Galmoners

Galmoners
Part 11



Mencoba melupakan 1


Terkadang permasalahan dalam persahabatan di butuhkan demi memperkuat tali persaudaraan.



Bandung mulai kembali ke suasana di mana matahari bersinar terang. Setelah langit menumpahkan air matanya beberapa hari ini, kini langit kembali tersenyum seperti sedia kala. Membawa semangat bagi siapa saja yang akan menjalankan hari ini dengan suka cita.


Galmoners memasuki kampus mereka dengan senyum merekah. Termasuk dengan Mahda Adijaya, gadis cantik itu tengah berbincang-bincang mengenai pasar malam yang akan mereka datangi besok malam. Bahkan Fresa yang berjalan di belakang mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apalagi saat dia mendengar perkataan Kiki yang ingin sekali membeli permen kapas, membuat dia teringat kejadian tiga tahun lalu. Kejadian di mana...


Galmoners memasuki kawasan tempat diadakannya pasar malam, gadis berusia 14 tahun tersebut mulai berkeliling mencari sesuatu yang menarik perhatian mereka. Sampai salah satu dari mereka berteriak.


“Permen kapas!!!”


Fresa, Mahda dan Fanisa langsung terdiam melihat tingkah laku Kiki. Pasalnya gadis cantik tersebut sangat jarang berteriak, tapi sekarang? Kiki melakukannya di hadapan banyak orang, tidak tanggung-tanggung perempuan lembut tersebut mulai berteriak meminta permen kapas. Bahkan Kiki tidak peduli jika dirinya di tatap aneh oleh pembeli lain, yang terpenting permen kapas ada di tangannya.


“Kiki dan permen kapas adalah sesuatu” Kata Fresa.


“Ya, sesuatu yang membuat urat malunya hilang seketika.” Balas Fanisa dengan senyuman manisnya.


“Dan membuat kita malu dan jadi perhatian banyak orang.” Tambah Mahda membuat Fresa dan Fanisa mengangguk setuju.


“Fre!!” teriak Mahda saat melihat Fresa yang bertabrakan dengan Gibran, bahkan sahabatnya yang satu itu masih tetap diam sampai air mata mengalir di wajahnya.


“Fresa? You okay?” pertanyaan Gibran membuat Fresa tersadar dari ingatan membahagiakannya.


“Lu kenapa meluk gue?” tanya Fresa kepada Gibran, membuat cowok tampan tersebut menatap Fresa khawatir. Bahkan Mahda dan yang lain juga ikut khawatir.


“Ouh air mata ini? Gue cuma ke inget kejadian tiga tahun lalu. Kejadian di mana kita gak pernah marahan, sekali marah ya masalah sepele. Sekarang ? huftt..” tutur Fresa spontan, membuat Mahda tersenyum sendu.


“Aduh yang kangen masa lalu sampai gak sadar nabrak doi.” Ledek Fanisa membuat Fresa mendengus.


“Gue bukannya nabrak dia, tapi emang dia aja yang sengaja nabrak gue! Sejak kapan anak ekonomi ada di kawasan anak sastra?” pertanyaan Fresa membuat semuanya langsung menatap Gibran tajam.


“Eh? Itu, gue habis lari pagi! Ya, lari pagi.” Balasan Gibran membuat Mahda terbahak, mana ada orang lari pagi dengan jalan? Dasar Gibran, modusnya sangat terbaca! Ya lah, orang Mahda melihat dengan sangat jelas jika cowok tampan tersebut sengaja menabrak Fresa. Dasar Gibran!


“Alah bullshit! Bilang aja kangen sama Fresa, karenakan tiga hari lu hilang dari peredaran. Eh tapi, Fresa juga hilang. Kok bisa barengan?” pertanyaan Mahda membuat Fresa dan Gibran saling pandang. Ya, sekarang posisi mereka bukan lagi berhadapan melainkan bersampingan.


“Bisalah, di mana ada Fresa pasti ada Gibran. Dan kemungkinan ni bocah ngikutin Fresa kumpul keluarga. Kalian kan tahu seberapa dekat keluarga mereka, sampai gue mikir mereka di jod—“


“Gak bakal!” balas Fresa memotong ucapan Fanisa. Membuat Fanisa terbahak seketika.


“Ya Allah Ca, asli komuk lu lucu tadi! Ah coba gue abadikan, pasti Galmoners Club langsung histeris melihat makhluk cuek macem lu bisa berekspresi.” Tutur Fanisa membuat Fresa mencibir sahabatnya lirih. Galmoners Club adalah sebutan anak-anak Starlight yang mengagumi Fresa dan yang lain, ya sejenis komunitas demi menghibur diri mereka. Awalnya Fresa tidak suka dengan hal tersebut, tapi berkat nasihat Kiki dia jadi membiarkan mereka, asal mereka tidak melebihi batasnya.


Melihat pemandangan yang ada di hadapannya membuat Fresa rindu mereka yang dulu. Walaupun kini Mahda bersama dengan mereka, Fresa merasakan suatu benteng yang di bangun oleh Mahda sehingga membuat Galmoners menjadi kaku. Entah hanya perasaannya saja atau bukan tapi itulah yang Fresa lihat saat ini.


“Pagi semuanya, maaf ganggu. Pinjam Mahdanya dulu ya.” Ucapan tersebut membuat Fresa dan yang lain mengangguk. Toh memang harus seperti ini bukan seharusnya? Si Alex sialan itu akan membawa Mahda dan mulai mencuci otaknya. Menyebalkan!


“Biasa aja dong mukanya, biarkan lah dia berbahagia dengan madunya.” Kata Gibran.


“Madunya? Lebah kali ah!” balas Fanisa.


“Yeah masih pagi lola! Madunya it—“


“Gi, balik gih! Gak guna juga lu di sini.” Usir Fresa.


Baru saja Gibran mau membalas ucapan Fresa, sahabat-sahabatnya datang mendekati mereka. Entah ada apa mereka ke kawasan Sastra, biasanya jika Gibran mengajak jawaban mereka selalu ‘tidak' dan pagi ini adalah pagi yang aneh. Sama halnya dengan Gibran, Fresa yang biasanya cuek mulai kepo dengan semua hal yang terjadi. Jika Mahda kembali ke Galmoners karena ajakan Kiki ke pasar malam, lalu kenapa sahabat Gibran jadi sering ke kawasan ini? Walaupun dia tidak masuk, sahabat-sahabatnya selalu bercerita di group mereka, jadi Fresa bisa tahu info apa saja yang terjadi di Starlight. Termasuk tentang perubahan geng FEGA yang mulai sering mendatangi kawasan mereka. Kalau Fano, Fresa tahu dia mau pendekatan dengan Fanisa. Nah ini! Arkan dan Evan?!


“Pagi wahai calon penghuni hatiku.” Kata Evan kepada Fresa, membuat gadis imut tersebut memandang bingung.


“Calon penghuni hati?! Lu mau gue tabok hah?!” omel Gibran.


“Mau dong! Tapi pakai cinta ya Ban!” balas Evan.


“Jijik!” umpat Fano dan Fanisa berbarengan.


“Widih! The next couple ngomongnya samaan. Ecieee...” ledek Evan membuat Fano spontan menjitak kepala sahabatnya tersebut.


“Gue gak tahu alasan kalian di sini, tapi kalau cuma cari sensasi mending ke tempat lain!” ucap Fresa dingin.


“Van lu beneran mau gue tabok hah?!” omel Gibran.


“Lu ngomel mulu Ban, lama-lama Fresa memilih Evan daripada lu.” Kata Arkan membuat Gibran menyeringai.


“Impossible! Because Fre—"


“Mau bilang calonnya? Pede gila!” potong Evan.


"Tau sok iye!" Balas Fano ketus.


“Stop! Kalian lebih baik kembali ke kawasan kalian. Bukannya ngusir tapi kalian membuat kita jadi pusat perhatian, apalagi fans kalian membenci Galmoners. Bisa-bisa kolom komentar instagram kita akan di penuhi hujatan. So, leave this place.” Kata Kiki bijak. Karena Kiki takut kejadian setahun lalu terulang, dimana haters Galmoners adu mulut di social media dengan Galmoners Club. Dan Kiki tidak mau itu terulang kembali, apalagi kini mereka mulai dekat. Entah apa yang terjadi nantinya, Kiki berharap bukan kejadian buruk.


“Benar kata Kiki, lebih baik kita kembali. Ouh ya Ki, besok gue jemput ke rumah. Emm... selamat belajar.” Kata Arkan dengan senyuman tipisnya.


“Ya, selamat belajar juga Arkan.” balas Kiki tersenyum.


“Ya selamat belajar juga Arkan?? Ett seberapa dekat kalian? Fanisa aja yang udah pedekate di diemin.” Kata Fresa.


“Kata siapa? Fano modus di line.” Balas Fanisa sambil menunjukkan pesan masuk dari Fano.


“Waw! Kalian sudah sejauh itu tapi lu gak ada niatan kasih tahu kita?!” tanya Kiki serius.


“Sorry, habis setiap mau cerita ada aja gangguannya.” Balasan Fanisa membuat Fresa dan Kiki mendengus, bahkan keduanya jalan lebih dulu meninggalkan Fanisa. Tanpa mereka sadari, seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka tersenyum sinis. Dia marah, karena rencana menghancurkan Galmoners sia-sia.


“Biarkan kali ini kita mengalah, karena setelah ini rencana kita selanjutnya akan di mulai.” Kata cowok yang berdiri di samping cewek berwajah kesal tersebut. Mereka pun meninggalkan tempat mereka menguntit.



Seperti istirahat biasanya, Galmoners akan bergabung dengan FEGA dan duduk satu meja yang sama. Namun kali ini berbeda, karena Mahda mulai ikut bergabung dengan mereka.


“Akhirnya ayang Mahda Back.” Kata Evan.


“Ayang-ayang pala lu peyang!” dengus Mahda.


“Alah bilang aja senang kan tuh dalam hati.” Ledek Evan. Ya, Evan akan melakukan apapun untuk membuat Mahda kembali melihat ke arahnya. Tidak peduli ia menikung si Alex sialan, yang terpenting Mahda kembali padanya.


“Anjir! Modus lu emang gak guna. Tadi pagi Fresa, sekarang Mahda besok siapa?” tanya Gibran sinis.


“Besok? Fanisa?” balasan spontan Evan membuat Fano langsung memukul kepala Evan.


“Mati lu!” umpat Fano.


“Ihh.. akang Fano ngomongnya mati. Nanti kalau aku mati akang sedih lagi.” Tutur Evan.


“Astaga Van! Gue jijik masa sama lu! Atau jangan-jangan lu—“


“Gak mungkin Mahda cantik! Aneh aja dah lu” sungut Evan.


“Van, kayanya lu butuh di ruqyah, biar setan di tubuh lu menghilang dan lu changed seperti Fano. Lumayan spesies tengil berkurang satu.” Balas Kiki sambil bertopang dagu.


“Aduh Kiki perhatian banget, jadi makin cinta akang.” Ucap Evan spontan.


“Semuanya aja Van lu ambil!” balas Arkan ketus.


“Akhirnya ketiga sahabat Evan cemburu Ya Allah. Ini semua berkat ke tampanan Evan.” Ucap Evan asal.


“Tai!” ucap Fresa membuat Gibran mendelik tajam.


“Biasa aja kali Ban, nanti Fresa pindah ke lain hati loh.” Kata Kiki sambil menyeruput jus jeruk di hadapannya.


“Gak bakal Ki, karena hati gue dan dia udah stuck satu sama lain.” Balas Gibran sambil menatap kedua mata Fresa. Sedangkan yang di tatap hanya bisa melengos menatap pemandangan lain.


Mahda tersenyum, ia bisa merasakan kehangatan persahabatan mereka. Mahda menyesal pernah membuat mereka renggang, bahkan sampai saat ini Mahda tetap menjaga jarak dengan Fresa. Kalian pasti tahu alasannya apa, jadi Mahda harus melakukan hal ini demi mencari kebenaran sebenarnya. Apalagi ucapan Alex tadi pagi meyakinkan Mahda akan satu hal dan hanya Mahda dan sang pencipta yang tahu. Biarkan hari ini menjadi kebahagiaan untuk Mahda, karena dia tidak tahu apa yang terjadi hari esok.


❤️❤️❤️