Galmoners

Galmoners
Part 29



Merindukan


Terkadang orang yang biasa kita anggap absurd dan menyebalkan, suatu saat bisa menjadi seseorang yang akan kita rindukan.



Pagi ini adalah pagi yang tidak biasa bagi seorang Mahda Adijaya. Gadis cantik yang baru beberapa minggu lalu berusia 19 tahun, tengah serius memandang sebuah figura foto. Foto di mana ada dirinya dan ketiga sahabatnya sedang tersenyum bahagia di depan Oxford University.


Tempat yang mereka kunjungi saat berlibur di London beberapa tahun lalu. Yap, bisa di katakan saat itu mereka masih berusia 15 tahun. Masih mungil dan imut. Belum tahu apa itu cinta. Yang mereka tahu hanyalah kebahagiaan bersama, Belajar dan Belajar.


Menginjak bangku kuliah, barulah semuanya berubah. Di mana mereka mulai berani untuk memulai hal yang bernama "Cinta". Dan semua itu di awali oleh dirinya dan berlanjut kepada tiga sahabatnya. Namun, dari mereka semua. Hanya Fresa yang masih menyimpan perasaan pada sosok Gibran. Mahda ingat sekali, waktu itu Fresa tidak sengaja melihat Gibran duduk berdua dengan kakak kelas perempuan. Entah apa yang di bicarakan oleh mereka, yang pasti saat itu keputusan salah Fresa buat. Di mana ia mencoba menerima Bian yang sama sekali tidak ia cintai.


Awalnya semua baik-baik saja. Sampai Fresa mendapatkan pelecehan dari Bian. Entah alasannya apa, Mahda pun bingung. Tapi selama Mahda mengamati keduanya, Mahda memang tidak suka dengan Bian. Bisa di katakan Bian bisa lebih jahat dari Alex.


Kenapa? Karena Bian tipe cowok pemaksa dan apa yang dia inginkan harus terwujud. Seperti halnya beberapa hari lalu. Saat itu Mahda dan kawan-kawannya tengah asik berbincang banyak hal. Tiba-tiba Bian datang ke meja mereka dengan raut wajah kesal.


"Mana Fresa?!" Bentak Bian membuat semua penghuni kantin menatap ke arah mereka.


"Apa hak lu nanya Fresa? Pacar? Bukan! Suami apalagi. Jadi lebih baik lu pergi!" Bentak Fanisa.


Bukan tanpa alasan Fanisa memarahi Bian. Semua yang mereka lakukan ada alasannya, bahkan Mahda sendiri setuju dengan tindakan Fanisa. Karena bagi Mahda, Bian ialah sosok yang harus di jauhkan dari Fresa. Kenapa? Karena cowok gila itu sangat terobsesi dengan Fresa. Makanya sebisa mungkin Mahda dan yang lain menjauhkan Fresa darinya.


"Gue kakak tingkat lu! Jangan nyolot!" Omel Bian membuat sosok dingin yang sedari tadi diam langsung berjalan ke arah meja Galmoners.


"Pergi." Ucapan dingin Fano membuat Bian mendengus.


"Gue bakal rebut Fresa dari sahabat lu! Camkan itu!" Balasan Bian membuat Fano menatap bengis. Entah apa yang Fano sembunyikan. Yang pastinya, membuat Mahda penasaran.


Kini, Mahda tengah asik melihat chattan masa lalu antara dirinya dengan Fresa. Chattan yang berisi umpatan kasar, omelan dan nasihat. Semua yang Fresa katakan padanya membuat Mahda menyesal saat ini. Dia menyesal telah menyia-nyiakan waktu hanya untuk pacar yang tidak peka terhadap perasaannya. Jika Mahda bisa katakan, dia sangat amat menyesal. Kalau saja dia mengikuti perkataan Fresa, kemungkinan hari-harinya akan selalu di kelilingi oleh Galmoners, bukan cowok yang berpura-pura peduli. Kini, Mahda sudah yakin dengan keputusannya. Yaitu, dia akan memutuskan hubungannya dengan Alex. Karena saat ini persahabatan mereka lebih utama.



Di tempat yang berbeda, Fanisa tengah berdiri menatap sosok yang sudah seminggu terbaring dalam tidurnya. Sosok yang Fanisa rindukan saat ini.


"Fresa akan baik-baik saja Fan." Perkataan sosok laki-laki membuat Fanisa menatap ke arah sampingnya.


"Firhan?"


"Hemmm... Kamu semakin cantik Fan." Balas Firhan.


Kalian ingat Firhan? Dia adalah mantan kekasih Fanisa. Mantan kekasih yang berada di daerah yang jauh dari tempatnya berada.


"Sendirian aja? Pacar kamu mana?" Pertanyaan tersebut membuat Fanisa mendengus.


"Kemana kek yang enak. Lagian kenapa lu di sini? Jenguk pacar?" Tanya Fanisa malas.


Entah kenapa Fanisa lagi malas bertemu dengan mantan. Karena efek mantan masih besar di kehidupannya dan dia takut jika dekat lagi dengan mantan, malah membuat sosok yang selalu berjuang untuknya ia lupakan. Fanisa tidak ingin menjadi orang jahat. Tapi--Fanisa harus lupakan perasaannya saat ini, Fresa lebih penting!


"Bukan jenguk pacar, tapi jenguk mantan yang semakin cantik." Balas Firhan dengan gaya tengilnya. Membuat Fanisa tersenyum tipis. Entah kenapa saat ini, Fanisa biasa saja dengan ucapan Firhan apa mungkin dia? Tidak mungkin!


"Kenapa Fan geleng-geleng? Kamu pusing?" Tanya Firhan sambil mengelus kepala Fanisa. Membuat debaran di jantung Fanisa.


"Galak banget si Fan. Kalau galak ginikan aku makin cinta." Ucap Firhan.


"Stop ngomongin cinta! Tuh cewek lu ngawasin. Mending pergi." Usir Fanisa.


Firhan menatap ke arah pandangan Fanisa. Tidak ada siapapun di sana. Kemungkinan besar Fanisa berbohong.


"Bohong dosa loh Fan. Kamu gak mau meluk aku? Kan kita baru saja berjumpa." Pancing Firhan, membuat Fanisa langsung memeluknya.


Firhan tersenyum sinis ke arah seseorang, bahkan dia mengelus punggung Fanisa. Menyatakan ke seseorang di depannya kalau dia menang hari ini. Sedangkan sosok tersebut tengah menyeringai. Dia tahu jika saat ini Fanisa lagi kehilangan arah. Dan dia yakin Fanisa akan tahu ke mana perasaan sesungguhnya. Melihat adegan ala novel tersebut membuat Fano meninggalkan rumah sakit. Ya! Fano melihat semua adegan keduanya. Tapi, Fano hanya diam. Toh nanti akan ada waktunya.



Angin kencang mulai meniup helai demi helai rambut Kiki yang tengah asik duduk di balkon kamarnya. Kiki tengah asik memandangi matahari yang malu-malu. Jika Kiki bisa kembali ke masa lalu, dia akan kembali ke masa di mana hujan lebat terjadi dan Kiki sangat merindukan hal tersebut. Rindu dengan umpatan kasar Fresa di saat mereka menarik Fresa untuk bermain hujan-hujanan. Bukan hanya itu saja. Kiki juga rindu dengan chattan Fresa dan yang lain. Rindu di mana Fresa akan memarahi Mahda ketika ketua Galmoners itu dalam mode lemotnya. Bahkan Fresa ataupun Fanisa akan menyumpahi Mahda jika gadis bawel tersebut salah menyebut nama keduanya.


"Sayang, ada Arkan di bawah" ucapan ibunya membuat Kiki langsung berlari ke luar dari kamarnya. Ia tidak tahu jika Arkan akan berkunjung sepagi ini.


"Masih pagi, udah bertamu aje." Ledek Kiki.


"Udah jam 11 Ki, itu namanya udah mau siang. Bahkan matahari yang malu-malu saja sudah mulai beraktivitas." Balas Arkan.


" Ya si, lagian mau ke mana deh?" Tanya Kiki yang kini duduk di seberang Arkan.


"Mau ngapelin cewek." Balas Arkan.


"Udah dari pada kamu banyak nanya mending ganti baju. Kasian Arkan nunggu lama." Kata Ibunda Kiki.


Kiki sebenarnya malas keluar, apalagi disaat situasi seperti ini. Mana mungkin dia bisa tenang jalan-jalan, yang ada dia malah kepikiran Fresa.


"Ke rumah sakit saja ya. Gue lagi malas jalan-jalan." Balas Kiki yang di hadiahi anggukan oleh Arkan.


Setelah berpakaian rapi, Kiki dan Arkan berpamitan dengan ibunda Kiki.


Baru saja mereka ingin meninggalkan rumah tersebut. Suara nada dering menganggu keduanya. Mau tidak mau mereka langsung mengangkat telpon masing-masing.


"Kenapa Fan?" Tanya Kiki.


"Fresa..."


"Fresa kenapa?!" Balas Kiki khawatir.


"Fresa kritis!"


Duar!


Seperti ada sebuah kembang api yang meledak di jantung Kiki. Semua organ tubuhnya mati rasa, bahkan semua blank!


Mereka saling pandang, setelahnya membelah keramaian jalan sambil berdoa semoga Fresa baik-baik saja.


❤️❤️❤️