Galmoners

Galmoners
Part 35



Back to Campus!



Pagi ini mungkin pagi yang sangat membahagiakan untuk Fresa Aditya. Karena setelah berlibur ke Singapura, sekarang waktunya dirinya menyibukkan diri dengan rutinitas seperti biasanya.


Datang bersama tunangannya membuat Fresa menjadi pusat perhatian saat ini. Apalagi sejak tersebarnya berita pertunangan dirinya.


"Gak usah mikirin mereka." Kata Gibran berbisik.


"Mikirin gak, cuma risih aja." Balas Fresa malas.


"Sama aja." Balas Gibran menyentil dahi Fresa.


"Aduhh, yang udah taken beda ye. Apalagi mau nikah. Aduh beda banget dah auranya." Celetuk Evan.


"Lu gila?!" Kata Fresa sinis.


Nikah dari Hongkong! Dia saja takut memikirkan hal berbau pernikahan, nah ini? Mulut mercon ngomong asal jeplak membuat mood Fresa hancur seketika!


"Kaga! Emang kenyatannya kaya gitu. Setelah tunangan pasti menikah liat saja nanti. Jika benar kalian yang nikah duluan kalian harus traktir gue liburan." Kata Evan.


"Yeh gila! Ngomong lu sana sama tembok." Balas Fresa ketus.


Fresa heran kenapa sekarang Evan jadi sangat menyebalkan. Apalagi sekarang dia selalu saja menganggu dirinya dan Gibran. Okey, Fresa bukan ingin berduaan dengan Gibran. Tapi kalau di recoki seperti ini membuat dirinya kesal sendiri.


"Welcome back Fresa!!" Teriak teman-teman sekelasnya saat dia baru memasuki kelas.


"Waw! Thanks you gengs! Terharu deh." Kata Fresa.


"Harus dong Fres! Sebagai ketua kelas gue harus bisa menyenangi anak-anak gue."


"Wahh terima kasih bapaknya anak-anak." Ledek Fresa.


Gibran mendengus saat mendengar ucapan Fresa. Tidak biasanya Fresa mau berbaur. Atau mungkin dia sudah insaf?


"Aku kembali ke kelas. Jangan lupa, istirahat aku tunggu di kantin." Ucap Gibran yang kini berdiri di depan Fresa.


"Heem. Thanks ya!" Balas Fresa.


Belum, Gibran pergi dari sana. Cheryl dan dua antek-anteknya sudah berdiri di kelas Fresa.


"Pagi Gibran! Wah, pasti habis antar selingkuhan kamu ya. Kamu gimana si Bran. Kita ini tunangan loh." Ucap Cheryl.


"Dari mana lu tunangan Gibran?" Tanya Fanisa sinis.


"Ini!" Balas Cheryl sambil menunjukan Cincin yang ia gunakan.


Gibran dan Fresa tersenyum sinis. Mereka menunjukkan cincin keduanya. Cincin di mana milik keluarga besar Gibran dan kini melekat di tangan keduanya. Perhatian anak-anak mulai ke cincin ketiganya. Dan mereka sudah paham siapa sejatinya tunangan Gibran.


"See? You lose. Jika mau memanipulasi Cincin ini tidak bisa. Sekalipun serupa ada bagian dari cincin ini yang tidak bisa di miliki toko perhiasan lainnya." Jelas Gibran.


"Tahu lu Medusa! Insaf kenapa si, gue tahu lu iri sama Fresa tapi ya gak gini juga keleus. Kan yang malu lu juga." Tambah Evan.


"Bisa aja punya Fresa palsu!" Balas Cheryl Keukeh.


"Sebenarnya dari Cincin yang gue gunakan saja gue bisa tahu mana pasangan cincin ini. Udahlah sana pergi. Gue muak sama permainan lu. Ah satu lagi! Lu bakal berhubungan dengan pihak berwajib. Thanks Fano!" Kata Gibran langsung pergi dari kelas Fresa.


Teman sekelas Fresa menatap Cheryl jijik, pasalnya mereka juga tahu seperti apa Cheryl sebenarnya. Apalagi Cheryl ini kakak tingkat mereka, jadi menurut mereka tidak pantas.


"Dari pada berniat menghancurkan kehidupan gue. Lebih baik lu belajar yang benar, supaya lu lulus. Jangan sampe gak lulus. Malu loh." Ledek Fresa membuat teman-temannya menyaut.


"Tahu! Cantik doang kalau otak gak ada mah buat apaan. Kasian anak gue nantinya." Saut ketua kelas.


"Liat lu semua! Gue bakal buat perhitungan sama kalian." Ancam Cheryl.


"Perhitungan? Emang lu jago matematika? Nilai merah aja belagu." Kata ketua kelas membuat kelas Fresa semakin ramai.


"Sialan! Liat aja nanti, gue bakal buat lu lupa sama dunia!" Kata Cheryl sambil menunjuk Fresa.


"Lupa dunia? Lu kali. Wahhhaa..."


Cheryl sudah teramat kesal, dia lebih memilih meninggalkan tempat tersebut dari pada semakin malu.


"Sepertinya ada yang gue lewatkan, apa itu?" Tanya Fresa membuat semua langsung bersemangat bercerita.



Di lain sisi, Mahda dan Kiki tengah asik berbincang-bincang. Semua anak-anak kelasan mereka tengah asik menyibukkan diri.


Brakkk....


Gebrakan meja membuat semua mata memandang pelaku kebisingan tersebut.


"Mau apaan lagi si lu! Udah kakak tingkat juga masih aja cari gara-gara." Ucap ketua kelas.


"Diam lu! Gue gak ada urusan sama lu. Mana Mahda! Gue mau bicara sama dia." Kata Alex dengan penuh amarah.


"Ngapain lagi si lu! Mending cabut aja dari sini, lagian kita gak ada yang harus di selesaikan. Jadi lebih baik lu pergi sebelum kita semua ngusir lu kaya kemarin." Balas Mahda yang kini asik duduk di bangkunya.


Alex berjalan mendekati meja Mahda membuat Mahda dan Kiki bersiaga. Pasalnya kemarin Alex main tangan. Beruntung Mahda cepat menghindar jika tidak? Kemungkinan wajah Mahda sudah jadi pelampiasan amarah kakak kelas tersebut.


Kriettt...


Bangku yang Mahda duduki berderit akibat tendangan kaki Alex. Mata keduanya saling menatap tajam seakan-akan mata mereka itu pisau runcing yang siap menusuk siapapun.


"Aduh Alex, bisa gak si gak cari masalah sehari aja. Lu sudah besar, sudah punya KTP dan pastinya lebih dewasa dari kita. Tapi tingkah laku lu kaya anak-anak! Menyedihkan." Ucap Kiki menyindir.


"Diam! Gue gak ada urusannya sama lu! Jadi lu gak usah ikut campur." Bentak Alex.


"Terus lu mau bilang kita punya masalah? Masalah apalagi Alex! Gue sudah ikhlas putus sama lu, gue juga udah gak ganggu lu lagi. Terus mau lu apa?!" Balas Mahda kesal.


"Mau gue ya lu sama gue balikan! Apa perlu gue lukain sahabat lu supaya lu balik sama gue?" Tanya Alex mengancam.


"Gue gak bakal sudi balikan sama lu. Anggap aja kemarin gue lagi bego. So, gak ada lagi yang harus di bahas." Jawab Mahda membuat Alex emosi.


Cowok tampan tersebut langsung mencekik leher Mahda membuat beberapa teman sekelas Mahda berlari ke arah mereka. Bahkan Kiki yang membantu saja terdorong ke lantai.


"Kamu gak apa?" Tanya Arkan yang entah kapan dia datang.


"Gak apa, tapi Mahda." Balas Kiki.


Arkan mengerti. Ia langsung menarik tubuh Alex dan mendorongnya.


"Lu mau jadi pembunuh?! Jangan di sini! Di tempat lain sana! Jangan cemarkan kampus kita dengan tingkah murahan lu. Apa lu gak mikir dampak yang lu lakukan ini?! Ingat orang tua lu! Kalau lu masuk penjara dan gagal skripsi, siapa yang bakal mereka banggakan kalau cuma lu?! Sudahlah Alex, masa lalu itu jadikan pembelajaran, bukan malah di jadikan beban hidup. Ada kalanya kita gak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. So, lebih baik lu kembali." Kata Arkan.


"Gue gak takut! Jika Mahda gak bisa jadi milik gue maka semua orang tidak bisa memiliki Mahda termasuk teman sialan lu! Gue bakal kembali lagi sampai lu mau menerima gue!" Ucap Alex sebelum meninggalkan tempat tersebut. Alex bersumpah akan membalas mereka semua. Ia tidak peduli siapa lawannya yang pasti Mahda harus jadi miliknya. Harus!


"Gue gak sudi! Lebih baik lu pergi dan jangan pernah muncul kembali ke hadapan gue, karena lu itu gak penting bagi gue!" Balas Mahda.


"Kita lihat saja nanti." Ucap Alex misterius.


Mahda tidak tahu harus berbuat apalagi, yang ia harapkan semua ini cepat selesai. Karena dirinya sendiri juga lelah dengan sikap Alex yang menurutnya tidak rasional.


❤️❤️❤️