"Gue gak peduli semua itu. Karena kakak lu


adik gue mati. Dan gue bakal bikin lu bernasib sama dengan adik gue. Mata di


balas dengan mata. Hukum yang adil bukan?" Tanya Greg dengan seriangainya.


"Adil si, tapi kalau lu gak tahu kebenarannya


ya gak adil om. Lagian ini ya, memupuk dendam hanya membuat masalah baru


datang. Lebih ikhlaskan semuanya. Karena apa yang terjadi dengan kita, sudah


menjadi garis takdir. Dan yang harus om lakukan saat ini ialah move on!"


Jawab Fresa membuat Greg mencibir.


"Move on?! Gak bisalah! Di mana-mana kematian


harus di balas Kematian! Sudahlah mending lu diam jangan beris--Damn it!"


Umpat Greg saat melihat satu mobil hitam menghalangi jalannya.


"Diam! Jangan kemana-mana!" Ucap Greg


sambil keluar dari mobilnya.


Di saat Greg sedang bernegosiasi dengan orang-orang


di depannya, Fresa membuka pintu mobilnya dan mulai berjalan mengendap-endap. Ia


tahu tubuhnya saat ini tidak bisa di ajak kerjasama, namun demi kelangsungan


hidupnya dia harus meninggalkan tempat tersebut.


Ia terus berjalan, sampai seseorang menariknya


untuk bersembunyi di balik pohon. Awalnya Fresa ingin memukuli orang tersebut namun


mendengar bisikan dari suara yang sangat ia hafal membuatnya lega. Ia pikir


anak buah Greg menangkapnya.


"Cerdasnya tunangan aku."


"Cerdaslah! Kalau gak gue bakal mati di tangan


om-om mesum itu!" Balas Fresa ketus.


"Om-om mesum?" Tanyanya.


"Gibran Pahlevi, lu tuh bodoh apa gimana?!


Udah ah gue capek mau tidur bye!" Ucapan Fresa membuat Gibran mendengus.


Di saat Fresa mendudukkan tubuhnya di sandaran


pohon dan memejamkan matanya, sebuah cairan mengalir dari hidungnya, membuat


Gibran yang tengah menengok ke arah Fresa langsung mengambil sapu tangan yang


sering ia bawa.


"Bersihkan darah lu! Kita ke rumah


sakit." Perintah dingin Gibran membuat Fresa membuka matanya dan langsung


menerima sapu tangan tersebut. Fresa tidak tahu dia harus selemah ini di


hadapan Gibran. Dan dia sangat benci situasi macam ini.


Di saat Fresa sibuk membersihkan darah yang keluar


dari hidungnya. Gibran menghubungi anak buahnya yang lain untuk membawakan


mobil ke lokasi yang sudah ia share. Gibran tidak mau kalau Fresa kenapa-kenapa.


Jika sampai Fresa terluka, maka Gibran akan membalasnya lebih.


"Tuan mobil siap!"


Tanpa menunggu lama, Gibran langsung membawa Fresa


ke rumah sakit. Baru saja ia memasukkan Fresa ke mobil, sahabat-sahabatnya


tiba.


"Ke rumah sakit!" Perintah Gibran membuat


yang lain mengangguk paham. Biarkan mereka bertanya nanti, sekalipun mereka


tidak tahu siapa dalang semua ini. Mereka yakin Gibran tahu cara menyelesaikan


semuanya.


❤️❤️❤️


Fresa sakit.


Lebih baik sakit hari ini daripada kemudian hari.


Karena semakin lama bangkai di sembunyikan, maka semakin sakit pula efek yang


di timbulkannya.


**


Gibran memasuki rumah sakit dengan keadaan Fresa


yang tidak sadarkan diri. Di belakang Gibran, ada sahabat-sahabatnya yang


sedari tadi mengikuti dirinya.


Gibran melihat Felly yang berlari langsung paham.


Jika wanita cantik tersebut akan menangani Fresa.


"Apa pelaku melukai Fresa?!" Tanya Felly


panik.


"Gak kak, cuma mimisan Fresa kambuh."


Balas Gibran membuat Felly langsung menganggukkan kepalanya.


Wajah pucat Fresa membuat dia ingin sekali memaksa


Fresa melakukan hal yang seharusnya sebelum terlambat.


"Kalian tunggu ya. Kakak mau periksa


Fresa." Kata Felly sambil membawa tubuh Fresa yang sudah di letakkan di


brankar sebelumnya.


Selama menunggu Fresa, Fanisa yang sudah tidak


sabar langsung mengutarakan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Ia ingin menangis


saat ini, tapi ia tahan sekuat tenaga.


"Sebenarnya Fresa sakit apa Bran?" Tanya


Fanisa lirih. Bahkan tanpa yang lain ketahui air mata Fanisa terjatuh, namun


dengan cepat ia hapus.


"Chronic Myeloid Leukemia." Balas Gibran.


Membuat Fanisa terdiam.


"Leukimia?! Sejak kapan?!" Kata Fanisa.


Fanisa merasa sahabat paling bodoh karena tidak mengetahui penderitaan


sahabatnya sendiri. Fanisa marah dengan dirinya! Sangat marah!


"Beberapa bulan ini." Balas Gibran lirih.


"Inilah alasan kenapa Fresa gak mau kasih tahu


kalian." Kata Gibran saat melihat Fanisa dan Kiki menangis di hadapannya.


"Tapi kita berhak tahu Bran! Sekarang gini


deh, seandainya Fresa meninggal gimana?"


"Gak gimana-gimana tinggal kubur." Jawab


Evan membuat Fanisa menatapnya tajam.


"Galak amat si Fan. Makin cantik lu kalau kaya


gitu." Ucap Evan membuat Fano menjitak kepalanya.


"Lu masih bisa ya bercanda lagi kaya


gini?!" Balas Fanisa kesal.


"Bukannya gitu Fan. ***** gue berasa manggil


nama sendiri. Bodo amat dah. Intinya gini Fan, gak selamanya kita bisa dengan


mudah berbagi rasa sakit dengan orang lain. Dan lu pasti sangat paham orang


macem Fresa seperti apa bukan? Jadi dari pada lu menyesali diri lu sendiri.


Lebih baik kita dukung Fresa. Itu yang Fresa butuh dari kita. Bukan sebuah


penyesalan." Jelas Evan panjang lebar.


"Tumben pinter." Balas Gibran membuat Evan


mencibir.


"Sialan! Untung gue baik jadi gue


maafkan." Balas Evan asal.


Fanisa membenarkan ucapan Evan. Harusnya yang ia


lakukan saat ini mendukung Fresa bukan malah mencari-cari cara mengalahkan diri


sendiri. Sama halnya dengan Kiki, Kiki paham gak selamanya apa yang kita


rasakan bisa kita umbar seenaknya. Apalagi menyangkut hal pribadi.


Kini, mereka lebih asik menunggu dalam diam. Entah


apa yang Fresa hadapi di dalam sana. Yang pasti mereka berharap Fresa baik-baik


saja.


"Adek gue mana?!" Tanya Faza membuat


Gibran yang tengah menundukkan kepalanya langsung mengangkat.


"Periksa." Balas Fano singkat membuat


Faza mendengus. Tenyata masih saja ada orang yang irit bicara. Faza pikir orang


macem itu punah dan tersisa dirinya ternyata tidak.


Tepat saat kedua orangtua Gibran tiba, pintu


ruangan Fresa terbuka.


"Fresa baik-baik saja. Dia sedang istirahat.


Ouh ya Za, ada yang mau aku omongin." Kata Felly membuat Faza langsung


mengikuti kemana Felly membawanya. Sedangkan Gibran dan yang lain memilih makan


siang bersama. Sedangkan Fresa akan di jaga oleh Gara dan Gisca.


**


Suasana kantin rumah sakit sangat ramai. Beruntung


Gibran dan kawan-kawannya mendapatkan tempat duduk, jika tidak mungkin mereka


akan meninggalkan rumah sakit demi makan siang yang terlambat atau mesan makanan


via Gobang.


"Akhirnya makan juga setelah berperang


akhirnya semua usai." Ucap Evan mendramatiskan keadaan.


"Lebay!" Balas Fano dan Fanisa bersamaan.


"Wah! Kata gue kalau ngomongnya bareng gak


jodoh. Berarti lu bakal jadi jodoh gue Fan. Sip lah." Ucap Evan membuat


Fano melempar sendoknya. Bukan mengenai Evan, malah mengenai sosok di belakang


mereka.


"Sorry." Ucap Fano singkat.


"Santai, asal jangan kena Felly aja."


Balas Faza dingin.


"Widih! Kakak ipar sedang berduaan. Boleh lah pajak


jadiannya." Ucap Evan sambil menaik turunkan alisnya.


"Gak usah pajak. Lu semua gue undang ke


nikahan gue. Tapi ingat, gue butuh ampau gede." Ledek Faza membuat yang


lain mencibir.


"Jadi sekarang sudah sadar kak, kalau hati


kakak memilih kak Felly?" Pertanyaan Fanisa membuat Faza yang sedang minum


jusnya tersedak. Bukan menjawab pertanyaan, Faza malah mengalihkan ke hal lain.


"Jadi siapa pelakunya?" Tanya Faza.


"Greg. Musuh bisnis lu." Balas Gibran


setelah itu ia menyuapkan makanan yang ada di sendok terakhirnya.


"Sialan! Tapi Fresa baik-baik saja kan?!"


Ucapan Faza dengan nada tinggi membuat mereka jadi perhatian orang-orang.


"Fine, bahkan dia bisa kabur di saat anak buah


gue mengalihkan semuanya. Tunangan gue luar biasa." Balas Gibran sambil mengacungkan


jempolnya.


"Lebay ah!" Tutur Evan membuat Gibran


menyeringai.


"Iri heh?" Balas Gibran.


Disaat mereka semua tengah asik berbincang-bincang,


muncul sosok yang selama ini sibuk dengan dunianya. Siapa lagi jika bukan


Mahda. Entah kebetulan atau memang di sengaja, Mahda sedang memasuki kantin


rumah sakit. Membuat Fanisa dan yang lain langsung menatap Mahda bingung.


"Mahda ngapain ke rumah sakit?"


Pertanyaan Kiki membuat Evan mendengus.


"Suntik difteri!" Balas Evan asal. Entah


kenapa Evan sekarang biasa saja, tidak seperti dulu jika melihat Mahda ia


histeris macam orang kurang obat.


"Masa? Ya kali." Balas Fanisa.


"Biarin apa, suka-suka dia. Mau dia berobat


ke, jenguk pacar kesayangannya atau apapun itu gue gak peduli!" Balas


Evan.


"Kalau lu gak peduli, gak mungkin lu natap


Mahda mulu Van. Aneh lu!" Balas Fanisa ketus.


"Gue tahu gak sekarang lu dekat sama Mahda


Van, ada kala di mana lu harus nanggung sakit dulu sebelum kebahagiaan lu. Jadi


ambil positifnya aja. Jangan membenci orang lain. Karena kebencian akan menunda


kebahagiaan lu." Jelas Kiki.


Tanpa Kiki sadari, Arkan sedari tadi menatapnya


dengan penuh cinta. Siapapun akan menyesal jika melepaskan sosok seperti Kiki


dan kawan-kawannya.


"Biasa aja dong Ar! Kaya Kiki makanan


aja." Sindir Evan.


Di saat mereka bercanda tawa, Mahda yang duduk


tidak jauh dari mereka menatap sendu. Dia merindukan mereka semua, tapi dia


tidak bisa ke sana. Ada sesuatu yang menahan dia untuk kembali dan sesuatu itu


akan Mahda ceritakan nantinya. Mahda pun memutuskan kembali ke rumah setelah


merasa puas melihat Fresa dan sahabat-sahabatnya. Ia berjanji akan menjelaskan


semuanya nanti.


❤️❤️❤️