
Happy!
Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya. Kini, Fresa tengah berbaring di tempat tidur sambil menyaksikan sebuah berita yang tengah hits saat ini.
"Bian anak pengusaha ternama Indonesia di tangkap polisi di kediamannya. Seorang wanita cantik melaporkan kejahatan Bian dengan rekaman suara yang wanita itu lakukan dengan pelaku. Begitu mengejutkan memang, saat tahu kelakuan asli seorang Bian. Hanya karena sakit hati dia rela mengikhlaskan cita-citanya demi terdiam di balik jeruji besi. Pihak keluarga Bian sudah mendatangi korban. Bahkan mereka meminta masalah ini di bicarakan secara kekeluargaan. Namun sayang, pihak korban menolak. Karena apa yang Bian lakukan sangat pantas untuk masuk ke dalam jeruji besi. Bukan hanya percobaan pembunuhan, tapi Bian juga di tangkap karena memfitnah seseorang. Kita doakan saja semoga Bian berubah setelah ini."
Fresa mematikan televisi. Ia sangat bosan jika semua berita isinya tentang Bian. Bahkan keluarganya juga ikut di bawa-bawa. Menyebalkan!
"Pagi cantik, kok udah cemberut aja?" Tanya Fresca yang datang sambil membawa kotak putih. Sudah Fresa pastikan mamanya membawa sebuah bubur. Ckckck...
"Nope. Kapan aku keluar?" Tanya Fresa.
"Jika kamu sudah benar-benar pulih hari ini keluar. Kenapa? Kangen sama Gibran?" Sindir Fresca.
"Cihhhh.. Siapa juga yang kangen sama dia! Gak lah." Balas Fresa ketus.
"Kamu masih aja gedein gengsi, giliran mau died aja berani jujur-jujuran. Anak muda Jaman Now gitu ya, gengsi di gedein." Ujar Fresca membuat Fresa mendengus kesal.
"Mama sok kekinian deh. Ouh ya makhluk es kapan nikah? Emang kak Felly gak ada niatan batalin pernikahannya?" Tanya Fresa.
"Gak lah! Secara Felly cinta mati sama kakak, gimana mau batalin." Balas Faza.
"Gak usah sok! Aku yakin kak Felly itu terpaksa sama kakak. Orang waktu itu aku gak sengaja lihat kak Felly jalan sama cowok lain." Tutur Fresa membuat Faza langsung keluar dari kamarnya.
"Mama gak ikut campur, kalau kenapa-kenapa." Balas Fresca membuat Fresa panik sendiri.
Fresa mulai mengambil alat infusnya untuk ia pegang dan mengejar kakaknya, namun seseorang menahannya membuat Fresa mengumpat kasar.
"Mau kemana?" Tanya Gibran dingin.
"Kepo!" Balas Fresa sengit.
Gibran menghela nafas, ia membantu Fresa membawa infusannya namun detik berikutnya, Fresa juga sudah berpindah tempat ke dalam gendongan Gibran.
"So, mau kemana? Mumpung gue baik gue ajak lu jalan-jalan." Kata Gibran membuat Fresa mendengus.
"Cari kak Faza dan kak Felly sekarang!" Balas Fresa.
"Cari mereka? Ngapain! Mending di sini."
"Udah turuti Fresa Bran sebelum perang dunia terjadi." Kata Fresca membuat Gibran bingung. Walaupun masih bingung dengan situasi ini, Gibran tetap membawa Fresa berkeliling rumah sakit mencari keberadaan dua tikus tersebut. Sampai...
"Siapa cowok yang ajak kamu jalan?"
"Cowok siapa?! Aku tuh jalan sama cowok kalau gak kamu ya papa kamu! Kamu aneh deh."
"Jangan bohong! Fresa sendiri yang lihat."
"Bodoh! Fresa aja belum boleh keluar dari rumah sakit dari mana dia tahu."
"Felly! Aku serius, siapa cowok yang jalan sama kamu!" Bentak Faza membuat Felly terdiam.
"Kamu gak berubah, masih sama. Sebaiknya kita pikirkan matang-matang pernikahan kita." Balas Felly lirih.
"Tidak!" Teriak Fresa membuat keduanya menoleh.
"Gini kak, sebenarnya kak Felly gak jalan sama siapa-siapa aku tuh bohong sama kakak." Jelas Fresa lirih. Dia takut kakaknya memarahinya saat ini.
"Kamu--Astaga! Kamu mau buat pernikahan kakak gagal?! Kamu tahukan Fresa kalau kakak tuh udah nunggu banget hari ini dan kamu--Kakak kecewa!" Balas Faza meninggalkan tempat tersebut.
Fresa yang melihat kakaknya pergi, meminta Gibran menurunkannya. Namun Gibran hanya diam saja.
"Ada kalanya sesuatu bisa di jadikan bercandaan. Dan hal ini tidak bisa kamu jadikan bercandaan sayang. Biarkan Faza memikirkan semuanya sendiri. Toh ada kak Felly. Kita kembali ke kamar ya." Kata Gibran.
"Aku cuma mau bercanda aja. Salah ya?" Tanya Fresa saat Gibran membawanya kembali ke kamar.
"Gak salah, cuma tidak tepat." Balas Gibran sambil mengecup dahi Fresa. Dua hari tidak melihat Fresa dia sudah serindu ini, bagaimana nanti.
"Ada yang kamu pikirkan ya?" Tanya Fresa.
"Hem. Aku mau ke Singapura untuk urusan bisnis. Mau ikut gak?" Tanya Gibran.
"Gak ah, aku mau kuliah aja." Balas Fresa.
"Sayangnya kamu harus ikut aku." Ucap Gibran membuat Fresa mendengus.
"Ngapain ngajak sialan!"
"Hus. Gak boleh mengumpat dengan calon suami." Nasihat Gibran.
"Sok tua!" Balas Fresa membuat Gibran terbahak.
Gibran menurunkan Fresa di kasurnya, sedangkan ia mulai duduk di sofa yang sudah di sediakan. Hari ini Gibran mengantuk. Jadi biarkan dia beristirahat saat ini.
"Kamu tuh peka kenapa si Ca. Calon suami kamu itu baru sampai dari urusan bisnis malah kamu susahin. Bisa aja emang modusnya." Sindir Fresca.
"Mana aku tahu." Balas Fresa langsung menikmati sarapannya.
Di tempat lain, FEGA dan Galmoners sudah siap untuk mengunjungi Fresa. Mereka sudah memutuskan siang ini akan membolos kuliah. Bahkan ketua BEM saja ikut andil dalam bolos ini, jadi tidak masalah.
"Please jangan pacaran! Masih ada jomblo di sini." Kata Evan saat melihat kedekatan Kiki dan Arkan.
"Sepertinya hal itu tidak terjadi deh Fan, liat siapa yang datang." Kata Kiki saat melihat geng Cherry memasuki area parkir.
"Haiii Arkan." Kata salah satu antek Cherry.
"Ciee di cuekin, mang enak!" Balas Mahda ketus.
"Aduh makin panas aja. Mending langsung aja cabut, sebelum tangan gue gatel ngacak-ngacak." Kata Fanisa.
"Belagu banget lu! Asal lu tahu ya Fan, Fano tuh gak suka sama lu. Dia itu sudah bertunangan sama gue. Bukan begitu Fano?" Tanya Cika.
"Gak." Balas Fano membuat Cika menggeram kesal.
Fano sendiri tidak pernah di jodohkan siapapun, jadi kenapa cewek gak jelas ini berani berbicara seperti itu? Membuat mood Fano rusak saat ini.
"Malu dah gue kalau jadi lu. Udah lah mending lu pergi dari sini sebelum tangan gue bersarang di wajah kalian." Balas Fanisa sinis.
"Jangan sombong! Gue bakal buat kalian menderita kembali. Camkan itu!"
"Jangan sombong! Gue bakal buat kalian menderita kembali. Camkan itu! Cihhh... Dia pikir semua bakal berjalan sesuai kemauannya? Tentu saja tidak! Gue bakal buat dia yang menderita." Kata Mahda dengan wajah dinginnya.
"Caranya?" Tanya Fanisa.
"Nanti juga tahu." Balas Mahda misterius.
Tidak mau ambil pusing, mereka memutuskan untuk meninggalkan pelataran kampus. Toh mereka percaya Mahda pasti sudah menyusun semuanya secara matang.
Hari menjelang siang, Fresa bosan hanya duduk sambil menyaksikan televisi. Ibunya sudah pergi keluar membeli makanan, karena tahu sahabat-sahabatnya akan datang hari ini.
"Siang Fresa, kita periksa dulu ya." Tanya dokter wanita yang sudah tua.
"Ya bu." Balas Fresa.
Tepat saat Fresa selesai melakukan pemeriksaan, sahabat-sahabatnya datang bersama dengan Fresca dan Gisca.
"Hello Ev--" ucapan Evan terhenti saat Fresa melempar bantal ke arahnya.
"Jangan berisik!" Ucap Fresa sambil menunjuk ke arah Gibran. Evan yang melihat sahabatnya tertidur pulas langsung memiliki ide jahil.
"Pinjam lipstik!" Kata Evan.
"Lipstik kita mahal!" Balas Galmoners.
"Alah lipstik gocengan aja belagu." Balas Evan sinis.
"Yeh songong! Lipstick kita mahal! Enak aja gocengan!" Ucap Mahda ketus.
"Udah-udah. Nih pakai punya Tante." Balas Gisca membuat Fresa spontan teriak.
"Mami!"
"Sekali-kali jahili Gibran gak apakan?"tanya Gisca membuat Fresa menghembuskan nafasnya lelah.
Fresa tidak ikut campur jika Gibran marah nanti. Lebih baik dia makan siang saja.
"Bran!!! Si Fresa minta beliin es krim." Teriak Evan membuat Gibran langsung bangun.
"Kamu mau apa Ca?" Tanya Gibran.
"Gak, aku udah kenyang." Balas Fresa.
"Bohong! Tadi mami denger sendiri, kalau dia mau es krim kesukaannya itu. Masa kamu gak tahu?" Tanya Gisca. Membantu geng FEGA untuk mengerjai Gibran.
"Ouh itu, ya udah bentar. Kalian mau titip apa?" Tanya Gibran ke yang lain.
"Seperti biasa aja Bran." Mendengar jawaban Evan langsung membuat Gibran melangkahkan kaki ke luar.
Gibran tidak tahu kenapa semua orang menertawai dirinya. Mungkin saja karena kadar ketampanannya meningkat.
Dengan percaya diri, Gibran memasuki mini market. Setelah puas mencari pesanan mereka. Dia langsung membayar belanjanya. Sampai salah satu kasir memberikan sebuah kaca awalnya bingung, namun saat ia menggunakan kaca tersebut...
"Evan Laksono!!!"
Evan yang mengikuti Gibran langsung kabur, di susul dengan Gibran yang sudah selesai melakukan pembayaran.
"Jomblo sialan! Sini lu!" Kejar Gibran membuat siapapun yang melihat terbahak akan tingkah mereka.
"Tolong! Saya di kejar banci!" Balas Evan.
"Sialan! Kesini sekarang atau gue--"
"Gak takut! Kalau lu berani ancam gue Fresa bakal gue rebut!" Ancam Evan.
"Jomblo sialan, lu benar-benar cari mati! Sini lu!" Teriak Gibran.
Gibran terus mengejar Evan. Beruntung rumah sakit sedang sepi. Jika tidak? Entahlah apa yang terjadi dengan keduanya.
"Tuhkan ke hibur juga." Ledek Gisca saat melihat Fresa tertawa. Sedangkan yang di ledeki hanya bisa tersenyum malu-malu.
Akhirnya kebahagiaan yang Fresa rasakan datang kembali. Ia tidak menyangka akan merasakan secepat ini, padahal baru kemarin mereka bersedih sekarang--Fresa tidak menjelaskan semuanya dengan kata-kata. Intinya Fresa sangat bahagia!
❤️❤️❤️