Galmoners

Galmoners
Part 5



Camping 1.1


Lamanya persahabatan tidak di ukur dengan waktu. Tapi seberapa besar rasa peduli, dan nyaman kita akan hal tersebut.


- - -


Langit biru menampakkan senyumnya setelah langit malam kembali ke peraduannya. Matahari mulai melepaskan kerinduannya pada dunia. Awan-awan putih saling memeluk erat. Burung-burung mulai bernyanyi, pohon-pohon pun bergoyang, dan udara dingin yang malu-malu membuat suasana pagi ini terlihat sangat indah.


Namun, keindahan pagi ini tidak bisa terasa oleh Galmoners. Mahda dan kedua sahabatnya, tengah duduk lesu di pinggir lapangan sekolah.


Hari ini, mereka semua akan pergi camping. Murid baru dan anak-anak lainnya mulai memasuki bis mereka. Tapi, tidak dengan Galmoners.


Hari ini, ketiga gadis cantik tersebut tengah galau masal. Alasan kesedihan mereka adalah, Fresa Aditya. Sahabat mereka yang satu itu, kemarin di bawa ke Jerman oleh Faza dan Felly. Entah alasannya apa, mereka pun tidak tahu. Bahkan Gibran dan Fanisa yang sahabat Fresa sejak kecil tidak tahu menahu akan hal tersebut.


"Gue tau kalian sedih. Tapi kalau gue kasih tau alasan dia pergi gue yakin kalian akan lebih sedih. Biarkan Fresa di Jerman. Berdoa saja semoga dia kembali dalam waktu dekat. Ya, terkadang ada sebuah rahasia yang tidak bisa kita jelaskan. Bukan karena kita tidak percaya, melainkan takut akan kesedihan yang dirasakan setelah menjelaskan semuanya. Gue yakin setelah Fresa kembali, dia akan menceritakan semuanya sama kalian. Karena gue pun tidak tahu alasan dia ke Jerman. Bahkan bonyoknya tidak mau menjelaskan apapun. Jadi, kalian sudah tahu bukan? Gue gak tahu apa-apa tentang Fresa. Sejak kita berpisah, semua terasa aneh. Bahkan gue rasa Fresa selalu menyembunyikan rahasianya dengan baik. Buktinya kejadian beberapa hari ini ia tidak mau menyampaikan apapun. Ya, gue harap sepulangnya dari sana kita semua mendengar penjelasan darinya." Penjelasan Gibran membuat Mahda dan kawan-kawannya sedikit tenang. Semua yang Gibran ucapkan ada benarnya. Tidak semua rahasia bisa kita bagi apalagi jika itu menyangkut sebuah luka. Ya, Galmoners berharap. Fresa kembali dengan baik-baik saja dan semua yang Fresa sembunyikan akan dijelaskan olehnya.


Gibran dan Galmoners mulai menaiki bis mereka, dengan wajah tidak bersemangat mereka duduk di bangku masing-masing. Melihat Galmoners galau, FEGA langsung mengambil tempat duduk di samping mereka. Sedangkan Gibran? Dia lebih asik mendengarkan lagu-lagu yang Fresa cover. Ya, setidaknya itu pengobat rindunya saat ini.


Kini, Lagu Ikon berjudul Don't forget mengalun dengan indah di telinga ketiganya. Biarkan suara Fresa menjadi penghantar memori ketiganya tentang kejadian beberapa hari ini. banyak sekali kejadian yang terjadi pada Fresa. Bukan kah seharusnya memang mereka menghargai segala waktu yang ada?


iKON – Don't Forget(잊지마요)


Album: Return


Release: 25.01.2018


 


[ROM]


uriui sigani meomchun geo gata


sesange yeongwonhan geon eopseossna


sewori jinado naui geudaega


nareul gieokhalkka aryeonhan heunjeok soge


 


Don’t forget about me


neowa nae punggyeongeun saegi baraejigo


jidokhage areumdawossdeon kkumeseo kkaeeona


 


neoui jeonburo chueokhal su eopsdamyeon


geujeo ijji moshal jogageuro namgyeojwo


 


soksagideon yaksok jisaedeon bamdo


da geunal kkok gieokhaejugil


 


ijji mayo ijji mayo


geudae nal ijji marayo


 


Don’t forget us don’t forget me


Everything about me


 


ilhgo namyeon sojunghameul andaneun geu maldo


ilheobogi jeonkkajineun al su eopsdeorago


keun pado jeongdo morachigessji saenggakhaessneunde


ujuga muneojine


urin eoryeossjiman seororo inhae eoreuni dwaessdeon sasildeulgwa


eoseolpeossjiman jeonbureul jugo jinsimi damgyeossdeon maldeul


da gieokhagil baralge geunyang beorigieneun yeppeunikka


haengbokhagil bilge neoro inhae haengbokhaesseossdeon nanikka


 


neowa nae punggyeongeun saegi baraejigo


jidokhage areumdawossdeon kkumeseo kkaeeona


 


neoui jeonburo chueok hal su eopsdamyeon


geujeo ijji moshal jogageuro namgyeojwo


 


soksagideon yaksok jisaedeon bamdo


da geunal kkok gieokhaejugil


 


yee annyeongeul malhago dwidoraseoneun gil


gateun dalbit arae dareun bameul bonaeyagessji


na iksukhaejyeo bolge neo jal jinaendamyeon


geugeollo dahaengiya geu hwangholhaessdeon naldeul


 


ijji mayo ijji mayo


geudae nal ijji marayo


 


Don’t forget us don’t forget me


Everything about me


 


neoui jeonburo chueok hal su eopsdamyeon


geujeo ijji moshal jogageuro namgyeojwo


soksagideon yaksok jisaedeon bamdo


da geunal kkok gieokhaejugil


 


[INDO]


Rasanya seperti waktu kita telah berhenti


Mungkin tak ada yang abadi untuk selamanya di dunia ini


Bila waktu berlalu, akankah dirimu


Mengingatku dalam jejak yang samar-samar


Jangan lupakan aku


Pandangan kau dan aku mulai memudar, dan


Aku terbangun dari mimpi yang sangat indah


 


Jika aku tak bisa mengingatmu dengan semua tentangmu


Maka tinggalkanlah untukku bagian dari dirimu yang tak bisa ku lupakan


 


Membisikkan sebuah janji dan terjaga semalaman


Ku mohon ingatlah semua yang terjadi di hari itu


 


Jangan lupa, jangan lupa


Ku mohon jangan lupakan aku


 


Jangan lupakan kita, jangan lupakan aku


Semua hal tentang diriku


 


Perkataan bahwa kau tak tahu bagaimana sesuatu itu begitu berharga hingga akhirnya menghilang


Kau benar-benar tak tahu sampai kau kehilangannya


Kupikir itu hanya akan terasa seperti gelombang besar


Namun seluruh alam semesta serasa ambruk


Kita masih muda namun dalam kejujuran kita menjadi dewasa karena satu sama lain


Kita ceroboh namun kita saling memberi semuanya dan kata-kata jujur


Aku harap kau mengingat semuanya karena terlalu indah untuk membuangnya begitu saja


Aku harap kau bahagia karenaku, karena aku bahagia karenamu


 


Pandangan kau dan aku mulai memudar, dan


Aku terbangun dari mimpi yang sangat indah


 


Jika aku tak bisa mengingatmu dengan semua tentangmu


Maka tinggalkanlah untukku bagian dari dirimu yang tak bisa ku lupakan


 


Membisikkan sebuah janji dan terjaga semalaman


Ku mohon ingatlah semua yang terjadi di hari itu


 


Yeah, ucapkanlah selamat tinggal dan pulanglah ke rumah


Kita harus menghabiskan malam yang berbeda di bawah cahaya bulan yang sama


Aku akan mencoba membiasakan diri melakukannya jika kau melakukannya dengan baik


Sungguh lega, hari-hari yang begitu luar biasa


 


Jangan lupa, jangan lupa


Ku mohon jangan lupakan aku


 


Jangan lupakan kita, jangan lupakan aku


Semua hal tentang diriku


 


Jika aku tak bisa mengingatmu dengan semua tentangmu


Maka tinggalkanlah untukku bagian dari dirimu yang tak bisa ku lupakan


 


Membisikkan sebuah janji dan terjaga semalaman


Ku mohon ingatlah semua yang terjadi di hari itu


 


[ENGLISH]


It felt like our time had stopped


Maybe nothing lasts forever in this world


When time passes, will it be you


Remembering me in a vague trace


Do not forget me


The view of you and me is beginning to fade, and


I woke up from a very beautiful dream


 


Then leave me a part of you that I can not forget


 


Whispering a promise and waking up all night


Please remember all that happened that day


 


Do not forget, do not forget


Please do not forget me


 


Do not forget us, do not forget me


Everything about me


 


The saying that you do not know how something is so valuable that it disappears


You really do not know until you lose it


I thought it would just feel like a big wave


But the whole universe is crumbling


We are young but in honesty we grow up because of each other


We are careless but we give each other and honest words


I hope you remember everything because it's too good to just throw it away


I hope you are happy because of me, because I am happy because of you


 


The view of you and me is beginning to fade, and


I woke up from a very beautiful dream


 


Then leave me a part of you that I can not forget


 


Whispering a promise and waking up all night


Please remember all that happened that day


 


Yeah, say good-bye and go home


We must spend a different night under the same moonlight


I'll try to get used to doing it if you do well


It was such a great relief, such wonderful days


 


Do not forget, do not forget


Please do not forget me


 


Do not forget us, do not forget me


Everything about me


 


Then leave me a part of you that I can not forget


 


Whispering a promise and waking up all night


Please remember all that happened that day


 


 


"Mahda! Kenapa si lu diam aja? Sariawan? Bibir pecah-pecah? Ah! Atau tenggorokan kering? Adam sari aja!" Celetuk Evan seakan mempromosikan sebuah iklan obat panas dalam.


"Lu cocok jadi sales. Sangat berbakat!" Balas Mahda sinis. Wanita cantik itu dalam mode mood yang tidak ingin di ganggu, apalagi kepalanya penuh dengan nenek lampir yang mau melukai Fresa kemarin. Harusnya kan Cheryl mengganggunya, kenapa harus Fresa? Bukankah ada yang aneh di sini kecuali Cheryl suka dengan Gibran itu baru masuk akal. Nah ini kan? Entahlah Mahda bingung.


Mahda juga tidak tahu sejak kapan Evan duduk di sampingnya. Apa karena ia kepikiran Fresa jadi lupa sekitar? Ah! Menyebalkan sekali. Padahal sehari Fresa pergi ia sudah seperti ini. Ternyata perpisahan itu berat ya.


"Mahda, gue tau lu lagi sedih karena Fresa tidak bisa gabung. Tapi, jangan gini juga dong! Gue sedih liatnya. Lu seperti raga tanpa jiwa. Baru sahabat aja lu begini, apalagi doi." Kata Evan.


"Terkadang perlakuan kita ke sahabat itu bisa melebihi perlakuan kita kepada kekasih. Kenapa? Karena sahabat sejati tidak akan pernah pergi di saat kita terjatuh, dia tidak akan pernah pergi di saat kita mengusirnya. Bahkan, dia ikut sakit saat kita merasa sakit. Jadi lu tahu kan? Fresa itu sangat berarti buat gue dan yang lain. Lebay ya?" senyuman sendu Mahda membuat Evan menyadari satu hal. Ya, di saat dirinya terjatuh ketiga sahabatnya selalu setia menemaninya. Sekarang Evan mengerti arti sebuah quote yang ia lihat. Kalau sahabat tidak akan pernah meninggalkan kita di saat sulit.


"Gak kok, maaf gue gak tau kalau lu lagi sedih banget." Balas Evan menyesal.


"It's okay. Gue mau tidur dulu, kalau sampai bangunin gue ya! Dari pada kepikiran sama Fresa lebih baik gue tidur." Setelah Mahda berucap, Evan langsung melihat wajah tenang Mahda yang mulai tenggelam dalam mimpi. Tidak tega melihat posisi Mahda saat ini, Evan langsung memindahkan kepala Mahda ke bahunya berharap dengan itu Mahda bisa tenang.


Jika Mahda tertidur, maka Fanisa sedang menatap pepohonan hijau melalui kaca bisnya. Fano yang duduk di sampingnya sangat mengerti jika Fanisa merindukan sahabatnya. Terlihat jelas saat Fanisa melihat sebuah video, di sana Fanisa tersenyum lalu tiba-tiba ia sedih. Hal itu membuat Fano khawatir.


"Terkadang, semua yang kita inginkan tidak sejalan dengan garis takdir. Tapi, jangan karena tidak sejalan kita bersedih. Karena apa yang direncanakan olehnya pasti yang terbaik untuk kita." Fanisa menatap Fano dengan wajah sendunya. Tidak terasa, air mata mengalir di pipi tirusnya. Entah kenapa, Fanisa ingin menangis saat ini. Seperti sesuatu buruk terjadi pada Fresa.


Fano menghapus air mata Fanisa melalui jari-jari besarnya. Dengan sebuah senyuman, Fano harap Fanisa mengerti. Semua yang akan terjadi akan baik-baik saja.


Kiki Rahardja, sedang asik menyaksikan video rekaman saat mereka jalan-jalan. Di sana ia melihat senyum bahagia Fresa. Namun, sekarang senyum itu sudah jarang ia lihat. Fresa berubah sejak kejadian ia hampir di lecehkan. Jarang sekali Fresa tersenyum di depannya. Hanya sebuah senyum tipis atau paksaan yang biasa Kiki lihat.


"Tanyakan yang ingin kamu tanyakan dan tunggu di saat kamu memang harus menunggunya. Karena tidak selamanya sesuatu yang kita rasakan harus di umbar kepada orang lain." Ucapan Arkan membuat Kiki yang sedari tadi merenung langsung tersenyum.


"Jika salah satu sahabat kamu menyembunyikan rahasia, apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Kiki.


"Menunggu. Kadang ada masalah yang gak bisa kita paksakan. Jadi lebih baik menunggu," balas Arkan.


Setelah Arkan membahas ucapannya, suara pesan masuk menarik perhatian Kiki.


Galmoners


Fresa


Eh cuyy! Di sini sepi. Kangen kalian deh gue. 🙃


Fanisa


Tuh kan Ca, gue bilang apa! Lebih baik lu gak usah ikut Faza. Ah! Gue tau, jangan-jangan Faza nikah ya?😌


Fresa


Nikah sama siapa? Kambing? Kakak gue tuh gengsinya tinggi.😪


Kiki


Sama kaya lu! Gengsi tapi mau kan sama Gibran? 😏


Fresa


Jangan bahas dia okey! Gue jadi ke ingat dia nyium gue. Aishh menyebalkan! 😤


Kiki


Menyebalkan tapi suka. By the way Mahda kemana ya?


Fanisa


Dia bobo di bahunya Evan lohhh


Fanisa


Sent photo


(Anggap di dalam bis, dan itu Evan sama Mahda)


Fresa


*****! Mahda


Kiki


Maklumlah Fan, gue kan di belakang lu. Jadi gue tahu kalau si Mahda lagi modus.


Fanisa


Mahda kaga modus *****, tapi Evan terlalu perhatian sama Mahda. Doakan saja dia the next Fresa.


Fresa


The next Fresa apaan?! Gue sama Gibran gak ada apa-apa ya! Emang aja tuh brengsek ngeselin!


Fanisa


Ngeselin atau ngangenin?


Kiki


Ngeselin atau ngangenin? 999


Fresa


Ngangenin


Eh salah ngeselin maksudnya


Itu typo


Fanisa


Ada ya typo gitu wwkwkw


Kiki


Biarkan Fresa bahagia, dan jadilah ya kita palakin dia makan-makan di Dago atau starbuck juga boleh lah.


Fanisa


Setuju!


Arkan dan Fano tersenyum lega, saat melihat orang yang di cintai mereka sudah kembali seperti sediakala. Mencintai dalam diam itu ternyata seluar biasa ini. Kadang mereka harus kecewa atau bahkan berbahagia seprti saaat ini.


- - -


Acara camping hari pertama dimulai. Galmoners dan FEGA mulai mempersiapkan apa saja yang akan mereka lakukan untuk kegiatan hari ini. Di bantu dengan senior dan anak BEM lainnya. Mereka tiba di lokasi dengan selamat, sengaja tidak memulai cepat-cepat karena mereka tahu pasti yang lain tengah menikmati duduk di alam bebas ini. Kapan lagi kan?


Para senior tengah bersiap mematau lokasi yang menjadi bagian dalam acara. Fanisa dan Fano di tugaskan untuk melihat jalur yang akan mereka gunakan untuk jerit malam. Kiki dan Arkan menyiapkan apa saja yang harus di butuhkan untuk kebutuhan tubuh anak-anak. Sedangkan Mahda dan Evan? Keduanya tengah berjalan memasuki hutan, guna mencari kayu bakar. Sampai, Evan melihat Alex tengah melakukan hal tidak pantas dengan Cheryl. Membuat dia mau tidak mau langsung berdiri di hadapan Mahda.


"Gue tau apa yang mereka lakukan. Mungkin sekarang gue tau alasan dia mutusin gue." Ucap Mahda lirih.


Melihat kesedihan di mata Mahda membuat Evan refleks memeluk tubuh Mahda. Gadis yang selalu ceria di matanya, ternyata lebih rapuh dari yang terlihat.


"Sakit Van... Sakit sekali. Jika dia butuh seseorang untuk memenuhi keinginannya, kenapa harus gue jadi pacarnya. Gue bahkan pernah bentak Fresa karena gak percaya dengan ucapannya. Dan sekarang gue nyesel Van. Harusnya gue percaya dengan sahabat gue, bukan cowok brengsek itu! Hikss..."


"Udah jangan nangis, terkadang kita memang sulit mempercayai suatu hal padahal sebenarnya baik untuk kita. Lupakan kejadian tadi! Kita harus cari kayu bakar, biasa anak tiri selalu melakukan pekerjaan berat." Evan mengurai pelukannya pada Mahda. Kalau lama-lama memeluk Mahda nanti di cepat is dead. Because, jantungnya berdebar sangat kencang saat ini.


"Woii! Jangan ciuman mulu! Lu kata film barat gampang main sosor. Lari dikit aja ngos-ngosan sok ciuman. Dasar kids jaman now!" Teriak Evan membuat Mahda tertawa. Ingatkan Mahda untuk berterima kasih pada Evan nanti.


- - -


Kini, Galmoners sedang merapikan tas mereka. Setelah melakukan tugasnya, mereka beristirahat di tenda mereka. Begitupun dengan yang lainnya. Karena, nantinya mereka akan sibuk dengan kegiatan camping selama beberapa hari ini.


"Tadi gue lihat Alex sama Cheryl." Kata Mahda.


"Terus lu cemburu?! Udahlah Da! Lupakan si brengsek itu!" Omel Fanisa.


"Bukan itu Fres!" Balas Mahda spontan.


"Fres?! Gue Fanisa Da!" Balas Fanisa kesal. Ini bukan kali pertama Mahda salah menyebutkan nama, tapi sering! Dan kadang membuat Fanisa dan Fresa bingung.


"Lagi nama samaan! Jangan salahin gue." Ucap Mahda acuh tak acuh.


"Sama apaan si Da! Fanisa dan Fresa tidak ad--"


"I know! Tapi ada yang lebih penting dari kebodohan gue!" Ucap Mahda serius.


"Apaan?" Balas Fanisa dan Kiki.


"Gue u--"


"Ke lapangan sekarang yang lain udah nunggu." Perintah Arkan memotong pembicaraan Mahda.


"Arkan sialan! Bisa gak si datangnya nanti aja?! Arghhh..." Ucap Mahda kesal. Ia pergi meninggalkan Arkan dan kedua sahabatnya dengan perasaan dongkol.


Melihat Mahda kesal membuat Fanisa tertawa, setidaknya kekesalannya terbalas oleh Arkan.


"Jangan mikirin si Mahda. Obatnya habis." Kata Fanisa.


Melihat kebahagiaan di wajah Galmoners membuat dua sosok yang bersembunyi tidak jauh dari mereka geram. Ia bersumpah akan membuat permainan yang ia buat semakin menegangkan. Tidak peduli apa yang keduanya dapatkan nanti. Yang terpenting mereka hancur itu sudah membuat bahagia.


❤️❤️❤️


Jangan lupa ya like, share, comment and follow IG @sweetchocopink thank you ❤️