Galmoners

Galmoners
Part 10



Rencana ke pasar malam.


Benci dan kecewa beda tipis. Setipis helai rambut.



Sudah seminggu Galmoners kembali ke kampus, tetap saja sahabat mereka. Ketua Galmoners. Masih sama seperti sebelumnya. Menjauh dan cuek. Ingin sekali Galmoners menegur ketua mereka, tapi penolakan selalu mereka dapatkan. Setiap hari mereka menegurnya, namun di hiraukan dan di balas dengan ucapan tajam nan ketus. Seperti halnya saat ini, di jam istirahat Fresa Aditya mendatangi meja Mahda Adijaya yang sedang bermesraan dengan Alex.


"Da gue mau ngomong." Perkataan Fresa membuat Mahda yang asik bercengkrama dengan kekasihnya terganggu.


"Mau ngomong apa? Sama kaya kemarin? Mending gak usah Fre. Bilangin sama yang lain, keputusan gue tetap sama. Gue percaya Alex sepenuh hati." Perkataan Mahda membuat Alex tersenyum, bahkan tidak tanggung-tanggung cowok yang terkenal dengan mantan BEM itu tengah mencium telapak tangan Mahda, membuat Fresa yang sedari tadi berdiri menahan amarahnya.


"Lu tahukan Da? Gue bukan tipe orang yang basa-basi. Jika lu emang lebih percaya sama pacar lu, ya udah kita gak larang. Tapi jangan biarkan jarak membuat semuanya jadi runyam. Lu pernah bilang sahabat lebih penting, tapi kenyataannya? Bullshit. Jangan ucapkan apa yang gak bisa lu lakukan. Kalau emang lu benci gue, jangan benci yang lain. Dan satu lagi, penyesalan gak pernah datang di awal jadi pikirkan keputusan lu sebelum semuanya berubah." Perkataan Fresa membuat Mahda tersadar, selama ini dia membuat jarak dengan sahabatnya. Tapikan dia tidak salah, pasalnya ketiga sahabatnya selalu menjelekkan Alex. Jadi mau tidak mau, Mahda menjauh dari mereka daripada harus mendengar kekasihnya di jelek-jelekin. Karena inilah pengorbanan Mahda. Melepas sahabatnya demi kekasihnya.


"Kamu mau ke mereka? Gak apa kok, aku bisa sama Cheryl. Kayanya benar kata Fresa, dari pada kamu nyesel lebih baik datangi mereka dan minta maaf."ucap Alex.


Mahda tersenyum ke arah kekasihnya. "Akan ada waktu semua kebenaran terungkap. Lagi pula mereka mengerti jika ini keputusan aku. Udah ah lupakan yang tadi. Jadi bagaimana setelah kamu lulus nanti?" Pertanyaan Mahda membuat keduanya larut dalam obrolan. Sedangkan Fresa yang duduk tidak jauh dari mereka tersenyum sendu. Ternyata dia di kecewakan lagi.


FEGA yang duduk tidak jauh dari tempat Galmoners, menatap Mahda kesal. Lagi-lagi Mahda membuat sahabatnya sendiri kecewa. Bahkan Evan sendiri gemas dengan sifat Mahda kali ini.


"Bro, gimana kita ajak Galmoners ke pasar malam?" Perkataan Arkan membuat sahabatnya menatap Arkan serius.


"Pasar malam? Sejak kapan seorang Arkan Hutama main ke pasar malam? Biasanya sibuk sama buku tebal." Balas Gibran.


"Lu sahabat bego ya Gi! Ya jelaslah dia mau jalan sama yayang Kiki. Gitu aja pakai tanya, lu gak tau? Sejak insiden perpustakaan mereka deket loh." Tambah Evan.


"Bodoh!" Ucap Fano membuat Evan dan Gibran saling pandang.


"Bodoh? Siapa?" Tanya Evan.


"Lu berdua." Balas Fano.


"Apaan si No, kok lu gak jelas. Situ butuh aqua?" Tanya Gibran membuat Fano mendengus.


"Arkan dekat sama Kiki, sejak dia nembak Kiki. Bego!" Omel Fano.


"Nembak Kiki? Mati dong! Ah lu bego juga No!" Balas Gibran membuat Fano menggeram.


"Bodo Gi! Pantes aja Fresa gak luluh sama lu. Lu terlalu bego!" Ucap Fano.


"Sialan! Coba lu taklukkan si Fresa. Kaya bisa aja." Balas Gibran kesal.


"Kalau gue deketin Fresa terus dia jatuh cinta sama gue gimana? Tar lu nangis lagi." Ucapan Fano membuat Gibran spontan memiting leher Fano, sedangkan Arkan dan Evan sudah lebih dulu meninggalkan mereka. Karena malu.


"Haiiii Fresa." Sapa Evan dan langsung mendudukkan dirinya di samping Fresa.


"Kenapa lu? Kerasukan lagi?" Pertanyaan Fresa membuat Evan tersenyum.


"Yaa, akang kerasukan cinta neng." Balas Evan membuat Fresa mendengus.


"Jangan gangguin Fresa gue!" Omel Gibran. Entah kenapa Gibran tidak suka jika ada yang mendekati Fresa bahkan sahabatnya sekalipun.


"Alah Fresa lu, pacaran aja kagak, tunangan bukan, suami apalagi. Udah deh jangan ganggu gue lagi pendekatan!" Balas Evan sengit.


Arkan mulai mengambil alih pembicaraan. Karena jika tidak akan ada perang dunia antara Gibran dan Evan.


"Gi, lu duduk deh. Ada yang mau gue omongin sama Galmoners." Perintah Arkan membuat Gibran duduk di sisi kiri Fresa setelah mengusir Fanisa dari bangkunya.


"Dasar Gibran sialan!" Omel Fanisa membuat Fano yang duduk di sampingnya langsung mengelus bahu Fanisa, berharap gadis pujaan hati Fano tenang akibat ulah sahabatnya.


"Baiklah, karena kalian sudah tenang. Langsung aja ya. Weekend ada pasar malam, gue mau ngundang Galmoners untuk gabung sama kita. Kalau kalian gak mau ki--"


"Mau!" Ucapan Kiki yang memotong pembicaraan Arkan membuat cowok berkacamata tersebut tersenyum tipis.


"Fre kamu tahu gak perbedaan kamu sama matahari?" Kata Gibran.


"Bagus Fre! Jangan tanggepin orang gila! Jelas-jelas lu manusia dan matahari tata surya bodoh aja tuh orang." Balas Evan. Cowok tengil itu sengaja menganggu Gibran. Tidak peduli sahabatnya marah nanti, yang penting selama dia jomblo maka Gibran harus jomblo juga. Enak aja!


"Diam Van jangan sampe gue tendang lu dari sini!" Ancam Gibran.


Gibran menggenggam tangan kiri Fresa. "Bedanya kamu sama matahari satu. Jika matahari menyinari dunia maka kamu menyinari duniaku." Kata Gibran sambil mengecup tangan kiri Fresa.


"Prett! Bohong banget Fres, kemarin gue liat dia lagi rayu kakak kelas, jadi jangan percaya!" Perkataan Evan membuat Gibran melempar bakso di depannya. Bukan mengenai Evan malah mengenai Alex. Dan itu tandanya perang segera di mulai.


Brakkk....


Gebrakan meja yang di lakukan oleh Mahda membuat kantin yang tadi penuh dengan gelak tawa berubah menjadi hening.


"Lu itu kekanakan banget si Fres! Gue tau lu gak suka sama Alex, tapi gak kaya gini caranya. Jika dia mati tadi gimana?! Gue bisa loh nuntut lu." Kata Mahda tajam.


"Bukan Fresa tapi gue, kalau lu mau nuntut, tuntut gue!" Balas Gibran dingin. Semua mata menatap mereka penuh perhatian, sedangkan Alex dan dua sosok lain tersenyum bahagia melihat pertengkaran tersebut.


"Tuntut gue? gue gak takut!" Balas Fresa sinis.


"Da, kayanya lu harus pergi ke dokter deh. Karena mata lu udah gak berfungsi dengan baik." Kata Fanisa menyindir.


"Kayanya lebih baik lu deh Fan, karena lu gak bisa ngeliat kebusukan Fresa." Balas Mahda tak kalah sinis.


"Cukup Da! Gue minta maaf atas nama Fresa dan Fanisa. Gue juga minta maaf karena ulah Gibran lu jadi salah paham. Maafin mereka ya?" Perkataan Kiki membuat Mahda tersenyum tipis.


"Okey gue maafin. Lain kali gue gak mau lihat kejadian kaya gini. Dan sorry Fres gue salah nuduh lu tadi." Perkataan Mahda membuat Fresa bergumam dan kejadian tersebut membuat mereka kembali ke tempat duduknya, sedangkan Galmoners dan FEGA melanjutkan perbincangan mereka.



Faza Aditya tengah menunggu kedatangan adik tercinta. Sejak menerima hasil lab dari pihak Jerman, Faza langsung meninggalkan rumah sakit menuju sekolah adiknya.


"Fresa!!!" Teriak Faza saat melihat adiknya bersembunyi di balik jaket Gibran. Mendengar teriakan kakaknya membuat Fresa menarik tangan Gibran.


"Stop Fre! Itu kakak kamu nanti ngamuk terus gak kasih restu gimana?"perkataan Gibran membuat Fresa spontan memukul perut Gibran.


Baru saja ia mau meninggalkan Gibran, cowok tersebut menahannya, membuat Faza langsung berlari ke arah mereka.


"Bagus adik ipar, calon lau gue bawa dulu." Baru saja Faza mau membawa adiknya, Gibran menahan tangan Faza.


"Gue gak tahu apa yang di sembunyikan kalian, tapi kali ini gue gak bisa tinggal diam gue ini En--"


"Ya gue tahu status lu. Tapi ini urusan keluarga gue, lu bukan suaminya jadi gak ada hak!" Balas Faza membuat Gibran terdiam.


"Ya udah kalau gitu, gue bakal suruh keluarga gue datang ke rumah buat lamar Fresa gimana?" Pertanyaan Gibran membuat Fresa menginjak kaki Gibran.


"Lu cari mati hah?! Udah ah, ayok pulang" ajak Fresa kepada kakaknya.


"Gue ikut!" Balas Gibran sambil menahan tangan Fresa.


"Si kambing ngajak banget ribut, ya sudah lu ikut!" Balasan Faza membuat Fresa menatap kakaknya tajam, ini kakaknya serius?!


"Woi kambing! Latihan futsal!" Omel Fano.


"Ouh ya, bro gue gak jadi deh. Nanti gue nyusul. Dan lu! Jangan kemana-mana! Gue bakal ke rumah. Sebagai calon ist--"


"Bacot! Udah ah. Bye bro, bye Fres!" Lepas peninggalan Gibran dan Fano. Fresa dan Faza meninggalkan pelataran kampus yang ramai dengan hirup pikuk warganya.


Selama di dalam mobil, Fresa hanya diam menatap tab yang ada di genggamannya. Sudah dia duga, kabar buruk akan ia dengar. Fresa menutup tab tersebut dan mulai masuk ke alam bawah sadarnya. Faza yang melihat perubahan Fresa merasa tertohok. Ia bersumpah akan melakukan apapun demi keselamatan adiknya apapun itu.


Cupp...


Faza mencium kening Fresa penuh sayang. Dia berjanji akan mendampingi Fresa apapun kondisinya. Jika mengharuskan dia tidak memiliki kekasih dia ikhlas. Yang penting, adiknya selalu dalam jangkauannya.


❤️❤️❤️