Galmoners

Galmoners
Part 21



Kelemahan Fresa.


setiap manusia punya titik lemah masing-masing. Tergantung bagaimana cara kita menunjukkannya.



Gibran keluar dari pelataran kampus dengan mengendarai motor kesayangannya. Dia tidak peduli dengan umpatan para pengguna jalan, karena setiap detik yang Gibran sia-siakan sangat berharga untuknya. Apalagi jika menyangkut seorang Fresa Aditya.


Bagi Gibran dan keluarganya, Fresa adalah perempuan yang harus di jaga dengan sebaik-baiknya. Bahkan jika perlu perlindungan khusus akan mereka lakukan. Seperti halnya saat ini, jangan mereka pikir anak buahnya bisa di lumpuhkan. Nyatanya, anak buah Gibran tengah mengikuti jejak Fresa, terlihat jelas dalam GPS yang ada di ponsel Gibran.


"Orang bodoh adalah orang yang berani menantang Pahlevi." Gumam Gibran dengan seringainya. Tanpa menunggu lama dia langsung menancap gasnya.


**


Sama halnya dengan Gibran, Evan dan yang lainnya juga berpencar mencari keberadaan Fresa dengan feeling seadanya. Mereka membagi tugas, ada yang ke daerah Lembang, Dago dan ada yang di sekitar perumahan Fresa. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa, kecuali lalu lintas seperti biasanya dan keadaan sepi di beberapa jalan.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi Gibran setelah mereka berkumpul bersama. Dering pertama, tidak ada jawaban dan dering kedua panggilan di putus sepihak. Dan dering ketiga? Sama! Membuat Fanisa dan Kiki menggeram, Kesal.


"Lacak ponsel Gibran aja kenapa si! Lu semua terlampau ribet!" Omel Arkan.


"Ya juga, kalau gitu lanjutkan perjalanan!" Perintah Evan membuat semuanya mencibir kesal.


**


Di tempat berbeda, di dalam sebuah kotak persegi beroda empat. Sosok wanita cantik terlelap dalam mimpi indahnya.


Sosok tampan dengan wajah aslinya tengah menyeringai penuh kemenangan. Misi balas dendamnya sedikit lagi tercapai. Namun, tanpa sosok tersebut sadari, dia terjebak dengan permainannya sendiri.


"Faza Aditya! Sebentar lagi lu akan merasakan kehilangan seorang adik." Kata sosok tersebut sambil memandang wajah Fresa.


"Jika gue liat-liat, adik lu imut Za, apa gue rusak adik lu?" Gumam sosok tersebut.


Fresa merasakan pening di kepalanya. Ia mencoba mengumpulkan semua bayang-bayang yang ada di hadapannya. Sampai sosok asing terekam jelas dalam ingatannya.


"Siapa lu?! Mana kakak gue?!" Bentak Fresa membuat sosok yang asik menyetir tersebut menyeringai.


"Gue? Greg. Rekan bisnis kakak lu." Balasnya.


Greg? Rekan bisnis? Apa Greg yang ada di pikirannya sama dengan Greg yang ad--gak mungkin! Karena Greg yang Fresa kenal sudah tidak lagi tinggal di Indonesia. Ya, mungkin dia Greg yang lain.


"Kakak gak punya rekan bisnis macem lu." Balas Fresa ketus.


"Gue musuh bisnisnya, dan tujuan gue kembali ke Indonesia untuk membalaskan dendam adik gue. Gue yakin lu pasti tahu." Jelas Greg.


"Gue kaga tau sialan! Mending lu keluarin gue dari sini! Cepet gak?!" Paksa Fresa membuat Greg terbahak.


"Gak! Sebelum lu mati, lu gak bisa keluar!" Balas Greg marah.


"Kematian manusia ada di tangan Allah SWT. Bukan di tangan manusia jahanam kaya lu!" Ucap Fresa dingin.


"Lu tuh persis kaya Faza! Buat gue tambah benci!" Bentak Greg.


"Gue adiknya bloon! yaa sama lah." Balas Fresa asal.


Greg menahan amarahnya, ia sangat kesal mendengar penuturan Fresa. Ingin sekali dia menabrakkan mobil ini ke bahu jalan, namun sayang rencana Greg tidak semudah itu. Dia ingin merasakan Fresa sakit seperti adiknya.


"Lagian om, ngapain si nyulik gue? Gak ada faedahnya. Gue itu penyakitan, kurus kering dan kalau makan gue banyak yang ada lu tekor." Ucap Fresa panjang lebar membuat Greg mencibir.


"Gue gak peduli semua itu. Karena kakak lu adik gue mati. Dan gue bakal bikin lu bernasib sama dengan adik gue. Mata di balas dengan mata. Hukum yang adil bukan?" Tanya Greg dengan seriangainya.


"Adil si, tapi kalau lu gak tahu kebenarannya ya gak adil om. Lagian ini ya, memupuk dendam hanya membuat masalah baru datang. Lebih ikhlaskan semuanya. Karena apa yang terjadi dengan kita, sudah menjadi garis takdir. Dan yang harus om lakukan saat ini ialah move on!" Jawab Fresa membuat Greg mencibir.


"Move on?! Gak bisalah! Di mana-mana kematian harus di balas Kematian! Sudahlah mending lu diam jangan beris--Damn it!" Umpat Greg saat melihat satu mobil hitam menghalangi jalannya.


"Diam! Jangan kemana-mana!" Ucap Greg sambil keluar dari mobilnya.


Di saat Greg sedang bernegosiasi dengan orang-orang di depannya, Fresa membuka pintu mobilnya dan mulai berjalan mengendap-endap. Ia tahu tubuhnya saat ini tidak bisa di ajak kerjasama, namun demi kelangsungan hidupnya dia harus meninggalkan tempat tersebut.


Ia terus berjalan, sampai seseorang menariknya untuk bersembunyi di balik pohon. Awalnya Fresa ingin memukuli orang tersebut namun mendengar bisikan dari suara yang sangat ia hafal membuatnya lega. Ia pikir anak buah Greg menangkapnya.


"Cerdasnya tunangan aku."


"Cerdaslah! Kalau gak gue bakal mati di tangan om-om mesum itu!" Balas Fresa ketus.


"Om-om mesum?" Tanyanya.


"Gibran Pahlevi, lu tuh bodoh apa gimana?! Udah ah gue capek mau tidur bye!" Ucapan Fresa membuat Gibran mendengus.


Di saat Fresa mendudukkan tubuhnya di sandaran pohon dan memejamkan matanya, sebuah cairan mengalir dari hidungnya, membuat Gibran yang tengah menengok ke arah Fresa langsung mengambil sapu tangan yang sering ia bawa.


"Bersihkan darah lu! Kita ke rumah sakit." Perintah dingin Gibran membuat Fresa membuka matanya dan langsung menerima sapu tangan tersebut. Fresa tidak tahu dia harus selemah ini di hadapan Gibran. Dan dia sangat benci situasi macam ini.


Di saat Fresa sibuk membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Gibran menghubungi anak buahnya yang lain untuk membawakan mobil ke lokasi yang sudah ia share. Gibran tidak mau kalau Fresa kenapa-kenapa. Jika sampai Fresa terluka, maka Gibran akan membalasnya lebih.


"Tuan mobil siap!"


Tanpa menunggu lama, Gibran langsung membawa Fresa ke rumah sakit. Baru saja ia memasukkan Fresa ke mobil, sahabat-sahabatnya tiba.


"Ke rumah sakit!" Perintah Gibran membuat yang lain mengangguk paham. Biarkan mereka bertanya nanti, sekalipun mereka tidak tahu siapa dalang semua ini. Mereka yakin Gibran tahu cara menyelesaikan semuanya.


❤️❤️❤️