
Akhir cerita
Byurrrrr.....
"Awwwwww......"
Teriakan Fresa membuat Gibran langsung mendekati tunangannya. Bahkan ia langsung memeriksa wajah Fresa yang terkena cairan entah apa namanya.
"Aku gak apa, cuma panas aja." Kata Fresa lirih.
"Itu akibatnya karena lu jadi perusak hubungan gue sam--"
Plakkk....
Mahda menampar wajah Alex dengan sekuat tenaga. Nafasnya memburu, amarahnya memuncak. Kali ini, Mahda tidak akan tinggal diam. Ia akan melaporkan Alex pada pihak berwenang.
"Lu itu laki-laki paling sialan yang gue kenal! Lu tadi mau bunuh gue sekarang Fresa?! Cowok macem apa lu! Apa lu gak mikir jika ibu lu di posisi kita?! Apa lu gak mikir jika ibu lu di sakitin?! Mikir orang mah!" Bentak Mahda.
Semua anak-anak mulai menatap ke arah mereka. Melihat wajah Fresa terluka membuat mereka paham jika Alex berulah kembali. Mungkin jika mereka senior, ini bukanlah pertama kali Alex bertindak layaknya orang gila. Tapi setahun lalu Alex juga melakukan hal yang sama, entah alasannya apa yang pasti Alex selalu lolos dalam kejaran kepolisian.
"Hahaha... Mikir? Buat apa? Selama gue bisa melakukan apapun yang gue mau, gue bakal lakukan itu. Kalau perlu ngebunuh aja gue lakuin. Asal lu tahu Mahda, semua perempuan itu munafik, bilangnya gak cinta tapi cinta. Kaya lu! Lu nolak gue tapi hati lu berkata lain, bullshit tahu gak?!" Balas Alex sengit.
Gibran tidak tahu harus melakukan apa, yang pasti saat ini ia ingin menghancurkan wajah Alex. Namun, langkah kakinya di tahan oleh Fresa.
"Kita pergi." Bisik Fresa membuat Gibran langsung membawa Fresa keluar dari kantin. Sedangkan yang lain masih sibuk meladeni Alex.
"Lu gak punya kaca di rumah?! Yang bullshit itu lu! Lu memainkan hati Mahda bahkan lu menyuruh Bian dan Cheryl ikut permainan lu! Basi tahu gak?!" Ucap Evan.
"Ouuuu ternyata ada yang tahu rencana gue." Balas Alex dengan smirk.
"Gila! Mau lu apa si?! Lu mau bunuh kita semua?!" Bentak Fanisa.
"Iya! Lu tahu? Alasan gue menyakiti wanita? Karena Kakaknya Fresa yang buat kakak gue bunuh diri! Karena Gibran juga kakak gue di penjara! Lu tahu Greg? Nah dia kakak pertama gue! Gue benci banget sama Fresa, karena semua rencana gue selalu gagal karena dia, bahkan saat gue menyuruh Cheryl menghancurkan hubungan kalian, Fresa bisa memutar keadaan dan gue benci itu! Gue benci di kalahkan oleh adik pembunuh!" Teriak Alex membuat semua mata mulai berbisik.
"Lu bilang kakak lu bunuh diri? Lu pernah nanya gak ke diri lu sendiri?! Kakak lu jelas-jelas bunuh diri karena tidak kuat dengan tingkah laku kalian berdua! Dari mana gue tahu? Itu gak penting. Yang harus lu tahu ialah, semua yang ada di isi kepala lu salah! Lu pernah membunuh seorang wanita kan? Bahkan kakak lu sering menghambur-hamburkan uang dan melakukan tindakan tidak senonoh. Yang lebih parah lagi, kalian berdua sama-sama membunuh wanita yang kalian anggap membosankan? Astaga! Kalian berdua itu gila! Dan itulah kenapa kakak lu bunuh diri! Jangan salahkan perasaannya dengan Faza yang tak terbalas. Tapi salahkan diri kalian yang terlalu asik dalam kehidupan kalian sendiri!" Jawab Mahda.
"Mahda... Mahda... Gue gak akan percaya! Gue lebih percaya dengan apa yang gue pikirkan. Dan lu! Gak usah menggurui gue, karena gak penting. Satu lagi, gue bakal buat kehidupan kalian menderita mulai detik ini!" Teriak Alex diiringi dengan tawanya.
"Sorry menyela, menurut gue semua harus berakhir di sini. Karena cerita ini sudah menuju endingnya. So, silakan kalian bawa pria di sana jangan biarkan dia kabur." Kata Fano kepada beberapa orang yang menggunakan pakaian putih-putih.
"Baik Tuan."
"Mungkin dulu lu bisa kabur karena gue gak ada di sini, tapi gue di sini sekarang. Siapapun yang mengusik sahabat gue ataupun kekasih gue. Gue bakal buat kalian lupa apa itu dunia. So, selamat menikmati dunia baru anda Alex." Ucap Fano dingin.
Alex di tarik paksa, bahkan saat Alex berontak sebuah suntikan menusuk tubuhnya membuat pria tersebut terjatuh tidak sadarkan diri. Semua yang ada di kantin bernafas lega, akhirnya kejahatan Alex terbongkar semuanya. Ia tidak menyangka pria setampan Alex dan sebaik Alex bisa melakukan hal seburuk itu.
Mahda tersenyum ke arah Fano. "Terima kasih atas bantuannya, kalau gak ada kalian mungkin cerita ini akan semakin rumit. Sekarang, lebih baik kita mengunjungi Fresa, toh kita pulang cepat saat ini." Kata Mahda.
"Hem.. lain kali kalau butuh batuan ngomong sama kita, kita bakal bantu. Kalau lu ke tahuan saat mencari data-data Alex gimana?" Tanya Kiki.
"Gue percaya, selain gue bego kadang salah nyebut nama Fresa dan Fanisa. Gue yakin ada yang bisa gue lakukan untuk semua ini. Karena gue semuanya jadi serunyam ini. Ahhh.. rasanya lega sekali." Jawab Mahda.
Lega? Itulah yang saat ini mereka rasakan. Sosok cantik berjalan mendekati mereka.
"Maaf.. maaf pernah melukai kalian. Maaf karena gue selalu menghancurkan apapun. Maaf karena gue lagi-lagi gak bisa jadi diri gue sendiri. Gue bersalah banget sama Fresa. Tolong sampaikan maaf gue ke dia. Karena setelah ini, gue bakal menjauh dari sini bersama dengan dia." Kata Cheryl lirih. Bahkan Cheryl mengusap perutnya yang masih datar.
"Lu?! Astaga Alex brengsek!" Bentak Mahda.
"Gak apa, mungkin ini balasan gue karena gue jahat sama kalian dulunya. Sampai gue sendiri gak sadar kalau gue salah jalan. Gue pikir dengan merebut Alex akan membuat dia lupa sama lu ternyata gak. Dan gue pikir Alex cinta sama lu, sampai-sampai gue selalu berniat jahat sama lu. Ternyata, ini alasan dari semuanya. Gue gak tahu kenapa mereka tutup mulut tentang kejahatan Alex bahkan gue yang seangkatannya aja gak tahu. Intinya, terima kasih. Jika saja gue gegabah bilang dia hadir saat ini, gue yakin Alex akan melakukan hal yang sama Seperti perempuan yang pernah ia bunuh. Intinya gue sangat berterima kasih pada kalian semua dan maaf karena gue jahat dulu." Penjelasan Cheryl membuat Mahda menangis, sebenarnya Mahda tahu alasan di balik Cheryl melakukan hal tersebut pertama karena perasaannya dan terakhir karena dia menyayangi ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit. Tanpa bantuan Alex mungkin ayah Cheryl sudah tiada saat ini.
"Kita memaafkan!" Balas Mahda dan yang lain. Membuat air mata haru Cheryl turun dari pipinya.
"Terima kasih."
Mereka semua tersenyum bahagia. Inilah akhir dari perjalanan mereka. Perjalanan yang seharusnya di akhiri dengan cepat.
Karena bagi Mahda kebahagiaan itu bukan harus berkumpul dengan orang yang kita cinta, tapi dengan adanya sahabat dan hal kecil saja seperti memaafkan bisa membuat kita merasakan apa itu kebahagiaan. Inilah akhir perjalanan mereka. Mungkin masih banyak rintangan yang akan mereka terima di depan. Tapi Mahda sangat yakin apapun yang terjadi nantinya, Mahda memiliki mereka. Mereka yang selalu hadir untuk dirinya.
------- END---------
❤️❤️❤️❤️❤️