
Camping 1.2
Bagaimana kita bisa percaya orang lain jika kita masih tidak percaya diri sendiri
- - -
Udara sejuk di tempat camping membuat siapapun mengerat jaket milik mereka. Seperti halnya Galmoners. Ketiga gadis cantik tersebut memakai jaket tebal yang mereka bawa sebelumnya.
Berdiri di depan makanan yang sudah siap untuk anak-anak lain, membuat mereka ingin sekali cepat-cepat masuk ke dalam tenda. Pasalnya udara yang mereka rasakan sangat dingin.
Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, FEGA berjalan menuju mereka. Gibran yang galau karena Fresa, berjalan malas. Pasalnya penyemangat hidupnya tidak hadir saat ini.
"Gibran ada salam dari Fresa." Kata Fanisa saat FEGA berdiri di hadapan mereka. Gibran tersenyum senang, namun semua hancur saat mendengar ucapan Mahda.
"Kapan Fresa nitip salam? Perasaan selama kita di sini kita gak boleh megang hp. Ah! Lu main hp diam-diam ya?" Penuturan Mahda membuat Fanisa mendengus. Pasalnya, niat Fanisa ingin meledek Gibran gagal.
'dasar Mahda lemot!' gerutu Fanisa membuat Kiki yang berdiri di sampingnya tersenyum tipis. Mahda dan lemot sesuatu yang tidak terpisahkan selama mereka bersahabat. Jadi, sabar aja jika Mahda dalam mode ini.
"Gak asik lu Fan!" Gibran pergi setelah mengambil sarapan paginya membuat Fanisa terkekeh. Ia bisa menceritakan ini pada Fresa nantinya.
"Senang banget kayanya." Celetuk Fano yang kini berdiri di samping kiri Fanisa.
"Sangat! Pasalnya Gibran sama Fresa itu lucu. Yang satu gengsi yang satu terlalu frontal. Kan lucu No." Perkataan Fanisa membuat Fano refleks mengelus kepala Fanisa. Membuat gadis cantik tersebut terpaku di tempatnya. Sedangkan Mahda? Dia shock melihat apa yang ada di hadapannya. Ia tidak menyangka orang cuek seperti Fano bisa sweet juga.
Kiki yang berdiri di sebelah kanan Fanisa tadi, sudah memisahkan diri saat Arkan memanggilnya lewat gerakan tangan. Kini Kiki sedang melihat hasil potretannya tadi. Ternyata, seorang Fano Malik bisa melakukan hal tidak terduga. Jika Fresa ada di sini, Kiki yakin Fresa akan shock. Namun sayang perempuan itu masih di Jerman.
"Thanks Ar! Nanti kirim ke gue ya." Ucap Kiki senang. Ia mengembalikan ponsel milik Arkan yang tadi ia pinjam untuk memotret keduanya.
"Nanti gue kirim. Ouh ya, ni buat lu." Arkan memberikan dua buah coklat untuk Kiki. Awalnya dia bingung, namun melihat wajah serius Arkan membuat ia tersenyum.
"Thanks loh Ar! By the way, ada acara apa kasih gue coklat?" Pertanyaan Kiki yang kepo itu membuat Arkan refleks mencubit pipinya. Ternyata Kiki bisa imut juga.
"Sebagai rasa cinta gue ke lu." Ucapan Arkan frontal membuat Kiki terdiam kaku. Jantungnya berdegup kencang. Apa kini saatnya ia membuka lembaran baru?
"Gak usah di jawab sekarang. Gue selalu siap kapan lu mau jawab. Karena setelah lu terima gue, gue gak akan lepasin lu dengan mudah." Arkan meninggalkan Kiki yang terdiam di tempatnya dengan senyuman tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. Setidaknya, hari ini dia sudah berani mengungkapkan perasaannya yang sudah lama ia pendam. Soal di tolak atau di terima itu urusan belakangan. Karena hari ini, Arkan sudah lega.
Tanpa mereka sadari, dua sosok yang selalu memantau mereka, menatap penuh kebencian. Ia akan memulai rencana mereka hari ini! Ya, siapapun yang terluka hari ini akan membuat keduanya bahagia.
- - -
Hari semakin siang, semua yang sudah sarapan dan bersih-bersih langsung berkumpul di lapangan. Hari ini, mereka akan bermain dengan alam. Mulai dari yang kotor sampai basah-basahan.
Panitia sudah berdiri di hadapan mereka semua. Kali ini Evan lah yang jadi pembawa acara.
"Pagi menjelang siang adik-adik!" Teriak Evan.
"Pagi menjelang siang juga kak." Balas anak-anak baru
"Baiklah kali ini kita akan bermain dengan alam, untuk semester tua-tua tolong jaga adik-adiknya ya! Awas jatuh cinta! Ingat menjaga! Jangan di pacari. Kalau mau pacaran nanti ae, kalau gue udah dapat pacar oke?!" Ucap Evan
"Oke!" Balas adik kelas sedangkan kakak tingkat hanya bisa mendengus melihat tingkah laku Evan yang menurut mereka sudah tidak asing.
Panitia langsung masuk ke dalam tim yang sudah mereka dapat sebelumnya. Karena Galmoners berpisah membuat mereka sedih. Namun, bagi dua sosok yang memiliki dendam pada mereka menjadi kesempatan emas.
Kini, setiap kelompok sudah bergerak mengikuti peta. Mahda yang sekelompok dengan Cheryl dan Alex, menggeram. Ia benci berada di situasi ini! Seandainya Evan satu kelompok dengannya pasti ada orang yang menghiburnya saat ini. Menyebalkan!
Jika Mahda kesal, maka Kiki sedang ketar-ketir. Pasalnya ia satu kelompok dengan Arkan. Kalian tahu bukan gimana perasaan kalian jika seseorang mengatakan perasaannya pada kalian, tapi kalian gantung. Pasti aneh bukan? Sama seperti dirinya. Dia juga aneh dengan situasi ini. Jika ada sahabatnya di sini mungkin bisa membantunya.
"Awas nabrak!" Ucap Fano sambil menahan kepala Fanisa yang hampir menabrak pohon.
"Eh? Thanks." Balasan kikuk Fanisa membuat Fano menggeleng. Jika ia bisa, ingin sekali Fano mencium pipi tersebut. Sayangnya Fano tidak sebrengsek itu. Dia bukan Gibran yang apa-apa terlalu frontal. Dia hanyalah Fano yang bisa diam mengagumi orang yang di cintainya.
Tanpa Fanisa dan Fano sadari sosok di belakang mereka tengah menatap bengis, bahkan sosok itu sudah memiliki niat jahat kepada Fanisa.
"Jangan mesraan mulu woi! Ingat tugas!" celetuk sosok itu, membuat Fanisa dan Fano melanjutkan jalannya.
Jika ketiga gadis cantik itu tengah asik mengikuti permainan yang ada. Maka gadis cantik yang baru tiba, langsung memasuki kawasan camping bersama dua orang yang berjalan di belakangnya.
"Fresa Aditya! Kenapa kamu ada di sini?" Tanya salah satu guru yang berjaga.
"Saya mau ikut camping." Balas Fresa membuat guru tersebut menatap Fresa dan dua orang di sampingnya serius.
"Saya tahu, pasti kedua orangtua saya sudah memberi tahu semuanya. Tapi, seperti yang ibu lihat sekarang. Adik saya sangat keras kepala. Biarkan dia mengikuti acara hari ini dan izinkan kami berdua untuk ikut." Penjelasan Faza membuat guru berumur itu mengangguk paham. Bahkan guru tersebut sudah mengizinkan mereka untuk ikut andil. Karena Fresa baru tiba, Faza memutuskan untuk menemani Fresa di tendanya. Namun baru beberapa langkah tiba di tenda Galmoners mereka melihat sosok memasuki tenda Galmoners, mereka bersembunyi di balik pohon sampai..
"Gue sudah tinggalkan surat atas nama Fresa. Dan lu tenang aja, rencana kita akan berjalan lancar. Gue yakin setelah ini, Fresa akan di jauhi oleh sahabat-sahabatnya."
"Gak sabar liat Fresa hancur."
"Gue juga, karena pembalasan gue belum seberapa dari ini."
"Gue tahu lu kejam."
Kedua orang tersebut meninggalkan tenda Galmoners. Felly yang mengerti dengan situasi ini, dia langsung berjalan memasuki tenda dan mengambil surat tersebut. Setelah itu, ia kembali ke tempat tadi.
Di saat mereka membaca surat tersebut, sosok lain ikut membaca surat tersebut dengan bingung.
"Kakak gak bisa buat kamu dalam bahaya! Kita harus melakukan sesuatu dek." Kata Faza.
"Aku tahu kak, dua orang itu benci sama aku. Tapi, kita gak bisa gegabah. Bahkan kita gak punya bukti," balas Fresa.
"Kakak punya! Liat rekaman ini." Kata Felly.
Disaat ketiganya melihat rekaman tersebut, sosok yang berdiri di belakang mereka sudah menahan amarahnya. Ternyata tidak salah menjadikan mereka musuh.
"Jangan beri tahu siapapun, pasti akan ada yang kecewa nantinya. Biarkan semua mengalir seperti air." Kata Fresa. Sosok yang berdiri di belakang merekah sudah pergi entah kemana. Sedangkan Fresa dan yang lain memilih masuk ke dalam tenda.
- - -
Di saat semua sibuk mencari petunjuk yang hilang, Fanisa malah asik menikmati pemandangan hijau di depannya. Tanpa Fanisa sadari, sosok yang berdiri di belakangnya mendorong tubuh Fanisa dan membuat gadis cantik itu terjatuh.
"Well... Satu kuman menghilang! Good bye kuman." Ucap wanita yang sedari tadi menargetkan Fanisa. Fanisa yang melihat sosok itu dengan jelas, hanya bisa menggeram.
Fanisa menggenggam dahan pohon dengan erat, namun jika ia kelamaan berada di sana pasti dahan itu akan patah. Mau tidak mau Fanisa berteriak minta tolong.
"Tolonggggg!!!!!"
Fanisa terus mengulangi kata yang sama, namun tidak ada tanda-tanda orang akan menyelamatkan dirinya. Sampai dahan pohon yang ia pegang patah dan...
"Fanoo!!!!!"
Lepas berteriak, Fanisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Bahkan pening yang di rasakan Fanisa membawanya, pada lubang hitam. Fanisa berharap seseorang menemukannya.
❤️❤️❤️