
Kembali...
Seperti sebuah belati yang menancap tajam ke relung hati...
Seperti sebuah jarum yang menusuk setiap bagian tubuhmu...
Itulah yang kita rasakan saat, sesuatu hal yang berharga bagi kita terluka.
-Aulia-
Suasana rumah sakit berubah menjadi mencengkram. Tangisan demi tangisan mulai terdengar memenuhi tempat tersebut.
Sosok tampan, dengan wajah tegarnya berusaha mati-matian untuk tidak memukul sesuatu. Hatinya sakit, jantungnya berdetak begitu lemah dan untuk bernafas saja dia sangat sulit. Itulah yang Gibran rasakan saat wanita paruh baya mengatakan tunangannya kritis.
Gibran tidak tahu apa yang terjadi dengan tunangannya. Tapi, seingatnya. Saat itu kondisi Fresa masih stabil. Kecuali--tidak mungkin! Gibran tidak boleh salah sangka.
"Gue ke toilet." Kata Gibran membuat semuanya menganggukkan kepalanya. Namun tidak dengan Fano. Cowok dingin bak Antartika itu malah ikut berjalan di belakang Gibran. Dia tahu, jika Gibran sedang mencari sesuatu. Apalagi, kejadian ini terbilang cukup aneh di saat kondisi Fresa baik-baik saja sebelumnya. Bukan karena mereka tak percaya takdir cuma, semua terasa mustahil.
Ruang CCTV.
Itulah tempat yang Gibran datangi saat ini, awalnya petugas menolak kedatangan Gibran, namun saat melihat Fano muncul. Petugas langsung memberikan izin. Apalagi, jika Fano mengatakan dia kehilangan ponakannya. Sungguh kebohongan yang sangat luar biasa.
"Jadi bagaimana ciri-ciri ponakan anda?" Tanya petugas.
"Diam!" Balas Fano dingin.
Tangan Fano sudah asik mengutak-atik komputer di depannya. Sedangkan Gibran menghafal semua rekaman yang di tampilkan Fano. Sampai...
"Stop!" Bentakan Gibran membuat Fano melepaskan jemarinya dari alat-alat di hadapannya dan dia ikut menyaksikan rekaman ulang tersebut.
"Sial! Brengsek! Gue bunuh dia!" Umpat Gibran.
"Bisa kah kalian hubungi polisi? Setidaknya dengan kalian membantu kami, bisa mengurangi kesalahan kalian." Ucapan Fano membuat salah satu dari mereka langsung menghubungi polisi.
Fano menarik tubuh Gibran untuk keluar dari sana. Beruntung, Fano sudah mengcopy tadi. Jadi jika ada penghianat di sana dia sendiri bisa langsung turun tangan.
"Gue tahu lu marah saat ini, tapi kita gak tahu kebenarannya kaya gimana. So, sabar sampai polisi memutuskan kebenarannya." Kata Fano.
Gibran memukul tembok di sampingnya, membuat buku tangan Gibran terluka bahkan ada jari-jari tangannya yang sudah mengeluarkan darah.
"Sabar, lu bilang?! Tunangan gue sekarat di dalam sana No! Dan lu gak tahu gimana rasanya jadi gue! Lu gak tau No!" Bentak Gibran sambil mengacak-acak rambutnya.
"Gue tahu rasanya." Balas Fano membuat Gibran menatapnya sekilas.
"Sorry gue emosi."
Fano mengangguk sebagai jawabannya. Kini, mereka memutuskan untuk kembali ke tempat di mana Fresa berada. Namun, bukannya kesedihan yang mereka lihat. Namun, senyuman bahagia dari orang-orang yang ada di sana.
"Ada apa mah?" Tanya Gibran.
"Fresa siuman. Dan dia minta kamu ke dalam tadi." Balas Gisca.
Sebuah senyuman muncul di balik wajah tampan Gibran, ia tidak menyangka akhirnya Fresa kembali setelah seminggu lebih tertidur pulas.
"Gibran.." suara lirih Fresa membuat Gibran langsung mendekati tubuh tunangannya.
"Iam here baby, kenapa cari aku? Rindu ya?" Tanya Gibran.
Seandainya Fresa baik-baik saja kemungkinan tangannya sudah bersarang di tubuh Gibran saat ini. Namun, melihat Fresa tidak melakukan apapun membuat Gibran menghela nafasnya. Lagi-lagi perasaan menyesakkan kembali hadir dalam dirinya.
"Kata dokter, penyakit gue semakin parah dan gue memutuskan untuk meng--."
"Tidak! Jangan pernah bicara apapun tentang itu. Karena lu akan tetap jadi milik gue!" Potong Gibran membuat Fresa menaikkan alisnya. Dia bingung saat ini, niatnya dia ingin memberi tahu Gibran jika dia akan--ah! Fresa yakin Gibran salah tanggap saat ini!
Fresa mengelus pipi Gibran dengan senyuman tipis di wajah pucatnya.
"Gue memutuskan untuk operasi. Itu ucapan gue selanjutnya." Balas Fresa membuat Gibran tersenyum sumringah. Bahkan cowok tampan tersebut langsung memeluk tubuh Fresa.
Galmoners dan FEGA ikut bahagia melihat keduanya. Apalagi, Fresa sekarang sudah mulai berani menunjukkan perasaannya. Membuat Galmoners tersenyum sendiri. Ya, kali saja insiden ini bisa menjadi bahan untuk membully Fresa nantinya.
"Serius?! Gue seneng banget! I love you Fres." Ucap Gibran sambil mengecup tangan Fresa berulang kali.
"Ish! Lebay." Balas Fresa.
Fresa sekarang sadar, lebih baik dia melakukan yang seharusnya ia lakukan. Jikalau takdir tidak menakdirkan ia untuk hidup lepas operasi itu tandanya takdir hidup Fresa sampai di sana. Tapi, Fresa yakin ia akan sembuh total seperti cerita novel-novel yang pernah ia baca.
"Lebay? Tapi cinta kan?" Ledek Gibran.
"Bodo." Balas Fresa.
Fresa merasa aneh dengan tangan kanan Gibran. Kenapa sedari tadi tangan itu di letakkan di bawah?
"Give me your hand!"
"Nih!" Balas Gibran sambil memberikan tangan kirinya, namun tatapan tajam Fresa membuat Gibran menghela nafasnya.
"Sorry." Ucap Gibran saat melihat raut wajah khawatir Fresa.
"For what? Lu gak salah. Ini kenapa? Lu berantem sama tembok?" Tanya Fresa berusaha mengalihkan perhatian.
"Hmmm... temboknya bikin aku cemburu. Karena deket-deket sama lu." Balas Gibran.
"Gak jelas. Obati sana." Usir Fresa.
"Gak ah. Mau di sini aja. Lu mau bicara sam--"
"Dia mau bicara sama gue, jadi pergi lu." Usir Faza yang masuk dengan Sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Felly Alexander.
"Berisik Tai! Gue di sini aja. Kalau lu tiba-tiba meluk atau cium berabe." Balas Gibran dengan nada sinisnya.
"Si bego! Yang ngomong gitu harusnya gue sialan. Gue mah kakaknya. Nah lu? Hanya orang asing!"
Belum sempat Gibran membalas, Felly sudah lebih dulu berbicara.
"Jika mau bertengkar, silahkan keluar!" Usir Felly.
"Ogah! Lu aja yang keluar." Balas Gibran ketus.
Pluk!
"Dasar cewek bar-bar!" Umpat Gibran
"Biarin bar-bar dari pada lu! Cowok gak punya sopan santun. Sama yang tua aja songong!" Balas Felly ketus.
"Yee gila. Berisik dah lo. Mending lo diam. Suara lu ganggu." Ujar Gibran.
Fresa tersenyum melihat tingkah laku Gibran dan Felly. Ternyata banyak hal yang Fresa tidak ketahui. Termasuk kedekatan kembali kakak dan sahabatnya ini.
"So?" Tanya Fresa.
"Kakak mau menikah dua bulan lagi, setelah itu kakak akan fokus dengan bisnis keluarga kita." Balas Faza.
"What?! Menikah?! Tapi kan kak. Kak Felly di sini." Ucap Fresa sambil menatap Felly sendu, membuat Gibran yang gemas langsung mengecup pipi tunangannya.
"Si bar-bar sama batu es mau nikah beb. Jadi gak usah pasang tampang kaya gitu, bikin gemes." Kata Gibran sambil mencubit pipi Fresa dengan lembut.
"Cihhhh... Kalau kalian menikah bagus dong. Tandanya gengsi kakak sudah pergi. Dan--"
Ucapan Fresa terhenti saat sebuah pesan masuk terdengar di sana. Pesan tersebut bukan masuk ke ponsel Faza ataupun Felly melainkan ke ponsel Gibran. Bahkan Fresa bisa melihat raut wajah kebencian di wajah Gibran saat ini. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia yakin ada rahasia yang Gibran sembunyikan.
"Gue pergi, titip Fresa." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Gibran melangkahkan kakinya untuk keluar. Namun belum membuka pintu, Fresa langsung berteriak kesakitan membuat Gibran langsung berlari mendekati Fresa kembali.
"You okay? Mana yang sakit? Gue panggil dokter? Atau lu mau--"
"Stay here." Potong Fresa dengan nada serius membuat Gibran mau tidak mau langsung kembali duduk di samping Fresa.
"Yes, iam here. Istirahatlah. Lu berdua sana pergi!" Usir Gibran.
"Kamu istirahat saja dulu. Besok kakak dan Felly kembali lagi ke sini. Terus kalau ni anak macam-macam, kamu teriak saja." Kata Faza.
"Hem. Tolong panggilkan teman-teman aku ya kak." Balas Fresa.
"Gak! Lu kudu istirahat." Kata Gibran.
"Apaan si, lebay ah. Gue mau ketemu sama temen-temen gue emang salah?" Tanya Fresa.
"Salah! Apalagi kalau lu ketemu sama temen-temen gue. Pokoknya lu harus istirahat! Kalau gak gue pulang." Ancam Gibran.
"Pulang saja sana." Balas Fresa acuh.
Gibran langsung mengangkat tubuhnya untuk segera keluar. Tapi, tangan mungil menahannya membuat senyum tipis muncul di wajah Gibran.
"See? Lu gak bisa jauh dari gue Ca."
"Apaan si! Gue cuma mau ngasih tahu, kalau lu keluar sekarang gue gak bakal izinin lu untuk datang ke sini. Dan sekalian panggilkan yang lain." Jawab Fresa membuat Gibran mendengus kesal.
"Udah ah, kakak pulang. Cepet sembuh adikku." Ucap Faza, setelahnya dia mengecup pipi Fresa dan pergi dari ruangan adiknya.
"Rasanya pengen gue dobrak ni pintu." Kata Mahda.
"Lebay!" Balas Fresa.
"Ya ampun Fresa, kenapa dirimu begitu kecil dan pucat? Ah! Diriku tahu. Pasti kamu merindukan aku. Benar apa benar?" Tanya Evan.
"Lu sawan?" Tanya balik Fresa membuat Evan langsung mendekati tubuhnya.
"Hemm.. karena cinta adek."
Belum sempat mencubit pipi Fresa, Gibran sudah memukul tangan Evan dengan sadis. Membuat Kiki dan yang lain terkikik geli akan tingkah laku Gibran.
"Tai! Sana lu pergi. Fresa butuh istirahat!" Usir Gibran.
"Ogah! Gue masih merindukan Fresa tercinta." Kata Evan.
Mahda tersenyum tipis. Entah kenapa, Mahda merasakan sesuatu yang aneh dengan dirinya. Bahkan hatinya seperti di tusuk duri saat ini.
"Yeh si dari songong!" Balas Gibran.
"Udah Bran. Ouh ya, lu baru datang Fir?" Tanya Fresa kepada sosok lain di sini.
"Yaa baru aja. Lu gimana enakan? Ouh ya, sebentar lagi Bian ke sini. Gak apakan?"
Pertanyaan Firhan membuat Gibran mengeraskan rahangnya. Bahkan Kini Gibran sudah maju ke depan Firhan membuat Fresa takut jika Gibran main tangan saat ini.
"Lu bilang Bian?! Lu gak tahu gue sama Fresa sudah tunangan?! Mending lu pergi sebelum gue bongkar ke busukan lu!" Bentak Gibran membuat Fanisa dan Fresa saling pandang.
"Kebusukan? Maksudnya?" Tanya Fanisa.
Sepertinya Fresa tahu situasi saat ini. Dia meminta Kiki untuk menarik semuanya keluar. Ada yang harus ia dengar dari mulut Gibran saat ini.
"Jadi, kebusukan apa yang anda maksud tuan Gibran?" Tanya Fresa serius.
"Gak ada."
"Pembohong! Lu sembunyikan sesuatu kan?!"
"Gak ada Ca! Lebih baik lu istirahat." Balas Gibran ketus. Bahkan cowok itu meninggalkan Fresa yang shock akibat bentakan Gibran.
Fresa yakin, Gibran tahu sesuatu. Karena jika tidak, Gibran tidak akan berlaku kasar padanya. Atau haruskah ia katakan kepada Gibran tentang apa yang terjadi di Jerman dulu?
"Fresa you okay?" Tanya Kiki yang masuk bersama dengan dua sahabatnya yang lain.
Mereka memeluk tubuh Fresa dengan sangat erat. Membuat Fresa tanpa sadar menitikkan air matanya.
"Gibran gak maksud bentak lu Fres, gue tahu Gibran tuh kaya gimana. Dia gak akan menyakiti lu. Jadi, dari pada mikirin si Gibran lebih baik istirahat." Kata Fanisa.
"Bener banget Fres! Lebih baik istirahat. Kita bertiga akan jaga lu di sini. Jadi istirahat!" Ucap Mahda dengan penuh penekanan.
"Hem. Thanks all."
Fresa di bantu oleh Kiki dan yang lain, mulai memejamkan matanya. Bahkan tanpa mereka ketahui, jika Gibran melihat mereka dengan tatapan sulit di baca. Fano yang di sampingnya saja tidak tahu apa yang sedang Gibran rencanakan.
"Gue bakal buat si tai menyesal." Kata Gibran membuat Fano dan yang lain saling pandang. Tidak mau menunggu lama, mereka langsung berlari menyusul Gibran yang pergi entah kemana. Sedangkan keluarga Fresa dan Gibran memutuskan untuk kembali ke rumah. Toh, sudah ada yang menjaga Fresa saat ini.
Tanpa semua orang sadari, sosok lain tengah menyeringai penuh kemenangan. Rencananya kali ini berjalan dengan lancar. Ia tidak sabar dengan rencana puncaknya nanti. Ia akan buat salah satu dari mereka kehilangan nyawanya. Tidak sekarang, permainannya masih sangat panjang. Karena masih banyak jebakan yang akan ia lakukan.
Dengan wajah bahagia, sosok tampan tersebut meninggalkan kawasan rumah sakit. Akhirnya harapannya sesuai rencana.
❤️❤️❤️❤️