Galmoners

Galmoners
Part 40



Extra Part 1


*Yang Dirindukan


Aulia Choirun Nisa


Di bawah naungan senja yang merah kuning-kekuningan aku duduk di balkon rumahku sambil menatap dua orang anak kecil di hadapanku. Mereka Bima dan Sakti.


Warna langit yang sangat cantik tidak membuat keduanya tertarik. Bahkan mereka malah asik bermain dengan ponselnya tanpa mempedulikan sekitar.


Kenyataan tersebut membuatku miris. Anak kecil berusia tujuh tahun itu seharusnya menikmati masa kecil mereka dengan permainan yang lebih membuat kreativitas mereka berkembang. Bukan sebuah permainan yang dimana mereka bisa mengeluarkan kata kasar.


Aku paham, mereka semua hanyalah anak kecil yang tengah mencari model untuk dijadikan panutan bagi mereka. Sayangnya, mereka salah memilih. Sehingga mereka menjadi seseorang yang tidak peduli dengan sekitar. Bahkan kadang mereka suka melupakan tata krama mereka terhadap orang yang lebih tua.


Sedih pastinya, melihat anak kecil melawan orang dewasa hanya demi sebuah game. Yang lebih miris lagi, orang yang mereka lawan adalah Ibu dan Bapak mereka. Melihat mereka seperti itu membuat ku sedih. Seakan-akan banyak perbedaan masa aku kecil dengan mereka.


Dulu, aku tidak tahu apa itu ponsel. Tidak tahu kegunaannya untuk apa dan manfaatnya bagaimana.


Yang aku tahu saat itu, aku sangat bahagia bermain bersama teman-temanku. Bermain sebuah permainan yang membuat aku berlari kesana-kemari, bermain sebuah permainan yang menguras kinerja otak ku. Dan masih banyak sekali permainan yang aku main kan yang kini hanya bisa aku rindukan.


Bukan hanya dari segi permainan. Jika dulu aku dan teman-teman ku duduk di sebuah pos ronda sambil membahas apa saja yang bisa kita bahas. Tapi kini, kami sibuk dengan ponsel yang ada di genggaman kami. Dan aku merasakan itu. Saat kami bertemu kembali setelah sekian lama tidak berjumpa, bukan saking memeluk erat atau berbincang hangat layaknya dulu. Melainkan asik dengan ponsel masing-masing yang membuat suasana hening.


Sedih? Pastinya. Sekarang dan dulu benar-benar sangat berbeda jauh. Seharusnya bisa saja kita melakukan hal-hal seperti dulu. Tapi ego masing-masing yang menahannya. Dan aku tidak mau dua ponakan lucu ku bernasib sama denganku. Boleh kita memegang ponsel, tapi tahu kapan harus mengehentikan menggunakannya. Karena kita hidup tidak sendirian, ada orang lain di sekitar kita. Bahkan tanpa kita sadari saat kita asik bermain ponsel kita melupakan sesuatu, sesuatu yang harusnya mudah kita lakukan. Obrolan kecil.


Dengan senyum di wajahku, ku langkahkan kakiku ke arah mereka. Ku ambil tempat di tengah-tengah mereka supaya aku bisa memperhatikan keduanya.


"Bima... Sakti.. kalian gak main sama yang lain?"


"Gak mau, Mbak. Gamenya lagi seru. Kenapa gak Mbak aja yang main? Daripada Mbak ngerem di rumah. Mending bertelor kayak ayam nah ini kaga."


Kesal? Tidak. Aku tahu itu adalah perkataan spontan dua orang anak kecil hanya saja tidak selayaknya mereka berkata kasar terlebih pada orang tua mereka. Karena aku yakin Sepupu ku dan istrinya akan menangis sedih melihat anak-anak mereka seperti ini.


"Kalian gak mau minta maaf sama Umi dan Abi?"


"Gak Ah Mbak," jawab keduanya yang masih asik dengan permainan pada ponsel mereka.


Niat jahilku muncul. Ku rebut ponsel mereka dan ku letakkan di saku pakaianku.


"Mbakkk!!!"


"Maafin Mbak ya, mbak cuma mau cerita sedikit. Kalian mau dengerin gak? Sebelum adzan magrib nih."


"Gak mau ah. Itu gamenya pasti kalah deh terus aku AFK"


"Biarin," jawabku.


Melihat keduanya tidak melakukan apapun atau membalas apapun aku tersenyum bangga, seakan-akan apa yang aku lakukan membuahkan hasil.


"Dengerin Mbak ya. Pernah tidak kalian melukai Umi sama Abi?"


"Sering."


"Pernah tidak mereka memukul atau bermain tangan sama kalian?"


"Tidak."


"Wah enak sekali ya. Dulu waktu Mbak kecil, Mbak selalu di pukul kalau Mbak melakukan kesalahan. Makanya Mbak tidak bisa berkata kasar pada mereka. Karena Mbak gak mau mereka menangis karena kelakuan Mbak. Tahu gak? Umi sama Abi kalian tadi menangis loh saat kalian berkata kasar sama mereka. Kalian tidak merasa bersalah?"


Mereka menundukkan kepalanya tanpa mau membalas pertanyaan yang aku utarakan.


"Bima... Sakti... Dengerin Mbak ya. Zaman boleh berkembang sangat pesat. Tapi etika, dan sikap kita tidak boleh mengikuti zaman. Kenapa? Karena karakter itu sulit untuk di ubah. Bagaimana jika sikap kalian yang seperti ini sampai dewasa? Kakak yakin kalian akan semakin menyakiti hati Umi dan Abi."


"Mbak maaf..."


"Kalian seharusnya minta maaf sama Umi dan Abi. Bukan sama Mbak. Mbak punya cerita lucu sekali mau dengar tidak?"


Anggukan antusias dari keduanya menarik bibirku untuk tersenyum lebar.


"Dulu, di sini ramai sekali sama teman-teman Mbak. Kita bermain petak umpet saat itu. Kalian tahu Bang Jali? Nah dia yang bertugas menutup mata. Mbak dan yang lain langsung mencari tempat persembunyian. Saat kami semua bersembunyi..."


"Kenapa Mbak?! Apa bang Jali gak bisa menemukan Mbak? Atau Mbak sangat mudah di temukan? Ya secara Mbak kan gak kreatif," Kata Bima meledek kekurangan ku. Tapi tidak ku balas, malah aku melanjutkan ceritaku.


"Kalian tahu kan rumah pakde ada tong besar? Nah Mbak ngumpet di sana. Mbak gak tahu ya itu Bang Jali niat nyari Mbak atau tidak. Mbak di sana seharian."


"Mbak gak mati?" Tanya Sakti.


"Meninggal sayang, kalau mati itu untuk hewan" jawabku.


"Ya maksudnya itu Mbak."


"Kalau Mbak meninggal, siapa yang lagi cerita saat ini? Hantu?" Pertanyaan ku membuat keduanya tertawa. Ihh.. Meraka sangat senang sekali jika aku menderita.


"Lanjut Mbak."


"Nah besok paginya Pakde nemuin Mbak. Bukannya ditanya keadaan Mbak gimana, Pakde ngamuk sama Mbak. Tahu apa yang dilakukan Pakde? Mbak di pukul pakai sapu lidi.ckckck.. Bahkan Ibu sama Ayah Mbak gak bantuin Mbak sama sekali karena Mbak sadar Mbak salah."


"Nah emang Mbak melakukan kesalahan? Mbak kan hanya bersembunyi disana dari Bang Jali." Melihat Bima dan Sakti protes membuat aku semangat melanjutkan pembicaraanku.


"Karena Mbak melewati tiga waktu solat! Sama kaya kalian yang tadi lewat waktu ashar," jawabku ketus.


Keduanya terdiam menatap ke arahku. Wajah penyesalan mereka tunjukan membuat ku tidak tega.


"Maaf, Mbak kesal sama kalian. Masa di suruh solat aja ngatain Umi sama Abi. Kalian harusnya bersyukur karena mereka masih ada di dunia ini jika tidak ada seperti Mbak gimana?" Pertanyaan ku di balas dengan pelukan hangat keduanya. Entah kenapa aku jadi rindu dengan Ayah dan Ibuku yang jauh di sana. Rindu saat mereka memarahiku, dan memukul ku jika aku melakukan kesalahan. Aku sangat merindukan mereka.


Suara isak tangis keduanya membuat aku tersentak. Aku tidak ada niat untuk membuat mereka nangis. Jika sampai mereka nangis pasti aku di tuduh pelakunya. Bagaimana ini?!


"Anis...."


Suara mencengkam di depanku membuat aku tersenyum kikuk. Bahkan dua anak kecil di pelukan ku langsung melepaskan pelukannya dan memeluk tubuh seorang Pria dewasa di hadapan ku.


"Abi Bima minta maaf ya. Bima janji gak akan lupa waktu lagi. Bima janji gak akan marahi Abi."


"Sakti juga! Sakti minta maaf sama Abi. Jangan tinggalkan kami ya Abi."


Aku menangis melihat keduanya. Aku ikut memeluk Pria di hadapanku sambil menangis.


"Maafin adek juga ya Bang, kalau adek suka ngusahin Abang selama ini. Maaf gak bisa jadi contoh yang baik buat anak Abang."


"Kamu sudah menjadi kakak yang baik buat mereka. Lagian kamu sudah besar masih aja nangis. Malu sama umur! Bukan cari jodoh malah nangis di sini."


"Jodoh mah nanti aja Bang!" Balasku asal.


Pletak!


Jitakan yang kurasakan di kepalaku membuat ku merenggut kesal. Dasar Abang tidak tahu terima kasih.


"Kamu mau buat Ibu sama Ayah kamu sedih?" Pertanyaan menohok itu membuat aku tersenyum.


"Jika jodohnya ada juga aku nikah Bang."


"Mana bisa Mbak dapat jodoh ya Abi, kalau kerjaannya diam di kamar." Kata Bima.


"Heem... Sana pergi bersosialisasi. Jangan diam di rumah. Kalau kamu meninggal siapa yang angkat kamu jika bukan warga sekitar?"


"Ya Abang Jali yang tampan ngalahin artis, nanti Anis main deh." Jawabku membuat mereka tertawa. Ish.. menyebalkan!


Melihat mereka bertiga masuk ke dalam rumah, aku memilih duduk di tempat tadi sambil menikmati suasana tenang ini bersama secangkir teh hangat yang di berikan oleh istri sepupuku.


Ahhh... Rasanya lega sekali saat mereka berdua melupakan ponselnya dan memilih bercengkrama bersama dengan Umi dan Abi. Rasanya seperti merindukan sesuatu yang terbalaskan.


Biarkan zaman maju semakin cepat jangan sampai dengan kemajuan ini kita melupakan sesuatu yang seharusnya menjadi budaya kita. Merdeka boleh! Tapi jangan lupa jika kita memiliki sesuatu yang harus kita jaga*.


Mahda menangis saat membaca cerita tersebut. Dia merasa tersentil karena cerita tersebut ada benarnya. Di tambah lagi dengan ponsel genggam yang begitu menggoda. Pasti membuat siapapun akan lebih tertarik dengan ponsel genggam dibandingkan bercengkrama bersama.


Padahal Tuhan memberikan kesempatan hidup supaya kita bisa menghargai waktu yang Dia berikan. Bukan malah menyiayiakannya. Dan Mahda merasa selama ini dia banyak sekali menyianyiakan waktu. Apalagi pernah terjebak dalam masa lalu yang sebenarnya tidak perlu lagi dirisaukan. Ya, namanya juga Mahda. Selalu saja melakukan hal sesukanya sampai lupa ada tujuan awal yang menunggu.


"Gue tahu Da lu baper sama cerpennya. Tapi gak gini juga kali." Kiki menatap malas sahabatnya yang sudah menghabiskan beberapa helai tisu. Maksudnya gini loh, ini kan hanya cerpen ya sudah gitu. Tidak perlu yang selebay sahabatnya ini. Lagi pula itukan hanya fiksi. Kenapa harus terlalu bawa perasaan. keenakan kali si penulisnya bikin orang nangis bombay. Sedangkan Fanisa dan Fresa tidak mau ikut campur. Sebab kalau Mahda sudah mulai perdebatannya, yang ada mereka kebawa emosi dan keduanya tidak mau hari ini terjadi. Karena hari ini mereka tengah sibuk mengurus kelanjutan kuliah mereka. Wajar para pengejar Magister.


"Bener tahu Ki, Kita tuh dijajah sama yang namanya Handphone. Sebagai generasi masa depan, kita tidak boleh bersikap demikan. Kita juga harus menghargai kebersamaan yang ada." Jelas Mahda. See? Fresa dan Fanisa hanya berusaha mendengar tanpa mau ikut campur perdebatan alot Kiki, dan Mahda.


"Baik Bu guru." Fresa memilih beranjak dari duduknya untuk mendekati Alex kecil yang sepertinya mencari dirinya.


Mereka semua tengah berkumpul di kafe milik Gibran. Lepas insiden yang sangat menguras hati, semua kembali menjalankan kehidupan sebagaimana mestinya. Menyongsong waktu yang terus berjalan ke depan.


"Alex sama aku aja." Gibran memberikan Alex pada Fresa. Setelahnya lelaki itu berdiri di sisi Fresa sambil memperkenalkan pada dua sosok lelaki asing di depan mereka. Jangan kaget jika Fresa mengucapkan kata sopan saat ini, karena memang itulah yang Fresa lakukan jika ada orang asing di sekitar mereka atau kedua orang tua mereka.


"Tunangan saya, Fresa Aditya. Dan sayang mereka Aldo dan Aldi rekan bisnisku."


"Saya Fresa."


"Saya Aldi."


"Saya tinggal ya. Aku sama Mahda ya."


"Oke." Gibran mengecup dahi Fresa, setelahnya membiarkan wanita itu kembali pada sahabatnya.


"Kapan si lu nikah?" Mahda langsung bertanya saat Fresa baru duduk di tempatnya bersama anak angkatnya, Alex.


"Santai aja si." Jawab Fresa malas.


"Makin hari dia makin nempel sama lu Ca, nanti kalau kuliah gimana?" Pertanyaan Kiki di jawab oleh Fresa dengan santay.


"Jangn risau nikmati aja prosesnya."


Benar, nikmati saja prosesnya kenapa harus sibuk memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Malah Fresa menikmati semuanya dengan ikhlas. Apalagi Alex tidak punya sanak saudara setelah ibunya tiada.


"Aku kayanya mau survei tempat, kamu tunggu di sini ya. Tidak lama ko."


"It's Okay, take your time."


Gibran pergi. Datanglah Fano, Arkan dan Evan memasuki kafenya. Mereka duduk di bangku kosong yang memang tersedia di sana. Fanisa sibuk dengan laptopnya bersama Kiki. Sedangkan Fresa dan Mahda asik menghibur Alex yang tiba-tiba menangis.


"Ca digigit semut kali, masa iya ditinggal Gibran sekejer itu." Mahda mulai mengeluarkan pendapatnya. Melihat tangisan Alex yang tak berhenti, bahkan sampai membuat Fanisa dan Kiki browsing lewat mbah google.


"Masa iya? Coba tolong tarikin satu meja Fan." Fanisa dan Fano langsung beranjak. Bahkan keduanya saling tatap sampai akhirnya tertawa bersama.


"Sudah aku aja, kamu duduk sana." Usir Fano. Padahal Fresa memang berniat meminta bantuan Fano dibandingkan Fanisa. Ya kali dia setega itu.


Meja akhirnya bertambah, Fresa mengeluarkan taplak bayi yang selalu ia bawa kemanapun. Mencoba memeriksa kondisi Alex. Hingga semut besar nempok dipaha gemuknya. Membuat Fresa langsung membuangnya dengan segera. Tidak sampai di sana saja. Fresa juga mengoles Alex dengan minyak telon, karena paha Alex sudah membentuk bentol yang besar.


"Maafin Mama sayang, Mama gak tahu." Melihat mata Fresa yang berkaca-kaca Fanisa jadi tidak tega. Andai di antara mereka ada yang mengambil ke dokteran pasti bisa bantu situasi sekarang.


"Yaampun ponakan uncle menangis. Siapa yang jahatin kamu sayang? Mama kamu ya? Atau Papa Gibran? Atau mereka semua?"


"Nih orang ngajak ribut, dia pikir kita apaan kali ya." Sungut Evan menatap Faza yang datang bersama kekasihnya, Felly Alexander.


Faza mau menggendong Alex tapi anak lelaki itu tidak mau, malah mengumpat di leher sang ibu. Mungkin Alex mengantuk karena sudah memasuki waktu tidur siangnya.


"Gibran mana Ca?" Pertanyaan Felly membuat Fresa yang sibuk menepuk badan Alex yang mulai tenang dari tangisannya, menoleh.


"Lagi meeting tadi." Jawab Fresa sekenanya.


"Ouh. Kalian kalau mau pesen makan kasih tahu ya. Gue pesen nasi goreng dua." Felly mendudukan tubuhnya. Ia lelah habis menangani pasien yang membuatnya pusing kepala.


"Yaudahlah kita sekalian aja makan siang dulu di sini, lagi pula Gibran gak tahu baliknya kapan." Akhirnya mereka memesan makanan untuk makan siang. Sedangkan Fresa tiba-tiba saja oleng, saat seseorang sengaja menabrak tubuhnya. Beruntung Fresa sigap langsung mendekap Alex dengan erat


Brakkkkk....


"Fresa!!!" Teriakan semuanya membuat Fresa meringis karena ia merasa kepalanya terbentur kaki meja. Wajar, dia mengorbankan dirinya supaya Alex tidak terluka. Alex kembali menangis dalam dekapan Fresa. Membuat wanita itu menepuk badan bayi gemuk itu supaya tenang. Entah sadar atau tidak, jika dahi Fresa mengeluarkan darah sekarang.


"Aduh Mba kalau jalan pakai mata dong! Apa perlu gue tambahin mata lagi, biar gak asal nerobos aja!" Bentak Fanisa pada sosok wanita yang menatap Fresa dengan tersenyum sinis. Memang wanita gila! Bukannya minta maaf malah ketawa.


"Dih. Teman kamu saja kali tidak tahu tempat, masa berdiri di jalanan." Jawabnya.


"Yeh gila lu ya! Jelas-jelas dia lagi nenangin anaknya dan lu nerobos masuk dari sana! Ngaca Mba!" Bentak Mahda yang mulai terpancing emosi. Faza dan Felly memilih membantu Fresa untuk membersihkan lukanya dibandingkan mengurusi wanita tidak jelas itu.


"Urus wanita itu, jangan lepasin dia. Gue mau anter adik gue ke klinik bentar."


"Itu yang katanya istri Gibran. Dih baru kaya gitu aja lemah. Mending juga gue yang jadi istrinya. Palingan tuh cewe hamil di luar nikah. Masa iya anaknya gak ada mirip-miripnya sama Gibran." Bisikan itu terdengar jelas di telinga Fanisa. Kiki yang tahu apa yang selanjutnya terjadi memilih membiarkan. Karena wanita itu terlanjur menarik emosi semuanya.


"Aw!!!" Wanita itu meringis saat Fanisa menjambal rambutnya dengan keras. Seakan helaian rambut itu adalah seutas tali.


"Gu gak tau siapa yang nyuruh lu. Dan gue gak tahu tujuan lu apa sebelumnya. Karena mengusik sahabat gue seujung kuku aja, gue bakal buat lu lupa caranya hidup!" Fanisa semakin menjambak rambut wanita tersebut. Beruntung teman-temannya sigap langsung membalikkan bacaan open menjadi closed.


"Lepasin sialan! Wanita itu berhak mendapatkannya karena merebut Gibran dari gue! Asal kalian tahu, yang cocok sama Gibran hanyalah gue!" Teriakan wanita yang sangat percaya diri ini membuat Fanisa semakin menarik rambutnya.


"Gue ingetin nih bu ya. Jangan ngimpi ketinggian!" Fanisa mendorong wanita itu hingga membentur meja. Langkah kaki Fanisa dan tatapannya yang berubah seperti orang lain membuat Kiki dan Mahda langsung sigap menenangkan wanita itu hanya dengan sebuah bisikan.


"Awas kalian semua! Akan gue bal--"


"Sayangnya lu harus menunggu ajal lu." Faza menarik paksa wanita itu dan membawanya keluar entah kemana. Sedangkan yang lain memilih menenangkan Fanisa yang berada entah di mana.


"Fresa sama anak gue mana?" Gibran datang dengan wajah bingungnya. Apalagi tulisan tokonya yang tiba-tiba tutup. Tidak mungkin bukan jika terjadi sesuatu pada calon istri dan anaknya? Kalau iya, Gibran tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Klinik sebelah. Nanti kalau sudah diobati bawa ke sini ya Gib, doi belum makan sama sekali." Kiki mewakili orang-orang yang ada di sana. Bahkan meminta Gibran membawanya kembali, supaya Fresa bisa makan siang.


"Oke. Makasih."


Kedatangan Gibran membuat mereka berhasil mengalihkan perhatian Fanisa. Hingga saat Gibran pergi, mereka memutuskan untuk membawa segera makanan yang mereka pesan. Beruntung sekali Fresa menabrak meja lain, kalau menabrak meja yang di tempati Fanisa dan yang lain. Habis sudah Fresa dan Alex. Dan mereka semua yakin riwayat wanita itu akan tamat.


****


Tepat sekali Gibran sampai di klinik, karena Fresa dan Alex baru saja keluar dari suatu ruangan bersama Felly.


"Kamu gak apa?"


"santai aman semuanya. Aku lapar tanyanya nanti aja ya habis makan." Gibran mengambil Alex dari gendongan Fresa dan berjalan lebih dulu meninggalkan dua wanita di belakangnya.


"Gibran khawatir banget tuh sama kamu." Felly berucap lepas dia melihat wajah khawatir Gibran saat melihat dahi Fresa di perban. Memang Faza sangat lebay, masa iya Fresa di suruh di perban. Kalau tidak Fresa tidak akan pernah di izinkan kuliah ke luar negeri.


"Biarkan saja. Aku malah penasaran siapa wanita tadi."


"Sama. Kamu gak inget siapa gitu?"


"Entahlah Kak, gak peduli juga."


Mereka tiba di Kafe dengan Gibran yang pergi entah kemana bersama Alex. Sedangkan Fresa bergabung dengan yang lain.


"Makan kaga nungguim dasar teman." Sindir Fresa.


"Makan Ca, dari pada marah-marah tambah lapar. Mana Gibran, Alex sam--"


"Makanan gue mana guys?" Tanya Faza yang baru datang langsung meminta makanannya.


"Tinggal makan mau yang mana, nanya mulu lu semua kaya dora." Evan kesal dengan dua manusia kakak beradik di depannya ini.


"Biasa aja kali. Gib mau makan apaan?" Tanya Fresa.


"Gampang, kamu makan duluan aja kita gantian.


"Oke!"


Gibran memikirkan wanita yang ia lihat melalui cctvnya tadi. Entah kenapa wanita itu seperti tidak asing, makanya dia meminta anak buahnya mencari tahu semuanya dan Gibran mau data yang cepat. Pasalnya malas jika harus menunggu lama. Apalagi cuma mencari data malas sekali dia.


"Bran! Alex gak tidur?"


"Menurut lu aja dah Van. Ngajak ribut banget," keluh Gibran.


"Sini gue yang gendong. Lu makan aja sana." Baru saja Alex mau dipindah tangankan. Eh, malah nangis kejar. Membuat yang lain tertawa.


"Muka lu kaya setan si. Takutkan anak gue."


"Sialan lu!"


"Evan!"


"Sorry khilaf."


Evan dan anak kecil adalah hal yang sulit di persatukan. Bahkan Gibran sendiri aneh kenapa Alex sangat takut dengan Evan. Entah berapa kali Evan selalu berusaha menggendongnya, tapi bayi itu malah menangis setiap di gendongannya. Aneh bukan? Ya begitulah Alex. Keduanya seakan musuh bebuyutan.


"Makanya Van, kebanyakan dosa si." Ledek Arkan.


"Enak aja lu! Anaknya Fresa aja yang dendam sama gue." Pembenaran yang tidak masuk akal.


"Pala lu dendam. Mana ada anak kecil imut kaya Alex dendam sama orang dewasa kaya lu. Yang ada emang lu aja yang kaya setan. Hahaha..." Faza seakan bahagia mengeluarkan apa yang ada di kepalanya tidak peduli dengan Evan yang menggerutu. Mahda sendiri yang melihatnya hanya bisa tertawa terbahak-bahak.


"Kalian semua luar biasa!"


Hari ini memang di penuhi dengan suka dan duka. Tapi Gibran tidak akan lupa, jika dia akan menanyakan pada Fresa nanti. Saat mereka sudah berdua saja. Biarkan hari ini sibuk dengan segala macam canda dan tawa. Karena Gibran tidak akan menghancurkannya. Lebih lagi, dia tidak akan lama di Indonesia. Jadi, sebisa mungkin dia memperbanyak memori tentang semuanya.


Karena momen berharga hanya bisa kita dapatkan dengan menghargai segala waktu yang di berikan oleh Tuhan.


💗💗💗


Aku akan posting cerpen-cerpen karyaku sebagai temu kangen kalian dengan galmoners nah dari extra pasrt ini nantinya akan berhubungan dengan series kedua mereka. Dan sepertinya aku akan ganti nama moveoners tetap ke galmoners namun versi keduanya dan itu akan aku update saat aku sudah garap sampai ending biar aku gak perlu gantungin kaya cerita yang lain :(